• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2. Lembar Kerja Siswa (LKS)

3. Gambar-gambar yang diberikan dalam Lembar Kerja Siswa (LKS) jelas dan berwarna sehingga menarik perhatian siswa untuk melihat, membaca, dan memahami materi.

4. Lembar Kerja Siswa (LKS) yang dikembangkan dapat menjadi sarana belajar mandiri siswa di sekolah dan di rumah.

5. Lembar Kerja Siswa (LKS) yang dikembangkan merupakan bahan ajar cetak.

F. Pentingnya Pengembangan

Penelitian pengembangan ini penting dilakukan karena memberikan manfaat, yaitu:

a. Sebagai media pendamping dan alternatif, yang dapat digunakan oleh guru dalam memantau pemahaman siswa dalam materi pasar. b. Sebagai referensi dalam mengembangkan media untuk

pembelajaran materi yang lain. 2. Bagi Siswa

a. Dapat membantu siswa untuk mempermudah memahami pelajaran ekonomi khususnya materi pasar.

b. Dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, dalam mengikuti pelajaran ekonomi khususnya materi pasar.

3. Bagi Peneliti

Sebagai pengalaman dan wawasan dalam hal penelitian dan pengembangan produk pembelajaran yang baik dan layak digunakan. 4. Bagi Sekolah

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai perbandingan atau acuan/ referensi dalam pengembangan media LKS selanjutnya

5. Bagi Program Studi Pendidikan Ekonomi

Hasil penelitian dan pengembangan media ini dapat menjadi tambahan informasi dan referensi untuk mengembangkan media LKS yang sesuai dengan perkembangan dunia pendidikan.

G. Definisi Istilah

Agar tidak terjadi kesalahpahaman maka ditentukan batasan-batasan istilah, yaitu:

1. Pengembangan adalah proses untuk mengembangkan produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada.

2. Media bergambar adalah alat bantu belajar siswa berupa gambar-gambar hasil cetak, lukisan, atau foto.

3. Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah suatu bahan ajar cetak berupa lembaran-lembaran kertas yang berisi materi, ringkasan, dan petunjuk-petunjuk pelaksanaan tugas pembelajaran yang harus dikerjakan oleh siswa, yang mengacu pada kompetensi dasar yang akan dicapai.

4. Lembar Kerja Siswa (LKS) dengan media bergambar adalah suatu bahan ajar cetak berupa lembaran-lembaran kertas yang berisi materi, ringkasan, dan petunjuk-petunjuk pelaksanaan yang dilengkapi dengan gambar-gambar yang relevan dengan materi.

5. Pasar adalah proses dimana penjual dan pembeli saling berinteraksi untuk menetapkan harga keseimbangan atau kesepakatan atas tingkat harga berdasarkan permintaan dan penawaran.

8 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Penelitian dan Pengembangan a. Pengertian Pengembangan

Akhir-akhir ini telah berkembang penelitian pengembangan, perhatian terhadap penelitian pengembangan ini terbukti dari banyaknya dilakukan penelitian dan pengembangan. Dalam dunia pendidikan dan pembelajaran khususnya, penelitian pengembangan memfokuskan kajiannya pada bidang desain atau rancangan, baik berupa model desain dan desain bahan ajar, produk misalnya media, dan juga proses. Dalam dunia pendidikan, penelitian dan pengembangan ini merupakan jenis penelitian yang baru. Ada beberapa pendapat tentang pengertian pengembangan, menurut Borg & Gall (1983) pengembangan adalah suatu proses yang dipakai untuk mengembangkan dan memvalidasi produk pendidikan. Penelitian ini mengikuti suatu langkah-langkah secara siklus, langkah-langkah tersebut terdiri atas kajian tentang temuan penelitian produk yang akan dikembangkan, mengembangkan produk berdasarkan temuan-temuan tersebut, melakukan uji coba lapangan sesuai dengan latar di mana produk tersebut akan dipakai, dan melakukan revisi terhadap hasil uji lapangan.

Seels & Richey (1994) mendefinisikan penelitian pengembangan adalah penelitian pengembangan sebagaimana dibedakan dengan pengembangan pembelajaran yang sederhana, didefinisikan sebagai kajian secara sistematik untuk merancang, mengembangkan, dan mengevaluasi program-program, proses dan hasil-hasil pembelajaran yang harus dipenuhi kriteria konsistensi dan keefektifan secara internal.

b. Model Penelitian dan Pengembangan

Model penelitian yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini menggunakan model pengembangan desain pembelajaran dengan pendekatan sistem yang dikemukakan oleh Dick & Carey. Dalam model tersebut terdiri dari sepuluh langkah, adapun sepuluh langkah tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.1

Model Pendekatan Penelitian dan Pengembangan Dick & Carey

Berikut ini penjelasan kesepuluh langkah model pendekatan penelitian dan pengembangan Dick & Carey:

1) Menilai Kebutuhan untuk Mengidentifikasi Tujuan (Asses Needs to Identity Goals).

Tahap ini adalah menemukan apa yang diinginkan agar pembelajaran dapat melakukannya ketika mereka menyelesaikan program instruksional. Tujuan instruksional mungkin dapat diturunkan dari daftar tujuan, analisis kinerja (performance analysis), dari penilaian kebutuhan (job analysis), atau dari persyaratan lain untuk instruksi baru. Langkah ini sangat sesuai dengan kurikulum perguruan tinggi

mau pun sekolah menengah dan sekolah dasar, khususnya dalam mata pelajaran tertentu di mana tujuan pembelajaran pada kurikulum agar dapat melahirkan suatu rancangan pembangunan.

2) Melakukan Analisis Pembelajaran (Conduct Instructional Analysis).

Langkah ini, pertama mengklasifikasi tujuan ke dalam ranah belajar Gagne, menentukan langkah-langkah apa yang dilakukan orang ketika mereka melakukan tujuan tersebut (mengenali kemampuan bawahan/subordinat). Langkah terakhir adalah untuk menentukan keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang dikenal sebagai perilaku masukan (entry behaviors), yang diperlukan siswa untuk dapat memulai instruksional. Peta konsep akan menggambarkan hubungan di antara semua keterampilan yang telah diidentifikasi.

3) Menganalisis Siswa dan Lingkungannya (Analyze Learners Contexts).

Langkah ini melakukan analisis pembelajaran, analisis konteks di mana mereka akan belajar dan analisis konteks di mana mereka akan menggunakannya. Keterampilan pembelajaran, pilihan, dan sikap yang telah dimiliki pembelajar akan digunakan untuk merancang strategi instruksional.

4) Merumuskan Tujuan (Write Performance Objectives).

Pernyataan-pernyataan tersebut berasal dari keterampilan yang diidentifikasi dalam analisis instruksional, akan mengidentifikasi keterampilan yang harus dipelajari, kondisi di mana keterampilan yang harus dilakukan, dan kriteria untuk kinerja yang sukses.

5) Mengembangkan Instrumen Penilaian (Develop Assesment Instruments).

Langkah ini adalah mengembangkan butir-butir penilaian yang sejajar (tes acuan patokan) untuk mengukur kemampuan siswa seperti yang diperkirakan dari tujuan. Penekanan utama berkaitan diletakan pada jenis keterampilan yang digambarkan dalam tujuan dan penilaian yang diminta.

6) Mengembangkan Strategi Pembelajaran (Develop Instructional Strategy).

Bagian-bagian siasat instrusksional menekankan komponen untuk mengembangkan belajar pembelajaran termasuk kegiatan pra instruksional, potensi isi, partisipasi siswa, penilaian dan tindak lanjut kegiatan.

7) Mengembangkan dan Memilih bahan Pembelajaran (Develop and Select Instructional Materials).

Tahap ini akan digunakan strategi pembelajaran untuk menghasilkan pembelajaran yang meliputi petunjuk untuk siswa, bahan pelajaran, tes, dan panduan guru.

8) Merancang dan Melaksanakan Evaluasi Formatif (Design and Conduct Formative Evaluation of Instruction).

Evaluasi dilakukan untuk mengumpulkan data yang akan digunakan untuk mengidentifikasi cara mengingkatkan pengajaran.

9) Revisi Produk (Revise Instrution).

Tahap ini mengulang siklus pengembangan perangkat pembelajaran. Data dari evaluasi yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya, diringkas dan dianalisis serta diinterpretasikan untuk diidentifikasi kesulitan yang dialami oleh siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Begitu pula masukan dari implementasi dari ahli.

10) Merancang dan Melaksanakan Evaluasi Sumatif (Design and Conduct Summative Evaluation).

Evaluasi ini berbeda dengan evaluasi formatif. Jenis evaluasi ini dianggap sebagai puncak dalam aktivitas model desain pembelajaran yang dikemukakan oleh Dick & Carey. Evaluasi ini dilakukan setelah program selesai dievaluasi secara formatif dan direvisi sesuai standar yang digunakan oleh pengembang. Evaluasi sumatif tidak melibatkan

pengembangan produk, tetapi melibatkan penilaian independen. Ini yang menjadikan alasan bahwa evaluasi sumatif tidak tergolong ke dalam proses desain sistem pembelajaran.

2. Lembar Kerja Siswa (LKS) a. Pengertian LKS

Lembar Kerja Siswa (LKS) pada umumnya dibeli dan bukan dibuat oleh guru, padahal LKS dapat dibuat oleh guru sehingga LKS dapat lebih menarik dan kontekstual dengan situasi dan kondisi sekolah ataupun lingkungan sosial budaya siswa. Ada beberapa pendapat tentang pengertian LKS, sebagaimana yang diungkapkan dalam Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar (Diknas, 2004), LKS adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa, berisikan petunjuk atau langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas, dan tugas tersebut haruslah jelas kompetensi dasar yang akan dicapai. Menurut pandangan lain LKS yaitu materi yang sudah dikemas sedemikian rupa siswa diharapkan dapat mempelajari materi ajar tersebut secara mandiri. Dalam LKS siswa akan mendapatkan materi, ringkasan, dan tugas yang berkaitan dengan materi. Selain itu siswa juga dapat menemukan arahan yang terstruktur untuk memahami materi yang diberikan.

Dapat disimpulkan , LKS adalah suatu bahan ajar cetak berupa lembaran-lembaran kertas yang berisi materi, ringkasan, dan petunjuk-petunjuk pelaksanaan tugas pembelajaran yang harus dikerjakan oleh siswa, yang mengacu pada kompetensi dasar yang akan dicapai. Perlu kita ketahui bahwa LKS tidak akan dapat dikerjakan oleh peserta didik secara baik apabila tidak dilengkapi dengan buku atau referensi lain yang terkait dengan materi tugasnya. Tugas yang diberikan kepada siswa dapat berupa tugas-tugas teoritis atau tugas-tugas praktis. Tugas teoritis misalnya berpa tugas-tugas membaca sebuah artikel tertentu, membuat resume untuk dipresentasikan, dan lainnya. Adapun tugas praktis dapat berupa kerja laboraturium atau kerja lapangan, misalnya survei tentang harga cabai dalam kurun waktu tertentu di suatu tempat.

b. Pentingnya LKS bagi Kegiatan Pembelajaran

Dalam menyiapkan LKS ada beberapa syarat yang mesti dipenuhi oleh pendidik. Untuk dapat membuat LKS yang bagus, pendidik harus cermat serta memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Karena sebuah LKS harus memenuhi paling tidak kriteria yang berkaitan dengan tercapai atau tidaknya sebuah kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa, oleh karena itu terlebih dahulu kita harus mengetahui fungsi, tujuan, dan kegunaan LKS (Prastoro, 2011:205-206):

1) Fungsi LKS

Berdasarkan pengertian dan penjelasan di awal, dapat kita ketahui LKS memiliki setidaknya empat fungsi sebagai berikut:

a) Sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran guru, namun lebih mengaktifkan peran siswa;

b) Sebagai bahan ajar yang mempermudah siswa untuk memahami materi yang diberikan;

c) Sebagai bahan ajar yang ringkas dan kaya tugas untuk berlatih; dan

d) Memudahkan pelaksanaan pengajaran kepada peserta didik.

2) Tujuan LKS

Dalam hal ini, paling tidak ada empat poin yang menjadi tujuan penyusunan LKS, yaitu:

a) Menyajikan bahan ajar yang memudahkan siswa untuk berinteraksi dengan materi yang diberikan;

b) Menyajikan tugas-tugas yang meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi yang diberikan;

c) Melatih kemandirian belajar siswa; dan

d) Memudahkan guru dalam memberikan tugas kepada siswa.

Mengenai kegunaan LKS bagi kegiatan pembelajaran, tentu saja memiliki banyak kegunaan. Bagi guru, melalui LKS kita mendapat kesempatan untuk memancing siswa agar secara aktif terlibat dengan materi yang sedang dibahas. Salah satu metode yang dapat diterapkan untuk mendapatkan hasil yang optimal dari pemanfaatan LKS adalah metode “SQ3R” (Survey, Question, Read, Recite, and Review atau menyurvei, membuat pertanyaan, membaca, meringkas, dan mengulang). Adapun penjelasan masing-masing tahap tersebut menurut (Prastoro, 2011:206-207) adalah sebagai berikut:

a) Menyurvei (survey). Pada kegiatan ini, siswa diminta untuk membaca secara sepintas keseluruhan materi, termasuk membaca ringkasan materi jika ringkasan diberikan.

b) Bertanya (question). Pada kegiatan ini, siswa diminta untuk menuliskan beberapa pertanyaan yang harus mereka jawab sendiri pada saat membaca materi yang diberikan. c) Membaca (read). Pada kegiatan ini, siswa dirangsang

untuk memperhatikan pengorganisasian materi dan membubuhkan tanda tangan khusus pada materi yang diberikan. Contohnya, siswa diminta untuk membubuhkan tanda kurung pada ide utama, menggarisbawahi rincian

yang menunjang ide utama, dan menjawab pertanyaan yang sudah kita siapkan pada tahap question.

d) Meringkas (recite). Pada kegiatan ini, siswa diminta untuk menguji diri mereka sendiri pada saat membaca, kemudian diminta untuk meringkas materi menggunakan kalimat mereka sendiri.

e) Mengulang (review). Pada tahap ini, siswa diminta sesegera mungkin untuk melihat kembali materi yang sudah selesai dipelajari sesaat setelah selesai mempelajari materi tersebut.

c. Unsur-unsur LKS sebagai Bahan Ajar

Dilihat dari strukturnya, bahan ajar LKS lebih sederhana daripada modul, namun lebih kompleks daripada buku. Bahan ajar LKS terdiri atas enam unsur utama, meliputi judul, petunjuk belajar, kompetensi dasar atau materi pokok, informasi pendukung, tugas atau langkah kerja, dan penilaian. Jika dilihat dari formatnya, LKS memuat paling tidak delapan unsur, yaitu judul, kompetensi dasar yang akan dicapai, waktu penyelesaian, peralatan/bahan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas, informasi singkat, langkah kerja, tugas yang harus dilakukan, dan laporan yang harus dikerjakan.

d. Mengenal Macam-macam Bentuk LKS

LKS disusun dengan materi-materi dan tugas-tugas tertentu yang dikemas sedemikian rupa untuk tujuan tertentu. Adanya perbedaan maksud dan tujuan pengemasan materi pada masing-masing LKS menjadikan LKS memiliki berbagai macam bentuk. Ada lima macam bentuk LKS yang umumnya digunakan oleh siswa, sebagai berikut ini.

1) LKS yang membantu siswa menemukan konsep.

Sesuai prinsip konstruktivisme, seseorang akan belajar jika ia aktif mengonstruksikan pengetahuan di dalam otaknya. Salah satu cara mengimplementasikannya di kelas adalah dengan mengemas materi pembelajaran dalm bentuk LKS yang memiliki ciri-ciri mengetengahkan terlebih dahulu fenomena yang bersifat konkret, sederhana, dan berkaitan dengan konsep yang akan dipelajari. LKS jenis ini memuat apa yang (harus) dilakukan siswa meliputi melakukan, mengamati, dan menganalisis. Oleh karena itu, kita perlu merumuskan langkah-langkah yang harus dilakukan siswa, kemudia kita memita siswa untuk mengamati fenomena hasil kegiatannya. Selanjutnya kita berikan pertanyaan-pertanyaan analisis yang membantu peserta didik untuk mengaitkan fenomena yang mereka amati dengan konsep yang akan mereka bangun dalam benak mereka.

2) LKS yang membantu siswa menerapkan dan mengintegrasikan berbagai konsep yang telah ditemukan.

Dalam sebuah pembelajaran, setelah siswa berhasil menemukan konsep, siswa selanjutnya kita latih untuk menerapkan konsep yang telah dipelajari tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya seperti, guru memberikan tugas kepada siswa untuk melakukan diskusi, kemudian meminta mereka untuk berlatih memberikan kebebasan berpendapat yang bertanggung jawab. Dengan siswa dilatih untuk belajar menghormati pendapat orang lain dan berpendapat secara bertanggung jawab, maka hal ini telah memberikan sebuah jalan bagi terimplementasikannya nilai-nilai demokrasi dalam diri siswa.

3) LKS yang berfungsi sebagai penuntun belajar.

LKS bentuk ini berisikan pertanyaan atau isian yang jawabannya ada di dalam buku. Peserta didik dapat mengerjakan LKS tersebut jika mereka membaca buku terlebih dahulu, sehingga fungsi utama LKS ini adalah membantu siswa menghafal dan memahami materi pembelajaran yang terdapat di dalam buku. LKS ini juga sesuai untuk keperluan remediasi.

LKS bentuk ini diberikan setelah siswa selesai mempelajari topik tertentu. Materi pembelajaran yang dikemas di dalam LKS ini lebih mengarah pada pendalaman dan penerapan materi pembelajaran yang terdapat di dalam buku buku pelajaran. LKS ini juga cocok untuk pengayaan.

5) LKS yang berfungsi sebagai petunjuk praktikum.

Alih-alih memisahkan petunjuk praktikum ke dalam buku tersendiri, kita dapat menggabungkan petunjuk praktikum ke dalam kumpulan LKS.

e. Langkah-langkah Aplikatif membuat LKS

Keberhasilan LKS yang inovatif dan kreatif menjadi harapan semua siswa. Karena LKS yang inovatif dan kreatif akan menciptakan proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. Siswa akan terbius dan terhipnotis untuk membuka lembar demi lembar halamannya, dan mereka akan mengalami kecanduan dalam belajar. Maka dari itu, keharusan bagi guru ataupun calon guru agar mampu menyiapkan dan membuat bahan ajar sendiri yang inovatif. Adapun langkah-langkah penyusunan LKS menurut Diknas (2004): 1) Malakukan analisis kurikulum.

Analisis kurikulum merupkan langkah pertama dalam penyusunan LKS. Langkah ini dimaksudkan untuk menentukan materi-materi mana yang akan memerlukan bahan

ajar LKS. Pada umumnya, dalam menentukan materi, langkah analisisnya dilakukan dengan cara melihat materi pokok, pengalaman belajar, serta materi yang akan diajarkan. Kita juga harus mencermati kompetensi yang mesti dimiliki oleh siswa.

2) Menyusun peta kebutuhan LKS.

Peta kebutuhan LKS sangan diperlukan untuk mengetahui jumlah LKS yang harus ditulis serta melihat urutan LKSnya. Urutan LKS sangat dibutuhkan dalam menentukan prioritas penulisan.

3) Menentukan judul-judul LKS.

Judul LKS ditentukan atas dasar kompetensi dasar, materi pokok, atau pengalaman belajar yang terdapat dalam kurikulum. Kompetensi dasar dapat dijadikan sebagai judul LKS apabila kompetensi tersebut tidak terlalu besar. Besarnya kempetensi dasar dapat dideteksi, antara lain dengan cara apabila diuraikan kedalam materi pokok mendapatkan maksimal empat materi pokok, maka kompetensi tersebut dapat dijadikan sebagai satu judul LKS.

4) Penulisan LKS.

Untuk menulis LKS, langkah yang dilakukan adalah: a) Merumuskan kompetensi dasar, dengan menurunkan

b) Menentukan alat penilaian, yang dilakukan terhadap proses kerja dan hasil kerja siswa.

c) Menyusun materi, isi materi LKS sangat tergantuk pada kompetensi dasar yang akan dicapai. Materi LKS dapat berupa informasi pendukung, yaitu berupa gambaran umum yang akan dipelajari. Materi dapat diambil dari berbagai sumber, seperti buku, majalah, internet, dan jurnal hasil penelitian. LKS juga berisikan referensi yang digunakan sebagai sumber LKS agar siswa dapat membaca lebih jauh tentang materi tersebut. Pemberian tugas-tugas harus ditulis secara jelas guna mengurangi pertanyaan dari siswa tentang hal-hal yang seharusnya siswa dapat lakukan.

d) Memperhatikan struktur LKS, kita harus memahami bahwa struktur LKS terdiri atas enam komponen, yaitu judul, petunjuk belajar, kompetensi yang akan dicapai, informasi pendukung, tugas dan langkah kerja, dan penilaian. Apabila enak komponen tidak lengkap maka tidak dapat dikatakan LKS.

Dokumen terkait