• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang Masalah

Dalam dokumen Skripsi. Oleh : NURUL WAHIDAH K (Halaman 21-26)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Matematika merupakan disiplin ilmu yang mempunyai karakteristik tertentu dibandingkan dengan disiplin-disiplin ilmu lainnya. Matematika itu berkenaan dengan ide-ide kreatif yang tersusun secara hirarkis dengan penalaran yang bersifat deduktif. Matematika juga memiliki peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan. Begitu banyak permasalahan dan kegiatan dalam kehidupan yang mengharuskan diselesaikan dengan menggunakan ilmu matematika seperti menghitung, mengukur, dan memecahkan masalah lainnya. Dewasa ini peran matematika semakin penting karena banyak hal dalam kehidupan ini yang disampaikan orang dalam bentuk matematika seperti grafik, tabel, diagram, dan lain-lain. Oleh karena itu sebagai langkah awal dalam meningkatkan kemampuan matematika diperlukan motivasi belajar matematika pada masyarakat khususnya bagi siswa.

Matematika diajarkan hampir di semua jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Pendidikan matematika mencakup proses mengajar, proses belajar, dan proses berpikir kreatif. Proses mengajar dilakukan oleh pengajar dan proses belajar dilakukan oleh siswa sebagai anak didik. Dalam kegiatan belajar matematika, setiap siswa memiliki pemahaman matematika yang berbeda-beda. perbedaan kemampuan ini antara lain adalah kecepatan dalam menangkap informasi, cara menyampaikan pengetahuan, kemampuan memecahkan masalah, mengevaluasi dan lain-lain.

Perbedaan ini dapat disebabkan oleh tingkat berpikir kreatif yang dimiliki masing-masing siswa itu berbeda dalam memecahkan masalah. Masalah yang bisa menjadikan siswa untuk lebih berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif adalah masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari atau masalah kontekstual karena matematika merupakan suatu ilmu yang abstrak. Sehingga dengan

commit to user

pemberian masalah kontekstual akan sangat membantu siswa dalam meningkatkan daya pikir mereka.

Berpikir kreatif adalah aktivitas mental yang terkait dengan kepekaan terhadap masalah, mempertimbangkan informasi baru dan ide-ide yang tidak biasanya dengan suatu pikiran terbuka serta dapat membuat hubungan-hubungan dalam menyelesaikan masalah. Semua orang diasumsikan kreatif, tetapi derajat kreativitasnya berbeda. Keadaan ini menunjukkan adanya tingkat kemampuan berpikir kreatif seseorang yang berbeda (Solso dalam Siswono 2006). Hal ini dapat ditunjukkan dengan bukti-bukti adanya hasil kreasi beberapa orang tertentu dalam teknologi maupun pengetahuan yang luar biasa, sebut saja misalkan Thomas Alfa Edisson, Einstein. Di lain pihak terdapat orang yang tidak dapat berkreasi tetapi hanya memakai atau tidak punya pengetahuan atau ketrampilan sama sekali. Keadaan ini menunjukkan adanya tingkat atau derajat kreatifitas atau kemampuan berpikir kreatif seseorang yang berbeda. Tingkat berpikir kreatif seseorang dapat dipandang sebagai suatu kontinum yang dimulai dari derajat terendah sampai tertinggi. Apabila diambil seorang individu sebarang, maka kita dapat menempatkan ia dalam kontinum tingkat berpikir kreatif itu. Tetapi karena banyaknya individu yang terbilang (bersifat diskrit), maka pendekatan untuk mengetahui derajat berpikir kreatif itu berupa klasifikasi hirarkhis yang diskrit, seperti telah diungkapkan beberapa ahli (Siswono, 2006).

Ide tentang tingkat kemampuan berpikir kreatif telah diungkapkan oleh beberapa ahli, antara lain oleh De Bono, Gotoh, dan Krulik & Rudnick (Siswono, 2006). Para ahli tersebut mendefinisikan 4 tingkat perkembangan ketrampilan berpikir kreatif, yaitu kesadaran berpikir, observasi berpikir, strategi berpikir dan refleksi berpikir. Gotoh (2004) mengungkapkan tingkatan berpikir matematis dalam memecahkan masalah terdiri (formal) dan konstruktif (kreatif) dari 3 tingkat yang dinamakan aktifitas empiris (informal), algoritmis (Siswono, 2006).

Tingkat tersebut bersifat umum dan tidak dengan tegas memperlihatkan karakteristik berpikir kreatif dalam matematika. Berpikir kreatif dalam matematika merupakan kombinasi berpikir logis dan berpikir divergen yang

commit to user

memperhatikan fleksibilitas, kefasihan dan kebaruan dalam memecahkan maupun mengajukan masalah.

Perbaikan pengembangan berpikir kreatif dalam matematika berikutnya didasarkan pada produk berpikir kreatif siswa yang terdiri dari 3 komponen, yaitu kefasihan, fleksibilitas dan kebaruan dalam memecahkan masalah. Tingkat berpikir kreatif (TBK) ini terdiri dari 5 tingkat, yaitu tingkat 4 (sangat kreatif), tingkat 3 (kreatif), tingkat 2 (cukup kreatif), tingkat 1 (kurang kreatif), dan tingkat 0 (tidak kreatif). Teori hipotetik tingkat berpikir kreatif ini dinamakan draf tingkat berpikir kreatif (Siswono, 2006).

Ketidakcermatan berpikir berhubungan dengan proses berpikir kreatif siswa dalam memecahkan masalah sehingga dalam pembelajaran matematika guru harus memperhatikan proses berpikir kreatif siswa. Hal ini karena matematika berkaitan erat dengan proses belajar dan berpikir sesuai dengan karakteristik matematika sebagai suatu ilmu. Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika yang sangat penting karena dalam proses pembelajaran siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimilikinya untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin.

Polya (1985) mengartikan pemecahan masalah sebagai suatu usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan guna mencapai suatu tujuan yang tidak segera dapat dicapai (Roebyanto, 2011). Pemecahan masalah dalam hal ini (McGivney & DeFranco, 1995) meliputi dua aspek, yaitu masalah menemukan (problem to find) yaitu mencari, menentukan atau mendapatkan nilai atau objek tertentu yang tidak diketahui dalam soal dan memberi kondisi atau syarat yang sesuai dengan soal dan masalah membuktikan (problem to prove) yaitu prosedur untuk menentukan apakah suatu pernyataan benar atau tidak benar (Roebyanto, 2011). Soal membuktikan terdiri atas bagian hipotesis dan kesimpulan.

Utari (1994) menegaskan bahwa pemecahan masalah dapat berupa menciptakan ide baru, menemukan teknik atau produk baru (Roebyanto, 2011).

commit to user

Bahkan di dalam pembelajaran matematika, selain pemecahan masalah mempunyai arti khusus, istilah tersebut juga mempunyai interpretasi yang berbeda. Misalnya menyelesaikan soal cerita atau soal yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Sebenarnya disadari bahwa dalam pembelajaran matematika bisa menggunakan berbagai macam cara dalam pembelajaran sehingga pembelajarannya bisa lebih bermakna untuk siswa. Kaitannya dengan hal ini bisa menggunakan pembelajaran kontekstual yaitu pembelajaran yang mengkaitan isi materi pembelajaran dengan kehidupan nyata sehari-hari. Sehingga pemecahan masalah kontektual adalah usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan, dari sesuatu yang menghambat untuk mencapai tujuan yang tidak segera dapat dicapai dalam konteks yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, dan bukanlah kegiatan menghafal, mengingat fakta-fakta, mendemonstrasikan latihan secara ulang-ulang akan tetapi proses berpengalaman dalam kehidupan nyata.

Di satu sisi, Jensen (2008) berpendapat, terdapat perbedaan ketrampilan pemecahan masalah antara perempuan dan laki-laki. Laki-laki lebih unggul dalam penguasaan matematika dan pemecahan masalah dibandingkan perempuan (hlm.

149). Terlepas dari perbedaan gender, perbedaan kemampuan matematika yang dimiliki setiap siswa juga diharapkan dapat mempengaruhi berpikir kreatif siswa karena kemampuan matematika merupakan kesanggupan dalam menyelesaikan masalah tentang penalaran logik yang berhubungan dengan bilangan. Dari perbedaan gender dan kemampuan matematika dapat dimungkinkan siswa laki-laki lebih unggul dalam kemampuan matematis dan menyelesaikan masalah matematika daripada siswa perempuan, untuk itu siswa laki-laki dengan kemampuan matematika tinggi akan mempunyai tingkat berpikir kreatif yang lebih tinggi daripada siswa dengan kemampuan matematika yang sedang ataupun rendah. Untuk itulah peneliti akan menguak apakah di SMPN 16 Surakarta ini siswa laki-laki memiliki kemampuan metematis yang lebih unggul daripada siswa perempuan sehingga tingkat berpikir kreatif siswa laki-laki juga lebih tinggi dari tingkat berpikir kreatif siswa perempuan. Kemampuan matematika disini adalah kemampuan dalam memecahkan masalah kontekstual.

commit to user

Terkait dengan pemecahan masalah kontekstual, materi luas dan keliling persegipanjang dan persegi pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) akan lebih menarik jika diterapkan ke dalam masalah kontekstual. Dengan disajikannya materi ini dalam permasalahan kontekstual memungkinkan siswa berpikir lebih mendalam karena permasalahan yang ada bisa dikaitkan dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari sehingga akan sangat memungkinkan siswa untuk berpikir kreatif dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Selain menarik dan menuntut siswa berpikir lebih kreatif, pokok bahasan ini merupakan pokok bahasan yang penting karena menjadi dasar dari pokok bahasan berikutnya misalkan pada pokok bahasan luas atau volume bangun ruang. Pokok bahasan ini juga akan digunakan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi misalnya pada saat siswa kelas VIII.

Permasalahan dan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari dalam konteks matematika sangat banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Matematika itu berkenaan dengan ide-ide kreatif yang tersusun secara hirarkis dengan penalaran yang bersifat deduktif. Matematika juga memiliki peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam pembelajaran disekolah matematika juga mempunyai peranan yang penting bagi guru-guru yang mengajar matematika, karena para guru bukanlah mengajar siswa hanya dengan kesamaan-kesamaan yang dimiliki siswa melainkan pada keheterogenan yang ada. Heterogen dari gender maupun dari kemampuan matematika sangat dimungkinkan akan diperoleh cara berpikir kreatif yang berbeda. Dari cara berpikir kreatif siswa yang berbeda-beda inilah memunculkan tingkat berpikir kreatif yang berbeda pula. Agar pembelajaran yang dilakukan guru terhadap berbagai siswa yang heterogen akan bermakna dan dapat diikuti oleh seluruh peserta didik yang heterogen tadi, maka salah satu cara adalah dengan mengkaitkan permasalahan matematika dengan masalah yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari atau permasalahan kontekstual. Pada SMP kelas VII semester II materi yang menarik jika disajikan dalam permasalahan kontekstual adalah materi persegi dan persegipanjang. Dengan materi ini dimungkinkan bisa memunculkan ide-ide kreatif dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Disisi lain Jensen berpendapat bahwa laki-laki lebih

commit to user

unggul dalam kemampuan matematis terutama dalam geometri. Untuk itulah peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana tingkat berpikir kreatif siswa SMPN 16 Surakarta ini dalam memecahkan masalah kontekstual pada pokok bahasan persegi panjang dan persegi ditinjau dari kemampuan matematika dan perbedaan gender.

Dalam dokumen Skripsi. Oleh : NURUL WAHIDAH K (Halaman 21-26)

Dokumen terkait