Masyarakat terdiri dari manusia, baik sebagai perorangan (individu) atau kelompok-kelompok manusia yang telah berhimpun untuk berbagai keperluan dan tujuan. Unsur-unsur dari masyarakat tersebut dalam menjalankan kehidupannya selalu berinteraksi antara satu dengan yang lainnya , antara kelompok satu dengan individu lainnya, atau kelompok lainnya. Salah satu bentuk hubungan antara individu dalam masyarakat adalah hubungan antara seorang perempuan dan seorang laki-laki yang melakukan perkawinan.1
Perkawinan adalah perilaku ciptaan Tuhan Yang Maha Esa agar kehidupan di alam dunia berkembang biak. Perkawinan bukan saja terjadi di kalangan manusia. Tetapi terjadi juga pada tanaman tumbuhan dan hewan. Oleh karena manusia adalah hewan yang berakal, maka perkawinan merupakan salah satu budaya yang beraturan yang mengikuti perkembangan budaya manusia dalam kehidupan masyarakat.2 Perkawinan merupakan suatu peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia karena ia tidak saja menyangkut pribadi kedua calon suami istri saja tetapi menyangkut urusan keluarga dan masyarakat .3
Manusia tidak akan berkembang tanpa adanya perkawinan, karena perkawinan menyebabkan adanya keturunan, dan keturunan menimbulkan keluarga
1 Sony Dewi Judiasih, Harta Benda Perkawinan, Bandung:Refika Aditama, 2015, hlm.1.
2 Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia, Cetakan ketiga, Bandung:Mandar Maju, 2007, hlm.1.
3 Asmin, Status Perkawinan Antar Agama ditinjau dari Undang-Undang Perkawinan No.1 tahun 1974, Cetakan Pertama, Jakarta :PT.Dian Rakyat, 1986, hlm.11.
yang berkembang menjadi kerabat dan masyarakat. Jadi perkawinan merupakan unsur tali temali yang merupakan kehidupan manusia dan masyarakat.4
Di Indonesia perkawinan memiliki pengaturan yang tegas oleh negara melalui hukum positif yang berlaku. Pengaturan mengenai perkawinan di Indonesia sebelum tahun 1974 terdapat dalam berbagai peraturan yang berlaku untuk berbagai golongan masyarakat, di samping ketentuan-ketentuan yang hidup dalam masyarakat yaitu hukum adat dan hukum agama dan kepercayaan bagi pemeluknya. Hukum perkawinan di Indonesia mengalami perkembangan dimana sebelumnya untuk sementara waktu Indonesia memberlakukan peraturan perundang-undangan yang berasal dari zaman pemerintahan kolonial.5
Pembentukan peraturan mengenai perkawinan yang mengikat dan berlaku untuk seluruh warga negara Indonesia disebut dengan UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Definisi perkawinan diatur dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yaitu: ”Ikatan lahir batin antara seoranglaki-laki dan seorang perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Dengan adanya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, belum berarti bahwa di dalam pelaksanaan perkawinan di kalangan masyarakat sudah terlepas dari pengaruh Hukum Adat, ia masih diliput Hukum Adat sebagai hukum asli rakyat Indonesia yang hidup dan tidak tertulis dalam bentuk peraturan perundang-undangan negara.6 Dan juga telah diatur di dalam
4 Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Adat, Bandung:Alumni, 1983, hal 22.
5 Wila Chandrawila Supriadi, Hukum Perkawinan Indonesia & Belanda, Bandung:Mandar Maju, 2002, hlm.239
6 Hilman Hadikusuma ,Op.cit.hlm.13.
penjelasan angka 1 huruf a dan b Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan yang mengatur mengenai Hukum adat yakni: Bagi orang-orang Indonesia Asli yang beragama Islam berlaku hukum Agama yang telah diresipiir dalam Hukum Adat, dan bagi orang-orang Indonesia Asli lainnya berlaku Hukum Adat. Maka, dapat diartikan bahwa hukum adat mempunyai pengaruh penting dalam kelangsungan perkawinan yang ada di Indonesia.
Perbedaan-perbedaan Hukum Adat yang berlaku, seringkali menimbulkan perselisihan antara para pihak yang bersangkutan. Jika terjadi perselisihan maka dalam mencari jalan penyelesaian bukanlah ditangani oleh pengadilan agama atau pengadilan negeri, tetapi ditangani oleh peradilan keluarga atau kerabat yang bersendikan kerukunan, keselarasan dan kedamaian. Oleh karenanya di samping perlu memahami perkawinan menurut perundang-undangan, diperlukan pula memahami Hukum Perkawinan Adat. Perkawinan adat adalah suatu bentuk hidup bersama yang langgeng lestari antara seorang laki-laki dan perempuan yang diakui oleh persekutuan Adat dan yang diarahkan pada pembentukan sebuah keluarga.7
Negara Kesatuan Republik Indonesia terdiri dari berbagai-bagai pulau dari Sabang sampai Merauke, dan didiami oleh berbagai-bagai suku bangsa, yang semuanya dinamakan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia yang terdiri dari bebagai suku ini mempunyai adat, dan bahasa yang berbeda-beda pula. Tetapi walaupun adatnya berbeda, tetap mempunyai beberapa persamaan. Salah satu suku, dari bangsa Indonesia yang mendiami sebagian pulau di Indonesia, yang
7Wila Chandrawila Supriad, Op.Cit.hlm.74.
terdapat di pulau Sumatera jelasnya Propinsi Sumatera Utara disebutlah suku Batak.8
Hukum bertujuan untuk mengatur tata kehidupan dari suatu masyarakat dimana hukum itu berlaku. Demikian juga hukum adat Batak bertujuan mengatur masyarakat batak dalam bertingkah laku, serta mengatur segenap segi kehidupannya. Dalam kehidupannya sehari-hari, selalu didasari oleh kaidah-kaidah yang terdapat dalam hukum adat, termasuk dalam hal perkawinan.
Masalah perkawinan adalah masalah yang penting bagi semua manusia, karena perkawinan adalah merupakan satu-satunya cara sampai saat ini untuk melanjutkan keturunan. Oleh karena itu di dalam melakukan suatu perkawinan haruslah terlebih dahulu, melalui proses-proses tertentu, yang telah ditentukan dalam hukum adat. Proses dalam melangsungkan perkawinan juga di kenal pada masyarakat Batak. Hukum adat Batak yang ditaati oleh semua orang Batak telah menetapkan bagaimana proses yang harus dilakukan, serta tindakan-tindakan apa yang harus dilaksanakan, dan syarat-syarat apa yag harus dipenuhi, apabila seorang orang Batak mau melaksanakan perkawinan.9
Pada sistem kekerabatan Bata dikenal sistem Dalihan Na Tolu (Tungku Nan Tiga) yang berfungsi sebagai tata kelakuan untuk mengatur, mengendalikan dan memberi arah kepada kelakuan dan perbuatan orang Batak. Ketiga tungku tersebut adalah Somba marhula-hulam elek marboru dan manat mardongan tubu yang artinya hormat kepada pihak keluarga istri, mengayomi anak perempuan dan bersikap sopan terhadap teman semarga. Dalihan Na Tolu sebagai sebuah sistem
8 Masyarakat Batak, oleh Van Vollenhoven adalah merupakan satu lingkungan hukum.
Oleh karena itu masyarakat Batak mempunyai hukum adat tersendiri yang berbeda dengan hukum adat lingkungan hukum adat yang lain di Indonesia.
9 Djaren Saragih, Hukum Perkawinan Adat Batak, Bandung:Tarsito, 1980, hlm. 26.
yang memberi pedoman bagi orientasi persepsi dan defenisi dalam realitas masyarakat Batak Toba sehingga dijunjung dan dilestarikannya nilai-nilai budaya tersebut. Perkawinan masyarakat Batak Toba berpegang teguh pada sistem Dalihan Na Tolu. Perkawinan orang Batak yang hanya diabsahkan dengan upacara agama serta catatan sipil boleh dikatakan masih dianggap perkawinan gelap oleh masyarakat Batak dilihat dari sudut adat Dalihan Na Tolu. Buktinya ialah apabila timbul keretakan di dalam suatu rumah tangga demikian maka sudah pasti marga dari masing-masing pihak tidak merasa ada hak dan kewajiban untuk mencampurinya.10 Sah tidaknya perkawinan menurut adat dalihan natolu bukan oleh upacara agama atau pencatatan di catatan sipil. Tetapi oleh adat, dimana yang hadir itu terdiri atas unsur dalihan natolu dan dongan sahuta. Perkawinan yang diresmikan secara adat dalam adat Batak Toba merupakan perkawinan yang diawali dengan cara meminang.
Didalam Masyarakat adat Batak Toba sendiri perkawinan terdiri dari 2 bentuk yaitu :
1. Meminang
Meminang sinonimnya adalah melamar sesuai dengan aturan hukum adat yang berlaku. Pada masyarakat adat Batak Toba proses upacara adat yang dilakukan sebelum dan sesudah dalam hal perkawinan yang dilakukan dengan meminang ini merupakan hal yang sangat penting dimana dalam setiap prosesnya terdiri dari beberapa tahap yang harus dilakukan.
2. Tanpa meminang
10 Nalom Siahaan, Dalihan Natolu Prinsip dan Pelaksanaannya, Jakarta :Tulus Jaya, 1982, hal. 18.
Tanpa meminang dalam masyarakat adat Batak Toba disebut juga dengan mangalua yang disebut juga dengan kawin lari. Mangalua adalah perkawinan yang dilaksanakan dengan cara melarikan diri dan melakukan perkwinan dengan cara di luar prosedur perkawinan yang idealnya karena satu atau beberapa hal. Artinya tanpa pemberian jujur ataupun mahar yang di dalam masyarakat Batak Toba disebut dengan sinamot. Dalam adat Batak Toba menyebut bahwa perkawinan yang dilakukan dengan cara mangalua bahwa si pemuda mengandalkan kekuatan dan mengabaikan hukum adat.
Faktor dari dilakukannya perkawinan mangalua ini adalah faktor ekonomi, tidak mendapat restum faktor suku dan kepercayaanm faktor hubungan seksual bebas dan faktor pendidikan.
Pada dasarnya perkawinan orang Batak haruslah diresmikan secara adat, berdasarkan adat Batak Toba agar di hari-hari mendatang boleh terlaksananya acara-acara adat yang memyangkut dirinya. Namun di dalam perkawinan adat Batak Toba dikenal juga istilah “Mangalua” atau “Kawin Lari”, keadaan dimana belum dilakukannya pengukuhan perkawinan secara adat dengan adat Batak Toba, yang berarti perkawinannya belum sah secara adat. Perkawinan seperti ini merupakan perkawinan tanpa meminang .
Manga adalah melaksanakan dan lua adalah membawa atau lari yang secara leksikal berarti melaksanakan kegiatan membawa lari atau melarikan.11 Secara konseptual berarti sepasang muda-mudi yang kawin dengan cara di luar
11 https://er27.wordpress.com/2008/03/17/mangalua-suatu-bentuk-perkawinan-pada-masyarakat-batak-toba/
prosedur perkawinan yang ideal menurut adat Batak Toba karena satu atau beberapa hal, seperti karena masalah ekonomi , masalah sosial (status di tengah kehidupan masyarakat), tidak adanya kesesuaian ataupun masalah yang lainnya.Masyarakat yang melakukan kawin lari adalah orang yang melanggar adat Batak dan setiap orang yang melanggar adat akan diberikan hukuman. Dalam mangalua ini seakan adat adalah soal belakang, yang penting adalah terlaksananya perkawinan. Kawin lari dapat diselesaikan apabila pihak yang melarikan anak gadis tersebut yaitu pihak laki-laki pada suatu saat akan melakukan suatu upacara adat sesuai dengan hukum adat yang ditetapkan.
Di dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan tidak mengatur mengenai perkawinan kawin lari, hanya saja diatur di dalam ketentuan pasal 3 ayat (2) Peraturan Pemerintah No 9 tahun 1975, yang merupakan peraturan peraturan pelaksana dari Undang-Undang Nomor l tahun 1974. Ketentuan pasal 3 ayat (2) tersebut mengatur tentang kewajiban bagi setiap orang yang akan melangsungkan perkawinan untuk memberitahukan kehendak itu kepada Pegawai Pencatat dalam jangka waktu sekurang-kurangnya sepuluh hari kerja sebelum perkawinan dilangsungkan. Perkawinan tersebut nantinya akan dicatatkan oleh Pegawai Pencatat sebagai syarat formil sahnya untuk melakukan suatu perkawinan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi rumusan masalah adalah sebagai berikut :
1. Mengapa terjadi perkawinan mangalua pada masyarakat Batak Toba di Kecamatan Medan Denai ?
2. Bagaimana penerapan sanksi jika terjadi perkawinan mangalua pada masyarakat Batak Toba di kecamatan Medan Denai ?
3. Bagaimana akibat hukum yang timbul dari perkawinan mangalua pada masyarakat Batak Toba di kecamatan Medan Denai.
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah diatas maka yang menjadi tujuan yang diharapkan dan dapat diperoleh dari hasil penelitian ini yaitu sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadi perkawinan mangalua pada
masyarakat Batak Toba di Kecamatan Medan Denai.
2. Untuk mengetahui penerapan sanksi jika terjadi perkawinan mangalua pada masyarakat Batak Toba di kecamatan Medan Denai.
3. Untuk mengetahui akibat hukum yang timbul dari perkawinan mangalua pada masyarakat Batak Toba di kecamatan Medan Denai.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang Hukum Adat yang berkaitan dengan mangalua (kawin lari) menurut hukum adat batak toba”(studi pada kecamatan medan denai, kota medan).
2. Manfaat Praktis
a. Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi penulis tentang mangalua (kawin lari) menurut hukum adat batak toba”(studi pada kecamatan medan denai, kota medan).
b. Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada yang berkaitan dengan hukum perkawinan mengenai mangalua (kawin lari) menurut hukum adat batak toba”(studi pada kecamatan medan denai, kota medan).
E. Keaslian Penulisan
Skripsi ini berjudul MANGALUA (KAWIN LARI) MENURUT HUKUM ADAT BATAK TOBA”(STUDI PADA KECAMATAN MEDAN DENAI, KOTA MEDAN).
Judul skripsi ini telah terlebih dahulu di konfirmasi pada Ketua Departemen Hukum Keperdataan Universitas Sumatera Utara serta melakukan pemeriksaan pada perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sehubungan dengan keaslian judul skripsi ini dan hasilnya bahwa judul skripsi tersebut belum ada terdapat di perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini adalah asli dari ide, gagasan, pemikiran dan usaha penulis tanpa ada penipuan, penjiplakan atau lainnya yang dapat merugikan pihak-pihak tertentu. Jika di kemudian hari ada penulisan skripsi dengan judul yang sama maka penulis dapat mempertanggungjawabkannya.
F. Metode Penelitian
Istilah “metodologi” berasal dari kata “metode” yang berarti “jalan ke”.
Namun demikian, menurut kebiasaan metode dirumuskan dengan kemungkinan yaitu suatu tipe pemikiran yang dipergunakan dalam penelitian dan penilaian, suatu teknik yang umum bagi ilmu pengetahuan, dan cara untuk melaksanakan
suatu prosedur.12 Penulisan skripsi ini membutuhkan adanya keterangan yang dapat dijadikan bahan analitis untuk dapat membahas masalah. Untuk mendapatkan dan mengumpulkan keterangan tersebut maka skripsi ini menggunakan metode sebagai berikut:
1. Jenis dan Sifat penelitian
Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah yuridis empiris yang dengan kata lain adalah jenis penelitian hukum sosiologis dan dapat disebut pula dengan penelitian lapangan, yaitu mengkaji ketentuan hukum yang berlaku serta apa yang terjadi dalam kenyataannya di masyarakat.13 Menurut Soejono Soekanto penelitian yuridis empiris adalah penelitian hukum mengenai pemberlakuan atau implementasi ketentuan hukum normatif secara in action pada setiap peristiwa hukum tertentu yang terjadi dalam masyarakat.14
Dalam hal ini penelitian yang dilakukan terhadap keadaan sebenarnya atau keadaan nyata yang terjadi di masyarakat dengan maksud untuk mengetahui dan menemukan fakta-fakta yang dibutuhkan, setelah bahan yang dibutuhkan terkumpul kemudian menuju kepada identifikasi masalah yang pada akhirnya menuju pada penyelesaian masalah.15 Dimana yang menjadi Informan dalam penelitian ini adalah Bapak J.Pakpahan, Bapak St.G.Simanjuntak, dan Bapak Y.Marpaung dan yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah Ibu Dewi Nababan, Bapak Ev.Manalu dan Ibu Vina Silaban.
12 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: Universitas Indonesia, 2014, hlm . 5
13 Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktek, Jakarta: Sinar Grafika, 2002, hlm. 15
14 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: Universitas Indonesia, 1986, hlm. 50.
15Bambang Waluyo, Op.Cit, hlm. 16
Soerjono Soekanto melihat dari segi “sifat penelitian”, beliau membedakannya menjadi 3 (tiga) tipe, yaitu penelitian eskploratori, penelitian deskriptif, dan penelitian eksplanatori. Sifat penelitian ini ialah deskriptif, penelitian ini pada umumnya bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematis,faktua dan akurat terhadap suatu populasi atau daerah tertentu, mengenai sifat-sifat, karakteristik-karakteristik atau faktor-faktor tertentu.16 yaitu menggambarkan atau menjelaskan norma-norma dalam hukum positif mengenai mangalua (kawin lari) menurut hukum adat Batak Toba (studi di Kecamatan Medan Denai, Kota Medan).
2. Sumber Data
Dalam penelitian pada umumnya dibedakan antara data yang diperoleh secara langsung dari masyarakat dan dari bahan-bahan pustaka. Yang langsung dari masyarakat dinamakan data primer (atau data dasar), sedangkan yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka lazimnya dinamakan data sekunder.17 Data dalam penulisan ini adalah data sekunder, yaitu bahan pustaka yang mencakup dokumen-dokumen resmi, buku-buku perpustakaan, peraturan perundang-undangan, karya ilmiah, artikel-artikel, serta dokumen yang berkaitan dengan materi penelitian. Dari bahan hukum sekunder tersebut mencakup tiga bagian, yaitu :18
a. Bahan Hukum Primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat19. Bahan Hukum Primer terdiri dari:
16 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996, hlm.35.
17 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011, hlm. 12.
18 Ibid,, hlm. 13
19 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Rajawali Pers, Jakarta, 2012, hlm. 185.
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, atau disingkat UUD 1945 atau UUD '45
2. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.
b. Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer seperti hasil penelitian, karya ilmiah dari para sarjana, dan jurnal.
c. Bahan Hukum Tersier, merupakan bahan-bahan data yang memberikan informasi tentang hukum primer dan sekunder. Seperti kamus bahasa indonesia, kamus hukum, ensiklopedi, media massa dan internet.
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a. Library Research (Penelitian Kepustakaan) yaitu dengan melakukan
penelitian terhadap berbagai sumber bacaan yaitu buku-buku, majalah hukum, pendapat para sarjana dan juga bahan-bahan kuliah, jurnal-jurnal hukum dan peraturan perundang-undangan yang terkait.
b. Field Research (Penelitian Lapangan) yaitu dengan melakukan penelitian ke lapangan untuk mengadakan wawancara dengan responden (pelaku mangalua) dan informan.
4. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan studi pustaka dan pedoman wawancara. Studi Pustaka yaitu suatu cara pengumpulan data dengan melakukan penelusuran dan menelaah bahan pustaka (literatur, hasil penelitian, majalah ilmiah, buletin ilmiah, jurnal ilmiah dsb). Sedangkan pedoman
wawancara ialah bertanya kepada orang yang ahli dalam bidang nya yaitu kepada mengenai kawin lari (mangalua) di Kecamatan Medan Denai Kota Medan.
5. Analisis Data
Setelah tahap pengumpulan dan pengolahan data, maka tahap selanjutnya adalah menganalisis data. Tujuan dari analisis data adalah untuk menyederhanakan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Metode analisis data yang digunakan adalah secara deskriptif kualitatif. Analisis deskriptif kualitatif yaitu metode analisis data yang mengelompokkan dan menyeleksi data yang diperoleh dari studi kepustakaan menurut kualitas dan kebenarannya, kemudian dihubungkan dengan teori-teori, asas-asas, dan kaidah-kaidah hukum yang diperoleh dari studi kepustakaan sehingga diperoleh jawaban atas permasalahan yang dirumuskan.
G. Sistematika Penulisan
Untuk lebih memudahkan proses pembahasan tulisan dan membantu penulis dalam penguraiannya, maka keseluruhan dari isi skripsi ini dirangkum dalam sistematika penulisan sebagai suatu paradigma berpikir. Dengan pedoman pada sistematika penulisan karya ilmiah pada umumnya maka penulis berusaha untuk mendeskripsikan gambaran umum yang berhubungan dengan cakupan skripsi ini. Secara keseluruhan, penulisan hukum ini terbagi atas lima bab yang masing-masing terdiri atas beberapa sub bab sesuai dengan pembahasan dan
substansi penelitiannya. Adapun sistematika dalam penulisan hukum ini adalah sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Di dalam bab ini diuraikan mengenai pendahuluan pengantar yang mengantarkan kita menuju uraian-uraian selanjutnya. Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, Metode Penelitian, Keaslian Penulisan, dan Sistematika Penulisan.
BAB II :TINJAUAN UMUM TERHADAP PERKAWINAN DI INDONESIA
Di dalam bab ini diuraikan mengenai pengertian perkawinan, asas- asas hukum perkawinan, tujuan perkawinan, syarat sahnya perkawinan syarat sahnya perkawinan, tata cara perkawinan, kedudukan anak dalam perkawinan dan sistem pewarisan.
BAB III : TATA CARA PERKAWINAN MASYARAKAT ADAT BATAK TOBA
Di dalam bab ini diuraikan mengenai sistem kekerabatan masyarakat adat batak toba, sistem perkawinan masyarakat adat batak toba, bentuk perkawinan masyarakat adat batak toba dengan cara meminang tanpa meminang, dan tata cara mangalua menurut hukum adat batak toba
BAB IV : PERKAWINAN MANGALUA (KAWIN LARI) MENURUT HUKUM ADAT BATAK TOBA DI KECAMATAN MEDAN DENAI KOTA MEDAN
Di dalam bab ini diuraikan mengenai penyebab atau faktor terjadinya perkawinan mangalua (kawin lari) pada masyarakat batak toba, sanksi yang di terapkan jika terjadi perkawinan mangalua pada masyarakat batak toba, akibat hukum yang timbul dari perkawinan mangalua pada masyarakat batak toba dalam hal status / kedudukan suami-istri yang melakukan mangalua, anak yang lahir dari perkawinan mangalua, dan kedudukan harta bersama suami-istri yang melakukan mangalua;
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
Di dalam bab ini diuraikan mengenai kesimpulan dan saran yang merupakan bab penutup dari seluruh rangkaian bab-bab sebelumnya, yang berisikan kesimpulan yang dibuat berdasarkan uraian skripsi ini, yang dilengkapi dengan saran-saran.
BAB II
TINJAUAN UMUM TERHADAP PERKAWINAN DI INDONESIA
A.Pengertian Perkawinan
Perkawinan adalah ikatan sosial atau ikatan perjanjian hukum antar pribadi yang membentuk hubungan kekerabatan dan yang merupakan suatu pranata dalam budaya setempat yang meresmikan hubungan antar pribadi-yang biasanya intim dan seksual.Perkawinan umumnya dimulai dan diresmikan dengan upacara pernikahan. Umumnya perkawinan dijalani dengan maksud untuk membentuk keluarga.20
Perkawinan menurut Ter Haar adalah urusan kerabat, urusan keluarga, urusan masyarakat, urusan martabat dan urusan pribadi.21 Hal ini berarti bahwa perihal perkawinan merupakan urusan yang memiliki ikatan atau hubungan dengan masyarakat, martabat serta urusan pribadi, bukan hanya sebatas urusan antar pribadi yang saling mengikatkan diri dalam hubungan yang sah yaitu perkawinan.
Pengertian perkawinan di dalam KUHPerdata, hal ini dapat dilihat dalam pasal 26 KUHPerdata, dikatakan bahwa Undang-Undang memandang soal perkawinan hanya dalam hubungan-hubungan perdata saja. Rasio pasal ini menunjukkan bahwa KUHPerdata memandang perkawinan bukan suatu perbuatan religius yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, melainkan bersifat materi
Pengertian perkawinan di dalam KUHPerdata, hal ini dapat dilihat dalam pasal 26 KUHPerdata, dikatakan bahwa Undang-Undang memandang soal perkawinan hanya dalam hubungan-hubungan perdata saja. Rasio pasal ini menunjukkan bahwa KUHPerdata memandang perkawinan bukan suatu perbuatan religius yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, melainkan bersifat materi