BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 Kualitas Aksesibilitas Ruang Terbuka Publik
5.3.1 Linkage Visual
Ruang terbuka di Perumahan Cemara Asri terletak di tengah perumahan. Ruang terbuka ini dapat dikatakan sebagai sumbu atau pusat perumahan. Untuk melihat ruang terbuka dapat melalui setiap persimpangan jalan primer sehingga
ruang terbuka ini dapat dengan mudah ditemukan baik dari luar maupun dalam perumahan.
Gambar 5.46. Linkage visual Perumahan Cemara Asri
RTP Vihara
Chandra Kusuma School
Vegetasi yang ditanam teratur menimbulkan linkage visual berupa koridor dengan irama yang teratur
Pada Perumahan Tasbi 1 ruang terbuka publik terletak agak lebih ke timur. Namun karena bentuk dan sirkulasi perumahan yang tidak bergrid ruang terbuka menjadi agak sulit ditemukan. Kekurangan ini dapat teratasi dengan adanya fasilitas pendukung di sekitar ruang terbuka, yaitu kolam renang, swalayan, foodcourt, dan lapangan golf.
Gambar 5.47. Linkage visual Perumahan Tasbi 1 (Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Tidak seperti kedua perumahan lainnya yang ruang terbukanya terletak di tengah perumahan, ruang terbuka di Perumahan Citra Wisata terletak di depan perumahan. Bila kita masuk ke perumahan ini kita akan langsung mendapatkan ruang terbuka. Linkage visual sangat baik dari depan perumahan, namun bila dari dalam perumahan ruang terbuka ini hanya bisa diidentifikasi dari dua persimpangan. Barisan pohon cemara di depan ruang terbuka yang seirama menimbulkan kesan visual koridor.
Gambar 5.48. Linkage visual Perumahan Citra Wisata (Sumber: dokumen pribadi, 2014)
5.3.2. Linkage Struktural
Ruang terbuka publik di Perumahan Cemara Asri terletak di tengah perumahan. Ruang terbuka ini dapat diakses dari segala arah jalan di perumahan ini. Fasilitas pendukung seperti kolam renang dan vihara terletak bersebalahan dengan ruang terbuka publik.
Ruang terbuka dapat mudah dicapai dari depan perumahan. Chandra Kusuma School terletak sesudah ruang terbuka publik sehingga kita harus melewati ruang terbuka ini untuk menuju sekolah tersebut. Ruan terbuka ini dapat dikatakan sebagai pusat kegiatan di perumahan ini.
Gambar 5.49. Linkage struktural Perumahan Cemara Asri (Sumber: dokumen pribadi, 2014)
RTP Vihara Chandra Kusuma School Kolam Renang
Pada Perumahan Tasbi 1 ruang terbuka publik terletak agak lebih ke timur. Di sekitar ruang terbuka ini terdapat fasilitas pendukung seperti kolam renang, swalayan, foodcourt, dan lapangan golf. Apabila kita akan menuju ke tempat- tempat tersebut maka kita akan melewati ruang terbuka ini.
Gambar 5.50. Linkage struktural Perumahan Tasbi 1 Kolam Renang Swalayan dan Foodcourt Lapangan Golf Area Komersial
Di Perumahan Citra Wisata tidak terlalu banyak fasilitas pendukung. Fasilitas pendukung di perumahan ini adalah kolam renang, mini market, dan area komersial. Ruang terbuka terletak di sebelah kolam renang dan area komersial terletak di depan ruang terbuka. Kegiatan sosial di perumahan ini berpusat di daerah depan perumahan.
Gambar 5.51. Linkage struktural Perumahan Citra Wisata (Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Kolam Renang
Area Komersial
5.4. Persepsi Masyarakat
Untuk mengetahui bagaimana persepsi masyarakat terhadap aksesibilitas ruang terbuka publik di perumahan-perumahan terencana ini maka disebar kuisioner kepada 50 responden pada masing-masing perumahan.
5.4.1. Jarak Tempuh
Jarak tempuh semerupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kemudahan aksesibilitas. Bila jarak tempuh dekat maka tempat tersebut mudah dicapai, dan bila jarak tempuh jauh maka tempat tersebut sulit dicapai.
Pada Perumahan Cemara Asri banyak pengunjung yang menempuh jarak cukup jauh. Dari 50 orang responden sebanyak 42% pengunjung menempuh jarak lebih dari 1 km dan 34% pengunjung menempuh jarak dengan radius 500-1000 m. hanya 16% yang menempuh jarak 300-500m dan 8% menempuh jarak yang paling dekat yaitu 100-300 m.
Gambar 5.52. Diagram jarak yang ditempuh
100-300 meter 8% 300-500 meter 16% 500-1000 meter 34% > 1000 meter 42%
Pada Perumahan Tasbi 1 proporsi terbesar responden terdapat pada jarak tempuh 300-500 m (42%). Untuk jarak 500-1000 m ditempuh oleh 28% responden. Pada jarak lebih dari 1 km yang merupakan jarak terjauh ditempuh oleh 18 responden, dan untuk jarak terdekat yaitu 100-300 m merupakan jarak yang paling sedikit ditempuh oleh responden (12%).
Gambar 5.53. Diagram jarak yang ditempuh (Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Jarak yang ditempuh responden di taman Perumahan Citra Wisata memiliki persentase yang sama pada jarak lebih dari 1 km dan jarak 500-1000 m (34%). Untuk jarak 300-500 m ditempuh oleh 24% responden, sedangkan pada jarak pendek 100-300 m ditempuh oleh 8% responden.
100-300 meter 12% 300-500 meter 42% 500-1000 meter 28% > 1000 meter 18%
Gambar 5.54. Diagram jarak yang ditempuh (Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Dari ketiga diagram di atas dapat disimpulkan pengunjung ruang terbuka publik paling banyak menempuh jarak yang jauh yaitu lebih dari 1 km. Responden paling sedikit menempuh jarak 100-300 m pada ketiga perumahan tersebut. Pada studi kasus ini jarak tidak mempengaruhi seseorang untuk mengunjungi ruang terbuka publik.
5.4.2. Waktu Tempuh
Selain jarak, waktu tempuh merupakan variabel yang berhubungan dengan aksesibilitas. Semakin cepat waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tempat berarti tempat tersebut mudah dicapai, dan sebaliknya. Semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tempat berarti tempat tersebut sulit dicapai.
Pada Perumahan Cemara Asri terdapat persentase yang sama dalam waktu tempuh, yaitu pada waktu 11-15 menit dan 6-10 menit (34%). Terdapat 20%
100-300 meter 8% 300-500 meter 24% 500-1000 meter 34% > 1000 meter 34%
yang paling cepat antara 1-5 menit ditempuh oleh 12% responden. Ruang terbuka di Cemara Asri banyak dikunjungi oleh masyarakat yang tinggal di luar perumahan.
Gambar 5.55. Diagram waktu tempuh (Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Pada Perumahan Tasbi 1 responden paling banyak menempuh perjalanan menuju ruang terbuka publik dengan waktu 11-15 menit (40%). Terdapat 28% responden yang menempuh perjalanan selama 6-10 menit. Untuk waktu tempuh terlama ditempuh oleh 20% responden. Hanya 12% responden yang datang dengan waktu tempuh 1-5 menit.
Gambar 5.56. Diagram waktu tempuh (Sumber: dokumen pribadi, 2014)
1-5 menit 12% 6-10 menit 34% 11-15 menit 34% > 15 menit 20%
Waktu Tempuh (Cemara Asri)
1-5 menit 12% 6-10 menit 28% 11-15 menit 40% > 15 menit 20%
Persentase responden mengenai waktu tempuh menuju ruang terbuka di Perumahan Citra Wisata sama dengan Perumahan Cemara Asri. Terdapat persentase yang sama dalam waktu tempuh, yaitu pada waktu 11-15 menit dan 6- 10 menit (34%). Terdapat 20% responden yang menempuh waktu terlama yaitu lebih dari 15 menit. Untuk waktu yang paling cepat antara 1-5 menit ditempuh oleh 12% responden.
Gambar 5.57. Diagram waktu tempuh (Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Berdasarkan hasil kuisioner dari ketiga perumahan tersebut masyarakat paling banyak menghabiskan waktu selama 11-15 menit untuk menuju ruang terbuka. Yang paling sedikit adalah waktu tempuh selama 1-15 menit. Berdasarkan hasil kuisioner mengenai jarak tempuh juga responden paling sedikit menempuh jarak yang paling dekat.
Untuk menuju ruang terbuka publik masyarakat dapat menggunakan kendaraan pribadi, kendaraan umum, maupun berjalan kaki. Pada perumahan
1-5 menit 12% 6-10 menit 34% 11-15 menit 34% > 15 menit 20%
mencapai ruang terbuka. Untuk yang menaiki kendaraan umum sebanyak 8%. Jarak dari gerbang perumahan menuju ruang terbuka tidak terlalu jauh. Masyarakat yang datang dengan berjalan kaki sebanyak 24%.
Gambar 5.58. Diagram moda transportasi yang digunakan (Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Sama seperti pada Perumahan Cemara Asri, pengunjung ruang terbuka di Tasbi 1 paling banyak menggunakan kendaraan pribadi (80%). Mereka mengatakan lebih efektif menggunakan kendaraan pribadi karena perumahan yang sangat luas sehingga jaraknya terlalu jauh untuk berjalan kaki. Bagi masyarakat yang tinggal berdekatan dengan ruang terbuka tersebut mereka berjalan kaki menuju ruang terbuka (16%). Hanya 4% responden yang menggunakan kendaraan umum. Berjalan Kaki 24% Kendaraan Pribadi 68% Kendaraan Umum 8%
Gambar 5.59. Diagram moda transportasi yang digunakan (Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Tidak jauh berbeda dengan perumahan lainnya, pengunjung ruang terbuka di Perumahan Citra Wisata juga memiliki persentase yang tinggi pada penggunaan kendaraan pribadi (65%). Untuk kendaraan umum hanya digunakan oleh 9% responden. Orang yang berjalan kaki ada sebanyak 26%.
Ada beberapa warga perumahan yang datang dengan menggunakan kendaraan pribadi, lalu mereka jogging di taman tersebut. Seharusnya mereka dapat mulai jogging dari rumah mereka sampai ke ruang terbuka tersebut tanpa menggunakan kendaraan pribadi.
Gambar 5.60. Diagram moda transportasi yang digunakan
Berjalan Kaki 16% Kendaraan Pribadi 80% Kendaraan Umum 4%
Moda Transportasi yang Digunakan (Tasbi 1)
Berjalan Kaki 26% Kendaraan Pribadi 65% Kendaraan Umum 9%
Dari hasil kuisioner mengenai penggunaan moda transportasi dapat disimpulkan bahwa mayoritas masyarakat menggunakan kendaraan pribadi untuk menuju ruang terbuka publik. Kendaraan pribadi merupakan pilihan favorit karena dianggap lebih efektif dan efisien sebagai moda aksesibilitas karena dapat menghemat waktu dan tenaga, serta lebih efisien untuk orang yang pergi dengan banyak orang.
5.4.3. Kemudahan Aksesibilitas
Suatu tempat dapat dikatakan aksesibel jika jaraknya dekat serta memerlukan waktu dan biaya yang sedikit untuk menuju tempat tersebut. Masyarakat menganggap ruang terbuka di Perumahan Cemara Asri mudah dicapai (84%). Ruang terbuka tersebut dapat dicapai dengan kendaraan dan tersedia signage. Hanya 16% yang mengatakan sulit dicapai dengan alasan jarak yang terlalu jauh.
Gambar 5.61. Diagram persepsi masyarakat mengenai aksesibilitas (Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Mudah Dicapai
84% Sulit Dicapai
16%
Pada ruang terbuka Perumahan Tasbi 1 masyarakat mayoritas mengatakan tempat tersebut mudah dicapai (92%). Ruang terbuka tersebut dapat dicapai dengan kendaraan dan lokasinya strategis. Ada juga yang mengatakan sulit dicapai, yaitu hanya 8%. Mereka mengatakan sirkulasi menuju ruang terbuka tersebut membingungkan.
Gambar 5.62. Diagram persepsi masyarakat mengenai aksesibilitas (Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Persepsi pengunjung mengenai aksesibilitas ruang terbuka di Perumahan Citra Wista tidak jauh berbeda dengan dua perumahan lainnya. Sebanyak 90% responden mengatakan tempat ini mudah dicapai. Ruang terbuka tersebut dapat dicapai dengan kendaraan dan ruang terbuka terletak di bagian depan perumahan. Hanya 10% responden yang menganggap tempat ini sullit dicapai. Jalan menuju perumahan ini sering mengalami kemacetan.
Mudah Dicapai 92% Sulit Dicapai
8%
Gambar 5.63. Diagram persepsi masyarakat mengenai aksesibilitas (Sumber: dokumen pribadi, 2014)
Masyarakat menganggap aksesibilitas ruang terbuka publik di ketiga perumahan tersebut mudah dicapai. Ruang terbuka tersebut dapat dicapai dengan kendaraan, lokasinya strategis, dan tersedia signage. Hanya rata-rata 17% yang mengatakan sulit dicapai karena jarak yang terlalu jauh, sirkulasi yang membingungkan, dan kemacetan.