Lembaga Swadaya Sosial (LSM) di Indonesia

Dalam dokumen BAB II URAIAN TEORITIS. suatu pernyataan atau sikap dalam kata-kata. Suatu sikap dapat dinyatakan (Halaman 31-36)

3. Pembentukan Pendapat

2.3.3 Lembaga Swadaya Sosial (LSM) di Indonesia

Memasuki perubahan politik Indonesia pada 1998 yang disebut era Reformasi, LSM sebagai sebuah lembaga yang sering diposisikan oposannya pemerintahan mulai dianggap sebagai salah satu bagian kelembagaan politik yang penting dan diakui yang berkembang sangat pesat (Kompas Online, 17 April 2004). Negara pada era Reformasi ini tampaknya membuka ruang jauh lebih luas

untuk “menampung” kehadiran aktor-aktor demokrasi ketimbang negara pada era sebelumnya. Berdasarkan data BPS tahun 2000, LSM di Indonesia mencapai 70.000 organisasi. Di tengah berlangsungnya proses demokratisasi, penyebaran gerakan tersebut tidak lagi terbatas pada komponen elit, mahasiswa dan aktivis LSM, tetapi sudah merambah hingga grassroots seperti gerakan buruh, kaum tani, pedagang dan kaum marjinal lainnya. Kehadirannya tidak hanya berhubungan dengan gerakan-gerakan perlawanan selama masa transisi politik dari era Orde Baru ke era Reformasi.(Parera & Koekerits , 1999:25)

Pertumbuhan jumlah organisasi gerakan sosial di Dunia Ketiga khusus LSM di Indonesia, tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan sejarah diskursus pembangunan. Munculnya organisasi-organisasi sosial baik itu LSM, ormas, dan lain-lain disebabkan oleh persoalan-persoalan dari proses pembangunan yang menyimpang. Sehingga, di banyak negara Dunia Ketiga istilah LSM/NGO selalu berkonotasi organisasi pembangunan nonpemerintah (Fakih, 2004:39).

Perkembangan LSM yang sangat pesat ini di Indonesia sebagai gerakan sosial yang terorganisir telah dimulai sejak 1970. Di mana di akhir tahun 1960an dan awal 1970an hanya ada sedikit sekali gerakan sosial dan kelompok nonpemerintah yang secara aktif memiliki kepedulian dan kemampuan untuk menangani masalah-masalah pembangunan (Fakih, 2004:39). Jika dalam masa 1970an kebanyakan kegiatan LSM lebih difokuskan bagaimana bekerja dengan rakyat di tingkat akar rumput dengan melakukan kerja pengembangan masyarakat (community development), maka dalam tahun 1980an bentuk perjuangannya menjadi lebih beragam, dari perjuangan lokal hingga jenis advokasi baik tingkat

nasional maupun tingkat internasional. Sejumlah aktivis LSM bahkan mulai mengkhususkan diri melakukan kerja advokasi politik untuk perubahan kebijakan yang dalam banyak manifestasinya dilakukan dengan pelbagai macam statement politik, petisi, lobbi, protes dan demonstrasi (Fakih, 2004:5-6).

Paham Developmentalisme yang sangat hegemonik tentang konsep masyarakat sipil ini pada umumnya menggambarkan sebuah tata sosial dan proses sosial yang otonom terpisah dari kehidupan dan proses politik dan berjarak dengan proses produksi. Dari kuatnya dominasi paham Developmentalisme tersebut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap munculnya LSM. Baik LSM yang dibentuk atau disponsori oleh kaum Developmentalisme sendiri maupun LSM yang dibentuk oleh aktivis-aktivis yang memiliki kesadaran terhadap anti dominasi paham Developmentalisme.

Pada mulanya LSM dilihat sebagai organisasi yang bergerak secara eksklusif pada tingkat lokal dengan tujuan memenuhi kebutuhan kelompok miskin tanpa mempertimbangkan dampak yang luas; akan tetapi kemudian terjadi pergeseran yang mendasar yakni bahwa LSM tidak lagi hanya berupaya memenuhi kebutuhan kelompok miskin melainkan juga membantu mereka untuk mengartikulasikan kebutuhan mereka dan memberikan kemampuan kepada mereka untuk mengontrol proses pengambilan keputusan yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka.

Disebabkan oleh propaganda yang massif oleh ide Developmentalisme tentang konsep-konsep yang berkenaan dengan pembangunan, dan dengan dukungan dana besar-besaran untuk melebarkan pengaruhnya, LSM pun tumbuh bak jamur di musim hujan sebagai sebuah

lembaga sosial yang baru, yang memiliki fungsi kontrol dan cenderung fatalistik. Para aktivis LSM beramai-ramai menjadi orang paling kritis terhadap pembangunan, mendiskusikan konsep masyarakat sipil titipan, menawarkan gagasan tersebut seolah-olah memahami inti persoalan. Di sisi lain banyak juga akitivis LSM yang berpenampilan egaliter, tetapi dibalik itu tindakan feodalistik dan status quo lah yang dirasakan dalam membangun hubungan di dalam lembaga.

Dalam menjalankan dan menebarkan konsep masyarakat sipil sering sekali sebagian besar LSM menetapkan cita-cita mereka adalah demi demokratisasi, transformasi sosial, dan keadilan sosial. Namun, ketika sampai pada bagaimana mereka akan mencapai aspirasi-aspirasi tersebut, kebanyakan dari mereka menggunakan konsep maupun teori Modernisasi dan Developmentalisme tanpa pertanyaan kritis (Fakih, 2004:7).

Di antara banyak sumber yang mempunyai andil besar dalam melahirkan ketidakjelasan itu adalah kuatnya pengaruh ideologi Modernisasi dan Developmentalisme terhadap lingkungan politik, ekonomi, kultur, dan aspek-aspek lainnya, termasuk kalangan LSM, di Indonesia. Dewasa ini, Modernisasi dan Developmentalisme di negeri-negeri Dunia Ketiga telah menjadi paradigma dan ideologi utama dan dominan yaitu Liberalisme. Modernisasi dan Developmentalisme diyakini oleh kaum birokrat, intelektual kampus, dan bahkan kalangan aktivis LSM di Dunia Ketiga, khususnya di Indonesia, sebagai satu-satunya jalan memecahkan masalah. Pengaruh Modernisasi dan

Developmentalisme ini mengendap sangat dalam di pikiran mayoritas aktivis LSM di Indonesia (Fakih, 2004:8).

Sebagai tanggapan terhadap kecenderungan itu, kemudian muncullah suatu gerakan dimana tuntutan agar pembangunan lebih mengutamakan rakyat sebagai subjek pembangunan yang menekankan pentingnya penguatan kapasitas kelembagaan dan sosial. Rakyat harus dipastikan aktif dalam proses pembanguan yang mendorong pengembangan pengendalian, dan kemandirian lokal.

Di Indonesia, LSM lebih menampilakan segi positif yang diharapkan akan dapat dimanfaatkan dengan lebih efektif, selain itu mereka pada umumnya kecil, tidak birokratis dan independen. Dengan kelebihan ini LSM lebih mampu, lebih cepat dan kongkrit dalam memecahkan masalah yang ada di dalam masyarakat. LSM memang sulit untuk di defenisikan, akan tetapi yang jelas mereka adalah sebagai gerakan yang tumbuh berdasarkan nilai-nilai kerakyatan dengan sebuah tujuan untuk menumbuhkan kesadaran dan kemandirian masyarakat, yang akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Budairi, 2002: 84). Sebagai organisasi kemasyarakatan yang melakukan kegiatan atas motivasi dan swadaya yang bangkit dari kesadaran solidaritas sosial.

LSM yang sedang berkembang pesat di Indonesia diharapkan mampu memberikan jasa pada tingkat makro sebagai berikut:

a. Pemunculan isu-isu, misalnya tentang lingkungan hidup, hak azasi manusia, dan lain-lain.

b. Mengartikulasikan kepentingan umum tentang HAM, demokrasi dan seterusnya.

c. Dampak dari kegiatan LSM yang mempunyai arti politis adalah pada keseluruhan keseimbangan kekuatan (balance of foces) antar kelompok-kelompok sosial dan ekonomi pemerintahan Indonesia dan berbagai agen-agennya,

d. LSM berperan sebagai intermediary antara perentaraan perencanaan pembangunan dengan masyarakat yang di bawah.

Perkembangan LSM di Indonesia menunjukkan adanya periodesasi kelahiran, hal yang signifikan adalah bahwa setiap generasi atau periode dari LSM itu ternyata memiliki kecenderungan orientasi kegiatan dan pemikiran politik yang berbeda-beda.

Dalam dokumen BAB II URAIAN TEORITIS. suatu pernyataan atau sikap dalam kata-kata. Suatu sikap dapat dinyatakan (Halaman 31-36)