• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lembar Kerja 3�2

Dalam dokumen ANTROPOLOGI. Okta Hadi Nurcahyono SMA KELAS XI (Halaman 196-200)

Kehidupan Masyarakat Adat Baduy

Pernahkan kalian mengunjungi Kabupaten Lebak, Banten, atau pernahkah kalian mendengar tentang masyarakat adat Baduy? Masyarakat adat Baduy merupakan salah satu suku di Indonesia yang menganut kepercayaan atau agama leluhur dan menjaga adat-istiadatnya. Prinsip dan pedoman hidup masyarakat Baduy tecermin dalam ujaran-ujaran Pikukuh yang disampaikan turun-temurun secara lisan dan menjadi aturan adat yang harus ditaati. Pikukuh tersebut bersifat mengatur berbagai bidang kehidupan masyarakat, baik dalam bidang kesehatan, kepercayaan, maupun pangan. Ada pula kanekes atau tempat tinggal masyarakat Baduy yang dipercaya sebagai tanah suci dan pancer bumi (pusat bumi) sehingga mereka yang tinggal di dalamnya berkewajiban untuk menjaga kesucian tersebut dengan mematuhi larangan dan amanat dari leluhur (karuhun).

Ketaatan masyarakat Baduy terhadap adat istiadat dan kebiasaan leluhur diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Baduy dilarang mengenakan alas kaki, Pu’un (pemimpin adat) tidak boleh keluar dari kanekes ketika masih menjabat, tidak boleh menggunakan listrik maupun alat elektronik lainnya, tidak boleh mengangkut padi dengan kendaraan atau menggiling padi dengan mesin, dilarang menumbuk padi pada hari Selasa dan Jumat, tidak diperkenankan sekolah di sekolah formal, rumah dilarang menghadap ke barat dan timur, tidak boleh memakai kendaraan jika bepergian, tidak menerima aliran listrik dari pemerintah, rumah dilarang memiliki jendela, dan tidak boleh menyisir rambut pada malam hari. Bagi pelanggar aturan atau disebut buyut (larangan) akan dikenakan sanksi adat berupa dikucilkan atau dibuang, yang dilaksanakan melalui upacara Panyapuan. Ritual panyapuan yang bermakna penghapusan dosa atau pembersihan berlangsung selama 4 minggu lamanya.

Kalian dapat memahami mengenai kehidupan masyarakat Baduy selengkapnya melalui tautan berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=Dftl_5hylhQ atau pindailah kode QR di samping

Video tersebut merupakan video etnografi yang menggambarkan kehidupan suku Baduy luar yang memegang teguh Pikukuh dalam menjalankan kehidupan masyarakat. Jika kalian kesulitan untuk mengakses video tersebut, kalian juga dapat memperhatikan tradisi yang ada di masyarakat lingkungan sekitar kalian, mengamati nilai-nilai tradisi apa saja yang dilakukan oleh masyarakat, pelaksanaan kegiatan adat berkaitan dengan hal tersebut, dan bagaimana nilai-nilai tersebut diimplementasikan masyarakat dalam kehidupan masyarakat. Setelah melihat dan memperhatikan video tersebut maupun mengamati tradisi masyarakat sekitar kalian, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini!

1. Menurut kalian, bagaimana gambaran kehidupan suku Baduy pada video tersebut ?

2. Apa saja unsur kebudayaan suku Baduy yang ditampilkan?

3. Apa saja hal-hal penting yang dapat kalian peroleh mengenai nilai dan kepercayaan masyarakat mengenai pentingnya menjalankan Pikukuh bagi masyarakat suku Baduy?

4. Berdasarkan video tersebut, apa yang membuat masyarakat menjalankan hidup sesuai Pikukuh suku Baduy?

5. Apa yang dapat kamu simpulkan mengenai etnografi berdasarkan video yang kamu telah kalian saksikan?

Gambar 3.12 Tangkapan layar video riset etnografi “Menguak Halimun Baduy” (2014)

Sumber: Pusat Humaniora/YouTube (2014)

Gambar 3.13 Mead dan Bateson tengah menulis catatan etnografi saat kerja lapangan. Sumber: Arsip Mead/Library

Margaret Mead dan Gregory Bateson:

Pasangan Antropolog Meneliti Bali

Mead dan Bateson menikah pada 1936 di Singapura saat mereka menuju kerja lapangan di Bali. Dalam karya rintisan dalam antropologi visual ini, mereka menggunakan berbagai metode untuk mengeksplorasi peran budaya dalam pembentukan kepribadian.

Mereka mendokumentasikan budaya Bali dalam catatan lapangan yang ekstensif dan melalui penggunaan foto still dan gambar bergerak secara inovatif. Mead dan Bateson berkolaborasi dengan rekan peneliti dari Barat lain yang tinggal di Bali serta informan lokal untuk menghasilkan beberapa lapisan dokumentasi perilaku seperti interaksi orang tua-anak, pertunjukan ritual dan upacara, dan seniman di bengkel karya mereka.

Mereka mengumpulkan lebih dari 1200 karya seni Bali dari orang dewasa sampai anak-anak. Di antara karya-karya yang mereka hasilkan adalah film “Trance and Dance in Bali” (1952) dan buku Balinese Character: A Photographic Analysis (1942). Buku foto tersebut berisi 759 foto pilihan yang disusun secara tematis untuk menggambarkan poin teoretis tentang pembentukan karakter dan budaya Bali. Misalnya, mereka menggunakan foto berurutan untuk menunjukkan bagaimana anak-anak belajar keterampilan fisik secara pasif dengan mengerakkan tubuh mereka ke posisi yang diperagakan oleh guru mereka.

Pojok Antropolog 07

Sebagai seorang perempuan, Margaret Mead memiliki keunggulan dibandingkan antropolog laki-laki dalam mendapatkan akses terhadap perempuan dan anak-anak. Ketika di Bali, ia menemukan bahwa pendekatan yang biasa ia lakukan kepada anak-anak tidak berhasil. Mead menulis dalam Balinese Character, “Ibu-ibu yang bayinya telah saya obati, meskipun kerap kembali untuk mendapatkan lebih banyak obat, tetap merasa kurang nyaman, sehingga bayi-bayi mereka menangis ketakutan di pelukan mereka setiap kali melihat saya.” Mead menghubungkan apa yang dialami bayi melalui ibu mereka ini sebagai nada emosional ketakutan dalam sebuah kebudayaan. Mead menemukan bahwa ketika dia mengekspresikan dirinya dengan cara yang berlebihan dan teatrikal, para ibu dan anak-anak menjadi santai.

Mead dan Bateson mengembangkan metode kerja bersama. Mead membuat catatan pada sebuah adegan sementara Bateson mengambil foto maupun gambar bergerak. Mead akan mengarahkan Bateson ke adegan yang terjadi di luar pandangan Bateson. Ketika Mead menulis catatannya, dia akan memasukkan tanggal acara di kanan atas dan tanggal ia menulis di kiri atas. Mead rajin mencantumkan waktu pengamatan di berbagai titik sehingga catatannya dapat disinkronkan dengan data lain yang terkumpul, termasuk waktu pengambilan gambar dan video.

Referensi:

Library of Congress. “Margaret Mead: Human Nature and the Power of Culture Bali: Personality Formation”. diakses melalui https://www.loc.gov/exhibits/

mead/field-bali.html

Gambar 3.14 Mead ketika berinteraksi dengan ibu dan anak di Bali. Sumber: Library of Congress/

loc.gov (1936)

Dalam dokumen ANTROPOLOGI. Okta Hadi Nurcahyono SMA KELAS XI (Halaman 196-200)