A. Landasan Teori
4. Lembaga Keuangan syariah
Lembaga Keuangan Syari'ah adalah sebuah lembaga keuangan yang prinsip operasinya berdasarkan pada prinsip-prinsip syari'ah. Operasional lembaga keuangan Islam harus menghindar dari riba, gharar dan maisir. Hal-hal terssebut sangat diharamkan dan sudah diterangkan dalam Al- Quran dan Al- Hadist.
Lembaga keuangan syariah (LKS) adalah lembaga yang dalam aktifitasnya, baik penghimpunan dana maupun dalam rangka penyaluran dananya memberikan dan mengenakan imbalan atau dasar prinsip syariah yaitu jual beli dan bagi hasil. Perkembangan perbankan syariah dan Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia mengalami peningkatan baik dari segi kuantitas maupun jenisnya. Perbankan syariah yang mulai beroperasi di Indonesia pada tahun 1992 dengan berdirinya Bank Muamalat dan disusul dengan Asuransi Syariah Takaful yang didirikan pada tahun 1994. Kedua lembaga keuangan syariah tersebut bisa katakan menjadi pionir tumbuhnya bisnis syariah di Indonesia (Karim, 2006).
Lembaga keuangan syariah menurut Dewan Syariah Nasional (DSN) adalah lembaga keuangan yang mengeluarkan produk keuangan syariah dan mendapat izin operasional sebagai lembaga keuangan syariah (DSN-MUI,2003). Adapun unsur legalitas operasi sebagai lembaga keuangan yang diatur oleh berbagai institusi yang memiliki kewenangan mengeluarkan izin operasi. (Salman, 2017)
Tujuan utama mendirikan lembaga keuangan syariah adalah untuk menunaikan perintah Allah dalam bidang ekonomi dan muamalah serta membebaskan masyarakat Islam dari kegiatan-kegiatan yang dilarang oleh agama Islam. Untuk melaksanakan tugas ini serta menyelesaikan masalah yang memerangkap umat Islam hari ini, bukanlah hanya menjadi tugas seseorang atau sebuah lembaga, tetapi merupakan tugas dan kewajiban setiap muslim. Menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam berekonomi dan bermasyarakat sangat diperlukan untuk mengobati penyakit dalam dunia ekonomi dan sosial yang dihadapi oleh masyarakat.
Jenis Lembaga Keuangan Islam di Indonesia menurut ketentuan perundangundangan dibagi menjadi dua, yaitu lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non-bank (Hidayat, 2009). Lembaga keuangan bank dikelompokkan menjadi dua,yaitu bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Sedangkan yang termasuk lembaga keuangan non-bank, antara lain BMT, Koperasi, Pegadaian, Asuransi, dan Obligasi.
a. Industri Perbankan syariah
Menurut Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, pengertian dari perbankan syariah sendiri adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.
Secara teknis yuridis, harus dibedakan antara istilah Perbankan Syariah dengan Bank Syariah. Bank Syariah adalah bagian dari Perbankan Syariah selain dari Unit Usaha Syariah (UUS), sedangkan Bank Syariah terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) (GofurAnshori, 2009).
Dapat disimpulkan dari pendapat di atas Perbankan syariah merupakan bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah dan menurut jenisnya terdiri dari Bank Umum Syariah yang dalam kegiatanyan memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalulintas pembayaran(Khoir, 2009).
Fenomena yang behubungan mengenai BUS dengan zakat perusahaan mengatakan bahwa perbankan syariah merupakan badan usaha yang konsisten dalam membayar zakat di Indosesia. Hal ini dapat dilihat dari beberapa penelitian mengenai penerapan Zakat perusahaan oleh Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesi.
Akan tetapi juga diketahui bahwa entitas yang menyatakan bahwa mereka membayar zakatnya terrnyata pada faktanya zakat yang dimaksud bukanlah Zakat perusahaan.
Dua peneliti sebelumnya menunjukan bahwa sumber dana zakat perusahaan yang dibayarkan oleh BUS bukan semata-mata langsung dari BUS melainkan dari 3 sumber yaitu; perusahaan, karyawan dan nasabah (Qurrota'ayyun, 2019) dan (Andriani, Rakhmawati, & Fahmi, 2016) b. Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Syariah
IKNB merupakan salah satu lembaga keuangan yang berfungsi untuk menyalurkan dana, seperti yang di ungkapkan oleh Thamrin Abdullah bahwa Industri Keuangan Non Bank adalah badan usaha yang melakukan kegiatan di bidang keuangan, secara langsung maupun tidak langsung, menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali kepada masyarakat untuk kegiatan produktif (Djazuli & Yanuari, 2001).
Ruang lingkup IKNB sendiri adalah lembaga pembiayaan seperti asuransi, dana pensiun. Leasing, modal ventura dan lembaga jasa keuangan lainnya.
Sedangkan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Syariah sebagaimana IKNB konvensional yakni lembaga yang menjalankan usahanya berkaitan dengan aktivitas industri asuransi, dana pensiun, lembaga pembiayaan dan lembaga jasa keuangan lainnya yang dalam pelaksanaannya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah ( Otoritas Jasa Keuangan)
5. Unsur-unsur Laporan Keuangan
Unsur-unsur laporan keuangan entitas syariah meliputi:
a. Komponen laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan material:
1) Laporan posisi keuangan
2) Laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain
3) Laporan arus kas
4) Laporan perubahan ekuitas
b. Komponen laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan sosial:
1) Laporan sumber dan penyaluran dana zakat 2) Laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan c. Komponen laporan keuangan lainnya yang
mencerminkan kegiatan dan tanggung jawab khusus entitas syariah tersebut (Ikatan Akuntansi Indonesia, 2017).
Berikut ini adalah kerangka laporan sumber dan penyaluran dana zakat (LSPDZ) Bank Syariah yang terdapat dalam PSAK 101 Lampiran A
Table 2.1 kerangka LSPDZ BANK SYARIAH ABC
LAPORAN SUMBER DAN PENYALURAN DANA ZAKAT
Periode yang berakhir pada 31 Desember 20X1
SUMBER DANA ZAKAT
Zakat dari internal bank syariah xxx
Zakat dari eksternal bank syariah xxx
Jumlah
PENYALURAN DANA ZAKAT KEPADA ENTITAS PENGELOLA
ZAKAT (xxx)
KENAIKAN xxx
SALDO AWAL xxx
SALDO AKHIR xxx
Sumber: (Ikatan Akuntansi Indonesia, 2017)
B. Hasil Penelitian Terdahulu
Berikut ini terdapat beberapa penelitian penelitian yang relevan dengan penelitian ini sebagaimana ditunjukan pada Tabel 2.2
Tabel 2.2 Hasil Penelitian Terdahulu
Aspek Akmalia (2019) Rakhmawati (2015)
Judul Penerapan Zakat oleh Bank Umum Syariah di Indonesia
Analisis Potensi Zakat perusahaan pada Bank Umum Syariah (BUS) di Indonesia
Institusi yang Diteliti
Bank Umum Syariah di Indonesia Bank Umum Syariah Di Indonesia
Periode Analisis 2019 2015
Rumusan Masalah 1.Bagaimana perkembangan penerapan zakat oleh Bank Umum Syariah di Indonesia dari tahun 2013 sampai tahun 2017?
2).Bagaimana Analisis atas penerapan zakat perusahaan pada Bank Umum Syariah Di Indonesia dari aspek
Bagaimana potensi zakat perusahaan Bank Umum Syariah dengan Metode Perhitungna Zakat Perusahaan menurut AAOIFI?
perlakuan akuntansi zakat?
Tujuan Penelitian 1).Untuk menjelaskan perkembangan penerapan zakat oleh Bank Umum Syariah di Indonesia dari tahun 2013 sampai tahun 2017.2). Untuk memberikan analisis atas penerapan zakat perusahaan pada Bank Umum Syariah di Indonesia dari aspek perlakuan akuntansi zakat
Untuk mengetahui potensi zakat perusahaan Bank Umum Syariah dengan Metode Perhitungna Zakat Perusahaan menurut AAOIFI
Metode Penelitian Penelitian kualitatif dengan menggunakan data sekunder.
Kualitatif
Hasil Penelitian hasil penelitian ini 10 BUS di Indonesia yang melaksanakan pengelolaan zakat, sumber dananya berasal dari zakat perusahaan, zakat karyawan, zakat nasabah, dan umum. Peningkatan jumlah BUS yang membayar zakat perusahaan tidak berbanding lurus dengan jumlah realisasi zakat perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perhitungan zakat dengan berbasis aktiva memberikan nilai zakat perusahaan yang lebih tinggi.
hasil penelitian ini Penggunaan metode net asset method akan menghasilkan jumlah zakat yang lebih besar
Sumber: ( Qarata’ayyun,2019; Rakhmawati & Fahmi, 2016)
Penelitian yang penulis lakukan secara umum memiliki kesamaan dengan penelitian-penelitian terdahulu dalam beberapa hal: (1) metode penelitian yang digunakan yaitu; metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif; (2) variabel yang digunakan, yaitu penerapan zakat oleh BUS.
Sementara itu, penelitian penulis memiliki perbedaan dengan penelitian-penelitian tersebut dalam hal subyek penelitian dan periode analisis. Penulis tidak hanya membahas variabel tentang penerapan zakat oleh BUS melainkan juga penerapan zakat oleh IKNBS dan periode analisisnya dari awal tahun 2018 hingga tahun 2020 Selain itu,
penulis hanya memfokuskan penelitian pada faktor-faktor yang bersifat internal (Sumber dana zakat, Jumlah nominal zakat dan pelaporan pembayarn zakat) saja, sedangkan penelitian-penelitian terdahulu menggabungkan antara faktor internal (mengenaii kebijakan metode pembayaran zakat) dan faktor eksternal (penyaluran zakat pendistribusian dana social (CSR)) bank.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pemilihan jenis dan pendekatan penelitian ini disesuaikan dengan tujuan penelitian yaitu untuk menjelaskan Praktik Zakat pada Industri Keuangan Syariah di Indonesia dari tahun 2018 s.d 2020 dan untuk memberikan analisis atas Paktik Zakat pada Indutri Keuangan Syariah di Indonesia.
B. Variabel Penelitian
Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah;
1. Praktik zakat oleh BUS dan IKNBS di Indonesia tahun 2018-2020.
2. Praktik pelaporan pembayaran zakat oleh BUS dan IKNBS.
C. Jenis dan Sumber Data
Jenis data penelitian ini adalah data sekunder, Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Bank Umum Syariah dan Industri Keuangan Non Bank Syariah. Dengan menggunakan sumber data dari annual report dan laporan keuangan BUS dan IKNBS tahun 2018-2020. Informasi yang akan dianalisis dalam annual report dan laporan keuangan ini yaitu;
1. Dari Otoritas Jasa Keuangan tentang BUS didapat 14 bus yang terdaftar di tahun 2020.
Table 3.1. Bank Umum Syariah
No Nama Bank Umum Syariah Tahun
1 PT Bank Aceh Syariah 2016
2 PT Bank Muamalat Indonesia 1992 3 PT Bank Victoria Syariah (2019) 2010
4 PT Bank BRISyariah 2009
5 PT Bank Jabar Banten Syariah 2010
6 PT Bank BNI Syariah 2010
7 PT Bank Syariah Mandiri 1999
12 PT Maybank Syariah Indonesia 2010 13 PT Bank Tabungan Pensiunan
Nasional Syariah 2014
14 PT BDP Nusa Tenggara Barat syariah 2005 Sumber: Data diolah penulis
Dari data diatas penulis meneliti mengenai zakat perusahaan berupa penjelasan mengenai kebijakan BUS yang berkaitan dengan sumber dana dan jumlah zakat serta Pelaporan pembayaran dana zakat.
2. Dari Otoritas Jasa Keuangan tentang IKNB syariah kemudian didapat 203 yang terdaftar di tahu 2020.
Tabel 3.2 Jumlah IKNB Syariah
Jenis Industri Jumlah
Asuransi Jiwa 30
Asuransi Umum 29
Reasuransi 4
Perusahaan Pembiayaan Sekunder 1
Perusahaan Pembiayaan 34
Perusahaan Modal Ventura 6
Penjamin 7
Lembaga Keuangan Mikro 77
Perusahaan Pergadaiaan 4
Lembaga Pembiayaan Ekspor Impor 1 Perusahaan Pembiayaan Infrastuktur 1
Dana Penssiun 8
Pemodalan Nasional Madani 1
Jumlah 203
Sumber: Data diolah Penulis
Dari data diatas selanjutnya penulis menelusuri melalui website yang dapat diakses dan didapatkan 91 IKNBS yang mempublish laporan keuangan, selanjutnya dari 91 IKNBS difilter akhirnya didapatkan bahwa hanya 11 IKNBS yang menerapkan zakat sehingga penulis menjadikan ke 11 IKNBS ini sebagai populasi data yang dijadikan sampel pada penelitian ini. Dari 11 sampel data penulis meneliti berupa penjelasan mengenai Sumber dana dan jumlah zakat serta pelaporan pembayaran zakat.
D. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah studi pustaka. Studi pustaka adalah kegiatan untuk mengidentifikasi dan menganalisis teori-teori dari literatur baik berupa jurnal, buku, atau karya tulis yang relevan dengan topik yang dibahas (Widodo, 2017).
Selain menggunakan studi pustaka, penelitian ini juga menggunakan metode studi lapangan melalui proses dokumentasi.
Dokumentasi adalah kegiatan pengumpulan data melalui dokumen yang berkaitan dengan aspek-aspek yang diteliti (Widodo, 2017), yaitu annual report dan laporan keuangan BUS dan IKNBS selama periode 2018 s.d 2021.
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik analisis deskriptif. Penelitian ini disusun dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Mempelajari teori-teori yang ada di literatur-literatur yang berkaitan dengan penerapan zakat perusahaan oleh lembaga keuangan syariah di Indonesia.
2. Menganalisis data yang telah didapatkan, yaitu;
Mengidentifikasi informasi tentang zakat pada annual report dan laporan keuangan dari BUS dan IKNB Syariah tahun 2018-2020, Adapun data yang diidentifikasi adalah sebagai berikut:
a. Jumlah nominal zakat yang dibayar oleh BUS dan IKNBS di Indonesia.
b. Sumber dana zakat yang dibayarkan oleh BUS dan IKNBS di
Indonesia.
c. Pelaporan pembayaran zakat oleh BUS dan IKNBS di Indonesia.
3. Membuat kesimpulan mengenai penerapan zakat perusahaan oleh lembaga keuangan syariah di Indonesia.
36
a. Bank Umum Syariah di Indonesia
Selama kurun waktu tiga tahun (2018 s.d 2020) jumlah BUS mengalami peningkatan yaitu dari 13 menjadi 14 BUS.
Berikut adalah informasi mengenai 14 BUS di Indonesia.
Tabel 4.1 Bank Umum Syariah di Indonesia
No. Nama Bank Umum Syariah Tahun
berdiri
1 PT Bank Aceh Syariah 2016
2 PT Bank Muamalat Indonesia 1992
3 PT Bank Victoria Syariah (2019) 2010
4 PT Bank BRISyariah 2009
12 PT Maybank Syariah Indonesia 2010
13 PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional
Syariah 2014
14 PT BDP Nusa Tenggara Barat syariah 2005 Sumber: Otoritas Jasa Keuangan tahun 2020
b. Industri Keuangan Non Bank Syariah
Terdapat 203 IKNB Syariah di Indonesia yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Agustus 2020. Namun penulis hanya mengambil 11 IKNBS yang didalam laporan keuangannya terdapat zakat.
Tabel 4.2 IKNB Syariah di Indonesia
No. IKNBS Jenis Industri
1 PT Asuransi Takaful Keluarga Full Syariah 2 PT Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra
Abadi
Full Syariah
3 PT Asuransi Adira Dinamika Unit Usaha Syariah 4 PT Asuransi Jasa Raharja Putera Unit Usaha Syariah 5 PT Asuransi Ramayana Tbk. Unit Usaha Syariah 6 PT Asuransi Sinar Mas Unit Usaha Syariah 7 PT Asuransi Staco Mandiri Unit Usaha Syariah 8 PT Reasuransi Nasional Indonesia Unit Usaha Syariah 9 PT Jaminan Pembiayaan Askrindo
Syariah
Full Syariah
10 PT Penjaminan Jamkrindo Syariah Unit Usaha Syariah 11 PT Asuransi Jasindo Syariah Full syariah
Sumber: data diolah penulis
B. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Praktik Zakat Oleh Bank Umum Syariah a. Sumber dan Jumlah Realisasi Dana Zakat
1) Realisasi jumlah zakat oleh BUS tahun 2018 s.d 2020 Jika dilihat dari sisi jumlah BUS yang membayarkan zakat perusahaan berdasarkan laporan keuangan BUS periode 2018 s.d 2020, tampak bahwa pembayaran zakat perusahaan oleh BUS berfluktuasi setiap tahunnya. Lebih lanjut informasi mengenai jumlah nominal zakat oleh BUS di Indonesia ditunjukan pada tabel berikut.
Tabel 4.3. Realisasi jumlah zakat oleh BUS
12 PT Maybank Syariah Indonesia Sumber: laporan Keuangan BUS, 2018-2020
Dari tabel 4.3 di atas dapat diketahui bahwa terdapat 12 BUS yang membayar zakat dan diantaranya ada 10 BUS yang konsisten membayarkan zakat, yaitu PT Bank Aceh, PT Bank Muamalat Indonesia, PT BRI Syariah, PT Bank BNI Syariah, PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank Mega Syariah PT Bank BCA Syariah, PT Maybank Syariah Indonesia dan PT Bank Panin Dubai Syariah.
Selain itu terdapat 2 BUS yang tidak pernah membayarkan zakat yaitu PT Bank Syariah Bukopin dan PT Bank Tabungan pensiun Syariah .
Dari tabel 4.3. juga dapat diketahui bahwa nilai total Jumlah nominal zakat perusahaan oleh BUS terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2018 jumlah nominal zakat yaitu Rp 88.783.216.177 kemudian ditahun 2019 meningkat lagi sebesar Rp 114.333.628.400 dan terus meningkat pda tahun 2020 sebesar Rp.
122.448.999.783.
2) Sumber dan Realisasi zakat selama tiga tahun
Berdasarkan PSAK 101, penyajian sumber zakat berasal dari zakat internal dan eksternal. Berikut adalah informasi Sumber dana zakat dan realisasi zakat tersebut selama kurun waktu tiga tahun.
Tabel 4.4. Sumber dan Realisasi zakat selama tiga tahun
No. Bank Umum syariah
7 PT Bank Syariah
Sumber: Laporan Keuangan BUS, 2018-2020
Pada PSAK 101 terdapat 2 unsur dana zakat yaitu zakat dari internal bank dan zakat dari eksternal bank.
Mayoritas bank melaporkan dana zakat atas 3 komponen, yaitu selain 2 komponen tersebut BUS menambahkan zakat dari karyawan. Penelitian terdahulu dari (Anam, 2017) menyatakan hal serupa bahwa Aspek yang dilaporkan dalam laporan dana zakat antara lain zakat dari lembaga, zakat dari karyawan, zakat dari masyarakat. Hal ini juga sejalan dengan penelitian lainnya oleh (Qurrota'ayyun, 2019) yang mengklasifikasian zakat inrternal bersumber dari zakat perusahaan dan zakat karyawan sedangkan zakat eksternal bersumber dari zakat nasaban umum atau lainnya.
Setelah ditelusuri kembali melalui LSPDZ dan CALK BUS, mayoritas BUS melaporkan sumber dana zakat atas 3 komponen yaitu, zakat internal, zakat ekternal dan zakat karyawan. Di lain pihak, terdapat
perbedaan PT Bank Syariah Mandiri dengan BUS lainnya dalam mengklasifikasikan sumber zakat menjadi sumber zakat dari perusahaan, sumber zakat, karyawan dan sumber zakat dari nasabah umum atau lainnya.
Di dalam PSAK 101 hanya menyatakan bahwa entitas syariah menyajikan sumber dana zakat berasal dari zakat internal dan zakat eksternal. Tidak ada informasi spesifik dalam pernyataan tersebut yang menjelaskan lebih lanjut mengenai definisi zakat internal dan eksternal syariah. Ketiadaan informasi maupun peraturan mengenai sumber dana zakat internal maupun zakat eksternal membuat keberagaman pengakuan pada laporan keuangan BUS.
Namun mengenai analisis zakat internal penulis menyimpulkan berdasarkan CALK yang menyatakan bahwa kebijakan BUS mengenai zakat perusahaan adalah 2,5% dari laba perusahaan. Setelah di analisis ternyata nominal zakat internal sama dengan kebijakan BUS.
Pada tabel di atas dari laporan keuangan tahun 2018-2020 dana zakat yang dilaporkan untuk masing-masing komponen penerimaan zakat antara lain:
1. Zakat dari Karyawan sebesar Rp. 36.279.000.
2. Zakat dari perusahaan bank sebesar Rp.
195.626.743.000.
3. Zakat dari eksternal bank sebesar Rp. 93.660.0.360.
4. Sehingga total dana zakat yang diperoleh adalah Rp.
325.566.000.000.
Laporan penerimaan dana zakat pada bank syariah adalah penting karena nilai dana zakat yang dihimpun dari perbankan cukup besar yaitu Rp. 325.566.000.000.
Jumlah dana tersebut akan berdampak signifikan terhadap penerimaan dana zakat secara nasional.
Sementara itu, selama 3 tahun periode penelitian terjadi peningkatan presentase jumlah BUS yang membayarkan zakat perusahaan. Pada penelitian sebelumnya oleh (Andriani, Rakhmawati, & Fahmi, 2016) tahun 2013 hanya 30% BUS yang membayarkan zakat perusahaan, angka tersebut meningkat menjadi 38,46% pada tahun 2017 (Qurrota'ayyun, 2019), hingga pada periode penelitian saat ini meningkat lagi ditahun 2020 menjadi 43,66%.
Selama 3 tahun periode penelitian tampak bahwa dari 12 BUS yang membayar zakat terdapat 5 BUS yang tidak membayarkan zakat yang bersumber dari perusahaan yaitu PT Bank Panin Dubai, PT Bank Aceh Syariah, PT Bank Victoria Syariah, PT Bank Syariah Bukopin, dan PT BCA Syariah. Beberapa hal mungkin menjadi faktor yang menyebabkan BUS tidak menunaikan pembayaran zakat yang bersumber dari perusahaan. Salah satunya adalah ketiadaan dasar hukum MUI yang mewajibkan pembayaran zakat perusahaan tersebut.
Standar yang dirumuskan AAOIFI dalam FAS no 9 menyatakan bahwa institusi keuangan syariah terkena kewajiban membayarkan zakat perusahaan apabila salah satu dari 3 kondisi berikut terpenuhi. (1) Terdapat hukum yang mewajibkannya, (2) terdapat dalam anggaran dasar suatu institusi, (3) keputusan pemegang saham suatu institusi (Nadzri, 2009).
Jika melihat dari 3 kondisi yang disyaratkan oleh AAOIFI tersebut. Seperti disampaikan oleh peneliti sbelumnya bahwa salah satu alasan BUS tidak menunaikan kewajiban berzakat adalah ketiadaan dasar
hukum di Indonesia yang mewajibkan suatu entitas untuk membayarkan zakat perusahaan (Qurrota'ayyun, 2019).
b. Pelaporan Pembayaran Zakat
1) Penyajian Laporan Keuangan Zakat oleh BUS
Laporan Sumber dan Penyaluran Dana Zakat merupakan salah satu komponen laporan keuangan bank syariah yang ditetapkan dalam PSAK (Ikatan Akuntansi Indonesia, 2017). berikut ini adalah informasi mengenai penyajian Laporan Sumber dan Penyaluran Dana Zakat BUS di Indonesia serta pengakuan zakat yang ada di dalam laporan keuangan.
Tabel 4.5. Penyajian Laporan Keuangan Zakat oleh BUS
No. BUS LSPDZ
Pengakuan zakat di dalam Laporan keuangan Beban
13 PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional
Syariah √ - - - -
14 PT BDP Nusa Tenggara Barat syariah √ - - - -
Sumber: Laporan Keuangan, 2018-2020
Pada tabel 4.5 terlihat bahwa dari 14 Bank Umum Syariah (BUS) 13 bank sudah melaporkan dana zakat.
Mengenai penyajian laporan keuangan zakat oleh BUS diketahui bahwa hanya PT Bank Syariah Bukopin yang tidak menampilkan LSPDZ dan PT Maybank Syariah Indonesia baru menyajikan Laporan Sumber dan Penyaluran Dana Zakat di tahun 2019. Penyebab PT Bank Syariah Bukopin tidak menyajikan LSPDZ karena Bank tidak secara langsung menjalankan penyaluran dana zakat (PT Bank Syariah Bukopin, 2020) sementara itu, PT Maybank Syariah Indonesia menyajikan LSPDZ di tahun 2019 karena baru resmi menjadi Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) Baznas (PT maybank Syariah, 2020).
Dilihat dari penelitian-penelitian sebelumnya tampak bahwa praktik penyajian LSPDZ oleh BUS selalu mengalami peningkatan sejak tahun 2013 hingga tahun 2020. Pada penelitian oleh (Andriani, Rakhmawati, &
Fahmi, 2016) ditahun 2013 terdapat 7 dari 10 BUS menyajikan LSPDZ atau sebesar 70%. Kemudian juga penelitian dari (Qurrota'ayyun, 2019) ditahun 2017 terdapat 10 dari 13 BUS yang menyajikan LSPDZ atau sebesar 76,92%, persentase ini meningkat 6,92% dari tahun 2013. Kemudian pada periode penelitian saat ini pada tahun 2020 terdapat 13 dari 14 BUS yang menyajikan LSPDZ atau sebesar 92, 85%, persentase ini meningkat sebesar 15,93%. Peningkatan praktik penyajian LSPDZ ini mengisyaratkan kepedulian BUS dalam menunjukkan laporan tanggung jawab sosialnya kepada publik.
Dalam pembayaran zakat, BUS mengakui zakat sebagai beban hal ini dapat dilihat pada tabel 4.5 ada 7 BUS yang menampilkan pengakuannya di laporan keuangan yaitu PT bank Muamalat Indonesia, PT Bank
BNI Syariah dan PT Bank Syariah mandiri mengakui zakat sebagai Beban Non Operasional, kemudian PT Bank BRI Syariah mengakui zakat sebagai Beban Non Usaha, selain itu ada juga Bank Mega Syariah, PT Bank Panin Dubai Syariah, dan PT Bank BCA Syariah yang mengakui Zakat sebagai Beban.
2. Praktik Zakat oleh IKNBS
a. Sumber Dana dan Jumlah Realisasi Zakat IKNBS
Jumlah nominal realisasi zakat oleh IKNBS pada periode penelitian ditunjukan pada tabel 4.6 dibawah.
Tabel 4.6 Jumlan Realisasi Zakat Oleh IKNBS
No. IKNBS
Sumber: laporan Keuangan IKNBS 2018-2020
Tabel di atas menunjukan dana zakat yang dibayarkan IKNBS. Berdasarkan peninjauan laporan keuangan IKNBS periode 2018 s.d 2020, terlihat pada tabel 4.6 bahwa pembayaran zakat perusahaan oleh IKNBS juga berfluktuasi setiap tahunnya, hal ini dapat dilihat dari sisi jumlah IKNBS yang membayarkan zakatnya.
Dari tabel 4.6 dapat diketahui bahwa selama tiga tahun
Dari tabel 4.6 dapat diketahui bahwa selama tiga tahun