BAB IV PENYAJIAN DATA
B. Strategi Perum DAMRI Kantor Cabang Medan Dalam Usaha Meningkatkan Kualitas Pelayanan Bus Trans Mebidang
2. Lingkungan Eksternal Perum DAMRI Kantor Cabang Medan
Lingkungan eksternal merupakan variabel-variabel yang berasal dari luar organisasi yang berpengaruh terhadap aktivitas dalam suatu organisasi.Lingkunga eksternal terdiri dari peluang yang dapat dijaikan PERUM DAMRI sebagai suatu kesempatan untuk mencapai tujuan.Selain itu lingkungan eksternal juga tidak terlepas dari ancama-ancaman yang dapat mempengaruhi bahkan menghambat aktivitas organisasi.Makan diperlukan suatu solusi atau pemecah masalah untuk mengatasi ancaman tersebut sehingga tidak menghambat tujuan yang hendak dicapai oleh organisasi lingkungan eksteranal. Lingkungan eksternal sendiri terdiri dari: 1. Potensi
a. Sebagai Transportasi Alternatif Ramah Lingkungan
Dengan adanya keberadaan Bus Trans Mebidang tentunya diharapkan masyarakat akan beralih dari penggunaan kendaraan pribadi menjadi pengguna jasa Bus Trans Mebidang. Dengan berkurangnya penggunaan kendaraan pribadi tentu hal ini akan berdampak positif bagi pengurangan tingkat kemacetan di Kota Medan. Bukan hanya mengurangi tingkat kemacetan di Kota Medan dampak positif lainnya adalah dengan semakin berkurangnya jumlah pemakaian kendaraan pribadi tentu juga akan mengurangi polusi udara dari penggunaan pribadi yang cukup tinggi.
b. Membentuk jaringan pelayanan angkutan massal yang dapat mengurangi kemacetan.
Keberadaan bus Trans Mebidang tentunya membawa angin segarterhadap pelayanan angkutan massal di daerah Kota Medan, Binjai dan Deli Serdang. Saat ini Bus Trans Mebidang beroperasi pada dua koridor yaitu:
1) Koridor Medan-Binjai (Koridor I), sepanjang 23 km dan waktu tempuh 90 menit, dengan rute: Terminal Binjai – Jalan Soekano- Hatta – Jalan Gatot Subroto – Jalan Iskandar Muda – Jalan Gajah Mada – Jalan S. Parman – Jalan Raden Saleh – Jalan Balai Kota – Jalan Stasiun – Jalan M.T. Haryono – Jalan Sutomo – Pusat Pasar (Medan)
2) Koridor Medan-Deli Serdang (Koridor II), sepanjang 32 km dan waktu tempuh 100 menit, dengan rute: Pusat Pasar (Medan) - Jalan Sutomo – Jalan Perintis Kemerdekaan – Jalan Mohammad Yamin – Jalan Stasiun – Jalan M.T. Haryono – Jalan Cirebon – Jalan Sisingamangaraja – Jalan Medan – Terminal Lubuk Pakam.
Pada tahap selanjutnya, akan dikembangkan tujuh koridor lainnya yang nantinya keseluruhan koridor ini akan membentuk jaringan pelayanan angkutan massal yang dapat mengurangi kemacetan. Dengan keberadaan Bus Trans Mebidang tentunya diharapkan masyarakat akan beralih dari penggunaan kendaraan pribadi menjadi pengguna jasa Bus Trans Mebidang. dengan berkurangnya penggunaan kendaraan pribadi
tentu hal ini akan berdampak positif bagi pengurangan tingkat kemacetan di Kota Medan.
2. Ancaman
a. Persaingan denganangkutan umum lainnya
Keberadaan bus trans mebidang yang menawarkan kenyamanan, keamanan, waktu tempuh perjalanan yang lebih singkat dibandingkan angkutan umum lainnya dengan tarif yang terjangkau tentu membuat masyarakat mulai beralih untuk menggunakan jasa bus trans mebidang dibandingkan dengan angkutan umum lain. Hal ini tentu menyebabkan terjadinya penolakan terhadap keberadaan bus trans mebidang di kalangan angkutan umum lainnya seperti angkot. Hal ini berujung pada penolakan yang bersifat kriminal seperti pelemparan batu dan perusakan bus trans mebidang pada saat beroperasi.
Hal ini juga didukung oleh pernyataan dari saudara Jordan yang juga pernah mendapatkan informasi tentang masalah tersebut.Ia mengemukakan bahwa:
“Saya ada baca-baca juga masalah mengenai tapi tidak di darah ini juga sih mba, seperti kadang-kadang supir angkot juga merasa tersaingi dengan adanya mebidang ini.”
Gangguan atau hambatan seperti ini tentu sangat mengganggu pelayanan bus Trans Mebidang bagi masyarakat dan berakibat pada terganggunya kenyamanan dan keamanan pengemudi maupun pengguna
jasa bus trans mebidang. bila tidak ditangani dengan baik, maka hal ini akan menjadi ancaman bagi pengoperasian bus trans mebidang itu sendiri. b. Fasilitas Pendukung
Fasilitas pendukung turut memberikan peran yang signifikan bagi usaha peningkatan kualitas pelayanan bus trans mebidang yang dilakukan oleh Perum DAMRI Kantor Cabang Medan. Fasilitas pendukung yang memadai tentunya akan memaksimalkan pelayanan dan pengoperasian Bus Trans Mebidang sehingga dapat berjalan dengan efektif. Fasilitas pendukung ini meliputi ketersediaan halte sepanjang trayek bus trans mebidang. Pak Saring selaku staf bidang keuangan, SDM, dan umum mengemukakan bahwa:
“Pelayanan kita juga tergantung dari kesediaan instansi terkait, seperti Dishub.Dishub kabupaten sepeti Deliserdang, kotamadya Binjai, itu mengadakan sarananya yang kurang tepat seperti hakte, sementara sekarang banyak halte yang dibongkar-bongkar, sehingga saya rasa kita untuk pelayanannya sekarang belum bisa maksimal. Bus Trans Mebidang kedepannya seperti di Medan agak berat, kecuali seperti di Jakarta. Pemda menyediakan tempat, halte yang strategis di tengah jalan, jalan khusus.Kalau di Medan diadakan seperti itu juga pasti Bus Trans Mebidang ini dapat eksis juga.”
Pendapat yang senada juga dikemukakan oleh Ibu Srili sebagai penumpang Bus Trans Mebidang bahwa:
“Halte masih kurang, dari halte yang satu ke halte yang lainnya masih terlalu jauh jaraknya.Maunya haltenya diperbanyak, tempat kita menyetop bus.”
Berdasarkan pernyataan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa halte manjadi salah satu fasilitas yang cukup penting untuk menunjang kinerja bus Trans Mebidang. keberadaan halte yang masih minimum dan penempatan halte pada titik-titik yang kurang strategis berpengaruh pada ketertiban masyarakat dalam menggunakan jasa trans mebidang yaitu penumpang yang meminta untuk naik maupun turun tidak pada halte-halte yang telah disediakan melainkan pada lokasi-lokasi yang diinginkan.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Perum DAMRI Kantor Cabang Medan selalu memberikan saran dan masukan bagi Dinas Perhubungan yang memiliki wewenang dalam pengelolaan halte terkait titik-titik daerah yang padat masyarakat dan membutuhkan halte. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Bapak Saring lebih lanjut yaitu:
“Kita tidak bisa berusaha semaksimal mungkin karena halte itu kewenangannya milik Dinas Perhubungan terkait.Perum DAMRI sih ingin mengadakan halte pada titik-titik penumpang, tapi itu wewenang dari Dinas Perhubungan.Namun tetap kita berikan saran-saran terhadap Dinas Perhubungan terkait titik-titik penumpang, tapi dari mereka juga kan banyak kendala.”
Selain jumlah halte yang masih minimum dan penempatan halte yang kurang strategis, saudari Rosa sebagai penumpang dan pengguna jasa bus trans mebidang memberikan pendapat yang sedikit berbeda yaitu:
“Orang kan jadi malas menggunakan Bus ini karena satu, haltenya terlampau jauh-jauh jaraknya.Haltenya maunya ditambah jumlahnya, jadi tidak jauh-jauh sekali jaraknya. Jadi orang juga tidak malas menggunakannya”
Maka dapat penulis simpulkan bahwa penempatan halte, jumlah halte, dan perawatan halte membawa pengaruh yang cukup penting bagi usaha peningkatan kualitas pelayanan Bus Trans Mebidang.apabila hal-hal tersebut tidak dihadapi dengan baik maka bukan tidak mungkin hal-hal ini dapat menjadi ancaman dalam usaha meningkatkan kualitas pelayanan bus trans mebidang kelak.
C. Rute
Tidak jauh berbeda dengan pentingnya ketersediaan halte, rute juga menjadi salah satu faktor eksternal yang dapat menunjang kualitas pelayanan bus trans mebidang. Namun, di sisi lain apabila pengembangan rute tidak dilaksanakan tentunya akan berdampak pada stagnansi peroperasian Bus Trans Mebidang dan tidak terjadi pengembangan Bus Trans Mebidang itu sendiri. Sejauh ini, rute ataupun trayek Bus Trans Mebidang baru melayani dua koridor yaitu Medan-Binjai dan Medan-Deli Serdang.Pengembangan rute Bus Trans Mebidang itu sendiri diharapkan
saudara Ari sebagai penumpang Bus Trans Mebidang yang berstatus sebagai mahasiswa.seperti yang dikemukakannya bahwa:
“Untuk rutenya masih tertentu-tertentu aja, belum semua. Seperti saya kan kuliah di Polmed yang lokasinya berada di USU. Nah busnya ini rutenya belum mencapai USU. ”
Pengembangan rute atau trayek baru bus trans mebidang tentu membutuhkan dana yang cukup besar untuk pengadaan armada bus, fasilitas pendukung maupun biaya operasional bus itu sendiri. Namun, pengembangan rute baru tentunya juga akan membawa dampak yang positif bagi pengembangan Bus Trans Mebidang itu sendiri. Selain itu pengembangan rute-rute baru juga akan membentuk jaringan strategis yang dapat mengurangi tingkat kemacetan. Pengembangan rute yang tidak berjalan atau berjalan lamban tentu akan berdampak pada pengembangan pelayanan bus trans mebidang yang juga akan berjalan lamban. Dengan demikian, proses pencapaian sasaran maupun tujuan juga akan berjalan dengan lamban dan tentunya hal ini akan menjadi ancaman terhadap usaha peningkatan kualitas pelayanan Bus Trans Mebidang.
3) Strategi Perum DAMRI Kantor Cabang Medan dalam Usaha