• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.3 Kerangka Pemikiran dan Pengembangan Hipotesis

2.3.4 Latar Belakang Pendidikan Menengah dan Tingkat Pemahaman

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat di ambil hipotesis yaitu:

H3: Kecerdasan sosial berpengaruh positif terhadap tingkat pemahaman akuntansi.

2.3.4 Latar Belakang Pendidikan Menengah dan Tingkat Pemahaman Akuntansi

36 Pengalaman belajar yang didapatkan di bangku pendidikan menengah atas dapat membantu efisiensi proses belajar, dikarenakan sudah mengetahui dasar-dasar akuntansi dan ada kesinambungan dengan antara yang dipelajari di sekolah dan kuliah (Agustina, 2015). Jika sudah memiliki pengalaman belajar maka diperkirakan memiliki dasar pemahaman terkait akuntansi itu sendiri. Pengetahuan dasar tersebut sangat membantu mahasiswa untuk memahami lebih jauh tentang pendidikan akuntansi di bangku perkuliahan. Jadi, seorang mahasiswa yang dulunya pada saat pendidikan menengah atau SMA berasal dari jurusan IPA, mereka akan sedikit kesulitan untuk memahami pendidikan akuntansi pada saat awal semester perkuliahan. Sebaliknya, untuk mahasiswa yang dulunya pada saat pendidikan menengah atau SMA berasal dari jurusan IPA, mereka sudah mempunyai dasar pendidikan akuntansi yang diperoleh saat SMA sehingga memudahkan mahasiswa pada semester awal dan semester-semester berikutnya.

Penelitian tentang latar belakang pendidikan menengah telah dilakukan oleh Laksmi dan Febrian (2018), memperoleh hasil bahwa latar belakang pendidikan menengah berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat pemahaman akuntansi. Hasil tersebut juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Lestari dkk (2018), memperoleh hasil latar belakang pendidikan menengah berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat pemahaman akuntansi.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat di ambil hipotesis yaitu:

H4: Latar belakang pendidikan menengah yang berbeda berpengaruh positif terhadap tingkat pemahaman akuntansi.

37 2.3.5 Fasilitas Pembelajaran dan Tingkat Pemahaman Akuntansi

Fasilitas belajar adalah sarana pendukung dalam proses pembelajaran yang dapat membuat mahasiswa tertarik untuk mengetahui informasi yang disampaikan dengan menggunakan alat peraga atau media pembelajaran yang digunakan (Reski, 2018). Dengan fasilitas belajar yang baik, maka akan membuat perkuliahan lebih menarik sehingga akan memudahkan mahasiswa akuntansi untuk memperoleh pemahaman pendidikan akuntansi. Pada prinsipnya, fasilitas belajar terdiri dari sarana dan prasarana. Sarana belajar mencakup benda-benda yang dapat bergerak seperti: perabotan belajar, perlengkapan belajar, sumber dan media pembelajaran.

Sedangkan prasarana mencakup benda-benda tidak bergerak seperti ruang belajar, ruang perpustakaan, gedung, lapangan, dll.

Kelengkapan fasilitas belajar membantu siswa dalam belajar dan kurangnya alat-alat atau fasilitas belajar menghambat kemajuan belajar (Dalyono, 2015). Penelitian tentang fasilitas belajar telah dilakukan oleh Rosmida dan Suharyono (2017), memperoleh hasil bahwa fasilitas pembelajaran mempunyai pengaruh positif terhadap tingkat pemahaman akuntansi.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat di ambil hipotesis yaitu:

H5: Fasilitas Pembelajaran berpengaruh positif terhadap tingkat pemahaman akuntansi.

38 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Populasi

Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang memiliki kaulitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2015: 80). Sedangkan menurut Sujarweni (2016), populasi adalah keseluruhan kelompok yang terdiri dari orang, peristiwa, atau sesuatu yang ingin diselidiki oleh peneliti. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif akuntansi yang berasal dari Universitas Di Yogyakarta.

3.2 Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel

Sampel adalah bagian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi yang digunakan untuk penelitian (Sujarweni, 2016). Populasi itu berjumlah besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada dalam populasi, dikarenakan keterbatasan dana, tenaga, dan waktu, maka dari itu peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu (Sugiyono, 2015: 81).

Dalam penentuan sampel peneliti menggunakan purposive sampling.

Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2015:85). Adapun kriteria penentuan sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif S1 jurusan Akuntansi Universitas Islam Indonesia, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Pembangunan Nasional, dan Universitas Gadjah Mada angkatan 2016 yang sudah lulus matakuliah akuntansi pengantar, akuntansi keuangan menengah,

39 akuntansi keuangan lanjutan, pengauditan, teori akuntansi, dan sistem pengendalian manajemen. Alasannya pemilihan universitas di atas adalah karena universitas tersebut berada di Yogyakarta. Selain itu, alasan sudah mengambil mata kuliah tersebut karena matakuliah akuntansi keuangan, akuntansi keuangan menengah, akuntansi keuangan lanjutan, teori akuntansi, pengauditan dan sistem pengendalian manajemen merupakan matakuliah yang sangat berpengaruh dalam akuntansi dan matakuliah dasar yang akan digunakan dalam lingkup kerja.

Menurut Roscoe dalam Sugiyono (2010) ukuran sampel yang layak dalam penelitian adalah 30-500, bila sampel dibagi kategori jumlah anggota sampel setiap kategori minimal 30. Dan dalam penelitian akan melakukan analisis dengan multivariate (korelasi atau regresi ganda), maka jumlah anggota sampel minimal 10 kali variabel yang diteliti yaitu 60.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Kuesioner adalah pertanyaan yang sudah disusun untuk pengumpulan data dan informasi penelitian (Siregar, 2013). Dengan menggunakan kuesioner memudahkan peneliti untuk mengetahui informasi tentang sikap, keyakinan, perilaku, dan karakteristik orang tersebut (Siregar, 2013).

Sebelum kuesioner disebarkan kepada responden, maka peneliti terlebih dahulu melakukan uji coba instrumen kuesioner tersebut kepada lima responden yang tidak masuk dalam sampel penelitian. Alasan dilakukannya uji coba yaitu untuk mengetahui apakah instrument dari pertanyaan sudah handal, komunikatif, serta dapat dipahami dengan baik. Selanjutnya, peneliti menyebarkan kuesioner

40 kepada responden dan mengumpulkan data jawaban dari responden yang disebar secara online.

3.4 Jenis Data dan Sumber Data

Jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer. Menurut Sugiyono (2015) data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari sumbernya, diamati dan dicatat. Data primer dalam penelitian ini adalah hasil kuesioner yang sudah disebarkan secara online melalui media sosial. Penyebaran kuesioner dilakukan dengan tujuan memperoleh data dari responden dan penilaian berkaitan dengan penelitian yaitu kecerdasan emosional, spiritual, sosial, latar belakang pendidikan menengah, dan fasilitas pembelajaran terhadap pemahaman akuntansi.

3.5 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.5.1 Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini ada 2, yaitu independen dan dependen. Variabel independen merupakan variabel yang dapat mempengaruhi variabel dependen.

Variabel independen dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Kecerdasan emosional (EQ) di dalamnya ada pengenalan diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati, dan kemampuan sosial.

b. Kecerdasan spiritual (SQ) di dalamnya ada prinsip bintang, mempunyai rasa percaya, dapat memimpin, mempunyai kemauan untuk belajar, berfikir jangka panjang, dan teratur dalam hidupnya.

c. Kecerdasan sosial di dalamnya ada kesadaran sosial dan fasilitas sosial.

41 d. Latar belakang pendidikan menengah yang berbeda yang diukur dari pengalaman

mahasiswa belajar akuntansi.

e. Fasilitas pembelajar yang terdiri dari lima indikator yaitu gedung, kelas, perlengkapan, perpustakaan, dan media pengajaran.

Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi oleh adanya variabel independen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah tingkat pemahaman akuntansi yang dilihat dari nilai rata-rata mata kuliah sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Agustina dan Yanti (2015).

3.5.2 Definisi dan Pengukuran Variabel

Definisi operasional variabel adalah penentuan variabel sehingga menjadi variabel yang dapat diukur. Variabel yang digunakan untuk pengukuran penelitian ini adalah:

3.5.2.1 Variable Dependen (Y)

Dalam penelitian ini variabel dependennya adalah tingkat pemahaman akuntansi. Tingkat pemahaman akuntansi adalah seberapa jauh kemampuan seseorang untuk menguasai ilmu akuntansi. Untuk mengukur tingkat pemahaman akuntansi menggunakan rata-rata nilai mata kuliah yang berkaitan dengan akuntansi yaitu: Akuntansi Pengantar, Akuntansi Keuangan Menengah, Akuntansi Keuangan Lanjutan, Pengauditan, Teori Akuntansi, dan Sistem Pengendalian Manajemen. Sedangkan untuk variabel dependen pemahaman akuntansi (Y) diukur dalam skala 5 poin yang memiliki rentang pilihan 1(nilai sangat rendah) – 5 (nilai sangat tinggi), di mana skor tertinggi=5 dan skor

42 terendah=1. Dalam penelitian ini skala variabel dibagi menjadi 5 kategori sehingga interval kelas diperoleh sebesar (5- 1)/5= 0,80 (Sudjana, 2002) dalam (Khristi, 2012). Berdasarkan interval kelas ini maka dapat ditentukan klasifikasi sebagai berikut:

• 1,00-1,80 = sangat rendah

• 1,81- 2,60 = rendah

• 2,61-3,40 = cukup tinggi

• 3,41-4,20= tinggi

• 4,21- 5,00= sangat tinggi 3.5.2.2 Variabel Independen

a. Kecerdasan Emosional (X1)

Menurut Nuraini (2017) kecerdasan emosional adalah kemampuan yang dimiliki dalam pengelolaan perasaan, memberikan semangat terhadap diri sendiri, ketahanan ketikan menghadapi cobaan, dapat mengontrol dorongan, mengontrol suasana hati yang sering berubah-ubah, dan kemampuan dalam berempati serta berkerja sama. Alat ukur untuk mengukur kecerdasan emosional adalah dengan menggunakan instrument: pengenalan diri, pengendalian diri, motivasi, empati dan keterampilan diri (Goleman, 2003). Alat ukur yang digunakan untuk mengukur menggunakan kuesioner yang diadopsi dari Dara (2013) yang terdiri dari 14 butir pertanyaan dan dinilai dengan skala Likert 1-4 untuk mewakili jawaban dari responden.

43 b. Kecerdasan Spiritual (X2)

Zohar dan Marshall (2007) menjelaskan, bahwa kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Alat ukur yang digunakan adalah dengan instrument: prinsip ketuhanan, mempunyai rasa percaya, dapat memimpin, mempunyai keinginan untuk belajar, berfikir jangka panjang, dan hidup teratur (Agustian, 2001). Alat ukur yang digunakan untuk mengukur adalah dengan menggunakan kuesioner yang diadopsi dari Dara (2013) yang terdiri dari 8 butir pertanyaan yang dinilai dengan skala Likert 1-4 untuk mewakili jawaban dari responden.

c. Kecerdasan Sosial (X4)

Kecerdasan sosial adalah kemampuan yang dimiliki ketika bersosialisasi, berinteraksi, dan merasakan apa yang dirasakan orang lain dengan baik (Widiatik dkk, 2016). Instrumen untuk mengukur adalah dengan menggunakan kuesioner yang telah diadopsi dari Dara (2013) dan terdiri dari 10 pertanyaan yang dinilai dengan skala Likert 1-4 untuk mewakili jawaban dari responden.

d. Latar Belakang Pendidikan Menengah

Latar belakang pendidikan menengah adalah pengalaman belajar yang diperoleh ketika menempuh pendidikan menengah atas (Agustina & Yanti, 2015).

Instrument yang digunakan adalah dengan menggunakan pengalaman belajar

44 akuntansi pada saat SMA. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur variabel latar belakang pendidikan menengah adalah dengan menggunakan kuesioner yang diadopsi dari Lintang (2014) dan Pusparani (2015) dan telah dimodifikasi yang terdiri dari 10 butir pertanyaan yang dinilai dengan skala Likert 1-4 untuk mewakili jawaban dari responden.

e. Fasilitas Pembelajaran

Fasilitas pembelajaran merupakan sarana pendukung yang dapat menumbuhkan motivasi karena dengan menggunakan alat peraga atau media pembelajaran akan menarik perhatian mahasiswa dalam mengikuti proses perkuliahan (Reski, 2018). Untuk mengukur fasilitas pembelajaran di kampus menggunakan lima indikator yaitu gedung, kelas, perlengkapan, perpustakaan, dan media pengajaran. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur variabel fasilitas pembelajaran dengan menggunakan kuesioner yang diadopsi dari (Prihatin, 2017) yang telah dimodifikasi dan terdiri dari 13 butir pertanyaan.

Untuk mengetahui respon responden terhadap pertanyaan yang diberikan sebagai arahan maka digunakan skala Likert. Pada penelitian ini menggunakan 4 skala Likert agar hasil yang diterima tidak menimbulkan keragu-raguan. Skor yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Skor 1 untuk jawaban sangat tidak setuju (STS) 2. Skor 2 untuk jawaban tidak setuju (TS)

3. Skor 3 untuk jawaban setuju (S)

4. Skor 4 untuk jawaban sangat setuju (SS)

45 Apabila diperoleh hasil responden menjawab pertanyaan dengan STS atau skor 1, maka itu artinya responden berpendapat bahwa pernyataan tersebut salah dan tidak dapat memengaruhi tingkat pemahaman akuntansi. Akan tetapi jika responden menjawab pertanyaan dengan SS atau skor 4, itu artinya responden mempunyai pendapat bahwa pernyataan tersebut benar dan dapat mempengaruhi tingkat pemahaman akuntansi. Namun ada pengecualian yang diterapkan pada pertanyaan kuesioner yang bernilai negatif. Contohnya jika responden menjawab pertanyaan dengan STS, maka pengolahan data skor tersebut diubah menjadi skor 4 dan apabila responden menjawab SS maka pada pengolahan data diubah menjadi skor 1.

3.6 Analisis Data

Dalam penelitian ini program yang digunakan dalam melakukan analisis adalah Statistical Package for Social Science (SPSS) dan menggunakan alat analisis ialah analisis linier berganda.

3.6.1 Analisis Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskriptif suatu data yang dilihat dari nilai minimum, maksimum, mean (rata-rata), dan nilai standar deviasi (Ghozali, 2016: 19).

46 3.6.2 Uji Kualitas Data

Kualitas data ditentukan oleh kesungguhan responden dalam menjawab kuesioner yang telah diberikan. Kualitas dari hasil penelitian dapat dilihat dari alat ukur yang digunakan dalam pengukuran variabel penelitian. Alat ukur yang tidak valid akan menyebabkan hasil penelitian yang tidak mewakili keaadan aslinya.

Maka alat ukur tersebut harus diuji terlebih dahulu untuk mengetahui apakah valid atau tidak. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner.

3.6.2.1 Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk menguji kevalidan kuesioner. Kuesioner dikatakan valid apabila pertanyaan yang ada dalam kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur untuk kuesioner tersebut (Ghozali, 2005). Dalam uji validitas data berfungsi untuk mengetahui seberapa baik perangkat instrument pengukuran yang diukur secara tepat. Adapun kriteria penilaian uji validitas, adalah :

• Apabila r hitung > r tabel (pada taraf signifikansi 5%), maka dapat dikatakan item kuesioner tersebut valid.

• Apabila r hitung < r tabel (pada taraf signifikansi 5%), maka dapat dikatakan item kuesioner tersebut tidak valid.

3.6.2.1 Uji Reliabilitas

Setelah mendapatkan hasil uji vadilidtas yang baik, maka selanjutnya peneliti harus melakukan uju reliabilitas. Uji reliabilitas digunakan untuk

47 mengetahui apakah instrument sudah baik dan dapat dipercaya sebagai alat pengumpul data. Kehandalan kuesioner bisa diketahui jika jawaban seseorang terhadap kuesioner tersebut konsisten (Ghozali, 2013). Pengujian reliabilitas terhadap seluruh item atau pertanyaan pada penelitian ini menggunakan rumus koefisien Cronbach Alpha. Nilai Cronbach Alpha penelitian ini akan digunakan nilai 0.6 dengan asumsi bahwa daftar pertanyaan yang diuji akan dikatakan reliabel bila nilai Cronbach Alpha ≥ 0.6 (Ghozali, 2005). Syarat suatu alat ukur menunjukkan kehandalan yang semakin tinggi adalah apabila koefisien reliabilitas (α) mendekati angka satu. Apabila koefisien alpha (α) lebih besar dari 0.6 maka alat ukur dianggap reliabel (Sujarweni, 2016).

3.6.3 Uji Asumsi Klasik

Sebelum melakukan analisis regresi berganda perlu dilakukan uji asumsi klasik, hal tersebut bertujuan agar peneliti mengetahui apakah variabel-variabel tersebut menyimpang dari asumsi-asumsi klasik. Uji asumsi klasik terdiri dari uji normalitas, heteroskedastisitas, dan multikolinearitas.

3.6.3.1 Uji Normalitas Data

Tujuan dari uji normalitas adalah untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak normal. Model regresi dikatakan baik apabila memiliki distribusi normal (Ghozali, 2016: 154). Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogrov-smirnov. Syarat bahwa model

48 regresi residual bedistribusi normal apabila data memiliki nilai signifikansi lebih dari 0,05 (Nazzaruddin & Basuki, 2017). Dasar pengambilan keputusan adalah:

a. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

b. Apabila data menyebar jauh dari diagonal kemudian tidak mengikuti arah garis diagonal dan grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi sesuai dengan asumsi normalitas.

c. Jika data menyebar jauh dari diagonal kemudian tidak mengikuti arah garis diagonal dan grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi tidak sesuai dengan asumsi normalitas.

3.6.3.2 Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui ketidaksamaan varian residual pengamatan ke pengamatan yang lain dalam model regresi. Apabila varian dari residual satu pengamatan terhadap pengamatan yang lain sama, akan disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas (Ghozali, 2016).

Model regresi baik jika terjadi homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2016: 134). Untuk melakukan pengujian terhadap asumsi ini dilakukan dengan menggunakan uji heteroskedastisitas dengan uji Glejser. Menurut Uji Glejser, apabila variabel independen signifikan dalam statistik mempengaruhi variabel dependen artinya kemungkinan terjadi heteroskedastisitas.

Dan model regresi tidak mengandung adanya heteroskedastisitas dapat dilihat dari

49 probabilitas signifikansinya. Jika probabilitas signifikansinya di atas tingkat kepercayaan 5% (>0,05), maka model regresi tidak terjadi Heteroskedastisitas (Ghozali, 2016: 138).

3.6.3.3 Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui model regresi apakah ditemukan adanya hubungan antar variabel independen. Apabila diperoleh hasil adanya multikolinearitas, artinya koefisien regresi variabel tidak tentu dan kemungkinan terjadinya kesalahan tinggi (Ghozali, 2013). Model uji regresi baik apabila ditemukan adanya multikolinearitas. Beberapa ketentuan untuk mengetahui adanya multikolinearitas:

1. Jika nilai R2 yang dihasilkan dalam estimasi model regresi empiris yang sangat tinggi, tetapi secara individual variabel independen diketahui tidak signifikan pengaruhnya terhadap variabel dependen.

2. Melakukan analisis hubungan antar variabel independen. Apabila tiap variabel independen terdapat hubungan yang cukup tinggi > 0,90 maka menunjukkan adanya multikolinearitas.

3. Multikolinearitas dapat diketahui dari VIF, apabila diketahui VIF< maka tingkat kolinearitas dapat ditoleransi.

4. Nilai eigenvalue di antara satu atau lebih variabel independen diketahui mendekati nol menandakan multikolinearitas terjadi.

3.7 Uji Hipotesis

3.7.1 Analisis Regresi Linier Berganda

50 Analisis regresi linier berganda berfungsi untuk mengetahui korelasi antara dua variabel atau lebih, dan mengetahui arah hubungan antara variabel dependen terhadap variabel independen (Ghozali, 2016: 94). Dibawah ini adalah rumus regresi linier berganda yang digunakan :

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + e

Di mana:

Y : Pemahaman Akuntansi a : konstanta

X1 : Kecerdasan Emosional (EQ) X2 : Kecerdasan Spiritual (SQ)

X3 : Kecerdasan Sosial

X4 : Latar Belakang Pendidikan Menengah Atas yang Berbeda X5 : Fasilitas Pembelajaran

b1, b2, b3, b4, b5: Koefisien regresi untuk X1,X2,X3,X4,X5 e : error term

3.8 Uji Parsial (T)

Uji T berfungsi mengetahui pengaruh satu variabel independen terhadap variabel dependen. Nilai signifikansi yang digunakan adalah 0,05. Apabila

51 diperoleh tingkat signifikansi t < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya diketahui ada pengaruh signifikan variabel independen secara individu terhadap variabel dependen. Dan apabila diketahui tingkat signifikansi t > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya ada pengaruh tidak signifikan variabel dependen secara individu terhadap variabel dependen.

3.9 Uji Simultan (Uji F)

Uji F pada dasarnya dilakukan untuk mengetahui pengaruh semua variabel independen terhadap variabel dependen. Tingkat signifikansi yang digunakan adalah 0,05. Jika diperoleh hasil F < 0,05 memiliki arti bahwa ada pengaruh yang signifikan secara bersama-sama variabel prediktor (variabel bebas) terhadap variabel terikat. Dalam pengujian hipotesis menggunakan statistik F dengan ketentuan pengambilan keputusan antara lain (Ghozali, 2001):

1. Jika diketahui F signifikan < (α) dengan tingkat signifikansi 5% artinya model regresi mempunyai tingkat kesesuaian baik.

2. Jika diketahui F signifikan > (α) dengan tingkat signifikansi 5% artinya model regresi memiliki tingkat kesesuaian sebaliknya.

3.10 Uji Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi (𝑅2) dilakukan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerapkan variasi variabel dependen. Nilai dari koefisien determinasi adalah 0 < 𝑅2 < 1. Jika diketahui nilai 𝑅2 yang kecil maka mempunyai arti bahwa kemampuan variabel independen dalam menjelaskan

52 variabel dependen sangat terbatas. Nilai yang mendekati satu artinya variabel independen mampu memberikan semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen (Ghozali, 2016: 95).

3.11 Hipotesis Operasional

3.11.1 Kecerdasan Emosional (X1)

Ho1: β1 ≤ 0 = Kecerdasan emosional tidak berpengaruh positif terhadap tingkat pemahaman akuntansi.

Ha1: β1 > 0 = Kecerdasan emosional berpengaruh positif terhadap tingkat pemahaman akuntansi.

3.11.2 Kecerdasan Spiritual (X2)

Ho2: β2 ≤ 0 = Kecerdasan spiritual tidak berpengaruh positif terhadap tingkat pemahaman akuntansi.

Ha2: β2 ≤ 0 = Kecerdasan spiritual berpengaruh positif terhadap tingkat pemahaman akuntansi.

3.11.3 Kecerdasan Sosial (X3)

Ho3: β3 ≤ 0 = Kecerdasan sosial tidak berpengaruh positif terhadap tingkat pemahaman akuntansi.

Ha3: β3 ≤ 0 = Kecerdasan sosial berpengaruh positif terhadap tingkat pemahaman akuntansi.

3.11.4 Latar Belakang Pendidikan Menengah

53 Ho4: β4 ≤ 0 = Latar Belakang Pendidikan Menengah tidak berpengaruh positif terhadap tingkat pemahaman akuntansi.

Ha4: β4 ≤ 0 = Latar Belakang Pendidikan Menengah berpengaruh positif terhadap tingkat pemahaman akuntansi.

3.11.5 Fasilitas Pembelajaran

Ho5: β5 ≤ 0 = Fasilitas Pembelajaran tidak berpengaruh positif terhadap tingkat pemahaman akuntansi.

Ha5: β5 ≤ 0 = Fasilitas Pembelajaran berpengaruh positif terhadap tingkat pemahaman akuntansi.

54 BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengumpulan Data

Kuesioner disebarkan secara langsung kepada responden melalui media sosial dan online. Dari kuesioner yang sudah dibagikan, terdapat 120 kuesioner sudah mengisi dan semuanya dapat digunakan karena responden telah mengisi secara lengkap pertanyaan yang ada dalam kuesioner. Keterangan lebih lanjut dapat dilihat pada Tabel 4.1 dibawah ini:

Tabel 4.1 Data Kuesioner

Keterangan Jumlah %

Kuesioner disebar secara Online 120 100%

Kuesioner yang diisi tidak lengkap 0 0%

Keusioner yang digunakan 120 100%

Sumber: Data primer diolah, 2020

4.2 Deskirpsi Responden

4.2.1 Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan gender responden terdiri dari 2, yang pertama laki-laki dan yang kedua perempuan. Diketahui 52 responden laki-laki, dan 68 responden perempuan. Adapun informasi selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.2 di bawah ini:

55 Tabel 4.2

Jenis Kelamin Responden Katagori Keterangan Jumlah

repsonden

%

Jenis kelamin Laki-laki 52 43.3

Perempuan 68 56.7

Sumber : Data primer diolah 2020

4.2.2 Berdasarkan Usia Responden

Berdasarkan usia, responden dibagi menjadi 3, yang pertama kurang dari 20 tahun, yang kedua 20-25 tahun, dan yang terakhir lebih dari 25 tahun. Diketahui terdapat 1 responden kurang dari 20 tahun, 119 responden 20 sampai dengan 25 tahun dan tidak terdapat responden yang berusia lebih dari 25 tahun. Adapun informasi selengkapnya bisa dilihat dari Tabel 4.3 berikut ini :

TABEL 4.3 Usia Responden Katagori Keterangan Jumlah

repsonden

%

Usia < 20 1 0.8

20-25 119 98.2

Di atas 25 0 0

Sumber: Data primer diolah, 2020

4.2.3 Berdasarkan Asal Universitas

Berdasarkan asal universitas responden, diketahui responden berasal dari 5 universitas yaitu Universitas Islam Indonesia, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Pembangunan Nasional,

56 dan Universitas Gadjah Mada. Diketahui 65 responden berasal dari Universitas Islam Indonesia, 13 responden berasal dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 36 responden berasal dari Universitas Negeri Yogyakarta, 2 responden dari Universitas Gadjah Mada, dan 4 responden dari Universitas Pembangunan Nasional. Adapun informasi selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.4 dibawah ini:

Table 4.4

Asal Universitas Responden Katagori Keterangan Jumlah

repsonden

%

Asal Universitas UII 65 54.2

UMY 13 10.8

UNY 36 30.0

UPN 4 3.3

UGM 2 1.7

Sumber data primer diolah 2020

4.2.4 Berdasarkan asal pendidikan menengah

Berdasarkan asal pendidikan menengah terdiri dari 5 kategori, yaitu SMK

Berdasarkan asal pendidikan menengah terdiri dari 5 kategori, yaitu SMK

Dokumen terkait