• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lalu Lintas a. Arus Lalu Lintas

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI (Halaman 30-42)

Terdapat 3 tipe persimpangan sebidang seperti pada Gambar 2.15

2.2.6.3 Lalu Lintas a. Arus Lalu Lintas

Arus lalulintas merupakan jumlah kendaraan bermotor yang melewati suatutitik pada jalan persatuan waktu, dinyatakan dalam kend/jam (QKEND), smp/jam (Qsmp)atau LHRT (Lalulintas Harian Rata-rata Tahunan).

Arus lalulintas yang digunakan dalam analisis kapasitas simpang dipakai arus lalulintas yang paling padat per jam dari keseluruhan gerakan kendaraan.Arus kendaraan total adalah kendaraan per jam untuk masing-masing gerakandihitung dengan % kendaraan konversi yaitu mobil penumpang.

QSMP = QKEND x F SMP Dengan :

QSMP = arus total pada persimpangan (smp/jam) QKEN =arus pada masing-masing simpang (smp/jam) FSMP=faktor smp dimana

(LV% x empLV + HV% x empHV + MC% x empMC)/100

Tabel 2.3 emp Untuk Tipe Pendekat

Jenis Kendaraan Emp Untuk tipe Pendekat Terlindung Terlawan

Pendekat merupakan daerah lengan persimpangan jalan untuk kendaraanmengantri sebelum keluar melewati garis henti. Lebar pendekat diukur pada jarak 10m dari garis imajiner yang menghubungkan tipe perkerasan dari

jalan berpotongan, yang dianggap mewakili lebar pendekat efektif untuk masing-masing pendekat.

Tabel 2.4 Penentuan Jumlah Lajur

Lebar rata-rata pendekat minor dan mayor, WBD, WAC (m) Jumlah lajur WBD = (b/2 + d/2)/2 < 5,5

Tipe simpang menentukan jumlah lengan simpang dan jumlah lajur pada jalan utama dan jalan minor pada simpang tersebut dengan kode tiga angka. Jumlah lengan adalah jumlah lengan dengan lalu lintas masuk atau keluar atau keduanya.

Tabel 2.5 Tipe Simpang

Sumber: MKJI 1997

d. Kapasitas Dasar (Co)

Kapasitas dasar merupakan kapasitas persimpangan jalan total untuk suatu kondisi tertentu yang telah ditentukan sebelumnya (kondisi dasar). Kapasitas dasar (smp/jam) ditentukan oleh tipe simpang.

 

Tabel 2.6 Kapasitas Dasar

Tipe simpang (IT) Kapasitas dasar (smp/jam)

322 2700

e. Faktor penyesuaian lebar pendekat (Fw)

Faktor penyesuaian lebar pendekat (Fw) ini merupakan faktor penyesuaian untuk kapasitas dasar sehubungan dengan lebar masuk persimpangan jalan.

Tabel 2.7Penyesuaian Lebar Pendekat

Tipe simpang Faktor penyesuaian lebar pendekat (Fw)

422 0,7 + 0,0866 W1

f. Faktor penyesuaian median jalan utama (FM)

FM ini merupakan faktor penyesuaian untuk kapasitas dasar sehubungan dengan tipe median jalan utama. Tipe median jalan utama merupakan klasifikasi media jalan utama, tergantung pada kemungkinan menggunakan media tersebut untuk menyeberangi jalan utama dalam dua tahap.

Faktor ini hanya digunakan pada jalan utama dengan jumlah lajur 4 (empat).

 

Tabel 2.8 Faktor Penyesuaian Median Jalan Utama

Uraian Tipe median Fw

Tidak ada median jalan utama Tidak ada 1,00 Ada median jalan utama < 3 m Sempit 1,05 Ada median jalan utama ≥ 3m lebar 1,20

Sumber: MKJI 1997

g. Faktor penyesuaian ukuran kota (Fcs)

Faktor ini dipengaruhi oleh variabel besar kecilnya jumlah penduduk dalam juta.

Tabel 2.9 Faktor Penyesuaian Ukuran Kota

Ukuran kota (CS) Penduduk (juta) Faktor penyesuaian Ukuran kota

h. Faktor penyesuaian tipe lingkungan,kelas hambatan samping dan kendaraan tak bermotor (FRSU).

Faktor penyesuaian tipe lingkungan jalan, hambatan samping dan kendaraan tak bermotor (FRSU), dihitung menggunakan tabel dengan variabel masukkan adalah tipe lingkungan jalan (RE), kelas hambatan samping (SF) dan rasio kendaraan tak bermotor UM/MV.

 

Tabel 2.10 Rasio Kendaraan Tak Bermotor

Rasio Kendaraan tak bermotor (RUM) 0,00 0,05 0,03 0,15 0,20 > 0,25

i. Faktor penyesuaian belok kiri (FLT)

Formula yang digunakan dalam pencarian faktor penyesuaian belok kiri ini adalah FLT = 0,84 + 1,61 PLT.Selain itu, dapat juga digunakan grafik untuk menentukan faktor penyesuaian belok kiri, seperti pada Gambar 2.16.

 

Gambar 2.16 Rasio Belok Kiri Sumber: MKJI 1997

j. Faktor penyesuaian belok kanan (FRT)

Faktor penyesuaian belok kanan untuk simpang dengan empat lengan adalah FRT = 1,0 . Sedangkan untuk simpang denggan tiga lengan faktor penyesuaian belok kanan ditentukan dari Gambar 2.17. Untuk simpang 3 – lengan, variabel masukan adalah belok kanan, PRT dari formulir USIG-1, baris 22 kolom 11.

   

 

 

   

Gambar 2.17 Rasio Belok Kanan Sumber: MKJI 1997

k. Faktor Penyesuaian rasio arus minor (FMI)

Pada faktor ini yang banyak mempengaruhi adalah rasio arus pada jalan (PMI) dan tipe simpang (IT) pada persimpangan jalan tersebut.

   

 

 

   

Gambar 2.18 Rasio Arus Jalan Minor Sumber: MKJI 1997

Tabel 2.11Rasio Arus Jalan Minor

Sumber: MKJI 1997

3. Kapasitas (C)

Kapasitas persimpangan secara menyeluruh dapat diperoleh dengan rumus C = Co x Fw x FM x FCS x FRSU x FLT x FRT x FMI (smp/jam)

Dengan :

C = Kapasitas (smp/jam)  

 

 

 

   

Co = Kapasitas dasar (smp/jam) Fw = Faktor koreksi lebar masuk

FM = Faktor koreksi tipe median jalan utama FCS = Faktor koreksi ukuran kota

FRSU = Faktor penyesuaian kendaraan tak bermotor dan hambatan samping dan lingkungan jalan.

FLT = Faktor penyesuaian belok kiri FRT = Faktor penyesuaian belok kanan

FMI = Faktor penyesuaian rasio arus jalan simpang 4. Derajat Kejenuhan (DS)

Derajat kejenuhan merupakan rasio lalulintas terhadap kapasitas. Jika yang diukur adalah kejenuhan suatu simpang maka derajat kejenuhan disini merupakan perbandingan dari total arus lalulintas (smp/jam) terhadap besarnya kapasitas pada suatu persimpangan (smp/jam).

Derajat kejenuhan dapat dihitung dengan menggunakan rumus : DS = QTOT / C

Dengan :

DS = derajat kejenuhan C = kapasitas (smp/jam)

QTOT = jumlah arus total pada simpang (smp/jam)

5. Tundaan

Tundaan terbagi menjadi 5 jenis, yaitu :

a. Tundaan lalu lintas simpang (DT1) yaitu tundaan lalu lintas rata-rata untuk semua kendaraanbermotor yang masuk simpang. DT1 ditentukan dari kurva empiris antara DT1dan DS yang dapat dilihat pada Gambar 2.19.

 

Gambar 2.19 Tundaan Lalu Lintas Simpang Sumber: MKJI 1997

b. Tundaan lalu lintas jalan-utama (DTMA)yaitu tundaan lalu lintas rata-rata semua kendaraan bermotor yang masuk persimpangan dari jalan-utama. DTMA

ditentukan dari kurva empiris antara DTMA dan DS seperti dapat dilihat pada Gambar 2.20.

   

 

 

   

Gambar 2.20 Tundaan Lalu Lintas Jalan Utama Sumber: MKJI 1997

c. Tundaan lalu lintas jalan minor (DTMI)

Tundaan lalu lintas jalan minor rata-rata, ditentukan berdasarkan tundaan simpang rata-rata dan tundaan jalan utama rata-rata.

DTMI = ( QTOT × DTI - QMA × DTMA)/QMI Keterangan:

QTOT = Arus total (B smp/jam) DTI = Tundaan lalu lintas simpang QMA = Arus jalan utama

DTMA = Tundaan lalu lintas jalan utama QMI = Arus jalan minor

   

 

 

   

d. Tundaan geometrik simpang (DG)

Tundaan geometrik simpang adalah tundaan geometrik rata-rata seluruh kedaraan bermotor yang masuk simpang. Tundaan ini dapat dihitung dengan rumus :

Untuk DS < 1,0 :

DG = (1-DS) × (PT×6 + (1-PT ) ×3) + DS×4 (det/smp) Untuk DS > 1,0: DG = 4

Keterangan :

DS = Derajat kejenuhan.

PT = Rasio arus belok terhadap arus total.

6 = Tundaan geometrik normal untuk kendaraan belok yang tak-terganggu (det/smp).

4 = Tundaan geometrik normal untuk kendaraan yang terganggu (det/smp).

e. Tundaan simpang (D)

Tundaan simpang dapat dihitung dengan rumus : D = DG + DTI (det/smp)

Keterangan :

DG = Tundaan geometrik simpang.

DTI = Tundaan lalu lintas simpang.

6. Antrian

Peluang antrian ditentukan dari kurva peluang antrian/derajat kejenuhan secara empiris, sebagai berikut:

   

 

 

   

Gambar 2.21 Peluang Antrian Sumber: MKJI 1997

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI (Halaman 30-42)

Dokumen terkait