• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III Pengumpulan Data dan Informasi Pendukung Ruang Lingkup

D. Kemajuan Berlatih

Judul Modul : Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan Elemen

Kompetensi 1 : Menyediakan peta tata ruang wilayah fungsional perikanan dan non perikanan

No. Kriteria Unjuk Kerja Urutan Pekerjaan

Tingkat

1. Jelaskan sumber peta tata ruang wilayah 2. Lakukan identifikasi sumber peta tata ruang

wilayah 2. Peta tata ruang

wilayah Disediakan

1. Jelaskan jenis-jenis peta tata ruang wilayah 2. Jelaskan cara menyediakan peta tata ruang

wilayah

24

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman

Keterangan:

K : Kompeten

BK : Belum Kompeten

Paraf Peserta : …. Paraf Pelatih : …

25

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman:

BAB III

PENGUMPULAN DATA DAN INFORMASI PENDUKUNG RUANG LINGKUP PENGELOLAAN

A. Lembar Informasi

Judul Modul : Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Elemen

Kompetensi 2 : Mengumpulkan data dan informasi pendukung ruang lingkup pengelolaan

A. Informasi Pokok

3.1. Identifikasi sumber data dan informasi pendukung ruang lingkup pengelolaan

1. Pengantar

FAO (2003) mendefinisikan Ecosystem Approach to Fisheries (EAF) sebagai : “an ecosystem approach to fisheries strives to balance diverse societal objectives, by taking account of the knowledge and uncertainties about biotic, abiotic and human components of ecosystems and their interactions and applying an integrated approach to fisheries within ecologically meaningful boundaries”. Mengacu pada definisi tersebut, secara sederhana EAFM dapat dipahami sebagai sebuah konsep bagaimana menyeimbangkan antara tujuan sosial ekonomi dalam pengelolaan perikanan (kesejahteraan nelayan, keadilan pemanfaatan sumberdaya ikan, dan lain-lain) dengan tetap mempertimbangkan pengetahuan, informasi dan ketidakpastian tentang komponen biotik, abiotik dan interaksi manusia dalam ekosistem perairan melalui sebuah pengelolaan perikanan yang terpadu, komprehensif dan berkelanjutan.

26

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman:

Dalam konteks ini, beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam implementasi pendekatan ekosistem dalam pengelolaan perikanan (EAFM) menurut FAO (2003) antara lain adalah :

1. Perikanan harus dikelola pada batas yang memberikan dampak yang dapat ditoleransi oleh ekosistem;

2. Interaksi ekologis antar sumberdaya ikan dan ekosistemnya harus dijaga;

3. Perangkat pengelolaan sebaiknya compatible untuk semua distribusi sumberdaya ikan;

4. Prinsip kehati-hatian dalam proses pengambilan keputusan pengelolaan perikanan;

5. Tata kelola perikanan mencakup kepentingan sistem ekologi dan sistem manusia.

Sementara itu, Pikitch, et.al (2004) mendefinisikan EAFM sebagai sebuah proses penyempurnaan pengelolaan perikanan yang dimulai dari sudut pandang kesehatan ekosistem (ecosystem health) sebagai media penting dari proses keberlanjutan sumberdaya ikan sebagai obyek dari pengelolaan perikanan.

Dalam pengertian lebih sederhana, EAFM sesungguhnya menitikberatkan pada keterkaitan (konektivitas) antara target spesies sumberdaya ikan dengan ekosistem perairan dan segenap unsur terkait di dalamnya. Konektivitas ini tidak hanya dalam perspektif ekologi (ecological connectivities) tapi juga konektivitas antara sistem ekologis dengan sistem sosial sebagai unsur utama dari pengelolaan perikanan seperti yang dinyatakan oleh Hilborn (2010) bahwa “fisheries management is a matter of managing human behavior”

Berdasarkan definisi dan prinsip EAFM tersebut di atas, maka implementasi EAFM di Indonesia memerlukan adaptasi

27

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman:

struktural maupun fungsional di seluruh tingkat pengelolaan perikanan, baik di tingkat pusat maupun daerah. Hal ini paling tidak menyangkut perubahan kerangka berpikir (mindset) misalnya bahwa otoritas perikanan tidak lagi hanya menjalankan fungsi administratif perikanan (fisheries administrative functions), namun lebih dari itu menjalankan fungsi pengelolaan perikanan (fisheries management functions) (Adrianto, 2008).

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar yang dikaruniai dengan ekosistem perairan tropis memiliki karakterstik dinamika sumber daya perairan, termasuk di dalamnya sumberdaya ikan, yang tinggi. Tingginya dinamika sumberdaya ikan ini tidak terlepas dari kompleksitas ekosistem tropis (tropical ecosystem complexities) yang telah menjadi salah satu ciri dari ekosistem tropis. Dalam konteks ini, pengelolaan perikanan yang tujuan ultimatnya adalah memberikan manfaat sosial ekonomi yang optimal bagi masyarakat tidak dapat dilepaskan dari dinamika ekosistem yang menjadi media hidup bagi sumber daya ikan itu sendiri. Gracia and Cochrane (2005) memberikan gambaran model sederhana dari kompleksitas sumber daya ikan sehingga membuat pendekatan terpadu berbasis ekosistem menjadi sangat penting.

Gambar berikut ini menyajikan model sederhana dari interaksi antar komponen dalam ekosistem yang mendorong pentingya penerapan pendekatan ekosistem dalam pengelolaan perikanan (EAFM).

28

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman:

Gb 3.1. Interaksi dan Proses Antar Komponen dalam Pengelolaan Perikanan

Berdasarkan Gambar 3.1 tersebut dapat dilihat bahwa interaksi antar komponen abiotik dan biotik dalam sebuah kesatuan fungsi dan proses ekosistem perairan menjadi salah satu komponen utama mengapa pendekatan ekosistem menjadi sangat penting. Interaksi bagaimana iklim mempengaruhi dinamika komponen abiotik, mempengaruhi komponen biotik dan sebagai akibatnya, sumber daya ikan akan turut terpengaruh, adalah contoh kompleksitas dari pengelolaan sumber daya ikan. Apabila interaksi antar komponen ini diabaikan, maka keberlanjutan perikanan dapat dipastikan menjadi terancam.

Pada Gambar 3.1 diatas juga dijelaskan bahwa EAFM sesungguhnya bukan hal yang baru. EAFM merupakan pendekatan yang ditawarkan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan yang

29

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman:

sudah ada (conventional management). Proses yang terjadi pada conventional management digambarkan melalui garis tebal, sedangkan pengembangan dari pengelolaan konvensional tersebut melalui EAFM digambarkan melalui garis putus-putus. Sebagai contoh, pada pengelolaan konvensional kegiatan perikanan hanya dipandang secara parsial bagaimana ekstraksi dari sumber daya ikan yang didorong oleh permintaan pasar. Dalam konteks EAFM, maka ekstraksi ini tidak bersifat linier namun harus dipertimbangkan pula dinamika pengaruh dari tingkat survival habitat yang mensupport kehidupan sumberdaya ikan itu sendiri.

Adrianto (2018) mengemukakan bahwa perikanan adalah sistem ekonomi yang kompleks karena melibatkan dua sistem dinamik yang saling terkait satu sama lain, yaitu (1) sistem sumber daya ikan dan ekosistemnya; dan (2) sistem ekonomi dan kebijakan yang melibatkan kepentingan manusia. Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam kerangka sederhana, perikanan merupakan sistem ekonomi yang menjamin ekosistem harus sehat karena tanpa ekosistem sehat maka tidak ada sumber daya ikan yang sehat.

Kesehatan ekosistem ini kemudian harus dapat digunakan untuk menjamin kesejahteraan manusia melalui instrumen kebijakan yang inklusif dan berbasis pada pengetahuan yang masif.

Paling tidak ada sejumlah peran perikanan yang harus kembali diperhatikan, yaitu: (1) perikanan sebagai sumber pangan dan protein bagi bangsa; (2) perikanan sebagai pengawal kebudayaan bangsa; (3) perikanan sebagai penghasil devisa negara; (4) perikanan sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi;

(5) perikanan sebagai indikator kesehatan perairan; serta (6) perikanan sebagai penjaga kedaulatan bangsa melalui diplomasi yang bebas dan aktif.

30

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman:

Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, menyebutkan bahwa pengelolaan perikanan adalah semua upaya, termasuk proses yang terintegrasi dalam pengumpulan informasi, analisis, perencanaan, konsultasi, pembuatan keputusan, alokasi sumber daya ikan, dan implementasi serta penegakan hukum dari peraturan perundang-undangan di bidang perikanan, yang dilakukan oleh pemerintah atau otoritas lain yang diarahkan untuk mencapai kelangsungan produktivitas sumber daya hayati perairan dan tujuan yang telah disepakati. Berdasarkan definisi tersebut jelas sekali bahwa faktor kunci dalam pengelolaan perikanan adalah pengumpulan data dan informasi.

Ruddel (2000) dalam Adrianto (2020) mengemukakan 5 (lima) unsur penting dalam pengelolaan perikanan yaitu:

1. Pertama boundary system-sistem batas, pengelolaan perikanan memerlukan batas-batas (boundaries) yang jelas, baik itu batas ekologis, maupun geografis sebagai unit perikanan yang dikelola- misalnya teluk, danau, DAS, perairan dangkal di pulau kecil, dan lain-lain.

2. Kedua right system- sistem hak, ada sistem hak yang terkait dengan stakehoders yang diberi hak untuk terlibat dalam pengelolaan perikanan. Misalnya siapa saja yang boleh menangkap ikan? dan lain-lain.

3. Ketiga rules system – sistem aturan, ada sistem aturan yang mengatur bagaimana pemangku kepentingan yang sudah diberi hak tersebut di atas melakukan kegiatannya. Misalnya berapa banyak ikan yang boleh ditangkap? dimana saja? Dan lain-lain.

4. Keempat sanctions system - sistem sangsi/hukum, adanya sistem sangsi yang diterapkan kepada pemangku kepentingan apabila melanggar sistem aturan yang telah disepakati.

5. Kelima monitoring and evaluation system-sistem monitoring dan evaluasi, adanya sistem monitoring dan evaluasi yang

31

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman:

dilaksanakan secara partisipatif bersama seluruh pemangku kepentingan.

Selain itu pengelolaan perikanan membutuhkan sebuah rancang bangun sistem tata kelola dan kebijakan perikanan yang bersifat komprehensif dan memberikan arah, bentuk, dan tatanan pembangunan perikanan untuk mencapai tujuannya sesuai amanah undang-undang yang dikenal dengan arsitektur perikanan.

Paling tidak ada lima pilar yang dianggap penting bagi arsitektur perikanan, salah satunya adalah penguatan instrumen pengelolaan perikanan berdasarkan pengetahuan yang terbaik dan tersedia (data, informasi, pengetahuan lokal, pengalaman usaha, dan lain-lain) sehingga sistem data dan monitoring terhadap karakteristik WPP jadi sangat penting sebagai bagian penting dari manajemen berbasis pengetahuan. Dalam konteks ini, maka fisheries data sciences, fisheries big data sciences menjadi sangat penting dikembangkan (Adrianto, 2018).

Bradley, et al (2019) mengemukakan bahwa data dependent perikanan merupakan bagian integral dalam pengelolaan perikanan berkelanjutan. Kekurangan data perikanan menyebabkan ketidakpastian dalam menentukan status stok sumber daya ikan dan akan berdampak pada ancaman ekonomi dan ketahanan pangan bagi pengguna sumber daya ikan yang sangat tergantung pada sumber daya ikan tersebut dan kemungkinan meningkatkan aktivitas penangkapan ikan berlebihan atau over fishing.

Data dan informasi menjadi salah satu referensi dalam melakukan penghitungan estimasi stok sumber daya ikan (stock assesment), kebijakan penambahan/pengurangan alokasi sumber daya ikan serta sebagai dasar pertimbangan memperpanjang atau tidak memperpanjang Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI). Selain

32

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman:

itu, data sangat dibutuhkan dalam pertemuan scientific committee RFMOs khususnya untuk menentukan status stok, dan menyusun country report Indonesia.

Adrianto (2019) mengemukakan salah satu unsur dan komponen pengelolaan perikanan berupa pengetahuan dan aliran data dalam unit ekosistem yaitu (1) dinamika sumber daya perikanan antara lain data stok, kualitas, permasalahan dan lain, (2) kondisi sosial, misalnya konektivitas, struktural, dan lain-lain, (3) ekonomi dan pasar, diantaranya data pendapatan, keuangan, modal, pembiayaan, dan lainya, (4) institusi dan pemerintah lokal, misalnya data tentang pengetahuan lokal, kelembagaan lokal, dan lain-lain.

2. Data dan Informasi

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan data adalah keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian (analisis atau kesimpulan)”. Sedangkan Merriam-Webster menyebutkan “Data is factual information (such as measurements or statistics) used as a basis for reasoning, discussion, or calculation”.

Data adalah suatu keadaan, objek, kejadian, atau fakta yang terdokumentasikan dengan memiliki modifikasi terstruktur sehingga menghasilkan suatu kesimpulan dalam menarik suatu keputusan (Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 35/PERMEN-KP/2014). Data Kelautan dan Perikanan adalah suatu keadaan, objek, kejadian, atau fakta tentang kelautan dan perikanan yang terdokumentasikan dengan memiliki modifikasi terstruktur sehingga menghasilkan suatu kesimpulan dalam menarik suatu keputusan/kebijakan kelautan dan perikanan

33

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman:

(Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 35/PERMEN-KP/2014).

Pengertian informasi menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah penerangan, pemberitahuan atau kabar dan berita tentang sesuatu.

Berikut adalah tabel perbedaan dari data dan informasi :

Data Informasi

Bersifat mentah Hasil olahan yang lebih berguna

Untuk pengolahan lebih

lanjut Untuk acuan mengambil

keputusan Belum jelas isinya dan belum

sempurna Sumber pemahaman yang

telah sempurna

Istilah data dan informasi sering sekali tertukar dalam pemakaiannya, tetapi ada perbedaan mendasar yaitu bahwa data adalah bahan baku yang diolah untuk dijadikan informasi.

Sedangkan informasi pada umumnya dihubungkan dengan pengambilan keputusan. Dahuri (2020) mengilustrasikan perbedaan data dan informasi serta impilikasinya dalam perolehan pengetahuan dan penyusunan seperti gambar di bawah ini.

34

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman:

Gb 3.2. Ilustrasi perbedaan data dan informasi serta impilikasinya dalam perolehan pengetahuan dan penyusunan kebijakan

3. Sumber Data dan Informasi Pendukung Pengelolaan Perikanan Dahuri (2020) membagi dua institusi yang mensuplai ketersedian data statistik perikanan yaitu Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). BPS menyiapkan data perikanan berupa : (1) Website (data volume dan nilai produksi, jumlah RTP, luas lahan budidaya, jumlah kapal, dll), (2) Statistik Sumber Daya Laut dan Pesisir (tahunan), (3) Statistik Perusahaan Perikanan (tahunan), (4) Statistik Pendaratan Ikan Tradisional (tahunan), (5) Statistik Pelabuhan Perikanan (tahunan). Sedangkan KKP memiliki data perikanan sebagai berikut (1) Kelautan dan Perikanan Dalam Angka (tahunan), (2) Buku Pintar Kelautan dan Perikanan, (3) Sistem Satu Data, (4) Laporan Tahunan, Kinerja, Keuangan, BMN, dan lain-lain, (5) Rencana Strategis, Kerja, dan lain lain.

35

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman:

Sumber data lainnya sangat beragam tergantung jenis data dan informasi yang akan dikumpulkan. Data terkait operasional penangkapan ikan yang meliputi armada, alat penangkapan ikan, nelayan, jumlah trip, daerah penangkapan, kapasitas penangkapan disediakan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap melalui data logbook penangkapan ikan, observer, enumerator di pelabuhan perikanan. Data lainnya yang terkait dengan aspek biologis ikan, parameter lingkungan biasanya bersumber dari peneliti baik peneliti dari Badan Riset SDM Kelautan dan Perikanan, universitas dan lembaga riset lainnya.

d. Identifikasi Data dan informasi pendukung ruang lingkup pengelolaan Beberapa jenis data pendukung yang diperlukan dalam pengelolaan perikanan dijelaskan sebagai berikut.

(1). Data produksi kelautan dan perikanan yang terdiri dari produksi perikanan tangkap, perikanan budidaya dan garam rakyat, baik volume dan nilainya.

(2). Data nilai tukar nelayan/pembudidaya ikan;

(3). Data ekspor komoditas perikanan berupa volume dan nilainya;

(4). Data luas kawasan konservasi perairan yang dikelola secaraberkelanjutan;

(5). Data jumlah pulau-pulau kecil, termasuk pulau-pulau terluar yang dikelola;

(6). Jumlah Tenaga Kerja Baru di Sektor Kelautan Dan Perikanan;

(7). Data persentase wilayah perairan Indonesia yang bebas Illegal fishing dan kegiatan yang merusak sumberdaya kelautan dan perikanan.

Sementara itu jenis data yang dibutuhkan sesuai indikator EAFM meliputi 6 domain yaitu :

(1). Domain Sumber Daya Ikan

Jenis data yang diperlukan adalah a. CPUE

36

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman:

b. Ukuran ikan

c. Proporsi ikan yuwana (juvenile) yang ditangkap d. Komposisi spesies

e. Spesies ETP (Endangered species, Threatened species, and Protected species)

f. "Range Collapse" sumberdaya ikan

g. Densitas/Biomassa untuk ikan karang & invertebrata (2). Domain habitat dan ekosistem perairan

Jenis data yang diperlukan adalah a. Kualitas perairan

b. Status lamun c. Status mangrove

d. Status terumbu karang e. Habitat unik/khusus

f. Status dan produktivitas estuari dan perairan sekitarny Perubahan

g. iklim terhadap kondisi perairan dan habitat (3). Domain Domain Teknik Penangkapan Ikan

Jenis data yang diperlukan adalah

a. Metode penangkapan ikan yang brsifat destruktif dan atau ilegal

b. Modifikasi alat penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan ikan

c. Fishing capacity and effort d. Selektivitas penangkapan

e. Kesesuain fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan dengan dokumen kapal

f. Sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan peraturan (4). Domain Ekonomi

Jenis data yang diperlukan adalah a. Kepemilikan aset

b. Pendapatan rumah tangga perikanan (RTP)

37

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman:

c. Saving rate (5). Domain Sosial

Jenis data yang diperlukan adalah a. Partisiapasi pemangku kepentingan b. Konflik perikanan

c. Pemanfataan pengetahuan lokasl dalam pengelolaan sumber daya ikan (termasuk didalamnya TEK, traditional ecological knowledge)

(6). Domain Kelembagaan

Jenis data yang diperlukan adalah

a. Kepatuhan terhadap prinsip-prinsip perikanan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan perikanan yang telah ditetapkan baik secara formal maupun non formal

b. Kelengkapan aturan main dalam pengelolaan perikanan c. Mekanisme pengambilan keputusan

d. Rencana pengelolaan perikanan

e. Tingkat sinergisitas kebijakan dan kelembagaan pengelolaan perikanan

f. Kapasitas pemangku kepentingan

g. Keberadaan otoritas tungga pengelolaan perikanan

38

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman

B. Praktek Unjuk Kerja

Judul Modul : Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan Elemen

Kompetensi 2 : Mengumpulkan data dan informasi pendukung ruang lingkup pengelolaan Alat dan Bahan :

1. Alat : Komputer, penyimpan data, kertas flipchart, papan tulis, alat tulis, kertas plano 2. Bahan : Modul, bahan ajar, peta topografi, peta korografi, peta geografi, peta tematik

(RBI, LPI, ekosistem pesisir dan laut, distribusi dan biologi spesies ikan, tata ruang wilayah, peta pelayaran, kawasan strategis nasional, peta ekoregion)

Waktu : 2 JP (@45 menit)

No. Kriteria Unjuk Kerja Urutan Kerja/Kegiatan Alat Bantu

1. Sumber data dan informasi pendukung ruang lingkup pengelolaan diidentifikasi

1. Jelaskan prinsip pendekatan ekosistem dalam pengelolaan perikanan

2. Jelaskan interaksi antar komponen ekosistem

3. Jelaskan unsur penting dalam pengelolaan perikanan dijelaskan

4. Jelaskan pengertian data dan informasi dijelaskan

5. Identifikasi sumber data dan informasi

- Modul

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman

pendukung pengeloaan perikanan 2. Data dan informasi

pendukung ruang lingkup pengelolaan dikumpulkan

1. Jelaskan jenis-jenis data dan infomasi pendukung dalam pengelolaan perikanan 2. Jelaskan jenis-jenis data dan informasi

pendukung sesuai indikator EAFM 3. Kumpulkan data dan informasi

pendukung ruang lingkup pengelolaan

- Modul

- Bahan Ajar

- Contoh data dan informasi pendukung ruang lingkup pengelolaan

- Permen KP Nomor 9/2015

40

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman:

C. Evaluasi

Nama Peserta :

Judul Modul : Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Elemen Kompetensi

2 : Mengumpulkan data dan informasi

pendukung ruang lingkup pengelolaan Tugas:

1. Jelaskan unsur penting dalam pengelolaan perikanan ! 2. Jelaskan pengertian data dan informasi !

3. Lakukan identifikasi sumber data dan informasi pendukung pengelolaan perikanan !

4. Jelaskan jenis-jenis data dan infomasi pendukung dalam pengelolaan perikanan

5. Jelaskan jenis-jenis data dan informasi pendukung sesuai indikator EAFM

6. Kumpulkan data dan informasi pendukung ruang lingkup pengelolaan

Nilai K : Kompeten

BK : Belum Kompeten

Paraf Pelatih : ………

41

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman

D. Kemajuan Berlatih

Nama Peserta :

Judul Modul : Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Elemen Kompetensi : Mengumpulkan data dan informasi pendukung ruang lingkup pengelolaan

No. Kriteria Unjuk Kerja Urutan pekerjaan

Tingkat Kemajuan

yang dicapai Catatan

K BK

1. Sumber data dan informasi pendukung ruang lingkup pengelolaan diidentifikasi

1. Jelaskan prinsip pendekatan ekosistem dalam pengelolaan perikanan

2. Jelaskan interaksi antar komponen ekosistem

3. Jelaskan unsur penting dalam pengelolaan perikanan dijelaskan

4. Jelaskan pengertian data dan informasi dijelaskan

5. Identifikasi sumber data dan informasi pendukung pengeloaan perikanan

42

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman

2. Data dan informasi

pendukung ruang lingkup pengelolaan dikumpulkan

1. Jelaskan jenis-jenis data dan infomasi pendukung dalam pengelolaan

perikanan

2. Jelaskan jenis-jenis data dan informasi pendukung sesuai indikator EAFM 3. Kumpulkan data dan informasi

pendukung ruang lingkup pengelolaan Keterangan:

K : Kompeten

BK : Belum Kompeten

Paraf Peserta : …. Paraf Pelatih : …

43

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman:

BAB IV PENUTUP

Modul ini disusun sebagai acuan dalam proses Pelatihan Pengelolaan Perikanan Dengan Pendekatan Ekosistem (Ecosytem Approach To Fisheries Management/EAFM) Jenjang Perencana.

Segala petunjuk penggunaan modul ini hendaknya dapat dilakukan untuk tercapainya tujuan dan sasaran pelatihan. Hal-hal yang tidak termuat dalam modul ini namun relevan dengan materi dapat diberikan sebagai pengkayaan. Semoga modul ini dapat memberikan manfaat bagi penggunanya.

44

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman:

DAFTAR PUSTAKA

Adrianto, L. 2020. Menentukan Ruang Lingkup Pengelolaan Perikanan Dengan Pendekatan Ekosistem. Bahan dan Pengantar Materi. Pra Training of Trainers EAFM untuk Perencana. 2 November 2020.

Adrianto, L. 2018. Arsitektur Perikanan Nasional. Opini Koran Kompas 23 Februari 2018.

Adrianto, L. dkk 2013. Modul Penilaian Indikator untuk Pengelolaan Perikanan Berpendekatan Ekosistem (Ecosystem Approach to Fisheries Management). National Working Group II EAFM.

Direktorat Sumber Daya Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan. 20 Juli 2013.

Bradley, D., Merrifield, M., Miller KM., Lomonico, S., Wilson, J.R dan Gleason, M.G. 2019. Opportunities to Improve Fisheries Management through Innovative Technology and Advanced Data Systems. Fish and Fisheries.2019;20:564-583.

Dahuri, R. 2020. Pengembangan Kebijakan Pembangunan Perikanan Tangkap Berkelanjutan Berbasis IPTEKS. Makalah disampaikan pada Rapat Kerja Teknis Ditjen Perikanan Tangkap, 29 Januari 2020.

Food and Agriculture Organization of the United Nations. 2003.

Ecosystem Approach to Fisheries. FAO Technical Paper.

Gracia, S.M. and Cochrane, K.L 2005. Ecosystem Approach to Fisheries : A Review of Implementation Guidelines. ICES Journal of Marine Sciences (62).

45

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman:

Hilborn, R. 2011. Future directions in ecosystem based fisheries management: A personal perspective. Fisheries Research Vol.

108 Issues 2-3, March 2011 pp 235-239.

Kamus Bahasa Indonesia. 2008. Pusat Bahasa. Jakarta. 1826 hlm.

Pikitch et al. 2004. Ecosystem-Based Fishery Management. Science 16 Jul 2004: Vol. 305, Issue 5682, pp. 346-347.

Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 35/PERMEN-KP/2014 tentang Pedoman Umum Arsitektur Data Kelautan dan Perikanan di Lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan

46

Judul Modul: Penyiapan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan

Versi: 2020 Halaman:

TIM PENYUSUN MODUL

No. Nama Institusi

1. Ilham, S.Pi, M.Si Dit. Pengelolaan Sumber Daya Ikan, DJPT 2. Arik Sulandari A.Md, S.Pi, M.Si Sekretariat Ditjen

Perikanan Tangkap, DJPT 3. Agus Syah Pahlevi , S.Pi Puslatluh KP, Badan Riset

dan SDM KP

47

Dokumen terkait