BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar menjadi lembaga dakwah dan pendidikan islam terkemuka dan modern dalam mencerdaskan kehidupan bangsa guna membentuk masyarakat Indonesia yang beriman, berilmu, beramal, dan bertaqwa menuju izzul Islam wal muslimin. Jenjang pendidikan Al Azhar meliputi TK, SD, SMP, SMA, hingga universitas dengan menganut kurikulum nasional dan kurikulum YPI. Dalam rangka mewujudkan visi dan misi sekolah, Al Azhar ingin meningkatkan mutu pendidikan skala internasional dengan membentuk International Islamic Boarding School (IIBS) yang merupakan sebuah lembaga pendidikan berbasis pondok pesantren modern yang memiliki moto yaitu sebagai pendidikan islam berlandaskan pada Al-Quran, menekankan sebuah adab, serta ilmu pengetahuan terbaik karena Al Azhar yakin generasi muslim kedepan akan memiliki daya saing kelas dunia.
Terjadinya globalisasi di bidang budaya, etika, dan moral menimbulkan pengaruh dan tantangan yang cukup mengkhawatirkan bagi orang tua dalam membentuk karakter anak. Selain itu, kemajuan teknologi yang tidak digunakan dengan bijak dapat menjerumuskan mereka pada perilaku yang menyimpang dari agama dan mengakibatkan krisis moral bagi anak. Sejalan dengan fungsi pendidikan, sekolah memiliki peran yang relevan dalam mengajarkan pendidikan karakter. Al Azhar memiliki visi dan misi yang sejalan dalam menjawab fenomena tersebut yaitu meningkatkan kualitas SDM guna mewujudkan masyarakat yang beriman, berilmu, beramal dan bertaqwa melalui pengembangan kegiatan yang meningkatkan IMTAQ dan IPTEK sesuai aqidah Islam.
Al Azhar berencana untuk membuka International Islamic Boarding School (IIBS) yang berlokasi di Jl. Raya Merdeka, Cimone, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, Banten. Dalam perancangan, desain belum sepenuhnya merespon kebutuhan daripada aktivitas pelaku yang sesuai standar kurikulum sekolah internasional dengan capaian target daya saing kelas dunia
2
dan capaian desain yang mendukung visi dalam menekankan adab. Selain itu, dalam perencanaan interior belum mampu memfasilitasi kebutuhan yang merespon situasi pandemic COVID-19. Adapun permasalahan umum interior yang muncul dari hasil studi banding ke beberapa International Islamic Boarding School yaitu terkait ketidaksamarataan fasilitas tiap ruang meliputi ukuran ruang yang tidak sesuai kapasitas pengguna, alur sirkulasi yang berhubungan dengan program ruang dan tata layout furnitur yang kurang baik, sirkulasi udara dan pencahayaan terkait dukungan terhadap proses kelancaran dan kenyamanan kegiatan belajar mengajar, kelembaban yang muncul di kamar asrama karena bukaan yang kurang baik, dan gangguan akustik baik internal yang berasal dari kegiatan di dalam gedung dan eksternal yang berasal dari luar gedung. Hal tersebut untuk mengantisipasi agar tidak terjadi di dalam perancangan Al Azhar IIBS Tangerang.
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, menjawab tantangan permasalahan, isu, dan keinginan guna memaksimalkan fasilitas pembelajaran dan sarana prasarana dengan perancangan baru baik kurikulum maupun segi arsitektur dan interior. Tantangan yang muncul terkait pentingnya pembentukan karakter siswa membuat Al Azhar ingin mengembangkan pendidikan dalam ranah pondok pesantren dan meningkat ke skala internasional. Sekolah ini menerapkan konsep sekolah berasrama atau boarding dengan harapan para guru dapat memantau peserta didik dalam keseharian demi mencapai tujuan sesuai dengan visi sekolah karena tidak hanya ilmu pengetahuan yang diajarkan, namun juga mengoptimalkan dalam ranah afektif, kognitif, dan psikomotor siswa. Dengan demikian, fasilitas akan dirancang sesuai dengan kebutuhan pengguna untuk memenuhi aktivitas-aktivitas belajar dalam sekolah berasrama. Perancangan ini diharapkan menjadi solusi dari segi kualitas pendidikan dengan mengadakan fasilitas sarana dan prasarana yang mendukung, dan membawa dampak positif baik terhadap kenyamanan pengguna, aktivitas di sekolah, asrama, dan lingkungan. Oleh karena itu, tugas akhir ini akan diberi judul “Perancangan Interior Al Azhar International Islamic Boarding School Tangerang”
3 1.2. Identifikasi Permasalahan
Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan maka identifikasi masalah yang ditemukan adalah sebagai berikut:
1. Memerlukan fasilitas dan sarana prasana dalam mewujudkan tujuan, visi, dan misi sekolah dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas pengguna
2. Membutuhkan organisasi ruang yang menunjang setiap aktivitas yang mendukung kegiatan belajar dan kegiatan boarding selama 24 jam 3. Perlu adanya suasana yang mendukung program pembelajaran dalam
skala internasional yang menekankan adab 1.3. Rumusan Masalah
Dari identifikasi masalah yang telah ditemukan, maka dapat dirumuskan permasalahan yang akan diseleseikan dalam perancangan ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana merancang fasilitas dan sarana prasana dalam mewujudkan tujuan, visi, dan misi sekolah dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas pengguna ?
2. Bagaimana mengoptimalkan organisasi ruang yang menunjang setiap aktivitas yang mendukung kegiatan belajar dan kegiatan boarding selama 24 jam ?
3. Bagaimana memberikan suasana yang mendukung program pembelajaran dalam skala internasional yang menekankan adab ? 1.4. Tujuan dan Sasaran Perancangan
Adapun tujuan perancangan yang ingin dicapai berdasarkan rumusan masalah yang ada:
1. Merancang interior Al Azhar dengan mengaplikasikan konsep suasana yang mengacu pada visi dan tujuan sesuai dengan kurikulum sekolah 2. Merancang interior ruang yang mengintegrasikan pada Al-Quran,
Adab, dan Sains-Teknologi
3. Merancang interior dengan mengoptimalisasi organisasi ruang dan elemen interior berdasarkan layout, furniture, material sesuai dengan kapasitas & kebutuhan pengguna
4
Adapun sasaran perancangan yang ingin dicapai berdasarkan rumusan masalah yang ada:
1. Perancangan sekolah yang memfasilitasi dalam mendukung kegiatan pembelajaran umum dan keagamaan
2. Pengoptimalan sarana dan prasana dalam kegiatan sekolah dan boarding berkaitan dengan organisasi ruang & elemen interior yang efektif dan mendukung aktivitas pengguna
1.5. Batasan Perancangan
Perancangan interior Al Azhar International Islamic Boarding School memiliki batasan sebagai berikut:
1.5.1. Ruang Lingkup Perancangan
Ruang lingkup perancangan yang akan dibahas meliputi aspek pengguna, bangunan, elemen interior, lingkungan, dan aspek lainnya yang menjadi faktor pertimbangan dalam perancangan.
1.5.2. Batasan Kategori
Pada perancangan interior Al Azhar International Islamic Boarding School akan berfokus pada sekolah dengan jenjang pendidikan SMP dan SMA. Jumlah maksimal siswa putri 516 secara keseluruhan.
1.5.3. Batasan Luasan Perancangan
Area luasan new design Al Azhar International Islamic Boarding School kurang lebih 1000 m2
1.5.4. Batasan Organisasi Ruang
Area perancangan dari Al Azhar International Islamic Boarding School terdiri dari beberapa gedung yang berbeda dengan rincian area yang dipilih perancangan sebagai berikut:
No Gedung Area Luasan Total
Luasan
1 Gedung Sekolah Ruang Kelas 56 m2 847.5 m2
Ruang Guru 100 m2
Ruang Pemimpin 45.5 m2 Ruang Konseling 12 m2 Ruang Pertemuan 56 m2
5
Student Lounge 56 m2 Ruang Kesehatan 56 m2
Lab. Komputer 56 m2
Lab. Kimia 56 m2
Lab. Fisika 56 m2
Lab. Biologi 56 m2
Perpustakaan 112 m2
Toilet 26 m2
Koridor 104 m2
Tabel 1.1. Batasan Organisasi Ruang Sumber: olahan penulis, 2022
1.5.5. Batasan Lokasi Perancangan
Lokasi perancangan terletak di Jl. Raya Merdeka, Cimone, Kec.
Karawaci, Kota Tangerang, Banten. Lokasi tersebut berada di tengah kota, namun kawasan sekolah memiliki tingkat kebisingan rendah karena dikelilingi oleh gedung-gedung sehingga jauh dari jalan raya
1.5.6. Batasan Pendekatan
Perancangan Al Azhar International Islamic Boarding School akan berfokus pada latar belakang, visi dan misi sekolah yang ingin dicapai sebagai sekolah yang unggul dalam pendidikan berstandar internasional yang mengintergrasikan Al Qur’an, Adab, dan Sains-Teknologi
1.6. Manfaat Perancangan
Adapun manfaat perancangan terbagi menjadi dua yaitu manfaat teoritis dan praktis sebagai berikut:
1.6.1. Manfaat Toritis
Dapat menambah pengetahuan melalui kajian teori dan kajian lapangan yang dilakukan. Dapat mengetahui sejauh mana pengaruh antara perancangan interior meliputi aspek ruang, aspek warna, serta elemen interior pembentuk ruang lainnya
1.6.2. Manfaat Praktis a. Bagi Penulis
Sebagai pengalaman dalam merancang interior sekolah dengan memecahkan permasalahan isu dan fenomena yang muncul untuk memenuhi kebutuhan pengguna
6 b. Bagi Sekolah
Perancangan ini dapat menjadi referensi dalam pembangunan sekolah dalam memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana
c. Bagi Intitusi
Menambah referensi pustaka bagi jurusan Desain Interior, Fakultas Industri Kreatif, Telkom University
d. Bagi Masyarakat / Lingkungan
Membagikan wawasan dan pengetahuan dalam mendesain khususnya pada sarana pendidikan
e. Bagi Bidang Keilmuan Interior
Sebagai kontribusi karya terhadap perkembangan ilmu di bidang desain interior
1.7. Metode Perancangan
Dalam perancangan Al Azhar International Islamic Boarding School dibutuhkan data-data yang mendukung dan relevan, maka dalam pelaksanaannya dilakukan pengumpulan data sebagai berikut:
1.7.1. Data Primer
Dilakukan pengumpulan data dengan melakukan peninjauan langsung ke lokasi, observasi, dan wawancara ke beberapa narasumber yang berhubungan dengan perancangan
a. Survei, melakukan kunjungan langsung beberapa ke lokasi yaitu Al Azhar International Islamic Boarding School Karanganyar, Insan Cendekia Madani (ICM), dan Al Izzah International Islamic Boarding School
b. Observasi, data fisik yang didapatkan dengan melakukan observasi langsung ke lokasi seperti mengamati, mengambil foto, dan mencatat hal penting terkait dengan permasalahan perancangan c. Wawancara, melakukan interview dengan beberapa narasumber
yaitu Kepala Sekolah Al Azhar Karanganyar untuk mengetahui latar belakang pembangunan boarding school dan segala aktivitas, kebutuhan santri. Serta melakukan wawancara kepada santri untuk
7
mengetahui gambaran mengenai aktivitas, fasilitas, dan suasana yang diperlukan
1.7.2. Data Sekunder
a. Studi Kepustakaan, dengan mencari studi literatur, buku-buku, dan lainnya yang berhubungan dan mendukung perancangan sebagai data komperatif dari berbagai sumber untuk menunjang penguat data
b. Studi Aktivitas, mengetahui berapa banyak pengguna serta aktivitas di dalam ruang yang kemudian dianalisis sesuai dengan kebutuhan pengguna sehingga fasilitas yang dibutuhkan sesuai dan dapat secara maksimal digunakan
c. Studi Banding, melakukan studi banding kepada objek sejenis sebagai dasar perbandingan dalam menyusun konsep perancangan, meliputi: Sistem sirkulasi, kebutuhan ruang, pola perilaku;
Aktifitas dan fasilitas yang tersedia maupun belum tersedia.
8 1.8. Kerangka Berpikir
PERANCANGAN INTERIOR AL AZHAR INTERNATIONAL ISLAMIC BOARDING SCHOOL
LATARBELAKANG
Terjadinya globalisasi di bidang budaya, etika, dan moral menimbulkan pengaruh dan tantangan yang cukup mengkhawatirkan bagi orang tua dalam membentuk karakter anak. Selain itu, kemajuan
teknologi yang tidak digunakan dengan bijak dapat menjerumuskan mereka pada perilaku yang menyimpang dari agama dan mengakibatkan krisis moral bagi anak. Sejalan dengan fungsi pendidikan, sekolah memiliki peran yang relevan dalam mengajarkan pendidikan karakter.
Tantangan yang muncul membuat Al Azhar ingin mengembangkan pendidikan dalam ranah pondok pesantren dan meningkat ke skala internasional dengan harapan para guru dapat memantau peserta
didik dalam keseharian demi mencapai tujuan sesuai dengan visi sekolah
TUJUAN PERANCANGAN
Merancang Al Azhar International Islamic Boarding School dengan pendekatan aktivitas dan perilaku untuk memenuhi kebutuhan fasilitas, sarana, dan prasarana yang mengacu pada visi misi
berdasarkan kebutuhan pengguna dan standar perancangan
PENGUMPULAN DATA
DATA PRIMER
SURVEI OBSERVASI WAWANCARA 0
DATA SEKUNDER STUDIKEPUSTAKAAN
STUDIAKTIVITAS STUDI BANDING DATA SEKUNDER
AKTIVITAS FASILITAS SUASANA
ANALISIS DATA
PROGRAMMING
PENDEKATAN
KONSEP DAN TEMA
DESAIN AWAL
ALTERNATIF DESAIN ASISTENSI & REVISI
DESAIN AKHIR
GAMBAR KERJA PRESENTASI
9 BAB 2
KAJIAN LITERATUR DAN STANDARISASI 1.
2.1. Definisi Projek
Boarding school atau sekolah asrama mewajibkan peserta didik, para guru, dan juga pengelola tinggal di dalam sebuah asrama yang berada di lingkungan sekolah selama kurun waktu tertentu umumnya satu semester diselingi dengan waktu libur yang telah ditentukan (Ii 1990). Boarding school merupakan lembaga pendidikan yang sistem pembelajarannya memadukan antara sistem pesantren dan sistem pendidikan umum. Dengan peserta didik, para guru, dan pengelola sekolah tinggal di asrama selama 24 jam dan bersekolah dalam satu kawasan dengan berbagai agenda pelajaran, fasilitas hidup dan pembelajaran untuk melakukan proses pendidikan (Heryadi, 2014).
Pondok pesantren merupakan lembaga tertua yang memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dan akhlak anak bangsa. Keberhasilan kurikulum di dalamnya tidak hanya fokus pada kecerdasan otak, tetapi juga dalam praktiknya pada implementasi akhlak mulia (Triyono 2017).
Temuan penelitian di atas dapat diartikan bahwa sekolah asrama atau boarding school merupakan lembaga pendidikan sekolah yang menyediakan asrama dalam satu kawasan dengan mewajibkan peserta didik, para guru, dan pengelola untuk tinggal dengan berbagai aktivitas kehidupan selama 24 jam dalam kurun waktu tertentu dengan fasilitas di dalamnya.
Dalam pembentukan pondok pesantren, terdapat unsur-unsur yang harus ada di dalamnya, di antaranya :
• Pondok, merupakan sebuah asrama yang disediakan kepada santri untuk tinggal bersama pengelola asrama dan satu atau lebih guru yang biasa disebut kyai. Pondok merupakan tempat yang menunjang segala bentuk kegiatan santri karena jarak dengan sarana pondok lain berdekatan sehingga memudahkan dalam memenuhi kebutuhan santri.
• Masjid, merupakan elemen yang tidak dapat terpisahkan dalam pembentukan pesantren dan dianggap menjadi tempat yang paling tepat dalam mendidik santri, terutama dalam praktik keagamaan.
10
• Kitab, pengajaran kitab-kitab klasik ditujukan sebagai upaya meneruskan tujuan pesantren yaitu mendidik para calon ulama yang paham agama dengan baik dan benar.
• Santri, merupakan sebutan bagi siswa yang belajar di pondok pesantren.
Para santri tinggal di asrama yang telah disediakan dengan fasilitas yang menunjang kebutuhan sehari-hari, namun ada pula para santri yang tidak tinggal di asrama.
• Kyai, bermakna yang agung, keramat, dan dituahkan. Sebutan kyai dimaksudkan untuk para pemimpin dan pendiri pesantren, sesosok yang telah memperdalam, menyebarluaskan agama islam melalui pendidikan, dan membaktikan hidupnya di jalan Allah SWT.
2.2. Klasifikasi Projek
Menurut Mujahidin (2012) terdapat beberapa klasifikasi boarding school, sebagai berikut :
No. Tipe Boarding School Keterangan
1 All boarding school Seluruh siswa tinggal di asrama/sekolah
2 Boarding day school Sebagian siswanya tinggal di asrama dan sebagian tinggal di sekitar asrama
3 Day boarding Mayoritas tidak tinggal di asrama meskipun sebagian ada yang dinggal di asrama
Tabel 2.1. Klasifikasi berdasarkan sistem bermukim siswa Sumber: Mujahidin, 2012
No. Tipe Boarding School Keterangan
1 Junior boarding school Sekolah yang menerima murid dari tingkat SD sampai dengan SMP, namun umumnya tingkat SMP saja 2 Co-educational school Sekolah yang menerima siswa laki-laki dan perempuan 3 Boys school Sekolah yang menerima siswa laki-laki saja
4 Girls school Sekolah yang menerima siswa perempuan saja 5 Pre- professional arts school Sekolah khusus untuk seniman
6 Religius school Sekolah yang kurikulumnya mengacu pada agama tertentu
7 Special-Need Boarding School Sekolah untuk anak-anak yang bermasalah dengan sekolah biasa
Tabel 2.2. Klasifikasi berdasarkan jenis siswa Sumber: Mujahidin, 2012
Berdasarkan klasifikasi sistem bermukim siswa, perancangan Al Azhar IIBS menerapkan sistem All boarding school karena seluruh siswa diwajibkan untuk tinggal di asrama yang telah disediakan, sedangkan pada klasifikasi
11
berdasarkan jenis siswa termasuk dalam tipe co-educational school dan religius school.
2.3. Standarisasi Projek
Di lingkungan masyarakat, Boarding school telah mengembangkan aspek-aspek tertentu dari nilai-nilai yang ada. Lembaga ini mengedepankan moralitas, dan menjunjung tinggi nilai kesederhanaan, kemandirian, dan sejenisnya. Berikut karakteristik boarding school :
a. Dari segi sosial, sistem boarding school membentuk lingkungan sekolah dan asrama yang dikonstruksi menjadi lingkungan sosial yang relatif homogen bertujuan yakni menuntut ilmu sebagai sarana mengejar cita-cita.
b. Dari segi ekonomi, boarding school memberikan layanan yang paripurna sehingga menuntut biaya yang cukup tinggi. Oleh karena itu anak didik akan benar-benar terlayani dengan baik melalui berbagai layanan dan fasilitas.
c. Dari segi semangat religiusitas, boarding school menjanjikan pendidikan yang seimbang antara kebutuhan jasmani dan rohani, intelektual dan spiritual. Diharapkan akan lahir peserta didik yang tangguh secara keduniaan dengan ilmu dan teknologi, serta siap secara iman dan amal saleh.
2.3.1. Sekolah
2.3.1.1. Perbedaan Sekolah Formal dan Boarding
No Kriteria Sekolah Formal Boarding School
1 Fasilitas Fasilitas standar sekolah umum
Dilengkapi fasilitas hunian dan berbagai fasilitas pendukung (sarana ibadah, olahraga, dll) 2 Kegiatan
harian
Jadwal kegiatan terbatas pada KBM
Jadwal kegiatan harian teratur 3 Sistem
pendidikan
Pengajaran formal di kelas dan kegiatan ekstrakurikuler
Pengajaran formal,
ekstrakurikuler, pendidikan khusus /informal (keagamaan dll)
4 Aktivitas Siswa dating kesekolah untuk belajar kemudian pulang
Siswa belajar dan tinggal di sekolah, kehidupan siswa ada di sekolah
5 Kurikulum Kurikulum standar Nasional Kurikulum standar Nasional, kurikulum Departemen Agama, dan kurikulum tambahan khas Boarding School
12
6 Arsitektur Terdiri dari satu atau beberapa massa yang kompak
Banyak massa yang menyebar dengan massa hunian umumnya mengelilingi massa hunian 7 Pemanfaatan
waktu
Waktu sangat terbatas pada KBM
Tidak terbatas di jam belajar, juga di jam pelajaran 8 Proses
pendidikan
Perhatian guru tidak optimum, karena keterbatasan waktu dan perbandingan jumlah siswa dan guru yang relative besar
Perhatian lebih optimum, karena waktu interaksi yang dimiliki lebih banyak, perbandingan siswa dan guru lebih kecil 9 Jumlah siswa 40-45 orang Minimal 18 orang maksimal 30
orang 10 Konsep Sekuler (memisahkan agama
dan ilmu pengetahuan, dan penerapan kehidupan sehari-hari)
Islam integrated (hal ini berdasar konsep ajaran islam yang meliputi bidang sosial, budaya, politik, science) 11 Nuansa
religius
Hampir tidak tampak Sangat kental, terlihat dari segi berpakaian dan kebiasaan Tabel 2.3. Perbedaan sekolah formal dan boarding
Sumber: Mujahidin, 2012
2.3.1.2. Perbedaan Sekolah secara Arsitektural
No Kriteria Sekolah Formal Boarding School
1 Kurikulum Tidak membutuhkan ruang belajar khusus
Membutuhkan belajar khusus untuk tahfidz dan tarih islam 2 Jumlah anak
didik
Ruang kelas berukuran minimum 90 m² (kapasitas 45 orang)
Ruang kelas 72 m² (kapasitas 30 orang) dan ruang kelas 30 m² (kapasitas 18 orang)
3 Konsep Bebas Lingkungan sekolah islami
(membangkitkan penghayatan terhadap nilai-nilai islam) bangunan sebagai penghayatan Islam
4 Nuansa religius
Arsitektur tidak harus mendukung terjadinya pengalaman spiritual
Arsitektur sangat mendukung, menggunakan keteraturan pola dan beradaptasi untuk
ketenangan, menghubungkan ruang dalam dan ruang luar 5 Pembagian
kelas
Jumlah ruang kelas berdasarkan ruang murid secara keseluruhan
Jumlah ruang kelas berdasarkan seluruh jumlah siswa putra dan putri
6 Fungsi masjid Peletakan masjid tidak menjadi focus perancangan
Masjid aktif, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan komunitas sekolah.
Tabel 2.4. Perbedaan sekolah secara arsitektural Sumber: Mujahidin, 2012
2.3.1.3. Kurikulum Sekolah
Pada lembaga pendidikan formal, kurikulum merupakan bagian utama yang digunakan sebagai parameter menentukan sistem pembelajaran, mengarahkan mekanisme pendidikan, serta tolak ukur dari kualitas dan
13
keberhasilan hasil pendidikan. Menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 pasal 38, berisi:
1) Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh Pemerintah.
2) Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan Propinsi untuk pendidikan menengah.
Berdasarkan isi dari pasal tersebut, menjelaskan bahwa pendidikan formal memiliki dua kurikulum di bawah dua kementerian yang berbeda, yaitu:
a. KEMENDIKBUD
Pemerintah Indonesia menetapkan Kurikulum 2013 sebagai pengganti dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau Kurikulum 2006 yang digunakan menjadi Kurikulum Nasional saat ini. Ciri umum dari Kurikulum 2013 adalah tujuan pendidikan yang berfokus pada capaian pembelajaran. Tujuan dari kegiatan pembelajaran sebagai sarana pengembangan sikap dan budi siswa.
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 61 Tahun 2014, sebagai berikut:
Pasal 1
1. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang selanjutnya disingkat KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan
2. Satuan pendidikan adalah Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA), dan Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan (SMK/MAK).
3. Standar Nasional Pendidikan yang selanjutnya disingkat SNP adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia
14
Pasal 2
1) KTSP dikembangkan, ditetapkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan.
2) Pengembangan KTSP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengacu pada SNP dan Kurikulum 2013.
b. KEMENAG
Kurikulum sebagai sarana belajar mengajar yang dinamis sehingga perlu dikembangkan sesuai dengan perkembangan lingkungan masyarakat secara terus menerus (Kholid Junaidi 2016).
Menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional di Indonesia pasal 36 ayat (2) dijelaskan bahwa kurikulum dikembangkan dengan prinsip diverifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik pada semua jenis dan jenjang pendidikan.
Terdapat dua kurikulum yang dikembangkan di pondok pesantren sesuai dengan jenis pola pondok pesantren tersebut, yaitu:
1. Pesantren Salaf (tradisional)
Kurikulum yang diterapkan statusnya sebagai lembaga non-formal, kitab-kitab klasik yang dipelajari hanya meliputi: Tauhid, tasawuf, tafsir, ushl fiqh, hadis, bahasa arab (Nahwu, balaghah, sharaf, dan tajwid), mantik, akhlak.
2. Pesantren Modern
Pesantren jenis ini mengkombinasikan antara model pendidikan formal dengan mendirikan satuan pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA hingga perguruan tinggi dengan pesantren salaf.
Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum pesantren salaf yang dipadukan dengan kurikulum pendidikan islam yang berasal dari Departemen Agama dalam sekolah (Madrasah). Sedangkan kurikulum khusus pesantren diterapkan melalui kebijakan sendiri.
2.3.1.4. Program Pengembangan Diri
a. Pengembangan Diri melalui Konseling
15
Pelayanan konseling di sekolah / madrasah membantu siswa dalam pengembangan kehidupan pribadi, sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan karir. Permendiknas No. 24 tahun 2007 mengemukakan karakteristik ruangan konseling sebagai berikut:
• Ruangan konseling berfungsi sebagai tempat peserta didik mendapatkan pelayanan konseling dari konselor berkaitan dengan pengembangan probadi, sosial, belajar, dan karir
• Luas minimun ruangan konseling adalah 9 m2
• Ruangan konseling dapat memberikan kenyamanan suasana dan menjamin privasi peserta didik
Menurut Thantawy (1995 : 104), prasarana ruangan bimbingan dan
Menurut Thantawy (1995 : 104), prasarana ruangan bimbingan dan