• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Penyakit Kusta dan Penanganannya

Istilah kusta berasal dari bahasa Sansekerta yaitu kustha yang berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta telah dikenal hampir

17 2000 tahun sebelum Masehi, yang dapat diketahui dari bukti peninggalan sejarah seperti di Mesir, India, dan Tiongkok. Pada tahun 1873, dokter Gerhard Armauer Henrik Hansen dari Norwegia merupakan orang pertama yang mengidentifikasi kuman yang menyebabkan penyakit kusta yaitu Mycobacterium leprae yang membuktikan bahwa penyakit kusta disebabkan oleh kuman dan bukan merupakan penyakit kutukan apalagi penyakit turun menurun. Kusta menyerang berbagai bagian tubuh diantaranya saraf dan kulit. Penyakit ini adalah tipe penyakit granulomatosa pada saraf tepi dan mukosa dari saluran pernafasan atas dan lesi pada kulit adalah tanda yang bisa diamati dari luar. Bila tidak ditangani, kusta dapat sangat progresif yang menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak dan mata. Kuman Mycobacterium leprae menular kepada manusia melalui kontak langsung dengan penderita (kontak yang lama dan berulang-ulang) dan melalui pernapasan. Bakteri kusta mengalami proses perkembangbiakan dalam waktu 2-3 minggu dan mampu bertahan 9 hari di luar tubuh manusia dengan masa inkubasi rata-rata dua hingga lima tahun bahkan lebih, tergantung dari suhu dan cuaca diluar tubuh manusia tersebut. Semakin panas cuaca maka semakin cepat pula kuman tersebut mati. Tanda-tanda seseorang menderita penyakit kusta antara lain kulit mengalami bercak putih, merah, rasa kesemutan bagian anggota tubuh hingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif yang menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak dan mata. Hingga saat ini belum ada vaksinasi untuk penyakit kusta.

Penyakit kusta memiliki 2 tipe yaitu tipe Pausi Bacillary (PB) atau kusta kering dan tipe Multi Bacillary (MB) atau kusta basah. Tipe kusta kering mempunyai gejala seperti munculnya bercak berwarna putih seperti panu dan mati rasa, permukaan bercak kering dan kasar serta tidak berkeringat, tidak tumbuh rambut/bulu, bercak pada kulit antara 1-5 tempat, menyebabkan kerusakan saraf tepi pada satu tempat, hasil pemeriksaan bakteriologis negatif (-) dan tidak menular. Sedangkan tipe PB atau kusta basah mempunyai gejala seperti munculnya bercak putih kemerahan yang tersebar satu-satu atau merata di seluruh kulit badan, terjadi penebalan dan pembengkakan pada bercak, kerusakan banyak

18 saraf tepi dan hasil pemeriksaan bakteriologi posistif (+) dan sangat mudah menular. Pengobatan pada penderita kusta adalah salahsatu cara pemutusan mata rantai penularan. Upaya pemutusan mata rantai penularan penyakit kusta dapat dilakukan melalui pengobatan MDT pada pasien kusta dan vaksinasi BCG.

Tujuan pengobatan MDT pada kusta tipe PB (kusta kering) dan MB adalah:

1. Memutuskan mata rantai penularan 2. Mencegah resistensi obat

3. Memperpendek masa pengobatan 4. Meningkatkan keteraturan berobat

5. Mencegah terjadinya cacat atau mencegah bertambahnya cacat yang sudah ada sebelum pengobatan

Salahsatu masalah yang menghambat upaya penanggulangan kusta adalah adanya stigma yang melekat pada penyakit kusta, penderita kusta bahkan keluarganya. Adanya stigma tersebut menyebabkan penderita kusta tidak dapat menikmati hidup sewajarnya dan memperoleh perlakuan yang diskriminatif dari masyarakat sekitar. Keadaan ini berdampak buruk bagi psikologis penderita yang mengakibatkan frustasi sehingga penderita enggan berobat karena takut keadaannya diketahui oleh masyarakat sekitar. Hal ini tentau saja menyebabkan berlanjutnya mata rantai penularan kusta dan menimbulkan kecacatan pada penderita.

Jumlah kasus baru kusta di dunia pada tahun 2015 sekitar 210.758 dan daerah dengan kasus terbanyak terdapat di regional Asia Tenggara (158.118 kasus), Amerika (28.806 kasus) dan Afrika (20.004 kasus) dan sisanya berada di regional lainnya (www.who.int, leprosyfactsheet, updated Januari 2018).

Indonesia telah mencapai status eliminasi kusta yaitu prevalensi kusta < 1 per 10.000 penduduk (< 10 per 100.000 penduduk) pada tahun 2000. Setelah itu Pemerintah Indonesia sudah mampu menurunkan angka kejadian kusta meskipun relatif lebih lambat. Angka prevalensi kusta di Indonesia pada tahun 2017 sebesar 0,70 kasus/10.000 penduduk dan angka penemuan kasus baru sebesar 6,08 kasus per 100.000 penduduk. Selain itu, ada beberapa provinsi yang prevalensinya

19 masih diatas 1 per 10.000 penduduk. Pada tahun 2016 terdapat penambahan provinsi yang mencapai eliminasi yaitu Provinsi Aceh dan Provinsi Kalimantan Utara. Adapun 11 provinsi yang belum mencapai eliminasi diantaranya Provinsi Jawa Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua serta Papua Barat. Pada tahun 2017 hanya Provinsi Jawa Timur yang sudah mampu mencapai eliminasi, sedangkan 10 provinsi lainnya belum.

20

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN

Lokasi penelitian ini di rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kelet Kabupaten Jepara yang dulu merupakan RS khusus Kusta yang berubah status menjadi Rumah Sakit Umum pada tahun 2006. Sebelumnya Rumah Sakit Khusus Kusta Kelet dibawah pengelolaan dan manajemen Rumah Sakit Tugurejo di Kota Semarang. Waktu penelitian dilaksanakan selama 6 bulan dari bulan Mei sampai Oktober 2019.

3.2. SIFAT/TIPE PENELITIAN

Sifat/tipe penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Peneliti menggunakan tipe penelitian ini karena penelitian deskriptif mampu mengeksplorasi dan menjelaskan tujuan penelitian yang akan dicapai yaitu bagaimana dampak perubahan status rumah sakit dari khusus menjadi rumah sakit umum di Jawa Tengah khususnya di RSU Kelet Kabupaten Jepara terkait pelayanan pasien kusta dan umum serta bagaimana strategi dan rencana pengembangannya.

3.3. METODE PENGUMPULAN DATA

Beberapa metode pengumpulan data yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif antara lain telaah dokumen, observasi, focus group discussion (FGD) dan wawancara mendalam (indepth interview). Penelitian ini juga akan menggunakan metode telaah dokumen, FGD dan wawancara mendalam terhadap beberapa responden kunci baik dari pihak RSUD Kelet, Dinas Kesehatan Prov.

Jateng, serta stakeholder terkait.

3.4. METODE PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

Dalam penelitian kualitatif, data diperoleh dari berbagai macam sumber, dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam

21 (triangulasi), dan dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh. Analisis data kualitatif adalah bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan pola hubungan tertentu atau menjadi hipotesis. Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah selesai di lapangan.

Dalam hal ini Nasution (1988) dalam (Sugiyono, 2015, hlm. 245) menyatakan “Analisis telah mulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian. Namun dalam penelitian kualitatif, analisis data lebih difokuskan selama proses dilapangan bersamaan dengan pengumpulan data.”

Analisis data data merupakan suatu langkah penting dalam penelitian, karena dapat memberikan makna terhadap data yang dikumpulkan oleh peneliti.

Data yang diperoleh dan dikumpulkan dari responden melalui hasil observasi, wawancara, studi literatur dan dokumentasi dilapangan untuk selanjutnya dideskripsikan dalam bentuk laporan. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi Miles dan Huberman (1992) dalam Sugiyono (2015, hlm. 246). Analisis data kualitatif merupakan upaya yang berlanjut, berulang dan menerus. Masalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan merupakan rangkaian kegiatan analisis yang saling terkait.

22

BAB IV

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Rumah Sakit Umum Daerah Kelet dahulu bernama Rumah Sakit Kusta Kelet/Donorojo dan didirikan pada tanggal 30 April 1915 oleh Pemerintah Hindia Belanda dan dikelola oleh Zending. Tujuan pembangunan Rumah Sakit Kusta Donorojo waktu itu adalah untuk pengobatan dan leposeri. Lokasi Rumah Sakit Kusta Donorojo di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara dengan areal seluas 1.791.740 m2 termasuk lahan dikampung rehabilitasi yang dihuni oleh 155 KK. Sedangkan Rumah Sakit Kelet berada di Desa Kelet, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara dengan areal seluas 258.600 m2. Pada tahun 1950-an Rumah Sakit Kusta Donorojo dan Rumah Sakit Kelet diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah karena pihak pengelola (Zending) sudah tidak sanggup membiayai operasionalisasi kedua rumahsakit tersebut. Sehingga sejak saat itu, kedua rumah sakit tersebut menjadi Rumah Sakit Kusta dan pengelolaannya lebih bersifat leproseri. Pada tahun 1970-an Rumah Sakit Kelet/Donorojo menjadi bagian dari Rumah Sakit Kusta Tugurejo Semarang dikarenakan kedudukan Direktur berdomisili di Semarang dan tidak ada dokter yang mengelola secara purna waktu (fulltime). Pada tahun 1999 dimulai langkah penataan ulang fungsi pelayanan di RS Kusta Kelet/Donorojo dan kemungkinan

“optimalisasi” sarana untuk pelayanan masyarakat umum. Wilayah cakupan pelayanan RSUD Kelet relatif sempit yaitu meliputi delapan kecamatan di Kabupaten Jepara dan Kabupaten Pati antara lain: Kecamatan Keling, Kecamatan Donorojo, Kecamatan Kembang, Kecamatan Bangsri, Kecamatan Cluwak, Kecamatan Gunungwungkal, Kecamatan Dukuhseti dan Kecamatan Tayu.

Sejak tahun 2006 berdasarkan Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2006 tentang Pembentukan, Kedudukan, Tugas Pokok, Fungsi dan Susunan Organisasi RSUD dan RSJD Provinsi Jawa Tengah, RS Kelet/Donorojo terpisah dari RS Kusta Tugurejo dan berdiri menjadi SKPD sendiri. Peraturan daerah tersebut kemudian diperbaharui menjadi Peraturan Daerah No.8 Tahun 2008 tentang Organisasi dan

23 Tata Kerja Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Provinsi Jawa Tengah. Sesuai dengan Perda No. 8 Tahun 2008 dan Peraturan Gubernur No.96 Tahun 2008 tentang Penjabaran Tugas Pokok dan Fungsi serta Tata Kerja RSUD Kelet, maka tugas pokok RSUD Kelet yaitu menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan upaya penyembuhan, pemulihan, peningkatan, pencegahan, pelayanan rujukan, menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan serta pengabdian masyarakat. Visi yang akan dicapai “Profesional dalam memberikan Pelayanan Kesehatan Rujukan”, dengan beberapa misi yaitu:

1. Membangun dan mengembangkan SDM yang kompeten dan berkarakter unggul;

2. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan rujukan yang bermutu

3. Mengupayakan sarana prasarana yang sesuai standar Rumah Sakit kelas B;

4. Mengembangkan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit yang berkualitas.

Rumah Sakit Umum Daerah Kelet merupakan rumah sakit type C sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. 829/MENKES/SK/VII/2010 tentang Penetapan Kelas RSUD Kelet Provinsi Jawa Tengah. Pada tahun 2012 Komisi Akreditasi Rumah Sakit menetapkan bahwa RSUD Kelet dinyatakan lulus Akreditasi Tingkat Dasar yaitu bidang Administrasi dan Manajemen, Pelayanan Medis, Pelayanan Gawat Darurat, Pelayanan Keperawatan dan rekam Medis berdasarkan sertifikat yang dikeluarkan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit No.

KARS-SERT/745/VI/2012 pada tanggal 12 Juni 2012. Selain itu, RSUD Kelet juga telah menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK BLUD) sesuai dengan Keputusan Gubernur Jawa Tengah No.

901/151/2012 tentang Penetapan Peningkatan Status Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah dari Bertahap menjadi Penuh pada RSUD Kelet Provinsi Jawa Tengah. Struktur organisasi Rumah Sakit Umum Daerah Kelet dapat dilihat dibawah ini:

24 Gambar 4.1

Bagan Organisasi RSUD Kelet

Berdasarkan gambar tersebut, RSUD Kelet dipimpin oleh seorang Direktur yang bertanggungjawab memberikan laporan berkala kepada Gubernur Jawa Tengah melalui Sekretaris Daerah (Sekda). Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, RSUD Kelet mempunyai hubungan koordinatif, kooperatif dan fungsional dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Jumlah SDM yang ada di RSUD Kelet pada tahun 2019 mencapai 627 orang dan sebagian besar merupakan tenaga paramedis.

Gambar 4.2

Jumlah SDM di RSUD Kelet Tahun 2013-2019

Berdasarkan gambar tersebut di atas, jumlah SDM yang ada di RSUD Kelet terus meningkat setiap tahunnya terutama tenaga paramedis dan dokter yang diharapkan mampu memberikan peningkatan kualitas layanan bagi pasien baik pasien umum maupun penderita kusta. Perkembangan teknologi juga harus diikuti

25 oleh RSUD Kelet dalam melayani kebutuhan pasien maupun masyarakat sehingga RSUD Kelet membuat layanan informasi melalui berbagai media elektronik, telepon maupun layanan personal/datang sendiri. Media layanan informasi yang dibuat oleh RSUD Kelet dapat dilihat pada gambar 4.3 dibawah ini.

Gambar 4.3

Layanan Informasi RSUD Kelet

Berdasarkan gambar tersebut, jalur layanan informasi yang disediakan oleh RSUD Kelet sudah banyak mulai dari telepon, datang langsung, melalui media sosial (facebook, twitter, dll), website maupun SMS. Apabila pasien membutuhkan pemeriksaan rawat inap maka berikut ini alur mulai dari pendaftaran hingga pemeriksaan melalui IGD maupun poliklinik, hingga mendapatkan pemeriksaan penunjang maupun obat-obatan. Begitu juga dengan alur pemeriksaan rawat jalan bagi pasien BPJS maupun umum di RSUD Kelet.

Sebelum melakukan pemeriksaan rawat jalan, pasien harus mendaftar dulu via online menggunakan website RSUD Kelet dengan melakukan 5 langkah mudah seperti yang terlihat pada gambar 4.5 dibawah ini.

26 Gambar 4.4

Alur Pemeriksanaan Rawat Inap di RSUD Kelet

Gambar 4.5

Prosedur Pendaftaran Online Pasien Rawat Jalan

27 Gambar 4.6

Alur Rawat Jalan

28

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. DAMPAK PENYEBARAN PENYAKIT KUSTA TERHADAP PELAYANAN PASIEN KUSTA DI JAWA TENGAH;

Indonesia saat ini masih dihadapkan pada beban ganda penyakit, baik penyakit menular maupun tidak menular termasuk pula penyakit terabaikan seperti kusta filarial, frambusia, dan schistosomiaris. Penyakit kusta sebagai salahsatu penyakit terabaikan yang merupakan infeksi kronis bermanifestasi pada kelainan kulit dan saraf tepi (WHO, 2009 dan Lockwood, 2004). Kasus baru penyakit kusta yang ditemukan di Indonesia mencapai 16.826 jiwa atau NCDR sebesar 6,50% per 100.000 jumlah penduduk pada tahun 2016 dan turun menjadi 15. 920 jiwa atau 6,08% NCDR pada tahun 2017. Namun kasus baru kusta yang ada di Provinsi Jawa Tengah justru mengalami kenaikan dari tahun 2016 sebanyak 1.609 jiwa mencapai 1.644 jiwa pada tahun 2017 (Data Infodatin Kementerian Kesehatan, 2018). Pada tahun 2019, angka penemuan kasus baru kusta di Jawa Tengah mencapai 2,2 per 100.000 jumlah penduduk. Gambar dibawah ini merupakan angka penemuan kasus baru kusta yang dibagi berdasarkan wilayah kabupaten/kota yang ada di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2019.

Sumber: Buku Saku Kesehatan, Dinkes Prov. Jateng 2019 Gambar 5.1

Angka Penemuan Kasus Baru (CDR) Kusta di Jawa Tengah Tahun 2019

29 Berdasarkan gambar tersebut, kabupaten yang paling banyak memiliki kasus baru ada di Kota Pekalongan yaitu sebesar 11,4 per 100.000 penduduk disusul Kabupaten Rembang 7,4, Kota Tegal 6,8, Kabupaten Pemalang 5,9 dan Kabupaten Blora 4,9 per 100.000 jumlah penduduk. Angka penemuan kasus baru kusta di Kab Rembang dan Kota Tegal ini masih diatas target Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yaitu 6/100.000 jumlah penduduk. Sehingga dibutuhkan penanganan yang lebih menyeluruh dan melibatkan semua pihak dalam pencegahan dan pengendalian kusta baik melalui promosi kesehatan, surveilans, kemoprofilaksis maupun tata laksana penderita kusta sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 11/2019 tentang Penanganan Kusta.

Penyakit kusta diketahui dapat terjadi pada semua umur yaitu antara bayi sampai dengan lanjut usia. Jika dilihat dari data persentase kasus baru kusta yang diderita oleh anak-anak ada trend penurunan sebesar 0,7% dari tahun 2017 sebanyak 5,2% menjadi 4,5% pada tahun 2018 seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berupaya untuk terus menurunkan angka penemuan kasus baru baik pada dewasa maupun anak-anak serta berusaha menekan angka kecacatan yang diderita oleh pasien kusta. Berikut ini gambar persentase kasus baru kusta anak dan angka cacat kusta tingkat 2 yang diderita oleh pasien kusta selama tahun 2018.

Sumber: Data Program Kusta Provinsi Jawa Tengah 2018 Gambar 5.2

Persentase Kasus Baru Kusta Anak di Prov. Jateng Tahun 2014-2018

30 Berdasarkan gambar tersebut di atas terdapat kecenderungan penurunan kasus baru kusta anak di Provinsi Jawa Tengah sejak tahun 2015 hingga tahun 2018 sebesar 1,5% dan penurunan terbesar terjadi pada tahun 2018 yaitu sebesar 0,7%. Penyakit kusta selain dapat menyebabkan kecacatan juga menimbulkan stigma sosial serta diskriminasi dan dampak ekonomi tidak hanya bagi penderitanya tetapi juga bagi anggota keluarga lainnya. Sehingga pemerintah khususnya Kementerian Kesehatan RI terus menggalakkan program pengendalian dan pencegahan penyakit kusta dengan kegiatan promosi kesehatan untuk penghapusan stigma dan menghilangkan diskriminasi bagi para penderita kusta.

Gambar 5.3 di bawah ini menunjukkan angka kecacatan Tingkat 2 akibat kusta di Provinsi Jawa Tengah selama tahun 2014-2018.

Sumber: Data Program Kusta Provinsi Jawa Tengah 2018 Gambar 5.3

Angka Cacat Kusta Tingkat 2 di Prov. Jateng Tahun 2014-2018

Berdasarkan gambar tersebut, angka kecacatan penderita kusta dari tahun 2017 hingga 2018 mampu diturunkan dari 0,53 menjadi 0,44 atau turun 0,09.

Penanganan dan pengendalian penyakit kusta diharapkan mampu mengurangi tingkat kecacatan penderita kusta karena jika sudah cacat maka mereka akan sangat bergantung pada orang lain dalam memenuhi kebutuhannya setiap hari.

Kementerian Kesehatan RI juga sudah membuat kegiatan tata laksana penderita kusta yang diarahkan untuk mengobati penderita secara dini untuk mencegah disabilitas akibat kusta.

31 Terkait dengan program eliminasi kusta pada tahun 2019 di Provinsi Jawa Tengah dan pada tahun 2024 untuk wilayah kabupaten/kota, beberapa daerah endemis/kabupaten dan kota seperti Kabupaten Tegal, Blora, Pemalang maupun Brebes merasa pesimis jika mampu dilaksanakan pada tahun 2019. Berdasarkan hasil FGD dapat diperoleh informasi bahwa setiap tahun selalu muncul kasus baru kusta seperti yang dikemukakan oleh Dinkes Kab. Brebes dan Blora:

“Kab. Brebes sebagai salahsatu daerah endemik kusta, setiap tahun selalu ada kasus baru rata-rata 200-250 orang dan 105 diantaranya masuk kategori cacat tingkat 2”…

“ setiap 2-3 tahun kasus kusta pasti akan muncul kembali baik akibat kontak, tingkat imunitas, maupun gejala-gejala kusta yang tidak disadari”….

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Prov. Jateng tahun 2019, sebagian besar daerah endemis penyakit kusta berada di daerah Pantura (pesisir) seperti Kab. Brebes, Pemalang dan Tegal. Hal ini sesuai dengan penelitian Hasyim (2007) bahwa wilayah yang memiliki topografi lebih tinggi angka penemuan kasus barunya lebih sedikit dibandingkan dengan angka penemuan baru di wilayah topografi yang lebih rendah. Program penanganan dan penanggulangan penyebaran penyakit kusta yang terjadi di Jawa Tengah masih belum optimal, karena masih banyak masyarakat yang masih enggan atau malu mengakui sebagai penderita kusta karena stigma negatif dari masyarakat sekitar dan juga diskriminasi yang akan diterima oleh keluarga dari lingkungan sekitar. Selain itu, penyebaran penyakit kusta masih banyak yang terjadi di lapangan baik karena intensitas kontak dengan penderita, tingkat imunitas seseorang, petugas kesehatan kesulitan untuk menemui orang-orang yang pernah kontak intensif dengan penderita kusta dikarenakan pindah tempat tinggal, kesibukan kerja atau sebab lainnya seperti yang di kemukakan oleh Dinkes Kab. Tegal bahwa:

….”penyakit kusta akan selalu ada karena petugas kesehatan kesulitan untuk menemui orang yang kontak dengan penderita kusta tahun 2013-2016 dikarenakan kesibukan kerja, pindah tempat tinggal sehingga tidak bisa memenuhi target 20 jam dalam seminggu”….

32 Penularan penyakit kusta bisa melalui kontak dengan penderita kusta, masa inkubasi kuman kusta lama yaitu rata-rata 2-5 tahun (S. Sjamsoe, dkk, 2003), sehingga perlu terus dilakukan monitoring terhadap orang yang pernah kontak dengan penderita kusta.

Peningkatan dan penyebaran penyakit kusta di Jawa Tengah dengan sistem rujukan berjenjang mengakibatkan pasien kusta harus dilayani di fasilitas kesehatan terdekat, hal ini berdampak pada penurunan jumlah pasien di RSUD Kelet padahal penanganan kusta membutuhkan terapi khusus sehingga akan mempengaruhi kualitas dan keberhasilan pelayanan. Selain itu, kendala yang harus dihadapi oleh penderita kusta diantaranya akses ke rumah sakit rujukan terlalu jauh, tata laksana dan perawatan untuk pasien kusta di fasilitas kesehatan masih kurang memadai dan stigma negatif dari masyarakat tentang penyakit kusta menyebabkan penderita enggan berobat ke rumah sakit. Rumah Sakit Umum Daerah Kelet sebagai salahsatu rumah sakit rujukan bagi penderita kusta di Provinsi Jawa Tengah berkomitmen untuk membantu penanganan pasien kusta dengan sistem jemput bola. Sistem tersebut diinisiasi oleh RSUD Kelet karena banyak penderita kusta yang rumahnya jauh dari fasilitas kesehatan khusus kusta dan untuk pencegahan cacat. Penderita kusta akan dijemput dari rumah dan diantar hingga ke RSUD kelet kemudian jika sudah sembuh atau pulih bisa diantar kembali sampai kerumah atau fasilitas kesehatan terdekat (puskesmas) tanpa dipungut biaya apapun. Supaya penderita kusta dapat menikmati fasilitas tersebut, maka masyarakat penderita kusta harus mengajukan ijin/berkoordinasi ke Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah terlebih dahulu.

5.2. DAMPAK PERUBAHAN STATUS RUMAH SAKIT KHUSUS KUSTA MENJADI RUMAH SAKIT UMUM KELET TERHADAP PELAYANAN PASIEN KUSTA

Rumah sakit kusta Donorojo di Provinsi Jawa Tengah sudah ada sejak tahun 1915 atau sejak jaman penjajahan Belanda. Pada tahun 1970-an Rumah Sakit Kelet/Donorojo menjadi bagian dari Rumah Sakit Kusta Tugurejo Semarang dikarenakan kedudukan Direktur berdomisili di Semarang dan tidak ada dokter

33 yang mengelola secara purna waktu (fulltime). Pada tahun 1999 dimulai langkah penataan ulang fungsi pelayanan di RS Kusta Kelet/Donorojo dan kemungkinan

“optimalisasi” sarana untuk pelayanan masyarakat umum. Kemudian pada tahun 2001-2006 terjadi penataan fungsi Rumah Sakit Kelet untuk pelayanan kesehatan umum dan Unit Rehabilitasi kusta Donorojo untuk pelayanan kesehatan khusus kusta dan kedua rumah sakit ini masih dibawah manajemen Rumah Sakit Tugurejo Semarang. Kemudian pada tahun 2008 Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membuat Peraturan Daerah No. 8 tentang Organisasi dan Tata Kerja RSUD dan RSJD Prov. Jateng, dimana RSUD Kelet berdiri sendiri lepas dari RSUD Tugurejo. RSUD Kelet masih membawahi unit rehabilitasi kusta sebagai unit pelayanan kusta yang berlokasi di Kabupaten Jepara dan merupakan rumah sakit daerah type C sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan No.

829/MENKES/SK/VII/2010 tentang Penetapan Kelas RSUD Kelet Provinsi Jawa Tengah.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No.56 Tahun 2014 tentang

Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No.56 Tahun 2014 tentang

Dokumen terkait