• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM

B. Lembaga Pembinaan Khusus Anak Dan

1. Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA)

Secara umum, yang dimaksud Lembaga Pembinaan adalah tempat untuk melaksanakan pembinaan narapidana. Sedangkan Lembaga Pembinaan Khusus Anak adalah tempat untuk pembinaan anak yang berlawanan dengan hukum. Sementara fungsi Lembaga Pembinaan Khusus Anak adalah tempat pendidikan dan pembinaan bagi anak didik Pembinaan. Anak yang di tempatkan di Lapas Anak, berhak untuk memperoleh pendidikan dan latihan baik formil maupun informil sesuai dengan bakat dan kemampuannya, serta memperoleh hak-hak lainnya.26

24

Zakiah Daradjat, Problema Remaja Di Indonesia, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), 141.

25Marwan Setiawan, Karakteristik Kriminalitas Anak dan Remaj, 109.

26

Nashriana, Perlindungan Hukum Pidana Bagi Anak-Anak Indonesia, 158-160.

Ketentuan peralihan dalam UU Sistem Peradilan Pidana Anak mengatur bahwa semenjak undang-undang tersebut berlaku, yang mana anak negara dan anak sipil tidak lagi ditempatkan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) tapi diserahkan kepada orang tua atau walinya, Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial/Keagamaan atau Dinas Sosia. Hal ini berarti anak yang ditempatkan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) hanya Anak Pidana.27 Jadi, sesuai dengan Undang-undang sistem peradilan pidana anak Pasal 103 ayat (1), bahwa Lembaga Pembinaan Khusus Anak merupakan tempat pembinaan dan pendidikan untuk anak didik pembinaan atau anak yang berhadapan dengan hukum.

2. Anak Didik Pembinaan

Sebelum membahas tentang Anak Didik Pembinaan, penulis dirasa perlu menjelaskan terlebih dahulu mengenai pengertian anak menurut sudut pandang Undang-Undang yang ada di Indonesia. Pengertian anak Menurut Pasal 1 ayat (2) Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak (selanjutnya disebut Undang-undang Kesejahteraan Anak), memberikan pengertian: bahwa “anak adalah seorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah kawin”.28

Menurut ketentuan Pasal 330 Kitab Undang-undang Hukum Perdata,

27

Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan

Pidana Anak Pasal 103 ayat (1).

28

Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak Pasal 1 ayat (2).

memberikan pengertian anak atau orang yang belum dewasa, sebagai berikut:

“anak belum dewasa adalah seseorang yang belum mencapai umur genap 21 tahun dan tidak lebih dahulu kawin. Apabila seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun telah kawin, dan perkawinan itu dibubarkan sebelum umurnya genap 21 tahun maka ia tidak kembali lagi ke kedudukan belum dewasa. Seseorang yang belum dewasa dan tidak berada di bawah perwalian atas dasar dan dengan cara sebagaimana diatur dalam bagian ketiga, keempat kelima dan keenam bab ke belum dewasa dan perwalian”.29

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Selanjutnya disebut Undang-undang Perkawinan), tidak mengatur tentang pengertian anak. Namun dalam Pasal 7 Undang-undang Perkawinan diterangkan:

“perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun, dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Ketentuan tersebut mengisyaratkan bahwa anak adalah seseorang di bawah umur 19 tahun bagi seorang laki-laki dan di bawah umur 16 tahun bagi seorang perempuan”.30

Menurut Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 Tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, ditentukan bahwa “anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”.31

29 Kitab Undang-undang Hukum Perdata Pasal 330.

30

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Berdasarkan pembahasan di atas, maka pengertian anak atau juvenile pada umumnya adalah seseorang yang masih di bawah umur tertentu, yang belum dewasa, dan belum pernah kawin. Pada beberapa peraturan perundang-undangan di Indonesia mengenai batas umur kedewasaan seseorang berbeda-beda. Perbedaan tersebut dari sudut manakah dilihat dan ditafsirkan, apakah dari sudut pandang perkawinan, dari sudut kesejahteraan anak, dan dari sudut pandang lainnya. Hal ini tentu ada pertimbangan psikologis, yang menyangkut kematangan jiwa seseorang. Batas umur minimum ini berhubungan erat dengan pada umur berapakah pembuat atau pelaku tindak pidana dapat dihadapkan ke pengadilan dan dapat dipertanggungjawabkan atas tindak pidana yang dilakukan. Sedangkan batas umur maksimum dalam hukum pidana adalah untuk menetapkan siapa saja yang sampai batas umur ini diberikan kedudukan anak (juvenile), sehingga harus diberi perlakuan hukum secara khusus.32

Anak Didik Pembinaan merupakan anak yang sedang menjalani masa pembinaan karena berhadapan dengan hukum. Dalam Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak, anak yang melakukan tindakan melawan hukum, kemudian terjadi sebuah pengabaian keamanan lingkungan sekitar dan menyebabkan keresahan dalam masyarakat, maka anak tersebut harus dibina dalam sebuah tempat Lembaga Pembinaan Khusus

Anak (LPKA).33 Hal tersebut sesuai mekanisme peradilan yang memutuskan atau menetapkan (vonis) pada anak tersebut.

Secara khusus yang dimaksud dengan Anak Didik Pembinaan adalah anak yang berkonflik dengan hukum kemudian diproses melalui Sistem Peradilan Pidana Anak, sehingga perlu adanya bimbingan, pembinaan, dan pengawasan tera hadap anak binaan tersebut. Sebelum anak terindikasi melakukan tindakan melawan hukum dan kemudian melalui proses peradilan pidana anak, maka anak dapat ditahan dengan syarat sebagai berikut:34 a. Penahanan terhadap Anak tidak boleh dilakukan dalam hal

Anak memperoleh jaminan dari orang tua/Wali dan/atau lembaga bahwa Anak tidak akan melarikan diri, tidak akan menghilangkan atau merusak barang bukti, dan/atau tidak akan mengulangi tindak pidana.

b. Penahanan terhadap Anak hanya dapat dilakukan dengan syarat sebagai berikut: Anak telah berumur 14 (empat belas) tahun atau lebih; dan diduga melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana penjara 7 (tujuh) tahun atau lebih.

Berdasarkan Pasal 1 ayat (2) UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, yang dimaksud dengan anak yang berhadapan dengan hukum (children in conflict with the law), adalah sebagai berikut : 35

33 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak

34

Undang-Undang No. 11 Tahun 2012, Tentang Sistem Peradilan

Pidana Anak.

35

Undang-Undang No. 11 Tahun 2012, Tentang Sistem Peradilan

a. Anak yang berkonflik dengan hukum. Yaitu anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana. b. Anak yang Menjadi Korban Tindak Pidana yang selanjutnya

disebut Anak Korban adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang disebabkan oleh tindak pidana.

c. anak yang menjadi saksi tindak pidana. Yaitu anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan tentang suatu perkara pidana yang didengar, dilihat, dan/atau dialaminya sendiri.

C. Pendidikan Agama Islam Dalam Penguatan Karakter

Dokumen terkait