a. Klasifikasi (Andi Aby Hurayrah)
Adapun klasifikasi dari Leptosia nina yaitu (Noor, 2015) : Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda Class : Insecta
Ordo : Lepidoptera Famili : Pieridae
Spesies : Leptosia nina b. Morfologi (Andi Risna)
Leptosia nina sangat mudah diidentifikasi karena memiliki ciri-ciri yang sangat mencolok dan berbeda dibanding kupu-kupu
lainnya, bahkan dengan kupu-kupu member familia Pieridae sekalipun. Tubuhnya yang mungil (sekitar 25 – 35 mm), sayap putih yang sisi luarnya bercorak coklat atau kehitaman dengan motif bercak-bercak tak beraturan. Sayap bagian dalam (upper side) terdapat dua bundaran hitam tak beraturan laksana mata, serta dua sapuan warna hitam pada sudut sayap atasnya. Keempat corak hitam ini juga tampak dari sisi luar sayap meski remang-remang. Tidak ada kemiripan yang mencolok antara kupu-kupu Wandering Snowflake dengan kupu-kupu-kupu-kupu lainnya, sehingga sangat mudah mengidentifikasinya.
c. Siklus Hidup (Andi Risna)
Telur dikoleksi pada daun glodokan, terutama pada permukaan bawah daun dengan variasi ketinggian tempat dari permukaan tanah. Semua telur kupu-kupu dikoleksi pada permukaan daun muda, tidak ditemukan kupu-kupu yang meletakkan telurnya pada bagian dahan, ranting, batang atau daun tua tanaman glodokan. Kupu-kupu lebih memilih meletakkan telurnya pada permukaan bawah daun (80%) dibandingkan dengan permukaan atas daun muda (20%). Hal ini akan memudahkan larva
yang baru menetas untuk segera menemukan pakannya setelah menetas dan keluar dari telurnya. Larva yang baru menetas ini dikenal dengan nama larva instar 1 (L1). Larva instar 1 memakan semua cangkang telurnya sebelum mulai memakan daun muda tanaman glodokan sampai mengalami pergantian kulit selanjutnya sebagai tanda bahwa akan memasuki instar selanjutnya. Selama pemeliharaan telur tidak ditemukan adanya parasit yang keluar dari telur ataupun telur yang gagal menetas. Keadaan ini dapat terjadi karena pengoleksian telur yang langsung dilakukan segera setelah kupu-kupu betina selesai oviposisi sehingga belum sempat didekati oleh parasitoid. Memasuki tahapan instar 2, larva instar 1 berhenti makan daun dan mengalami pergantian kulit. Sekitar 45 menit setelah keluar dari kulit lamanya, larva memakan sisa kulit lama
(exuvie) sampai habis, duri halus bercabang-cabang mulai mengalami penyusutan. Warna dan bentuk tubuh larva relatif sama dengan stadium sebelumnya, hanya terdapat perubahan pada duri halus di bagian dorsal torak dan ujung akhir abdomen. Duri-duri ini menjadi tidak bercabang dan berwarna coklat tua. Larva instar 2 mempunyai ukuran rata-rata 9,387±2,028 mm dan berlangsung selama 2-4 hari. Selanjutnya larva berhenti makan dan kembali mengalami pergantian kulit, larva siap memasuki instar 3. Larva instar 3 mempunyai bentuk yang mirip dengan instar 2, namun warna kecoklatan mulai memudar. Duri pada dorsal torak masih tetap ada demikian juga dengan duri pada ujung akhir abdomen. Larva instar 3 berlangsung selama 1-4 hari dengan panjang rata-rata 26,036±3,985 mm. Tubuh larva instar 4 mempunyai warna hijau kecoklatan. Bagian dorsal torak ditemukan adanya bintik hijau tua. Duri pada dorsal torak dan ujung akhir abdomen berwarna coklat tua. Larva instar 4 mulai memakan daun yang
agak tua, kadang-kadang dapat menghabiskan lembaran daun namun jarang ditemukan mamakan sampai ke tangkai daun. Larva instar 4 berlangsung selama 2-4 hari dengan panjang rata-rata 26,036±3,985 mm. Warna kecoklatan pada larva instar 5 mulai samar bahkan hamper tidak tampak sama sekali. Larva ini mempunyai warna hijau muda menyerupai warna apel. Pada bagian anterior torak mulai muncul warna hitam membulat yang menyerupai bintik mata. Spirakel pada sisi lateral semakin nyata. Jajaran spirakel dibutuhkan oleh larva untuk membantu sistem respirasinya. Pada stadium instar 5 akhir, akan terlihat semacam saluran yang berisi cairan pada bagian dorsal larva. Cairan berwarna hijau muda bening ini akan dikeluarkan larva pada sore hari sebelum memasuki masa prepupa. Selama stadium larva berlangsung, larva menghasilkan aroma yang khas jika merasa terganggu. Memasuki prepupa, larva berhenti melakukan perpindahan tempat dan aktifitas makan. Masa prepupa ditandai
dengan terbentuknya benang yang menyerupai sutera berwarna putih metalik sebagai tempat larva menggantungkan bagian anterior tubuhnya. Bagian posterior ditempelkan pada substrat berupa permukaan daun atau tangkai daun sehingga warna pupa juga menyerupai warna substratnya. Masa prepupa berlangsung selama 1-2 hari dengan panjang prepupa rata-rata 32,991±1,527 mm. Selama manjalani masa pupa, kulit prepupa yang semula lembut berganti dengan kulit yang lebih tebal dan kaku dibandingkan dengan kulit prepupa. Prepupa melepaskan semua kulit lama termasuk bagian cangkang kepala. Pupa tipe ini selalu bergantung pada seutas benang menyerupai sutera berwarna putih keperakan pada sepertiga bagian anterior tubuhnya. Pupa mempunyai semacam tonjolan pada bagian anterior ventral. Setelah 12-15 hari melewati pupasi, tonjolan ini akan terpecah sehingga keluar antenna, kepala, kaki, torak, sayap dan abdomen kupu-kupu dewasa muda (imago). Imago kupu-kupu G. agamemnon yang baru keluar dari kulit pupa ini sayapnya masih kecil, mengkerut kusut dan lembap. Sekitar 5-10 menit kemudian sayap akan mengembang sempurna namun membutuhkan waktu selama 40-60 menit untuk dapat terbang. Diduga selama periode ini, imago mempersiapkan cairan hemolimp agar mengisi penuh venasi sayapnya sehingga dapat mengangkat bobot tubuhnya untuk terbang (Fitriana et. Al, 2016).
d. Habitat (Andi Risna)
Kupu-kupu ini dapat dijumpai di padang rumput yang dekat dengan hutan atau area terlindung atau area dengan pepohonan yang rapat (berkanopi) (Noor, 2015).
e. Kepentingan (Muh Isnan Anshari)
Kupu-kupu (Lepidoptera) merupakan fauna yang termasuk kelompok serangga yang memiliki peran sangat penting dalam ekosistem yaitu sebagai pembantu dalam penyerbukan pada tumbuhan. Selain itu kupu-kupu juga dapat dijadikan sebagai
bioindikator terhadap perubahan kualitas lingkungan karena kupu-kupu sangat sensitif terhadap perubahan ekosistem. Terdapat banyak jenis kupu-kupu dengan ciri khas yang indah dan cantik karena memiliki warna dan bentuk yang menawan. Sehingga memiliki nilai ekonomis yang biasa dijadikan koleksi, bahan pola dan seni (Noor, 2015).
Kupu-kupu memiliki peran yang sangat penting dalam ekosistem. Sebagai serangga polinator, kupu-kupu telah membantu memelihara perbanyakan tumbuhan secara alami. Secara tidak langsung kupu-kupu ikut menjaga keanekaragaman tumbuhan dan hewan di alam. Selain itu, kupu-kupu juga sering dimanfaatkan sebagai objek wisata atau rekreasi dan objek observasi penelitian. Hal ini karena jumlahnya yang banyak dan morfologinya yang indah ( Chahyadi, 2016).
3. Bactocera cucubirtae
a. Klasifikasi (Muh. Isnan Anshari)
Taksonomi Bactrocera adalah sebagai berikut (Isnaini, 2013) : Kingdom : Animalia Phylum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Diptera Family : Tephritidae Genus : Bactrocera
Spesies : Bactrocera cucubirtae b. Morfologi (Nurrahmah Hijrah)
Ciri-ciri penting dalam identifikasi lalat buah Bactrocera cucubirtae untuk membedakan spesies Bactrocera cucubirtae yaitu dengan melihat sayap, abdomen dan pada thoraksnya. Pada bagian sayap penciri utama yang digunakan adalah basal costal, costal, anal streak dan pola sayap. Penciri utama pada bagian abdomen yang digunakan dalam identifikasi adalah gambar pola T ada
tidaknya, antar terga kedua dan seterusnya menyatu dan pola warna pada terga.
c. Siklus hidup (Nurrahmah Hijrah)
Siklus hidup lalat buah mempunyai 4 fase metamorfosis, siklus hidup lalat buah ini termasuk ke perkembangan sempurna atau dikenal dengan holometabola. Fase tersebut terdiri dari telur, larva, pupa dan imago (Isnaini, 2013)
1) Telur
Telur adalah putih murni, panjang sekitar 2 mm, elips, hamper datar pada permukaan ventral, lebih cembung pada dorsal. Telur sering agak melengkung (Weems, 2001).
2) Larva
Larva ini berbentuk bulat panjang dengan salah satu unjungnya runcing. Larva instar III berukuran sedang dengan panjang 7 – 9 mm. Larva Bactrocera berwarna putih keruh atau putih kekuningan dengan dua bintik hitam yang jelas, dua bintik hitam ini merupakan alat kait mulut. Larva berkembang di dalam daging buah selama 6 – 9 hari. Larva ini terdiri dari 3 instar bergantung pada temperatur lingkungan dan kondisi inang. Pada instar ke 3, larva keluar dari dalam daging buah dan akan menjatuhkan dirinya ke permukaan tanah lalu masuk di dalam tanah. Di dalam tanah larva berubah menjadi pupa. Tingkat ketahanan larva di dalam tanah bergantung pada tekstur dan kelembapan tanah (Isnaini, 2013)
3) Pupa
Pupa awalnya dari berwarna putih, kemudian mengalami perubahan warna menjadi kekuningan dan coklat kemerahan. Perkembangan pupa tergantung dengan kelembapan tanah. Kelembapan tanah yang sesuai dengan stadium pupa adalah 0-9 %. Masa perkembangan pupa antara 4 – 10 hari. Pupa berada di dalam tanah sekitar 2 – 3 cm di bawah permukaan tanah.
Pupa berubah menjadi imago setelah 13-16 hari kemudian (Isnaini, 2013).
4) Imago
Panjang tubuh lalat dewasa sekitar 3,5 – 5mm, berwarna hitam kekuningan. Kepala dan kaki berwarna coklat. Thorak berwarna hitam, abdomen jantan berbentuk bulat sedangkan betina terdapat alat tusuk. Siklus hidup lalat buah dari telur sampai imago berlangsung selama kurang lebih 27 hari (Isnaini, 2013).
d. Hospes (Nurrahmah Hijrah)
Lebih dari 125 spesies tanaman, termasuk cucurbits, tomat, dan sayuran lainnya, telah dicatat sebagai tuan rumah dari lalat melon. Host disukai meliputi melon, kacang tunggak, mentimun, labu, labu, labu, kacang panjang, tomat dan air-melon. Namun, Putih dan Elson-Harris (1994) menyatakan bahwa banyak dari catatan-catatan ini mungkin telah didasarkan pada kasual pengamatan dewasa bertumpu pada tanaman atau terjebak dalam perangkap diatur dalam pohon non-tuan. Sesekali host termasuk terong, ara, mangga, jeruk, pepaya dan peach. Host liar termasuk balsam apel; Mentimun Cina, Momordica spp .; colocynth; dua genera dari cucurbits- Sicyos sp .; Cucumis trigonus; Diplocyclos palmatus; dan gairah bunga, Passiflora spp (Weems, 2001).
e. Kerusakan (Risnawati)
Di wilayah Indo-Malaya, lalat melon, kadang-kadangdisebut lalat buah melon, dianggap yang paling merusak hama melon dan tanaman terkait, dan telah sangat dibatasi produksi melon, mentimun dan tomat di Hawaii. Pembentukan terbang ini di daerah yang sama dengan Florida menunjukkan bahwa spesies ini bisa menjadi serius hama dari cucurbits dan
tanaman truk lain, dan mungkin dari beberapa tanaman buah, jika diperkenalkan ke Florida. Secara umum dengan beberapa spesies lain di Bactrocera, yang melon terbang dapat menyerang bunga,
buah, batang, dan akar. Di Hawaii, labu dan labu telah banyak diserang bahkan sebelum buah telah ditetapkan, dengan telur yang diletakkan ke dalam belum dibukan bunga jantan dan betina, dengan larva berhasil mengembangkan- ing di akar tunggang, batang dan tangkai daun (Weems, 2001).
f. Pengendalian (Risnawati)
Sebagai Bactrocera cucurbitae (Coquillett) tidak ditemukan dalam benua Amerika Serikat tidak ada manajemen khusus rekomendasi untuk kontrol di Florida. Dalam Solomon, kepulauan itu menjadi sasaran kampanye pemberantasan menggunakan kombinasi umpan penyemprotan dan pemusnahan perangkap laki-laki. Di Kepulauan Ryukyu itu dibasmi dari beberapa pulau menggunakan teknik serangga steril (Weems,
2001).
4. Musca domestica
a. Klasifikasi (Dina Zakihanifah Khaerunnisa)
Klasifikasi Lalat Rumah ( Musca domestica ) (Astuti and Firda, 2010) : Kingdom : Animalia Phylum : Arthoropoda Kelas : Hexapoda Ordo : Diptera Family : Muscidae Genus : Musca
Spesies : Musca domestica.
b. Morfologi (Dina Zakihanifah Khaerunnisa)
Lalat rumah berukuran sedang, panjangnya 6-7,5 mm, berwarna hitam keabu-abuan dengan empat garis memanjang pada bagian punggung. Mata lalat betina mempunyai celah lebih lebar dibandingkan lalat jantan. Antenanya terdiri atas 3 ruas, ruas terakhir paling besar, berbentuk silinder dan memiliki bulu pada bagian atas dan bawah Bagian mulut atau probosis lalat seperti
paruh yang menjulur digunakan untuk menusuk dan menghisap makanan berupa cairan atau sedikit lembek. Bagian ujung probosis terdiri atas sepasang labella berbentuk oval yang dilengkapi dengan saluran halus disebut pseudotrakhea tempat cairan makanan diserap. Sayapnya mempunyai empat garis (strep) yang melengkung ke arah kosta/rangka sayap mendekati garis ketiga. Garis (strep) pada sayap merupakan ciri pada lalat rumah dan merupakan pembeda dengan musca jenis lainnya. Pada ketiga pasang kaki lalat ini ujungnya mempunyai sepasang kuku dan sepasang. Bantalan disebut pulvilus yang berisi kelenjar rambut. Pulvilus tersebut memungkinkan lalat menempel atau mengambil kotoran pada permukaan halus kotoran ketika hinggap di sampah dan tempat kotor lainnya (Astuti and Firda, 2010)
c. Siklus hidup (Dina Zakihanifah Khaerunnisa)
Siklus hidup semua lalat terdiri dari 4 tahapan, yaitu telur, larva, pupa dan lalat dewasa. Lalat dewasa akan menghasilkan telur berwarna putih dan berbentuk oval. Telur ini lalu berkembang menjadi larva (berwarna coklat keputihan) di feses yang lembab (basah). Setelah larva menjadi dewasa, larva ini keluar dari feses atau lokasi yang lembab menuju daerah yang relatif kering untuk berkembang menjadi pupa. Dan akhirnya, pupa yang berwarna coklat ini berubah menjadi seekor lalat dewasa. Pada kondisi yang optimal (cocok untuk perkembangbiakan lalat), 1 siklus hidup lalat tersebut (telur menjadi lalat dewasa) hanya memerlukan waktu sekitar 7-10 hari dan biasanya lalat dewasa memiliki usia hidup selama 15-25 hari (Astuti and Firda, 2010).
d. Hospes (Meliherdianti)
Semua hewan domestic (Williams, 2010)
e. Kepentingan dalam dunia veteriner (Meliherdianti)
Entamorba hestolyca adalah Organisme yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia, kucing, anjing dan babi. Vektornya adalah musca domestica (lalat rumah) dan kecoa.
Penularan terjadi karena makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh kista yang dibawa oleh vektor. Gejala yang dapat ditmbulkan antara lain; sering buang air besar, fesesnya sedikit-sedikit dengan lendir dan darah, dan biasanya disertai rasa sakit diperut (kram perut), dan biasanya tidak demam (Astuti and Firda, 2010).
f. Pengendalian (Meliherdianti)
Upaya pencegahannya dengan perbaikan sanitasi lingkungan, dan pencegahan kontaminasi makanan, pembasmian vektor serta perbaikan cara pembuangan kotoran yang baik serta cuci tangan setelah defakasi (Astuti and Firda, 2010)
BAB IV
Kesimpulan
A. Kesimpulan
1. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar dari hewan “Diptera” dapat diawetkan dengn menggunakan metode kering dan metode spanning
Daftar Pustaka
Astuti, Endang Puji dan Firda Yanuar Pradani. 2010. Pertumbuhan Dan Reproduksi Lalat Musca Domestica Pada Berbagai Media Perkembangbiakan. Jurnal Aspirator. Vol. 2, No. 1 : 11-3.
Chahyadi Ennie dan Elpe Bibas. 2016. Jenis- Jenis Kupu-Kupu (Sub Ordo Rhopalocera) Yang Terdapat Di Kawasan Hapanasan, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Jurnal Riau Biologia. Vol. 1, No. 8 : 50-56. Fitriana, Narti, Nur Azizah Maulidia dan Fahma Wijayanti. 2016. Siklus Hidup
Kupu-Kupu Graphium Agamemnon L. (Lepidoptera : Papilionidae) Di Kampus I Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Jurnal Riau Biologia. Vol. 1, No. 11 : 67- 72.
Irianto, Koes. 2013. Parasitologi Medis. Alfabeta: Bandung
Isnaini, Yanuarti Nur. 2013. Identifikas Spesies dan Kelimpaham Lalat Buah Bactocera spp di Kabupaten Demak. Semarang : Universitas Negeri Semarang.
Muchid, Zaenal, Annawaty dan Fahri. 2015. Studi Keanekaragaman Nyamuk Anopheles spp. Pada Kandang Ternak Sapi Di Kota Palu Provinsi
Sulawesi Tengah. Jurnal of Natural Science. Vol. 4 (3) : 369-376
Nayar, J. K. and C. R. Connelly. 1990. Mosquito-Borne Dog Heartworm Disease. IFAS Extension. U.S
Noor, Rasuane dan Suharno Zen. 2015. Studi Keanekaragaman Kupu-Kupu Di Bantaran Sungai Batanghari Kota Metro Sebagai Sumber Belajar Biologi Materi Keanekaragaman. Jurnal Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Metro. Vol. 6, No. 1 : 71-2.
Purnomo, Heri. 2005. Identifikasi Jenis Dan Kepadatan Lalat Di Kandang Peternakan Ayam Desa Serdang Kecamatan Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan Species. Skripsi. Hal : 3-6.
Sary, widya, Tjut Mariam Zanaria, Elita Agustina. 2007. Studi Jenis Nyamuk Anopheles pada Tempat Perindukannya di Desa Rukoh Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh. Banda aceh.
Wardhana, A.H, S Muharsini and W. Asmara. 2004. Keragaman Genetik Populasi Lalat Myiasis Chrysomya bezziana di Indonesia Berdasarkan Analisis DNA Mitokondria. Bogor : Balai Penelitian Veteriner.
Wardhana, April H. 2006. Chrysomya bezziana Penyebab Myiasis Pada Hewan dan Manusia: Permasalahan dan Penanggulangannya. Bogor : Balai Penelitian Veteriner.
Weems Jr H. V, Heppner dan TR Fasulo. 2001. Melon Fly, Bactrocera
cucurbitae (Coquillett) (Insecta: Diptera: Tephritidae). UF : University of Florida.
Williams, Ralph E. 2010. Veterinary Entomology Livestock and Companion Animals. CRC Press. USA