BAB III METODE PENELITIAN
4.2 Latar ( Setting)
Latar merupakan sebuah unsur yang tidak bisa dipisahkan dari sebuah karya sastra. Sebuah cerita tidak mungkin terjadi tanpa latar, dengan keunikan latarlah sebuah cerita menjadi masuk akal dan lebih menarik. Nurgyantoro (1998:223) mengatakan bahwa unsur latar mampu mempengaruhi keseluruhan unsur lainnya sehingga tampak bahwa berbagai unsur dan cerita bergantung pada latar. Sejalan dengan itu, Abrams (dalam Nurgyantoro, 1995:216) mengatakan bahwa latar atau setting disebut juga sebagai landas tumpu, yang mengacu terjadinya letak peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar menjadi perangkat penting yang mendukung dan memungkinkan adanya pekembangan terjadinya suatu peristiwa. Abrams juga menambahkan bahwa unsur latar bisa mengacu pada tempat, waktu, dan sosial. Selain itu Sudjiman (1998:44) juga mengatakan ”segala keterangan petunjuk, pengacuan, yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam sebuah karya sastra membangun latar”. Artinya banyak hal yang bisa membangun latar
sebuah karya sastra itu. Secara lebih spesifik, Hudson (dalam Sudjiman 1988:44) membedakan latar sosial dan latar fisik/ material. Latar sosial mencakup keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, bahasa dan lain-lain yang melatari peristiwa. Sedangkan yang dimaksud dengan latar fisik adalah tempat dalam wujud fisiknya yaitu bangunan, daerah, dan sebagainya. Jadi dalam penelitian ini penulis mengklasifikasikan latar ke dalam dua bagian besar yaitu (1) Latar Fisik berupa wilayah, daerah, bangunan dan waktu terjadinya. (2) Latar Sosial yang mencakup situasi sosial, sikap suatu kelompok, cara hidup dan bahasa.
4.2.1 Latar Fisik Berupa Wilayah dan Bangunan
Perjalanan tokoh dalam cerita didukung oleh banyak latar fisik. Jalinan peristiwa terjadi pada latar yang berubah ubah dan berbeda-beda, namun ada latar fisik yang menjadi bagian utama atau pusat dari peristiwa utama dalam cerita. Beberapa wilayah, bangunan yang menjadi latar dalam novel d.I.a. cinta dan presiden antara lain adalah sebagai berikut:
4.2.1.1 Dalam Negeri Indonesia
Diawali dengan kemunculan Lelaki Misterius yang hadir di Senayan Jakarta, yang sudah menginjak hari ke tujuh, pria itu berdiri di belakang dinding kaca besar lantai 19, Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta dengan setia menunggu. Dengan konteks kesibukan di Gedung Parlemen tempat para Wakil Rakyat melakukan tugasnya. Beberapa latar wilayah dalam negeri yang menjadi tempat terjadinya peristiwa itu seperti di Gedung DPR/MPR, dan Universitas Katolik Atmajaya.
... . Anggota satuan pengaman dan petugas piket lantai 19 itu sebagaimana sejak beberapa hari pekan lalu, pagi itu tidak menaruh kecurigaan apa pun padanya. Juga para anggota parlemen dan para stafnya di lantai yang diduduki Fraksi Partai Mandat Nasional (PMN). Mereka tampaknya sudah mulai terbiasa berpapasan dengannya, di sudut dekar kamar kecil untuk yang berkantor di ruangan 1924 sampai dengan 1954. Menjelang kedatangan rombongan Presiden dari luar negeri, situasi Ibukota Jakarta pascabencana dalam masih tetap penuh kemelut. Setelah kompleks DPR/MPR Senayan diduduki mahasisiswa dan pemuda, tuntutan para pendemo itu sudah disuarakan resmi oleh para pimpinan DPR/MPR (hlm. 271).
Di kampus Universitas Katolik Atmajaya (Unika), di Jalan Sudirman, satu-satunya kampus di pusat Ibukota yang luput dari bencana, dan tak jauh dari kompleks Senayan, ribuan mahasiswa berkumpul di lapangan parkir Kampus A, di depan Gedung Syarif Thayeb (hlm. 271).
Selain itu beberapa tempat penting yang menjadi latar dari rangkaian peristiwa dalam novel ini diantaranya di Hotel Dharmawangsa, tempat yang digunakan sebagai kantor Presiden sementara, (hlm. 278) Planet Hollywood (hlm. 650); Hotel Kartika Chandra yang menjadi tempat aksi demonstrasi (hlm. 90), Rumah Sakit Jakarta (RSJ); Gedung Opera Manggarai yang digunakan sebagai tempat pernikahan Anggara dan Kartika (hlm. 891).
4.2.1.2 Luar Negeri a. Jerman
Untuk pertama kalinya Anggara dan Kartika bertemu adalah ketika mereka sedang menonton sebuah pertunjukan teater di Jerman. Tempat tersebut merupakan tempat pertunjukan yang termasuk paling megah di dunia.
Malam hari di National theather Munich (Teater Nasional Munich), yang merupkan markas atau rumah bagi kelompok Byarische Staatotsoper (Negara Bagian Bavaria), hari itu menggelar pertunjukan perdana opera tiga babak der fliengenda Hollander (the flying ducthman), karya Richard Wagner (1813-1883) (hlm. 43).
Saya bersama sembilan pewarta dari Asia diundang pemerintahan Republik Federasi Jerman untuk mengamati hasil-hasil yang mereka capai sejak Jerman Bersatu beberapa waktu lalu, baik dalam pembangunan, ekonomi, sosial, politik, kebudayaan dan yerutama demokrasi, kata Anggara. Hal itu diutarakan oleh Anggara untuk menjelaskan maksud dan tujuannya ke Jerman. Sebelum kita teruskan, Mas Anggara pilihkan dulu makanan utama kita. Saya enggak begitu paham bahasa Jerman, kata Kartika kemudian (hlm. 49).
Jerman menjadi tempat bersejarah dalam perjalanan hidup Anggara dan Kartika, yang dimulai dengan perjalanan Anggara untuk meliput perkembangan perekonomian Jerman setelah 15 menghadapi ekonomi global. Liputan bersama rekan pewarta lainnya, diceritakan juga mengenai sejarah-sejarah yang ada di Jerman: Merujuk pada cerita dari kawan kawannya yang ia sebut kuliah umum.
Usai sarapan pagi, Anggara mengemas kopernya. Rombongan pewarta dari Asia satu demi satu sudah menaiki bus yang pagi itu akan membawa mereka ke kantor pusat Siemens AG di Wittelsbacherplatz, Munich. Di sana, usai bertemu para pimpinan
Siemans, mereka dijamu makan siang di salah saru ruang kantor yang berada di sebuah gedung tua. Sebagai tuan rumah, Presiden dan Chief Executive Officer Siemens sendiri, Heinrich von Halske menyambut rombongan para pewarta Asia itu (hlm. 95).
Di Jerman juga merupakan tempat yang dihadiri oleh banyak aktifis yang menentang Pertemuan Puncak G-8 ke-33
Demonstrasi dengan kekerasan terjadi di sekita kompleks Kempinski Grand Hotel,
Heiligendamm, Jerman menjelang berlangsungnya Pertemuan Puncak G-8 ke-33.
Bentrokan terjadi antara pihak Kepolisian Jerman dengan para demonstran antiglobalisasi. Polisi berusaha mengahalu para demonstran dengan gas air mata dan pentungan. Namun, para demonstran tetap bertahan di dekat gerbang utama halaman Kempinski Grand Hotel. Sementara itu pertemuan puncak para pemimpin G-8 yang terdiri dari Jerman, Jepang, Italia, Kanada, Prancis, Amerika Serikat, Inggris dan Rusia tidak tergangu dan akan tetap berlangsung sesuai agenda (hlm. 124).
Ketika penyiar televisi berita CNN membacakan berita itu, di layar tampak sekitar 200-an demonstran yang sangat militan. Mereka meneriakkan slogan-slgoan antiglobalisasi, antipemanasan global, antikemiskinan, antiliberalisasi, anti WTO, anti-IMF, dan anti Worl Bank. Mereka juga membawa pelbagai poster dan spanduk yang isinya antara lain menentang dominasi kapitalisme global (hlm.24).
b. Francis, Paris
Tempat bertemunya Anggara dengan keluarganya dari Ibunya Dewi Mayastari, istri ke dua dari Ayahnya. Paris Hilton yakni sebuah hotel yang berada di Francis menjadi tempat Anggara menemukan sebuah rahasia keluarganya yang telah lama disembunyikan darinya.
Ada, kawan Mas Angga. Dia tidak mau menyebutkan namanya. Katanya dia akan menemui Mas Angga di Paris Hilton.
… Lalu, sambil memandang La Grande Arche yang sangat monumental dan menjadi bagian dari poros sejarah ke arah Musem Louvre, ia pun duduk di sebuah bangku beton di salah satu sisi esplanade. Menikmati panorama dan suasana senja kota Paris di kejauhan, dalam kesendirian, dalam kesepian, dalam harapan, dalam cinta yang terpendam, sungguh merupakan pengalaman yang sulit dilupakan (hlm.122).
c. Singapura, Raffles Hotel
Pencarian Uki, untuk menemukan Anggara, ia kemudian menghubungi salah seorang sahabatnya yang menjadi seorang diplomat di kedutaan Singapura. Tempat ini juga menjadi latar persinggahan Anggara dan Kartika sepulang dari Francis.
Keluar dari Bandara Changi, Singapura sekitar pukul 07.00 pagi waktu setempat, Uki Basuki menuju Sky Train, kreta listrik yang membawanya ke Terminal 2. Dari situ ia
menaiki Kereta Bawah Banah atau Mass Rapid Traisit System (MRT) jalur menuju East West (EW) menuju arah Boon Lay. Untuk ke Raffles Hotel yang berada di 1, Beach Road, ia bisa turun di stasiun City Hall atau di Raffles Place (hlm. 577).
d. Helsinki
Pada saat bencana dahsyat mengguncang dan melenyapkan wilayah DKIJ, rombongan Presiden masih di Helsinki dalam rangka menghadiri malam penutupan Pertemuan Tingkat Tinggi Asia-Eropa (Asia Europa Meeting/ASEM). Dari KBRI Helsinki Presiden mengadakan Jumpa Persnya untuk menyampaikan rasa belasungkawanya kepada seluruh rakyat Indonesia, terkhusus bagi keluarga yang ditimpa bencana. Seluruh rombongan menyaksikan bencana dan perkembangan situasi pasca bencana yang menimbulkan penjarahan dan kerusuhan. Menanggapi hal itu, Presiden SBD merasa bersalah dan menyatakan dirinya siap untuk turun dari jabatannya (hlm. 131).
e. Mesir: KBRI Kairo
Rombongan Presiden tiba di Bandara Gamal Abdul Nasser, Kairo-Mesir, untuk transit selama beberapa jam. Mereka di sambut oleh Duta Besar Abdullah Bachtiar, asal Aceh, beserta sejumlah penduduk Indonesia, baik para mahasiswa maupun pekerja yang bermukim di sana. Di KBRI Kairo itu kemudian Presiden menerima sebuah fax dari pimpinan DPR/MPR yang berisi pernyataan agar Presiden SBD segera mengundurkan diri, demi pemulihan kepercayaan rakyat pasca bencana yang melenyapkan DKIJ. Berita itu menimbulkan duka dan kebingunan yang dalam bagi semua orang yang turut menyambut rombongan itu. Ditambah lagi dengan pernyataan Presiden yang mengeluhkan pengalamannya selama menjadi Presiden. Dari Kairo kemudian rombongan berangkat ke Indonesia, ke Bandara Halim Perdana Kusuma (hlm.201).
Dari lokasi beragam peristiwa yang terjadi lokasi atau wilayah utama terjadinya peristiwa dalam novel d.I.a cinta dan presiden berlangsung di dalam negeri Indonesia.
4.2.2 Latar Sosial
Latar sosial yang terdapat dalam novel d.I.a. cinta dan presiden terdiri dari beragam hal baik berupa situasi sosial, sikap suatu kelompok, cara hidup dan bahasa. Pada intinya setiap latar fisik memiliki latar sosial yang cenderung berbeda pula. Beberapa diantaranya ialah cara hidup pemerintahan otoriter dan pemerintahan demokrasi, pandangan atau sikap tokoh intelektual dalam memberdayakan teknologi dan ilmu pengetahuan yang begitu maju dan latar sosial berupa kebebasan global yang menjamin hak-hak kemanusiaan.
4.2.2.1 Pemerintahan Otoriter
Dalam bagian novel ini terdapat latar sosial yang menunjukkan bahwa rezim Orde Baru itu memiliki mental korup yang diturunkan dari Presiden Soeharto. Golongan intelektual muda memandang sinis bagi generasi yang mengikuti pola pemerintahan yang otoriter. Dalam pemilihan sesudah Presiden SBD dan Presiden BJK, Capres-Cawapres juga diikuti oleh sejumlah tokoh otoriter yang berasal dari generasi Orde Baru.
... . Saudaraku sebangsa setanah air. Matinya demokrasi, dibredelnya puluhan surat kabar, bangkitnya kekuatan militer, khususnya angkatan darat, perebutan Provinsi Irian Barat, serta penolakan PSI dan Masyumi terdadapa Rencana Anggaran Belanja, berahir dengan diberlakukannya Rencana Anggaran dengan Dekrit DPR hasil pemilu 1995 yang demokratis pun dibubarkan...
... memerintah negeri ini dengan dukungan rezim militer-birokrat, yang berdarah- darah, menindas rakyat, sangat korup dan membunuh demokrasi untuk keduakalinya selam 30 tahun kekuasaan tangan besi yang tak tertandingi dalam sejarah..!(hlm. 728). Masa pemerintahan Presiden Soeharto diakatan sebagai periode pemerintahan otoriter yang tidak berpihak pada kebebasan rakyat dalam menyampaikan aspirasi dan hak-haknya sebagai rakyat yang merdeka.
4.2.2.2 Pemerintahan Demokratis
Gambaran mengenai latar sosial yang demokratis ditandai dengan aksi-aksi massa yang begitu bergairah dalam menyampaikan aspirasinya kepada pihak birokrasi. Pemerintahan demokrasi dimulai sejak ditumbangkannya rezim Orde Baru dengan menggulingkan kekuasaan Presiden Soeharto. Aksi unjuk rasa atau pandangan itu menandai
bahwa masyarakat sudah hidup dalam pola pemerintahan yang demokratis yang menjamin kebebasan dalam menyampaikan gagasan dan pandangan tanpa membedakan status sosial. Masyarakat turut mengambil bagian dalam mengontrol dan mengawasi jalannya pemerintahan. Bentuk demokrasi itu antara lain seperti aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh massa dalam mengkritisi kebijakan-kebijakan maupun kinerja Presiden SBD yang lambat dan penuh dengan skandal korupsi yang tidak tuntas.
Presiden SBD merupakan Presiden pertama sebagai hasil dari pemilihan langsung oleh rakyat Indonesia.
... . walau terpilihnya saya juga merupakan hasil pemilihan langsung oleh rakyat secara demokratis, sekali lagi saya katakan, saya siap mundur.
Demonstrasi damai, yang diizinkan oleh pihak aparat kemanan sebagai bentuk persetujan dan dukungan yang sah dalam mewujudkan pemerintahan masyarakat yang demokrasi (hlm.136).
Pemerintahan demokratis ditandai dengan keikutsetaan masyarakat dalam menentukan siapa yang akan memimpinnya, dan bagaimana rakyat turut berkontribusi dalam mengawasi dan mengikuti perkembangan yang terjadi dalam negaranya.
4.2.2.3 Era Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Canggih
Latar sosial ini ditandai dengan gaya hidup masyarakat yang sudah menggunakan hasil teknologi canggih. Misalnya alat-alat komunikasi seperti telepon, handphone, dan video
digital yang digunakan untuk mengolah data audio visual. Selain itu bagian yang
menunjukkan latar sosial yan maju, seperti ide-ide yang begitu brilian yang digunakan untuk masa depan bangsa- bangsa. Hal itu seperti yang dilakukan oleh Sutomo Prasetho dengan penguasaannya akan teknologi canggih, ia bisa mengawal pertumbuhan ekonomi dan peradaban, meski dengan mengorbankan jutaan nyawa manusia.
4.2.2.4 Solidaritas global (Global Citizen)
Latar sosial ini menunjukkan bahwa jaminan kebebasan telah menyatukan manusia dari berbagai penjuru dunia. Sikap yang muncul dari diri manusia menjadi lebih terbuka untuk berjuang bersama-sama. Jarak tidak lagi menjadi jurang pemisah informasi dan
pergerakan, namun telah diatasi dengan perkembangan konsep globalisasi kesejahteraan. Hal ini ditandai dengan aksi-aski intelektual muda yang turut tergabung dalam organisasi dunia dalam memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan dunia. Solidaritas yang demikian semakin meningkatkan dan menjamin kebebasan dan keberanian individu-individu dalam menegakkan moralitas dan hak-hak kemanusiaan yang mendasar.