Bab III Analisa Lingkungan Eksternal
3.8. Lingkungan Teknologi
3.8.1. Perkembangan Teknologi Selular
Perkembangan industri telekomunikasi di Indonesia terjadi cukup pesat, hal tersebut ditandai oleh banyaknya penyedia layanan telekomunikasi nirkabel seperti XL Axiata, Telkomsel, Indosat dan Hutchinson yang menggunakan teknologi GSM serta Esia dan Smartfren yang menggunakan teknologi CDMA. Selain kedua teknologi tersebut, penyedia layanan komunikasi data nirkabel seperti Berca dan Lippo Group juga telah mengimplementasikan teknologi Wimax dan LTE.
Tantangan penyedia layanan komunikasi (operator) dalam penyebaran area jaringan adalah sulitnya pembangunan menara telekomunikasi baru, dengan beragam penyebab permasalahan seperti mahalnya lahan dan sulitnya perijinan, mengingat Pemerintah Daerah dewasa ini sangat ketat mengawasi pemberian ijin pendirian menara baru.
Hal ini kemudian mendorong berdirinya perusahaan penyedia jasa penyewaan menara komunikasi seperti Balitower bermunculan.
3.8.2. Perkembangan Teknologi BTS
B T S(Base Transceiver Station) adalah infrastruktur yang penting bagi layanan telekomunikasi, sejak 5 tahun yang lalu market infrastruktur nirkabel telah bergeser secara bertahap kearah teknologi 3G (W-CDMA/HSPA, CDMA2000 EVDO Rev. A). Dimana secara global kebutuhan pelanggan akan data terus meningkat sejalan dengan tumbuhnya beragam aplikasi dan dipicu oleh generasi baru Ponsel Pintar seperti Iphone, sehingga menciptakan peluang bisnis baru bagi seluruh pihak yang terlibat, seperti penyedia perangkat dan sistem, pengembang aplikasi dan operator telekomunikasi, dalam hal ini adalah penyedia menara selular.
Faktor kunci yang menjadi penggerak perkembangan teknologi BTS adalah sebagai berikut :
New Air Interface (LTE dan HSPA+)
New Spectrum (2600Mhz, Digital Spectrum-European dan Digital TV Transition, 900Mhz W-CDMA, 700Mhz di US and 2300Mhz di China)
New BTS Technology (Integrated Radio Antennas (IRA), Remote radio Units (RRU), Multi-Standard Radios (MSR)
New Millimeter wave Radio Technology (E-Band GB PTP Radios)
(1) New Air Interface
Evolusi air interface untuk teknologi nirkable dari 2G ke 4G digambarkan sebagai berikut:
Table 17 Evolusi Air interface nirkabel
LTE pada dasarnya masuk ke generasi pre-4G dimana LTE-Advance (LTE-A) secara official didesign oleh ITU sebagai teknologi 4G. LTE saat ini mampu untuk mentransfer data dengan kecepatan 100Mbps menggunakan lebar kanal sampai dengan 20 Mhz sementara teknologi LTE-A mampu mendukung kecepatan downlink sebesar 1Gbps menggunakan lebar kanal sampai dengan 100Mhz.
Sedangkan HSPA+ (High Speed Packet Access Evolved) meningkatkan kecepatan HSDPA dari peak data rates sebesar 14.4Mbps menjadi 21Mbps dengan cara menaikkan index modulasi diantara kanal 5Mhz.
(2) New Spectrum
Kesamaan dari teknologi seperti HSPA+, 2C-HSPA+, 4C-HSPA+, LTE and LTE-A yaitu kebutuhan kanal bandwidth yang besar. Hal ini kemudian membuat regulatory (pemerintah) menata frekwensi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Frekwensi 2600Mhz saat ini belum digunakan dan memiliki lebar pita 20MHz untuk kebutuhan operator telekomunikasi khususnya digunakan untuk layanan LTE. Alokasi frekwensi ini berbeda dengan yang digunakan oleh spektrum 3G yaitu pada 2100Mhz, sehingga menawarkan peluang lebih bagi industri untuk proses penggelaran jaringan, karena alokasi spektrum ini masih kosong.
Frekwensi major lainnya adalah Digital Divident Spectrum, beralokasi di Ultra high Frequency (UHF), spektrum ini digunakan oleh transisi analog ke digital televise, untuk industri broadcasting disleuruh dunia. Amerika adalah negara pertama yang menggunakan spektrum ini di kanal 698-728Mhz.
(3) New BTS Technology
BTS sejatinya tidak banyak perubahan dalam kurun waktu 20 tahun, namun saat ini industry telah mulai berpindah kearah pemanfaatan arsitektur terpisah sebuah unit based band (BBU) dan remote radio unit (RRU), yang sejatinya semua fungsi RF (radio frequency) BTS (transceiver, power amplifier dan duplexer filter) telah dihilangkan dari cabinet kedalam unit terpisah yang disebut remote radio. Fungsi digital, timing dan network dari
telah diganti dari kabel coaxial menjadi kabel fiber optic. Loss 2-3dB bawaan dari kabel coaxial selanjutnya telah di eliminasi. RRU saat ini di deploy pada puncak menara dekat dengan antenna RF, dan BBU berlokasi tetap didalam Shelter atau kabinet BTS pada dasar tower.
Evolusi dari arsitektur ini lebih jauh dengan mengintegrasikan RRU dengan antenna untuk membuat system smart antenna aktif yang disebut integrated radio antenna (IRA)
Table 18 Evolusi arsitektur BTS
Gbr. Evolusi Arsitektur BTS
(4) Multi Standard Radio Drives Software Business Model
Multi-standard radio menghadirkan migrasi dari model hardware centric pada industri BTS ke model yang lebih software centric. Dimana ketika setiap generasi BTS membutuhan sebuah hardware untuk setiap siklus upgrade, HSDPA pada dasarnya adalah sebuah upgrade perangkat lunak dari BTS W-CDMA. Sebagai tambahan, dengan memisahkan fungsi digital pada BTS didalam BBU, supplier perangkat BTS saat ini mampu membuat software BBU yang dapat diupgrade yang mampu mendukung teknologi multiple air interface sepert GSM/EDGE, W-CDMA/HSPA dan LTE didalam unit yang sama. Hal ini merupakan sebuah perubahan dari platform masa lalu yang memerlukan perangkat keras baru untuk upgrade. Akan tetapi, multi-standard BTS biasanya hanya untuk BBU kecuali frekwensi RF yang sama digunakan untuk teknologi multiple air interface seperti GSM900 dan W-CDMA900. Semua tekonologi lainnya yang memerlukan sebuah frekwensi RF yang berbeda untuk radio
interface akan tetap memerlukan RRU terpisah untuk masing-masing pita frekwensi (seperti GSM900/W-CDMA2000).
3.8.3. Peluang dan Ancaman Bisnis
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor eksternal tersebut, dapat ditemu kenali peluang dan ancaman bagi perusahaan, sebagai berikut:
Faktor-Faktor Peluang
Peluang bisnis yang timbul dengan adanya perubahan lingkungan teknologi, khususnya pada teknologi selular dan sistem pendukungBase Tranceiver Station, diperkirakan mampu menciptakan peluang bisnis bagi perusahaan untuk:
Menciptakan differensiasi layanan bagi pengguna jasa perusahaan,Balitower dapat memanfaatkan teknologi terbaru pada base station, untuk menambahkan value added pada produk dan layanan yang diberikan, guna menciptakan daya saing yang berkesinambungan.
Meningkatkan ratio kolokasi pada shelter,teknologi terbaru hanya memerlukan space yang lebih sedikit, sehingga shelter dapat digunakan oleh beberapa penyewa menara (operator telekomunikasi)
Memberikan biaya yang lebih kompetitif, penerapan teknologi baru akan menekan biaya operasional, seperti beban listrik, sehingga perusahaan bisa memberikan harga layanan yang kompetitif namun tetap memberikan selisih margin yang besar.
Faktor-Faktor Ancaman
Perkembangan teknologi, juga dapat menimbulkan ancaman antara lain:
Ancaman dari pesaing Teknologi base station yang ada dapat digunakan oleh semua pihak, sehingga differensiasi yang ada akan sangat mudah ditiru dan dimodifikasi untuk melawan daya saing Balitower.