4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Limbah Padat Susu Bubuk Industri
Semua responden distributor belum memiliki fasilitas pengolahan limbah padat yang memadai. Hany memiliki tempat sampah untuk limbah domestik. Semua distributor menyatakan melakukan pembakaran limbah padat susu bubuk dengan metode pembakaran biasa yaitu menggunakan bahan bakar bensin atau solar. Ditinjau dari pengelolaan limbah yang baik, seharusnya pembakaran dilakukan dengan menggunakan incenerator. Pembakaran biasa berpotensi menyebabkan polusi asap dan emisi gas NOx dan SOx yang tidak ramah lingkungan.
4.2 Limbah Padat Susu Bubuk Industri
Hasil pencacatan limbah pada responden pabrik susu bubuk disajikan pada Tabel 8. Dari total limbah susu bubuk yang diterima oleh pabrik, sebagian masih bisa dikonsumsi yaitu untuk kondisi produk masih utuh (kemasan tidak bocor) dan belum kadaluarsa (jarak dari tanggal kadaluarsa diatas 3 bulan). Limbah susu bubuk dengan kondisi ini dimusnahkan dengan cara pembagian cuma-cuma kepada karyawan. Secara rutin diadakan pembagian produk kepada karyawan untuk segera dikonsumsi oleh keluarga karyawan. Agar tidak disalahgunakan (dijual) oleh karyawan maka kemasan produk di coret dengan garis silang dengan menggunakan spidol permanen.
Sebagian besar limbah susu bubuk yang diterima pabrik adalah produk yang kadaluarsa dan produk dengan kondisi rusak yaitu kemasan bocor karena robek atau bocor. Produk ini tidak layak konsumsi dan harus dimusnahkan. Metode pemusnahan yang dipakai adalah incenerasi dengan menggunakan alat incenerator dengan sistem pembakaran ganda (double burner). Alat ini menggunakan bahan bakar gas alam dengan kapasitas 100 kg limbah susu bubuk tiap kali proses pembakaran. Proses pembakaran berlangsung ada suhu 800 oC – 1000 oC agar tercapai pembakaran yang sempurna.
Pada beberapa kasus khususnya yang terjadi pada tahun 2013 terjadi penarikan produk karena masalah mutu (rasa dan aroma tidak sesuai spesifikasi). Perusahaan membagikan produk yang masih layak konsumsi tersebut kepada karyawan.
Tabel 8 Pencatatan limbah pada pabrik industri penghasil susu bubuk dari tahun 2012 sampai tahun 2013. Tahun Jumlah Total (kg) Karyawan Dimusnakan
(incenerasi) IncenerasiBiaya (Rp x 1000) Kg % Kg % 2.011 4.247,0 237,7 5,6% 4.009,3 94,4% 8.018,7 2.012 3.529,5 596,0 16,9% 2.783,0 78,8% 5.565,9 2.013 9.892,5 6.634,5 67,1% 3.258,0 32,9% 6.516,0 Rata-rata 5.889,7 2.489,4 29,8% 3.350,1 68,7% 6.700,2
Keterangan : biaya incenerasi = Rp 2000/kg (PPLI. 2013)
Limbah padat susu bubuk di pabrik yang disurvei jumlahnya tentu lebih besar. Rata-rata harian jumlah limbah yang ada di pabrik 9,7 kg/perhari. Limbah padat yang dikelola sebagian berasal juga dari produk kembalian agen (return). Sebagaimana pengelolaan di distributor, limbah yang tidak layak konsumsi dibakar dengan menggunakan alat incenerator. Pembakaran dengan incenerator ini kualitas
✚ ✛
pembakarannya bagus yaitu terjadinya pembakaran yang sempurna. Suhu pembakaran incenerator bisa mencapai kondisi pirolisis yaitu pada suhu 800 o C-1000oC.
Biaya incenerasi ini cukup besar karena perusahaan harus berinvestasi membeli alat incenerator. Alat ini menggunakan bahan bakar gas alam serta harus dioperasikan oleh operator yang sudah berpengalaman. Dengan jumlah limbah yang cukup besar, maka perlu dipikirkan upayarecycledengan memanfaatan limbah susu bubuk tersebut menjadi bentuk lain. Prasadet al. (2004) menyatakan bahwa limbah padat organik industri susu bisa dimanfaatkan sebagai kompos, pupuk atau pakan ternak.
Gambar 22 Pengelolaan limbah susu bubuk di industri susu.
Perkiraan jumlah limbah padat susu bubuk jika dihitung secara nasional yang disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9 Produksi Susu Bubuk Nasional, Perkiraan Volume Limbah dan Perkiraan Biaya Pemusnahannya.
✜✢
4.3 Penelitian Awal
Penelitian fortifikasi kompos didahului dengan melakukan pengukuran awal terhadap kondisi tanah awal dan kondisi ‘green waste’ awal. Pengukuran tanah awal di lokasi penelitian dilakukan terhadap tekstur tanah, pH, C organik, N, P2O5, K2O dan mineral Ca, Mg, K, Na serta nilai KTK. Kondisi tanah awal disajikan pada Lampiran 1.
Gambar 23 Green waste awal dan green waste yang telah digiling untuk pengukuran awal.
Kondisi awal green waste diukur dengan parameter kadar air, C organik total dan N organik total. Hasil pengamatan kandungan green waste disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10 Hasil pengukuran C organik dan N total green waste untuk bahan baku kompos.
Hasil analisis (Tabel 10) terlihat bahwa green waste di lokasi penelitian memiliki kandungan C yang cukup tinggi (32.2 %) sedangkan kandungan N total cukup rendah (0.98 %). Wilkinson et al. (2011) menyatakan bahwa rumput cacah sebagai bahan kompos mengandung komponen N sebesar 1,8 %, C/N rasio sebesar 17 dan kadar air 40% bisa di komposkan dengan sludge limbah produksi (konsentrasi 25% berat).
✣ ✤
Gambar 24 Proses sampling tanah awal
Tanah lokasi penelitian merupakan tanah dengan karakteristirk campuran tanah liat dan lempung berdebu. Jika dibanding dengan kriteria penilaian sifat kimia tanah (Hardjowigeno. 1995) maka disimpulkan kondisi tanah awal di lokasi penelitian kurang subur.
Tabel 11 Perbandingan kondisi tanah awal di lokasi penelitian dengan kriteria penilaian sifat kimia tanah (Hardjowigeno. 1995)
Dengan kondisi green waste (Tabel 10) dan kondisi tanah percobaan (Tabel 11) yang miskin hara, maka perlu ditambahan bahan lain ke dalam proses pengomposan yang bisa memperkaya nutriisi kompos terutama untuk peningkatan N, P dan K dari kompos yang dihasilkan.
✥ ✥
4.4 Pengomposan
Seluruh sampel percobaan dikomposan secara bersamaan (Gambar 25).
Selama proses pengomposan dilakukan pembalikan kompos untuk
mempertahankan aerasi yang baik serta kerataan proses pengomposan. Setelah proses pengomposan berlangsung selama 4 minggu dilakukan analisis terhadap sampel percobaan. Secara umum proses pengomposan berjalan sesuai dengan metode penelitian. Terjadi peningkatan suhu sampai dengan 60 oC selama kurang lebih 2 minggu pengomposan. Pada akhir pengomposan diperoleh kompos berwarna kehitaman.
Gambar 25 Proses pengomposan
Rataan hasil analisa kompos dan hasil analisis sidik ragamnya disajikan pada Tabel 12. Dari tabel tersebut terlihat bahwa :
a. Faktor konsentrasi sludge ipal (faktor A):
(1) Berpengaruh nyata terhadap C organik total, K2O kompos (2) Berpengaruh sangat nyata terhadap N total kompos b. Faktor dosis fortifikasi limbah susu bubuk (faktor B):
(1) Berpengaruh nyata terhadap C organik total kompos
(2) Berpengaruh sangat nyata terhadap N total, P2O5 dan K2O kompos. c. Interaksi faktor A dan faktor B :
✦ ✧
Tabel 12 Pengaruh konsentrasi sludge ipal dan dosis fortifikasi limbah susu bubuk terhadap kualitas hasil kompos.
Keterangan: tn = Tidak nyata pada taraf uji 5%, ** = Berpengaruh sangat nyata pada taraf uji 1%, * = Berpengaruh sangat nyata pada taraf uji 5%, L = Uji regresi berpengaruh secara linier
4.4.1 Kadar C Organik total.
Nilai tengah kadar C organik total dari keseluruhan data 13.715 % sedangkan standar kadar karbon kompos (SNI: 19:7030-2004) minimum adalah sebesar 9.8%. Baik faktor A maupun faktor B berpengaruh nyata terhadap kadar C organik total hasil kompos, sedangkan kombinasi perlakuan A dan B tidak berpengaruh nyata. Faktor A yang menghasilkan kadar C organik total tertinggi adalah A3 dengan nilai tengah sebesar 15.9 %. Hasil uji Tukey menunjukkan bahwa A3 berbeda dengan perlakuan yang lain. Faktor B yang menghasilkan kadar C organik total tertinggi adalah B4 dengan nilai tengah sebesar 17.7 %. Hasil uji Tukey menunjukkan bahwa B4 berbeda dengan perlakuan yang lain.
★✩
Semakin tinggi konsentrasi dekomposer maka semakin banyak mikroba yang ditambahkan. Proses dekomposisi green waste menjadi lebih sempurna. Semakin tinggi konsentrasi limbah susu bubuk, maka semakin banyak juga komponen organik yang ditambahkan. Susu merupakan sumber komponen organik yang bersumber dari karbohidrat (laktosa), lemak, maupun protein.
4.4.2 Kadar N Total.
Nilai tengah kadar N total dari keseluruhan data 1.421% sedangkan standar Nitrogen kompos (SNI: 19:7030-2004) minimum adalah 0.4 %. Faktor A yang menghasilkan kadar N total tertinggi adalah A3 dengan dengan nilai tengah sebesar 1.9 %. Hasil uji lanjutan Tukey menunjukkan bahwa A3 berbeda dengan perlakuan yang lain. Faktor B yang menghasilkan kadar N total tertinggi adalah B4 dengan nilai tengah sebesar 1.9 %. Hasil uji lanjutan Tukey menunjukkan bahwa B4 berbeda dengan perlakuan yang lain. Kombinasi perlakuan A dan B berpengaruh nyata dan yang menghasilkan kadar N total tertinggi yaitu A3B3 dengan nilai tengah sebesar 3.0%.
Dalam proses dekomposisi limbah susu bubuk, komponen karbohidrat sebagian terurai menjadi CO2, protein terurai menjadi senyawa mengandung N yang lebih sederhana, serta terjadi pelepasan mineral. Sludge ipal mengandung mikroba yang memang sudah terkondisi untuk mendekomposisi limbah yang megandung susu. Dengan demikian dengan semakin bertambahnya konsentrasi sludge ipal yang ditambahkan maka proses dekomposisi protein semakin sempurna. Senyawa protein ini terdeteksi sebagai N total kompos. Semakin besar jumlah limbah susu bubuk (sumber N) yang ditambahkan maka semakin besar juga kandungan N total kompos yang dihasilkan.
4.4.3 Kadar P2O5.
Nilai tengah kadar P2O5 dari keseluruhan data 0.4183 % sedangkan standar kadar P2O5 (SNI: 19:7030-2004) minimum adalah sebesar 0.1 %. Faktor B berpengaruh nyata terhadap kadar P2O5 (mg/100 gr) kompos yang dihasilkan, sedangkan faktor A dan kombinasi A dan B tidak berpengaruh nyata. Faktor B yang menghasilkan kadar P2O5(mg/100 gr) tertinggi yaitu B4 dengan nilai tengah sebesar 0.8 mg/100 gr. Uji lanjutan Tukey menunjukkan bahwa B4 berbeda dengan perlakuan yang lain. Limbah susu merupakan limbah yang kaya dengan unsur P (Prasad et al. (2004)). Semakin tinggi konsentrasi fortifikasi maka akan menyebabkan semakin tinggi pula kadar P2O5kompos yang dihasilkan.
4.4.4 Kadar K2O.
Nilai tengah kadar K2O dari keseluruhan data 0.4383 % sedangkan standar kadar K2O (SNI: 19:7030-2004) minimum adalah sebesar 0.2 %. Faktor A dan faktor B masing-masing berpengaruh nyata terhadap kadar K2O, sedangkan kombinasi faktor A dan B tidak berpengaruh nyata. Faktor A yang menghasilkan kadar K2O tertinggi adalah A3 dengan nilai tengah sebesar 0.5 mg/100 gr. Uji lanjutan Tukey menunjukkan bahwa A3 berbeda dengan perlakuan yang lain. Faktor B yang menghasilkan kadar K2O tertinggi adalah B4 dengan nilai tengah sebesar 0.7 mg/100 gr. Uji lanjutan Tukey menunjukkan bahwa B4 berbeda dengan perlakuan yang lain.
✪6
Hasil selengkapnya uji Anova dan Uji lanjutan (Tukey) pengaruh konsentrasi sludge ipal dan dosis fortifikasi limbah susu bubuk terhadap kualitas kompos disajikan pada Lampiran 7.
4.4.5 Analisa Cemaran Mikroba Pathogen Dan Logam Berat
Analisa terhadap cemaran mikroba pathogen hanya dilakukan terhadap sampel A3B4 yaitu sampel dengan perlakuan konsentrasi slude ipal tertinggi (20%) dan dosis fortifikasi tertinggi (30%) dengan asumsi sampel tersebut yang paling mungkin terkontaminasi mikroba pathogen. Sesuai dengan Baku Mutu dari Permentan No 70/Permentan/SR.140/10/2011 maka mikroba pathogen yang dianalisa adalahEscherichia colidanSalmonella sp.
Tabel 13 Hasil pengamatan terhadap mikroba pathogen pada sampel kompos dengan dosis konsentrasi sludge ipal terbesar (A3=20%) dan dosis fortifikasi limbah susu bubuk terbesar (B4=30%)
No Kode
Sampel
- Parameter Mikroba Kontaminan
---Satuan
Escherichia coli Salmonellasp Baku Mutu Hasil Analisis Sampel Baku Mutu Hasil Analisis Sampel 1 A3B4R1 < 102 36 < 10 2 < 30 MPN/g 2 A3B4R2 < 102 < 30 < 10 2 92 MPN/g 3 A3B4R3 < 102 < 30 < 10 2 < 30 MPN/g
Baku Mutu sesuai Permentan No 70/Permentan/SR.140/10/2011
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kandungan Escherichia coli dan
Salmonella sp masih memenuhi persyaratan baku mutu. Miller (2003) menyatakan pada proses pengomposan juga terjadi pengurangan bakteri pathogen dan parasit. Hal ini dimungkinkan karena adanya kenaikan suhu setidaknya 131oF selama 3 hari pada kondisi ‘aerated pile’ atau 131 oF selama 2 minggu pada zona panas pada kondisi windrow pile yang di balik sebanyak 5 kali.
Hasil pengukuran kadar logam berat dan cemaran lainnya menunjukkan bahwa kompos yang diberi perlakuan sludge ipal sebagai dekomposer dan difortifikasi dengan limbah susu bubuk disajikan pada Tabel 14. Dari data tersebut disimpulkan bahwa kompos tersebut masih memenuhi baku mutu sesuai SNI:19:7030-2004.
✫✬
Tabel 14 Hasil analisis logam berat pada sampel kompos dengan perlakuan konsentrasi sludge ipal dan dosis fortifikasi susu bubuk
No Sampel Senyawa
Rata-rata hasil pengukuran
Standar Mutu Satuan
1 Semua sampel Pb td maksimum 150,0 ppm 2 Cd 1,3 maksimum 3,0 ppm 3 As 0,3 maksimum 13,0 ppm 4 Hg td maksimum 0,8 ppm 5 La 0 - ppm 6 Ce 0 maksimum 2,0 ppm 7 Bahan ikutan lainnya 0 - %
Keterangan : td = tidak terdeteksi ; standar mutu sesuai dengan SNI : 19:7030-2004
4.5 Pengujian Kompos Dengan Sayur Pakchoy dengan Indikator Pertumbuhan Tanaman
Indikator pertumbuhan tanaman yang diamati adalah lebar daun, tinggi tanaman, panen kotor dan panen bersih. Hasil analisis sidik ragam disajikan pada Tabel 15.
a. Konsentrasi sludge ipal (faktor A) tidak berpengaruh nyata pada lebar daun, tinggi tanaman, panen kotor dan panen bersih sayur pakchoy.
b. Dosis fortifikasi limbah susu bubuk (faktor B) berpengaruh nyata terhadap lebar daun dan panen kotor sayur pakchoy.
c. Kombinasi perlakuan A dan B tidak berpengaruh nyata terhadap lebar daun, tinggi tanaman, panen kotor dan panen bersih.
Faktor B yang menghasilkan lebar daun yang terbesar yaitu B4 (30 %) dengan mean 11.8 cm, sedangkan faktor B yang menghasilkan panen kotor terbesar adalah B4 (30%) dengan nilai tengah sebesar 18.40 kg/m2. Uji lanjutan Tukey menunjukkan bahwa B4 berbeda dengan perlakuan lainnya baik untuk lebar daun maupun untuk panen kotor.
Terlihat bahwa perlakuan dosis fortifikasi limbah susu bubuk lebih dominan dalam menghasilkan daun sayur pakchoi yang lebih lebar. Perkembangan daun tanaman sangat dipengaruhi oleh kandungan N dari tanah. Dengan fortifilasi limbah susu bubuk, protein susu terdekomposisi menjadi komponen N yang lebih sederhana yang diserap sebagai sumber N bagi sayuran.
✭8
Tabel 15 Pengaruh konsentrasi sludge ipal dan dosis fortifikasi limbah susu bubuk terhadap pertumbuhan dan hasil panen sayur Pakchoy
Keterangan : tn = Tidak nyata pada taraf uji 5%, ** = Berpengaruh sangat nyata pada taraf uji 1%, * = Berpengaruh sangat nyata pada taraf uji 5%.
Panen kotor adalah sayur pakchoi yang sudah buang akarnya tetapi daunnya belum disortasi antara yang bisa dimanfaatkan dengan yang jelek (tua, berlubang, dan lain-lain). Faktor B berpengaruh nyata terhadap lebar daun sayur pakchoi. Yang menghasilkan panen kotor terbesar adalah B4 dengan mean 18,4 kg/m2. Dari hasil pengolahan data diatas terlihat hubungan antara lebar daun dan hasil panen sayur pakchoi. Dengan perlakuan fortifikasi kompos akan dihasilkan sayur dengan daun yang lebih lebar. Dengan demikian bobot hasil panennya juga meningkat.
Panen bersih adalah sayur pakchoi yang dibuang akarnya dan daun yang jelek (daun tua dan berlubang). Merupakan sayur pakchoi yang siap jual/siap konsumsi. Faktor B berpengaruh hampir nyata terhadap panen bersih (p value 0.057; α = 0.05) sayur pakchoi. Yang menghasilkan panen kotor terbesar adalah B4 dengan mean 14.7 kg/m2. Kondisi ini kemungkinan besar disebabkan karena proses
pengukuran-✮✯
pengukuran yang dilakukan menyebabkan banyak daun sayur pakchoi yang rusak (patah/sobek)
Limbah padat organik susu bubuk merupakan limbah yang kaya akan nutrisi terutama nitrogen. Menurut standart SNI (2006) kadar N susu bubuk untuk kategori susu kurang lemak minimal 23% (% b/b). Pada waktu pengomposan, protein susu akan terdekomposisi menjadi senyawa yang lebih sederhana yang akhirnya diserap oleh tanaman. Efek yang teramati adalah daun pakchoi yang lebih lebar yang pada akhirnya panen yang lebih tinggi.
Hasil analisis Anova dan uji lanjutan (Tukey) pengaruh konsentrasi sludge ipal dan dosis fortifikasi kompos terhadap pertumbuhan sayur pakchoi disajikan pada Lampiran 8.
4.6 Pengaruh Berbagai Perlakuan Kompos Terhadap C-organik, N, P dan K Tanah Setelah Panen Sayur Pakchoi
Unsur hara primer merupakan unsur hara yang menjadi faktor pembatas pertumbuhan tanaman. Hasil analisis pengaruh konsentrasi sludge ipal dan dosis fortifikasi limbah susu bubuk terhadap unsur hara primer tanah disajikan pada Tabel 16.
Analisis sample tanah dari bedeng yang telah ditanami sayur pakchoi setelah panen, menunjukkan bahwa :
a. Faktor A (konsentrasi sludge ipal) berpengaruh nyata terhadap kadar C organik total, N total, dan P2O5tanah setelah panen.
b. Faktor B (dosis fortifikasi limbah susu bubuk) berpengaruh nyata terhadap kadar N total, P2O5 dan K2O tanah setelah panen.
c. Interaksi faktor A dan faktor B berpengaruh nyata terhadap kadar N total dan K2O.
✰ ✱
Tabel 16 Pengaruh konsentrasi sludge ipal dan dosis fortifikasi limbah susu bubuk terhadap kandungan C-organik aktif, C organik total, N, P dan K tanah setelah panen sayur pakchoi.
Keterangan: tn = Tidak nyata pada taraf uji 5%, ** = Berpengaruh sangat nyata pada taraf uji 1%, * = Berpengaruh sangat nyata pada taraf uji 5%.
4.6.1 Kadar C Organik Total (%)– Walkley and Black
Faktor A berpengaruh nyata terhadap kadar C organik total tanah setelah panen sayur pakchoi. Faktor A yang menghasilkan C organik tanah terbesar adalah A3 dengan nilai tengah sebesar 1.9 %, sedangkan kadar C organik total tanah awal sebesar 1.83 %. Uji lanjutan Tukey menunjukkan A3 berbeda dengan perlakuan yang lain. Sludge ipal mengandung mikroba dekomposer. Seiring dengan meningkatnya kadar sludge ipal yang ditambahkan diduga proses dekomposisi komponen organik kompos dan proses dekomposisi lanjutan di tanah selama periode penanaman sayur pakchoi semakin baik yang berakibat meningkatnya kandungan C organik tanah setelah panen.
✲✳
4.6.2 Kadar C Organik Aktif (mg/kg)
C organik aktif adalah bagian dari C organik tanah berbentuk fraksi yang bersifat labil. Pengukuran kadar C organik aktif tanah setelah panen sayur pakchoi menujukkan bahwa perlakuan A, perlakuan B dan kombinasi perlakuan A*B tidak memberikan pengaruh yang nyata. Namun demikian uji perbandingan dua kelompok data (two sample T-Test) pada kadar C-aktif tanah awal dibandingkan dengan kadar C aktif tanah setelah panen pakchoi menunjukkan hasil berbeda sangat nyata (p value = 0.000). Nilai tengah kandungan C-aktif tanah awal 616 mg/kg dan nilai tengah kandungan C-aktif tanah setelah panen pakchoi sebesar 773.5 mg/kg. Dengan demikian ada peningkatan C organik aktif tanah sebesar 157.4 mg/kg. Dengan demikian telah terjadi peningkatan kesuburan tanah dalam jangka pendek yang berpengaruh terhadap kinerja tanah dalam pertanian sayuran.
Gambar 26 Boxplot perbandingan kadar C-aktif awal dan kadar C-aktif tanah akhir setelah panen sayur pakchoi.
4.6.3 Kadar N total (%) - Kjeldahl
Faktor A, Faktor B dan Kombinasi A*B berpengaruh nyata terhadap kandungan N total tanah setelah panen sayur pakchoi. Faktor A1 dan A3 menghasilkan kadar N total tanah terbesar dengan nilai tengah sebesar 0.2%. Faktor B2, B4 dan B1 menghasilkan kadar N total tanah terbesar dengan nilai tengah sebesar 0.2 %. Kombinasi perlakuan A*B yang menghasilkan kadar N total tanah terbesar adalah : A1B4, A3B2, A1B1, A1B2, A3B1, A3B3, A2B4 dengan nilai tengah sebesar 0.2 %. Mengabaikan faktor B1 ( fortifikasi limbah susu bubuk 0 %) maka : Kombinasi perlakuan yang menghasilkan Kadar N total tanah terbesar adalah : A1B4, A3B2, A1B2, A3B3, A2B4.
Limbah susu bubuk merupakan limbah yang kaya dengan kadar N yang berasal dari kandungan protein susu. Kadar N total tanah awal = 0.13 % (Kjeldahl). Dengan demikian terjadi peningkatan kadar N total tanah.
C aktif akhir (mg/ Kg) C Aktif awal (mg/ kg) 900 800 700 600 500 400 300 200 D a t a
✴ ✵
4.6.4 C-N Rasio
Rasio Karbon Nitrogen (C/N). Hubungan C dan N menentukan nilai dari bahan atau paling tidak menentukan tindakan yang harus dilakukan agar penambahan bahan organik bermanfaat untuk perbaikan kondisi tanah. Pentingnya rasio C/N suatu bahan terkait dengan pengaruh bahan tersebut bagi ketersediaan N bagi tanaman dan laju tingkat dekomposisi bahan di dalam tanah. Rasio C/N rendah berarti bahan mengandung banyak N dan mudah terdekomposisi, sehingga cepat memasok N bagi tanaman. Sebaliknya bahan-bahan dengan rasio C/N tinggi akan sulit terdekomposisi dan dapat menyebabkan kekahatan N pada tanaman. Jika hanya sedikit N yang terkandung dalam residu tanaman maka jasad renik akan menggunakan N-inorganik di dalam tanah untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan demikian ia berebut N dengan tanaman dan mengurangi jumlah N yang tersedia bagi pertumbuhan tanaman (Munawar, 2011)
4.6.5 Kadar P2O5(HCl 25%) mg/100 gr
Faktor A dan faktor B berpengaruh nyata terhadap kadar P2O5 tanah setelah panen sayur pakchoi. Namun kombinasi perlakuan A*B tidak mengahsilkan pengaruh yang nyata. Faktor A yang menghasilkan kadar P2O5 terbesar adalah A3 dengan nilai tengah sebesar 26.2 mg/100 gr. Faktor B yang menghasilkan kadar P2O5terbesar adalah B4 dengan nilai tengah sebesar 26.7 mg/100 gr. Uji lanjutan Tukey menunjukkan bahwa A3 dan B4 berbeda dengan perlakuan yang lainnya. Kadar P2O5 (HCl 25%) tanah awal = 53 mg/100gr. Terjadi penurunan kadar P2O5 tanah setelah panen dikarenakan penyerapan oleh tanaman sayuran.
4.6.7 Kadar K2O (HCl 25%) mg/100 gr
Faktor A tidak berpengaruh nyata, faktor B dan kombinasi perlakuan A*B berpengaruh nyata. Faktor B yang menghasilkan kadar K2O tertinggi adalah B4
dengan nilai tengah sebesar 55 mg/100gr. Kombinasi perlakukan yang
menghasilkan kadar K2O tertinggi berturut-turut adalah A1B4 (nilai tengah sebesar 68,3 mg/100gr), A2B4, A3B3, A3B2, A3B4, dan A2B3. Kadar K2O (HCl 25%) tanah awal = 10 mg/100gr. Dengan demikian terjadi peningkatan kadar K2O tanah yang cukup besar setelah ditanam sayur pakchoi.