• Tidak ada hasil yang ditemukan

Letak geografis dan kondisi perairan pesisir Tegal

DAFTAR LAMPIRAN

3. Kondisi Open Access (OA)

4.2 Kabupaten Tegal

4.2.1 Letak geografis dan kondisi perairan pesisir Tegal

Secara geografis Kabupaten Tegal terletak di pantai Utara Jawa, berada pada posisi 108° 21` - 109° 21’ BT dan 6° 50’ – 7° 15’ LS (Gambar 4.2 dan Lampiran 2), memiliki luas wilayah 879 km2 dengan jumlah kecamatan 18 buah dan 287 desa diantaranya 3 kecamatan pesisir dan 12 desa pantai. Dengan panjang garis pantai 30 km, Kabupaten Tegal memiliki luas wilayah laut 216 ha. Batas wilayah Kabupaten Tegal adalah sebelah utara berbatasan dengan Kota Tegal dan Laut Jawa, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Pemalang, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Brebes dan Kabupaten Banyumas, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Brebes dan Kota Tegal.

Secara topografis Kabupaten Tegal terdiri dari 3 (tiga) kategori daerah, yaitu daerah pantai, meliputi sebagian Kecamatan Suradadi, Kramat dan Warureja; daerah dataran rendah, meliputi Kecamatan Slawi, Adiwerna, Talang, Lebaksiu, Kramat, Pagerbarang, sebagian Suradadi dan Warureja, Pangkah, Kedungbanteng, Dukuhwaru, Tarub dan Dukuhturi. Selebihnya merupakan daerah dataran tinggi, meliputi Kecamatan Jatinegara, Bumijawa, Balapulang, Margasari, sebagian Pangkah dan Kedungbanten serta Bojong.

Gambar 4.2 Lokasi penelitian (pengambilan sample responden) di Desa Surodadi dan Desa Mujung Agung, Kabupaten Tegal (Sumber : Google-earth tanggal akses 20 Februari 2006)

Kabupaten Tegal mempunyai 12 desa pantai yang tersebar di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Kramat terdapat 5 desa pantai yaitu Desa Dampyak, Padaharja, Munjung Agung, Bongkok dan Keramat. Di Kecamatan Suradadi terdapat 5 desa pantai yaitu Desa Maribaya, Sidoharjo, Purwahamba, Suradadi dan Bojongsana. Sedangkan di Kecamatan Warurejo terdapat 2 desa pantai yaitu Desa Demangharjo dan Kedungkelor. Dari ke-duabelas desa pantai tersebut yang menjadi sentra kegiatan nelayan dengan indikator tersedianya fasilitas TPI adalah Desa Suradadi di mana terdapat 2 TPI dan Desa Munjungagung di mana terdapat 1 TPI yang terletak di Kampung Larangan dan terkenal dengan TPI Larangan (Lampiran 2).

Ditinjau dari klimatologi, Kabupaten Tegal beriklim tropis dengan dua musim yaitu musim penghujan dan kemarau. Selama beberapa tahun belakangan ini menunjukkan bahwa curah hujan tertinggi pada bulan Januari sebesar 531,30 mm dan terendah sebesar 0,0 mm pada bulan Agustus dan September. Kelembaban udara berkisar 90%, tertinggi terjadi pada bulan Januari sampai Maret dan yang terendah pada bulan September sebesar 68%. Suhu udara rata-rata

27,3 °C. Suhu udara minimum terjadi pada bulan Februari sebesar 26,2 °C dan maksimum 28,5 °C terjadi pada bulan Nopember.

Kegiatan operasi penangkapan ikan di pantai Utara Jawa termasuk di perairan pantai Tegal dipengaruhi oleh cuaca (musim) dan ketersediaan ikan. Nelayan di perairan pantai Tegal mengenal tiga musim penangkapan ikan berkaitan dengan periode moonson, yaitu musim angin barat, musim angin timur dan musim peralihan. Musim angin barat berlangsung pada sekitar bulan Desember – Maret, musim timur berlangsung antara bulan Agustus – Oktober, dan musim peralihan di antara kedua periode musim barat dan timur. Dalam bulan Agustus hingga Oktober, nelayan umumnya banyak memperoleh ikan sehingga periode tersebut dapat disebut sebagai musim puncak kegiatan penangkapan ikan. Dalam periode lain, yaitu mulai Januari hingga Maret, hasil tangkapan biasanya sedikit sehingga periode teresbut sebagai musim paceklik, namun secara umum, kegiatan penangkapan ikan di perairan pantai Tegal berlangsung hampir sepanjang tahun. Hal ini disebabkan nelayan setempat dapat menggunakan berbagai jenis alat tangkap untuk menangkap ikan sesuai dengan musimnya. Kondisi seperti ini berlaku hampir di seluruh perairan di Indonesia sehingga kepemilikan alat tangkap menjadi sangat beragam dengan penggunaan yang dinamis sepanjang tahunnya.

4.2.2 Produksi perikanan

Produksi perikanan di Kabupaten Tegal masih didominasi oleh produksi perikanan laut melalui kegiatan penangkapan. Kegiatan tersebut terdapat di Kecamatan Kramat, Suradadi, dan Warurejo. Dalam perkembangan kegiatan perikanan tangkap tersebut Kabupaten Tegal memiliki 3 tempat pelelangan ikan yang menjadi sentra bisnis kegiatan perikanan tangkap yaitu TPI Larangan, TPI Suradadi I, dan TPI Suradadi II. Secara geografis ketiga TPI tersebar di lokasi yang strategis dan memegang peranan penting untuk pendaratan ikan bagi perahu kapal nelayan berukuran kecil.

Dengan panjang garis pantai 30 km dan luas wilayah laut 216 ha, kegiatan perikanan tangkap laut di Kabupaten Tegal juga memiliki lahan budidaya yang belum sepenuhnya dimanfaatkan dan berpotensi untuk dikembangkan.

Produksi perikanan tangkap di perairan Tegal dan Laut Jawa pada umumnya, didominasi oleh sumberdaya ikan pelagis kecil seperti layang, kembung, selar dan tongkol serta berbagai jenis ikan demersal seperti udang, bawal dan petek. Berdasarkan data statistik perikanan produksi perikanan laut Kabupaten Tegal sejak tahun 1998 sampai dengan tahun 2004 mengalami fluktuasi dengan kecenderungan menurun dari tahun ke tahun (Tabel 4.2). Penurunan produksi tersebut sudah sangat dirasakan dampak ekonominya oleh para nelayan di lokasi penelitian, karena penurunan produksi berakibat pada semakin menurunnya tingkat pendapatan persatuan usaha.

Tabel 4.2 Perkembangan produksi perikanan tangkap Kabupaten Tegal tahun 1994 - 2004

Jumlah Unit No Tahun

Kapal Alat Tangkap RTP

Produksi (kg) 1 1994 332 633 2324 406.400 2 1995 335 438 2345 352.300 3 1996 329 437 2303 577.700 4 1997 338 448 2366 548.000 5 1998 343 500 2401 746,077 6 1999 352 680 2464 677.734 7 2000 365 657 2555 624.797 8 2001 446 772 2738 588.677 9 2002 467 825 3314 477.482 10 2003 427 707 2921 647.021 11 2004 416 670 3098 472.613 Rata-rata 377 615 1651 556.255

Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tegal dan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah (laporan tahunan 1994-2005).

Pada Tabel 4.2 tersebut dapat dilihat bahwa pada kurun waktu 11 tahun telah terjadi peningkatan jumlah unit kapal dan alat tangkap dengan jumlah RTP yang meningkat sampai 1,5 kali lipat. Peningkatan jumlah RTP terjadi di mana pada tahun 1994 hanya 2.324 RTP dan meningkat pada tahun 2004 menjadi 3.098 RTP. Kenaikan tersebut ternyata tidak disertai dengan kenaikan produksi di mana produksi pada tahun 1994 mencapai 406.400 kg dan menjadi 472.613 kg pada tahun 2004.

4.2.3 Unit penangkapan ikan

Pada Tabel 4.2, kapal/perahu sebagai bagian unit penangkapan di Kabupaten Tegal pada akhir tahun 2004 umumnya merupakan perahu dengan motor tempel berjumlah 416 unit yang terdiri dari jukung sebanyak 212 unit, perahu motor tempel 3–5 GT 180 unit, perahu motor tempel 5-10 GT 14 unit (Tabel 4.3).

Tabel 4.3 Jumlah nelayan dan perahu motor tempel (PMT) Kabupaten Tegal tahun 2004.

Nelayan Perahu Motor Tempel (PMT) No Kecamatan Juragan (RTP) Pendega Jukung 3 – 5 GT 5 – 10 GT Jumlah ( PMT ) 1. 2. 3. Kramat Suradadi Warurejo 145 245 4 1.450 1.186 40 - 212 - 139 47 4 6 8 - 145 267 4 Jumlah 422 2.676 212 180 14 416 Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tegal (2005)

Kondisi terakhir alat tangkap yang digunakan oleh nelayan di Kabupaten Tegal cukup beragam dan dapat berubah-ubah setiap tahunnya. Alat tangkap yang digunakan pada tahun 2004 semakin sedikit dan didominasi oleh payang gemplo yang digunakan untuk menangkap teri. Walaupun menurut data Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tegal masih ada trammel net dan bagan, namun hasil wawancara dan pengamatan lapangan pada pertengahan tahun 2005 alat tangkap bagan dan trammel net sudah tidak ada yang digunakan mengingat secara finansial sudah dianggap tidak layak.

Tabel 4.4 Jumlah dan jenis unit alat tangkap Kabupaten Tegal tahun 2004 Jenis alat tangkap Jumlah No Kecamatan

Payang Bundes Trammel net

Rampus/

Kopek Wadong Bagan (Unit) 1. 2. 3. Kramat Suradadi Warurejo 145 46 4 - 5 - - 130 - - 236 - - 85 - - 19 - 145 521 4 J u m l a h 195 5 130 236 85 19 670 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tegal (2005)

5.1 Pendahuluan

Salah satu keberlanjutan perikanan tangkap ditentukan oleh kondisi ekologi. Penelitian pada bab ini bertujuan untuk menentukan status keberlanjutan perikanan tangkap skala kecil ditinjau dari dimensi ekologi. Pemanfaatan sumberdaya perikanan tidak boleh mengancam kesinambungan fungsi ekologi pendukung keberlanjutan kegiatan perikanan yang ekonomis dan produktif. Bab ini akan membahas beberapa atribut keberlanjutan dari dimensi ekologi yang berkaitan dengan sumberdaya perikanan di dua lokasi, yaitu Kabupaten Serang dan Tegal. Atribut-atribut tersebut adalah tingkat eksploitasi perikanan, proporsi ikan yang dibuang (by catch dan discards), tekanan pemanfaatan perairan, perubahan ukuran ikan tertangkap dalam 10 tahun terakhir, perubahan jenis ikan yang tertangkap dalam 10 tahun terakhir dan pemanfaatan lingkungan perairan oleh pariwisata bahari.

Tujuan utama pengelolaan sumberdaya perikanan ditinjau dari segi biologi adalah dalam upaya konservasi stok ikan untuk menghindari tangkap lebih (King and Ilgorm, 1989). Dengan kata lain bahwa untuk keberlanjutan perikanan tangkap diperlukan upaya agar tidak terjadi tangkap lebih melalui konservasi stok ikan. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 31/2004 tentang perikanan (pasal 1), konservasi sumberdaya ikan didefinisikan sebagai upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan sumberdaya ikan, termasuk ekosistem, jenis, dan genetik untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman sumberdaya ikan.

Dalam mempertahankan ketersediaan dan kesinambungan sumberdaya ikan perlu dilakukan pendekatan kehati-hatian dalam eksploitasi sumberdaya ikan sehingga keberlanjutan perikanan tangkap secara ekologi dapat dipertahankan. Oleh karena itu dalam eksploitasi sumberdaya perikanan diperlukan potensi dugaan sumberdaya perikanan yang dapat memberikan gambaran mengenai tingkat dan batas maksimal dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan di suatu

wilayah, sehingga pembangunan perikanan dapat direncanakan sedemikian rupa dan sumberdaya perikanan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Pada dasarnya secara ekologi, kegiatan perikanan akan dapat dilaksanakan dan berkelanjutan apabila komponen yang merupakan persyaratan pokok dapat dipenuhi. Persyaratan tersebut diantaranya adalah terjaminnya tingkat pertumbuhan (r), terjaganya daya dukung lingkungan perairan (K), dan tingkat pemanfaatan (koefisien daya tangkap, q) yang terkendali.

5.2 Metodologi

Metode yang digunakan dalam penelitian dimensi ekologi adalah gabungan dari penelitian deskriptif dan survei langsung (pengamatan dan wawancara). Data tentang jumlah unit dan trip alat tangkap serta hasil tangkapan tiap alat tangkap diperoleh dari laporan tempat pelelangan pendaratan ikan (TPI) di kedua lokasi penelitian. Data tentang alat tangkap, dimensi kapal serta anak buah kapal (ABK), daerah penangkapan, serta jenis ikan hasil tangkapan dominan diperoleh melalui wawancara dan survei langsung dengan nelayan di fishing base di kedua lokasi penelitian, yaitu Kabupaten Serang dan Kabupaten Tegal. Pemilihan responden yang diwawancarai langsung ditentukan berdasarkan petunjuk atau rekomendasi dari Dinas Perikanan dan Kelautan tiap kabupaten, ketua kelompok nelayan, dan petugas penyuluh perikanan setempat (khusus untuk lokasi penelitian di Kabupaten Tegal). Responden tersebut tidak dipilih secara random. Jumlah responden tiap lokasi penelitian ditentukan secara proporsional berdasarkan jumlah populasi dan kemampuan enumerator dalam melakukan identifikasi.

Tabel 5.1 Jumlah responden menurut jenis alat tangkap dan lokasi penelitian Jumlah sampel (responden) No Tempat Pendaratan

Ikan (TPI) Kecamatan Kabupaten Alat tangkap Jumlah 1 Pasauran Cinangka Serang Payang bugis

Jaring udang

38 33 2 Munjung Agung Kramat Tegal Payang gemplo

Bundes Rampus

25 12 12 3 Surodadi I Surodadi Tegal Payang gemplo

Bundes Rampus 15 10 20 J u m l a h 165

Analisis terhadap data yang diperoleh akan difokuskan pada kajian potensi dan tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan serta peran atribut faktor ekologis yang mempengaruhi keberlanjutan perikanan. Pendugaan tingkat dan batas maksimal pemanfaatan sumberdaya perikanan dilakukan dengan menerapkan model surplus produksi. Model ini memanfaatkan data produksi dan upaya penangkapan, seperti dijelaskan Clark, Yoshimoto and Pooley (1992). Parameter model yang diduga adalah r (laju pertumbuhan alami/intrinsic), q (koefisien kemampuan penangkapan) dan K (daya dukung lingkungan). Parameter-parameter tersebut diduga dengan menggunakan OLS (ordinary least square) dengan meregresikan tangkap perunit upaya (catch per unit effort = CPUE) pada periode t+1 dengan tangkap perunit upaya pada periode t serta penjumlahan input pada periode t dan t+1. Input yang digunakan adalah jumlah trip penangkapan dari semua jenis alat tangkap dengan indeks penangkapan yang telah distandardisasi. Standardisasi alat tangkap pada penelitian ini menggunakan persamaan Tai dan Heaps (1996) yang diacu dalam Bintoro (2005).

Atribut ekologi yang lain dalam Rapfish antara lain discard and by cacth, yaitu sejumlah ikan tangkapan yang tidak dimanfaatkan atau dibuang nelayan karena tidak mempunyai nilai ekonomis penting atau pertimbangan lain. Jika jumlah discard dan by catch sedikit bahkan jika tidak ada ikan yang dibuang maka sumberdaya perikanan dari perairan tersebut merupakan sumber pendapatan yang sangat penting bagi para nelayan. Dalam situasi seperti ini semua jenis dan ukuran dikonsumsi atau dimanfaatkan oleh nelayan dan masyarakat.

Tekanan pemanfaatan perairan atau tingkat intensitas pemanfaatan perairan oleh berbagai kegiatan secara langsung akan mempengaruhi kondisi ekologi perairan. Semakin tinggi tingkat pemanfaatan (tekanan) perairan maka akan menyebabkan semakin menurunnya kualitas perairan tersebut. Tekanan perairan ini dapat berupa pemanfaatan laut sebagai lahan budidaya laut, jalur-jalur sarana lalu lintas transportasi laut, tempat pembuangan sampah, daerah penangkapan ikan yang padat dan sebagainya.

Perubahan ukuran ikan dan jenis ikan dalam 10 tahun terakhir akan menggambarkan dampak akibat terjadinya perubahan ekologi. Jika ukuran ikan semakin kecil maka dapat dikatakan lingkungan perairan dan sumberdaya

perikanan mengalami kerusakan (degradasi), begitu juga yang terjadi pada perubahan jenis ikan yang tertangkap dimana ikan yang tertangkap semakin kecil dari masa kemasa. Kondisi yang demikian dapat dikategorikan growth overfishing yaitu terjadi manakala stok ikan yang ditangkap rata-rata ukurannya lebih kecil daripada ukuran yang seharusnya untuk berproduksi pada tingkat yield per recruit yang maksimum (Fauzi, 2005; Nikijuluw, 2005).

Pemanfaatan pariwisata yang sesuai dan optimal merupakan pendorong ke arah perbaikan ekologi karena secara tidak langsung pariwisata akan menciptakan kondisi lingkungan yang lebih baik, bersih, tertib, aman dan nyaman. Pemanfaatan pariwisata juga akan menciptakan alternatif lapangan pekerjaan dan pendapatan tambahan bagi para penduduk atau nelayan sekitar. Kegiatan pariwisata yang berlebihan juga akan berdampak kurang baik karena justru akan menciptakan masalah baru berupa peningkatan kerusakan ekologi.

Metode penentuan indeks keberlanjutan ekologi perikanan tangkap dengan teknik Rapfish dilakukan secara sistimatis seperti diuraikan pada Bab 3 (Metode Umum Penelitian). Indeks status keberlanjutan ekologi perikanan tangkap dimulai dengan pembuatan skor setiap atribut pada dimensi ekologi berdasarkan kondisi di lapangan, baik dari hasil berdasarkan wawancara dan pengamatan (data primer) maupun data sekunder. Penyusunan skor ini berdasarkan acuan-acuan yang telah dibuat baik melalui literatur seprti Alder, et. al., 2000 yang diacu dalam Fauzi dan Anna (2002), maupun pertimbangan dari penulis dengan asumsi-asumsi dan dasar-dasar ilmiah.

Skor yang diperoleh kemudian diolah dengan program Microsoft Excel dengan template ekologi yang telah dipersiapkan sebelumnya kemudian di-run sehingga diperoleh nilai multidimenstional scaling dari Rapfish yang lebih dikenal dengan indeks keberlanjutan. Nilai indeks keberlanjutan perikanan skala kecil ini pada metode Rapfish diketahui mempunyai nilai bad (buruk) sampai good (baik) dalam selang 0-100. Untuk memudahkan penentuan status keberlanjutan perikanan tangkap skala kecil baik di Kabupaten Serang maupun Kabupaten Tegal maka selang dari bad (0) sampai good (100) tersebut dibagi menjadi beberapa kategori atau status, yaitu dengan membagi empat selang 0-100 tersebut. Selang indeks keberlanjutan tersebut yaitu selang 0-25 dalam status buruk, selang 26-50

dalam status kurang, selang 51-75 dalam status cukup dan selang 76-100 dalam status baik. Pembagian selang yang menggambarkan status indeks keberlanjutan ekologi tersebut dapat dilihat pada Tabel 5.2.

Tabel 5.2 Selang indeks dan status keberlanjutan ekologi perikanan tangkap skala kecil

No Selang Indeks Keberlanjutan Status Keberlanjutan

1 0-25 Buruk

2 26-50 Kurang

3 51-75 Cukup

4 76-100 Baik