HADIS MAUDHU’ (HADIS PALSU)
C. Latar Belakang Munculnya Hadis Maudhu’
ىراخبلا هاور
(
Artinya: “Barang siapa yang sengaja berdusta atas
namaku maka hendaklah tempatnya di neraka.” (H.R. Bukhari)
C. Latar Belakang Munculnya Hadis Maudhu’
Ulama hadis berpendapat bahwa munculnya hadis
maudhu’ adalah pada tahun 40 H pada masa khalifah Ali bin Abi
Thalib, ketika terjadi pertikaian politik. Namun Berdasarkan data sejarah, pemalsuan hadis tidak hanya dilakukan oleh orang-orang Islam, tetapi juga dilakukan oleh orang-orang non Islam.
Ada beberapa motif yang mendorong dilakukannya pemalsuan hadis, yaitu :
1. Pertentangan politik
Perpecahan umat Islam akibat pertanyaan politik yang terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib sangat besar berpengaruh terhadap pemunculan hadis-hadis palsu. Masing-masing golongan berusaha mengalahkan lawan dan mempengaruhi orang-orang tertentu, salah satunya adalah membuat hadis palsu. Akibat perpecahan politik ini, golongan syi’ah membuat hadis palsu. Golongan inilah yang pertama-tama membuat hadis palsu. Ibnu al-Mubarak mengatakan :
Dari pengertian di atas dapat dikatakan bahwa hadis
maudhu’ bukanlah hadis yang bersumber dari Rasulullah atau
dengan kata lain bukan merupakan hadis Rasul, paling tidak sebagian, namun hadis tersebut hanya disandarkan kepada Rasul atau diatasnamakan Rasul.[4]
Dasarnya munculnya hadis maudhu’:
رانلا نم هدعقم أوبتيلف ادمعتم يلع بذك نم
)
ىراخبلا هاور
(
Artinya: “Barang siapa yang sengaja berdusta atas
namaku maka hendaklah tempatnya di neraka.” (H.R. Bukhari)
C. Latar Belakang Munculnya Hadis Maudhu’
Ulama hadis berpendapat bahwa munculnya hadis
maudhu’ adalah pada tahun 40 H pada masa khalifah Ali bin Abi
Thalib, ketika terjadi pertikaian politik. Namun Berdasarkan data sejarah, pemalsuan hadis tidak hanya dilakukan oleh orang-orang Islam, tetapi juga dilakukan oleh orang-orang non Islam.
Ada beberapa motif yang mendorong dilakukannya pemalsuan hadis, yaitu :
1. Pertentangan politik
Perpecahan umat Islam akibat pertanyaan politik yang terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib sangat besar berpengaruh terhadap pemunculan hadis-hadis palsu. Masing-masing golongan berusaha mengalahkan lawan dan mempengaruhi orang-orang tertentu, salah satunya adalah membuat hadis palsu. Akibat perpecahan politik ini, golongan syi’ah membuat hadis palsu. Golongan inilah yang pertama-tama membuat hadis palsu. Ibnu al-Mubarak mengatakan :
ِةَى ِ اَّرلِل ُبِذَكلْاَو ِيْأَّرلا ِلْهِلأ ُلْيَلخْاَو ُمَلاَكلْاَو ِثْيِدَلحْا ِلْهِلأ ُنْيِّدلا
Hammad bin Salamah pernah meriwayatkan bahwa ada salah seorang tokoh Rafidah berkata, “Sekiranya kamipandang baik, segera kami jadikan hadis.”
Imam Safi’i juga pernah berkata, “Saya tidak melihat
pemuas hawa nafsu yang melebihi sekte Rafidah dalam membuat hadis palsu.”
Contoh hadis palsu yang dibuat oleh kaum Syi’ah:
ِتَعْ يِةِلَو َكِلْهَلأَو َكْيَدِلاَوِلَو َكِتَّيِرُذِلَو َكَلَرَفَغ َللها َّنِا ُّيِلَع اَي
َك
َكِتَعْ يِش ِّْبيِحُمِلَو
“Wahai Ali sesungguhnya Allah SWT telah mengampunimu, keturunanmu, kedua orang tuamu (golongan) Syi’ahmu dan orang yang mencintai (golongan) Syi’ahmu”.
Contoh hadis palsu yang dibuat lawan Syi’ah sbb:
َا ُةَثَلاَث ُءاَنْمَلأَا
َكْنِم اَنَاَو ُةَّيِو اَعُم َاي ِّنِِم َتْنَا َّةَيِو َاُعمَو َلْيِْبرِجَو اَن
“Tiga golongan yang dapat dipercaya yaitu saya (rosul), Jibril, dan Muawiyyah. kamu termasuk golongan dan aku termasuk dari kamu”.
2. Usaha kaum zindiq
Kaum Zindiq adalah golongan yang membenci Islam, baik sebagai agama atau pun sebagai dasar pemerintahan. Tujuan mereka adalah menghancurkan agama Islam dari dalam. Abdul Al-Karim bin Auja, seorang zindik, mengatakan “Demi Allah saya telah membuat hadis palsu
sebanyak 4.000 hadis.” Contoh hadis yang dibuat oleh
ٌةَقَدَص ِلْيِمَلجْا ِهْجَولْا َلىِا ُرْظَّنلَا
“Memandang wajah yang cantik adalah sedekah”.3. Sikap fanatik buta terhadap bangsa, suku, bahasa, negeri, dan pimpinan
Salah satu tujuan membuat hadis palsu adalah sifat ego dan fanatik untuk menonjolkan seseorang, bangsa, kelompok, dan sebagainya. Golongan Asy-Syu’ubiyah yang fanatik terhadap bahasa Persi mengatakan, “Apabila Allah
murka, maka Dia menurunkan wahyu dengan bahasa Arab. Apabila senang, maka Dia menurunkan dalam bahasa Persi.” Sebaliknya, orang Arab yang fanatik terhadap
bahasa Arab mengatakan, “Apabila Allah murka, maka Dia
menurunkan wahyu dengan bahasa Persi, dan apabila senang maka Dia menurunkannya dengan bahasa Arab.”
4. Mempengaruhi orang awam dengan kisah dan nasihat Kelompok ini ingin memperoleh simpati dari pendengarnya sehingga mereka kagum melihat kemampuannya. Hadis yang mereka katakan terlalu berlebih-lebihan.Sebagai contoh dapat dilihat pada hadis :
َهَذ ْنِم ُهُراَقْ نَم ا رِشاَط ٍةَمِلَك ِّلُك ْنِم ُللها َّلاِا َهلِا َلا َلاَق ْنَم
ُهُةْيِرَو ٍب
.ٍناَجْرَم ْنِم
Artinya:”Barangsiapa mengucapkan kalimat La ilahailla Allah, maka Allah akan menjadikan dari kalimat itu seekor burung yang paruhnya dari emas dan bulunya dari batu marjan”.
ٌةَقَدَص ِلْيِمَلجْا ِهْجَولْا َلىِا ُرْظَّنلَا
“Memandang wajah yang cantik adalah sedekah”.3. Sikap fanatik buta terhadap bangsa, suku, bahasa, negeri, dan pimpinan
Salah satu tujuan membuat hadis palsu adalah sifat ego dan fanatik untuk menonjolkan seseorang, bangsa, kelompok, dan sebagainya. Golongan Asy-Syu’ubiyah yang fanatik terhadap bahasa Persi mengatakan, “Apabila Allah
murka, maka Dia menurunkan wahyu dengan bahasa Arab. Apabila senang, maka Dia menurunkan dalam bahasa Persi.” Sebaliknya, orang Arab yang fanatik terhadap
bahasa Arab mengatakan, “Apabila Allah murka, maka Dia
menurunkan wahyu dengan bahasa Persi, dan apabila senang maka Dia menurunkannya dengan bahasa Arab.”
4. Mempengaruhi orang awam dengan kisah dan nasihat Kelompok ini ingin memperoleh simpati dari pendengarnya sehingga mereka kagum melihat kemampuannya. Hadis yang mereka katakan terlalu berlebih-lebihan.Sebagai contoh dapat dilihat pada hadis :
َهَذ ْنِم ُهُراَقْ نَم ا رِشاَط ٍةَمِلَك ِّلُك ْنِم ُللها َّلاِا َهلِا َلا َلاَق ْنَم
ُهُةْيِرَو ٍب
.ٍناَجْرَم ْنِم
Artinya:”Barangsiapa mengucapkan kalimat La ilahailla Allah, maka Allah akan menjadikan dari kalimat itu seekor burung yang paruhnya dari emas dan bulunya dari batu marjan”.
5. Perselisihan dalam fikih dan ilmu kalam
Munculnya hadis-hadis palsu dalam masalah-masalah fikih dan ilmu kalam ini berasal dari para pengikut madzhab. Mereka melakukan pemalsuan hadis karena didorong sifat fanatik dan ingin menguatkan mazhabnya masing-masing.
Di antara hadis-hadis palsu, adalah :
a. “Siapa yang mengangkat kedua tangannya dalam shalat, maka shalatnya tidak sah.”
b. “Jibril menjadi imamku dalam shalat di Ka’bah, ia (Jibril) membaca basmalah dengan nyaring.”
c. “Siapa yang mengatakan al-Qur’an adalah makhluk, niscaya ia telah kufur kepada Allah.”
6. Membangkitkan gairah beribadah tanpa mengerti apa yang dilakukan
Di antara ulama yang membuat hadis palsu ada yang berasumsi bahwa usahanya itu merupakan upaya mendekatkan diri kepada Allah dan menjunjung tinggi agama-Nya. Mereka mengatakan, “Kami berdosa
semata-mata untuk menjunjung tinggi nama Rasulullah dan bukan sebaliknya.” Nuh bin Abi Maryam telah membuat hadis
berkenaan dengan keutamaan membaca surat-surat tertentu dalam Al-Qur’an.
Ghulam Al-Khalil (dikenal ahli Zuhud) membuat hadis tentang keutamaan wirid dengan maksud memperhalus kalbu manusia. Dalam kitab Tafsir
Ats-Tsa’labi, Zamakhsyari, dan Baidawi terdapat banyak hadis
palsu, begitu juga dalam kitab Ihya Ulum Ad-Din. 7. Menjilat penguasa
Giyas bin Ibrahim merupakan tokoh yang banyak ditulis dalam kitab hadis sebagai pemalsu hadis tentang
“Perlombaan”. Matan asli sabda Rasulullah SAW berbunyi:
ٍفُخ ْوَأ ٍلْصَن ِفى َّلاِا َقَبَس َلا
Artinya: Tidak (boleh) ada perlombaan kecuali padakuda atau onta.
Kemudian Giyas menambah kata “merpati” dalam akhir hadis agar diberi hadiah atau mendapat simpatik dari khalifah Al-Mahdi. Setelah mendengar hadis tersebut, Al-Mahdi memberikan hadiah sepuluh ribu dirham, namun ketika Giyas hendak pergi, Al-Mahdi menegur, seraya berkata, “Aku yakin itu sebenarnya merupakan dusta atas nama Rasulullah SAW”. Menyadari hal itu, khalifah memerintahkan untuk menyembelih merpatinya. Beberapa motif pembuatan hadis palsu di atas, dapat dikelompokkan menjadi :
a. Ada yang sengaja. b. Ada yang tidak sengaja.
c. Ada keyakinan bahwa membuat hadis palsu diperbolehkan.
d. Ada yang tanpa sadar jika dirinya membuat hadis palsu.
Apapun alasannya maka membuat hadis palsu merupakan perbuatan tercela dan menyesatkan, karena hal ini sangat bertentangan dengan sabda Rasulullah SAW:
ِراَّنلا َنِم ُهَدَعْقَم ْأَّوَ بَتَيْلَ ف ا دِّمَعَ تَم َّيَلَع َبَذَك ْنَمَف
Artinya: “Barang siapa berdusta dengan
mengatasnamakan aku maka hendaklah ia
“Perlombaan”. Matan asli sabda Rasulullah SAW berbunyi:
ٍفُخ ْوَأ ٍلْصَن ِفى َّلاِا َقَبَس َلا
Artinya: Tidak (boleh) ada perlombaan kecuali padakuda atau onta.
Kemudian Giyas menambah kata “merpati” dalam akhir hadis agar diberi hadiah atau mendapat simpatik dari khalifah Al-Mahdi. Setelah mendengar hadis tersebut, Al-Mahdi memberikan hadiah sepuluh ribu dirham, namun ketika Giyas hendak pergi, Al-Mahdi menegur, seraya berkata, “Aku yakin itu sebenarnya merupakan dusta atas nama Rasulullah SAW”. Menyadari hal itu, khalifah memerintahkan untuk menyembelih merpatinya. Beberapa motif pembuatan hadis palsu di atas, dapat dikelompokkan menjadi :
a. Ada yang sengaja. b. Ada yang tidak sengaja.
c. Ada keyakinan bahwa membuat hadis palsu diperbolehkan.
d. Ada yang tanpa sadar jika dirinya membuat hadis palsu.
Apapun alasannya maka membuat hadis palsu merupakan perbuatan tercela dan menyesatkan, karena hal ini sangat bertentangan dengan sabda Rasulullah SAW:
ِراَّنلا َنِم ُهَدَعْقَم ْأَّوَ بَتَيْلَ ف ا دِّمَعَ تَم َّيَلَع َبَذَك ْنَمَف
Artinya: “Barang siapa berdusta dengan
mengatasnamakan aku maka hendaklah ia
mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka.”