• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ir. Yudha Mediawan, M.Dev.Plg.

NIP. 196610211992031003

U

KATA PENGANTAR

ii

Kata Pengantar ... i

Daftar Isi ... ii

Petunjuk Penggunaan Modul ... iii

Pendahuluan ... iv

A. Latar Belakang ... iv

B. Deskripsi Singkat ... v

C. Tujuan Pembelajaran ... v

D. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok ... v

Materi Pokok 1 Identifikasi Risiko ... 1

Materi Pokok 2 Pengalokasian Risiko ... 3

A. Prinsip-prinsip Pengalokasian Risiko ... 3

B. Keterbatasan Alokasi Risiko ... 4

C. Matriks Alokasi Risiko ... 5

Materi Pokok 3 Mitigasi Risiko dan Permasalahannya ... 7

Materi Pokok 4 Pemantauan dan Pengelolaan Pelaksanaan dan Risiko KPBU ... 8

A. Pemantauan dan Penerapan Kinerja Layanan dan Kepatuhan Kontrak ... 8

B. Pemantauan dan Pengelolaan Tanggung Jawab dan Risiko Pemerintah ... 9

Materi Pokok 5 Rencana Usaha (Business Plan) ... 12

A. Pengertian Busniness Plan ... 12

B. Prinsip-prinsip Business Plan ... 12

C. Manfaat Business Plan ... 12

D. Komponen-komponen Business Plan ... 14

E. Latihan ... 18

F. Rangkuman ... 18

Daftar Pustaka ... 19

DAFTAR ISI

iii A. Petunjuk Bagi Peserta

Untuk memperoleh hasil belajar secara maksimal, dalam menggunakan modul Rencana Usaha dan Manjemen Risiko, maka langkah-langkah yang perlu dilaksanakan antara lain:

1) Bacalah dan pahami dengan seksama uraian-uraian materi yang ada pada masing-masing kegiatan belajar. Bila ada materi yang kurang jelas, peserta dapat bertanya pada instruktur yang mengampu kegiatan belajar.

2) Kerjakan setiap tugas formatif (soal latihan) untuk mengetahui seberapa besar pemahaman yang telah dimiliki terhadap materi-materi yang dibahas dalam setiap kegiatan belajar.

3) Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktik, perhatikanlah hal-hal berikut ini:

a. Perhatikan petunjuk-petunjuk yang berlaku.

b. Pahami setiap langkah kerja dengan baik.

4) Jika belum menguasai level materi yang diharapkan, ulangi lagi pada kegiatan belajar sebelumnya atau bertanyalah kepada instruktur atau instruktur yang mengampu kegiatan pembelajaran yang bersangkutan.

B. Petunjuk Bagi Instruktur

Dalam setiap kegiatan belajar instruktur berperan untuk:

1. Membantu peserta dalam merencanakan proses belajar.

2. Membimbing peserta melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.

3. Membantu peserta dalam memahami konsep, praktik baru, dan menjawab pertanyaan peserta mengenai proses belajar peserta.

4. Membantu peserta untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang diperlukan untuk belajar.

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

iv A. Latar Belakang

Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) sebagai unsur utama Sumber Daya Manusia (SDM) Aparatur Negara mempunyai peranan keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan sosok CPNS yang mampu memainkan peran tersebut adalah CPNS yang mempunyai kompetensi yang diindikasikan dari sikap dan perilakunya yang penuh dengan kesetiaan dan ketaatan kepada Negara, bermoral dan mampu menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mempunyai tugas dan tanggung jawab melaksanakan sebagian tugas umum Pemerintahan dan tugas pembangunan dibidang ke-PUPR-an yang meliputi bidang Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Air, Bina Marga, Cipta Karya, Pengembangan Wilayah, Perumahan Rakyat, Penelitian dan Pengembangan bidang PUPR dan Bina Konstruksi. Dalam pembangunan infrastruktur bidang PUPR tersebut telah banyak dibangun berbagai macam sarana prasaran fisik diseluruh wilayah Indonesia yang tujuan untuk mendukung sektor-sektor pembangunan lainnya agar dapat berkembang, sehingga perekonomian masyarakat akan meningkat dengan pesat yang pada akhirnya kesejahteraan rakyat akan segera tercapai. Untuk dapat membentuk sosok Calon Pegawai Negeri Sipil tersebut di atas, perlu dilaksanakan pembinaan melalui jalur pelatihan yang mengarah kepada upaya peningkatan:

a. Sikap dan semangat pengabdian yang berorientasi pada kepentingan masyarakat, bangsa, Negara dan tanah air;

b. Kompetensi teknik, manajerial, dan atau kepemimpinannya;

c. Efisiensi, efektifitas dan kualitas pelaksanaan tugas yang dilakukan dengan semangat kerjasama dan tanggung jawab sesuai dengan lingkungan kerja organisasinya.

Dalam Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil, mengatur juga tentang Pendidikan dan Pelatihan Terintegrasi yang selanjutnya disebut Pelatihan Prajabatan sesuai pasal 1 ayat 28, dan juga dalam rangka meningkatkan tertib penyelenggaraan pembangunan guna mewujudkan prasarana dan sarana bidang pekerjaan umum yang efisien, efektif, dan produktif, dipandang perlu menyempurnakan materi sistem pengendalian manajemen.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 603/PRT/M/2005 ditetapkan dengan maksud agar para penyelenggara proyek/satuan kerja di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum dapat melaksanakan tugasnya secara profesional dengan tidak menyimpang dari peraturan dan ketentuan yang berlaku, sehingga diperoleh hasil yang tepat mutu, tepat waktu, tepat biaya, dan tepat manfaat.

Pelatihan ini menguraikan tentang tata cara pelaksanaan Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur, yang disusun dengan kaidah penulisan dan

PENDAHULUAN

v penyelenggaraan dengan mengacu pada Perpres No 38 Tahun 2015, dan Permen No 21/PRT/M/2018, serta regulasi lainnya yang relevan.

B. Deskripsi Singkat

Mata pelatihan ini membekali peserta dengan pengetahuan mengenai rencana usaha dan manajemen risiko yang disajikan dengan metode ceramah dan tanya jawab.

C. Tujuan Pembelajaran 1. Hasil Belajar

Setelah mengikuti proses pembelajaran rencana usaha dan manajemen risiko peserta diharapkan mampu memahami rencana usaha dan manajemen risiko dalam penyediaan infrastruktur di lingkungan kementerian PUPR.

2. Indikator Hasil Belajar

2.1 Mampu Memahami Identifikasi Risiko 2.2 Mampu Memahami Pengalokasian Risiko

2.3 Mampu Memahami Mitigasi Risiko Dan Permasalahannya

2.4 Mampu Memahami Pemantauan Dan Pengelolaan Pelaksanaan Dan Risiko KPBU 2.5 Rencana Usaha (Business Plan)

D. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok 1. Identifikasi Risiko

2. Pengalokasian Risiko

2.1 Prinsip-prinsip Pengalokasian Risiko 2.2 Keterbatasan Alokasi Risiko

2.3 Matriks Alokasi Risiko

3. Mitigasi Risiko dan Permasalahannya

4. Pemantauan dan Pengelolaan Pelaksanaan dan Risiko KPBU

4.1 Pemantauan dan Penerapan Kinerja Layanan dan Kepatuhan Kontrak 4.2 Pemantauan dan Pengelolaan Tanggung Jawab dan Risiko Pemerintah 5. Rencana Usaha (Business Plan)

5.1 Pengertian Business Plan 5.2 Prinsip-prinsip Business Plan 5.3 Manfaat Business Plan

5.4 Komponen-komponen Business Plan

1 Langkah pertama dalam penyusunan struktur KPBU pada umumnya dimulai dengan menyusun daftar komprehensif tentang seluruh risiko yang terkait dengan proyek. Daftar tersebut dikenal sebagai ‘daftar risiko’. Dalam konteks ini, risiko merupakan variasi dalam nilai proyek yang tidak dapat diperkirakan – dari sudut pandang sebagian atau seluruh pemangku kepentingan – yang timbul dari ‘faktor risiko’ dasar tertentu. Contohnya, ‘risiko permintaan’ adalah risiko bahwa nilai proyek, dan pendapatan proyek, akan lebih rendah (atau lebih tinggi) dari perkiraan karena permintaan yang lebih rendah (atau lebih tinggi) dari perkiraan.

Risiko KPBU bervariasi, tergantung pada tempat proyek terkait dilaksanakan, sifat proyek, dan aset dan layanan yang terlibat. Meskipun demikian, risiko-risiko tertentu bersifat umum dalam berbagai jenis proyek KPBU. Risiko-risiko tersebut pada umumnya dikelompokkan dalam kategori risiko, yang seringkali merupakan risiko yang terkait dengan fungsi tertentu (seperti konstruksi, operasional, atau pembiayaan), atau tahap proyek tertentu (seperti pengakhiran).

Terdapat banyak sumber yang menyajikan daftar risiko ‘standar’ dan alokasi risiko yang disarankan, dalam beberapa kasus untuk jenis proyek spesifik. Proyek KPBU seringkali memiliki fitur atau situasi yang unik–contohnya, kondisi geologis tertentu pada rute jalan yang diusulkan.

Artinya, badan pelaksana harus memanfaatkan jasa konsultan yang berpengalaman untuk membantu mengidentifikasi daftar risiko proyek yang komprehensif.

Penilaian dan Penentuan Prioritas Risiko

Mempertimbangkan bobot berbagai risiko seringkali berguna untuk memfokuskan upaya pengalokasian risiko. Beberapa risiko jauh lebih signifikan dibandingkan risiko lainnya. Misalnya saja dalam hal seberapa besar kemungkinan risiko tersebut akan terjadi, seberapa besar dampak risiko tersebut terhadap hasil proyek, atau keduanya. Risiko dapat dinilai baik secara kuantititatif maupun kualitatif.

Contoh: Kategori Risiko KPBU

Kategori risiko di bawah ini merupakan risiko yang umum ditemui dalam berbagai KPBU:

1) Lokasi risiko yang terkait dengan ketersediaan dan kualitas lokasi proyek, seperti biaya dan waktu yang diperlukan untuk memperoleh loksai tersebut, perizinan yang diperlukan atau memastikan ruang milik jalan untuk pembangunan jalan, dampak geologis atau kondisi lokasi lainnya, serta biaya untuk memenuhi standar lingkungan hidup.

MATERI POKOK 1 IDENTIFIKASI RISIKO

Mampu memahami identifikasi risiko

2 2) Rancangan, konstruksi, dan pelaksanaan risiko bahwa konstruksi memakan waktu lebih lama atau biaya lebih besar dari perkiraan, atau risiko bahwa rancangan atau kualitas konstruksi umengakibatkan aset tersebut tidak memadai untuk memenuhi persyaratan proyek.

3) Operasional risiko keberhasilan operasional, termasuk risiko gangguan ketersediaan layanan atau aset, risiko bahwa antarmuka jaringan tidak bekerja sebagaimana mestinya, atau biaya untuk mengoperasikan dan memelihara aset terkait ternyata berbeda dari perkiraan.

4) Permintaan, dan risiko komersial lainnya risiko bahwa penggunaan layanan berbeda dari perkiraan, atau pendapatan tidak dapat dihasilkan sebagaimana diperkirakan sebelumnya.

5) Perundang-undangan atau politik risiko keputusan perundang-undangan atau politik atau perubahan dalam kerangka kerja perundang-undangan sektor yang membawa dampak merugikan terhadap proyek. Contohnya, hal ini dapat berupa kegagalan memperbaharui persetujuan dengan semestinya, keputusan perundang-undangan yang keras dan tidak adil, atau dalam kondisi ekstrim, pelanggaran kontrak atau pengambillalihan.

6) Perubahan dalam kerangka hukum risiko adanya perubahan dalam undang-undang atau peraturan umum yang membawa dampak merugikan bagi proyek, seperti perubahan dalam perpajakan perusahaan secara umum, atau dalam peraturan yang mengatur pertukaran mata uang, atau repatriasi laba.

7) Wanprestasi risiko bahwa pihak swasta yang terlibat dalam kontrak KPBU ternyata tidak memiliki kemampuan finansial maupun teknis untuk melaksanakan proyek.

8) Ekonomi atau finansial risiko bahwa perubahan dalam tingkat suku bunga, nilai tukar atau inflasi membawa dampak merugikan terhadap hasil pelaksanaan proyek.

9) Keadaan kahar (Force Majeure) risiko yang tidak dapat diasuransikan bahwa kejadian eksternal yang berada di luar kendali pihak-pihak dalam kontrak, seperti bencana alam, perang atau kerusuhan sipil, dapat berdampak pada proyek.

10) Kepemilikan aset risiko yang terkait dengan kepemilikan aset, termasuk risiko keusangan teknologi atau risiko bahwa nilai aset pada saat kontrak berakhir ternyata berbeda dari perkiraan.

Pengalokasian risiko dalam konteks KPBU berarti memutuskan pihak mana dalam kontrak KPBU yang akan menanggung biaya (atau meraih manfaat) dari perubahan dalam hasil proyek yang diakibatkan oleh masing-masing faktor risiko. Pengalokasian risiko proyek dengan baik adalah cara utama bagi KPBU untuk mencapai kesepadanan nilai dengan biaya yang lebih baik. Ada dua tujuan utama pengalokasian risiko. Pertama adalah menciptakan insentif bagi para pihak untuk mengelola risiko dengan baik dan dengan demikian meningkatkan manfaat proyek atau mengurangi risiko. Tujuan kedua adalah mengurangi biaya risiko proyek secara keseluruhan dengan ‘mengasuransikan’ para pihak dari risiko yang tidak bersedia mereka tanggung.

3 Pengalokasian risiko dalam konteks KPBU berarti memutuskan pihak mana dalam kontrak KPBU yang akan menanggung biaya (atau meraih manfaat) dari perubahan dalam hasil proyek yang diakibatkan oleh masing-masing faktor risiko. Pengalokasian risiko proyek dengan baik adalah cara utama bagi KPBU untuk mencapai kesepadanan nilai dengan biaya yang lebih baik. Dua tujuan utama pengalokasian risiko adalah, pertama menciptakan insentif bagi para pihak untuk mengelola risiko dengan baik dan dengan demikian meningkatkan manfaat proyek atau mengurangi risiko. Tujuan kedua adalah mengurangi biaya risiko proyek secara keseluruhan dengan ‘mengasuransikan’ para pihak dari risiko yang tidak bersedia mereka tanggung.

Contoh: Pengalokasian Risiko Pembebasan Lahan

Pembebasan lahan dapat menjadi salah satu aspek pengembangan proyek KPBU yang paling menantang penundaan dalam menguasai lahan dapat menciptakan gangguan yang signifikan atau bahkan menghambat proyek-proyek KPBU yang menjanjikan. Terdapat beberapa opsi untuk menghadapi risiko-risiko yang terkait dengan penundaan atau kesulitan pembebasan lahan. Beberapa pemerintah mengadopsi kebijakan untuk membebaskan lahan sebelum meluncurkan suatu proyek ke pasar, dengan demikian menanggung dan mengeluarkan risiko ini dari persamaan kontraktual seperti yang diterapkan dalam proyek transportasi di India.

Pemerintah lainnya mengalokasikan tanggung jawab untuk mengidentifikasi lahan yang diperlukan untuk proyek terkait, dan tanggung jawab untuk melaksanakan proses yang diperlukan untuk memperoleh lahan tersebut, kepada pihak swasta.

Pemerintah lainnya mempersiapkan proses pembebasan lahan dengan saksama, mememerinci kebutuhan lahan dan identifikasi pemilik, tetapi kemudian mengalihkan tanggung jawab untuk membebaskan lahan tersebut kepada mitra swasta. Opsi terbaik mungkin tergantung pada keadaan tak kalah pentingnya adalah peraturan yang berlaku mengenai pembebasan lahan wajib.

A. Prinsip-Prinsip Pengalokasian Risiko

Prinsip sentral dalam alokasi risiko adalah setiap risiko harus dialokasikan kepada pihak manapun yang memiliki kemampuan terbaik untuk mengelola risiko tersebut. Definisi yang

MATERI POKOK 2 PENGALOKASIAN RISIKO

Mampu memahami pengalokasian risiko

4 lebih tepat atas prinsip tersebut, menyatakan bahwa setiap risiko harus dialihkan kepada pihak yang:

 Paling mampu mengendalikan kemungkinan terjadinya risiko tersebut contohnya, pihak swasta biasanya bertanggung jawab atas konstruksi proyek, karena mereka memiliki keahlian terbaik di area tersebut. Hal ini juga berarti pihak swasta harus menanggung biaya penundaan atau kelebihan biaya proyek.

 Paling mampu mengendalikan dampak risiko terhadap hasil proyek, dengan menilai dan mengantisipasi risiko dengan baik dan merespon risiko tersebut. Contohnya, walaupun tidak ada pihak yang sanggup mengendalikan risiko gempa bumi, apabila pihak swasta bertanggung jawab atas desain proyek, maka pihak swasta dapat menggunakan teknik untuk mengurangi kerusakan yang mungkin timbul apabila terjadi gempa bumi.

 Mampu menyerap risiko dengan biaya terendah, apabila kemungkinan terjadi dan dampak risiko tersebut tidak bisa dikendalikan. Biaya suatu pihak untuk menyerap suatu risiko tergantung pada beberapa faktor, termasuk: sejauh mana risiko tersebut berkolerasi dengan aset dan kewajiban lain yang dimilikinya; kemampuan pihak tersebut untuk mengalihkan risiko tersebut (contohnya, kepada pengguna layanan melalui perubahan harga, atau kepada pihak ketiga melalui asuransi); dan sifat dari penanggung risiko akhir. Contohnya, kemampuan pemerintah membagi risiko kepada pembayar pajak berarti biaya pemerintah untuk menanggung risiko lebih rendah dibandingkan pihak swasta, mengingat pemegang saham merupakan penanggung risiko akhir.

Dalam publikasi OECD mengenai pembagian risiko dan kesepadanan nilai dengan biaya dalam KPBU dibahas mengenai cara menerapkan prinsip-prinsip tersebut namun bukan berarti mengalihkan risiko sebanyak-banyaknya kepada pihak swasta. Pengalihan risiko-risiko yang dapat dikendalikan atau dimitigasi dengan baik oleh pihak swasta dapat membantu menurunkan biaya proyek secara keseluruhan dan meningkatkan kesepadanan nilai dengan biaya. Tetapi, semakin besar total risiko yang dialihkan kepada pihak swasta, maka imbal hasil atau ‘premi risiko’ yang dikenakan investor penanam modal akan semakin tinggi, dan mengumpulkan pembiayaan berbasis utang akan semakin sulit.

B. Keterbatasan Alokasi Risiko

Terdapat beberapa batasan atas alokasi risiko dalam proyek KPBU. Keterbatasan tersebut termasuk hal - hal di bawah ini:

o Tingkat perincian alokasi risiko secara teori, setiap risiko proyek dapat diidentifikasi, dan dialokasikan kepada pihak yang paling mampu menanggung risiko tersebut, dengan demikian meningkatkan kesepadanan nilai dengan biaya. Pada praktiknya, biaya yang diperlukan untuk melakukan proses tersebut akan terlalu tinggi, dan kemungkinan akan melebihi manfaat yang dihasilkan dalam hal risiko yang terlibat tidak terlalu signifikan. Dalam banyak kasus, risiko dialokasikan per kelompok, terkadang dengan pengecualian untuk risiko signifikan tertentu. Contohnya, pihak

5 swasta mungkin menanggung seluruh risiko konstruksi, kecuali beberapa risiko geologis utama tertentu. Pemerintah dapat menyediakan kekebalan khusus untuk risiko geologis tersebut.

o Risiko yang tidak dapat dialihkan – beberapa jenis risiko tidak dapat dialihkan melalui kontrak KPBU. Contohnya, pihak swasta akan selalu menanggung risiko politis tertentu risiko bahwa pemerintah akan mengingkari kontrak atau mengambil alih aset proyek. Lembaga internasional seperti Badan Penjaminan Investasi Multilateral atau Multilateral Investment Guarantee Agency (MIGA) menyediakan asuransi risiko politik untuk membantu memitigasi risiko ini.

o Besarnya risiko yang dialihkan kepada pihak swasta – penanam modal pihak swasta dalam kontrak KPBU – yaitu perusahaan KPBU – hanya terpapar risiko sesuai dengan nilai modal yang ditanamkan. Terlebih lagi, kreditur pada umumnya hanya menerima risiko dengan tingkat yang relatif rendah, sejalan dengan imbal hasil yang diharapkan.

Dalam praktiknya, hal ini berarti seberapa besar risiko yang dapat dialihkan dibatasi oleh nilai ekuitas dalam perusahaan proyek. Apabila kerugian yang timbul atas suatu risiko ternyata lebih tinggi dibandingkan modal yang ditanamkan, penanam modal dapat menelantarkan proyek. Karena pada akhirnya pemerintah tetap bertanggung jawab untuk memastikan penyediaan layanan, sisa risiko proyek tetap ditanggung oleh pemerintah.

C. Matriks Alokasi Risiko

Hasil dari proses alokasi risiko pada tahap ini seringkali disebut sebagai matriks alokasi risiko.

Matriks alokasi risiko menyajikan daftar risiko umumnya diurutkan berdasarkan kategori dan menetapkan pihak mana yang menanggung risiko. Alokasi risiko ini kemudian diterapkan dalam praktik dengan memasukkan klausul yang tepat dalam kontrak KPBU.

Beberapa pemerintah merangkum prinsip-prinsip alokasi risiko tersebut di atas dalam ‘alokasi risiko terpilih’, seringkali disajikan dalam bentuk matriks alokasi risiko terpilih. Alokasi terpilih ini mungkin bersifat umum, atau spesifik untuk sektor atau jenis proyek tertentu. Matriks tersebut pada umumnya merupakan titik awal pengalokasian risiko untuk proyek tertentu, dengan tetap menimbang masing-masing proyek yang pada umumnya memiliki karakteristik tertentu sehingga dibutuhkan alokasi risiko yang berbeda untuk mencapai kesepadanan nilai dengan biaya yang lebih baik. Matriks alokasi risiko harus ditinjau kembali sebelum penandatanganan kontrak untuk memastikan tanggung jawab tiap-tiap pihak dalam kontrak tersebut telah sah dan mengikat menurut hukum. Pemeriksaan akhir ini juga dapat berperan sebagai mekanisme penjaga gerbang tambahan

Berikut ini adalah contoh-contoh alokasi risiko terpilih dan matriks alokasi risiko:

Infrastructure Australia telah menerbitkan ‘prinsip-prinsip komersial standar’ bagi proyek infrastruktur ekonomi maupun sosial yang penjelaskan pengalokasian risiko dan tanggung jawab secara terperinci.

6

Panduan Pengantar tentang KPBU Hong Kong menyajikan contoh matriks risiko proyek KPBU untuk fasilitas pengolahan air yang terperinci.

Manual KPBU Pemerintah Rio de Janeiro menyajikan contoh matriks risiko untuk proyek infrastruktur KPBU.

Manual KPBU Afrika Selatan, mencakup matriks risiko KPBU standar yang menyajikan daftar risiko dan menguraikan mekanisme mitigasi risiko dan alokasi risiko untuk masing-masing risiko.

7

MATERI POKOK 3

MITIGASI RISIKO DAN PERMASALAHANNYA

Mampu memahami mitigasi risiko dan permasalahannya

8 Guna mencapai kesepadanan nilai dengan biaya yang dijanjikan KPBU, pemerintah perlu memastikan alokasi tanggung jawab dan risiko yang direncanakan diterapkan secara nyata.

Sepanjang umur kontrak, manajer kontrak perlu:

Memantau kepatuhan kontrak dan kinerja layanan pihak swasta, dan memastikan penalti atau bonus dibayarkan sebagaimana mestinya.

Memantau dan memastikan kepatuhan pemerintah pada tanggung jawabnya berdasarkan kontrak

Memantau dan memitigasi risiko.

Kegiatan aktual yang perlu dilaksanakan akan berbeda antar tahap pelaksanaan desain, konstruksi, pelaksanaan, dan penutupan proyek. Untuk mendapatkan tinjauan umum mengenai pengelolaan penyediaan layanan termasuk elemen utama manajemen risiko dan manajemen kinerja lihat Modul Manual KPBU Afrika selatan mengenai pengelolaan kontrak dan Seguimiento de una Concesión karya Fortea et al, yang menjelaskan proses pemantauan proyek di Spanyol.

A. Pemantauan Dan Penerapan Kinerja Layanan Dan Kepatuhan Kontrak

Badan pelaksana perlu memastikan pihak swasta memenuhi kewajibannya berdasarkan kemitraan, dengan memantau keluaran, atau standar layanan. Hal ini pada umumnya tidak melibatkan pemantauan ketat atas konstruksi, yang merupakan tanggung jawab pihak swasta. Sebaliknya, hal ini berarti melaksanakan pemantauan terhadap indikator kinerja yang ditetapkan dalam kontrak. Panduan 4Ps mengenai pengelolaan kontrak dalam KPBU]

menyajikan tinjauan umum mengenai pengelolaan kinerja layanan (berfokus pada KPBU yang dibiayai pemerintah), dan daftar pengecekan mengenai berbagai permasalahan utama.

Bagi KPBU dalam sektor yang diregulasi, regulator sektor juga dapat melaksanakan sebagian atau seluruh tanggun jawab pemantaun. Dalam kasus manapun, sumber informasi pemantauan dapat terdiri dari:

Data yang disediakan oleh pihak swasta. Pada umumnya, pihak swasta bertanggung jawab untuk menyediakan data kinerja proyek dalam laporan berkala kepada otoritas

MATERI POKOK 4

PEMANTAUAN DAN PENGELOLAAN PELAKSANAAN DAN RISIKO KPBU

Mampu memahami pemantauan dan pengelolaan pelaksanaan dan risiko KPBU

9 yang berwenang mengikat kontrak. Isi, format, dan frekuensi laporan tersebut harus ditetapkan dalam kontrak. Sebagai contoh, Panduan Pengelolaan Kontrak Partnerships Victoria menjelaskan prosedur penentuan persyaratan pelaporan, termasuk templat untuk berbagai tahap kontrak.

Tenaga ahli independen dapat digunakan untuk melaksanakan pemeriksaan atas konstruksi, pemeliharaan standar layanan, sementara menghindari kekhawatiran hasil yang bias. Sebagai contoh, Panduan Pengelolaan Kontrak Partnerships Victoria menjelaskan bagaimana pemeriksa independen digunakan dalam tahap konstruksi dan penyediaan layanan. Panduan India mengenai pemantauan proyek KPBU juga menjelaskan penggunaan insinyur independen untuk memantau kepatuhan selama tahap desain, konstruksi, dan operasional.

Pengguna layanan memiliki informasi yang kaya mengenai kualitas layanan dan prevalensi kesalahan, yang dapat dimanfaatkan pemerintah dengan menetapkan suatu proses untuk menerima umpan balik. Sebagai contoh, Panduan 4Ps mengenai Pengelolaan Kontrak menjelaskan bahwa pembentukan helpdesk oleh penyedia layanan merupakan praktik terbaik.

Pengaturan tersebut harus ditetapkan dalam kontrak. Badan pelaksana juga perlu memastikan mekanisme penerapan dilaksanakan sebagaimana mestinya, berdasarkan infromasi pemantauan yang diterima. Hal ini dapat mencakup menyesuaikan pembayaran (untuk KPBU yang dibiayai pemerintah) sesuai dengan peraturan dalam kontrak, atau dalam kasus-kasus yang parah, pencairan jaminan pelaksanaan. Hal ini juga mencakup melakukan komunikasi dengan kontraktor, dan memantau upaya untuk memperbaiki kekurangan kinerja. Terakhir, hal ini dapat mencakup mengidentifikasi bila dan ketika

Pengaturan tersebut harus ditetapkan dalam kontrak. Badan pelaksana juga perlu memastikan mekanisme penerapan dilaksanakan sebagaimana mestinya, berdasarkan infromasi pemantauan yang diterima. Hal ini dapat mencakup menyesuaikan pembayaran (untuk KPBU yang dibiayai pemerintah) sesuai dengan peraturan dalam kontrak, atau dalam kasus-kasus yang parah, pencairan jaminan pelaksanaan. Hal ini juga mencakup melakukan komunikasi dengan kontraktor, dan memantau upaya untuk memperbaiki kekurangan kinerja. Terakhir, hal ini dapat mencakup mengidentifikasi bila dan ketika

Dokumen terkait