FERTILITAS DAN ENDOKRINOLOGI
LESI PRAKANKER SERVIKS
No.Dokumen No. Revisi Halaman
1 dari 5 STANDAR PELAYANAN MEDIS (SPM) Tanggal Terbit 1 Juli 2013 Disahkan oleh Direktur
Dr. Djolly Margendy Rumopa, Sp.OG NIP.195507181983011001
Pengertian
Lesi pra kanker adalah kondisi serviks yang berpotensi menjadi kanker. Kondisi serviks berupa displasia ringan sel-sel epithelial mukosa serviks yang kemudian berkembang menjadi displasia sedang-berat, karsinoma in-situ dan akhirnya kanker invasif.
Penyebab utama lesi pra kanker serviks adalah infeksi virus HPV (human papilloma virus) group onkogenik resiko tinggi; terutama HPV-16 dan 18 serta pillogeni.
Deteksi lesi pra kanker terdiri atas metode pemeriksaan sitologi Pap tes (konvensional dan liquid-base cytology /LBC), inspeksi visual asam asetat (IVA), inspeksi visual lugol iodin (VILI), dan test DNA HPV.
Metode IVA dan VILI adalah metode yang sederhana, murah, non invasive, akurasi memadai dan diterima, serta tidak memerlukan fasilitas laboratorium. Metode ini dapat dijadikan pilihan di pelayanan primer dan secara masal. Sedangkan untuk masyarakat kota dan daerah-daerah dengan akses pelayanan kesehatan (sekunder dan tersier), metode skrining dengan pemeriksaan sitologi akan lebih tepat.
Tujuan Mendeteksi dini dan tatalaksana lesi prakanker. Kebijakan
Prosedur
Gejala Klinis
Pada umumnya, lesi prakanker adalah asimtomatik. Keputihan berulang dengan terapi konvensional merupakan gejala yang tidak spesifik.
Pathofisiologi dan Sistem Klasifikasi Lesi Pra Kanker Serviks
Kanker leher rahim invasif berawal dari lesi displasia sel-sel leher rahim yang kemudian berkembang menjadi displasia tingkat lanjut, karsinoma in-situ dan akhirnya kanker invasif. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa prekursor kanker adalah lesi displasia tingkat lanjut (high-grade dysplasia) yang sebagian kecilnya akan berubah menjadi kanker invasif dalam 10-15 tahun, sementara displasia tingkat rendah (low- grade dysplasia) mengalami regresi spontan.
Kriteria Diagnosis
Diagnosis berdasarkan atas:
- Papsmear ditemukan LSIL, HSIL - Test IVA/VILI positif
- Test DNA HPV positif HC II/Genotyping
Pemeriksaan tambahan dapat berupa kolposkopi, biopsi terarah, dan kuretase endoservikal. Diagnosis Banding
BLU RSUP Prof. Dr. R. D. KANDOU MANADO
No.Dokumen No. Revisi Halaman
2 dari 5
Sistem Klasifikasi Lesi Prakanker
Ada beberapa sistem klasifikasi lesi prakanker yang digunakan saat ini, dibedakan berdasarkan pemeriksaan histologi dan sitologinya. Berikut tabel klasifikasi lesi prakanker.
ASC-US : Atypical Squamous of Undetermined Significance
ASC-H : Atypical Squamous cell: cannot exclude a high grade squamous epithelial lesion LISDR : Lesi Intraepitel Skuamosa Derajat Rendah (LSIL : Low Grade Squamous Intraepithelial Lesion )
LISDT : Lesi Intraepitel Skuamosa Derajat Tinggi(HSIL : High Grade Squamous Intraepithelial Lesion )(Dikutip dari Comprehensive Cervical Cancer Control. A Guide to Essential Practice, Geneva : WHO, 2006)
BLU RSUP
Prof. Dr. R. D. KANDOU MANADO
LESI PRAKANKER SERVIKS
No.Dokumen No. Revisi Halaman
3 dari 5
Terapi
Terapi lesi pra Kanker:
1. LSIL:- Observasi ulang test 3 bln: Jika negatif skrining 12 bln Jika positif LSIL/HSIL Kolposkopi
- Test DNA HPV: Jika negatif skrining rutin Jika positif kolposkopi
- Kolposkopi
2. HSIL : - Kolposkopi memuaskan: A. jika negatif observasi
B. NIS I : Test DNA HPV negatif /tidak dilakukan observasi Test DNA HPV positif terapi ablasi
C. NIS II : Terapi ablasi D. NIS III : bedah eksisi
- Kolposkopi tidak memuaskan konisasi
Terdapat beberapa metode pengobatan lesi prakanker serviks : 1. Terapi NIS dengan Destruksi Lokal
Yang termasuk pada metode terapi ini adalah krioterapi, elektrokauter, elektrokoagulasi, dan CO2 laser. Penggunaan setiap metode ini bertujuan untuk memusnahkan daerah-daerah terpilih yang mengandung epitel abnormal, yang kelak akan digantikan dengan epitel skuamosa yang baru
a. Krioterapi
Krioterapi ialah suatu usaha penyembuhan penyakit dengan cara mendinginkan bagian yang sakit sampai dengan suhu di bawah nol derajat Celcius. Pada suhu sekurang-kurangnya 25 derajat Celcius sel-sel jaringan termasuk NIS akan mengalami nekrosis. Sebagai akibat dari pembekuan tersebut, terjadi perubahan-perubahan tingkat seluler dan vaskuler, yaitu (1) sel-sel mengalami dehidrasi dan mengerut; (2) konsentrasi elektrolit dalam sel terganggu; (3) syok termal dan denaturasi kompleks lipid protein; (4) status umum sistem mikrovaskular.(10,11) Pada awalnya digunakan cairan Nitrogen atau gas CO2, tetapi pada saat ini hampir semua alat menggunakan N2O.
BLU RSUP Prof. Dr. R. D. KANDOU MANADO
No.Dokumen No. Revisi Halaman
4 dari 5
b. Elektrokauter
Metode elektrokauter dapat dilakukan pada pasien rawat jalan. Penggunaan elektrokauter memungkinkan untuk pemusnahan jaringan dengan kedalaman 2 atau 3 mm. Lesi NIS I yang kecil di lokasi yang keseluruhannya terlihat pada umumnya dapat disembuhkan dengan efektif.
c. Diatermi Elektrokoagulasi Radikal
Diatermi elektrokoagulasi dapat memusnahkan jaringan lebih luas dan efektif jika dibandingkan dengan elektrokauter, tetapi harus dilakukan dengan anestesi umum. Tindakan ini memungkinkan untuk memusnahkan jaringan serviks sampai kedalaman 1 cm, tetapi fisiologi serviks dapat dipengaruhi, terutama jika lesi tersebut sangat luas. Dianjurkan penggunaannya hanya terbatas pada kasus NIS 1/2 dengan batas lesi yang dapat ditentukan.
d. CO2 Laser
Penggunaan sinar laser (light amplication by stimulation emission of radiation), suatu muatan listrik dilepaskan dalam suatu tabung yang berisi campuran gas helium, gas nitrogen, dan gas CO2 sehingga akan menimbulkan sinar laser yang mempunyai panjang gelombang 10,6u. Perubahan patologis yang terdapat pada serviks dapat dibedakan dalam dua bagian, yaitu penguapan dan nekrosis. Lapisan paling luar dari mukosa serviks menguap karena cairan intraselular mendidih, sedangkan jaringan yang mengalami nekrotik terletak di bawahnya. Volume jaringan yang menguap atau sebanding dengan kekuatan dan lama penyinaran.
2. Terapi NIS dengan Eksisi
I.LEEP ( Loop Electrosurgical Excision Procedures)
Ada beberapa istilah dipergunakan untuk LEEP ini. Cartier dengan menggunakan kawat loop kecil untuk biopsi pada saat kolposkopi yang menyebutnya dengan istilah diatermi loop. Prendeville et al. menyebutnya LLETZ (Large Loop Excisional Tranformation Zona).
II.Konisasi.
Tindakan konisasi dapat dilakukan dengan berbagai teknik: A.Konisasi cold knife,
B.Konisasi diatermi loop (=LLETZ), dan C. Konisasi laser.
Di dalam prakteknya, tindakan konisasi juga sering merupakan tindakan diagnostik. III. Histerektomi
Tindakan histerektomi pada NIS kadang-kadang merupakan terapi terpilih pada beberapa keadaan, antara lain, sebagai berikut.
1) Histerektomi pada NIS dilakukan pada keadaan kelanjutan konisasi.
2) Konisasi yang tidak adekuat dan perlu dilakukan histerektomi dengan mengangkat bagian atas vagina.
3) Karena ada uterus miomatosus; kecurigaan invasif harus disingkirkan. 4) Masalah teknis untuk konisasi, misalnya porsio mendatar pada usia lanjut.
BLU RSUP
Prof. Dr. R. D. KANDOU MANADO
LESI PRAKANKER SERVIKS
No.Dokumen No. Revisi Halaman
5 dari 5
Perawatan
1. Perawatan rawat jalan 2. Perawatan perioperatif
3. Perawatan untuk perbaikan keadaan umum. 4. Perawatan dilakukan untuk terapi konisasi Penyulit
Pemulihan tergantung beberapa faktor antara lain faktor keadaan umum pasien, faktor efek samping yang ditimbulkan (perdarahan/infeksi). Informed consent
Penjelasan tentang perjalanan penyakit, diagnosa dan rencana terapi, hasil pengobatan dankemungkinan komplikasi pengobatan.
Lama Perawatan
Lama perawatan tergantung beberapa faktor antara lain faktor keadaanumum pasien, faktor pilihan pengobatan.
Masa pemulihan
Pemulihan tergantung beberapa faktor antara lain faktor keadaan umum pasien, faktor pilihan pengobatan, faktor stadium penyakit, faktor adanya penyulit infeksi.
Indikator monitoring dan evaluasi
1. Monitoring efek samping perdarahan pervaginam.
2. Penilaian respon secara klinis (berdasarkan hasil histopatologi) Luaran
Tidak ditemukan lesi prakanker
Unit terkait - Rawat jalan - Ruang Rawat Inap
BLU RSUP Prof. Dr. R. D. KANDOU MANADO