• Tidak ada hasil yang ditemukan

Legal standing pemohon 3

PEMBAHASAN TERHADAP PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI

1. Legal standing pemohon 3

dimanfaatkan untuk kesejahteraan desa disebut hutan desa.

Hutan negara yang pemanfaatan utamanya ditujukan untuk

memberdayakan

masyarakat disebut hutan kemasyarakatan.

Hutan hak yang berada pada tanah yang dibebani hak milik lazim disebut hutan rakyat

1. Legal standing pemohon3

Pihak yang dapat menjadi pemohon dalam pengujian un-dang-undang di hadapan Mahkamah Konstitusi adalah pihak yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-undang. Pihak yang mengaju-kan pengujian undang-undang terhadap UUD 1945 harus terle-bih dahulu menjelaskan dan membuktikan dua hal, yaitu: (a) Kualifi kasi diri atau pihaknya sebagai Pemohon; dan (b) Diri atau pihaknya harus dapat menunjukkan bahwa hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya telah dirugikan oleh berlakunya Undang-Undang.

Berdasarkan Pasal 51 ayat 1 UU Mahkamah Konstitusi, kualifi kasi pemohon dalam pengujian undang-undang dibagi ke dalam empat kategori, yaitu:

3 Ultra Petita adalah penjatuhan hukuman atau putusan di luar apa yang dim-inta oleh pemohon. Pada dasarnya hal ini tidak boleh dilakukan oleh pengadilan, teru-tama dalam perkara-perkara kriminal. Namun, praktek peradilan teruteru-tama pada peradi-lan perdata, administrasi dan ketatanegaraan dapat menerima putusan ultra petita untuk memenuhi keadilan bagi pemohon maupun untuk menciptakan satu sistem hukum yang utuh dan harmonis. Dalam praktik di Mahkamah Konstitusi, ultra petita dilakukan untuk menciptakan keselarasan aturan hukum guna memenuhi hak-hak konstitusional warga negara

a. perorangan warga negara Indonesia (termasuk kelompok orang yang mempunyai kepentingan sama);

b. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-un-dang;

c. badan hukum publik atau privat; atau d. lembaga negara.

UU Mahkamah Konstitusi menjadikan kesatuan masyarakat hukum adat sebagai kategori khusus pemohon yang dapat meng-ajukan permohonan pengujian undang-undang kepada Mahkamah Konstitusi. Selanjutnya penjelasan Pasal 51 ayat (1) UU Mahkamah Konstitusi memberikan batasan bahwa hanya hak-hak yang secara eksplisit diatur dalam UUD 1945 saja yang termasuk kerugian konstitusional yang menjadi dasar bagi pengajuan permohonan pengujian undang-undang. Adapun “kerugian hak dan/atau ke-wenangan konstitusional” sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) UU Mahkamah Konstitusi pernah dijelaskan melalui putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara No. 006/PUU-III/

2005 tertanggal 31 Mei 2005 dan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 11/PUU-V/2007 bertanggal 20 September 2007, serta putusan-putusan selanjutnya yang menentukan bahwa kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional harus memenuhi lima syarat, yaitu:

a. adanya hak dan/atau kewenangan konstitusional Pemohon yang diberikan oleh UUD 1945;

b. bahwa hak dan/atau kewenangan konstitusional Pemohon tersebut dianggap oleh Pemohon telah dirugikan oleh suatu Undang-Undang yang diuji;

c. bahwa kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional Pemohon yang dimaksud bersifat spesifi k (khusus) dan aktual atau setidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi;

d. adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara ke-rugian dan berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan pengujian;

e. adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan maka kerugian dan/atau kewenangan konstitusional yang didalilkan tidak akan atau tidak terjadi lagi;

Apabila kelima syarat tersebut tidak dipenuhi oleh Pemohon dalam perkara pengujian Undang-Undang, maka Pemohon tidak memiliki kualifi kasi sebagai pihak yang memiliki kedudukan hukum (legal standing) sebagai Pemohon dalam perkara pengujian undang-undang di Mahkamah Konstitusi.

Pemohon dalam Perkara No. 35/PUU-X/2012 adalah tiga pemohon yaitu: (1) AMAN yang diwakili oleh Ir. Abdon Nababan; (2) Kesatuan Masyarakat Hukum Adat Kenegerian Kuntu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau yang diwakili oleh H. Bustamir; dan (3) Kesatuan Masyarakat Hukum Adat Kasepuhan Cisitu, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten yang diwakili oleh H. Moch Okri alias H. Okri. Pada pemohon dalam perkara ini mendalilkan bahwa ketentuan-ketentuan yang diminta untuk diuji secara langsung atau tidak langsung menimbulkan kerugian terhadap hak-hak konstitusional para pemohon yaitu:

a. hilangnya akses Pemohon I melakukan usaha pemajuan, pen-dampingan, dan perjuangan hak-hak masyarakat hukum adat;

b. hilangnya hak ulayat atas hutan, akses pemanfaatan, dan pengelolaan kawasan hutan adat Pemohon II dan Pemohon III;

dan

c. terjadinya kriminalisasi terhadap Pemohon III karena masuk kawasan hutan;

Para pemohon juga melengkapi syarat-syarat formal dengan menunjukkan bukti-bukti mengenai keberadaan mereka. AMAN misalnya menunjukkan Akta Notaris pendiriannya yang berbentuk persekutuan, sementara Kenegerian Kuntu dan Kasepuhan Cisitu menunjukkan adanya pengakuan pada tingkat Kabupaten melalui Peraturan Daerah (Kabupaten Kampar, Riau) maupun SK Bupati (Kasepuhan Cisitu, Lebak).

Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, Mahka-mah berpendapat bahwa Pemohon I adalah badan hukum privat yang peduli untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat hukum adat, sedangkan Pemohon II dan Pemohon III adalah kesatuan masyarakat hukum adat yang secara potensial dirugikan oleh berlakunya ketentuan-ketentuan dalam UU Kehutanan yang di-mohonkan pengujian, dan apabila dikabulkan maka kerugian konstitusional seperti yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi. Oleh karena itu, menurut Mahkamah, para Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan.

Hal yang menarik disimak dalam menentukan legal standing ini adalah bagaimana Mahkamah Konstitusi menilai pemohon memenuhi kualifi kasi sebagai masyarakat hukum adat, dalam hal ini yang diajukan oleh Masyarakat Hukum Adat Kenegerian Kuntu dan Masyarakat Hukum Adat Kasepuhan Cisitu. Pada kedua masyarakat hukum adat itu tidak ada peraturan daerah khusus yang menentukan mereka sebagai masyarakat hukum adat, sebagaimana yang dikehendaki berdasarkan Pasal 67 UU Kehutanan.

Di Kabupaten Kampar dimana Masyarakat Hukum Adat Kenegerian Kuntu berada, terdapat Peraturan Daerah Kabupaten Kampar No. 12 Tahun 1999 tentang Hak Tanah Ulayat. Perda itu mengatur tentang hak tanah ulayat secara umum, tidak secara khusus menentukan bahwa Masyarakat Kenegerian Kuntu adalah masyarakat hukum adat. Demikian pula pada Masyarakat Hukum adat Kasepuhan Cisitu yang dasar pengakuan keberadaannya juga bukan Perda, melainkan Surat Keputusan Bupati Lebak Nomor 430/Kep.318/Disporabudpar/2010 tentang Pengakuan Keberadaan Masyarakat Adat CisituKesatuan Sesepuh Adat Cisitu Banten Kidul Di Kabupaten Lebak. Penilaian Mahkamah Konstitusi bahwa kedua komunitas tersebut memenuhi kualifi kasi sebagai masyarakat hukum adat sebagai pemohon adalah yang pertama kalinya dalam sejarah pengujian undang-undang di hadapan Mahkamah Konstitusi. Penerimaan itu pun merupakan suatu bentuk pengakuan hukum yang dilakukan pengadilan terhadap keberadaan masyarakat hukum adat. Oleh karena itu, ketentuan dalam Pasal 67 UU Kehutanan yang menyatakan bahwa Perda sebagai alas hukum untuk menentukan status hukum masyarakat hukum adat harus dibaca sebagai salah satu jenis alas hukum.

Sehingga Perda bukanlah alas hukum satu-satunya, sebab dalam praktik, pengakuan terhadap keberadaan masyarakat hukum adat juga dilakukan dengan keputusan bupati, bahkan dengan putusan pengadilan sebagaimana dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi dalam perkara ini.