BAB II DEIKSIS WAKTU DALAM BAHASA ANGKOLA DI KECAMATAN
2.2 Perilaku Deiksis Waktu Dalam Bahasa Angkola
2.2.1 Leksem Ruang yang Mengungkapkan Pengertian Waktu
Leksem ruang yang mengungkapkan pengertian waktu dalam bahasa Angkola memakai kata seperti jolo ‘depan’, pudi ‘belakang’, ginjang ‘panjang’, pondok ‘pendek’
yang dipakai dalam pengertian waktu seolah-olah waktu merupakan hal yang diam, sedangkan leksem ruang seperti ro ‘datang’, lalu ‘lalu’, sampe ‘tiba’, mandonok
‘mendekat’ dalam pengertian waktu memberikan kesan bahwa waktulah yang bergerak melewati kita.
Kata jolo ‘depan’ dipergunakan dengan utaraan-utaraan seperti di bawah ini:
a. Minggu ‘minggu’
b. Kammis ‘kamis’
c. Bulan ‘bulan’ jolo ‘depan’
d. April ‘april’
e. Taon ‘tahun’
f. 1982
Contoh:10. Mangguari anakniai acarana minggu naro (B.A).
‘Menamai anaknya acara minggu depan’.
Acara menamai anaknya minggu depan (B.I).
Minggu naro ‘minggu depan’ dapat berarti tujuh hari saat dituturkan.
Contoh:11. Oppukku kammis naro giot kehe tu Siantar (B.A).
‘Nenekku kamis depan mau pergi ke Siantar’.
Kamis depan nenekku mau pergi ke Siantar (B.I).
Kammis naro ‘kamis depan’ kamis berikutnya atau tujuh hari saat dituturkan.
Contoh:12. Emenai mabisa disabi bulan naro (B.A).
‘Padinya sudah bisa dipanen bulan depan’.
Bulan depan padinya sudah bisa dipanen (B.I).
Bulan naro ‘bulan depan’ jangka waktu paling banyak 30 atau 31 hari saat dituturkan.
Contoh:13. Akkangku masiap giot marnikah bulan April naro (B.A).
‘Kakakku sudah siap akan menikah bulan April naro’.
Bulan April depan kakakku sudah siap akan dinikahkan (B.I).
April naro ‘April depan’ diucapkan sebulan sebelumnya.
Contoh:14. Si Rahmad taon naro giot maccuba mangalamar karejo (B.A).
‘Rahmad tahun depan akan mencoba melamar kerja’.
Rahmad akan mencoba melamar kerja tahun depan (B.I).
Taon naro ‘Tahun depan’ bertitik labuh pada tahun sesudah berakhirnya saat tuturan.
Akan tetapi, apabila nama tahun disebutkan maka nama tahun itu tidak dapat dirangkaikan dengan kata depan. Nama hari dan nama bulan dapat dirangkaikan dengan kata depan karena bersiklus. Dalam perputaran waktu setiap kali dapat berulang lagi.
Nama tahun tidak bersiklus; sekali disebutkan dalam perputaran waktu selanjutnya tidak dapat berulang lagi penyebutannya. Oleh karena itu, utaraan 1982 tidak gramatikal untuk mengutarakan kala depan bagi nama tahun.
Kata depan yang dirangkaikan dengan bentuk bukan kalender, seperti maso ‘masa’, kata hari ‘hari’ mempunyai jangkauan waktu yang tidak tertentu, tidak terbatas (tidak seperti kalau dirangkaikan dengan satuan kalender).
Contoh: 15. Diari naro anggo bisa ho mang manjadi anak napade (B.A).
‘Dihari depan kalau bisa anakku jadi anak yang baik’.
Anakku kalau bisa jadi anak yang baik dihari depan (B.I).
Dalam bahasa Angkola tidak ditemukan kata jolo ‘depan’ di dalam kalimat yang digunakan adalah kata naro ‘depan’.
Kata pudi ‘belakang’ (sebagai lawan dari kata depan dan muka) tidak ditemukan dalam utaraan-utaraan seperti pada contoh di atas, tetapi dapat dijumpai dalam utaraan seperti contoh di bawah ini:
Contoh:16. Bayar di pudi
‘Bayar di belakang’
Sebagai lawan dari utaraan Bayar sabolumna
‘Bayar sebelumnya’
Tidak seperti kata jolo ‘depan’, kata ro ‘datang’ (yang juga menunjuk pada waktu yang akan datang) tidak dapat dirangkaikan secara langsung dengan satuan kalender, perangkaiannya memerlukan kata na ‘yang’ dan giot ‘akan.
Contoh:17. a. Minggu ‘minggu’
b. Kammis ‘kamis’
c. Bulan ‘bulan’ nagiot ro
d. April ‘april’ ‘yang akan datang’
e. Taon ‘tahun’
f. 1982
Satuan kalender yang dirangkaikan dengan kata ro ‘datang’ ini mempunyai titik labuh yang sama seperti yang dirangkaikan dengan kata naro ‘depan’.Hanya bedanya, nama tahun tidak dapat dirangkaikan dengan kata naro ‘depan’ tetapi dapat dirangkaikan dengan kata ro ‘datang’. Perbedaan lainnya adalah bahwa kata ro ‘datang’ dapat dirangkaikan dengan ukuran waktu, sedangkan kata naro ‘depan’ tidak dapat dirangkaikan.
Contoh:18.
a. Opat ari ‘empat hari’
b. Opat minggu ‘empat minggu’ nagiot ro
c. Opat bulan ‘empat bulan’ ‘yang akan datang’
d. Opat taon ‘empat tahun’
Sebagai ganti kata ro ‘datang’ dipergunakan kata mendatang maka kata yang dan kata akan tidak dipakai.
Contoh:19. a. Minggu ‘minggu’
b. Kammis ‘kamis’
c. Bulan ‘bulan’ nagiot
d. April ‘april’ ‘mendatang’
e. Taon ‘tahun’
f. 1982
20. a. Opat ari ‘empat hari’
b. Opat minggu ‘empat minggu’ nagiot c. Opat bulan ‘empat bulan’ ‘mendatang’
d. Opat taon ‘empat tahun’
Sebagai lawan kata depan dan datang dipergunakan kata lalu untuk menunjuk pada kala lampau. Untuk nmerangkaikan satuan kalender dengan kata lalu dan kata yang tidak wajib disebutkan.
Contoh:21.
a. Minggu ‘minggu’
c. Bulan ‘bulan’
b. Kammis ‘kamis’ (na) lalu
d. April ‘april (yang) lalu
e. Taon ‘tahun’
f. 1982
Untuk mengukur waktu yang sudah lampau juga dipakai rangkaian dengan kata lalu.
Contoh:22.
a. Opat ari ‘empat hari’
b. Opat minggu ‘empat minggu’ na lalu c. Opat bulan ‘empat bulan yang lalu d. Opat taon ‘empat tahun’
Satuan yang bukan kalender dapat dirangkaikan dengan kata lalu adalah kata masa.
Untuk perangkaian ini kata yang tidak wajib disebutkan.
Contoh:23.
maso (na) lalu Masa (yang) lalu
Bahwa kata waktu merupakan hal yang bergerak menuju ke arah kita, tampak pula dalam rangkaian dengan kata berlalu, tiba, mendekat dan dekat.
Contoh:24. a. Tai dua taon nalewat si Dedi totop pade (B.A).
‘ Tapi dua tahun sudah berlalu Dedi tetap baik’.
Tapi dua tahun sudah berlalu, ternyata Dedi tetap baik (B.I).
b. Naron potang, giot kehe halei tubagasni si Rahmad (B.A).
‘Tiba malam, akan pergi orang itu kerumahnya Rahmad’
Malam tiba, orang itu akan pergi kerumahnya Rahmad (B.I).
c.Sambil paittehon nagiot ari horjai, mur honok mur mandonok (B.A).
‘Sambil menunggu diadakannya hari pesta semakin lama semakin mendekat’
Sambil menunggu hari diadakannya pesta semakin lama semakin mendekat (B.I).
d. Si Dini jadi mabiar, mur donok dohot ari nagiot operasi (B.A) ‘Dini jadi ketakutan, makin dekat dengan hari yang akan dioperasi’
Makin dekat dengan hari yang akan dioperasi, Dini jadi ketakutan (B.I).
Patokan untuk mengukur ruang, seperti nginjang ‘panjang’ pondok ‘pendek’ juga dapat dipakai untuk mengukur waktu.
Contoh:25. a. Nginjang tu pudi bontuk ni bagasi (B.A).
‘Panjang ke belakang bentuk rumah itu’
Bentuk rumah itu panjang ke belakang (B.I) b. Nattara pondok ukuranni lamarii (B.A).
‘Sangat pendek ukuranlemari itu’
Ukuran lemari itu sangat pendek (B.I).
Selain kata pondok ‘pendek’ kata donok ‘dekat’ juga dipergunakan untuk mengukur waktu.
Contoh:26. a. Tai anggo dalam waktuon gajikku napodo dilehen bulanon najadi muse akkon siar au (B.A)
‘Tapi kalau dalam waktu dekat ini gajikku belum dikasih bulan ini belum jadi lagi akan marah saya’.
Gajikku belum dikasih bulan ini, tapi kalau dalamwaktu dekat ini belum jadi lagi saya akan marah (B.I).
Tetapi tidak ada utaraan dalam bahasa Angkola dao waktu ‘waktu jauh’ yang ada adalah lolot waktu ‘waktu lama’.
Contoh:27. a. Dalam waktu honok karejoon akkon disidukkon (B.A).
‘Dalam waktu lama pekerjaan ini akan diselesaikan’.
Pekerjaan ini akan diselesaikan dalam waktu lama (B.I).
Waktu yang dirasakan sebagai hal yang diam dapat dijumpai dalam utaraan dengan kata mangan ‘makan’, habis ‘habis’, ambukkon ‘buang’,manakko ‘curi’.
Contoh:28. a. Karejo on akkon mangan waktu tolu jom (B.A).
‘Pekerjaan ini akan memakan waktu tiga jam’.
Pekerjaan ini akan memakan waktu tiga jam (B.I).
Contoh:29. b.Giot manyidukkon karejo on au mangabiskon waktu onom jom (B.A).
‘Untuk menyelesaikan pekerjaan ini saya menghabiskan waktu enam jam’.
Untuk menyelesaikan pekerjaan ini saya telah menghabiskan waktu waktu enam jam (B.I).
Contoh:30. c. Waktu nia diambukkon giot markombur naso marguna (B.A).
‘Waktunya dibuang hanya untuk mengobrol yang tidak bermanfaat’
Waktunya dibuang hanya untuk mengobrol yang tidak bermanfaat (B.I).
Contoh:31. d. Pistar si Ali giot manakko waktui markombur rap si Siti (B.A).
‘Pintar Ali hanya mencuri waktu untuk ngobrol dengan si Siti’.
Ali pintar mencuri waktu hanya untuk ngobrol dengan Siti (B.I).