Bab III : Hasil Penelitian dan Pembahasan
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pemberian Bantuan Hukum Yang Adil Bagi Terangka atau Terdakwa
1. Lembaga Pembuat Peraturan (Law Making Institution)
Lembaga pembuat peraturan terdiri dari dua komponen yaitu Presiden dan DPR. Lembaga ini berfungsi menetapkan kebijakan dasar negara di bidang hukum pidana (politik hukum pidana)82 berkenaan dengan bentuk, isi dan arah serta tujuan yang ingin dicapai oleh hukum pidana (KUHP) sebagai norma primer dan hukum acara pidana (KUHAP) sebagai norma sekunder
80
Masyarakat modern merupakan sistem yang bersifat terbuka, artinya dapat dipengaruhi oleh dan/atau mempengaruhi lingkungan eksternal.
81
Esmi Warassih, SH.,M.S.,Pranata Hukum Sebuah telaah Sosiologis,PT.Saryadaru Utama, Semarang 2005,hal.12.
82
Moh. Mahfud MD., Pergulatan Politik Dan Hukum Di Indonesia, Yogyakarta, Gama Media, 1999, hlm. 70-71. Perkembangan hukum tidak terlepas dari perkembangan dinamika atau pengaruh politik pada suatu masa. Bellfroid mendefinisikan politik hukum (rechtpolitiek) sebagai sebuah proses dalam pembentukan ius contitutum (hukum positif) dari ius contituendum (rancangan peraturan perundang-undangan) untuk memenuhi kebutuhan perubahan dalam masyarakat.Perubahan sosial yang terjadi akibat perkembangan masyarakat dan lingkungannya meniscayakan adanya pembaharuan terhadap hukum. Dalam konteks hukum pidana, hukum yang sudah tidak sesuai lagi dengan situasi dan kondisi masyarakat akan berakibat kepada benturan nilai-nilai yang bisa mengakibatkan frustasi dan pada akhirnya berakibat pada tindakan-tindakan kriminal. Lihat dalam Sudarto, Hukum Dan Hukum Pidana, Bandung, Alumni, 1981, hlm. 151.
Bekerjanya Kekuatan Personal & Sosial Pembuatan undang undang
Penegakan Hukum Pemegang peran
Bekerjanya kekuatan Kekuatan personal&sosial Keterangan: Ub = Umpan balik Nrm = Norma Pp = Pemegang peran
yang mengatur prosedur beracara guna melaksanakan norma primer.Upaya membangun sistem hukum tidak serta merta diwujudkan dengan membuat undang-undang. Sebelumnya harus dirumuskan lebih dulu politik hukum pidana yang menentukan bentuk, isi, arah dan tujuan dari undang-undang hukum pidana dan hukum acara pidana.
a. Perlukah Memperbarui Hukum Pidana Yang Berlaku Saat Ini
Mengingat bahwa: (1) KUHP dan KUHAP adalah produk rezim orde baru yang menerapkan hukum represif; (2) sistem sosial politik pada saat ini sudah berubah menuju ke arah tatanan demokrasi yang seungguhnya; (3) kompleksitas perubahan lingkungan internal dan eksternal yang menuntut dibuatnya norma norma hukum yang bersifat responsif terhadap kebutuhan dan dinamika perkembangan masyarakat; (4) pergeseran paradigma hukum pidana dari sistem keadilan retributif menjadi sistem keadilan restoratif; dan (5) adanya perubahan atau amandemen terhadap politik hukum konstitusional yaitu UUDNRI 1945 dimana unsur unsur fundamental hukum yaitu keadilan dan hak asasi manusia dimasukkan di dalam konstitusi, maka timbul dua pertanyaan yang menyangkut politik hukum pidana, yaitu: Apakah perlu dilakukan pembaharuan hukum?; dan (2) hukum apakah yang harus diperbarui?
Pada konteks hukum pidana, dua pertanyaan tersebut sudah terjawab bahwa: (1) Perlu dilakukan prmbaharuan hukum; dan (2) hukum yang harus diperbarui adalah hukum pidana dan hukum acara pidana. Dengan terselesaikannya naskah akademik RUU KUHP dan naskah akademik RUU KUHAP secara berturut turut pada tahun 2009 dan 2010 merupakan bukti bahwa kompleksitas persoalan yang ada pada saat ini membutuhkan kebijakan hukum pidana yang di dalamnya termasuk pembaharuan KUHP dan KUHAP yang sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan, aspirasi serta tututan perkembangan masyarakat pada saat ini.
Hal itu juga merupakan indikasi bahwa KUHP dan KUHAP yang merupakan produk sistem hukum represif, sudah tidak memenuhi syarat-syarat keberlakuan filosofis, keberlakuan yuridis dan keberlakuan sosiologis sehingga harus diganti dengan undang undang baru. RUU KUHP dan RUU KUHAP yang belum disahkan menjadi undang undang sampai dengan saat ini, menunjukkan bahwa di puncak struktur kekuasaan terjadi pergulatan kepentingan di antara elite penguasa untuk mempertahankan kondisi status
quo. Dibutuhkan kekuasaan politik yang kuat untuk mengatasi konflik kepentingan tersebut sehingga RUU KUHP dan RUU KUHAP dapat disahkan menjadi undang undang baru.
b. Politik Hukum Pidana Sebagai Dasar Pembentukan Hukum Pidana Dan Hukum Acara Pidana
Politik hukum pidana merupakan bagian dari politik hukum nasional.83Politik hukum pidana dalam banyak literatur disebut dengan istilah
83
Hukum pidana merupakan bagian dari kebijakan kriminal (criminal policy).Kebijakan kriminal sendiri merupakan usaha rasional untuk menanggulangi kejahatan. Lihat Muladidan Barda Nawawi. 2007.
kebijakan hukumpidana (penal policy). Dengan merujuk pada beberapa pengertian politik hukum di atas,politik hukum pidana dapat diartikan sebagai kebijakan untuk menciptakanperaturan perundang-undangan pidana yang baik, yaitu peraturan perundang-undangan pidana yang dapat memberikan keadilan dan berdayaguna bagimasyarakat.84Menurut Barda Nawawi Arief,85 politik hukum pidana merupakanbagian dari penanggulangan kejahatan dengan menggunakan instrumen hukumpidana yang merupakan bagian integral dari politik/ kebijakan sosial.
Persoalannya adalah bagaimana seharusnya politik hukum pidana itu dirumuskan?
Dasar pemikiran politik hukum pidana merujuk pada konsep hukum responsif yang dikemukakan oleh Philippe Nonet dan Philip Selznick86 serta konsep hukum substantif dan hukum reflektif yang dikemukakan oleh Gunther Teubner.87 Mereka menilai perkembangan hukum tidaklah bersifat linier dari yang tradisional represif kearah yang modern otonom karena hukum modern yang otonom tetap memberi tempat kepada nilai kearifan dan toleransi dari hukum tradisional agar hukum tetap berfungsi secara efektif mewujudkan keadilan bagi semua kelompok. Penggunaan nilai kearifan lokal dan toleransi itulah yang kemudian dikonsepkan dengan hukum responsif atau hukum substantif dan hukum reflektif.
Ankie MM Hoogvelt,88 mengajukan2 (dua) konsep sebagai karakter perilaku prismatik, yaitu polynormatif dan polyfungsional. Konsep
polynormatif menunjuk pada penggunaan secara selektif antara pedoman berperilaku yang sifatnya umum seperti prinsip persamaan di hadapan hukum untuk mendorong kemajuan dengan yang sifatnya khusus seperti prinsip pemberian perlakuan khusus untuk memberikan perhatian dan memberdayakan kelompok yang lemah.
Konsep polyfungsional menunjuk pada fungsi hukum untuk memadukan antara fungsi pemberian perlakuan yang sama bagi semua orang dengan fungsi memberikan perlakuan khusus bagi orang tertentu. Dalam konteks konstitusi, rujukan hukum prismatik adalah UUDNRI 1945 terutama Pasal 18B ayat (2) dan Pasal 28H ayat (2) yang mengakomodasi penggunaan nilai kearifan dalam hukum adat sebagai dasar pembangunan hukum nasional.
84
Pengertian yang sama diungkapkan oleh March Ancel yang mendefinisikan penal policysebagai suatu ilmu sekaligus seni yang bertujuan membentuk peraturan perundang-undangan pidanayang baik. Lihat Mokhammad Najih. 2008. Politik Hukum Pidana Pasca Reformasi. Malang: In-TRANS Publishing. Hlm. 30.
85
Politik sosial dapat diartikan sebagai usaha yang rasional untuk mencapai kesejahteraanmasyarakat (social welfare) yang juga mencakup perlindungan masyarakat (social defense). LihatTeguh Prasetyo dan Abdul Halim Barakatullah. Politik Hukum Pidana; Kajian KebijakanKriminalisasi dan Dekriminalisasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2005, Hlm. 19.
86
Philippe Nonet dan Philip Selznick, Op. Cit. hlm. 20, 24 dan 26. 87
Gunther Teubner, 1983, Substantif and Reflexive Element in Modern Law, dalam Law and Society Review, volume 17, nomor 2, hlm. 249.
88
Ankie MM Hoogvelt, 1985, Sosiologi Masyarakat Sedang Berkembang, Jakarta: CV Rajawali,hlm. 194-226.
Perpaduan antara prinsip-prinsip yang diangkat secara selektif dari nilai sosial modern dan kearifan lokal, dapat berfungsi sebagai instrumen untuk mewujudkan dua kelompok kepentingan yang berbeda, yaitu : Pertama, hukum harus dijabarkan dari nilai nilai sosial yang berbeda agar di satu pihak mendorong pada kemajuan namun di pihak lain tidak membiarkan terdapat kelompok yang tertinggal. Kedua,hukum mendorong kelompok yang kuat melakukan kegiatan atas dasar persaingan, namun hukum harus mendorong Negara memberikan perhatian terhadap kelompok yang lemah untuk mencegah terjadinya kesenjangan sosial ekonomi yang semakin tinggi. Untuk mewujudkan 2 (dua) kepentingan yang berbeda, hukum prismatik harus membangun normanya atas dasar prinsip-prinsip, yaitu: