• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkebunan, antara lain:

HASIL PENELITIAN

1. Letak, Batas dan Luas

a. Letak

Letak Daerah Aliran Sungai (DAS) Jambangan secara astronomis

berdasarkan pada Peta Rupa Bumi Indonesia Skala 1 : 25.000 Tahun 2001, yang

diterbitkan oleh Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal)

berada diantara 70 31’08.4” LS – 7036’ 03.3” LS dan 110059’ 56.4” BT – 1110

05’ 13.2” BT. Letak DAS Jambangan dengan sistem koordinat UTM berada pada

9168876 mU – 9159821mU dan 499890 mT – 509596 mT.

Secara Administratif DAS Jambangan berada di Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah, meliputi tiga kecamatan yaitu Kecamatan Mojogedang, Kecamatan Kerjo dan Kecamatan Ngargoyoso.

b. Batas

Daerah Aliran Sungai Jambangan berbatasan secara langsung dengan DAS yang lain. Berikut adalah batas DAS Jambangan:

1) Bagian Timur berbatasan dengan DAS Botok Kabupaten Karanganyar.

2) Bagian Selatan berbatasan dengan DAS Grompol Kabupaten Karanganyar.

3) Bagian Barat berbatasan dengan DAS Grompol Kabupaten Karanganyar dan Sragen.

4) Bagian Utara Berbatasan dengan DAS Botok Kabupaten Sragen tepatnya Kecamatan Kedawung.

Lebih jelasnya pembagian secara administratif DAS Jambangan dapat dilihat pada Tabel 4.1.

commit to user

Tabel 4.1. Pembagian Administratif DAS Jambangan

Sumber : Peta RBI skala 1 : 25.000 lembar 1408-622 Karangpandan

c. Luas

Luas DAS Jambangan berdasarkan hasil perhitungan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah 2165,697 Ha. Sebagian besar Wilayah DAS Jambangan terdapat di Kecamatan Kerjo yaitu seluas 1036,40 Ha, Kecamatan Mojogedang 707,29 Ha dan Kecamatan Ngargoyoso 421,44 Ha.

Letak, batas DAS Jambangan dan pembagian wilayah administrasi DAS Jambangan dapat dilihat lebih jelas pada peta administrasi DAS Jambangan berikut :

No Kecamatan Desa/Kelurahan Luas (Ha) % 1 Mojogedang 1. Desa Pendem 233,104 10,77

2. Desa Ngadirejo 194,483 8,98

3. Desa Pereng 279,699 12,92

2 Kerjo 1. Desa Kuto 453,882 20,96

2. Desa Kwadungan 147,617 6,82

3. Desa Ganten 138,189 6,38

4. Desa Tamansari 296,713 13,70

3 Ngargoyoso 1. Desa Jatirejo 12,146 0,56

2. Desa Dukuh 227,491 10,51

commit to user

commit to user 2. Iklim

a. Temperatur

Pengukuran temperatur rata - rata DAS Jambangan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus Braak (Braak dalam Arsyad, 1989: 223) dalam hal ini, ketinggian daerah penelitian sebagai penentu suhu rata - rata daerah penelitian. Berdasarkan pada Peta Rupa Bumi digital Indonesia, DAS Jambangan berada pada ketinggian antara 175 – 662,5 m dari permukaan air laut.

T = 26,3 0C – 0,61 h

Keterangan :

T : Suhu udara rata – rata

26,30 C : Temperatur rata-rata di permukaan air laut tropis h : Ketinggian tempat (dalam ratusan meter)

Diketahui : hmin = 1,75 hmax = 6,625

Dihitung : tmax = 26,3 – 0,61 (1,75) = 26,3 – 0,61 = 25,69 0C tmin = 26,3 – 0,61 (6,625) = 26,3 – 19,22 = 7,08 0C Maka temperatur tertinggi adalah 25,69 0C dan terendah adalah 7,08 0C. b. Iklim

Iklim adalah keadaan rata - rata cuaca di suatu tempat atau daerah yang luas serta berlangsung dalam waktu yang lama (sedikitnya sepuluh tahun). Cuaca adalah keadaan udara di suatu tempat yang sempit dan selalu berubah-ubah di setiap waktu. Pengamatan cuaca dilakukan di stasiun-stasiun pengamatan atau observatorium meteorologi. Keadaan curah hujan di DAS Jambangan dapat dilihat dari data curah hujan selama sepuluh tahunan yang diperoleh dari pengukuran pada stasiun - stasiun pengamatan atau observatorium meteorologi oleh Dinas Pekerjaan Umum Sub Pengairan Kabupaten Karanganyar. Jumlah stasiun yang digunakan untuk penentuan tipe iklim DAS Jambangan sebanyak empat stasiun, dari empat stasiun pengamatan tersebut dianalisis curah hujan setiap bulannya untuk mengetahui rasio bulan basah dan bulan kering untuk penentuan iklim. dihubungkan antara stasiun satu dengan stasiun yang lain untuk kemudian dibuat

commit to user

poligon Tiesen untuk pembagian persebaran iklim.

Data curah hujan DAS Jambangan diperoleh dari pemantauan dan pencatatan pada setiap stasiun pengamatan oleh Dinas Pekerjaan Umum Sub Dinas Pengairan Kabupaten Karanganyar. Data yang diperoleh adalah data curah hujan harian pada 4 stasiun pengamatan/observatorium meteorologi yang berlangsung selama 10 tahun (2001 - 2010). Dari hasil perhitungan dapat diperoleh informasi curah hujan terendah di daerah penelitian terjadi pada Bulan Agustus sebesar 8,86 mm dan curah hujan tertinggi rata - rata sebesar 370,01 mm yang terjadi pada Bulan Desember.

Data curah hujan pada masing - masing stasiun pengamatan dapat dilihat pada Lampiran 1. Berdasarkan data pada Lampiran 1 maka dapat diperoleh data rata-rata curah hujan yang dapat dilihat pada tabel lampiran 1. Data rata-rata curah hujan dapat dirangkum pada Tabel 4.2 berikut ini.

Tabel 4.2. Rerata Curah Hujan Perbulan pada Empat Stasiun Pengamatan dalam Kurun Waktu Sepuluh Tahun (2001 - 2010).

No. Bulan Curah Hujan (mm)

Rata - rata

Curah Hujan (mm) Keterangan

1. Januari 1463,7 365,9 2. Februari 1352,9 338,2 3. Maret 1261,2 315,3 4. April 989,6 247,4 5. Mei 554,6 138,7 6. Juni 220,1 55,0 7. Juli 121,5 30,4

8. Agustus 35,4 8,9 Curah Hujan Terendah

9. September 97,5 24,4

10. Oktober 564,8 141,2

11. November 982,0 245,5

12. Desember 1480,1 370,0 Curah Hujan Tertinggi Sumber: - Hasil Perhitungan Tabel Curah Hujan Tahun 2001 - 2010,

commit to user

Tabel 4.3. Rerata Curah Hujan pada Setiap Stasiun Pengamatan Di DAS Jambangan Tahun 2001 – 2010 No. Stasiun Pengamatan Curah Hujan (mm/th) Hari Hujan (hari/th)

Rata - Rata Intensitas Curah Hujan (mm/hari) Bulan Basah Bulan Kering 1. Ngargoyoso 3007,7 128,8 7,3 4,3 23,4 2. Karangpandan 2268,0 117,7 7,3 4,4 19,3 3. Mojogedang 1993,9 86,7 6,7 5,0 23,0 4. Kerjo 1853,8 98,6 6,6 4,4 18,8

Sumber: - Hasil Perhitungan Tabel Curah Hujan Tahun 2001 - 2010. - Subdin Pengairan, Dinas Pekerjaan Umum Kab. Karanganyar

Penentuan tipe curah hujan menurut Schmidt dan Ferguson dinyatakan

dengan nilai “quotient” (Q) yang merupakan perbandingan rerata bulan kering dan

rerata bulan basah. Informasi tentang rata-rata bulan kering dan basah dapat dilihat pada Tabel 21 diatas.

Rumus perhitungan nilai “Q” adalah sebagai berikut: Rata – Rata Bulan Kering (BK)

Q = x 100 % Rata – Rata Bulan Basah (BB)

Schmidt dan Ferguson menentukan tipe cirah hujan berdasarkan nilai Q seperti yang terangkum pada Tabel 4.4.

commit to user

Tabel 4.4. Kriteria Tipe Iklim Berdasarkan Curah Hujan Menurut Schmidt dan Ferguson.

Tipe Curah Hujan Nilai Q Sifat

A 0 < Q < 0,143 Sangat basah B 0,143 < Q < 0,333 Basah C 0,333 < Q < 0,666 Agak basah D 0,666 < Q < 1,000 Sedang E 1,000 < Q < 1,670 Agak kering F 1,670 < Q < 3,000 Kering G 3,000 < Q < 7,000 Sangat kering H 7,000 < Q ~ Luar biasa kering Sumber : Kartasapoetra (1987: 29)

Berdasarkan rumus dan kriteria tipe curah hujan diatas dapat diketahui tipe curah hujan dari tiap - tiap stasiun pengamatan atau observatorium meteorologi

yang digunakan dalam penelitian. Perhitungan nilai “Q” tiap stasiun pengamatan

dapat dilihat pada Tabel 23:

Tabel 4.5. Perhitungan Tipe Curah Hujan DAS Jambangan Tahun 2001 - 2010 Menurut Schmidt dan Ferguson di Setiap Stasiun Pengamatan.

No. Stasiun

pengamatan Q = (Bln Kering/Bln Basah)x100% Tipe CH

1. Ngargoyoso (4,29/7,29) x 100 % = 0,588477 C 2. Karangpandan (4,4/ 7,3) x 100 % = 0,60274 C 3. Mojogedang (5 / 6,71) x 100 % = 0,745156 D 4. Kerjo (4,4 / 6,6) x 100 % = 0,666667 D Sumber: - Subdin Pengairan, Dinas Pekerjaan Umum Kab. Karanganyar, - Analisis data.

Berdasarkan nilai Q tersebut, dapat diketahui bahwa DAS Jambangan memiliki dua tipe curah hujan, yaitu Tipe C yang merupakan tipe agak basah dan Tipe D yang termasuk pada daerah sedang.

commit to user

Gambar 4.1. Tipe Curah Hujan DAS Jambangan Tahun 2001 - 2010 Menurut Schmidt dan Ferguson.

3. Geologi

Salah satu aspek yang mempengaruhi karakter suatu daerah dapat dilihat dari kondisi geologinya. Setiap daerah memiliki struktur geologi yang berbeda-beda yang menjadi ciri khas penyusun daerah tersebut. Keberadaan dan sifat sumberdaya alam secara langsung dapat dipengaruhi oleh keadaan geologinya. Jenis batuan dan struktur geologi mempengaruhi kualitas dan karakteristik lahan suatu daerah aliaran sungai. Kondisi geologi yang terjadi di DAS Jambangan banyak didominasi oleh vulkan, bagian timur banyak dipengaruhi oleh material-material hasil proses Lawu tua dan Lawu muda, sedangkan pada bagian barat

11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 12 R er at a Bul an Ke ri ng H G F E D C B A 7,000 3,000 1,670 1,000 0,143 0,333 0,666

Rerata Bulan Basah

1 2 3

4

commit to user

banyak dipengaruhi oleh material-material Lawu muda dan sebagian kecil dipengaruhi vulkan Merapi. Oleh karena itu secara umum daerah penelitian mempunyai ketebalan tanah yang dalam dan subur, selain itu kondisi tersebut membuat sifat-sifat airtanah pada daerah penelitian bervariasi sesuai dengan sifat batuannya. Berdasarkan peta geologi lembar Ponorogo tahun 1989 skala 1:100.000, DAS Jambangan secara keseluruhan terdiri satu formasi batuan yaitu Endapan Lahar Lawu (Qlla).

Formasi batuan ini pada umumnya berkomponen andesit basal dan sedikit batuapung beragam ukuran yang bercampur dengan pasir gunungapi yang umumnya berasal dari endapan lahar Gunungapi Lawu. Sebarannya terutama mengisi wilayah dataran di kaki gunungapi atau membentuk beberapa perbukitan rendah. Mataair banyak ditemukan pada satuan ini. Batuan tersebut terbentuk pada jaman kuarter, Kala Pleistosen akhir Holosen.

Gambar 4.2 Singkapan Batuan Formasi Endapan Lahar Lawu (Foto Dimbil Tanggal 24 Juni 2011)

commit to user

4. Geomorfologi

Geomorfologi merupakan ilmu yang mempelajari bentuklahan, proses-proses yang mempengaruhi pembentukannya dan menyelidiki hubungan timbal balik antara bentuklahan dan proses-poses dalam tatanan keruangannya (Van Zuidam dan Cancelado, 1979:3). Salah satu aspek kajian geomorfologi adalah bentuklahan (landform) yang merupakan bagian dari permukaan bumi yang terbentuk akibat pengaruh dari proses geomorfologis, proses geologis, dan struktur geologis pada material batuan dalam ruang dan waktu dalam urutan tertentu. (Nanang, 2008)

Menurut Pannekoek (1989:2) secara umum Pulau Jawa terbagi atas tiga zone:

 Zone Selatan: kurang lebih berupa plato, berlereng (miring) ke arah selatan menuju Laut Hindia dan di sebelah utara berbentuktebing patahan. Kadang- kadang zona ini begitu terkikis sehingga kehilangan pola platonya. Di Jawa Tengah sebagian dari zona ini telah diganti (ditempati) oleh dataran aluvial.  Zona Tengah: merupakan zona depresi. Di tempat-tempat tersebut muncul

kelompok gunungberapi besar. Proses geomorfologis yang terjadi adalah vulkanisme.

 Zona Utara: terdiri dari rangkaian gunung lipatan berupa bukit rendah atau pegunungan dan diselingi oleh beberapa gunung-gunung api dan biasa berbatasan dengan dataran aluvial.

DAS Jambangan merupakan bagian dari Zone Tengah yang merupakan jalur vulkan dan depresi yang diisi oleh material vulkan. DAS Jambangan merupakan bagian dari lereng vulkan Lawu, sehingga merupakan bagian dari zona tengah. Hal ini lebih lanjut dijelaskan dengan teori tektonik lempeng, bahwa akibat gerakan lempeng Eurasia yang menumbuk lempeng Pasifik yang terdiri terdiri dari Kepulauan Indonesia yang salah satunya adalah Pulau Jawa, maka menghasilkan deretan gunungapi di bagian tengah pulau tersebut. Gunungapi di Jawa dapat digolongkan sebagai tipe strato yang simetris. Badan gunungapi terdiri atas lava, tetapi sebagian besar terdiri atas lapisan – lapisan bahan piroklastis (pyroclastis) tanpa pengerasan (unconsolidated). Semakin ke bawah di lereng

commit to user

gunungapi, ukuran butir lapili dan bongkah – bongkah (volcanic boombs and fragments) menjadi kecil dengan adanya pemilihan, yang semakin lama semakin baik oleh akibat transportasi melalui air atau lahar (volcanic mudflows). Di kaki gunungapi material vulkanik akan mirip dengan endapan alluvial.

Berdasarkan topografinya yang datar sampai sangat curam, proses alam yang berupa proses vulkanis dan pengangkutan material vulkanis, dan material batuan yang termasuk dalam endapan lahar lawu, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa DAS Jambangan berdasarkan klasifikasi Verstapen termasuk pada bentuklahan asal proses vulkanik. Bentuklahan asal vulkanik merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas gunungapi. DAS Jambangan memiliki bentuklahan asal proses vulkanisme yang berasal dari gunungapi Lawu. Unit geomorfologi yang berkembang di DAS jambangan merupakan lereng kaki gunungapi. Lereng kaki gunung api merupakan bagian dari tubuh gunungapi di bawah lereng gunungapi, dengan topografi landai, jenis batuan atau strukturnya adalah piroklastik dan proses yang berlangsung adalah vulkanis, transportasi dan gravitasi.

Kondisi topografi DAS Jambangan yaitu antara datar sampai bergunung. Topografi datar berada di daerah hilir DAS Jambangan yaitu di Kecamatan Mojogedang, sedangkan topografi bergunung berada di Kecamatan Ngargoyoso. Kondisi kemringan lereng DAS Jambangan sangat bervariasi yaitu dari kelas lereng I sampai dengan V. Kelas lereng yang mendominasi yaitu kelas lereng II yang tersebar dengan luas 621,668 ha.

Tabel 4.6. Luas Persebaran Kelas Lereng DAS Jambangan No Kemiringan ( % ) Kelas Lereng Luas (Ha) %

1 0 – 8 I 492,091 23 2 8 – 15 II 621,668 29 3 15 – 25 III 324,212 15 4 25 – 45 IV 502,834 23 5 > 45 V 224,892 10 Jumlah 2165,697 100

commit to user Peta 4.2. lereng DAS Jambangan

commit to user

5. Tanah

Tanah adalah akumulasi tubuh alam bebas, menduduki sebagian besar permukaan planet bumi yang mampu menumbuhkan tanaman dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula (Darmawijaya, 1990: 9).

Berdasarkan pengertian tersebut di atas dapat diketahui bahwa faktor-faktor pembentuk tanah terdiri dari : iklim, bahan induk, relief, organisme dan waktu. Dalam mempengaruhi pembentukan dan perkembangan tanah, faktor-faktor tersebut tidak mempunyai intensitas yang sama, sehingga berakibat bahwa pada setiap tempat di permukaan bumi mempunyai sifat dan karakteristik tanah yang tidak homogen atau sama. Dari perbedaan tersebut dimungkinkan terjadi perbedaan penamaan dalam setiap kategorinya.

Berdasarkan peta tanah yang diperoleh dari Badan Perencaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Karanganyar dengan skala 1: 50.000, tanah di daerah penelitian terdapat dua macam tanah yaitu Latosol Coklat dan Mediteran Merah kuning. Berikut ini penjelasan keadaan masing-masing tanah.

a. Latosol Coklat

Nama latosol pertama kali diusulkan pertama kali oleh Kellog (1949) bagi golongan tanah yang meliputi semua tanah zonal di daerah tropika dan khatulistiwa mempunyai sifat-sifat dominan yaitu : nilai sequioksida fraksi lempung rendah, kapasitas penukaran kation rendah, lempungnya kurang aktif, kadar mineral rendah dan warna tanah merah. (Darmawijaya, 1990: 297).

Tanah latosol merupakan tanah yang banyak mengandung zat besi dan alumunium. Tanah ini sudah sangat tua sehingga kesuburannya rendah. Tanah ini telah berkembang atau terjadi diferensiasi horison, kedalaman tanah, tekstur lempung, struktur remah hingga gumpal, konsistensi gembur hingga agak teguh, warna coklat, merah hingga kuning.

Tanah latosol coklat berasal dari berbagai batuan tetapi paling umum dari abu vulkanik basa pada daerah berbukit yang agak tinggi dan vegetasi hutan

commit to user

basah, di Indonesia tanah ini merupakan peralihan dari latosol coklat kemerahan-kelam dan andosol, terutama diemukan di Jawa pada gunungapi yang masih muda (Darmawijaya, 1990: 307).

Ciri morfologi tanah latosol yang umum meliputi tanah dengan tekstur lempung sampai geluh, struktur tanah remah sampai gumpal lemah dan konsistensi gembur. Tanah latosol umumnya terdapat pada bahan induk vulkanik baik berupa batuan tufa ataupun batuan beku. Ditemukan dari muka laut hingga ketinggian 900 m, di daerah iklim tropika basah dengan curah hujan antara 2500 mm – 7000 mm.

Berdasarkan hasil laboratorium, tanah latosol di DAS Jambangan memiliki kandungan bahan organik bervariasi yaitu antara 2,15 - 5,69 %, kandungan Nitrogen antara 0,13 – 0,24 %, kandungan Fosfor 9,15 – 12,11 ppm dan kandungan Karbon 1,25 – 2,81 %. Hal ini menunjukan bahwa tanah latosol di DAS Jambangan cukup subur dan memberikan nutrisi yang baik bagi tanaman. Kadar keasaman (pH) pada tanah latosol berkisar antara 5,10 – 6,25 membuat mikro organisme dapat berkembang dengan baik.

Gambar 4.3. Profil Tanah Latosol Coklat di Desa Kwadungan Kecamatan Kerjo (Satuan Lahan Qlla-I-LC-Kb, Foto Diambil 24 Juni 2011)

b. Mediteran Merah Kuning

Tanah Mediteran Merah Kuning merupakan kelompok tanah mineral yang telah mengalami perkembangan profil. Satuan tanah Mediteran Merah Kuning dicirikan antara lain tanahnya yang sangat lapuk, mempunyai horizon B argilik,

commit to user

tekstur geluh higga lempung, struktur gumpal bersudut, bahan organik rendah, kkonsistensi teguh dan lekat bila basah, nisbah silika/seskuisoksida (SiO2/R2O3) relatif tinggi, pH tanah agak masam sampai sedikit alkalis (pH 6,0–7,5) kejenuhan basa sedang sampai tinggi, daya absorsi sedang, permeabilitas sedang dan peka erosi, kadang – kadang mengandung konkresi kapur dan besi. Bahan induk satuan tanah ini berasal dari batugamping (limestone) dan tuf gunung api basa. Penyebaran di daerah beriklim sub humid dengan bulan kering nyata, curah hujan antara 800 mm sampai 2500 mm, di daerah pegnungan lipatan, topografi karst dan lereng volkan ketinggian di bawah 400 m. Horizon B pada Mediteran Merah Kuning mempunyai fragmen batugamping dan sisa pelarutan dan atau gamping sekunder. (Junun, 2012: 119)

Hasil laboratorium menunjukan bahwa tanah mediteran merah kuning di DAS Jambangan memiliki kandungan bahan organik antara 3,43 - 3,69 %, kandungan Nitrogen antara 0,18 – 0,19 %, kandungan Fosfor 10,55 – 11,88 ppm dan kandungan Karbon 1,99 – 2,14 %. Hal ini menunjukan bahwa tanah mediteran merah kuning di DAS Jambangan cukup subur bagi tanaman. Kadar keasaman (pH) pada tanah latosol berkisar antara 5,17 – 6,45 membuat mikro organisme dapat berkembang dengan baik.

Gambar 4.4. Profil Tanah Mediteran Merah Kuning di Desa Tamansari, Kecamatan Mojogedang (Foto Diambil 24 Juni 2011)

commit to user

Luas persebaran macam tanah di DAS Jambangan dapat dilihat pada Tabel 4.7 berikut:

Tabel 4.7. Macam Tanah yang Terdapat di DAS Jambangan

No Macam Tanah Simbol Luas

Ha %

1 Latosol Coklat Lc 2016,231 93,09 2 Mediteran Merah kuning Mmk 159,649 6,91

Jumlah 2165,697 100%

Sumber : Peta Tanah Kabupaten Karanganyar skala 1 : 50.000

Lebih lanjut, kondisi dan persebaran macam tanah di DAS Jambangan digambarkan pada Peta 4.3:

commit to user

commit to user 6. Hidrologi

Kondisi hidrologi daerah penelitian meliputi air permukaan yang berupa sungai serta aliran airtanah yang berupa sumur. Kondisi hidrologi di suatu wilayah banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: curah hujan, jenis batuan, jenis tanah, kerapatan vegetasi dan penggunaan lahan. Kabupaten Karanganyar merupakan bagian dari cekungan airtanah Surakarta, satu cekungan dengan Kabupaten Sukoharjo, Boyolali, Sragen, Klaten dan Kota Surakarta. Cekungan airtanah Surakarta membentang dari puncak Gunung Merapi dan Merbabu di bagian barat sampai dengan puncak Gunung Lawu di bagian timur, sedangkan di bagian utara mulai dari Pendem sampai bukit Watukelir di bagian selatan. DAS jambangan merupakan DAS yang berada di Kabupaten Karanganyar, yang berhulu di Kecamatan Ngargoyoso tepatnya di Desa Nglegok dan outletnya berada di Kecematan Kerjo tepatnya di Desa Pereng.

Gambar 4.5. Sungai Jambangan di Desa Kuto Kecamatan Kerjo (Foto Diambil Pada Bulan Januari 2011)

a. Morfologi DAS

Keadaan hidrologi suatu DAS dapat diketahui melalui morfologi dan morfometri DAS. Morfologi DAS merupakan kondisi topografi DAS yang dapat dilihat berdasarkan kemiringa lerengnya. Morfometri DAS merupakan ukuran kuantitatif karakteristik DAS yang terkait dengan aspek geomorfologi suatu

commit to user

daerah. Karakteristik ini terkait dengan proses pengatusan (drainase) air hujan yang jatuh di dalam DAS. Parameter tersebut adalah luas DAS, jaringan sungai, kerapatan aliran, bentuk DAS, pola aliran dan gradien kecuraman sungai.

Bentuk topografi seperti kemiringan tanah, keadaan parit, dan bentuk-bentuk cekungan tanah lainnya akan mempengaruhi laju dan volume air larian (Asdak, 1995:146). DAS yang memiliki kemiringan tanah besar akan memiliki air larian yang lebih besar daripada DAS dengan kemiringan tanah kecil. Dilihat dari kemiringan lereng maka DAS Jambangan dapat dibagi dalam 5 kelompok daerah kelerengan yaitu daerah datar (0 – 8 %), landai (8 – 15 %), agak curam (15 – 25 %), curam (25 – 45 %) dan sangat curam (>45 %). Penggelompokan tersebut berdasarkan klasifikasi kemiringan lereng yang menurut pembagian dari Asdak (1995: 512). Berdasarkan kemiringan tersebut, dapat diketahui bahwa air larian di DAS Jambangan cukup besar, karena memiliki kemiringan lereng yang besar.

b. Pola Aliran

Pola drainase memiliki peranan lebih menentukan daripada kerapatan darinase dalam mempengaruhi besarnya debit puncak dan lama waktu berlangsungnya debit puncak tersebut ( Black:1991, dalam Asdak:1995 ). Pola aliran sungai yang berkembang pada DAS Jambangan adalah pola aliran sungai radial sentrifugal. Pola aliran radial sentrifugal merupakan pola aliran yang menyebar meninggalkan pusatnya. Pola aliran ini terdapat di daerah gunung yang berbentuk kerucut. DAS Jambangan merupakan DAS yang berhulu di Gunung Lawu, sehingga anak – anak sungainya menyebar mengalir meninggalkan pusatnya, yaitu gunung Lawu. Berdasarkan pola alirannya dapat dianalisis bahwa DAS Jambangan memiliki jenis tanah tuff yang berasal dari gunungapi, dan anak sungainya mengalir menuju sungai induk memerlukan waktu yang berbeda – beda sehingga jarang terjadi banjir.

c. Bentuk DAS

Bentuk DAS jika dikaitkan dengan aliran sungai yaitu terletak pada kecepatan terkonsentrasinya aliran. Bentuk DAS mempengaruhi waktu konsentrasi air hujan yang mengalir menuju outlet. Semakin bulat bentuk DAS berarti semakin singkat waktu konsentrasi yang diperlukan, sehingga semakin

commit to user

tinggi fluktuasi banjir yang terjadi. Sebaliknya semakin lonjong bentuk DAS, waktu konsentrasi yang diperlukan semakin lama sehingga fluktuasi banjir semakin rendah.

(a) (b)

Gambar 4.6. a) Hidrograf Aliran Dan b)Bentuk DAS (Soewarno, 1991)

DAS Jambangan memiliki berbentuk DAS bulu burung atau memanjang. DAS memanjang dengan sungai utama hampir lurus dan anak-anak sungai merupakan jalur dikanan kirinya. Berdasarkan bentuknya maka dapat dianalisis bahwa debit sungai relatif kecil dan jarang terjadi banjir atau kejadian banjir kecil. Hal ini karena sampainya air ke sungai utama berbeda-beda waktunya. Bentuk DAS yang memanjang dan sempit cenderung menurunkan laju air larian dibanding DAS berbentuk melebar walaupun luas dari DAS tersebut sama. Hal ini terjadi karena air larian pada DAS yang memanjang tidak terkonsentrasi secepat pada DAS dengan bentuk melebar. Artinya jarak antara tempat jatuhnya air hujan dengan titik pengamatan (outlet) pada bentuk DAS memanjang lebih besar daripada jarak dua titik tersebut pada dan yang melebar. Jarak yang lebih panjang memerlukan waktu yang lebih lama bagi air hujan untuk sampai di outlet, sehingga menurunkan waktu terjadinya debit puncak dan volume debit puncak.

d. Luas DAS

DAS merupakan tempat pengumpulan presipitasi ke suatu sistem sungai. Luas daerah aliran dapat diperkirakan dengan mengukur daerah tersebut pada peta topografi. Luas DAS merupakan luas keseluruhan DAS sebagai suatu sistem sungai dan ditentukan berdasarkan pola kontur. Garis batas antar DAS adalah punggung bukit yang dapat membagi dan memisahkan air hujan ke

masing-commit to user

masing DAS. Semakin luas DAS maka semakin banyak air yang mampu ditangkap oleh DAS, dan hal ini berkaitan dengan koefisien air larian. Hasil pengukuran luas DAS dengan menggunakan SIG (Sistem Informasi Geografis) diperoleh hasil seluas 2165,697 ha atau 21,66 km². berdasarkan luasnya DAS Jambangan dapat dikategorikan sebagai DAS kecil, karena luasnya kurang dari 5.000 km2.

Dokumen terkait