• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jaminan perlindungan warga negara dari kekerasan dan diskriminasi perlindungan terhadap semua warga negara merupakan hak bagi warga negara baik laki-laki maupun perempuan. Perlindungan yang dimaksud secara jelas tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 (selanjutnya disebut UUD 1945) paragraf keempat ”Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia ...”(Bukti P-10);

Perlindungan yang dimaksud dalam UUD 1945 tersebut termasuk perempuan, dimana pelaksanaannya menjadi tanggung jawab Pemerintah. Namun, selama ini praktek diskriminasi berdasar jenis kelamin masih terus berlangsung. Hingga kemudian, pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (selanjutnya disebut DPR RI) beritikad untuk menghapuskan praktek dan pelegalan diskriminasi terhadap perempuan. Sehingga melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW), praktik diskriminasi dapat dihilangkan. (Bukti P-11)

Bahkan Pasal 27 UUD 1945 menegaskan jaminan tersebut, dimana semua warga sama kedudukannya di depan hukum. Akan tetapi realitasnya, hukum tidak netral namun berpihak pada pihak yang kuat. Dalam kasus menyangkut kekerasan terhadap perempuan, hukum tidak berpihak pada perempuan. Dalam Pasal 31 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menempatkan istri sebagai ibu rumah tangga dan suami sebagai kepala keluarga yang

legalitas.org

mempengaruhi perlindungan istri dari bentuk kekerasan dalam rumah tangga.

(Bukti P12)

Meskipun kemudian disyahkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, namun tetap saja implementasinya mendiskriminasikan pihak istri sebagai korban. Padahal, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga merupakan implementasi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 yang merupakan instrumen satu-satunya bagi penghapusan diskriminasi. (Bukti P13) Sebagai wujud penegakan Hak Asasi Manusia, UUD 1945 dengan menambahkan pasal-pasal yang menyangkut pelaksanaan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia. Pasal 28I menjelaskan bahwa “Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapat perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif”. Untuk itu dapat kita uraikan selanjutnya fakta yang terjadi dalam masyarakat dan budaya hukum kita dalam memberikan jaminan atas Pasal 27 UUD 1945 tersebut dan praktek pelaksanaan Pasal 28I UUD 1945 Pasca.

Fakta Kondisi, Psikologi dan Budaya Perempuan dalam Pornografi di Indonesia Pembedaan laki-laki dengan perempuan telah menjadi persoalan dalam masyarakat dan budaya hukum. Seluruh dunia bahkan sangat meyakini laki-laki dan perempuan sebagai makhluk yang tidak setara. Akibat keyakinan tersebut telah terjadi pembedaan perlakuan terhadap laki-laki dan perempuan. Dimana perlakuan terhadap perempuan ternyata menimbulkan kerugian-kerugian atau dikenal dengan sebutan diskriminasi (berdasarkan Laporan Pemantauan Peradilan Kasus-kasus Kekerasan Terhadap Perempuan di Enam wilayah (Medan, Palembang, Jakarta, Kalimantan Timur, Manado, Kupang) Periode Juni 2004 - Mei 2005, Jakarta-LBH APIK Jakarta, 2007) (Bukti P-14 )

Diskriminasi telah menimbulkan berbagai macam ketimpangan sosial antara laki-laki dan perempuan. Perempuan diperlakukan sedemikian rupa sesuai dengan keinginan masyarakat, bahwa perempuan haruslah lemah lembut, penuh kasih sayang, keibuan, lemah, dan lain sebagainya sehingga perlu dilindungi, tidak akan melakukan kejahatan/bertindak yang tidak baik/melanggar norma. Akibatnya perempuan dikekang hak-haknya, diberi batasan dalam menjalankan kehidupannya dan distigma menjadi perempuan yang baik atau yang tidak baik.

legalitas.org

Perempuan yang telah terstigma sebagai perempuan yang tidak baik maka akan menjadi alasan yang mengesahkan bagi siapapun memperlakukannya secara tidak baik. Hal ini tercermin dari perlakuan aparatus negara yang memperlakukan tindakan sewenang-wenang terhadap perempuan yang bekerja di wilayah yang dikonotasikan sebagai tempat tidak baik. Untuk menentukan baik dan tidak baik maka masyarakat juga yang menentukan. Tindakan laki-laki yang “berhubungan”

dengan banyak perempuan dianggap sebagai hal yang wajar karena berkaitan dengan keinginan masyarakat terhadap laki-laki sebagai manusia yang jantan, gagah perkasa terkait dengan budaya poligami. Sebaliknya perempuan yang

“berhubungan” dengan banyak laki-laki dianggap sebagai tindakan yang tidak baik.

Akibatnya, perlakuan kekerasan terhadap perempuan dianggap wajar.

Kondisi masyarakat dalam memposisikan perempuan berpengaruh terhadap cara berfikir dan psikologis perempuan. Kurang informasinya hak dasar manusia kepada perempuan menyebabkan perempuan lebih memahami kekerasan yang dialaminya sebagai nasib bukan pelanggaran HAM. Bahkan perempuan seringkali menyalahkan dirinya sendiri. Perempuan bahkan mengamini bahwa hidupnya bergantung pada suami/bapak atau laki-laki karena mereka dianggap sebagai pelindung. Sikap yang demikian akhirnya menempatkan perempuan dalam posisi sebagai orang yang menurut dan menjalankan perintah. Konstruksi yang dibangun menyebabkan perempuan tidak dapat mengambil keputusan bagi dirinya sendiri.

Akibatnya banyak kasus kekerasan terhadap perempuan, terutama yang berkaitan dengan kekerasan seksual, trafficking dan kekerasan dalam pacaran serta perempuan menjadi korban objek pornografi.

Menurut Husein Muhammad dalam pengantar Buku Tubuh, Seksualitas, dan Kedaulatan Perempuan mengatakan bahwa budaya patriarkhi yang telah menempatkan perempuan dalam sisi yang marginal, akan tetapi perempuan dijadikan masyarakat sebagai tolak ukur kondisi masyarakat. Bahkan perempuan dianggap sebagai sumber kekacauan, pembuat dosa dan kerusakan moralitas serta sumber keberingasan nafsu laki-laki. Konstruksi sosial (budaya Patriarkhi) itulah yang kemudian dilekatkan kepada perempuan yang mana kemudian perempuan dibatasi dan diatur gerak dan aktivitas, bahkan cara berpakaiannya.

Pelekatan ini menyebabkan perempuan selalu menjadi kelas dua didalam konstruksi masyarakat yang akhirnya menjadi pihak yang rentan menjadi korban

legalitas.org

perlakuan sosial dan kebijakan (peraturan perundang-undangan yang diskriminatif dalam implementasinya).

Hingga kemudian masyarakat mulai menghendaki agar nilai-nilai tersebut menjadi aturan yang baku dalam hukum. Peraturan itu berupa Peraturan Daerah (Perda) tentang kewajiban berpakaian muslim/muslimah dan pelarangan pelacuran.(Bukti P-15)

Dualisme makhluk alam/makhluk budaya yang direkatkan dengan kondisi alamiah yang dimiliki perempuan pada kenyataannya mensubordinatkan perempuan.

Pengaturan dalam perda tersebut merupakan perwujudan konstruksi seksual sosial. Perwujudan tersebut merefleksikan nilai dan norma tentang seks, gender dan seksualitas menurut deskripsi seperti yang dikehendaki oleh kekuasaan dalam budaya patriarkhi (Syarifah,“Kebertubuhan Perempuan dalam PORNOGRAFI”, Jakarta-Yayasan Kota Kita, 2006, Hal.26 paragraf 1)

Syarifah (Kriminolog Universitas Indonesia) mengatakan bahwa Pornografi merupakan representasi konstruksi seksual sosial tersebut yang membenarkan hierarki kekuasaan sistematis dalam relasi seksual. Dalam prakteknya, pornografi berlawanan dengan pandangan pornografi sebagai cerminan kehidupan seks.

Prakteknya dalam pornografi telah menyunting, menggunting, mendisain dan merekayasa sedemikian rupa agar dapat menjadi bahan publikasi dan mempunyai nilai jual yang tinggi. (Syarifah, “Kebertubuhan Perempuan dalam PORNOGRAFI”, Jakarta-Yayasan Kota Kita, 2006, Prawacana Hal XIX paragraf 1)

Ketika pornografi menjadi nilai jual tinggi dan masyarakat sebagai penikmat pornografi “menjadi candu”, maka masyarakat sendiri merasa gerah, bahkan menyatakan anti pornografi. Masyarakat menunjuk perempuan sebagai sumbernya. Sumber maksiat yang tidak mempunyai moralitas, pamahaman terhadap agama yang kurang dan merugikan karena menimbulkan dampak negatif. Kondisi inilah yang digunakan Pemerintah bersama DPR sebagai filosofi dalam menyusun dan mengesahkan berlakunya UU Pornografi.

Filosofi moralitas yang tidak menyentuh akar persoalan pornografi, karena ada atau tanpa pelarangan pornografi, pornografi tetap berlangsung. Akar permasalahan adanya pornografi yang direkayasa sebagai komoditi industri pornografi sama sekali diabaikan. Perempuan dalam ketidaksetaraan kehilangan otoritasnya, yang menjadikannya sebagai objek semata, pemahaman yang dialami

legalitas.org

dan diterima perempuan yang membawanya dalam situasi eksploitasi seksual.

Hingga akhirnya eksploitasi inilah yang menyuburkan industri pornografi ke dalam bentuk komoditi yang sangat laku untuk diperdagangkan. Hingga akhirnya perempuan terjebak dalam lingkaran perdagangan orang (trafficking). Kondisi perempuan dalam budaya patriarkhi yang demikian tidak dipahami sebagai akar masalah dalam menyelesaikan persoalan berkembangnya pornografi.

Kondisi demikian beberapa ahli menyatakan:

Keadaan dan persoalan perempuan dalam masyarakat tersebut lahir dari perkembangan dalam sejarah uang yang membuat suatu kelas menguasai kelas lain dan laki-laki menguasai perempuan. Perempuan sebagai produk kelas dan seks (Nawal El Sadawi,“ Perempuan Dalam Budaya Patriarkhi”, Pustaka Pelajar Offset, Hal. V)

Perempuan sebagai produk kelas dan seks, saat ini dimanfaatkan dalam industri pornografi dan dianggap oleh masyarakat, perempuanlah yang memamerkan keindahan tubuhnya. Perasaan kemanusiaan perempuan telah diluruhkan oleh industri seks menjadi sex provider, status dan fungsi yang mengandung arti tidak lebih sebagai alat pemuas kebutuhan seks dalam kondisi objektif yang memperoleh pembenaran moral. Judith Hill berpendapat dengan merumuskan bahwa: “pornografi sebagai sebuah sarana yang memuat berbagai implikasi dari dikukuhkannya pandangan-pandangan yang membenarkan adanya sebuah kebenaran dari ‘alam perempuan’ yang tipikal dalam budaya.

(Syarifah,“Kebertubuhan Perempuan dalam PORNOGRAFI”, Jakarta-Yayasan Kota Kita, 2006, hal. 24)

Menurut Syarifah, menempatkan pornografi hanya sebagai masalah moral berarti menyangkal keberadaan perempuan serta kepentingan-kepentingannya.

Pornografi telah menjadikan perempuan sebagai target utamanya. Pornografi sebagai anak emas kapitalis dapat mendorong para konsumennya untuk membeli kesenangan ”melihat tubuh”, tentu dengan cara mengedepankan tubuh fisikal perempuan atau representasinya untuk ditatap dan dinikmati menjadi komoditi yang dapat menyediakan kepuasan seks bagi penatapnya. Semua ini bukankah manifestasi kekerasan terhadap perempuan. Bahkan Syarifah, menyitir pendapat Yasraf Amir Piliang yang menyatakan:

legalitas.org

“Komodifikasi perempuan oleh pornografi telah melibatkan penggunaan tubuh dan kebertubuhan perempuan dan representasinya untuk menawarkan kesenangan

“melihat tubuh” di dalam masyarakat, bukan “memiliki tubuh” di dalam masyarakat tontonan masa kini.” (Ibidem, Hal. 157-158)

Berdasarkan fakta tersebut pornografi dilarang oleh Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi (selanjutnya disebut UU Pornografi). Dalih melakukan perlindungan terhadap perempuan dan anak dari pornografi sebagai tujuan. Akan tetapi fakta kondisi, posisi dan psikologi perempuan dalam masyarakat yang menempatkan perempuan sebagai korban kekerasan terhadap perempuan dalam pornografi tidak menjadi landasan pembentukannya. Untuk itulah gugatan uji materiil ini perlu dilakukan guna mendapatkan kepastian bahwa perempuan dan anak terlindungi dari pornografi dan menguji UU Pornografi apakah melindungi hak konstitusi warga negara Indonesia atau sebaliknya menjadikan warga negara sebagai korban yang terlanggar hak konstitusinya.

Tentang Fakta Kondisi Kekerasan terhadap Perempuan

Bahwa Kekerasan terhadap perempuan disebabkan oleh adanya ketimpangan gender antara laki-laki dan perempuan dan ketimpangan relasi antara perempuan dan laki-laki. Perempuan yang hidup dalam lingkungan dan budaya patriarkhi senantiasa menjadi pihak yang dirugikan dan mendapatkan diskriminasi. Sekalipun demikian, perempuan selalu menomorsatukan keluarga dan mengambil peran sebagai kepala keluarga.

Bahwa Komnas Perempuan dalam catatan tahunan mencatat peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia...(Bukti P1-7).