• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen TULUS YUNUS ABDI / HK (Halaman 29-0)

BAB I : PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

Manfaat suatu penelitian yang penting adalah memberikan kontribusi terhadap pihak-pihak terkait, baik secara teoritis maupun praktis, manfaat tersebut adalah:

1. Secara teoritis, penelitian ini dapat membuka wawasan dan paradigma berfikir dalam memahami serta mendalami permasalahan hukum khususnya pemahaman tentang eksekusi putusan Mahmakah Agung atas tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh terpidana DL. Sitorus; dan

2. Secara praktis, bermanfaat bagi kalangan aparat penegak hukum yakni:

Kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan, Kementerian Kehutanan RI, lembaga atau instansi terkait misalnya DPR, DPRD, Gubernur, Bupati, agar dapat lebih mengetahui dan memahami tentang peranannya sebagai institusi yang diharapkan dalam pelaksanaan putusan Mahkamah Agung RI atas tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh terpidana DL. Sitorus serta melakukan koordinasi lebih lanjut secara terpadu.

E. Keaslian Penulisan

Keaslian penelitian ini dibuat bertujuan untuk menghindari terjadinya duplikasi penelitian terhadap judul dan permasalahan yang sama. Oleh sebabnya, terlebih dahulu telah dilakukan penelusuran di perpustakaan Universitas Sumatera Utara dan di perpustakaan Program Studi Magister Ilmu Hukum USU. Hasil dari penelusuran tidak ditemukan satupun judul dan masalah yang sama dengan penelitian ini. Sebab, pelaksanaan eksekusi barang sitaan berupa aset tidak bergerak hasil tindak

pidana korupsi (studi kasus: putusan Mahkamah Agung RI nomor: 2642 K/Pid/2006 tanggal 12 Februari 2007 an. terpidana Darianus Lungguk Sitorus) baru pertama kali dilakukan penelitian tentang judul dan permasalahan dimaksud. Sehingga dengan demikian, judul dan permasalahan di dalam penelitian ini adalah asli dan tidak mengandung unsur plagiat terhadap karya tulis milik orang lain.

F. Kerangka Teori dan Landasan Konsepsional 1. Kerangka Teori

Tindak pidana korupsi merupakan suatu tindakan yang melanggar norma-norma hukum yang berlaku seperti mengabaikan rasa kasih sayang dan tolong-menolong dalam kehidupan bernegara atau bermasyarakat dengan mementingkan diri pribadi atau keluarga atau kelompok atau golongannya dan yang tidak mengikuti atau mengabaikan pengendalian diri sehingga kepentingan lahir dan batin, jasmani dan rohaninya tidak seimbang, tidak serasi, dan tidak selaras. Mengutamakan kepentingan lahir berupa meletakkan nafsu duniawi yang berlebihan sehingga merugikan keuangan atau kekayaan negara dan/atau kepentingan masyarakat atau negara, baik secara langsung maupun tidak langsung.29

Tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh DL. Sitorus, PT. Torus Ganda (PT. Torganda), Pengurus Koperasi Persadaan Masyarakat Ujung Batu (Parsub), dan pengurus Koperasi Perkebunan Kelapa Sawit (KPKS) Bukit Harapan yang menanami sawit tanpa ijin dari instansi terkait atas kawasan hutan Negara hingga sampai ±

29 Juniadi Soewartojo, Op. cit., hal. 11.

47.000 Ha menyebabkan berkurangnya luas areal hutan Negara Kawasan Hutan Produksi Padang Lawas, hilangnya perolehan Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH), Dana Reboisasi (DR), menimbulkan kerugian rehabilitasi yang harus ditanggung oleh Pemerintah Cq. Departemen Kehutanan RI.30

Dalam Pasal 23 Bab VIII UUD 1945 tentang “Hal Keuangan”, pengaturan keuangan negara dalam UUD 1945 yang sangat singkat tersebut menjadi titik awal pengaturan keuangan negara di Indonesia. Meskipun rumusannya sangat singkat, tidak berarti pasal tersebut tidak mengandung makna secara filosofis, yuridis, maupun historis.

Dengan demikian perbuatan tersebut menyebabkan kerugian keuangan negara.

31

30 Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor: 2642 K/Pid/2006, Op. Cit, hal. 44 dari 107 halaman.

Definisi keuangan negara bersifat plastis, tergantung kepada sudut pandang, apabila berbicara keuangan negara dari sudut pemerintah, maka yang dimaksud keuangan negara adalah APBN, apabila berbicara keuangan negara dari sudut pemerintah daerah, yang dimaksud keuangan negara adalah APBD, demikian seterusnya dengan Perusahaan Jawatan, Perusahaan Negara maupun Perum. Dengan kata lain definisi keuangan negara dalam arti luas meliputi APBN, APBD, Perusahaan Jawatan, Perusahaan Negara maupun Perum dan sebagainya. Keuangan

31 Arifin P. Soeria Atmadja, “Hukum Keuangan Negara Pasca 60 Tahun Indonesia Merdeka:

Masalah dan Prospeknya Bagi Indonesia Inc.”, Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia, Fakultas Hukum Universitas Indonesia (MaPPI-FHUI), hal. 2. Lihat juga: A.K. Pringgodigdo, Tiga Undang-Undang Dasar, Cet., 4, (Jakarta: PT. Pembangunan, 1974), hal. 79.

negara dalam arti sempit, hanya meliputi setiap badan hukum yang berwenang mengelola dan mempertanggungjawabkannya.32

Memperhatikan bahwa kerugian yang ditimbulkan dari kawasan hutan Negara yang dikelola DL. Sitorus hingga sampai ± 47.000 Ha tersebut dapat dikatakan bahwa tindakan tersebut merugikan keuangan negara. Pendekatan yang digunakan diambil dari teori keuangan negara yang dikemukakan Erman Rajagukguk dalam merumuskan keuangan negara meliputi sisi obyek, subyek, proses, dan tujuan. Sisi obyek yang dimaksud dengan keuangan negara meliputi semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal, moneter dan pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan, serta segala sesuatu baik berupa uang, maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Sisi subyek yang dimaksud dengan keuangan negara meliputi seluruh obyek adalah dimiliki oleh negara dan/atau dikuasai oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan negara/daerah, dan badan lain yang ada kaitannya dengan keuangan negara.

Keuangan negara jika dipandang dari sisi prosesnya mencakup seluruh rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan obyek sebagaimana tersebut di atas mulai dari perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan sampai dengan pertanggungjawaban. Keuangan negara dari sisi tujuannya meliputi seluruh kebijakan, kegiatan dan hubungan hukum yang berkaitan dengan pemilikan dan/atau

32 Hilman Tisnawan, “Analis Hukum Tim Perundang-undangan dan Pengkajian Hukum Direktorat Hukum Bank Indonesia”, Buletin Hukum Perbankan dan Kebansentralan 42 Volume 3 Nomor 3, Desember 2005, hal. 2.

penguasaan obyek. Erman Rajagukguk mendefinisikan keuangan negara demikian luas.33

Keuangan negara yang dimaksud adalah seluruh kekayaan negara dalam bentuk apapun, yang dipisahkan atau yang tidak dipisahkan, termasuk didalamnya segala bagian kekayaan negara dan segala hak dan kewajiban yang timbul karena:34

a. Berada dalam penguasaan, pengurusan, dan pertanggungjawaban pejabat lembaga Negara, baik ditingkat pusat maupun di daerah;

b. Berada dalam penguasaan, pengurusan, dan pertanggung jawaban Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, yayasan, badan hukum dan perusahaan yang menyertakan modal negara, atau perusahaan yang menyertakan modal pihak ketiga berdasarkan perjanjian dengan Negara.

M. Solly Lubis, berpendapat sama bahwa yang termasuk keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.35

33 Erman Rajagukguk, “Pengerian Keuangan Negara dan Kerugian Keuangan Negara”, Makalah yang Disampaikan pada Diskusi Publik “Pengertian Keuangan Negara Dalam Tindak Pidana Korupsi”, Makalah pada Komisi Hukum Nasional (KHN) RI, Jakarta 26 Juli 2006, hal. 4.

Pendapat M. Solly Lubis tersebut mirip dengan pengertian keuangan negara secara yuridis dalam Pasal 1 Ayat (1) UU No.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (selanjutnya disebut dengan UU Keuangan Negara), secara tegas dinyatakan, ”keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut”.

34 Ibid., hal. 3. Lihat juga: Efi Laila Kholis, Op. cit., hal. 65-66.

35 M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung: CV. Mandar Maju, 1994), hal. 27.

Lebih jelasnya keuangan negara diperluas dalam Pasal 2 UU Keuangan Negara, meliputi:

a. Hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan mengedarkan uang, dan melakukan pinjaman;

b. Kewajiban negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum pemerintahan negara dan membayar tagihan pihak ketiga;

c. Penerimaan Negara;

d. Pengeluaran Negara;

e. Penerimaan Daerah;

f. Pengeluaran Daerah;

g. Kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negara/perusahaan daerah;

h. Kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan dan/atau kepentingan umum;

i. Kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan fasilitas yang diberikan pemerintah.

Menurut Arifin P. Soeria Atmadja, defenisi keuangan negara dapat dipahami dan ditafsirkan sebagai berikut:36

a. Pengertian keuangan negara diartikan secara sempit, yang hanya meliputi keuangan yang bersumber dari APBN; dan

b. Keuangan negara dalam arti luas, yang meliputi keuangan negara berasal dari APBN, APBD, BUMN, BUMD, dan pada hakikatnya seluruh harta kekayaan negara merupakan sebagai suatu sistem keuangan negara.

Apabila tujuan dalam menafsirkan keuangan negara tersebut dimaksudkan untuk mengetahui sistem pengurusan dan pertanggungjawabannya, maka pengertian keuangan negara itu adalah sempit, selanjutnya untuk mengetahui sistem pengawasan dan pemeriksaan pertanggungjawaban, maka pengertian keuangan negara adalah dalam arti luas, yakni termasuk di dalamnya keuangan yang berada dalam APBN,

36 Arifin P. Soeria Atmadja, Keuangan Publik Dalam Perspektif Hukum: Teori, Praktik dan Kritik, (Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum universitas Indonesia, 2005), hal. 86.

APBD, BUMN, BUMD, dan pada hakikatnya seluruh kekayaan negara merupakan objek pemeriksaan dan pengawasan.37

Oleh karena keuangan negara termasuk semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatunya baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (1) dan Pasal 2 UU Keuangan Negara, maka terhadap perbuatan yang menanami sawit tanpa ijin dari instansi terkait di kawasan hutan Negara hingga sampai ± 47.000 Ha Padang Lawas menyebabkan kerugian keuangan negara yang dapat dinilai dengan uang berupa potensi lahan seluas

± 47.000 sebagai milik negara.

Kerugian keuangan negara tersebut berupa berkurangnya luas areal hutan Negara Kawasan Hutan Produksi Padang Lawas, hilangnya perolehan Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH), Dana Reboisasi (DR), menimbulkan kerugian rehabilitasi yang harus ditanggung oleh Pemerintah Cq. Departemen Kehutanan RI.38

Sebagai pihak eksekutor terhadap putusan Mahkamah Agung Nomor: 2642 K/Pid/2006 yang telah berkekuatan hukum tetap ini adalah pihak Kejaksaan. UU No.6 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia (UU Kejaksaan)

Terhadap aset negara berupa barang yang tidak bergerak yang provisinya hilang akibat tindak pidana korupsi, maka melalui putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap harus dilakukan eksekusinya.

37 Ibid.

38 Putusan Mahkamah Agung Nomor: 2642 K/Pid/2006, hal. 44 dari 107 halaman.

mengamanahkan kepada Jaksa untuk melaksanakan putusan tersebut. Pasal 1 angka 1 UU Kejaksaan menegaskan “Jaksa adalah pejabat fungsional yang diberi wewenag oleh undang-undang untuk bertindak sebagai penuntut umum dan pelaksanaan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap serta wewenang lain berdasarkan undang-undang”. Dalam pelaksanaan tugas dan wewenang tersebut, Pasal 33 UU Kejaksaan menegaskan pula bahwa Kejaksaan harus membina hubungan kerja sama dengan badan penegak hukum dan keadilan serta badan negara atau instansi lainya.

Tim yang dibentuk untuk pelaksanaan sosialisasi putusan Mahkamah Agung Nomor: 2642 K/Pid/2006 yang akan mendampingi Jaksa pelaksana eksekusi ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kehutanan RI No. SK.599/Menhut-II/2010 tertanggal 21 Oktober 2010 tentang Pembentukan Tim Pendamping Pelaksanaan Eksekusi Fisik Putusan Mahkamah Agung Nomor: 2642 K/Pid/2006 yang terdiri dari:

a. Penanggung Jawab: Menteri Kehutanan RI, Gubernur Sumatera Utara, dan Bupati Padang Lawas Utara;

b. Tim Pusat:

1) Staf Ahli Bidang Antar Lembaga, Kementerian Kehutanan selaku koordinator;

2) Staf Ahli Bidang Keamanan Hutan, Kementerian Kehutanan;

3) Direktur Upaya Hukum, Eksekusi dan Eksaminasi Jampidsus Kejagung RI;

4) Kepala Pusat Pembinaan Operasi Mabes Polri;

5) Direktur Penyidikan dan Perlindungan Hutan, Direktorat Jenderal PHKA, Kementerian Kehutanan.

c. Tim Daerah:

1) Kepala Kejaksaan tinggi Sumatera Utara, selaku koordinator;

2) Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara;

3) Panglima Komando Daerah Militer I Bukit Barisan;

4) Kepala Biro Hukum Sekretariat Daerah Sumatera Utara;

5) Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara;

6) Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara;

7) Kepala Kejaksaan Negeri Padangsidimpuan;

8) Kepala Kepolisian Resor Tapanuli Selatan;

9) Komandan Kodim 121 Tapanuli Selatan;

10) Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Padang Lawas Utara; dan 11) Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Padang Lawas Utara.

Hukum harus mampu dipakai di tengah masyarakat, jika instrumen pelaksanaannya dilengkapi dengan kewenangan-kewenangan dalam bidang penegakan hukum. Hukum tersusun dari sub sistem hukum yakni, struktur hukum, substansi hukum, dan budaya hukum. Struktur hukum menekankan kepada kinerja aparatur hukum serta sarana dan prasarana hukum itu sendiri, substansi hukum menyangkut segala aspek pengaturan hukum atau peraturan perundang-undangan, dan budaya hukum menyangkut perilaku penegak hukum dan masyarakatnya.

Sub-sub sistim sebagai faktor penentu apakah suatu sistem hukum dapat berjalan dengan baik atau tidak.39

Indonesia seolah-olah terpaksa menggunakan konsep tujuan hukum barat, walaupun saat ini hukum di Indonesia sudah mulai berkembang ke arah konsep menciptakan hukum yang harmonis dalam masyarakat, namun dengan adanya perundang-undangan yang masih tetap berlaku, menunjukkan fakta bahwa Indonesia tetap mengadopsi tujuan hukum barat yakni ”kepastian”.

40

Achmad Ali, mangatakan, harus ada dua unsur yang harus dimiliki aparatur dalam sistim hukum untuk menciptakan hukum yang pasti itu.

41 Tujuan hukum di negara Indonesia memiliki kesamaan dengan konsep tujuan hukum barat, sebab sistim hukum yang berlaku adalah civil law hal ini dikenal dengan adanya asas konkordansi dalam penciptaan hukum yang ”pasti”.42

Koordinasi dan keterikatan masing-masing instansi dalam proses penegakan hukum membutuhkan profesionalisme. Kelambatan, kekeliruan, tidak profesional, dan tidak memiliki kepemimpinan, pada satu instansi mengakibatkan rusaknya jalinan pelaksanaan koordinasi dan sinkronisasi penegakan hukum. Konsekuensinya

39 Lawrence M. Friedman, dalam Wishnu Basuki, Hukum Amerika Sebuah Pengantar, (Jakarta: Tatanusa, 2001), hal. 9. Lihat juga: Achmad Ali, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicialprudence) Termasuk Interpretasi Undang-Undang (Legisprudence), (Jakarta:

Kencana, 2009), hal. 204.

40 Wishnu Basuki, Ibid., hal. 213.

41 Achmad Ali, Ibid, hal. 204. Yakni: pertama, profesionalisme, mencakup kemampuan dan keterampilan secara person dari sosok-sosok aparat penegak hukum; dan kedua, kepemimpinan, mencakup kemampuan dan keterampilan secara person dari sosok-sosok penegak hukum, utamanya kalangan petinggi hukum.

42 Ibid., hal. 212-213.

adalah instansi yang bersangkutan dalam menangani perkara atau melaksanakan putusan pengadilan yang tidak berjalan, akan memikul tanggung jawab.

Penegakan hukum pada dasarnya melibatkan seluruh warga negara Indonesia.

Hukum dan penegakan hukum merupakan sebagian faktor yang tidak bisa diabaikan karena jika diabaikan akan menyebabkan tidak tercapainya penegakan hukum yang diharapkan.43

Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam mendukung program Pemerintah untuk mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi ini. Pasal 41 ayat (1) UUPTPK menegaskan kepada pihak masyarakat dapat berperan serta membantu upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi. Berdasakan ketentuan Pasal 41 ayat (1) UUPTPK ini dalam hal pemberantasan, masyarakat harus Warga masyarakat Padang Lawas Utara sebagai pihak ketiga terikat dalam perkara tindak pidana korupsi yang dilakukan DL. Sitorus dkk menolak dan tidak setuju dilakukan eksekusi terhadap lahan ± 47.000 Ha beserta bangunan yang ada di atasnya. Namun, demikian tidak berarti putusan Mahkamah Agung RI Nomor:

2642 K/Pid/2006 tertanggal 12 Februari 2007 dihentikan eksekusinya. Keberatan apapun yang muncul dari pihak ketiga tidak berarti bahwa putusan tersebut tidak dieksekusi. UU No.31 Tahun 1999 jo UU No.20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UUPTPK) menegaskan pula dalam Pasal 19 ayat (3) bahwa keberatan dari pihak ketiga tidak menangguhkan atau menghentikan pelaksanaan putusan pengadilan.

43 Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta, Rajawali, 1983), hal. 2.

turut serta membantu kelancaran program Pemerintah yang baik dan bersih (Good Goverment) melalui eksekusi putusan Mahkamah Agung Nomor: 2642 K/Pid/2006 tersebut seharusnya warga yang bertempat tinggal dan sebagai karyawan PT.

Torganda milik DL. Sitorus harus menyadari bahwa lahan ± 47.000 Ha tersebut bukan milik DL. Sitorus karena telah diputuskan oleh Hakim Mahkamah Agung RI.

Walaupun demikian faktanya, pada eksekusi putusan Mahkamah Agung Nomor: 2642 K/Pid/2006 tersebut Pemerintah tetap memperhatikan Hak Asasi Manusia dalam pelaksanaan seperti yang dilakukan pada tahap sosialisasi I, II, dan III yang disampaikan bahwa eksekusi itu dilakukan tidak akan berakibat atau membuat perekonomian warga atau karyawan yang bekerja di PT. Torganda menjadi terhenti sebab Pemerintah tetap memberikan kesempatan kepada warga untuk memperoleh hasil dari sawit-sawit yang ditanami tersebut dengan ketentuan bahwa Pemerintah tetap memperhatikan pula hak-hak yang menjadi milik Negara.

Apabila dianalisis dari sisi teori-teori keadilan bahwa para penganut paradigma hukum alam berpendapat bahwa tujuan hukum adalah untuk mewujudkan ”keadilan”.44 Kenyataannya, keadilan bukan satu-satunya istilah yang digunakan untuk menunjukkan tujuan hukum. Karena dalam suatu negara hukum modern, tujuan hukum adalah untuk mewujudkan kesejahteraan (welfare state).45

44 E. Utrecht, Pengantar Dalam Hukum Indonesia, (Jakarta: Ikhtiar Baru, 1975), hal. 20.

45 Mochtar Kusumaatmadja, Fungsi dan Perkembangan Hukum Dalam Pembangunan Nasional, (Bandung: Bina Cipta, Tanpa Tahun), hal. 2-3.

Plato, mengatakan keadilan sebagai nilai kebijakan yang paling tertinggi.46 H.L.A.

Hart, mengatakan keadilan itu sebagai nilai kebajikan yang paling legal. 47

Para filosof Yunani memandang bahwa keadilan sebagai suatu kebijakan individual. Oleh karena itu, apabila terjadi tindakan yang tidak adil (unfair prejudice) di dalam kehidupan, maka sektor hukumlah yang sangat berperan untuk menemukan kembali keadilan yang telah hilang, inilah yang disebut Aristoteles sebagai keadilan korektif.

48 John Rawls mengistilahkannya dengan keadilan yang mesti dikembalikan oleh hukum. Menurutnya, keadilan akan diperoleh jika dilakukan maksimum penggunaan barang secara merata dengan memperhatikan kepribadian masing-masing, prinsipnya: terpenuhinya hak yang sama dan perbedaan perekonomian sosial harus diatur sehingga akan terjadi kondisi yang positif yaitu: terciptanya keuntungan maksimum yang reasonable untuk setiap orang termasuk bagi setiap yang lemah; dan terciptanya kesempatan bagi semua orang.49

Keadilan menurut utilitarian adalah jika mesin diukur dari manfaatnya (utility), maka institusi sosial, termasuk institusi hukum pun harus diukur dari manfaatnya itu.50

46 Munir Fuady, Dinamika Teori Hukum, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2007), hal. 92.

Menyangkut bahwa keuangan negara termasuk semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatunya baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 1 ayat

47 Ibid.

48 Ibid, hal. 93.

49 Ibid, hal. 94.

50 Ibid.

(1) dan Pasal 2 UU Keuangan Negara, maka secara umum, keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang dan berlaku bagi seluruh makhluk hidup maupun bagi benda-benda yang ada di alam semesta. Hal ini dikarenakan oleh adanya keterikatan yang terjadi secara alamiah, sehingga seluruh makhluk harus berlaku adil kepada yang lainnya, sebagai salah satu jalan mempertahankan keseimbangan yang alami tersebut.

2. Landasan Konsepsional

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa istilah sebagai landasan konsepsional untuk menghindari kesimpangsiuran pemahaman mengenai definisi atau pengertian serta istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Tindak Pidana Korupsi adalah segala tindakan yang dimaksud dalam UUPTPK yang merugikan keuangan negara atau kekayaan negara dan/atau kepentingan masyarakat atau negara, baik secara langsung maupun tidak langsung;

b. Keuangan Negara adalah segala harta atau kekayaan negara termasuk segala hak-hak negara yang dapat dinilai dengan uang, benda-benda lain baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak yang dapat diformulasikan dalam bentuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), serta termasuk pula Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP);

c. Kerugian keuangan negara adalah kerugian yang sudah dapat dihitung jumlahnya berdasarkan hasil temuan instansi yang berwenang atau akuntan publik yang ditunjuk,51

d. Eksekusi adalah pelaksanaan putusan hakim pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap;

dalam hal ini Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Institut Pertanian Bogor (IPB).

e. Barang sitaan adalah segala sesuatu barang yang dapat dijadikan bukti baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak; dan

f. Aset Tidak Bergerak adalah barang yang tidak bisa berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lainnya misalnya lahan atau tanah, bangunan-bangunan, rumah, pabrik dan telah dilakukan penyitaan terhadap barang atau aset tidak bergerak tersebut.

G. Metode Penelitian

Metode adalah cara kerja atau tata kerja untuk dapat memahami obyek yang menjadi sasaran penelitian dari ilmu pengetahuan yang bersangkutan.52 Penelitian adalah suatu kegiatan ilmiah yang bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistematis, metodologis dan konsisten.53

51 Penjelasan Pasal 1 ayat (1) UUPTPK.

Penelitian hukum adalah suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang

52 Soerjono Soekanto, Ringkasan Metodologi Penelitian Hukum Empiris, (Jakarta: Indonesia Hillco, 1990), hal. 106.

53 Soerjono Soekanto dan Sri Mumadji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2001), hal. 1.

bertujuan untuk mempelajari sesuatu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan cara menganalisisnya.54

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Sehingga dengan demikian metode penelitian adalah upaya ilmiah untuk memahami dan memecahkan suatu masalah berdasarkan metode tertentu.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif yaitu penelitian yang mengacu kepada norma-norma dan asas-asas hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan.55

2. Sumber Data

Putusan pengadilan yang diteliti adalah putusan Mahkamah Agung RI Nomor: 2642 K/Pid/2006 atas terdakwa DL. Sitorus, PT. Torus Ganda (PT. Torganda), Pengurus Koperasi Persadaan Masyarakat Ujung Batu (Parsub), dan pengurus Koperasi Perkebunan Kelapa Sawit (KPKS) Bukit Harapan di Padang Lawas Utara.

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data-data sekunder yang meliputi:

1. Bahan hukum primer, yaitu UU No.3 Tahun 1971 jo UU No.31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah melalui UU No.20 Tahun 2001 tentang

1. Bahan hukum primer, yaitu UU No.3 Tahun 1971 jo UU No.31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah melalui UU No.20 Tahun 2001 tentang

Dalam dokumen TULUS YUNUS ABDI / HK (Halaman 29-0)