LANDASAN TEORI
A. Landasan Teori
2. Layanan Penguasaan Konten
a. Pengertian Layanan Penguasaan Konten
Layanan penguasaan konten merupakan salah satu jenis layanan konseling yang diberikan kepada individu atau kelompok untuk
21
membantu klien agar dapat menguasai kompetensi tertentu. Hal ini sesuai dengan pendapat Prayitno (2004:2) yang menyatakan bahwa:
Layanan penguasaan konten merupakan layanan bantuan kepada individu (sendiri-sendiri ataupun kelompok) untuk menguasai kemampuan atau kompetensi tertentu melalui kegiatan belajar.
Kemampuan atau kompetensi yang dipelajari itu merupakan satu unit konten yang didalamnya terkandung fakta dan data, konsep, proses, hukum dan aturan, nilai, persepsi, afeksi, sikap dan tindakan yang terkait di dalamnya.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa melalui layanan penguasaan konten, konselor sebagai pelaksana layanan dapat membantu klien untuk menguasai konten tertentu yang dianggap sebagai kebutuhan bagi kliennya. Materi konten yang dibutuhkan tersebut disajikan melalui kegiatan belajar. Penyajiannya dapat berupa pemberian materi yang disertai dengan memberikan latihan. Jadi, pada layanan penguasaan konten, konselor harus memastikan agar klien menguasai suatu konten, kompetensi atau kemampuan tertentu.
Pendapat senada dikemukakan oleh Sukardi (2008:62) bahwa layanan penguasaan konten adalah:
Layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta berbagai tujuan dan kegiatan belajar lainnya, sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi, dan kesenian.
Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa melalui layanan penguasaan konten dapat diberikan berbagai jenis materi kegiatan belajar sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi dan kesenian. Hal ini memungkinkan peserta didik dapat mengembangkan dirinya sesuai dengan kompetensi yang dituntut kepadanya. Apalagi pengembangan pemberian materi konten disesuaikan dengan perkembangan situasi saat ini, yaitu relevan dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
13
Senada dengan pendapat di atas, Sokiyah (dalam Haryanti 2013:59) berpendapat bahwa layanan penguasaan konten adalah
“Layanan konseling yang memungkinkan klien mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, materi pelajaran yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya”.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa layanan penguasaan konten merupakan salah satu jenis layanan bimbingan konseling, yang dilakukan oleh konselor terhadap klien (individu atau kelompok) agar klien dapat menguasai konten tertentu, sehingga klien tidak terhalang untuk mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya.
Dalam hal ini, konten yang diberikan lebih difokuskan pada materi konten yang berhubungan dengan kegiatan belajar siswa, sehingga siswa memiliki kebiasaan belajar yang baik. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat mengembangkan dirinya secara lebih optimal dalam proses pembelajaran.
b. Tujuan Layanan Penguasaan Konten
Layanan penguasaan konten merupakan salah satu layanan yang dapat membantu siswa menguasai konten tertentu. Dalam layanan penguasaan konten sangat dituntut kemampuan dan kompetensi siswa.
Prayitno membagi tujuan layanan penguasaan konten menjadi dua, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Menurut Prayitno (2004:2-3) Tujuan umum dari layanan penguasaan konten adalah:
Dikuasainya suatu konten tertentu. Penguasaan konten ini perlu bagi individu atau klien untuk menambah wawasan dan pemahaman, mengarahkan penilaian dan sikap, menguasai cara-cara atau kebiasaan tertentu, untuk memenuhi kebutuhannya dan mengatasi masalah-masalahnya. Dengan penguasaan konten yang dimaksudkan itu individu
23
yang bersangkutan lebih mampu menjalani kehidupannya secara efektif (effective daily living).
Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami layanan penguasaan konten diperlukan oleh siswa untuk membantu siswa menguasai cara-cara dan kebiasaan tertentu, untuk memenuhi kebutuhannya dan mengatasi masalah yang dihadapi. Layanan penguasaan konten ini diharapkan mampu menanggulangi segala kendala yang mungkin muncul, terkait dengan kegiatan belajarnya. Jika hambatan belajar dapat diatasi dengan baik maka lebih besar kemungkinan siswa dapat memperoleh hasil belajar yang lebih baik.
Sejalan dengan pendapat Prayitno di atas, Tohirin (2007:159) juga mengemukakan tujuan layanan penguasaan konten, yaitu: agar siswa menguasai aspek-aspek konten (kemampuan atau kompetensi) tertentu secara terintegrasi. Penguasaan konten (kemampuan atau kompetensi) oleh siswa, akan berguna untuk menambah wawasan dan pemahaman, mengarahkan penilaian dan sikap, menguasai cara-cara tertentu, dalam rangka memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalah-masalahnya.
Berdasarkan pendapat Tohirin di atas dapat dipahami bahwa layanan penguasaan konten sangat berguna untuk menambah wawasan dan pemahaman siswa serta bisa mengarahkan sikap siswa ke arah yang lebih baik, dan melalui layanan penguasaan konten ini siswa diberikan keterampilan agar menguasai konten-konten tertentu. Salah satu materi layanan penguasaan konten yang bisa diberikan pada siswa adalah mengenai keterampilan membaca.
Sementara, tujuan layanan penguasaan konten menurut Prayitno (2004:3-4) secara khusus menurut Prayitno terkait dengan fungsi-fungsi konseling yaitu:
1) Fungsi pemahaman, menyangkut konten-konten yang isinya merupakan berbagai hal yang perlu dipahami. Dalam hal ini seluruh aspek konten (yaitu fakta, data, konsep, proses, hukum dan aturan, nilai, dan bahkan aspek yang menyangkut persepsi, afeksi, sikap dan tindakan) memerlukan pemahaman yang memadai. Konselor dan klien perlu menekankan aspek-aspek pemahaman dari konten yang menjadi fokus layanan penguasaan konten.
2) Fungsi pencegahan dapat menjadi muatan layanan penguasaan konten apabila kontennya memang terarah kepada terhindarkannya individu atau klien dari mengalami masalah tertentu.
3) Fungsi pengentasan akan menjadi arah layanan apabila penguasaan konten memang untuk mengatasi masalah yang sedang dialami klien 4) Penguasaan konten dapat secara langsung maupun tidak langsung
mengembangkan di satu sisi, dan disisi lain memelihara potensi individu atau klien. Pengajaran dan pelatihan dalam layanan penguasaan konten dapat mengemban fungsi pengembangan dan pemeliharaan.
5) Penguasaan konten yang tepat dan terarah memungkinkan individu membela diri sendiri terhadap ancaman ataupun pelanggaran atas hak-haknya. Dengan demikian, layanan penguasaan konten dapat mendukung fungsi advokasi.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa layanan penguasaan konten memiliki tujuan khusus yang terkait langsung dengan fungsi-fungsi konseling, yaitu fungsi pemahaman, pencegahan, pengentasan, pengembangan dan pemeliharaan, dan fungsi advokasi.
Kelima fungsi ini akan terealisasi dengan baik, apabila antara konselor dan klien terjalin sebuah kerjasama dalam mencapai tujuan, yaitu untuk menguasai konten tertentu yang menjadi kebutuhan klien.
c. Komponen Layanan Penguasaan Konten
Layanan penguasaan konten dapat terlaksana apabila komponen-komponen layanan penguasaan konten lengkap. Semua komponen-komponen layanan penguasaan konten saling berinteraksi demi kelancaran proses layanan. Tohirin (2007:4) mengungkapkan bahwa layanan penguasaan konten terdiri dari tiga komponen, yaitu “Konselor, individu dan konten”.
Jadi, komponen layanan penguasaan konten terdiri dari konselor, klien
25
dan konten tertentu. Konselor sebagai pemberi layanan memberikan konten-konten tertentu seperti kebiasaan belajar. Konselor merupakan tenaga ahli yang berperan memberikan layanan penguasaan konten.
Pemberian konten ini dapat dilengkapi dengan menggunakan media atau sarana pendukung lainnya. Sebelum konselor memberikan materi layanan penguasaan konten maka materi tersebut harus dikuasai secara sempurna oleh konselor.
Individu merupakan subjek penerima layanan dalam layanan penguasaan konten. Individu yang menerima layanan penguasaan konten adalah individu yang mempunyai permasalahan dirasa memerlukan penguasaan atas konten yang menjadi isi layanan. Individu dalam hal ini dapat berarti seorang atau sejumlah individu yang tergabunga dalam kelompok atau kelas.
Konten merupakan isi layanan penguasaan konten, yaitu satu unit materi yang menjadi pokok bahasan atau materi latihan yang dikembangkan oleh konselor dan diikuti atau dijalani oleh individu peserta layanan. Materi yang menjadi konten pada layanan penguasaan konten dapat diangkat dari berbagai jenis bidang pengembangangan dalam bimbingan konseling. Bidang-bidang tersebut adalah: pribadi, sosial, belajar dan karir.
d. Pendekatan dan Teknik Layanan Penguasaan Konten
Pelaksanaan layanan penguasaan konten diikuti oleh pendekatan dan teknik-teknik pelaksanaan layanan penguasaan konten. Secara umum layanan penguasaan konten dilaksanakan secara langsung dan tatap muka antara konselor dengan klien. Konselor secara aktif menyampaikan bahan, memberi contoh dan merangsang serta menggerakkan motivasi siswa agar aktif mengikuti materi dan kegiatan layanan. Prayitno (2004:8-9) menjelaskan ada dua pendekatan dalam layanan penguasaan konten yaitu :
1) High-touch, yaitu sentuhan-sentuhan tingkat tinggi yang mengenai, aspek-aspek kepribadian dan kemanusiaan peserta layanan (terutama aspek–aspek efektif, semangat, sikap, nilai dan moral), melalui implementasi oleh konselor.
a) Kewibawaan
b) Kasih sayang dan kelembutan c) Keteladanan
d) Pemberian penguatan
e) Tindakan tegas yang mendidik
2) High-tech, yaitu teknologi tingkat tinggi untuk menjamin kualitas penguasaan konten, melalui implementasi oleh konselor.
a) Materi pembelajaran (dalam hal ini konten) b) Metode pembelajaran
c) Alat bantu pembelajaran d) Lingkungan pembelajaran e) Penilaian hasil pembelajaran
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan layanan penguasaan konten diperlukan adanya high touch dan high tech. Dengan adanya high touch, akan terbangun suasana yang hangat dan akrab antara konselor dengan peserta layanan, sehingga kegiatan layanan tidak berjalan dengan kaku. Di samping itu, pelaksanaan layanan penguasaan konten perlu memperhatikan penggunaan teknologi atau alat pendukung demi lancarnya kegiatan layanan penguasaan konten.
Tohirin (2007:161) menambahkan, Konselor harus menguasai konten dengan berbagai aspeknya yang menjadi isi layanan.
Penguasaan konten oleh konselor mempengaruhi kewibawaannya di hadapan peserta layanan. Jadi, wawasan dan pemahaman konselor terhadap konten yang dibahas sangat mempengaruhi kinerja konselor. Jika konselor tidak paham dengan konten yang dibahasnya, maka tujuan yang ingin dicapai dari layanan penguasaan konten sulit dicapai.
Setelah konten dikuasai oleh peserta layanan, maka konselor dapat membawa konten tersebut ke arena layanan penguasaan konten dengan menggunakan berbagai teknik. Adapun teknik yang dipakai dalam
27
pelaksanaan layanan penguasaan konten menurut Prayitno (2004:10) yaitu:
(1) Penyajian, konselor menyajikan materi pokok konten, setelah para peserta disiapkan sebagaimana mestinya.
(2) Tanya jawab dan diskusi, konselor mendorong partisipasi aktif dan langsung para peserta, untuk memantapkan wawasan dan pemahaman peserta, serta berbagai kaitan dalam segenap aspek-aspek konten.
(3) Kegiatan lanjutan, sesuai dengan penekanan aspek tertentu dari konten dilakukan berbagai kegiatan lanjutan. Kegiatan ini dapat berupa:
(a) Diskusi kelompok
(b) Penugasan dan latihan terbatas (c) Survey lapangan, studi kepustakaan
(d) Percobaan (termasuk kegiatan laboratorium, bengkel, studio) (e) Latihan tindakan (dalam rangka pengubahan tingkah laku).
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan layanan penguasaan konten melewati tiga teknik yaitu penyajian materi konten oleh konselor, tanya jawab atau diskusi antara konselor dengan peserta layanan dan melakukan kegiatan lanjutan.
Kegiatan lanjutan yang dilakukan terkait dengan konten yang di bahas.
e. Asas-Asas Layanan Penguasaan Konten
Pelaksanaan layanan penguasaan konten mempunyai asas-asas atau ketentuan, menurut Prayitno (2004:6-7) “Layanan penguasaan konten pada umumnya bersifat terbuka, asas yang paling diutamakan adalah asas kegiatan, dalam arti peserta layanan diharapkan aktif mengikuti dan menjalani semua kegiatan yang ada dalam proses layanan”.
Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa asas yang paling diutamakan dalam layanan penguasaan konten adalah asas kegiatan, karena di dalam asas kegiatan klien yang biasanya mempunyai kebiasaan belajar main-main, acuh tak acuh, sering berbicara di lokal akan bisa terlatih karena, itu adalah salah satu cara meningkatkan prestasi
belajar siswa. Asas kegiatan ini harus diikuti siswa dengan aktif sehingga konten yang diberikan dapat dikuasai dan dilaksanakan oleh siswa tersebut, semua peserta layanan diminta untuk sukarela dan terbuka dalam mengikuti layanan penguasaan konten, karena dengan ketiga asas tersebut proses layanan akan berjalan lancar dengan keterlibatan penuh peserta layanan.
f. Operasionalisasi Layanan Penguasaan Konten
Layanan penguasaan konten mempunyai perencanaan yang dilaksanakan dan di evaluasi, menurut Prayitno (2004:15-17) operasionalisasi layanan penguasaan konten yaitu:
1) Perencanaan, sebelum melakukan kegiatan terlebih dahulu melakukan perencanaan yang mana di dalam perencanaan, menetapkan dahulu subjek peserta layanan, menetapkan konten yang akan dibahas atau yang akan dipelajari, menetapkan langkah-langkah layanan dan menyiapkan fasilitas layanan, seperti komputer, in focus dan perlengkapan yang lainnya.
2) Pelaksanaan, mendiagnosis terlebih dahulu kesulitan belajar siswa, dan Pelaksanaan layanan ini menyediakan materi yang akan diberikan kepada siswa.
3) Evaluasi, menetapkan materi, materi yang akan di evaluasi, apabila sudah menetapkan materi evaluasi menetapkan langkah-langkah atau prosedurnya, dan mengaplikasikan instrumen evaluasi dan mengolah hasil evaluasi tersebut.
4) Analisis hasil evaluasi, menetapkan norma/ standar evaluasi, dan melakukan analsis dari yang telah dievaluasi, lalu menafsirkan hasil evaluasi tersebut.
5) Tindak lanjut, memberikan tindak lanjut dan arahan kepada peserta didik dan menentukan rencana dan tindak lanjut kepada peserta didik.
6) Laporan, menyusun laporan setelah melaksanakan layanan penguasaan konten dan menyampaikannya kepada pihak terkait.
Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa dalam melakukan kegiatan layanan penguasaan konten telah ditetapkan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, analisis evaluasi, tindak lanjut, dan laporan. Artinya sebelum melakukan kegiatan harus
29
direncanakan terlebih dahulu agar hasilnya lebih baik dan juga di akhiri dengan pelaporan hasil kegiatan yang telah dilakukan.