• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENGARANG DAN KARYANYA

D. Latar Belakang Terciptanya Kumpulan Cerpen

Mochtar Lubis

Dilihat dari sepenggal perjalanan hidupnya, Mochtar Lubis memiliki banyak pengalaman, mulai dari masa kecilnya sebagai putra demang hingga lebih khusus lagi saat ia menjadi wartawan. Pengalamannya bertemu dengan banyak orang baik di dalam maupun di luar negeri memberinya isnpirasi yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya. Salah satu karya Mochtar Lubis yang tidak kalah lugas dari karya-karya lainnya adalah kumpulan cerpen

Perempuan. Kisah-kisah yang terdapat di dalam kumpulan cerpen tersebut merupakan hasil pengalaman Mochtar Lubis sendiri dan juga hasil dari pengalaman orang-orang sekitar yang diceritakan padanya. Sebagaimana dikutip dari Riris K. Toha Surampaet dalam kata pengantar pada kumpulan cerpen Perempuan:

Inti cerita ini juga dapat dirujuk pada pengalaman hidup pengarang seperti dapat kita saksikan pada “kampung kami di Sumatera, “kebun karet ayah di Kerinci”, “ketika ayahku dahulu menjabat demang di Kerinci itu” (“Lotre Haji Zakaria”) yang menunjuk dan merujuk pada kehidupan pribadi pengarangnya.” Mochtar Lubis dikenal datang dari keluarga berada dan ayahnya adalah seorang demang di Sumatera.18 Pada kumpulan cerpen ini juga dapat kita periksa kejadiannya dalam catatan sejarah Indonesia, misalnya peristiwa serangan gerombolan dalam cerpen ‘Sepotong Rokok Kretek’. Sebagaimana yang dikatakan L.R Baskoro dan Ign Haryanto bahwa Mochtar Lubis pernah mengalami pengalaman pahit saat bekerja di Antara. Ia pernah menulis soal gerombolan perampok rakyat di tengah masa revolusi. Tulisan tersebut berdasarkan cerita dari mertuanya

17

Mochtar Lubis, Op.Cit., h. 197-198.

sendiri, ketika berita itu dimuat, beberapa anggota gerombolan yang bersenjatakan golok mendatangi Mochtar Lubis hingga ia pucat pasi.19

Tugas kewartawanan dan kepemimpinannya dalam berbagai lembaga juga turut memengaruhi latar belakang terciptanya cerpen-cerpen dalam kumpulan cerpen Perempuan ini, misalnya pada kutipan “kami datang sebagai anggota delegasi konferensi serikat dagang-dagang” dalam ‘Untuk Peri Kemanusiaan’, lalu pada kutipan “ketika berkunjung ke Manila dalam bulan Mei 1950. Aku dan Benigno (seorang wartawan dari sebuah surat kabar di Manila)...” dalam ‘Sepucuk Surat.’20 Mochtar Lubis memang pernah berkenalan dengan seorang wartawan bernama Ninoy Aquino (Benigno) saat meliput perang di Korea, seperti dalam kutipan berikut: “Dari perjalanan itu pula ia membawa pulang kenang-kenangan yang tetap diingatnya sampai sekarang: perkenalan dan persahabatannya dengan Benigno (Ninoy) Simeon Aquino, Jr., reporter muda The Manila Times.”21 Pengalamannya saat meliput perang Korea juga dituangkan dalam ‘Kebun Pohon Kastanye’. Saat itu ia sedang berkemah bersama satu batalyon tentara dari Philipina. Ada seorang pemilik kebun kastanye yang bengis dan kikir, ia berlaku kasar bahkan terhadap anak kecil sekalipun. Kejadian itu menusuk perasaan Mochtar Lubis sehingga ia menuangkannya dalam cerpen tersebut.22 Kemudian pengalamannya sebagai anggota delegasi Indonesia dalam Konferensi Inter Asia di New Delhi ia tuangkan dalam cerpen “Cerita dari Singapura”. Uraian tersebut hanya sebagai contoh kecil saja karena pada intinya sikap kritis Mochtar Lubis yang bercampur dengan kekecewaan, dan pembelaan, menjadi dasar atas kisah-kisah yang dituangkan dalam kumpulan cerpen ini, agar masyarakat dapat menyadari bahwa semua masalah yang diangkat adalah masalah kita semua.

19

L.R Baskoro, dan ign Haryanto, “Mochtar Lubis: Surga Si Kepala Granit”, dalam Majalah Forum Keadilan, Edisi Khusus Lima Puluh Tahun Indonesia Merdeka, Agustus 1995, h. 79.

20

Mochtar Lubis, Op. Cit., h. ix.

21

Atmakusumah, Op. Cit., h. 46.

22

Anonim, “Cerita Tentang Ilham” dalamWaspada, Tahun XXXIV no 12323, Rabu, 23 April 1980. h. 8.

42

E. Sinopsis Tiga Cerpen dalam Kumpulan Cerpen Perempuan Karya

Mochtar Lubis

1. Sinopsis “Cerita Mengapa Sebenarnya Haji Jala Menggantung Diri” (CSMHJMD)

Cerpen ini menceritakan tentang seorang laki-laki bernama Haji Jala. Haji Jala adalah orang yang patuh kepada pemerintah, juga sebagai sosok yang berpengaruh di desanya. Ketika zaman Jepang, rakyat diperintahkan untuk menempati kembali tanah-tanah perkebunan (onderneming) bekas pendudukan Belanda, Haji Jala pun patuh, dan segera menduduki tanah onderneming itu. Kemudian ketika revolusi pecah, rakyat diperintahkan untuk menguasai tanah musuh, Haji Jala kembali mematuhi perintah, dan menyeru kepada rakyat untuk berjuang merebut tanah-tanah itu. Bahkan Haji Jala memperbesar tanahnya, menanam pohon buah-buahan, membuka tempat untuk ikan, dan menambah ladangnya.

Namun setelah undang-undang baru berlaku, di mana tanah-tanah perkebunan tersebut harus dikembalikan ke Belanda, Haji Jala tetap teguh untuk merebut dan mempertahankan tanah-tanah tersebut. Lama kelamaan Haji Jala dituduh membuat repot pemerintah, ia pun disuruh mengembalikan tanah-tanah itu. Sebenarnya Haji Jala gelisah, di satu sisi ia tetap ingin mendukung hak rakyat, tapi di sisi lain ia takut kalau dianggap melawan pemerintah. Rakyat pun merasa dipermainkan oleh pemerintah, mereka mulai bertanya kepada Haji Jala mengapa dulu ia menyuruh menduduki, sekarang ketika diambil lagi ia tidak membela dan berdiam diri tak berkutik. Ia pun menyesal dan menjadi sangat malu, memilih untuk tidak keluar rumah, mengurung diri di kamar, hingga akhirnya bunuh diri.

2. Sinopsis “Cerita dari Singapura”

“Cerita dari Singapura” ini mengisahkan tentang seorang dokter asal Singapura bernama Bannerjee. Ia dipertemukan oleh seorang laki-laki dari Indonesia dalam Konferensi Inter-Asia di New Delhi pada tahun 1947. Suatu ketika laki-laki itu dimintai tolong oleh seseorang bernama Ramli. Ramli

memberikan sepucuk surat yang berisi tentang kabar terbunuhnya pemuda dari Indonesia dalam perjuangan perang membantu Malaya melawan tentara Inggris, dan meminta agar laki-laki tersebut menyampaikannya kepada keluarga si pemuda di Sumatera. Hal itu mengingatkan dr. Banerjee pada kejadian di tahun 1946 ketika revolusi di Indonesia sedang memuncaknya. Pada masa revolusi itu hubungan Indonesia dengan Singapura sangat dekat, banyak pemuda-pemuda Indonesia yang datang untuk memperoleh senjata atau alat kemiliteran lainnya.

Ketika itu, dr. Bannerjee dimintai tolong oleh seorang Melayu untuk mengobati pemuda dari Indonesia yang tengah menyelundupkan senjata ke Sumatera. Pemuda yang tengah menunggu kapal dari Sumatera itu terluka di bagian dada saat sedang memainkan senjata. Darah terus saja mengucur dari dada si pemuda, membuat dr. Bannerjee menyerah dan menyarankan agar pemuda tersebut segera di bawa ke rumah sakit. Namun, setelah dipikir-pikir kalau pemuda itu dibawa ke rumah sakit, maka aparat kepolisian akan menyelidiki penyebabnya, dan sudah pasti polisi akan menyita senjata-senjata tersebut, terlebih lagi pada waktu itu Singapura dibawah kemiliteran yang ketat, tidak boleh sembarang orang memegang senjata. Hal itu membuat dr. Bannerjee gelisah, ia dipermainkan oleh hatinya sendiri, karena dr. Banerjee dihadapkan pada dua pilihan. Memilih untuk membiarkan pemuda itu mati dan menyelamatkan organisasi pembelian senjata Indonesia di Singapura atau menolong pemuda itu namun harus kehilangan ikatan kerjasama tersebut. Dr. Bannerjee terus berusaha menolong pemuda itu dengan membalut lukanya, namun seperempat jam kemudian pemuda itu mati. Sejak saat itu dr. Bannerjee menyesal dan selalu merasa bersalah.

3. Sinopsis “Si Djamal Anak Merdeka”

Cerpen ini menceritakan tentang sekelompok pemuda yang tengah berbincang santai di sore hari, namun topik pembicaraan mereka adalah mengenai hasil perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang menyatakan bahwa Belanda telah berdaulat atas kemerdekaan Indonesia, akan tetapi Belanda tetap ingin menguasai daerah Irian Barat dan membentuk Uni

44

Indonesia-Belanda. Hal itu membuat rakyat tidak nyaman apalagi kondisi ekonomi semakin memburuk. Soekarno dianggap pembual dan tidak kapabel karena hanya mengumbar janji-janji palsu. Dulu sebelum merdeka rakyat dijanjikan akan memperoleh pekerjaan setelah merdeka, namun ketika merdeka, rakyat kembali dijanjikan akan memperoleh pekerjaan kalau Irian sudah kembali. Sekelompok pemuda itu merasa dipermainkan oleh pemerintah.

Salah satu di antara mereka mencoba menahan, takut jika dibiarkan, kawan-kawannya akan membuat organisasi gelap untuk menumbangkan pemerintah. Karena ia pikir, sebagai rakyat sudah seharusnya patuh kepada pemimpin dan pemerintah, sebab kemerdekaan bukan berarti orang akan merdeka semaunya. Ditengah perbincangan yang semakin memanas, muncullah sosok pemuda bernama Djamal. Ia berencana di tahun 1951 nanti, ia harus memiliki kemewahan yang dimiliki pemerintah. Caranya dengan menerima sejumlah tawaran seperti bekerja di perusahaan ekspor impor orang Tionghoa, membuat badan penerbit, dan membuat film. Namun, itu baru ucapan si Djamal yang belum jelas kebenarannya, karena tidak lama kemudian si Djamal meminjam uang kepada kawannya dan segera pergi. Kawannya pun baru menyadari jika si Djamal sulit sekali ditemui, maka sudah pasti uangnya tidak akan pernah kembali. Hal itu membuat kawan si Djamal menyesal karena telah membiarkannya datang dan bicara omong kosong, bahkan sampai meminjam uang.

45

PEREMPUAN KARYA MOCHTAR LUBIS

A. Unsur Intrinsik Cerpen

1. Tema

Tema merupakan gagasan atau makna dasar yang menopang sebuah karya sebagai struktur semantis dan bersifat abstrak yang secara berulang dimunculkan lewat motif-motif dan biasanya implisit.1 Mochtar Lubis seringkali menghadirkan tema-tema tentang kepedulian, pengorbanan, masalah keadilan, pergolakan jiwa, serta gambaran seorang pemimpin pada masa-masa revolusi yang dapat kita temukan dalam tiap-tiap karyanya khususnya cerpen. Oleh karena itu, di bawah ini akan diuraikan analisis tema pada ketiga cerpen yang terdapat dalam kumpulan cerpen Perempuan karya Mochtar Lubis.

a. “Cerita Sebenarnya Mengapa Haji Jala Menggantung Diri”

(CSMHJMD)

Tema dalam cerpen ini adalah kritik terhadap pemimpin yang memperalat rakyat kecil demi keuntungannya sendiri. Dalam hal ini rakyat kecil direpresentasikan oleh buruh tani. Mereka ingin memperbaiki nasib dengan meminta hak tanah ondernemingyang sejak zaman Jepang telah mereka duduki, atas perintah Jepang buruh tani itu kemudian bercocok tanam di sana, karena saat itu Jepang membutuhkan bahan makanan. Saat revolusi pecah pemerintah meminta mereka merebut tanah-tanah onderneming itu dari pihak asing. Tetapi zaman kembali berubah dan tanah-tanah yang sudah menjadi milik mereka harus dikembalikan. Para petani bingung dan merasa dipermainkan oleh pemerintah.

1

Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University, 2013), Edisi Revisi, h. 115.

46

“Mula-mulanya orang agak heran, mengapa tanah-tanah itu harus dikembalikan, sedang dahulu dianjurkan-anjurkan supaya diduduki, ditanam dan disuruh rebut oleh rakyat.”2

Kondisi ini dimanfaatkan oleh oknum tertentu demi memperoleh dukungan suara sebagaimana kutipan berikut:

“Dalam mesjid pernah timbul perdebatan hangat, ketika orang-orang dari luar kampung datang dan mengadakan rapat-rapat dengan kaum tani. Mula-mula sekali datang seorang bernama Jusuf Bandar yang mengaku dia orang Perserikatan Nasionalis Indonesia.”3

saudara,” katanya dalam sebuah rapat, “Saudara-saudara jangan mau pindah, partai kami akan mempertahankan nasib hak dan saudara-saudara. Gubernur yang memberi perintah itu telah menjadi kaki tangan kaum onderneming dan modal asing.”4

Kedatangan Jusuf Bandar yang mengaku sebagai orang PNI dalam rapat kaum petani membawa maksud tertentu. Ia mempropagandai para petani agar tetap mempertahankan tanah tersebut, asalkan mereka mendukung PNI. Namun sayangnya maksud Jusuf Bandar tidak dipahami oleh mereka. Keluguan para petani membuat pemimpin-pemimpin begitu mudah mempermainkan mereka. Sampai suatu ketika keadaan menjadi semakin memanas, pemerintah mengancam akan mentraktor rumah mereka jika tidak mau pindah juga, dalam situasi ini datang lagi seorang bernama Ahmad Jimbul.

“Keadaan jadi bertambah hangat, dan ketika tiba perintah orang-orang harus pindah, kalau tidak rumah-rumah mereka akan ditraktor, maka datang pula orang-orang yang mengaku diri mereka kaum komunis, pembela rakyat jelata dan kaum proletar. Seorang Ahmad Jimbul amat baiknya berpidato.”5

“Gubernur telah menerima sogok dari kaum kapitalis asing, polisi dan pamong pradja telah menjadi kaki tangan kaum onderneming asing. Dan sekarang kawan-kawan, mereka mengancam akan mentraktor rumah kawan-kawan. Traktor maut

2

Mochtar Lubis, PerempuanKumpulan Cerpen, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2010), h. 92.

3Ibid.

4Ibid.

mereka siapkan untuk menghancurkan gerakan kaum tani yang menuntut perbaikan nasib.”6

“Turutlah sekarang kami. Kita akan pimpin perjuangan saudara memertahankan hak-hak saudara melawan kaum imperialis dan kapitalis asing, Bukankah jerih payah dan cucuran keringat saudara yang membuka tanah itu? Mengapa sekarang mesti dikembalikan kepada kaum kapitalis asing? Adalah jadi kewajiban semua orang yang cinta kepada rakyat untuk membela tanah-tanah itu.”7

Kedatangan Ahmad Jimbul pun sama seperti Jusuf Bandar, hanya saja Ahmad Jimbul lebih memprovokasi para petani dengan mengatakan bahwa tanah-tanah itu adalah hasil jerih payah mereka, jadi tidak perlu dikembalikan, bahkan pemerintah saja dengan teganya akan mentraktor rumah para petani yang ingin memperbaiki nasib di zaman yang sudah merdeka. Kata-kata Ahmad Jimbul begitu meyakinkan, hingga pada akhirnya seorang haji bernama Jala dimanfaatkan oleh Ahmad Jimbul dan juga Jusuf Bandar untuk membujuk para petani bersama-sama memberontak dan meminta gubernur yang baru. Upaya ini dilakukan karena para petani dan rakyat lainya begitu menghormati sosok haji. Sehingga Haji Jala adalah sasaran yang tepat.

Kritik dalam cerpen ini disampaikan secara implisit dengan menampilkan sosok propagandis dari dua kubu partai yaitu PNI dan PKI, keduanya digambarkan sebagai sosok yang licik, memperalat para petani yang notabene tidak paham politik.

“Ah, kita sampai sekarang pada soal politik Tuan Haji,” kata jusuf bandar. “Saya khawatir Tuan Haji tidak akan mengerti. Baiklah Tuan Haji turut saja apa yang saya katakan.”8

Kutipan di atas menggambarkan kelicikan Jusuf Bandar yang sedang membujuk Haji Jala untuk mengikuti segala macam perintahnya. Sementara Ahmad Jimbul pun melakukan hal yang sama sebagaimana kutipan berikut:

6Ibid.

7Ibid., h. 96.

48

“orang kampung tahu apa. Bodoh-bodoh semuanya. Buta politik. Kalau saudara haji jala menyuruh mereka, tentu mereka turut.”9 Ahmad Jimbul menganggap orang-orang kampung itu bodoh semua, tidak mengerti politik, sekali diperintah oleh orang yang terpandang seperti Haji Jala maka semuanya akan menurut.

Kedua kutipan tersebut memberikan gambaran bahwa politik itu kotor, penuh kecurangan, dan ketidakadilan, terutama bagi rakyat-rakyat kecil yang tidak begitu mengerti permainan politik. Dengan cerita ini Lubis seolah membongkar cara-cara pemimpin dalam meraih jabatan. Apa pun yang Jusuf Bandar dan Ahmad Jimbul lakukan adalah salah satu pembunuhan karakter terhadap gubernur atau pemerintah pusat, karena demi menaikkan gubenur baru, mereka menghasut rakyat dengan menjelek-jelekkan kebijakan pemerintah pusat.

b. “Ceritera dari Singapura”

Tema yang diangkat dalam cerpen “Ceritera dari Singapura” ini adalah perjuangan para pemuda Indonesia dalam memperoleh senjata dan bantuan lain di Singapura yaitu saat revolusi Indonesia sedang memuncak di tahun 1946-1947. Peristiwa tersebut terdapat dalam kutipan berikut:

“...sebuah panitia di Singapura yang banyak memberikan sokongan kepada revolusi Indonesia, menampung pemuda-pemuda dengan segala macam tugas yang syah dan tidak syah yang datang ke Singapura, mengirimkan obat-obatan ke Indonesia dan sebagainya.”10

Kutipan di atas menjelaskan bentuk kerjasama Indonesia dan Singapura di tahun 1947. Singapura pada saat itu mendukung revolusi Indonesia dengan memberikan bantuan berupa obat-obatan atau menampung para pemuda yang datang. Dijelaskan bahwa para pemuda yang datang ke Singapura membawa berbagai tugas, baik yang sah atau tidak syah. Dalam hal ini tugas tidak sah adalah penyelundupan senjata yang dilakukan secara diam-diam oleh orang-orang tertentu baik dari pihak Singapura maupun Indonesia. Dikisahkan bahwa seorang tokoh

9Ibid. h. 98.

bernama Dr. Bannerjee pernah mengobati pemuda dari Indonesia yang terluka akibat memainkan peluru senapan mesin berat, peluru itu meledak dan melukai dada si pemuda. Saat luka tersebut semakin parah, Dr. Bannerjee mengusulkan agar pemuda itu segera dibawa ke rumah sakit, tetapi kawan si pemuda itu melarangnya karena takut polisi akan memeriksa dan menyita senjata-senjata tersebut, seperti pada kutipan brikut:

“Orang Melayu itu terkejut bukan kepalang, dan mukanya penuh ketakutan. ‘Tetapi jika dibawa ke rumah sakit’, katanya ‘maka lukanya yang kena peluru itu harus dilaporkan oleh rumah sakit kepada polisi. Polisi akan melakukan pemeriksaan. Rumah ini akan digeledah. Kami semua akan ditangkap. Senjata ini akan dirampas. Tuan dokter obati dia di sini. Jangan dibawa ke rumah sakit.”11

Kutipan di atas menjelaskan bahwa perjuangan pemuda Indonesia dalam memperoleh senjata tidaklah mudah, banyak resiko yang mungkin terjadi misalnya kecelakaan akibat senjata yang bisa meledak kapan saja, atau penggeledahan oleh polisi sehingga terjadi penangkapan atau pemutusan kerjasama tersebut, sehingga perlu kekompakan dan kehati-hatian yang tinggi demi kelancaran revolusi atau disebut juga dengan perang kemerdekaan. Dalam cerpen ini, Dr. Bannerjee adalah jembatan untuk melihat peristiwa revolusi Indonesia di tahun 1946.

c. “Si Djamal Anak Merdeka”

Tema pada cerpen “Si Djamal Anak Merdeka” adalah kritik terhadap kebijakan pemerintah (pemimpin) di akhir masa revolusi fisik hingga awal masa percobaan demokrasi, yaitu sekitar tahun 1950. Kritikan tersebut digambarkan melalui beberapa pemuda yang sedang bercakap-cakap di sore hari (petang) dalam keadaan hujan gerimis. Mereka kecewa atas sikap pemerintah yang terkesan tidak konsisten dan hanya mengumbar janji palsu perihal kesejahteraan rakyat.

“Satu tahun merdeka,” kata Idris amat marahnya, matanya melotot, “apa yang ada perubahan untuk rakyat? Mula-mula dijanjikan

50

kalau kita sudah merdeka, maka orang akan bekerja memperbaiki nasib rakyat. Kemudian ketika sudah merdeka, maka dijanjikan lagi, baru kalau Irian sudah kembali, orang dapat bekerja untuk kemakmuran rakyat. Dan sekarang setelah Irian tidak kembali, maka berteriak lagi—Hapuskan KMB dan Unie dahulu! Apa kita memangnya sapi-sapi tolol yang ditarik kian kemari?”12

Dari kutipan tersebut terlihat bahwa sebelumnya pemerintah berjanji akan memberi pekerjaan guna meningkatkan kemakmuran rakyat, namun setelah merdeka—setidaknya di mata hukum internasional, pemerintah belum juga memenuhi janji tersebut, malah pemerintah kembali menjanjikan kalau Irian Barat telah kembali baru orang-orang bekerja untuk kesejahteraan rakyat. Hal tersebut menunjukkan bahwa hasil dari perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) yang semula dilaksanakan untuk menyelesaikan konflik Indonesia-Belanda juga memberikan dampak negatif kepada rakyat, karena bukannya kesejahteraan yang dicapai, melainkan muncul permasalahan baru yang tidak kunjung selesai, yaitu masalah hak atas Irian Barat di mana Belanda begitu keras kepala untuk mempertahankannya. Sekumpulan pemuda itu sepenuhnya menyalahkan pemimpin khususnya kepada Sukarno dan tidak ada satu pun di antara pemuda-pemuda itu yang suka dengan Sukarno.

“Ini semua salah tracee-baru Sukarno,” tambah Idris.”13

“Memang dalam kumpulan petang gerimis itu, tidak ada seorang juga yang cinta dan memuja Sukarno.”14

Kutipan di atas merupakan tuturan dari tokoh Idris dan tokoh “Aku” yang menunjukkan rasa tidak sukanya kepada Sukarno, secara tidak langsung tuturan tersebut juga memberikan gambaran bahwa karisma Sukarno mulai menurun dan banyak rakyat yang mulai berani menentang Sukarno. Tidak seperti di awal-awal revolusi, di mana sosok Sukarno sangat berpengaruh dalam meredakan emosi rakyat yang meledak-ledak.

“Kalau aku ceriterakan semua kritikan dan makian yang dilemparkan kepada Bung Karno dan pemimpin-pemimpin lain, maka aku akan ditangkap esok-lusa oleh PM, dituduh merusakkan

12Ibid., h. 157.

13Ibid., h. 156.

ketentraman umum, mencoba menghilangkan kepercayaan rakyat kepada pemerintah, melanggar kesaktian pemimpin atau presiden, dan entah apa lagi.”15

Kutipan di atas menjelaskan bahwa kritikan-kritikan untuk Sukarno dan pemimpin-pemimpin lain di Indonesia sudah begitu banyak. “Aku” tidak akan menceritakan semua kritikannya karena takut dituduh merusak ketentraman dan kepercayaan rakyat oleh Perdana Menteri. Sebab jika semakin banyak rakyat mengkritisi, maka tidak ada satu pemimpin yang mampu mempertahankan kedudukannya. Hal ini tentu berkaitan dengan Mochtar Lubis selaku pengarang dari cerpen tersebut. Sebagaimana kita ketahui bahwa Moctar Lubis adalah pengkritik tajam, keberaniannya mengkritik tidak mengenal tempat dan tidak perduli dengan siapa ia berhadapan. Sebagai contoh sekitar tahun 1987, ia pernah mengkritik Sukarno melalui tulisan dalam surat kabarnya, yaitu:

“Sukarno mengabaikan perekonomian, dia bukan seorang administrator, dan malahan melakukan politik menyebarkan perpecahan dan pertentangan (devide et impera) di antara partai-partai politik....”16

“Sukarno telah menindas kebebasan pers, memenjarakan pengkritik dan tokoh-tokoh oposisi terhadap rezimnya, menghapuskan demokrasi di Indonesia, membikin dirinya jadi presiden seumur hidup, dan menghidupkan kultus pribadi yang serba besar dan unggul.”17

Baik melalui surat kabar atau fiksi Mochtar Lubis tetap konsisten pada apa yang dinilainya kurang baik, ia tidak segan-segan mengkritik siapapun meski risikonya harus ditahan dalam penjara. Pada kutipan sebelumnya yang menjelaskan tentang tokoh “Aku” bisa saja ditangkap jika menceritakan semua kritikan kepada pemimpin-pemimpin sepertinya

Dokumen terkait