• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRINSIP MENGENAL NASABAH DI PASAR MODAL

A. Latar Belakang

Kemajuan teknologi informasi dan globalisasi mengakibatkan makin mendunianya perdagangan barang dan jasa serta arus finansial yang mengikutinya. Di satu sisi kemajuan teknologi membawa pengaruh positif dalam perkembangan bisnis, namun sisi lain perkembangan ilmun pengetahuan dan teknologi serta globalisasi telah menimbulkan dampak lain yaitu timbulnya kejahatan dimensi baru dengan modus operandi baru bersifat lintas negara (transnational crime).1

Pencucian uang sebagai suatu kejahatan yang berdimensi internasional merupakan hal baru di banyak negara termasuk Indonesia. Namun sekarang ini Indonesia merupakan ”surga” baru untuk melakukan pencucian uang ( money laundering ). Indonesia mendapat kesan buruk di mata dunia internasional dan telah masuk dalam barisan daftar hitam ( blacklist )sebagai Non- cooperative CountriesandTerritories ( NCCT’s ) sejak tahun 2001 oleh FATF. Hal ini terjadi

Bentuk kejahatan yang terjadi secara transnasional baik yang dilakukan orang perorangan maupun koorporasi menghasilkan uang dalam jumlah yang sangat banyak sehingga oleh pelaku harus disembunyikan dan dimanipulasi sedemikian rupa agar uang tersebut seolah-olah legal. Hal inilah yang disebut dengan pencucian uang atau money laundering.

1

Nurmalawaty, Faktor Penyebab Terjadinya Tindak pidana Pencucian Uang ( Money Laundering) Dan Upaya Pencegahannya “, diambil dari Jurnal Equality Vol 11 hal 12 yang dipostkan tanggal Februari 2006 dan diakses tanggal 23 Juli 2010

karena kondisi Negara Indonesia yang mendukung terjadinya Tindak Pidana Pencucian Uang yaitu :

a. Ketatnya ketentuan mengenai kerahasiaan bank sehingga tidak mungkin sembarang orang untuk mengetahui asal usul uang sehingga amanlah uang tersebut dibersihkan oleh lembaga keuangan.

b. Sistem devisa bebas sehingga otoritas moneter sulit untuk mendeteksi lalu lintas modal, dana, uang., dari mana pun datangnya.

c. Tidak adanya ketentuan pembatasan atau larangan kepada orang asing yang masuk ke wilayah Indonesia dalam hal membawa valuta asing juga tidak adanya kewajiban pelaporannya sehingga orang bebas membawa uang ke luar masuk berapa pun besarnya.

d. Kebebasan yang diberikan pemerintah dalam hal perpajakan yang menyangkut deposito dan simpanan, yaitu asal usul uang tersebut tidak dapat diusut.

e. Dan ketentuan lainnya.2

Sebegitu besarnya dampak negatif yang ditimbulkannya terhadap perekonomian suatu negara, sehingga negara-negara di dunia dan organisasi internasional merasa tergugah dan termotivasi untuk menaruh perhatian lebih serius terhadap pencegahan dan pemberantasan kejahatan pencucian uang. Hal ini tidak lain karena kejahatan pencucian uang (money laundering ) tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi sistem

2

Muhamad Djumhana, Hukum Perbankan Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti,2006), hal 601.

perekonomian, dan pengaruhnya tersebut merupakan dampak negatif bagi perekonomian itu sendiri.3

Penyedia Jasa Keuangan sebagai sasaran dan sarana pokok pencucian uang. Pencucian uang sendiri dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu secara legal dan ilegal. Secara legal uang tersebut diperoleh secara legal menurut ketentan yang berlaku. Cara ini misalkan pengampunan pajak yang diatur dalam Undang-undang Perpajakan. Secara ilegal uang hasil kejahatan dapat ditransfer, disimpan, atau dengan cara apapun di penyedia jasa keuangan.4

“Setiap orang yang menyediakan jasa di bidang keuangan atau jasa lainnya yang terkait dengan keuangan antara lain : bank, perusahaan pembiayaan, perusahaan asuransi dan perusahaan pialang asuransi, dana pensiun lembaga keuangan, perusahaan efek, manajer investasi, kustodian, wali amanat, perposan sebagai penyedia jasa giro, pedagang valuta asing, penyelenggara alat pembayaran menggunakan kartu, penyelenggara e-money dan/atau e-wallet, koperasi yang melakukan kegiatan simpan pinjam, pegadaian, perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan berjangka komoditas; atau penyelenggara kegiatan usaha pengiriman uang.”

Menurut UU No 8 Tahun 2008 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang , penyedia jasa keuangan adalah :

5

3

Bismar Nasution, Rejim Anti – Money laundering Di Indonesia, (Bandung: Books Terrace & Library Pusat Informasi Hukum Indonesia, 2005), hal 1.

4

Adrian Sutedi, Tindak Pidana Pencucian Uang, (Bandung:PT Citra Aditya Bakti, 2008), hal.69.

5

Pasal 17 angka (1) UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Berdasarkan pengertian di atas, selain melalui lembaga perbankan, pencucian uang dapat pula terjadi di perusahaan efek, pengelola reksadana, kustodian, manajer investasi, wali amanat, lembaga penyimpanan dan penyelesaian, yang mana semua pihak tersebut adalah melakukan kegiatan di Pasar Modal.

Pasar modal selain merupakan tempat transaksi keuangan juga merupakan pusat pengaturan perekonomian dan keuangan merupakan instrumen riskan terhadap pencucian uang.6 Tindak Pidana Pencucian uang di pasar modal lebih berbahaya dibandingkan tindak pidana pencucian uang melalui penyedia jasa keuangan yang lain seperti dana pensiun dan asuransi. Hal ini dikarenakan pencucian uang di pasar modal dapat mempengaruhi nilai harga saham, nilai tukar mata uang yang berpengaruh pada kepercayaan masyarakat dan kestabilan moneter.7

Perbuatan pencucian uang di samping sangat merugikan masyarakat, juga sangat merugikan negara. Banyak negara di dunia sependapat bahwa pencucian uang dapat mempengaruhi atau merusak stabilitas perekonomian nasional/internasional atau keuangan negara dengan meningkatnya berbagai kejahatan. Money laundering dapat membahayakan efektivitas operasi sistem perekonomian dan bisa pula menimbulkan kebijakan–kebijakan ekonomi buruk. Pada ekonomi nasional, pencucian uang menyebabkan ketidakstabilan karena dapat menyebabkan nilai tukar suku bunga mengalami fluktasi yang relatif tajam. Selain itu, uang hasil pencucian uang dapat beralih dari suatu negara yang perekonomiannya baik ke negara lain dengan perkonomian yang kurang baik, sehingga pasar financial dapat hancur secara perlahan–lahan dan kepercayaan publik kepada sistem financial semakin berkurang. Keadaan seperti ini dapat

6

Adrian Sutedi, Op.cit, hal 69

7 Ibid

mendorong kenaikan tingkat resiko dan ketidakstabilan sistem perekonomian dan pada akhirnya angka pertumbuhan ekonomi dunia semakin menurun.8

a. Merugikan reputasi lembaga keuangan apabila diduga digunakan sebagai sarana untuk melakukan pencucian uang.

Dalam hal pengaruh negatif pencucian uang pada lembaga keuangan adalah sebagai berikut :

b. Menyebabkan terjadinya distorsi dalam hukum penawaran dan permintaan sebagamana yang terjadi di London real estate ketika dimasuki investasi mafia dari Rusia.

c. Menyebabkan kelemahan ekonomi negara ( misalnya negara Columbia yang banyak tergantung pada Drug Money )

d. Menimbulkan kecurigaan dan ketidakpercayaan publik.9

Karena hal tersebut di ataslah pencucian uang menjadi sesuatu fenomenal dan selalu menjadi pusat perhatian semua negara di dunia. Hal ini dikarenakan uang yang menjadi objek pencucian uang adalah uang hasil tindak kejahatan, antara lain : korupsi, penyuapan, penyelundupan barang. penyelundupan tenaga kerja, penyelundupan imigran. Perbankan, narkotika, psikotropika, perdagangan budak, wanita, dan anak, perdagangan senjata gelap, penculikan, terorisme, pencurian, penggelapan, penipuan.10

Melihat pentingnya pencegahan dan pemberantasan pencucian uang, maka di bentuklah undang-undang yang bersifat nasional mengenai pencucian uang tersebut yaitu UU No. 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan

8

Bismar Nasution, Op.cit. hal.xii.

9

Nurmalawaty, Op.cit

Tindak Pidana Pencucian Uang (PP-TPPU) . Lebih khususnya untuk mencegah dan memberantas pencucian uang di pasar modal, Bapepam ( Badan Pengawasan Pasar Modal ) sebagai suatu badan yang melakukan pembinaan, pengaturan, dan pengawasan sehari-hari dalam kegiatan pasar modal mengeluarkan suatu keputusan berkenaan dengan upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang yaitu Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Nomor Kep- 313/ BL/ 2007 yang telah diperbaharui oleh Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Nomor Kep- 476/ BL/ 2009 yang dalam Surat Keputusan tersebut mewajibkan bagi Penyedia Jasa Keuangan di Pasar Modal untuk menerapkan “Prinsip Mengenal Nasabah”.