• Tidak ada hasil yang ditemukan

RUMAH TANGGA

F. Lingkup Rumah Tangga Dalam UU No.23 Tahun

Pengetian rumah tangga tidak dicantumkan dalam ketentuan khusus,

namun yang dapat ditemukan adalah pengertian keluarga yang tercantum

dalam pasal 1 ke 30 undang-undang nomor 8 tahun 1981 tentang Kitab

Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang menyatakan sebagai berikut:

“Keluarga adalah mereka yang mempunyai hubungan darah sampai derajat tertentu atau hubungan perkawinan…”

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa rumah

tangga adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan urusan kehidupan dalam

rumah dan berkenaan dengan keluarga. Sedangkan keluarga adalah bapak dan

ibu beserta anak-anaknya dan merupakan satuan kekerabatan yang sangat

mendasar dalam masyarakat.

Mengenai lingkup rumah tangga dimuat dalam pasal 2 Undang-Undang

Nomor 23 Tahun 2004 dalam undang-undang ini meliputi :

1. Lingkup rumah tangga dalam undang-undang ini meliputi : a. Suami, istri dan anak;

b. Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud pada huruf a karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga; dan

c. Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut.

2. Orang yang bekerja sebagaimana dimaksud huruf c dipandang sebagai anggota keluarga dalam jangka waktu selama berada dalam rumah tangga yang bersangkutan.

Subjek dalam tindak kekerasan dalam rumah tangga merupakan pihak

yang subordinat yang berada dalam lingkup rumah tangga. Kekerasan dalam

rumah tangga merupakan perkara dengan multi dimensi penyelesaian,

mengingat di satu sisi perkara ini berkaitan dengan lingkup perdata dan di sisi

BAB. III

MARITAL RAPE SEBAGAI BENTUK KEKERASAN DALAM RUMAH

TANGGA

A. Bentuk-Bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Jenis tindak kekerasan yang dialami antara perempuan dan laki-laki

karena terikat dalam pertalian hubungan merupakan kekerasan domestic dan

kejahatan yang berdalih kehormatan yang muncul akibat diposisikannya

sebagai pihak yang menjadi tanggungan. Mengenai bentuk-bentuk kekerasan

dalam rumah tangga dalam pasal 5 UU No. 23 Tahun 2004 Tentang

Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga menyebutkan bahwa :

“Setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga

terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya, dengan cara : a. kekerasan fisik; b. kekerasan psikis; c. kekerasan seksual; atau d.

penelantaran rumah tangga.”

Berdasarkan pasal tersebut maka bentuk-bentuk kekerasan dalam rumah

tangga dikelompokkan menjadi berikut (Soeroso, 2012:80-82):

a. Kekerasan fisik, yaitu perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh

sakit atau luka berat (pasal 6 UU No 23 Tahun 2004). Bentuk kekerasan

fisik dapat diklasifikasikan dalam tiga tingkatan, yakni :

1) Kekerasan fisik berat, berupa penganiayaan berat seperti menendang,

memukul, menyundut, melakukan percobaan pembunuhan atau pembunuhan dan semua perbuatan lain yang dapat mengakibatkan (a) cedera berat; (b) tidak mampu menjalankan tugas sehari-hari; (c) pingsan; (d) luka berat pada tubuh korban dan atau luka yang sulit disembuhkan atau yang menimbulkan bahaya mati; (e) kehilangan salah satu panca indra; (f) mendapat cacat; (g) mencerita sakit lumpuh; (h) terganggunya daya pikir selama 4 minggu lebih (i) gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan, dan (j) kematian korban.

2) Kekerasan fisik ringan, berupa menampar, medorong, dan perbuatan lainnya yang mengakibatkan cedera ringan dan rasa sakit dan luka fisik yang tidak termasuk dalam kategori berat

3) Melakukan repitisi (pengulangan) kekerasan fisik ringan dapat

dimasukkan ke dalam jenis kekerasan berat.

Klasifikasi bentuk-bentuk kekerasan fisik dalam rumah tangga diatas

menggabungkan dua jenis kategori tindak pidana dalam KUHP, yakni

tindak pidana pembunuhan dan tindak pidana penganiayaan berat. Karena

tujuan atau niat pelaku dalam tindak pidana tersebut tidak semata-mata

untuk melukai tubuh atau menghilangkan nyawa korban tetapi lebih pada

kehendak pelaku untuk mengontrol korban agar tetap dalam posisi

subordinat (konteks kekerasan domestik).

b. Kekerasan psikis, yaitu perbuatan yang mengakibatkan ketakutan,

hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa

tidak berdaya, dan atau penderitaan psikis berat pada seseorang (pasal 7

UU No 23 Tahun 2004). Kekerasan psikis dapat diklasifikasikan dalam

dua tingkatan, yakni :

1) Kekerasan psikis berat, berupa tindakan pengendalian, manipulasi,

eksploitasi, kesewenangan, perendahan dan penghinaan dalam bentuk pelarangan, pemaksaan dan isolasi sosial, tindakan dan atau ucapan yang merendahkan atau menghina, penguntitan, kekerasan dan atau ancaman kekerasan fisik, seksual dan ekonomis yang masing- masingnya bisa mengakibatkan penderitaan psikis berat yang berupa salah satu atau beberapa : (a) gangguan tidur atau gangguan makan atau ketergantungan obat atau disfungsi seksual yang salah satu atau kesemuanya berat; (b) gangguan stress pasca trauma; (c) gangguan fungsi tubuh berat (seperti tiba-tiba lumpuh atau buta tanpa indikasi medis; (d) depresi berat atau destruksi diri; (e) gangguan jiwa dalam bentuk hilangnya kontak dengan realitas seperti skizofrenia dan atau bentuk psikotik lainnya, dan (f) bunuh diri.

2) Kekerasan psikis ringan, berupa tindakan pengendalian, manipulasi,

eksploitasi, kesewenangan, perendahan dan penghinaan dalam bentuk pelarangan, pemaksaan dan isolasi sosial, tindakan dan atau ucapan yang merendahkan atau menghina, penguntitan, ancaman kekerasan

fisik, seksual dan ekonomis yang masing-masing bisa mengakibatkan penderitaan psikis ringan berupa salah satu atau beberapa hal seperti : (a) ketakutan dan perasaan terteror; (b) rasa tidak berdaya, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak; (c) gangguan tidur atau gangguan makan atau gangguan disfungsi seksual; (d) gangguan fungsi tubuh ringan (misalnya, sakit kepala, gangguan pencernaan tanpa indikasi medis); (e) fobia atau depresi temporer.

c. Kekerasan seksual, yaitu pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan

terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga. Selain itu

berarti pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam

lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersil atau

tujuan tertentu (pasal 8 UU No.23 Tahun 2004). Termasuk kekerasan

seksual dalam rumah tangga adalah pemaksaan hubungan seksual dengan

pasangan ketika tidak ingin atau dengan cara yang tidak disukai, maupun

pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain. Dari segi tingkatannya

bentuk kekerasan seksual terbagi menjadi 3 yaitu meliputi:

1) Kekerasan seksual berat, berupa : (a) pelecehan seksual dengan

kontak fisik, seperti meraba, menyentuh organ seksual, mencium secara paksa, merangkul serta perbuatan lain yang menimbulkan rasa muak/jijik, terteror, terhina dan merasa dikendalikan; (b) pemaksaan hubungan seksual tanpa persetujuan korban atau pada saat korban tidak menghendaki; (c) pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak disukai, merendahkan dan atau menyakitkan; (d) pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan pelacuran dan atau tujuan tertentu; (e) terjadinya hubungan seksual dimana pelaku memanfaatkan posisi ketergantungan korban yang seharusnya dilindungi; (f) tindakan seksual dengan kekerasan fisik dengan atau tanpa bantuan alat yang menimbulkan sakit, luka atau cedera.

2) Kekerasan seksual ringan, berupa pelecehan seksual secara verbal

seperti komentar verbal, gurauan porno, siulan, ejekan dan julukan

dan atau secara non verbal seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh

ataupun perbuatan lainnya yang meminta perhatian seksual yang tidak dikehendaki korban bersifat melecehkan dan atau menghina korban.

3) Melakukan repitisi kekerasan seksual ringan dapat dimasukkan ke

Pemaksaan hubungan seksual tidak hanya dalam bentuk pemaksaan

fisik semata seperti harus adanya unsur penolakan secara verbal atau

tindakan melainkan pemaksaan juga bisa terjadi dalam tataran psikis

seperti dibawah tekanan sehingga tidak bisa melakukan penolakan dalam

bentuk apapun. Sehingga pembuktiannya tidak dibatasi hanya pada bukti-

bukti bersifat fisik melainkan bisa juga dibuktikan melalui kondisi psikis

yang dialami korban.

d. Kekerasan ekonomi atau yang dalam UU PKDRT disebutkan sebagai

penelantaran rumah tangga yaitu tidak melaksanakan kewajiban

memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang

tersebut, membuat orang menjadi tergantung secara ekonomi agar orang

tersebut dibawah kendali (pasal 9 UU No. 23 Tahun 2004). Bentuk

kekerasan ekonomi terbagi menjadi dua tingkatan yaitu,

1) Kekerasan ekonomi berat, yakni tindakan eksploitasi, manipulasi dan

pengendalian lewat sarana ekonomi berupa: (a) memaksa korban bekerja dengan cara eksploitatif termasuk pelacuran; (b) melarang korban bekerja tetapi menelantarkannya; (c) mengambil tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan korban, merampas dan atau memanipulasi harta benda korban.

2) Kekerasan ekonomi ringan, berupa melakukan upaya-upaya sengaja

yang menjadikan korban tergantung atau tidak berdaya secara ekonomi atau tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya.

Jadi esensi kekerasan ekonomi adalah tindakan-tindakan dimana

akses korban secara ekonomi dihalangi dengan cara korban tidak boleh

bekerja tetapi ditelantarkan, kekayaan korban dimanfaatkan tanpa seizin

korban, atau korban dieksploitasi untuk mendapatkan keuntungan materi.

Tindak kekerasan terhadap istri merupakan masalah sosial yang serius

yang kurang mendapatkan penanganan yang memadai. Karena dianggap

persoalan diranah domestik (privat) yang bersifat tertutup dan dirahasiakan

dari pandangan public (Saraswati, 2006:3). Membicarakan persoalan pribadi

dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai keabsahan baik dari segi tradisi,

budaya, sosial, dan ajaran agama. Oleh sebab itu istri lebih memilih bungkam

sehingga tindak kekerasan menjadi jarang terungkap.

B. Marital Rape Sebagai Bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Lembaga perkawinan yang merupakan wadah resmi dan halal dalam

menyalurkan hasrat seksual dan sebagai usaha untuk menyelamatkan dan

mengamankan alat-alat kelamin dari berbagai bentuk penyimpangan seksual

yang dapat merusak fungsi reproduksi telah dianggap sebagai legitimasi resmi

kekuasaan laki-laki atas perempuan secara jiwa maupun raga. Karena sifatnya

yang otonom, laki-laki merasa berhak melakukan apa saja termasuk memaksa

istri berhubungan seksual tanpa meminta persetujuan istri terlebih dahulu.

Marital rape adalah kosakata dalam bahasa Inggris, yaitu gabungan dari

kata marital yang berarti segala hal yang terkait perkawinan dan rape berarti

pemerkosaan. Jadi marital rape diartikan sebagai pemerkosaan yang terjadi

dalam sebuah ikatan perkawinan. Yang dimaksud pemerkosaan disini ialah

pemaksaan aktifitas seksual oleh salah satu pihak terhadap pihak lain, baik

suami terhadap istri atau sebaliknya. Dengan demikian marital rape

merupakan tindak kekerasan atau pemaksaan yang dilakukan suami terhadap

(Marlia,.2007:11-12). Meskipun kebanyakan korban adalah istri akan tetapi

tidak menutup kemungkinan seorang suami pun bisa menjadi korban tindakan

marital rape yang dilakukan istri.

Menurut Nurul Ilmi Idrus mendefinisikan marital rape sebagai hubungan

seksual yang disertai dengan paksaan, ancaman, pemaksaan selera sendiri dan

penggunaan obat terlarang atau minuman beralkohol (Idrus, 1999:24-25).

Sedangkan Farha Ciciek mengelompokkan marital rape ke dalam 3 bagian

antara lain (a) Pemaksaan hubungan seksual ketika pasangan tidak siap; (b)

Hubungan seksual yang diiringi penyiksaan; dan (c) Pemaksaan hubungan

seksual dengan cara yang tidak dikehendaki (Ciciek, 1999: 24).

Adapun bentuk-bentuk marital rape dapat berupa (Hannah, 2010.

http://www.rahima.or.id/ diakses pada 27 november 2016):

a. Pemaksaan hubungan seksual sesuai selera suami. Istri dipaksa

melakukan anal seks, oral seks dan bentuk hubungan-hubungan seksual lain yang tidak dikehendaki istri;

b. Pemaksaan hubungan seksual saat istri tertidur;

c. Pemaksaan hubungan seksual berkali-kali dalam satu waktu yang sama

sementara istri tidak menyanggupi;

d. Pemaksaan hubungan seksual oleh suami yang sedang mabuk atau

menggunakan obat perangsang untuk memperpanjang hubungan intim tanpa persetujuan bersama dan istri tidak menginginkannya;

e. Memaksa istri mengeluarkan suara rintihan untuk menambah gairah

seksual;

f. Pemaksaan hubungan seksual saat istri sedang haid/menstruasi;

g. Pemaksaan hubungan seksual dengan menggunakan kekerasan psikis

seperti mengeluarkan ancaman serta caci maki;

h. Melakukan kekerasan fisik atau hal-hal yang menyakiti fisik istri.

Dapat disimpulkan bahwa marital rape adalah perbuatan pemerkosaan

terhadap salah satu pihak baik suami terhadap istri maupun sebaliknya yang

terdapat unsur-unsur pemaksaan, ancaman, kekerasan yang berdampak buruk

seksual berarti memperlakukan pasangan secara tidak manusiawi dan

memandangnya tidak lebih sekedar objek pemenuhan nafsu seks (Samsudin,

Vol.7 No.2. Juli-Desember 2014:90-91).

C. Penyebab Atau Alasan Dilakukannya Marital rape

Pada dasarnya alasan-alasan yang melatarbelakangi dilakukannya marital

rape yang terlapor di Rifka Annisa Women‟s Crisis Center lebih banyak pada

pembacaan dan pemahaman yang keliru terhadap relasi suami istri yaitu

(Muyassarotussolichah, Vol.7 No.3, Mei 2008: 739) :

a. Suami menjadi pemilik istri. Menurut suami tubuh dan pikiran istri adalah

miliknya yang diserahkan pada saat pernikahan, sehingga tidak seharusnya istri menolak permintaan suami.

b. Adanya anggapan bahwa dengan mahar maka suami telah membeli

istrinya.

c. Istri adalah pelayan suami dalam segala hal, termasuk dalam hal

kebutuhan seksual.

d. Adanya pemahaman yang tekstual terhadap ajaran agama, seperti istri

akan dilaknat malaikat apabila menolak ajakan untuk berhubungan dengan suami. Ajaran ini sering dipahami oleh suami maupun istri sebagai pembenar hubungan antara keduanya, meskipun dengan kekerasan sekalipun.

e. Ketidakadilan gender yang menempatkan kaum laki-laki di atas

perempuan yang telah terkonstruksi secara kultural atau disebut dengan budaya patriarki.

Menurut Nurul Ilmi Idrus beberapa penyebab dilakukannya marital rape

oleh suami kepada istrinya dibedakan menjadi dua antara lain sebagai berikut

(Idrus, 1999: .25-28) ,

a. Penyebab langsung, terdiri dari :

1) Libido yang tidak berimbang. Dorongan seksual dimiliki oleh setiap

individu, akan tetapi dorongan ini berbeda-beda antara individu laki- laki dengan perempuan. Kulturnya laki-laki cenderung dapat mengekpresikan keinginannya dibandung perempuan. Berdasarkan hal tersebut seorang istri dalam keluarga cenderung pasif dalam merealisasikan libidonya. Kepasifan ini sebenarnya dapat dijembatani

oleh pelaku marital rape. Akibatnya banyak hubungan seksual

dilakukan tanpa kesepakatan alias terpaksa sehingga istri seringkali merasa sakit dan tersiksa. Namun apabila tidak dilakukan istri dianggap melakukan penolakan atau bahkan tidak mampu melayani suami.

2) Penolakan istri. Penolakan dapat dilakukan oleh istri karena cara

suami memperlakukan istri dalam hubungan seksual, seperti hubungan seksual yang disertai dengan kekerasan, sehingga istri enggan melakukannya, istri sedang tidak bergairah pada saat akan melakukan hubungan intim. Penolakan ini diartikan sebagai pembangkangan oleh pihak suami karena adanya keyakinan bahwa istri berkewajiban melayani suami sehingga suami berhak untuk memaksa.

3) Suami mabuk setelah minum-minuman keras. Kecenderungan orang

yang mabuk akan berperilaku tidak terkontrol.

b. Penyebab tidak langsung, terdiri dari:

1) Kurangnya komunikasi. Salah satu kunci kebahagiaan suami istri

adalah apabila keduanya saling terbuka. Namun tradisi membicarakan seks dalam rumah tangga dianggap tabu menjadikan suami enggan membicarakan secara terbuka, disamping itu adanya kultur yang menganggap perempuan hanya berkewajiban untuk melayani suami. Hal ini menyebabkan istri merasa malu untuk mengambil inisiatif dalam hubungan seksual, meskipun istri sedang menginginkannya, sehingga istri menerimanya sebagai objek seks semata.

2) Suami diketahui selingkuh. Perselingkuhan suami dengan wanita lain

secara tidak langsung menjadi salah satu penyebab terjadinya kekerasan seksual dalam perkawinan. Istri cenderung menolak hubungan seksual setelah mengetahui suaminya berselingkuh karena terbayang suaminya melakukannya dengan wanita lain. Atau suami cenderung meminta cara hubungan seksual yang bervariasi yang tidak bisa dilakukan oleh istri.

3) Ketergantungan dan kesulitan ekonomi. Istri secara ekonomi tidak

mandiri tapi tergantung pada suami. Hal ini menyebabkan istri tidak

memiliki bargaining position dalam hubungan seksual, meskipun

sedang tidak menghendakinya. Istri akan semakin terpojok posisinya apabila menolak diajak berhubungan intim ketika suami mengancam tidak akan memberikan kebutuhan ekonomi, sehingga istri akan merasa tidak berhak atau bahkan takut untuk menolak ajakan suaminya. Mengenai ketergantungan ini tidak hanya istri pada suami, namun dapat juga terjadi pada suami yang tidak bekerja sehingga bergantung secara ekonomis pada istri. Suami yang secara budaya dipersepsikan sebagai pemilik otoritas yang lebih tinggi dari istri, merasa kurang berharga dimata istri karena tidak mampu melaksanakan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Kekurangan yang ada pada suami seringkali ditutupi dengan

perwujudan dalam bentuk kekerasan baik secara fisik maupun psikis termasuk didalamnya kekerasan seksual.

4) Kawin paksa. Kawin paksa ini seringkali mengakibatkan proses

komunikasi antara suami istri menjadi sulit, sehingga persoalan- persoalan dalam rumah tangga jarang dibicarakan secara terbuka, termasuk dalam persoalan seksualitas.

Berbeda dengan yang dipaparkan diatas, Patricia Mahoney memeparkan

bahwa penyebab dari marital rape secara garis besar sebagaimana dikutip

oleh Milda Marlia (2007: 23) antara lain:

1) Reinforce power, dominance and control. Pemaksaan hubungan seksual

tidak selalu disebabkan oleh motif hasrat seksual semata, namun seringkali dilakukan untuk menunjukkan kekuasaan, dominasi dan kendali terhadap pihak yang subordinat.

2) Ekspresi kemarahan. Pemaksaan hubungan seksual dilakukan sebagai

bentuk kemarahan ketika istri tidak memenuhi permintaan (perintah) suami.

3) Stereotype atau pelabelan tentang bagaimana seorang istri atau

perempuan bersikap. Misalnya, melayani suami dalam hubungan seksual adalah kewajiban istri, perempuan dianggap menikmati hubungan seksual yang dipaksakan, perempuan berkata tidak padahal hatinya mengiyakan dan sebagainya.

D. Dampak Marital rape

Dampak marital rape tidak hanya terjadi dalam jangka temporer (short

term effect) melainkan berkelanjutan (long term effect). Dampak dari marital

rape dapat dikelompokkan menjadi dua macam antara lain (Marlia. 2007: 24-

25) :

a. Dampak Medis

Marital rape dapat menimbulkan lecet pada vagina istri atau luka

fisik lain yang menyakitkan. Ini terjadi ketika hubungan tersebut

berlangsung dalam waktu yang lama dan suami dalam pengaruh minuman

keras atau obat atau akibat perlakuan kasar suami ketika berhubungan

persalinan, bayi akan lahir premature dan bahkan keguguran. Pada

pemaksaan selera oleh pihak suami dalam hubungan seksual juga dapat

menyebabkan luka pada dubur istri (bila hubungan itu dilakukan secara

anal), muntah-muntah, penyakit kelamin yang menular, bahkan AIDS.

b. Dampak Psikis

Marital rape bisa menimbulkan kekecewaan yang berkepanjangan

atau ketakutan dan trauma dalam berhubungan seks. Dampak psikis yang

ditimbulkan dalam jangka pendek biasanya dialami sesaat atau beberapa

hari setelah kejadian. Korban biasanya marah, jengkel, merasa bersalah,

malu dan terhina. Gangguan emosional ini ditandai dengan dengan gejala

sulit tidur (insomnia) dan berkurangnya selera makan (lost apetite).

Adapun dampak psikis jangka panjang yang dialami korban marital rape

adalah timbulnya sikap atau persepsi negative terhadap suami dan seks

karena trauma yang ia tanggung.

Lebih jauh lagi menurut Elli Nur Hayati karena marital rape terjadi

berulang dan berkelanjutan maka istri atau korban biasanya akan

dihinggapi karakter antara lain (a) rendah diri dan tidak pede; (b) selalu

menyalahkan diri sendiri karena merasa dirinya membuat suaminya

“kalap”; (c) mengalami gangguan reproduksi (misalnya intertifilitas dan

gangguan siklus haid) lantaran ia merasa tertekan (stress) (Hayati,

2000:47-49).

Dari riset psikologi menemukan bahwa suami yang suka memukul

terjadi karena suami ingin menegakkan ’kelaki-lakiannya’ atau

maskulinitasnya (Sadli, 2002:151). Namun istri yang diperkosa suami

banyak yang menyalahkan dirinya sendiri (self blame) sebagai penyebab

suami melakukan perkosaan terhadap dirinya. Sehingga marital rape

BAB. IV

ANALISIS TINJAUAN HUKUM MARITAL RAPE

A. Marital Rape Dalam Perspektif UU Perkawinan

Segala hal yang bertentangan dengan perkawinan sudah dapat dipastikan

bertentangan pula dengan aturan hukum yang mengatur perihal perkawinan.

Dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, marital rape

bertentangan dengan ketentuan dalam Bab IV yang mengatur mengenai hak

dan kewajiban suami istri. Seperti dalam pasal 31 ayat (1) menyebutkan,

(1) Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup Bersama dalam masyarakat.

Dalam pasal ini secara tegas menyatakan bahwa kedudukan antara

keduanya baik suami maupun istri adalah seimbang. Marital rape berarti

menempatkan istri sebagai objek seksual sehingga hal itu tidak mencerminkan

kesetaraan kedudukan antara suami dan istri. Kemudian dalam pasal 33

menyebutkan,

“Suami istri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain.”

Dalam pasal tersebut ditentukan bahwa suami istri wajib saling hormat

menghormati, sehingga tidak dapat diartikan istri wajib patuh dan taat atas

segala kemauan suaminya. Jadi dapat diartikan bahwa sebagai seorang suami

maupun istri harus saling menghormati dan tidak boleh memaksakan apa yang

Selain itu dalam dalam pasal 77 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam (KHI)

menyatakan :

(1) Suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah yang menjadi sendi dasar susunan masyarakat.

Secara umum, dalam pernikahan demi membina rumah tangga yang

bahagia didasarkan pada beberapa prinsip dasar yang mulia, diantaranya :

1. Pernikahan dalam rangka membangun ketaatan kepada Allah, sehingga

seks dimaknai dengan ibadah;

2. Pernikahan adalah untuk mewujudkan ketentraman (sakinah), rasa cinta

(mawaddah), dan kasih sayang (rahmah) dan seks disini menjadi

kebahagiaan bersama yang manusiawi;

3. Pernikahan sebagai sarana menciptakan kehidupan yang bersih dari

perilaku memperturutkan nafsu syahwat belaka, sehingga seks disini mempunyai makna membangun kualitas komunikasi.

Dapat dilihat bahwa marital rape tidak sesuai dengan prinsip pernikahan

yang disebutkan diatas. Karena dalam kehidupan rumah tangga tidak hanya

suami yang membutuhkan hubungan seksual, istri pun tidak bisa membunuh

naluri dasariah tersebut. Reproduksi bertujuan untuk memperoleh kehidupan

sakinah, mawaddah dan rahmah, memenuhi kebutuhan biologis, menjaga

kehormatan dan bentuk ibadah (Nasution, 2004: 35-50).

Kekerasan seksual yang didefinisikan sebagai perkosaan dalam

perkawinan terjadi lebih sebagai ekspresi dominasi suami. Kekerasan seksual

masih sering disembunyikan dan terdeteksi hanya bila terjadi bersamaan

dengan kekerasan fisik (Djanah, 2002: 28). Kekerasan seksual secara spesifik

masih kurang mendapat perhatian. Tindak kekerasan seksual dalam

perkawinan, berkaitan erat dengan pemahaman masyarakat terhadap kitab

suci. Konstruksi sosial dan pandangan umum masyarakat semakin

Dokumen terkait