• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Karakteristik Masing-masing Aktor

5.2.4 Lembaga Pemerintah

Terdapat beberapa lembaga pemerintah yang berwenang dalam perdagangan kayu sengon rakyat, yaitu kantor desa, kantor kecamatan, kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT), dan kantor Dinas Pertanian dan Kehutanan (DISTANHUT). Beberapa lembaga tersebut mempunyai tugas dalam menjalankan wewenangnya masing-masing. Kantor desa mempunyai wewenang untuk pengurusan izin usaha pendirian industri. Dalam pendirian industri dibutuhkan beberapa dokumen yang dibuat di kantor desa, yaitu surat izin lingkungan dari RT/RW setempat yang diketahui oleh kepala desa, surat keterangan usaha, dan surat keterangan domisili perusahaan. Kantor desa juga mempunyai wewenang dalam mengeluarkan Surat Keterangan Asal Usul (SKAU).

Beberapa dokumen yang telah dibuat di kantor desa untuk pendirian industri dipergunakan untuk pembuatan dokumen selanjutnya, seperti pembuatan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) sebagai prasyarat pendirian industri. Beberapa dokumen tersebut diurus di kantor kecamatan untuk selanjutnya diurus di kantor pemerintah daerah.

39

Apabila produk jadi yang dihasilkan dari proses pengolahan bahan baku yang berasal dari desa akan disalurkan keluar dari kecamatan, kabupaten, atau kota, maka dibutuhkan Surat Keterangan Sahnya Kayu Bulat (SKSKB) untuk menyatakan bahwa produk jadi yang dibawa berasal dari bahan baku yang legal. Dalam memperoleh SKSKB dibutuhkan SKAU, namun tengkulak menebang dan menjual hasil tebangannya pada industri yang masih berada dalam lingkup desa dan biasanya tidak disertai dengan SKAU, sehingga apabila produk jadi akan disalurkan keluar dari kecamatan, kabupaten, atau kota maka industri penggergajian yang akan mengurus SKAU. Kantor yang bertugas untuk mengeluarkan surat keterangan sahnya kayu bulat adalah kantor unit pelaksana teknis yang mempunyai wewenang dalam memantau lalu lintas kayu untuk mencegah terjadinya illegal logging.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.30/Menhut-II/2012 tentang Penatausahaan Hasil Hutan yang berasal dari hutan hak yaitu ditetapkannya kebijakan baru bahwa penerbit dinas yang mengeluarkan SKSKB telah berakhir terhitung sajak tanggal 17 Juli 2012 dan diberlakukannya Faktur Angkutan Kayu Olahan (FAKO).

Berdasarkan peraturan tersebut, dimana sudah tidak berlakunya SKSKB yang dikeluarkan oleh kantor unit pelaksana teknis, tetapi diberlakukannya faktur angkutan kayu olahan yaitu surat yang dikeluarkan oleh suatu lembaga pensertifikasi kayu yang telah mengikuti pembekalan pengukuran dan pengenalan jenis kayu dari hutan hak yang diselenggarakan oleh Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota/Balai. Lembaga pensertifikasi kayu tersebut merupakan masyarakat atau pegawai industri penggergajian yang mengikuti pembekalan dan telah mendapatkan izin untuk mengeluarkan faktur angkutan kayu olahan untuk melegalkan produk yang akan disalurkan keluar kecamatan, kabupaten, atau kota. Dalam hal ini kantor unit pelaksana teknis tetap memantau dan mengawasi peredaran kayu melalui lembaga FAKO tersebut. Selanjutnya, data hasil peredaran kayu dari kantor unit pelaksana teknis diserahkan kepada kantor dinas pertanian dan kehutanan sebagai tindak lanjut dalam penentuan kebijakan.

Salah satu lembaga pensertifikasi kayu di Kecamatan Leuwisadeng adalah industri UD. Putra Mandiri dengan nama penerbit Faisal. Bagi industri

penggergajian lainnya yang ingin mengeluarkan produk keluar dari kecamatan, kabupaten, atau kota, dapat mendatangi lembaga pensertifikasi yang telah ditetapkan.

5.3 Analisis Nilai Tambah

Besarnya nilai tambah dari masing-masing aktor yang melakukan perdagangan kayu sengon rakyat (petani, tengkulak, industri penggergajian) dapat diperoleh, jika diketahui besarnya biaya input yang dikeluarkan dan harga jual dari masing-masing aktor tersebut. Besarnya nilai tambah merupakan pengurangan harga jual produk yang dihasilkan dengan biaya input yang telah dikeluarkan untuk menghasilkan produk tersebut. Biaya input dan harga jual masing aktor berbeda-beda yang didasarkan atas karakteristiknya masing-masing, maksudnya adalah berbeda dalam jenis komponen biaya input, berbeda dalam penetapan harga jual, serta berbeda dalam proses kegiatan usaha yang dilakukan.

Analisis nilai tambah pada setiap mata rantai, ditelusuri berdasarkan alur perdagangan sengon dalam penyalurannya dari menyediakan bahan baku dan kemudian mengolah bahan baku tersebut hingga menjadi suatu produk. Besarnya nilai tambah yang terdistribusikan pada masing-masing aktor disajikan pada Tabel 7 di bawah ini.

Tabel 7 Nilai tambah masing-masing aktor Responden

Harga Jual (Rp/m³)

Biaya Input

(Rp/m³) Nilai Tambah (Rp/m³) Persentase (%)

Petani 126.952 87.371 39.581 6,983 Tengkulak 500.000 409.904 90.096 15,9 Industri 1.256.614 819.484 437.129 77,12 Jumlah 566.807 100

Tabel 7 menunjukan besarnya nilai tambah yang terdistribusi pada masing-masing aktor bervariasi. Petani memiliki persentase nilai tambah terkecil, sedangkan industri memiliki persentase nilai tambah terbesar. Besarnya persen nilai tambah yang terdistribusikan adalah petani sebesar 6,98%, tengkulak sebesar

41

15,90%, dan industri sebesar 77,12%. Pada tabel diperoleh nilai tambah total sebesar Rp 566.807/m³ dari hasil pengolahan bahan baku (pohon berdiri) hingga menjadi produk jadi yang siap pakai (papan). Perbedaan nilai tambah disebabkan oleh besarnya biaya input yang dikeluarkan dan harga jual pada masing-masing aktor yang disebabkan karena berbedanya proses kegiatan usaha yang dilakukan. Semakin besar skala usaha, maka nilai tambahnya akan semakin besar. Hal tersebut disebabkan karena perbedaan nilai produk, harga input bahan baku, dan perbedaan nilai sumbangan input lain pada masing-masing skala usaha yang diketegorikan. Selain itu, adanya diversifikasi olahan produk yaitu dengan mengolah kayu bulat/gelondongan menjadi balok, kaso, papan akan meningkatkan nilai tambah (Munawar 2010).

Dalam hal ini aktor yang menjalankan usaha dalam skala besar adalah industri, selanjutnya tengkulak dan petani. Disamping itu, industri melakukan pengolahan produk setengah jadi menjadi produk jadi yang siap digunakan oleh konsumen sehingga nilai tambah industri lebih besar dibandingkan tengkulak dan petani. Berbeda dengan industri, di petani tidak ada proses pengolahan produk yang dilakukan karena petani menjual hasil hutannya dalam bentuk pohon berdiri, sedangkan tengkulak melakukan pengolahan bahan mentah (pohon berdiri) menjadi produk setengah jadi (balken).

Jika biaya input dan harga jual dari ketiga aktor dibandingkan, maka semakin besar biaya input yang dikeluarkan oleh suatu aktor, akan semakin besar pula keuntungan atau nilai tambah yang akan diperoleh aktor tersebut. Hal tersebut disebabkan karena semakin besar modal yang dikeluarkan dalam menciptakan suatu hasil akan sebanding dengan banyaknya hasil yang akan diperoleh, namun hal tersebut tergantung dari produktifitas kerja yang dilakukan. Banyaknya hasil yang diperoleh dipengaruhi adanya penggunaan teknologi canggih dalam proses pengolahan bahan baku. Selain itu, semakin besar harga jual akan semakin besar nilai tambah yang akan diperoleh. Besarnya harga jual dipengaruhi adanya diversifikasi olahan produk menjadi produk yang siap pakai.

Hal yang menjadi penyebab kecilnya nilai tambah petani adalah rendahnya biaya input dan harga jual petani. Rendahnya biaya input yang dikeluarkan petani disebabkan karena petani mengelola hutan rakyatnya dengan cara-cara yang

sederhana tanpa mengeluarkan biaya dalam jumlah yang besar, sedangkan rendahnya harga jual petani disebabkan karena petani hanya menjual bahan mentah (pohon berdiri), tidak adanya proses pengolahan bahan baku yang dilakukan petani. Selain itu, petani tidak mempunyai posisi yang kuat dalam mempertahankan harga jual yang ditetapkannya. Hal tersebut disebabkan karena desakan kebutuhan, kurangnya informasi pasar, dan petani tidak mengetahui besarnya volume (kubikasi) dari pohon berdiri yang dijualnya. Rendahnya harga jual petani juga disebabkan karena petani masih beranggapan bahwa menanam pohon hanya merupakan tambahan penghasilan dan untuk memanfaatkan lahan kosong tanpa mempertimbangkan biaya dan tenaga yang telah dikorbankan. Hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi lahan yang agroforestry, dimana hasil pertanian memberikan pendapatan yang lebih besar dibandingkan hasil hutan sehingga petani tidak mempermasalahkan hasil hutan dibeli dengan harga rendah.

Hardjanto (2000) menegaskan terdapat beberapa ciri pengusahaan hutan rakyat di Jawa, yaitu usaha hutan rakyat dilakukan oleh petani, tengkulak, dan industri dimana petani masih memiliki posisi tawar yang lebih rendah. Budidaya hutan rakyat yang dilakukan petani diusahakan dengan cara yang sederhana mulai dari penyediaan biji, bibit, penanaman, pemeliharaan, sampai siap jual. Selain itu, petani belum dapat melakukan usaha hutan rakyat menurut prinsip usaha dan prinsip kelestarian yang baik karena pohon yang dimiliki petani tidak diposisikan sebagai sumber pendapatan andalan, namun hanya sebagai tabungan yang apabila diperlukan dapat ditebang atau dijual yang dikenal dengan istilah daur butuh sehingga pendapatan dari hutan rakyat bagi petani hanya sebagai pendapatan sampingan dan bersifat insidentil dengan kisaran tidak lebih dari 10% dari pendapatan total.

Besarnya biaya input dan harga jual tengkulak disesuaikan berdasarkan ukuran balken yang dihasilkan tengkulak dari pengolahan pohon berdiri. Harga jual tengkulak merupakan harga beli yang telah ditetapkan industri, dimana industri membayar balken per satuan balken sesuai dengan ukuran balken yang dibawa tengkulak.

Berbeda dengan petani, industri memiliki persentase nilai tambah terbesar yang disebabkan karena besarnya biaya input yang dikeluarkan dan besarnya

43

harga jual produk. Industri memiliki kepemilikan modal besar dalam melakukan usaha sehingga semakin besar biaya input yang dikeluarkan, akan semakin besar keuntungan yang akan diperoleh karena sebanding dengan banyaknya produk yang dihasilkan. Banyaknya produk yang dihasilkan dipengaruhi oleh teknologi canggih yang digunakan industri dalam proses pengolahan bahan baku, sedangkan besarnya harga jual produk industri disebabkan karena produk yang dihasilkan industri merupakan produk yang sudah siap pakai. Selain itu, industri sebagai aktor yang menetapkan harga yaitu harga beli hasil tebangan (log maupun balken) yang dibawa tengkulak.

Apabila tengkulak membawa balken maka industri membayar balken tersebut berdasarkan harga yang telah ditetapkan sesuai dengan ukuran masing-masing balken, sedangkan apabila tengkulak membawa log maka industri membayar log tersebut berdasarkan besarnya kubikasi produk jadi yang dihasilkan dari log yang diolah. Sama halnya dengan balken, industri telah menetapkan harga kubikasi sesuai dengan jenis produk yang dihasilkan dari log yang diolah. Sedangkan petani dan tengkulak sebagai aktor yang menerima harga. Tengkulak menerima harga dari industri, selanjutnya petani menerima harga dari tengkulak.

Nilai tambah masing-masing aktor dapat ditingkatkan dengan meningkatkan volume produksi, karena meningkatkan volume produksi dapat mengefisienkan biaya tetap yang dikeluarkan masing-masing aktor. Peningkatan volume produksi di petani dapat dilakukan dengan meningkatkan pengelolaan hutan rakyat sehingga pohon yang tumbuh akan memiliki kualitas yang lebih bagus, serta membiarkan pohon untuk tetap tumbuh hingga mencapai masak tebang. Peningkatan volume produksi tengkulak dapat ditingkatkan dengan meningkatkan kubikasi penebangan, sedangkan peningkatan volume produksi industri dapat ditingkatkan dengan meningkatkan kubikasi dalam pengolahan produk.

Dokumen terkait