• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sol Liofob

Dalam dokumen Modul PKB Kimia Kelompok Kompetensi H (Halaman 120-124)

19 Tabel 1.2 Jenis-jenis koloid berdasarkan sistem dispersinya

2) Sol Liofob

Sol liofob adalah sol yang fase terdispersinya tidak senang dengan medium atau pelarutnya. Contohnya, dispersi emas, Fe(OH)3, dan belerang dalam air yang tidak melibatkan ikatan hidrogen. Perbedaan antara sol liofil dan sol liofob dapat Anda pelajari pada Tabel 1.3berikut:

Tabel 1.3 Perbedaan sifat Sol Liofil dan Sol Liofob

Sifat-Sifat Sol Liofil Sol Liofob

Pembuatan Dapat dibuat langsung

dengan mencampurkan fase terdispersi dengan medium terdispersinya

Tidak dapat dibuat hanya dengan mencampur fase terdispersi dan medium pendisperinya

Muatan partikel Mempunyai muatan yang kecil atau tidak bermuatan

Memiliki muatan positif atau negatif

Adsorpsi medium pendispersi

Partikel-partikel sol liofil mengadsorpsi medium pendispersinya. Terdapat proses solvasi/ hidrasi, yaitu terbentuknya lapisan medium pendispersi yang teradsorpsi di sekeliling partikel sehingga menyebabkan partikel sol liofil tidak saling bergabung

Partikel-partikel sol liofob tidak mengadsorpsi medium

pendispersinya. Muatan partikel diperoleh dari adsorpsi partikel- partikel ion yang bermuatan listrik

Viskositas (kekentalan)

Viskositas sol liofil > viskositas medium pendispersi

Viskositas sol hidrofob hampir sama dengan viskositas medium pendispersi

Penggumpalan Tidak mudah menggumpal

dengan penambahan elektrolit

Mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit karena mempunyai muatan.

Sifat reversibel Reversibel, artinya fase terdispersi sol liofil dapat

Irreversibel artinya sol liofob yang telah menggumpal tidak

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: KOLOID

KELOMPOK KOMPETENSI H

21

dipisahkan dengan koagulasi, kemudian dapat diubah kembali menjadi sol dengan penambahan medium pendispersinya.

dapat diubah menjadi sol

Efek Tyndall Memberikan efek Tyndall yang lemah

Memberikan efek Tyndall yang jelas

Migrasi dalam medan listrik

Dapat bermigrasi ke anode, katode, atau tidak bermigrasi sama sekali

Akan bergerak ke anode atau katode, tergantung jenis muatan partikel

b. Aerosol

Aerosol merupakan sistem koloid di mana partikel padat atau cair terdispersi dalam gas, contohnya, awan, kabut, debu, asap industri, asap rokok, dan jelaga dalam udara. Jika zat yang terdispersi berupa zat padat, disebut aerosol padat; jika zat yang terdispersi berupa zat cair, disebut aerosol cair. Dewasa ini banyak produk dibuat dalam bentuk aerosol, seperti penyemprot rambut (hair spray), obat nyamuk semprot, parfum, dan cat semprot.

Untuk membersihkan aerosol berupa asap industri dari partikulat beracun sebelum asap tersebut dibuang ke udara, digunakan alat yang disebut alat Cottrell (Cottrell precipitator) yang dikembangkan oleh kimiawan Amerika, Frederick Cottrell.

Gambar 1.8 Skema AlatCottrell diindustri (A); pengendap debu elektrik (electric

precipitator) yang dikembangkan menggunakan prinsip kerja alat Cottrell(Sumber:

www.kimia.upi.edu; www.courses.candelalearning.com)

Pada prinsipnya, alat Cottrell terdiri atas lempeng yang diberi muatan listrik bertegangan tinggi. Jika partikel debu atau asap bermuatan listrik masuk ke dalam alat Cottrell, partikel tersebut akan ditarik ke elektroda berlawanan muatan dan bertegangan tinggi sehingga muatan partikel akan dinetralkan dan terdeposit sebagai debu (Gambar 1.8). Untuk memahami lebih lanjut

PPPPTK IPA

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: KOLOID

KELOMPOK KOMPETENSI H

22

tentang prinsip dan cara kerja Alat Cottrell, dapat Anda pelajari pada tautan berikut (https://www.youtube.com/watch?v=ChL2d6PbX6M).

c. Emulsi

Emulsi merupakan sistem koloid zat cair yang terdispersi dalam zat cair (sistem koloid cair-cair). Pada umumnya salah satu zat cairnya adalah air, sedangkan zat yang lainnya adalah zat yang tidak bercampur dengan air. Jika kita mengocok air dan minyak dengan kuat maka salah satu zat cair tersebut akan terdispersi membentuk bulatan-bulatan kecil berukuran koloid yang disebut emulsi, tetapi ketika campuran ini didiamkan, maka kedua cairan ini akan saling memisahkan diri dan kembali pada fasanya semula. Kelarutan dari dua zat cair ini dapat ditingkatkan dengan cara menambahkan suatu zat lain yang disebut zat pengemulsi (emulgator), atau zat aktif permukaan (surfaktan). Zat yang umumnya digunakan sebagai emulgator adalah sabun, detergen, atau koloid hidrofil.

Contoh-contoh emulsi sebagai berikut:

1) Emulsi minyak-air yang distabilkan oleh sabun. Emulsi ini dapat rusak dengan penambahan asam kuat karena asam mengubah sabun menjadi asam lemak bebas yang tidak larut.

2) Susu merupakan emulsi lemak dalam air yang terlindungi oleh protein kasein.

3) Obat salep kulit mengandung zat aktif terlarut dalam minyak dan membentuk emulsi dengan air.

Adapun sifat-sifat emulsi adalah sebagai berikut:

1) Sering bermuatan negatif dan dapat diendapkan oleh zat elektrolit. 2) Menunjukkan efek Tyndall dan gerak Brown.

3) Emulsi dapat dirusak oleh pemanasan, pembekuan, pemutaran, penambahan elektrolit yang cukup banyak, atau kerusakan emulgatornya.

d. Gel

Gel merupakan sistem koloid zat cair yang terdispersi dalam medium padat. Gel biasanya berbentuk padat dengan struktur berongga sehingga mudah menyerap zat cair yang akan terperangkap dalam rongga-rongga tersebut.

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: KOLOID

KELOMPOK KOMPETENSI H

23

Berdasarkan sifat penyerapannya terhadap air, terdapat dua jenis, yaitu gel yang menyimpan air dan gel yang menarik air dari lingkungannya.

1. Gel yang menyimpan air, contohnya, agar-agar, jeli, dan gelatin. Gel jenis ini biasanya lunak dan elastis, merupakan dispersi dari zat padat berpori dengan zat cair, berbentuk lunak sampai semi kaku, bergantung pada perbandingan jumlah zat padat dan zat cairnya. Jenis gel seperti ini dapat terjadi jika sol liofil panas didinginkan sehingga viskositas sol akan bertambah, lalu lama-kelamaan akan memadat membentuk gel. Jika gel tersebut ditambahkan pelarut, lalu dipanaskan, maka akan terbentuk sol kembali.

2. Gel yang menarik air dari lingkungannya atau mengeringkan udara di sekitarnya. Contoh, silika gel yang sering terdapat dalam dus kamera, dus sepatu, atau dus obat-obatan. Medium pendispersi pada gel jenis ini berwujud padat, di mana ruang kosong (rongga) akan diisi oleh sejumlah air atau udara bergantung pada derajat hidrasinya (kemampuan menarik air).

e. Busa dan Busa Padat

Busa merupakan campuran dari gas yang terdispersi dalam medium zat cair. Jika fasa terdispersinya berupa zat padat, maka disebut busa padat (Gambar 1.9). Busa sangat banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, busa padat berupa busa poliuretan. Jenis busa ini banyak digunakan sebagai alas duduk karena adanya udara yang tersimpan dalam busa yang menyebabkan alas duduk ini menjadi dingin dan empuk Busa di mana gas terdispersi dalam zat cair disebut busa cair, misalnya busa yang terdapat pada softdrink, minuman pereda panas dalam, serta buih sabun.

Gambar 1.9 Busa padat yang digunakan untuk kasur dan kursi (A), busa cair pada buih sabun (B), serta busa cair dalam minuman berkarbonasi

PPPPTK IPA

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan - Kemdikbud

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: KOLOID

KELOMPOK KOMPETENSI H

24

Dalam dokumen Modul PKB Kimia Kelompok Kompetensi H (Halaman 120-124)

Dokumen terkait