BAB II PROTOKOL MONTREAL DAN RATIFIKASI OLEH
A.1 Latar Belakang Terbentuknya Protokol Montreal
Sejarah lahirnya protokol montreal berangkat dari penelitian dua ahli kimia dari University of California, Rowland dan Molina, pada tahun 1974 yang memberi sebuah hipotesis sekaligus sebagai “early warning” tentang adanya keterkaitan rusaknya lapisan ozon akibat gas klorin yang terkandung dalam senyawa CFC (Chlorofluorocarbons). Gas klorin yang mampu bertahan sampai ratusan tahun ini, diindikasikan sebagai penyebab menipisnya lapisan ozon.13 Kemudian tahun 1985, Farman melakukan sebuah penelitian dan menemukan lubang ozon (ozon hole) di benua Antartika.
13 “Penipisan Lapisan Ozon” diakses dari
http://ozonsilampari.wordpress.com/2008/01/30/lapisan-ozon-di-stratosferbagian-i/ diunduh pada tanggal 6 September 2013.
29 Gambar 1. Penipisan Lapisan Ozon di Benua Antartika
Sumber : “Penipisan Lapisan Ozon”
http://ozonsilampari.wordpress.com/2008/01/30/lapisan-ozon-menipis-akibat-pemakaian-cfc-clorofluorocarbonbagian-ii/, diakses pada 6 September 2013
Kondisi ini akhirnya menjadi sebuah perbincangan yang sangat menarik di kalangan para pemerhati masalah lingkungan khususnya di Amerika Serikat.
Ozon merupakan gas yang tidak berwarna yang tersusun atas tiga unsur oksigen. Secara kimia, ozon sangat aktif dan bereaksi dengan sejumlah zat lain.
Ozon bisa berdampak positif ketika berada pada kondisi normal. Salah satu sifat ozon yang sangat baik adalah mampu menyerap ultraviolet-B (UV-B) yang sangat merusak kesehatan manusia dan lingkungan, maka ketika ozon dalam kondisi berlubang yang terjadi adalah persoalan yang rumit terhadap manusia dan lingkungan. Ozon akan melindungi alam semesta dari beragam kerusakan baik yang terjadi dalam tubuh manusia maupun lingkungan.
30 Munculnya isu tentang mulai menipisnya lapisan ozon bukanlah sekedar isu yang biasa saja, namun isu tersebut telah berhasil mempengaruhi keadaan politik dari negara-negara di dunia. Menipisnya lapisan ozon adalah salah satu permasalahan lingkungan hidup yang bersumber dari tingkah laku manusia sendiri, dalam hal ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidup manusia sehingga menimbulkan ancaman baru yang berhubungan dengan keamanan. Oleh karena itu, keputusan yang berhubungan dengan penanganan lingkungan hidup tidak hanya berdasarkan pada environmental policy, tetapi sebagai keputusan politik yang bermakna dan berpengaruh luas. Lapisan ozon adalah lapisan yang terdapat di kulit bumi bagian stratosfer yang terdiri dari molekul-molekul Ozon (O3). Lapisan ini berada pada ketinggian 15-60 km diatas permukaan bumi dan berfungsi sebagai penghalang semua sinar ultraviolet yang dipancarkan matahari. Sinar ultraviolet adalah sinar yang dipancarkan matahari dengan energi yang cukup tinggi, maka apabila lapisan ozon semakin tipis, maka akan mengakibatkan semakin besarnya radiasi sinar ultraviolet yang jatuh ke permukaan bumi sehingga menyebabkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan. Adapun sebab utama menipisnya lapisan ozon, yaitu peningkatan CFC di atmosfer dan keunikan perkiraan kajian cuaca pada musim sejuk seluruh Antartika. Antara altitud tertentu di Antartika, suhu stratosfer yang sejuk membenarkan kristal es dibentuk. Dalam awan tersebut, molekul klorin dibebaskan dari CFC semasa kegelapan kutub sejuk dan apabila sinar matahari bermula pada bulan September di seluruh
31 Antartika, bilangan molekul-molekul klorin akan berkurang sebagai akibat kegiatan UV dalam pembentukan atom klorin pemusnah ozon.14
Oleh karena hal tersebut maka negara-negara didunia mulai memikirkan cara untuk menghindari semakin menipisnya lapisan ozon. Mulai dari pengurangan penggunaan bahan perusak ozon sampai membuat suatu perjanjian internasional yang khusus untuk melindungi lapisan ozon, yaiu Protokol Montreal. Protokol Montreal adalah sebuah perjanjian internasional yang sengaja dirancang untuk melindungi lapisan ozon dengan meniadakan sejumlah zat yang diyakini bertanggung jawab terhadap mulai menipisnya lapisan ozon. Isu tentang mulai menipisnya lapisan ozon telah dijadikan sebagai suatu isu internasional oleh Badan PBB untuk lingkungan hidup, United Nation Environment Programme (UNEP) sejak tahun 1987. Perjanjian internasional ini mulai terbuka untuk ditandatangani pada tanggal 16 September 1987 sebagai kelanjutan dari Konvensi Wina di tahun 1985.
Protokol ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Januari 1989 dan Protokol ini telah diratifikasi oleh lebih dari 100 negara di dunia, termasuk Amerika Serikat. Protokol ini telah mengalami revisi sebanyak lima kali, dimana yang pertama sekali dilakukan di tahun 1990 di London, yang kedua tahun 1992 di Kopenhagen, ketiga tahun 1995 di Vienna, keempat tahun 1997 di Montreal dan terakhir tahun 1999 di Beijing.
14 Hamilton, W. H, Institution In E. R. A. Seligman and A. Johnson, Encyclopedia of the Social Sciences, London, 1932, Vol.8
32 A.1.1 Mekanisme Perusakan Lapisan Ozon
Sekretariat Ozon Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memprediksi lapisan ozon dunia yang selama ini mengalami kebocoran pada tahun 2050 mendatang sudah bisa tertutup kembali. Kondisi tersebut disebabkan berbagai upaya serius dari sejumlah negara, termasuk Indonesia dalam mengurangi emisi gas buang. Para ilmuwan telah melakukan pengukuran secara berkala terhadap lapisan ozon yang sebelumnya banyak berlubang, kini sudah mulai berkurang. Dari pengukuran lapisan terluar atau stratosfer bahan-bahan seperti chloro fluoro carbon (CFC) dan hydro chlorofluoro carbon (HFC) juga sudah mulai menurun. Demikian juga di Antartika atau di Kutub Selatan dan Kutuh Utara, konsenterasi bahan-bahan perusak ozon sudah semakin
mengecil. .
Adapun indikator terjadinya penutupan lapisan ozon bisa dilihat sejak akhir tahun 2007 atau awal 2008 di Indonesia misalnya, ada sekira 9.898 matrik ton bahan freon atau CFC yang sudah di-resource kembali.15 Banyak negara sudah memiliki kesadaran akan bahayanya bagi kelangsungan hidup manusia, jika lapisan ozon terus menipis dan banyak kebocoran akibat penggunaan bahan seperti HCFC dan CFC. Menurut Marco, saat ini mulai ada kesadaran kolektif negara-negara untuk perlunya pembatasan penggunaan bahan-bahan yang dapat memicu terjadinya kebocoran lapisan ozon. Sebab itu, pertemuan 9th Conference of The Parties (COP) to Vienna Convention for The Protection of Ozone Layer dan 23rd Meeting of The Parties (MOP)
15 “Multilateral Fund for the Implementation of the Montreal Protocol”, www.
multilateral fund.org, diunduh pada tanggal 10 September 2013.
33 to The Montreal Protocol di Bali, dari 21-25 November 2011 ini, diharapkan mempercepat kerja sama global dalam perlindungan ozon.
Pada agenda kali ini, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup ditunjuk menjadi tuan rumah. Acara yang dibuka Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kabuaya ini dihadiri 500 delegasi dari 150 negara, dan beberapa organisasi internasional serta masyarakat sipil, diadakan di Bali Nusa Dua Convention Centre. Balthasar mengungkapkan konferensi ini penting untuk mendapatkan kesepakatan dari seluruh negara untuk memperbaiki perubahan ozon ke depan. Selain itu, dari pertemuan ini bisa memberikan warning bagi masyarakat agar sadar akan pentingnya ozon bagi
kelangsungan hidup manusia.
Menteri LH juga menyoroti tantangan ke depan bagi Indonesia khususnya untuk memilih industri alternatif ramah lingkungan. Indonesia juga memastikan industrinya akan tetap kompetitif dalam merawat lingkungan. Indonesia sebagai tuan rumah dalam konferensi ini akan menjembatani kesepakatan antarnegara agar dapat bersinergi dan kolaborasi terkait perlindungan lapisan ozon dan mitigasi perubahan iklim. Tidak hanya itu, dalam pertemuan ini juga akan membahas bantuan dana multilateral Protokol Montreal 2012-2014. Dana ini ditujukan untuk membantu negara-negara berkembang dalam mengurangi dampak ozon bagi kelangsungan hidup manusia. Hingga saat ini sudah dicairkan sekira USD2,5 miliar untuk membantu negara-negara berkembang.16 Sekadar diketahui, fenomena
16 “Dampak Ozon Bagi Kelangsungan Hidup
34 penipisan lapisan ozon stratosfer oleh bahan kimia chlorofluoromethane (atau biasa disebut sebagai chlorofluorocarbon – CFC) pertama kali disampaikan oleh dua orang ilmuwan Amerika, Rowland dan Molina, di Jurnal Nature pada tahun 1974. Sejak saat itu perdebatan dan wacana pengaturan penggunaan CFC terus menggelinding, tidak hanya di Amerika namun juga di berbagai negara. Berbagai kajian ilmiah tentang penipisan lapisan ozon akibat CFC kemudian dilakukan oleh para ilmuwan. Puncak dari berbagai kajian tersebut adalah temuan tim ekspedisi ilmuwan Inggris yang dipimpin oleh Joe Farman tentang sangat rendahnya konsentrasi ozon stratosfer di atas Benua Antartika pada akhir musim dingin dan awal musim semi. Temuan tersebut dipublikasikan di Jurnal Nature pada tahun 1985. Istilah lubang ozon (ozone hole) mulai digunakan untuk menggambarkan sangat rendahnya konsentrasi ozon di suatu daerah (kurang dari 220 Dobson Unit).17 Penipisan lapisan ozon merupakan salah satu masalah penting yang harus segera ditanggulangi karena setiap penipisan lapisan ozon sebesar 10% akan menyebabkan kenaikan intensitas sinar Ultra Violet (UV) B sebesar 20%.18 Hasil penelitian para ahli menunjukkan bahwa tingginya intensitas UV-B bisa menimbulkan katarak mata, kanker kulit, penurunan kekebalan tubuh, memusnahkan plankton, dan menghambat pertumbuhan tanaman.
Manusia”, http://www.bdg.lapan.go.id/index.php?nama=reinstra&opt=detail&id=46, diunduh pada tanggal 10 September 2013.
17 “Penataan Hukum terhadap Penggunaan dan Perdagangan Bahan Perusak Ozon (BPO)”, www.menlh.go.id/penataan-hukum-terhadap-penggunaan-dan-perdagangan-bahan-perusak- ozon-bpo/, diunduh pada tanggal 10 September 2013.
18 “Dampak Ozon Bagi Kelangsungan Hidup
Manusia”, http://www.bdg.lapan.go.id/index.php?nama=reinstra&opt=detail&id=46, diunduh pada tanggal 10 September 2013.
35 Beberapa dekade belakangan ini dilaporkan bahwa telah terjadi penipisan lapisan ozon, di Antartika dan fenomena penipisan lapisan ozon ini tampaknya semakin meluas akibat semakin meningkatnya konsumsi bahan-bahan kimia perusak lapisan ozon. Kerusakan pada ozon diketahui dapat menimbulkan beberapa dampak negatif, seperti resiko tinggi terkena penyakit kanker kulit, katarak mata, dan menurunnya kekebalan tubuh pada manusia.
Bahaya lainnya adalah bagi kehidupan pada ekosistem laut karena menurunnya produksi fitoplankton, terganggunya proses fisiologis dan perkembangan tumbuhan, serta tidak stabilnya suhu permukaan bumi.
Bahan kimia yang mengandung klor dan brom merupakan bahan kimia perusak ozon yang utama. Beberapa jenis bahan kimia yang merupakan bahan perusak lapisan ozon (BPO) antara lain CFC (freon) dan isomernya, halon (halon-211, halon-1301, halon-2402), karbon tetraklorida (CCl4), metil kloroform (1,1,1-trikloroetana), HCFC (freon) dan isomernya, hidrobromo fluoro karbon HBFC-22B1 dan isomernya, bromo kloro metana (CH2BrCl) serta metil bromida (CH3Br).19 Menurut hasil penelitian Fabian dan Singh (1999), satu atom Cl dapat menguraikan sampai 100.000 molekul ozon dan bertahan 40-150 tahun di atmosfer. Fabian dan Singh melaporkan keberadaan gas bromin (CH3Br, CH2Br2 dan CHBr3) sangat sedikit di atmosfer, tetapi kerusakan ozon yang diakibatkan gas bromin lima puluh kali lebih tinggi dibandingkan gas klorin.
19Pan Mohamad Faiz. “Perubahan Iklim dan Perlindungan Lingkungan: Suatu Kajian Berperspektif Hukum Konstitusi.” Dalam World Commission on Environment and Development(WCED), Our Common Future, Oxford University Press, Oxford, 1987, hlm. 43.
36 Mengingat kerusakan lapisan ozon merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup manusia dan seluruh kehidupan di bumi, bangsa-bangsa di dunia sepakat melakukan kerja sama internasional untuk melindungi lapisan ozon yang diwujudkan dengan kesepakatan Protokol Montreal (1987) yang mengatur upaya pengurangan konsumsi BPO secara bertahap dan mengganti BPO dengan bahan lain yang tidak merusak lingkungan. Kesepakatan-kesepakatan yang ditetapkan dalam Protokol Montreal diperbaharui secara berkala berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ancaman yang diketahui terhadap keseimbangan ozon adalah kloroflorokarbon (CFC) yang mengakibatkan menipisnya lapisan ozon. CFC digunakan oleh masyarakat modern dengan cara yang tidak terkira banyaknya, yaitu :20
1. AC 2. kulkas
3. bahan dorong dalam penyembur (aerosol), diantaranya kaleng semprot untuk pengharum ruangan, penyemprot rambut atau parfum
4. pembuatan busa
5. bahan pelarut terutama bagi kilang-kilang elektronik
20 “Protokol Montreal tentang Bahan-Bahan yang Merusak Lapisan Ozon”, http://www.undp.or.id/factsheets/Indonesia/fs_eu_ozone.pdf, diunduh pada tanggal 6 September 2013.
37 Satu buah molekul CFC memiliki masa hidup 50 hingga 100 tahun dalam atmosfer sebelum dihapuskan. Dalam waktu kira-kira 5 tahun, CFC bergerak naik dengan perlahan ke dalam stratosfer (10 – 50 km). Molekul CFC terurai setelah bercampur dengan sinar UV, dan membebaskan atom Klorin.
Atom klorin ini berupaya memusnahkan ozon dan menghasilkan lubang ozon.21 Penipisan lapisan ozon akan menyebabkan lebih banyak sinar UV memasuki bumi.
Lubang ozon di Antartika disebabkan oleh penipisan lapisan ozon antara ketinggian tertentu seluruh Antartika pada musim semi. Pembentukan
„lubang‟ tersebut terjadi setiap bulan September dan pulih ke keadaan normal pada lewat musim semi atau awal musim panas.22 Dalam bulan Oktober 1987, 1989, 1990 dan 1991, lubang ozon yang luas telah dilacak di seluruh Antartika dengan kenaikan 60% pengurangan ozon berbanding dengan permukaan lubang pra-ozon.23 Pada bulan Oktober 1991, permukaan terendah atmosfer ozon yang pernah dicatat telah terjadi di seluruh Antartika.
21 “Ozone Layer Protection: Governance and Compliance at Their Best”. : http://www.menlh.go.id, diunduh pada tanggal 7 September 2013.
22 Pan Mohamad Faiz. “Perubahan Iklim dan Perlindungan Lingkungan: Suatu Kajian Berperspektif Hukum Konstitusi.” dalam Thomas A. Easton, ed., Taking Sides: Clashing Views on Controversial Environmental Issues, McGraw Hill, 2008, hlm. 28-33.
38 Gambar 2. Gambar ini menunjukkan lapisan ozon semakin menipis sehingga terdapat "lubang" pada lapisan atmosfera
Sumber : “Penipisan Lapisan Ozon”
http://ozonsilampari.wordpress.com/2008/01/30/lapisan-ozon-menipis-akibat-pemakaian-cfc-clorofluorocarbonbagian-ii/, diakses pada 6 September 2013
39 A.1.2 Latar Belakang Perlindungan Ozon
Ozon pertama kali ditemukan oleh Christian Friedrich Schonbein pada tahun 1840. Penamaan ozon diambil dari bahasa yunani Ozein yang berarti smell atau bau. Ozon dikenal sebagai gas yang tidak memiliki warna. Soret pada tahun 1867 mengumumkan bahwa ozon adalah sebuah molekul gas yang terdiri tiga buah atom oksigen (O3). Secara alamiah ozon dapat terbentuk melalui radiasi sinar ultraviolet pancaran sinar matahari. Chapman menjelaskan pembentukan ozon secara alamiah pada tahun 1930. Di mana ia menjelaskan bahwa sinar ultraviolet dari pancaran sinar Matahari mampu menguraikan gas oksigen di udara bebas. Molekul oksigen tadi terurai menjadi dua buah atom oksigen, proses ini kemudian dikenal dengan nama photolysis. Lalu atom oksigen tadi secara alamiah bertumbukan dengan molekul gas oksigen yang ada disekitarnya, lalu terbentuklah ozon. Ozon yang terdapat pada lapisan stratosphere yang kita kenal dengan nama ozone layer (lapisan ozon) adalah ozon yang terjadi dari hasil proses alamiah photolysis ini. Lapisan ozon berada pada ketinggian 19 – 48 km (12 – 30 mil) di atas permukaan Bumi. Peristiwa ini telah terjadi sejak berjuta-juta tahun yang lalu.
Lapisan Ozon sangat bermanfaat bagi kehidupan di Bumi karena ia melindungi kita dengan cara menyerap 90% radiasi sinar ultraviolet (UV) yang dipancarkan oleh matahari. Diketahui bahwa Sinar UV sangat berbahaya dan dapat menyebabkan:
1. penyakit kanker kulit,
40 2. katarak
3. kerusakan genetik
4. penurunan sistem kekebalan hewan, tumbuhan dan organisme yang hidup di air
5. mengurangi hasil pertanian dan hutan
6. mematikan anak-anak ikan, kepiting dan udang di lautan, serta mengurangi jumlah plankton yang menjadi salah satu sumber makanan kebanyakan hewan-hewan laut
Hal ini dikhawatirkan aktivitas manusia akan mengancam lapisan ozon.
Oleh itu atas permintaan “United Nations Environment Programme” (UNEP), WMO memulai Penyelidikan Ozon Global dan Proyek Pemantauan untuk mengkoordinasi pemantauan dan penyelidikan ozon dalam jangka panjang.
Semua data dari tapak pemantauan di seluruh dunia diantarkan ke Pusat Data Ozon Dunia di Toronto, Kanada, yang tersedia kepada masyarakat ilmiah internasional, yaitu :24
1. 1977, pertemuan pakar UNEP mengambil tindakan Rencana Dunia terhadap lapisan ozon.
2. 1987, ditandatangani Protokol Montreal suatu perjanjian untuk perlindungan terhadap lapisan ozon. Protokol ini kemudian diratifikasi oleh 36 negara termasuk Amerika Serikat.
24 Pan Mohamad Faiz. “Perubahan Iklim dan Perlindungan Lingkungan: Suatu Kajian Berperspektif Hukum Konstitusi.” Dalam Dominic McGoldrick, “Sustainable Development and Human Rights: An Integrated Conception”
41 3. 1990, Pelarangan total terhadap penggunaan CFC sejak
diusulkan oleh Komunitas Eropa (sekarang Uni Eropa) pada tahun 1989, yang juga disetujui oleh Presiden AS George Bush.
4. 1991, Untuk memonitor berkurangnya ozon secara global, National Aeronautics and Space Administration (NASA) meluncurkan Satelit Peneliti Atmosfer. Satelit dengan berat 7 ton ini mengorbit pada ketinggian 600 km (372 mil) untuk mengukur variasi ozon pada berbagai ketinggian dan menyediakan gambaran jelas pertama tentang kimiawi atmosfer di atas.
5. 1995, lebih dari 100 negara setuju untuk secara bertahap menghentikan produksi pestisida metil bromida di negara-negara maju. Bahan ini diperkirakan dapat menyebabkan pengurangan lapisan ozon hingga 15 persen pada tahun 2000.
6. 1995, CFC tidak diproduksi lagi di negara maju pada akhir tahun dan dihentikan secara bertahap di negara berkembang hingga tahun 2010. Hidrofluorokarbon atau HCFC, yang lebih sedikit menyebabkan kerusakan lapisan ozon bila dibandingkan CFC, digunakan sementara sebagai pengganti CFC hingga 2020 pada negara maju dan hingga 2016 di negara berkembang.25
25 “Penipisan Lapisan Ozon”, http://www.ptkjt.com/overview.html, diunduh pada tanggal 6 September 2013.
42 Protokol Montreal merupakan kesepakatan Internasional untuk menghilangkan secara bertahap produksi dan konsumsi senyawa yang dapat merusak ozon, seperti misalnya klorofluorokarbon (CFC), halon, karbontetraklorida, dan metilkloroform. Senyawa perusak tersebut selanjutnya disebut dengan Ozon Depleting Substance (ODS). ODS pada umumnya sangat berguna bagi kehidupan manusia sehari-hari, seperti misalnya CFC yang digunakan pada mesin pendingin, aerosol pada spray, atau halon yang digunakan pada cairan pemadam kebakaran.
Protokol Montreal muncul sebagai sebuah usaha untuk mengantisipasi dan mengatasi terbentuknya lubang ozon yang semakin meluas. Lubang ozon pertama kali diketahui pada tahun 1985 berdasarkan laporan dari tim peneliti Antartika Inggris (British Antarctic Survey).26 Laporan tersebut menginformasikan bahwa antara tahun 1977 sampai 1984, kadar ozon di atas Halley Bay, Antartika, telah turun dengan drastis menjadi 125 unit Dobson.
Sekedar perbandingan, antara tahun 1950 dan pertengahan 1970-an, kadar ozon masih berada pada angka 300 unit Dobson, yaitu setebal 3 mm pada suhu dan tekanan standar (Soemarwoto, 1992).27
Padahal lapisan ozon di stratosfer (lapisan kedua dari permukaan bumi setelah troposfer) merupakan pelindung utama bumi. Gelombang pendek berenergi tinggi dari luar angkasa, termasuk sinar UV ekstrem, akan ditolak
26 “Menghormati dan Menyayangi Ozon”,
http://ditterkarya.wordpress.com/2009/09/17/menghormati-dan-menyayangi-ozon/, diunduh pada tanggal 7 September 2013.
27 “Lapisan Ozon Menipis Akibat Pemakaian CFC”,
http://ozonsilampari.wordpress.com/2008/01/30/lapisan-ozon-menipis-akibat-pemakaian-cfc-clorofluorocarbonbagian-ii/, diunduh pada tanggal 7 September 2013.
43 atau diserap oleh lapisan ozon. Dengan terbentuknya lubang ozon, maka praktis perlindungan akan berkurang dan sinar ultraviolet dapat masuk dengan bebas ke dalam bumi. Ini sangat merisaukan, sebab sinar ultraviolet sangat berbahaya bagi kehidupan, yaitu dapat mematikan jasad renik (termasuk plankton dan larva ikan), menghambat laju fotosintesis pada tumbuhan, dan menimbulkan berbagai penyakit pada manusia, seperti misalnya kanker.
Berdasarkan evaluasi ilmiah tahun 2006 tentang efek dari Protokol Montreal, diketahui bahwa Protokol itu telah cukup berhasil mengurangi kadar ODS dan sedikit memulihkan ozon di stratosfer. Hal tersebut ternyata tidak terlepas dari adanya sanksi perdagangan yang dikenakan kepada pihak yang melanggar perjanjian. Selain itu, juga ada insentif bagi pihak non-negara yang turut serta menandatangani protokol.
Walaupun terkesan “demi lingkungan”, keberadaan Protokol Montreal masih tetap sarat dengan paham Antroposentrisme, yaitu lebih mengutamakan kepentingan manusia dari pada hal lainnya. Lubang ozon ingin diatasi hanya karena sekedar berbahaya bagi kehidupan manusia, seperti misalnya menimbulkan penyakit dan memusnahkan sumber makanan manusia, bukan karena memang berdampak negatif terhadap lingkungan secara keseluruhan.
Dalam konteks mengatasi permasalahan, hal tersebut selanjutnya akan menimbulkan paradigma kewajiban dan keharusan, sehingga unsur keterpaksaan mendapatkan porsi yang lebih besar. Tidak heran jika akhirnya
44 Protokol Montreal harus disertai dengan sanksi ataupun insentif sebagai pemicu. Jika tidak, bisa jadi pihak-pihak yang terlibat akan lebih sibuk melanggar perjanjian karena lebih memilih keuntungan ekonomi yang bisa didapatkan dari penggunaan ODS.
Idealnya, paradigma kewajiban haruslah diubah menjadi paradigma kasih sayang. Ozon harus dihormati bukan hanya karena berguna bagi manusia, tapi karena memang memiliki nilai pada dirinya sendiri. Dalam konteks kajian etika lingkungan, hal tersebut sejalan dengan Ekosentrisme.
Ekosentrisme adalah sebuah teori etika lingkungan yang memperluas cakupan keberlakuan etika. Etika tidak hanya berlaku pada manusia dan unsur-unsur hidup saja, melainkan juga pada benda-benda mati sebagai bagian dari ekosistem secara keseluruhan (Borrong, 2000).28
Bagaimanapun juga, ozon merupakan bagian dari ekosistem bumi selain manusia, dan dengan demikian haruslah dihormati serta disayangi layaknya sesama manusia. Jika ozon tidak dipandang secara fungsional dan antroposentrik, maka tentunya kita akan lebih tulus dalam menyelamatkan ozon. Usaha-usaha untuk menghilangkan penggunaan ODS dalam rangka
“menambal” lubang ozon juga akan semakin ringan, sebab sudah didasarkan atas rasa hormat dan kasih sayang yang tulus ikhlas, bukan lagi karena paradigma keharusan atau kewajiban semata.
28 Hamilton, W. H, Institution In E. R. A. Seligman and A. Johnson, Encyclopedia of the Social Sciences, London, 1932, Vol.8
45 A.2 Misi dan Tujuan Protokol Montreal
Berdasarkan isi dari Protokol Montreal mengenai Bahan yang Merusak Lapisan Ozon (mukadimah) misi dan tujuan dari Protokol Montreal adalah :29
1. Memikirkan kewajiban mereka sesuai konvensi tersebut untuk mengambil langkah yang tepat untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan menghadapi efek yang disebabkan oleh atau yang sejenis yang diakibatkan oleh aktivitas-aktivitas manusia yang mengubah atau yang sejenisnya yang mengubah lapisan ozon.
2. Mengakui emisi-emisi seluruh dunia dari zat-zat dimaksud dapat berarti menghabiskan dan mengubah lapisan ozon yang mengakibatkan efek-efek merugikan pada kesehatan manusia dan lingkungan.
3. Menyadari efek-efek iklim yang potensial dari emisi-emisi zat-zat ini.
4. Mengetahui bahwa langkah-langkah yang diambil untuk melindungi
4. Mengetahui bahwa langkah-langkah yang diambil untuk melindungi