• Tidak ada hasil yang ditemukan

Setiap manusia yang hidup di dunia tentu saja mengalami perubahan, perubahan tersebut terjadi pada beberapa fase yaitu fase anak-anak sampai fase terakhir yaitu fase lanjut usia.

Pertumbuhan lanjut usia terjadi tidak hanya di Indonesia namun juga di seluruh negara di berbagai belahan dunia.Penuaan pada penduduk abad ke 21 merupakan suatu fenomena yang tidak dapat di hindari baik negara maju maupun negara berkembang.

Setiap detik, di seluruh dunia terdapat dua orang yang merayakan ulang tahunnya yang ke-60 tahun. Ini berarti total setahun hampir sebanyak 58 juta orang yang berulang tahun ke-60 (UNFPA, 2012). Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang World Population Aging, diperkirakan pada tahun 2015 terdapat 901 juta jiwa penduduk lanjut usia di dunia.

Jumlah tersebut diproyeksikan terus meningkat mencapai 2 (dua) miliar jiwa pada tahun 2050 (UN, 2015).Seperti halnya yang terjadi di negara-negara di dunia, Indonesia juga mengalami penuaan penduduk. Tahun 2019, jumlah lansia Indonesia diproyeksikan akan meningkat menjadi 27,5 juta atau 10,3%, dan 57,0 juta jiwa atau 17,9% pada tahun 2045 (BPS, Bappenas, UNFPA, 2018).

Berdasarkan data Survey Penduduk antar Sensus (Supas) 2015, jumlah lanjut usia Indonesia sebanyak 21,7 juta atau 8,5%. Dari jumlah tersebut, terdiri dari lansia perempuan 11,6 juta (52,8%) dan 10,2 juta (47,2%) lanjut usia laki-laki (BPS, 2016). Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara yang akan memasuki era penduduk menua (ageing population), karena jumlah penduduk yang berusia 60 tahun ke atas telah melebihi angka 7,0%. Dilihat dari

distribusi penduduk lanjut usia menurut provinsi, terdapat beberapa provinsi yang sudah mengalami penuaan penduduk pada Tahun 2015. Hasil Supas 2015 menunjukkan empat provinsi dengan persentase penduduk lanjut usia tertinggi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta (13,6%), Jawa Tengah atau Jateng (11,7%), Jawa Timur atau Jatim (11,5%), dan Bali sebesar 10,4%

(BPS, 2016). Meskipun Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan proporsi tertinggi di Indonesia, namun dari segi jumlah lansia, masih lebih sedikit dibanding Provinsi Jabar, Jateng atau Jatim (BKKBN, 2019).

Data di Sumatera Utara memperlihatkan proporsi lansia telah mencapai 7,58 persen dari keseluruhan penduduk pada tahun 2018. Kondisi ini menunjukan bahwa selama setahun terakhir di Sumatera Utara proporsi lansia bertambah secara nyata dari 7,25 persen pada tahun 2017 menjadi 7,58 persen pada tahun 2018 atau meningkat 0,33 persen. Hal ini menunjukan bahwa Sumatera Utara termasuk daerah dengan struktur penduduk menuju tua (ageing population) (Statistik Penduduk Lanjut Usia, 2018).

Jika dilihat menurut kabupaten/kota proporsi lansia di Sumatera Utara sangat beragam, dengan rentang antara 4,29 persen yaitu di Kabupaten Labuhan Batu Selatan sampai dengan 11,79 persen di Kabupaten Toba Samosir. Daerah lainnya yang memiliki proporsi penduduk lansia terbesar adalah Kabupaten Samosir, Humbang Hasundutan dan Tapanuli Utara.Tingginya proporsi penduduk lansia di daerah tersebut sangat erat kaitannya dengan fenomena migrasi keluar untuk penduduk muda dengan alasan mendapatkan kehidupan yang lebih baik (Statistik Penduduk Lanjut Usia, 2018).

Lansia menurut UU RI no 13 tahun 1998 adalah mereka yang telah memasuki usia 60

lain lansia yang merupakan singkatan dari lanjut usia. Istilah lain adalah manula yang merupakan singkatan dari manusia lanjut usia. Apapun istilah yang dikenakan pada individu yang telah memasuki usia 60 tahun ke atas tersebut tidak lebih penting dari realitas yang dihadapi oleh kebanyakan individuusia ini.

Kendala-kendala yang dihadapi para lansia harus menyesuaikan dengan berbagai perubahan baik yang bersifat fisik, mental, maupun sosial. Perubahan-perubahan dalam kehidupan yang harus dihadapi oleh individu usia lanjut khususnya berpotensi menjadi sumber tekanan dalam hidup karena stigma menjadi tua adalah sesuatu yang berkaitan dengan kelemahan, ketidakberdayaan, dan munculnya penyakit-penyakit. Masa lansia sering dimaknai sebagai masa kemunduran, terutama pada keberfungsian fungsi-fungsi fisik dan psikologis.

Hurlock (2004: 307).

Setiap orang yang menikmati keasyikan dalam kehidupannya membuat ia sering lupa bahwa dari hari ke hari usianya bertambah. Ia tahu ia bertambah tua, tetapi ia tidak sadar bahwa memasuki usia lanjut berarti memasuki kehidupan dengan fisik yang daya tahan dan fungsinya menurun. Hal tersebut selanjutnya akan membawa perubahan-perubahan dalam hubungansosialnya, baik dengan anak-anak dan saudaranya. Misalnya, sulitnya mengingat hal-hal baru, sedang hal-hal lampau selalu diingatnya, memberikan hambatan dalam pekerjaan.

Pekerjaan yang biasanya dapat dikerjakan dalam satu hari, mungkin kini perlu beberapa hari karenan fisik yang melemah yang menyebabkan ia mudah lelah. Dan umumnya memasuki usia lanjut sama artinya dengan memasuki dunia pensiun atau keluar dari dunia kerja, hal tersebut adalah sesuatu yang alami bahwa pergaulan hidup terpilah-pilah oleh kelompok-kelompok usia.

Kelompok usia lanjut dikelompokkan dalam subkelompok usia lanjut yang mampu membiayai hidupnya sendiri dan subkelompok usia lanjut yang tidak mampu membiayai hidupnya sendiri. Pembagian ini penting mengingat masalah yang dihadapioleh kelompok lanjut usia sangat berkaitan dengan ketidakmampuan ekonomi mereka. Kelompok lanjut usia dalam subkelompok yang membiayai hidupnya sendiri diartikan sebagai orang-orang lanjut usia yang secara relative mempunyai kemampuan ekonomis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kemampuan ekonomis ini bervariasi, tetapi yang terutama adalah kebutuhan sandang pangan, tempat tinggal, dan kesehatan. Kelompok ini tidak menggantungkan kehidupannya pada orang lain bahkan diantara mereka masih dapat membantu orang lain seperti anak, cucu, atau saudaranya. Sudiro (1982) menyebutkan beberapa orangtua yang hidupnya mandiri, tidak tergantung pada orang lain dalam usia lanjut mereka terus dapat melakukan pekerjaan atau mendapatkan penghasilan. Istilah pensiun tidak dikenal oleh lanjut usia semacam itu dengan kemampuan ekonomi yang dimiliki, orang-orang lanjut usia dapat terbebas dari ketergantungan orang lain. Ia dapat memilih sendiri hidup dirumah atau di panti jompo atau panti werdha. Ia tetap dapat menjalani sisa-sisa hidupnya bersama dengan kelompok-kelompok usia lainya sesuai dengan kemampuannya dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

Sedangkan lanjut usia yang tidak mampu membiayai hidupnya sendiri diartikan sebagai orang-orang lanjut usia yang secara relatif tidak mempunyai kemampuan ekonomis untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan, tempat tinggal, dan kesehatan. Dalam keadaan ini, kehidupan lanjut usia tergantung pada orang lain. Kelompok ini membutuhkan pelayanan dari anak-anak, saudara, masyarakat atau pemerintah negara. Tetapi masalahnya adalah ada tidaknya kemampuan untuk melayani lanjut usia tersebut. Apakah akan mengikuti kebiasaan masyarakat

Eskimo dahulu yang meninggalkan usia lanjut yang sudah tidak berguna lagi di padang salju dari tengah-tengah keluarga mereka jika terjadi bahaya kelaparan (Goode, 1983).

Pada usia yang sudah tidak muda lagi, pelayanan yang didapatkan dari anak dipandang menjadi salah satu alternatif yang paling dekat untuk dapat diraih oleh para lansia. Nilai yang terdapat di masyarakat memandang bahwa salah satu bentuk kebaikan atau cara balas budi seorang anak kepada orang tua dengan cara memberikan pelayanan sosial di hari tua kepada orang tua yang dianggap telah memberikan banyak sumbangsi untuk kehidupan anak di masa lampau.

Masa akhir dalam fase perubahan membuat lansia memilih untuk tinggal bersama keluarga, pilihan untuk tinggal dengan anak atau saudara menjadi pilihan bagi para lansia.Pilihan tersebut dinilai dapat membuat lansia tidak merasa jauh dari keluarga dan tidak merasa kesepian.Pada masyarakat tradisional yang umumnya terdiri dari keluarga yang besar, memasuki lanjut usia tidak perlu dirisaukan. Mereka cukup aman karena anak dan saudara masih merupakan jaminan yang paling baik bagi orang tuanya karena ikatan yang kuat dan hubungan secara kekeluargaan yang masih erat dan kuat baik dengan keluarga maupun dengan tetangga-tetangga.Anak masih merasa berkewajiban dan mempunyai loyalitas menyantuni orangtua mereka yang sudah tidak dapat mengurus diri mereka sendiri.Nilai-nilai yang masih berlaku memang membuat anak wajib memberikan kasih sayangnya kepada orangtuanya sebagaimana mereka dapatkan sewaktu masa kanak-kanak. Para usia lanjut mempunyai peranan yang menonjol sebagai orang yang dituakan, bijak dan berpengalaman, pembuat keputusan dan kaya pengetahuan. Mereka sering berperan sebagai model bagi generasi muda, walaupun banyak diantara mereka tidak memiliki pendidikan formal.

Fenomena yang terjadi pada masyarakat modern berbanding terbalik dengan yang terjadi pada masyarakat tradisional, tidak semua lansia tinggal dan menetap bersama dengan anak atau saudara, hal itu disebabkan karena ketidakmampuan anak atau saudara dalam memberikan pelayanan sosial kepada para lansia. Ketidakmampuan dalam memberikan pelayanan sosial tersebut dapat membuat para lansia justru tertekan jika tinggal bersama, perasaan tertekan karena merasa kesepian berada dirumah sendirian, keberadaan yang tidak diinginkan oleh anak atau menantu yang memicu pertengkaran atau perasaan sedih karena tidak produktif lagi sehingga diabaikan oleh saudara atau lingkungan tempat tinggal.Pada masyarakat modern, keberadaan orang tua dalam keluarga anak dapat mengganggu kehidupan keluarga anak, ekonominya, privasinya, kasih sayang yang terbagi karena sudah memiliki keluarga yang baru dan mungkin masalah kepengurusan rumah tangga karena takut turut campurnya orang tua dalam urusan keluarga anak.

Ketidakmampuan anak dan sanak keluarga dalam memberikan pelayanan kepada lanjut usia telah mendorong masyarakat dan pemerintah untuk mengambilalih tanggung jawab tersebut.

Usaha masyarakat dan pemerintah mendirikan panti werdha atau panti jompo merupakan salah satu pemecahan masalah yang dihadapi kelompok lanjut usia. Panti werdha merupakan salah satu alternativepilihan bagi lansia untuk menghabiskan masa tuanya dan merupakan tempat atau lingkungan yang asing bagilansia. Saat lansia tersebut memutuskan untuk tinggal di panti werdha, berarti ia akan menghadapi lingkungan baru yang belum pernah ia tinggali sebelumnya.

Oleh karena itu, agar lansia mampu melewati masa tuanya dengan bahagia di panti, maka ia dituntut untuk melakukan penyesuaian diri di panti (Iin Nasri Impisari, 2017)

Alternatif yang diberikan oleh pemerintah tersebut salah satunya terwujud dalam bentuk

untuk menjadi alternatif yang berguna. Anak atau saudara yang tidak dapat memberikan pelayanan sosial kepada lansia dapat menempatkan lansia di dalam panti werdha tersebut.Keputusan untuk menempatkan lansia didalam panti werdha atau keputusan pribadi yang diambil lansia untuk tinggal di panti werdha tentu saja mendapat pandangan atau penilaian buruk dari masyarakat, anak yang tidak dapat memberikan pelayanan kepada orang tua dianggap tidak berbakti.

Budaya yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat Indonesia yang memandang bahwasanya orang yang lebih tua harus dihormati, dihargai dan disayangi menjadikan para lansia yang tinggal dan menetap di panti mendapati pandangan negatif sebagai sesuatu yang tidak dihargai dan tidak dihormati oleh pihak keluarga terutama untuk anak dan saudara dekat.Hal tersebut menjadikan tantangan tersendiri untuk para lansia yang tinggal di panti agar dapat mencapai successful aging meskipun tinggal dan menetap di panti.

Successful aging adalah suatu kondisi dimana seseorang dalam keadaan fisik sehat, keadaan keuangan yang baik dan masih aktif berinteraksi dengan lingkungan sosialnya serta mandiri dalam kehidupan sehari-hari.Successful aging atau memasuki masa tua dengan sukses tentu menjadi dambaan bagi semua individu yang memasuki usia dewasa akhir. Bagaimanapun tua tetap sebagai bagian dari rentang kehidupan individu sehingga tidak ubahnya seperti masa-masa sebelumnya bahwa kesejahteraan juga menjadi impian bagi yang menjalani masa-masa ini.

Lansia yang tinggal di panti dianggap tidak dapat meraih successful aging karena adanya tekanan dari dalam diri yang merasa kesepian dan stress karena tinggal di panti dan jauh dari keluarga. Walaupun demikian tidak dapat dipungkiri bahwasanya ada juga lansia yang hidup di panti bisa successful aging (optimal aging) dari kehidupannya yang lalu.

Seperti lansia yang berada di UPT. Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dinas Sosial Binjai pada awalnya datang ke panti dengan berbagai alasan yang berbeda, mulai dari paksaan yang diberikan dari pihak keluarga, kemauan sendiri dari lansia tersebut sampai karena kiriman dari pihak Dinas Sosial yang mengantarkan lansia-lansia tersebut untuk tinggal menetap dan berinteraksi dengan teman seusianya di panti tersebut. Para lansia yang tinggal dan menetap di panti tersebut mengikuti berbagai kegiatan yang mendukung produktifitas para lansia untuk mencapai successful aging di hari tua.Kegiatan yang telah diagendakan maupun kegiatan tambahan yang di pilih sendiri oleh para lansia menjadikan hari-hari lansia dipenuhi dengan hal-hal yang positif, kegiatan-kegiatan tersebut setidaknya dapat membuat para lansia menuju successful aging yang menjadi dambaan bagi setiap orang di masa tuanya.Tinggal dan menetap di Panti bersama dengan teman seusia tidaklah menjadi halangan untuk para lansia tetap aktif dan menyalurkan bakat atau tenaga yang dimiliki untuk mengembangkan dirinya di sisa fase akhir dalam pertumbuhan hidup manusia.Lansia yang ditinggal di UPT. Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai dengan berbagai pandangan yang diberikan masyarakat terhadap diri mereka membuktikan bahwasanya setiap lansia dapat meraih successful aging di hari tuanya dimanapun lansia itu menghabiskan masa tuanya, baik tinggal bersama dengan keluarga maupun tinggal bersama lansia lainya di panti werdha.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “Successful Aging Pada Lanjut Usia Di UPT. Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai”.

Dokumen terkait