BAB II KERANGKA DASAR TEORI
2.5 Lingkungan Kerja Nonfisik
yang meningkat. Perilaku atasan juga merupakan determinan utama kepuasan”.
diciptakan atasan akan menjadikan pegawai lebih betah untuk bekerja dan dapat menimbulkan semangat kerja bagi pegawai. Pada perusahaan, sikap pemimpin antara pegawainya saling menghormati agar dapat memajukan perusahaan.
Lingkungan kerja nonfisik sebagai sesuatu yang menyangkut segi psikis dari lingkungan kerja, ada beberapa unsur penting dalam pembentukan sikap dan perilaku karyawan dalam lingkungan kerja nonfisik yaitu pengawasan, suasana kerja, pemberian imbalan, perilaku dengan baik, rasa aman, hubungan dengan anggota lain dan perlakuan adil dan objektif.
Menurut Duane yang dikutip Mangkunegara (2011:105) bahwa “Lingkungan kerja nonfisik adalah semua aspek fisik psikologis kerja dan peraturan kerja yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan dan pencapaian produktivitas”, berikut merupakan lingkungan kerja nonfisik:
a) Waktu Jumlah Jam kerja
Dalam kebijakan kepegawaian Indonesia, standar jumlah jam kerja minimal 35 jam dalam seminggu. Sebaiknya, pegawai yang bekerja kurang dari 35 jam dalam seminggu, dikategorikan setengah pengangguran yang terlihat.
b) Waktu Istirahat Kerja
Waktu istirahat jam kerja perlu diberikan kepada pegawai agar mereka dapat memulihkan kembali rasa lelahnya. Dengan adanya waktu istirahat yang cukup, pegawai dapat bekerja lebih semangat dan bahkan dapat meningkatkan kinerja serta efisiensi.
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa lingkungan kerja nonfisik disebut sebagai lingkungan kerja psikis, yaitu keadaan di sekitar tampat kerja yang bersifat nonfisik. Lingkungan kerja yang seperti ini tidak dapat ditangkap langsung dengan panca indra manusia, namun dapat dirasakan keadaannya. Lingkunga kerja nonfisik ini dapat dirasakan melalui hubungan- hubungan sesama karyawan, bawahan dengan atasan, maupun atasan dengan bawahan.
2.5.1 Pengertian Kinerja
Menurut Mangkunegara (2015:67) mengemukakan bahwa “istilah kinerja berasal dari kata job performance atau Actual Perfomance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhya yang dicapai oleh seseorang), yaitu hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya”.
Menurut Widodo (2015:131) mengemukakan bahwa ‘Kinerja individu adalah bagian hasil dari kerja pegawai baik dari segi kualitas maupun kuantitas berdasarkan standar kerja yang telah ditentukan, sedangkan kinerja organisasi adalah gabungan dari kinerja individu dan kinerja kelompok”.
Menurut Mansyur (2013:50) Mengemukakan bahwa “agar kinerja karyawan mampu konsisten dan maksimal maka perusahaan harus memperhatikan lingkungan kerja karyawan yang dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya”.
2.5.2 Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja (performance appraisal) adalah suatu evaluasi terhadap tingkat kinerja seseorang dibandingkan dengan standar kinerja yang sudah ditentukan, guna bahan pertimbangan dalam menentukan promosi, kompensasi, perlunya pelatihan atau pengembangan, maupun untuk pemberhentian seseorang.
Penilaian kinerja ini mencangkup kegiatan untuk memonitor pelaksanaan pekerjaan karyawan apakah sudah sesuai dengan keinginan organisasi.
Menurut Suparno Eko Widodo (2015:135) mengemukakan bahwa “Penilaian kerja adalah salah satu tugas penting untuk dilakukan oleh seorang manajer atau pimpinan”. Walaupun demikian, pelaksanaan kinerja yang objek bukanlah tugas yang sederhana. Penilaian harus dihindarkan adanya “like and dislike”,dari penilai, agar objektivitas penilaian dapat terjaga. Kegiatan penilaian ini adalah penting, karena dapat digunakan untuk memperbaiki keputusan–keputusan personalia dan memberikan umpan balik kepada pegawai keputusan personalia dan memberikan umpan balik kepada pegawai tentang kinerja pegawai tersebut.
Menurut Mangkunegara (2015:69) mengemukakan bahwa ‘Penilaian prestasi pegawai adalah suatu proses penilaian prestasi kerja pegawai yang dilakukan pemipin perusahaan secara sistematik berdasarkan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya. Pemimpin perusahaan yang menilai prestasi pegawai, yaitu atasan pegawai langsung, dan atasan tak langsung. Di samping itu pula, kepada bagian personalia berhak pula memberikan penilaian prestasi terhadap semua pegawainya sesuai dengan data yang ada di bagian personalia”.
2.5.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Dalam pelaksanaan tentu saja terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja dari karyawan sebuah organisasi. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan. Menurut Mangkunegara (2015:67) mengemukakan bahwa “ada 2 fator yang mempengaruhi pencapaian kinerja, yaitu:
a) Faktor Kemampuan
Secara psikologis, kemampuan karyawan terdiri dari potensi intelegent quotient (IQ), serta kemampuan pengetahuan dan keterampilan. Artinya karyawan yang memiliki IQ di atas rata-rata (IQ 110-120) dengan pendidikan yang memadai untuk pekerjaan dan terampil dalam mengerjakan tugas, maka akan lebih muda dalam mencapai kinerja yang diharapkan. Oleh karena itu, karyawan perlu di tempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.
b) Faktor Motivasi
Motivasi terbentuk dari sikap (attitude) karyawan dalam mengahadapi situasi kerja. Artinya, karyawan harus memiliki sikap mental yang siap, mampu secara fisik, memahami tujuan utama dan target kerja yang akan dicapai, mampu memanfaatkan, dan menciptakan situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakan diri karyawan yang terarah untuk berusaha mencapai prestasi kerja dan dalam mencapai tujuan perusahaan.
Motivasi berprestasi adalah suatu dorongan dalam diri karyawan untuk melakukan suatu kegiatan atau tugas dengan sebaik-baiknya agar mampu mencapai kinerja”.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, Kinerja yang baik akan dipengaruhi oleh beberapa hal seperti tingkat kemampuan dan motivasi kerja yang baik. Kemampuan seseorang dipengaruhi pemahamannya atas jenis pekerjaan dan keterampilan melakukannya. Selain itu kontribusi motivasi kerja terhadap kinerja tidak dapat diabaikan, karena meski kemampuan pegawai baik tetapi motivasi kerjanya rendah, maka kinerjanya juga rendah.
2.5.4 Indikator Kinerja Karyawan
Kinerja Karyawan sangat signifikan berkontrubusi pada kinerja suatu perusahaan atau organisasi, oleh karena itu perlu dikelola dengan sedemikian rupa.
Untuk mengoptimalkan kinerja karyawan perlu diawali dengan perencanaan yang baik dan sedemikian rupa. Standar pekerjaan dapat ditemukan dari isi suatu pekerjaan. Untuk memudahkan penilaian kinerja karyawan, standar pekerjaan harus dapat diukur dan dipahami secara jelas. Menurut Bangun (2012:233) bahwa suatu pekerjaan dapat diukur melalui:
a) Kualitas pekerjaan, setiap karyawan dalam perusahaan harus memenuhi persyaratan tertentu untuk dapat menghasilkan pekerjaan sesuai kualitas yang dituntut suatu pekerjaan tertentu. Setiap pekerjaan mempunyai standar kualitas tertentu yang harus disesuaikan oleh karyawan untuk dapat mengerjakan sesuai ketentuan. Karyawan memiliki kinerja baik bila dapat mengahasilkan pekerjaan sesuai persyaratan kualitas yang dituntut pekerjaan tersebut.
b) Kuantitas, merupakan jumlah yang dihasilkan dinyatakan dalam istilah seperti jumlah unit, jumlah siklus aktivitas yang diselesaikan. Ketepatan waktu setiap pekerjaaan memiliki karakteristik yang berbeda untuk jenis pekerjaan tertentu harus diselesaikan tepat waktu, karena memiliki ketergantungan atas pekerjaan lainnya.
c) Kehadiran, suatu jenis pekerjaan tertentu menuntut kehadiran karyawan dalam mengerjakannya sesuai waktu yang ditentukan. Ada tipe pekerja yang menuntut kehadiran karyawan selama delapan jam sehari untuk lima hari kerja seminggu. Kinerja karyawan ditentukan oleh tingkat kehadiran karyawan dalam mengerjakannya.
d) Ketepatan waktu, setiap pekerja memiliki karakteristik yang berbeda, untuk jenis pekerjaan tertentu harus diselesaikan tepat waktu, karena memiliki ketergantungan atas pekerjaan lainnya.
e) Kemampuan kerjasama. Tidak semua pekerja dapat diselesaikan oleh satu karyawan saja, untuk jenis pekerjaan tertentu mungkin harus diselesaikan oleh dua orang karyawan atau lebih. Sehingga membutuhkan kerjasama antar karyawan sangat dibutuhkan. Kinerja karyawan dapat dinilai dari kemampuanya bekerjasama dengan rekan sekerja lainnya.
2.5.5 Hubungan Kepuasan Kerja dengan Kinerja
Kepuasan kerja sangat berpengaruh penting terhadap peningkatan kinerja karyawan dalam perusahaan. Menurut Gibson dalam Wibowo (2014:170) bahwa menggambarkan adanya hubungan timbal balik antara kinerja dan kepuasan kerja.
Di satu sisi dikatakan kepuasan kerja menyebabkan peningkatan kinerja sebagai
pekerja yang puas akan lebih produktif. Dapat di simpulkan bahwa kepuasan kerja adalah perasaan yang menyokong atau tidak menyokong dalam diri karyawan yang berhubungan pekerjaan dengan kondisinya. Apabila karyawan merasa puas atau dengan kata lain karyawan tersebut merasa nyaman dengan pekerjaan masing- masing, maka tidak diragukan lagi mereka akan bekerja dengan sepenuh hati dan akan menghasilakn output yang memuaskan pihak perusahaan.
Menurut Robbins (2012:99) berpendapat bahwa “seseorang dengan tingkat kepuasan yang tinggi memiliki perasaan-perasaan positif tentang pekerjaan tersebut, sementara seseorang yang tidak puas memiliki perasaan-perasaan yang negatif tentang pekerjaannya”.
2.5.6 Hubungan Lingkungan Kerja Nonfisik dengan Kinerja
Lingkungan kerja nonfisik disebut sebagai lingkungan kerja psikis, yaitu keadaan di sekitar tempat kerja yang bersifat non-fisik. Lingkungan kerja seperti ini dapat dapat ditangkap langsung dengan panca indra manusia, namun dapat dirasakan keadaannya. Lingkungan kerja non-fisik ini dapat dirasakan melalui hubungan-hubungan sesama karyawan, bawahan dengan atasan maupun atasan dan bawahan. Lingkungan kerja non-fisik yang berpengaruh dalam mencapai tujuan dari perusahaan. Hal ini dikarenakan, lingkungan kerja non-fisik merupakan komunikasi antara atasan dan bawahan. Atasan dalam hal ini bertugas membuat rencana atau planning untuk mencapai apa yang diharapkan oleh perusahaan. Jika keduanya tidak ada komunikasi maka tujuan dari perusahaan sulit untuk tercapai, karena tidak adanya kerjasama. Lingkungan kerja (kondisi kerja) terutama lingkungan kerja non-fisik merupakan salah satu aspek yang harus diperhatikan
oleh perusahaan karena hal ini akan berpengaruh pada produktivitas kerja, motivasi kerja, kepuasan kerja dan kinerja karyawan.
Untuk itu, perusahaan harus lebih detail dalam memperhatikan lingkungan kerja agar tujuan organisasi dapat tercapai sesuai dengan yang diinginkan perusahaan. Seperti yang diungkapkan Robbins dan Judge (2011:110) bahwa
“Lingkungan kerja non-fisik seorang karyawan sangat mempengaruhi tingkat kepuasan kerjanya, hal ini akan berakibat pada keseluruhan kinerja karyawan yang bersangkutan”. Dari pengertian tersebut kinerja karyawan dapat dipengaruhi lingkungannya, khususnya lingkungan kerja non-fisik yang menyebabkan karyawan dapat merasa semangat dan puas dalam melaksanakan tugas yang dibebankannya.