• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum Perusahaan

2.1.3 Layout / Tata Letak Pabrik

Percetakan Prestasi Agung Pratama terdiri dari 2 bangunan yang terpisah kurang lebih 500 m.

6.00 8.00 5.00 5.00 6.00 11.00 16.00 11.00 11.00 5.00 24.00 6.00 D C A B E F G Scale: 1:100 BANGUNAN I

U

H I

Gambar 2.1 Layout Bangunan I Area Produksi Percetakan Prestasi Agung Pratama

Dari Gambar 2.1 dapat dijelaskan bahwa bangunan ini mempunyai luas kurang lebih 810 m2 yang terdiri dari beberapa bagian atau stasiun kerja, yaitu :

- A merupakan mushola

- B merupakan gudang bahan baku I - C merupakan kamar mandi

- D merupakan tempat membuat plat cover dan WEB - E merupakan tempat mesin cetak WEB

- F merupakan gudang produk jadi III

- G dan H merupakan ruang kosong (free space) yang belum digunakan - I merupakan akses keluar masuk serta area parkir

12.00 11.00 24.00 8.10 RUMAH LAHAN KOSONG N M J K L O P Q 8.10 5.30 12.00 5.70 12.00 7.20 5.70 12.00 Scale: 1:100 BANGUNAN II

U

T 5.00 5.00 1.50 8.80 R S U

Gambar 2.2 Layout Bangunan II Area Produksi Percetakan Prestasi Agung Pratama

Dan dari Gambar 2.2 dapat dijelaskan bahwa bangunan ini mempunyai luas kurang lebih 360 m2 yang terdiri dari beberapa bagian atau stasiun kerja, yaitu :

- J merupakan bagian penyusunan dan penjilidan

- K merupakan gudang produk jadi I dan tempat mesin packing I - L merupakan tempat mesin potong I dan II

- M merupakan gudang bahan baku II - N merupakan tempat mesin cetak cover

- O merupakan tempat mesin potong III dan mesin packing II - P merupakan gudang produk jadi II

- Q merupakan tempat parkir - R merupakan mushola

- S merupakan kamar mandi - T merupakan kamar mandi - U merupakan halaman

Letak kantor Percetakan Prestasi Agung Pratama yaitu berada di lantai 2 di atas bangunan O, P, dan Q, dengan ukuran 8,1 m x 12 m. Untuk layout kantor dapat dilihat pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3Layout Kantor Percetakan Prestasi Agung Pratama

Dan dari Gambar 2.3 dapat dijelaskan bahwa untuk bagian kantor Percetakan Prestasi Agung Pratama mempunyai luas sebesar 97,2 m2, yang terdiri dari beberapa bagian, yaitu :

- A merupakan ruangan untuk pimpinan perusahaan

- B merupakan ruang karyawan yang bekerja dalam penyusunan, pengetikan, dan pengeditan naskah dan cover Lembar Kegiatan siswa (LKS).

- C merupakan ruang administrasi kantor

- D merupakan tempat pertemuan umum atau ruang tamu 2.2 ERGONOMI

Ergonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu : Ergon berarti kerja dan Nomos berarti dalil, peraturan, dan hukum. Ergonomi adalah penerapan ilmu-ilmu biologis tentang manusia, ilmu teknik, dan berbagai disiplin ilmu lainnya untuk mencapai penyesuaian yang optimal antara manusia, pekerjaan, dan lingkungan kerja (Hadiguna, 2008). Ergonomi sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu ilmu yang secara sistematis dapat memanfaatkan berbagai informasi yang berkaitan dengan sifat, kemampuan, dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja sedemikian rupa sehingga manusia dapat bekerja dan hidup pada sistem yang baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan tersebut dengan nyaman, aman, dan efektif (Hadiguna, 2008). Ergonomi juga didefinisikan sebagai disiplin keilmuan yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaannya (Wignjosoebroto, 2003).

Tujuan ergonomi adalah menambah efektivitas penggunaan objek fisik dan fasiltas yang digunakan oleh manusia dan merawat atau menambah nilai tertentu, misalnya kesehatan, kenyamanan, dan kepuasan, pada proses penggunaan tersebut. Ergonomi sangat penting diterapkan saat kita melakukan proses perancangan system kerja. Jika dalam melakukan proses perancangan para desainer tidak menerapkan prinsip-prinsip ergonomi, maka akan terjadi hal-hal sebagai berikut (Hadiguna, 2008):

1. Menurunnya keluaran produksi. 2. Meningkatnya loss time.

3. Tingginya biaya medis yang harus disediakan. 4. Tingginya biaya material.

5. Meningkatnya ketidakhadiran karyawan. 6. Rendahnya kualitas kerja.

8. Meningkatnya kemungkinan terjadi kecelakaan dan kesalahan kerja. 9. Meningkatnya pergantian karyawan.

10. Menurunnya cadangan kapasitas untuk transaksi-transaksi yang darurat atau tidak terduga.

Prinsip penting yang harus selalu diterapkan pada setiap perancangan adalah fitting the job to the man rather than the man to the job (Hadiguna, 2008). Dalam hal ini, pekerjaan harus disesuaikan agar selalu berada dalam jangkauan kemampuan serta keterbatasan manusia. Bila kita pandang dari segi sistem, maka sistem yang baik hanya dapat bekerja bila terdiri atas (Hadiguna, 2008) :

1. Komponen sistem yang telah dirancang dan disesuaikan dengan apa yang akan dibutuhkan manusia.

2. Komponen sistem yang saling berinteraksi secara terpadu dalam usaha menuju tujuan bersama.

Gambar 2.4Ilustrasi pentingnya ergonomi dalam perancangan

Sumber: Hadiguna, 2008

Agar bisa menerapkan ergonomi, kita memerlukan informasi yang lengkap mengenai manusia dengan segala keterbatasannya. Salah satu cara

mendapatkan informasi tersebut adalah dengan melakukan penelitian-penelitian yang dapat dikelompokkan menjadi empat bagian (Hadiguna, 2008) yaitu :

1. Penelitian tentang display; yaitu bagian lingkungan yang mengkomunikasikan keadaannya pada manusia.

2. Penelitian mengenai hasil kerja manusia dan proses pengendaliannya; dalam hal ini, pemeliti menyelidiki aktivitas-aktivitas manusia saat bekerja dan kemudian mempelajari cara mengukur setiap aktivitas. Penelitian demikian banyak berhubungan dengan biomekanika.

3. Penelitian mengenai tempat kerja; yaitu memperoleh hasil kerja yang baik, dalam artian sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan manusia; maka ukuran-ukuran tempat kerja harus sesuai dengan tubuh manusia. Hal-hal yang berhubungan dengan tubuh manusia dipelajari dalam antropometri.

4. Penelitian mengenai lingkungan fisik; lingkungan fisik di sini meliputi ruangan atau fasilitas-fasilitas yang biasa digunakan oleh manusia serta lingkungan kerja, di mana keduanya banyak mempengaruhi tingkah laku manusia.

Gambar 2.5 Tata letak berdasarkan metode kerja yang telah dibakukan

Sumber: Hadiguna, 2008.

Secara umum tujuan dari penerapan ergonomi (Tarwaka, 2004), yaitu:

a. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cidera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.

b. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial, mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna dan meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif.

c. Menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai aspek yaitu aspek teknis, ekonomis, antropologis dan budaya dari setiap sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi. 2.3 ANTHROPOMETRI

Antropometri menurut Stevenson (1989) dan Nurmianto (2008) adalah satu kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteritik fisik ukuran tubuh manusia, bentuk, dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah desain.

Perancangan lingkungan kerja fisik manusia pada umumnya berbeda-beda dalam hal bentuk dan dimensi ukuran tubuhnya. Beberapa faktor yang mempengaruhi ukuran tubuh manusia antara lain yaitu (Nurmianto,2008) : a. Jenis kelamin (sex)

Secara distribusi statisktik terdapat perbedaan yang signifikan antara dimensi tubuh pria dan wanita. Jenis kelamin pria umumnya memiliki dimensi tubuh yang lebih besar disbanding wanita. Oleh karenanya data antropometri untuk kedua jenis kelamin selalu disajikan terpisah.

b. Umur (age)

Penggolongan atas beberapa kelompok umur yaitu: balita, anak-anak, remaja, Entity atribut relationship Key atribut 12 dewasa, dan lanjut usia. Antropometri tubuh manusia akan cenderung meningkat sampai batas usia dewasa. Namun setelah mencapai usia dewasa, tinggi badan manusia mempunyai kecenderungan untuk menurun yang antara lain disebabkan oleh berkurangnya elastisitas tulang belakang (invertebral

discs).

c. Suku bangsa (etnic)

Setiap suku bangsa ataupun kelompok etnic memiliki karakteristik fisik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dimensi tubuh suku bangsa negara Barat pada umumnya berukuran yang lebih besar daripada dimensi tubuh suku bangsa negara Timur.

d. Jenis Pekerjaan

Beberapa jenis pekerjaan tertentu menuntut adanya persyaratan dalam seleksi karyawannya. Misalnya pekerjaan buruh mengharuskan orang-orang yang berpostur lebih besar dibanding pekerja kantoran. Sedangkan menurut Wignjosoebroto (2003) dimensi tubuh manusia juga dipengaruhi oleh tingkat sosio ekonomi. Pada negara-negara maju dengan tingkat sosio ekonomi tinggi, penduduknya mempunyai dimensi tubuh yang besar dibandingkan dengan negara-negara berkembang.

e. Posisi tubuh (posture)

Sikap ataupun posisi tubuh akan berpengaruh terhadap ukuran tubuh oleh karena itu harus posisi tubuh standar harus diterapkan untuk survei pengukuran.

Berkaitan dengan posisi tubuh manusia dikenal dua cara pengukuran, yaitu:

Pengukuran manusia pada posisi diam atau yang dibakukan. Disebut juga pengukuran dimensi struktur tubuh dimana tubuh diukur dalam berbagai posisi standart dan tidak bergerak (tetap tegak sempurna). Pengukuran antropometri statis menjadi penting karena pengukuran ini menjadi dasar dalam perancangan produk dan lingkungan kerja yang digunakan.

2. Antropometri Dinamis (Functional Body Dimensions)

Yang dimaksud Antropometri dinamis adalah pengukuran keadaan dan ciri-ciri fisik manusia dalam keadaan bergerak atau memperhatikan 13 gerakan-gerakan yang mungkin terjadi saat pekerja tersebut melaksanakan kegiatannya.

Selanjutnya untuk memperjelas mengenai data Antropometri yang tepat diaplikasikan dalam berbagai rancangan produk ataupun fasilitas kerja, diperlukan pengambilan ukuran dimensi anggota tubuh. Penjelasan mengenai pengukuran dimensi antropometri tubuh yang diperlukan dalam perancangan dijelaskan pada gambar berikut :

Gambar 2.6 Gambar dimensi struktur kepala Sumber : Nurmianto, 2008

Keterangan gambar 3 diatas, yaitu: 1 = panjang kepala

2 = lebar kepala

3 = diameter maksimum dagu 4 = dagu ke puncak kepala 5 = telinga ke puncak kepala 6 = telinga ke belakang kepala 7 = antara dua telinga

8 = mata ke belakang kepala 9 = mata ke puncak kepala 10 = antara dua pupil mata 11 = hidung ke puncak kepala 12 = hidung ke belakang kepala 13 = mulut ke puncak kepala 14 = lebar mulut

Gambar 2.7 Antropometri tubuh manusia yang diukur dimensinya

Sumber : Nurmianto, 2008 Keterangan gambar :

1. Dimensi tinggi tubuh dalam posisi tegak 2. Tinggi mata dalam posisi berdiri tegak 3. Tinggi bahu dalam posisi berdiri tegak 4. Tinggi siku dalam posisi berdiri tegak

5. Tinggi kepalan tangan yang terjulur lepas dalam posisi berdiri tegak (dalam gambar tidak ditunjukkan)

6. Tinggi tubuh dalam posisi duduk 7. Tinggi mata dalam posisi duduk 8. Tinggi bahu dalam posisi duduk 9. Tinggi siku dalam posisi duduk 10. Tebal atau lebar paha

11. Panjang paha yang diukur dari pantat s/d ujung lutut

12. Panjang paha yang diukur dari pantat s/d bagian belakang dari ujung lutut

13. Tinggi lutut yang bisa diukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk 14. Tinggi tubuh dalam posisi duduk yang diukur dari lantai sampai dengan paha

15. Lebar dari bahu 16. Lebar pinggul/pantat

17. Lebar dari dada dalam keadaan membusung 18. Lebar perut

19. Panjang siku yang diukur dari siku sampai ujung jari dalam posisi siku tegak lurus

21. Panjang tangan diukur dari pergelangan sampai dengan ujung jari dalam posisi tegak

22. Lebar telapak tangan

23. Lebar tangan dalam posisi terbentang

24. Tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri tegak 25. Tinggi jangkauan tangan dalam posisi duduk tegak 26. Jarak jangkauan tangan yang terjulur ke depan

Dokumen terkait