• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAZ MHC 10. LAZ DMI

11. LAZ Swadaya Ummah

Tapi, di luar lembaga amil zakat yang telah terdaftar, kata Arifin masih banyak lembaga yang belum terdaftar. "Kami sarankan lembaga yang belum mendaftar ini untuk mendaftar (ke Kementerian Agama)," jelas Arifin.

Hingga saat ini Baznas terus melakukan verifikasi lembaga yang sudah/

belum mendaftar di Kementerian Agama. Hal ini cukup penting agar para Muzaki (orang dengan wajib zakat) dapat mengalokasi dana zakatnya kepada yang berhak mendapatkan.

Alasan penulis memilih penelitian di Lembaga Amil Zakat Dompet Dhuafa karena Pengalaman Dompet Dhuafa yang cukup kaya dalam mengelola dana yang bersumber dari Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf (Ziswaf) telah banyak dipercaya oleh masyarakat dan juga pemerintah. Saat ini, Dompet Dhuafa mampu menyaingi lembaga amil pemerintah yang mana telah terlebih dahulu hadir seperti (Badan Amil Zakat, Infak dan Sedekah) BAZIS Jakarta. Namun dengan adanya pengelolaan manajemen yang baik, Dompet Dhuafa kini menjadi pelopor sebagai lembaga yang professional dalam kinerja manajemen lembaganya.

Lembaga Dompet Dhuafa ini penting untuk dikaji, karena ada beberapa perbedaan yang menonjol dari LAZ lainnya di Indonesia. Pertama, Dompet Dhuafa merupakan salah satu lembaga amil zakat non pemerintah yang pertama kali menerapkan manajemen filantropi modern, dahulu pengelolaan zakat di

Indonesia masih bersifat tradisional. Kedua, dengan menerapkan filantropi Modern tersebut, Dompet Dhuafa berpeluang juga dalam mengarahkan dana filantropi Islam yang dikelolanya untuk mendukung sebuah inisiatif keadilan sosial. Ketiga, Dompet Dhuafa dilahirkan dari komunitas pers (harian umum Republika) dan cendekiawan muda perkotaan. Keempat, dengan adanya manajemen filantopi Islam tersebut, Dompet Dhuafa telah menciptakan citra positif di kalangan masyarakat perkotaan. Perkembangan yang cukup baik tentunya, dan Dompet Dhuafa juga banyak mengalami transformasi yang cukup baik yakni dengan adanya program inovasi pada lembaga tersebut. Dompet Dhuafa bukan hanya lembaga zakat tetapi juga menjadi lembaga sosial- kemanusiaan. Lembaga Dompet Dhuafa merupakan salah satu potret perkembangan filantropi / kemanusiaan Islam terbaik di Indonesia.

Perkembangan Dompet Dhuafa Republika kini telah dapat menyaingi lembaga zakat pemerintah, perjalanan Dompet Dhuafa menuju kesuksesan tersebut perlu dipelajari lebih dalam dan dikaji lebih lanjut, bagaimana keberhasilan Dompet Dhuafa dalam mengelola manajemennya, transformasi Dompet Dhuafa, dan kunci keberhasilan lembaga sehingga Dompet Dhuafa lebih populer ketimbang LAZ lainnya.

Tabel 1.1 : Jumlah Penghimpunan ZIS Dompet Dhuafa Provinsi Riau Periode 2013 - 2019

11

Sumber : Laporan dari Dompet Dhuafa Provinsi Riau

Pada tabel 1.1 jumlah penerima zakat dari tahun ke tahun terus meningkat.

Dengan cukup banyaknya pembayar zakat di Dompet Dhuafa Provinsi Riau, Serta mudahnya alur pembayaran zakat pada umumnya. Jadi, Bagaimana dengan pihak Dompet Dhuafa dalam penerapan prinsip transparansy, prinsip accountability, prinsip responcibility, prinsip independency dan prinsip fairness, Apakah sudah sesuai dengan yang telah diatur dan disebutkan dalam undang undang nomor 23 tahun 2011 tentang pengelolaan zakat, dimana komponen tersebut yang dapat meningkatkan kualitas laporan keuangan dan membantu pengelolaan zakat dalam memastikan bahwa Lembaga amil zakat telah taat pada ketentuan, hukum dan peraturan. Yaitu tentang pengumpulan, pengelolaan, dan pendistribusian zakat dari masyarakat, untuk meningkatkan potensi zakat sehingga mengurangi kemiskinan.

Gambar I.1: Jumlah Penerima Manfaat dan Donatur pada LAZ Dompet Dhuafa Riau 2019

13

Gambar I.2: Penerimaan dan Penyaluran Zakat, Infak, Sedekah LAZ Dompet Dhuafa Riau 2019

Berdasarkan hasil Observasi yang peneliti lakukan, Dimana Dompet Dhuafa 21Provinsi Riau ditemukan beberapa permasalahan, antara lain yaitu tentang Akuntabilitas yaitu kesadaran yang rendah masyarakat khususnya di Kota Pekanbaru untuk membayarkan zakatnya melalui LAZ. Jika dilihat, masyarakat Kota Pekanbaru, terutama masyarakat perkotaan, mayoritas mempunyai usaha disektor bisnis. Oleh karena itu potensi Zakat yang terdapat di Pekanbaru sangatlah besar. Akan tetapi hal tersebut belum dapat dimaksimalkan oleh lembaga pengelola Zakat yang ada. Pengelolaan Zakat yang baik dan transparan

oleh Lembaga Amil Zakat dapat meningkatkan kepercayaan muzaki untuk mau membayarkan zakat melalui Lembaga Amil Zakat.

Jadi dalam hal ini dibutuhkan lembaga yang professional, Banyak kriteria profesionalisme untuk dijadikan pijakan pengelolaan sebuah lembaga zakat.

Adnan dalam Widodo dan Kustiawan (2001) menyebut profesinalisme seseorang atau lembaga dapat ditandai dengan beberapa karakteristik, yaitu:

1. Kecakapan, kompetensi teknis dan manajemen.

2. Pendidikan 3. Penghasilan

4. Keterikatan pada asosiasi profesi 5. Etika profesi

6. Totalitas

7. Keterbukaan atau transparansi.

Jadi jika dilakukan oleh orang yang prefesional seperti sosialisasi yang baik kepada masyarakat yang sesuai dengan karakteristik tersebut akan meningkatkan kepercayaan para pembayar zakat untuk membayarkan zakatnya melalui lembaga tersebut.

Kemudian yaitu masalah responsibility dimana menurut peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara nomor: per- 01/MBU/2011 bahwa responsibility yaitu kesesuaian didalam pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang undangan dan prinsip prinsip korporasi yang sehat. Baik aturan-aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah maupun aturan aturan yang berlaku, baik yang bersumber dari Al Quranul Qarim. hadits nabi yang shahih.

15

Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas, penulis ingin meneliti lebih dalam tentang Evaluasi Penerapan Undang - Undang No 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat Di Provinsi Riau Study Dompet Dhuafa Provinsi Riau.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan Latar Belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana Evaluasi Pelaksanaan Undang - Undang No 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat Di Provinsi Riau Study Dompet Dhuafa Provinsi Riau.

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian a. Tujuan Penelitian

Berdasarkan Latar Belakang dan Fenomena di atas, maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk menganalisis Pelaksanaan Undang-undang No 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat di Dompet Dhuafa Provinsi Riau.

2. Untuk Mengetahui hambatan dalam pengelolaan zakat di Dompet Dhuafa Provinsi Riau.

b. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan akan diperoleh melalui penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah:

1. Secara Teoritis

Sebagai penerapan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan Evaluasi Pelaksanaan Undang - Undang No 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat Di Provinsi Riau Study Dompet Dhuafa Provinsi Riau.

2. Secara praktisi

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pengetahuan serta memperdalam pemahaman tentang Evaluasi Pelaksanaan Undang - Undang Tentang Pengelolaan Zakat Di Provinsi Riau.

3. Secara Akademisi

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan informasi untuk penelitian selanjutnya serta bahan masukan yang bermanfaat bagi banyak pihak yang ingin mempelajari tentang evaluasi pelaksanaan undang-undang dan sebagai bahan referensi untuk penelitian yang sama dengan mengikuti perkembangan yang lebih uptodate dan keadaan masyarakat yang telah terjadi pada saat itu serta dapat menambah bahan pustaka.

17

BAB II

Dokumen terkait