TNI AD MENGHADAPI TANTANGAN TUGAS DI ERA GLOBAL
Ada 5 (lima) pilar dalam strategi transformasi tersebut yaitu : pemuktahiran doktrin dan
organisasi, modernisasi Alutsista, peningkatan
kualitas SDM, peningkatan kerjasama militer dan memantapkan kemanunggalan TNI-Rakyat.
Implementasi ke 5 (lima) pilar dalam strategi transformasi tidak dapat terwujud secara optimal bila tidak didukung oleh soliditas dan
integritas prajurit TNI AD.
globalisasi. Beragam isu seperti demokratisasi, hak azasi manusia, lingkungan hidup, terorisme, dan isu lainnya terus bergulir seperti bola salju (snow ball), telah menimbulkan beragam reaksi di antara bangsa dan negara. Perubahan ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya serta pertahanan dan keamanan suatu bangsa dan negara disadari atau tidak, suka atau tidak sedang menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pengaruh arus globalisasi terhadap bangsa dan negara Indonesia berdampak terhadap lunturnya nilai-nilai moral bangsa dari derasnya terpaan budaya Barat yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Realitas tersebut terlihat dari lunturnya jati diri bangsa yang tadinya peduli, santun dan agamis kini semakin pudar karena telah didominasi oleh sikap individualisme yang semakin merebak. Lunturnya jiwa dan semangat nasionalisme dikalangan sebagian besar generasi muda, dan semakin meluasnya nilai-nilai materialisme dan hedonisme di tengah masyarakat Indonesia semakin memprihatinkan. Mencermati perkembangan global yang sedemikian kompleks dan dinamis maka sebagai bangsa dan negara Indonesia, termasuk segenap prajurit khususnya perwira TNI AD harus dapat menyikapi dengan bijak dan kritis untuk tetap memiliki jati diri yang kuat agar tidak turut terpengaruh dan hanyut tergerus oleh pusaran arus globalisasi.
Melalui tulisan ini penulis ingin memberikan kontribusi pemikiran bahwa menyikapi
perkembangan terkini yang sarat dengan berbagai kemajuan dibidang teknologi informasi, komunikasi dan transportasi yang berimplikasi terhadap berbagai bidang kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, maka organisasi TNI AD perlu terus membangun sikap profesionalitas, soliditas dan integritas berdasarkan pada jati diri TNI sebagai Tentara Rakyat, Tentara Pejuang, Tentara Nasional dan Tentara Profesional.
Makna Profesionalitas Dihadapkan Pada Tugas Pokok.
Menurut Oxford Advance Leaner’s Dictionary (1995:222) Profesionalisme adalah the skill or qualities required or expected of members of profesion. Artinya profesionalisme adalah suatu kemampuan atau kualitas yang menjadi persyaratan bagi keanggotaan suatu profesi. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI,2007;897) istilah profesional bersangkutan dengan
profesi, memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankan, mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya; profesionalisme artinya mutu, kualitas dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional, sedangkan profesionalitas artinya kemampuan untuk bertindak secara profesional. Dari pengertian di atas maka profesionalitas terkait dengan
kemampuan seseorang atau kualitas individu dalam profesinya.
Selanjutnya pengertian profesionalitas militer menurut beberapa ahli antara lain Sam Sarkesian seorang profesor emiritus ilmu politik
dari Universitas Loyola Chicago, USA yang menaruh perhatian pada masalah hubungan sipil dan militer seperti yang dikutip oleh Muhadjir Effendi1
mendefinisikan profesional sebagai:
Profesional are motivated by a sense of service and resposibility to society. Military profesionals are expected to be prepared to give their lives to serve the profesion and the state.
Menurutnya seorang militer yang profesional akan mencurahkan segala daya dan pikirannya untuk melaksanakan tugasnya sesuai peran yang ditentukan oleh negara dalam bidang kemiliteran. Profesional militer sebagai suatu profesi yang tumbuh berkembang karena didorong oleh rasa tanggung jawab dan panggilan tugas untuk mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan negara. Pandangan lain tentang profesionalisme militer dari Samuel Huntington (2003)2 disebutkan bahwa profesionalisme militer meliputi tiga hal pokok yaitu: pertama adalah expertise yaitu profesionalisme militer dipandang sebagai keahlian yang sangat spesifik dan memerlukan pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh melalui pendidikan
dan pelatihan, dalam waktu dan tingkat kesulitan tertentu, yang oleh karenanya keahlian itu tidak mungkin dikuasai oleh sembarang orang. Kedua adalah social responbility yaitu profesionalisme militer dituntut memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi. Dalam kondisi demikian para prajurit harus bertanggung jawab kepada warga negara secara keseluruhan. Ketiga adalah Corporateness yaitu mempunyai kesatuan yang kuat dengan bersumber pada doktrin organisasi. Suatu korps militer menjadi profesional yaitu dengan adanya spesialisasi
fungsional dan pembagian kerja yang jelas. Sikap profesionalisme tidak akan muncul bilamana militer masih diperhadapkan dengan peran yang lain dan tidak berhubungan dengan kemiliteran. Militer hanya mengabdi kepada kepentingan negara dan harus bersikap netral dengan tidak memihak pada satu golongan tertentu.
Konsep profesionalisme TNI juga dikemukakan oleh mantan Kasad Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu sebagaimana dikutip oleh AC Mantiri (2005), beliau berpendapat bahwa profesionalisme keprajuritan TNI tidak sama dengan negara lain disebabkan adanya tuntutan nasionalisme yang berbeda. Melihat profesionalisme TNI tidak hanya
diukur semata-mata dengan ketrampilan dalam penguasaan taktik dan tehnis
kemiliteran tetapi berdasarkan kepada keterampilan penguasaan taktik dan
tehnik militer yang berlandaskan jati diri TNI sebagai Tentara Rakyat, Tentara
Pejuang, Tentara Nasional dan Tentara Profesional.3 Penyataan yang senada
diungkapkan oleh Mantan Kasad Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso, bahwa Profesionalisme keprajuritan itu adalah penguasaan setiap prajurit terhadap kemahiran teknis dan taktis melalui tanggung jawab yang mendalam terhadap profesinya, memiliki soliditas dan jiwa korsa yang kuat. Semua ini berbasis pada jati diri TNI sebagai tentara yang selalu mencintai dan manunggal dengan rakyat, sebagai tentara pejuang yang tangguh dan bertekad mengabdi hanya untuk bangsa dan negara, sebagai tentara nasional yang memiliki wawasan kebangsaan yang kuat.4
Penulis berpendapat bahwa pandangan
Jenderal (Purn) Ryamizard dan Jenderal (purn) Djoko Santoso tentang profesionalisme TNI sangat tepat dan komprehensif. Profesionalisme keprajuritan TNI AD harus dibangun dan terus ditingkatkan seiiring perkembangan zaman tanpa mengabaikan dan meninggalkan jatidiri TNI atau kultur kebangsaaan yang ada dan telah diwarisi oleh para the founding fathers. Profesionalitas bagi prajurit TNI khususnya di kalangan para perwira adalah keniscayaan bilamana organisasi TNI AD akan terus maju dan berkompetitif dengan organisasi militer dari negara negara lain di dunia. Namun demikian profesionalitas militer yang ditumbuhsuburkan tidak mengabaikan dan melunturkan pemahaman prajurit terhadap hakekat diri sebagai Tentara rakyat, Tentara pejuang, Tentara nasional dan Tentara Profesional. Jati diri inilah yang menjadi ciri khas setiap prajurit TNI AD khususnya para perwira sebagai sosok teladan yang menjadi panutan anak buah. Jati diri TNI harus selalu dipedomani, berakar serta terpatri dalam sanubari terdalam setiap prajurit TNI AD khususnya perwira sebagai motor, penggerak dan pemimpin bagi satuannya. Profesionalitas militer tidak dapat
dan sudah menjadi tuntutan yang harus dilakukan terus menerus secara berkelanjutan oleh setiap personil militer TNI AD dari level terbawah yaitu Tamtama sampai dengan level tertinggi yaitu Perwira. Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang TNI Nomor 34 tahun 2004 pasal 2 tentang jati diri TNI yang keempat menyebutkan bahwa tentara profesional adalah tentara yang mahir menggunakan peralatan militer, mahir bergerak, dan mahir menggunakan alat tempur, serta mampu melaksanakan tugas secara terukur dan memenuhi nilai-nilai akuntabilitas. Oleh sebab itu tentara perlu terus dilatih dalam menggunakan senjata dan peralatan militer lainnya dengan baik, dilatih manuver taktik secara baik, dididik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, dipersenjatai dan dilengkapi dengan baik serta didukung dalam hal peningkatan kesejahteraan prajurit oleh negara.
Selain itu, dengan adanya kebijakan pemerintah RI untuk melakukan modernisasi alutsista TNI/ TNI AD maka setiap prajurit yang mengawaki Alutsista dituntut profesionalitas yang tinggi. Pembelian pesawat Sukhoi Su-30MK2, pesawat angkut CN-295, pesawat Super Tucano EMB-314, helikopter Bell 412 EP, Tank Amfibi BMP-3F, Panser Amfibi BTR-4, pesawat CN-235 MPA dan pesawat
latih T-50. Dan beberapa Alutsista yang masih dalam proses adalah Main Battle Tank Leopard, Meriam Armed Howitzer, Rudal Arhanud Mistral, Helikopter serbu Fennec AS 555 AP dan AS 550 C3, Multi Launcher Rocket System Astros II, Multi Role Light Fregate, dan Helikopter Apache tentunya akan sia-sia bila tidak didukung oleh personel prajurit TNI khususnya perwira yang profesional untuk mengawaki dan memelihara Alutsista yang ada.5 Pada suatu kesempatan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro didampingi Panglima TNI, Kasad, Kasau, Kasal dan Wamenhan dalam Rapat Pimpinan Tahun 2014 yang dihadiri seluruh pejabat eselon I dan II di jajaran Kemhan serta beberapa pejabat dari Mabes TNI dan Mabes Angkatan dalam sambutannya mengatakan, bahwa dalam rangka pemenuhan kebutuhan Minimum Essential Force (MEF) sampai tahun 2024 yang mencakup modernisasi Alutsista TNI, sarana prasarana, profesionalisme SDM dan kelembagaan yang didukung industri pertahanan, maka Kemhan dan TNI telah merencanakan dan melaksanakan pengadaan Alutsista dan infrastruktur dengan berbagai sumber pendanaan yang ada.6 Mencermati sambutan Menteri Pertahanan RI tersebut maka
kedepan profesionalitas personel dan prajurit TNI menjadi keniscayaan agar organisasi TNI dapat berkompetitif dan melakukan tugas pokok secara optimal seiring dengan perkembangan global tanpa mengabaikan jati diri TNI.
Makna Soliditas dan Integritas Bagi Prajurit TNI AD.
Pengertian istilah soliditas, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2007; 1082) menunjuk kepada keadaan (sifat) yang solid atau kukuh, berbobot, padat atau berisi. Kemudian untuk istilah Integritas artinya mutu, sifat atau keadaan yang menunjukan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan, dan kejujuran. (KBBI,2007;437). Belajar dari sejarah ada beberapa pesan dari Panglima besar Jenderal Sudirman yang dapat menjadi inspirasi saat membahas tentang pengertian soliditas dan integritas adalah: “Bahwa satu-satunya hak milik Nasional Republik yang masih utuh dan tidak berubah-ubah meskipun harus mengalami soal dan perubahan hanyalah Angkatan Perang Republik Indonesia (Yogyakarta 1 Agustus 1949). Kami Tentara Republik Indonesia akan timbul dan tenggelam bersama-sama negara (17 Februari 1946). Tentara hanya mempunyai
kewajiban satu ialah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatan. Sudah cukup kalau tentara teguh memegang kewajiban ini lagipula sebagai tentara, disiplin harus dipegang teguh. Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau orang siapapun juga” (Yogyakarta 12 Nopember 1945).
Itulah nasehat dari Pangsar Sudirman yang mengandung makna sangat dalam bagi keutuhan NKRI khususnya Tentara Nasional Indonesia. Membangun soliditas dan integritas di era globalisasi dewasa ini sangat penting mengingat kondisi masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang sangat majemuk. Kebhinekaan tersebut sesungguhnya rawan terhadap disintegrasi atau ancaman perpecahan dan potensi disintegrasi bangsa dapat dilihat dari adanya isu separatis dari kelompok-kelompok separatis serta adanya berbagai peristiwa konflik horizontal lainnya yang terjadi di tanah air.
Menyikapi kondisi bangsa yang sedemikian, maka TNI AD sebagaimana pesan Pangsar Sudirman harus tetap memelihara soliditas dan integritas baik di kalangan internal maupun eksternal dengan masyarakat dan komponen bangsa lainnya. TNI AD harus dapat menjadi contoh dan teladan dalam
menjaga persatuan dan kesatuan yang berdasarkan pada jati diri TNI. Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal (Purn) George Toisutta,7 menyatakan bahwa solid berarti kuat, kukuh dan berbobot, dihadapkan pada perubahan dan tantangan. Solid bermakna bahwa setiap prajurit TNI Angkatan Darat, dan sesamanya harus menyatu, karena bersaudara dan teman seperjuangan,
serta soliditas juga merupakan kekuatan bagi TNI Angkatan Darat. Soliditas yang ditunjukkan dalam kerjasama untuk memecahkan setiap permasalahan di wilayah, dengan pemerintah daerah, aparat dan pihak terkait, serta kekompakan sesama prajurit dalam melaksanakan tugas-tugas satuan, secara benar dan terarah. Lebih lanjut ditegaskan oleh Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Budiman di Graha Yudha Wastu Pramuka Pussenif Kodiklat TNI AD, pada saat pembukaan Apel Dansat tahun 2014. Kasad menyatakan saat ini TNI AD sedang menjalankan Strategi Transformasi yang meliputi bidang pertempuran (OMP), bidang teritorial (OMSP) serta dukungan. Ada 5 (lima) pilar dalam strategi transformasi tersebut yaitu : pemuktahiran doktrin dan organisasi, modernisasi Alutsista, peningkatan kualitas SDM, peningkatan kerjasama militer dan memantapkan kemanunggalan TNI-Rakyat. Implementasi ke 5 (lima) pilar dalam strategi transformasi tidak dapat terwujud secara optimal bila tidak didukung oleh soliditas dan integritas prajurit TNI AD. Soliditas dan integritas sesungguhnya dapat dipahami sebagai ketrampilan soft skills”8 yang harus dimiliki oleh setiap prajurit TNI AD. Agar soliditas dan
integritas dapat terus terbina dan tumbuh subur pada setiap level dari Tamtama sampai dengan Perwira, maka penghayatan akan jati diri TNI mutlak diperlukan bagi setiap prajurit.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian jati diri adalah identitas, ciri-ciri, gambaran atau keadaan khusus seseorang atau suatu benda, pengertian lain adalah inti, jiwa, semangat dan daya gerak dari dalam. (KBBI, 2002;462). Apabila memperhatikan Undang-undang RI Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI disebutkan tentang jati diri TNI. Pertama, sebagai Tentara Rakyat, yang berarti bahwa prajurit TNI adalah tentara yang anggotanya berasal dari warga negara Indonesia. Kedua, sebagai Tentara Pejuang, yaitu tentara yang berjuang menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tidak mengenal menyerah dalam melaksanakan dan menyelesaikan tugasnya, Ketiga, sebagai Tentara nasional yaitu tentara kebangsaan Indonesia yang bertugas demi kepentingan negara diatas kepentingan daerah, suku, ras dan golongan serta agama. Keempat, sebagai tentara profesional berarti TNI merupakan tentara yang terlatih, terdidik, diperlengkapi secara baik, tidak berpolitik praktis, tidak berbisnis, dan dijamin kesejahteraannya serta mengikuti kebijakan politik negara yang menganut prinsip demokrasi, supremasi sipil, hak asasi manusia, ketentuan hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi.
Jati diri TNI adalah sebagai Tentara Rakyat, tentara Pejuang, Tentara Nasional dan Tentara Profesional. Keempat nilai jati diri ini tidak dapat
dipisah-pisahkan satu sama lain melainkan harus dipahami secara utuh dan komprehensif. Jati diri TNI memiliki arti yang sangat penting, dan sekaligus sebagai daya gerak atau pendorong bagi setiap prajurit TNI AD dalam melaksanakan setiap tugas pengabdian yang terbaik bagi bangsa dan negara. Jati diri TNI menjadi dasar dan identitas terbangunnya profesionalitas, soliditas dan integritas prajurit TNI AD baik di lingkungan internal maupun eksternal. Melalui penghayatan yang mendalam tentang Jati diri TNI oleh setiap prajurit TNI AD, maka profesionalitas, soliditas dan integritas TNI AD akan menjadi contoh dan teladan bagi elemen masyarakat Indonesia di era global.
Penutup.
Jati diri TNI merupakan hal mendasar dan keniscayaan bagi setiap prajurit TNI AD karena menjadi daya gerak, semangat, dan ciri khas TNI/ TNI AD dalam menjalankan tugas dan pengabdian terbaik bagi bangsa dan negara. Jati diri TNI inilah yang membedakan prajurit TNI/TNI AD dengan prajurit dari bangsa dan negara lain. Pengalaman sejarah telah membuktikan bahwa dengan pemahaman dan penghayatan yang kuat tentang Jati diri TNI para prajurit Angkatan Perang Republik Indonesia pada masa kemerdekaan mampu
berjuang membela tanah air meskipun dengan keterbatasan sumber daya manusia, alat dan tehnik
bertempur. Para prajurit TNI atau BKR/TKR di masa lalu mampu memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara, meskipun harus kehilangan nyawa dalam membela Nusa dan Bangsa agar Sang Merah Putih dapat berkibar di seluruh pelosok Nusantara. Semangat dan pengabdian yang telah dicontohkan oleh para pejuang kusuma bangsa dapat dilanjutkan dan ditumbuhsuburkan oleh setiap prajurit TNI AD di era global dalam membangun profesionalitas, soliditas dan integritas dengan selalu berpedoman mendasarkan pada jati diri TNI.
Endnotes.
1. Lihat. Muhadjir Effendy, 2006, profesionalisme Militer Dan Profesionalisme TNI, UMM Press, Malang
2. S.Huntington, (2003), Prajurit dan Negara, teori dan Politik Hubungan Sipil, PT Grasindo, Jakarta, hal.4-6
3. AC Mantiri, (2000), Memelihara
Profesionalisme Sepanjang Masa Penugasan, Majalah Akademi TNI Edisi Desember.hal 15. 4. Djoko Santoso, (2006), Menyiapkan TNI yang Profesional dan dedikatif dari perspektif pertahanan matra darat, Patriot Edisi Khusus Nomor 21 / Bulan Oktober, Hal.9
5. http://hankam.kompasiana.com/2014/03/27/ indonesia-butuh-tank-leopard-pengadaan-alutsista-tni-sesuai-prosedur-644647.html
RIWAYAT HIDUP SINGKAT PENULIS
I. Data Pokok.
1. Nama : Sumardi
2. Pangkat : Mayjen TNI/29960 3. Tempat/Tgl. Lahir : Boyolali/20-02-1959 4. Agama : Islam
5. Status : Kawin 6. Sumber Pa/Th : Akabri/1984 7. Jabatan : Gubernur Akmil
II. Riwayat Pendidikan Militer. A. Dikbangum. 1. Akabri : 1984 2. Sussarcab If : 1984 3. Selapa I : 1991 4. Selapa II : 1994 5. Seskoad : 1998 6. Sesko TNI : 2007 B. Dikbangspes. 1. Sussar Para : 1983 2. Komando : 1985 3. Sus Bhs. Inggris : 1986 4. Sus Sarpa Intel : 1988 5. Sus Pasi Sospol : 1992 6. Sus Danyonif : 1998 7. Susgati Binlat
Opsgab : 2003 8. Sus Danrem : 2008
III. Riwayat Penugasan. A. Dalam Negeri. 1. Ops. Tim-Tim : 1985, 1987, 1989 2. Ops. Aceh : 1995, 2005 B. Luar Negeri. 1. USA : 1988 2. Thailand : 1999 3. Singapura : 2001, 2010 4. Australia : 2006, 2010 5. Jepang : 2007 5. Cina : 2010 6. Malaysia : 2011
IV. Riwayat Jabatan.
1. Danton Kopassandha 2. Danton-2/133/13 Kopassus 3. Danton-1/3/2/1Kopassus
4. Dantim-1/1/11/Grup-1 Kopassus 5. Dantim-2/2/2/Grup-1 Kopassus 6. Pa Intel Ops Den-1 yon-12 Kopassus 7. Paops Grup-1 Kopassus
8. Danden-1 Yon-21 Grup-2 Kopassus 9. Kasiopsjar Grup-3 Pusdik Passus 10. Dansepursus Grup-3 Pusdik Passus 11. Danyon-12 Grup-1 Kopassus 12. Pabandyalat Sops Kopassus 13. Waasops Danjen Kopassus 14. Wadan Grup-1 Kopassus 15. Asops Danjen Kopassus 16. Danpusdik Passus Kopassus 17. Aspers Kasdam IV/Dip
18. Danrem-082/CPYJ Dam V/Brw 19. Paban III/Latgab Sops TNI 20. Dirlat Kodiklat TNI AD 21. Kasgartap I/Jakarta 22. Gubernur Akmil
6. http://puskompublik.kemhan.go.id/post- menhan-pimpin-rapat-pimpinan-pertahanan-negara-2014.html
7. Hal ini ditegaskan Jenderal (Purn) G.Toissuta pada Apel Komandan Satuan (Apel Dansat) TNI Angkatan Darat Terpusat di Tahun 2010, di Pussenif, Kodiklatad, Bandung
8. Pengertian soft skill menurut Prof Dr. Elfindri Guru besar Univ.Andalas-Padang, merupakan
ketrampilan dan kecakapan hidup baik untuk hidup sendiri, berkelompok atau bermasyarakat, serta dengan Sang Pencipta. Seseorang yang memiliki ketrampilan soft skill membuat keberadaan seseorang akan semakin terasa ditengah masyarakat, Soft Skill meliputi ketrampilan
berkomunikasi, ketrampilan emosional, ketrampilan berbahasa, memiliki moral dan etika serta santun, ketrampilan spirituall, (Elfindri,2011;175)