BAB I PENDAHULUAN
G. Literasi Asesmen
Penilaian merupakan salah satu kegiatan yang harus dilakukan guru dan siswa dari serangkaian kegiatan belajar-mengajar yang mereka lakukan.
Sebagai pihak yang bertanggung jawab atas keberhasilan kegiatan
pembelajaran, guru dituntut mampu mempersiapkan dan melakukan penilaian. Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengumpulkan data tentang pencapaian siswa dan untuk secara efektif memanfaatkan proses penilaian dan hasil untuk meningkatkan prestasi siswa disebut dengan literasi asesmen (Chappuis et al., 2012).
Berkaitan dengan literasi asesmen, Lian, at al (2014) mengatakan bahwa literasi asesmen merupakan pengetahuan dan keterampilan dalam penilaian pendidikan yang dibutuhkan oleh guru dalam menilai hasil belajar.
Setelah melakukan penilaian, guru akan mengetahui sejauh mana keberhasilan pembelajaran di kelas.
Menurut Stiggins (2005) literasi asesmen merupakan kemampuan untuk mengumpulkan informasi yang reliabel, kualitas tentang prestasi siswa dan kemampuan menggunakan informasi secara efektif untuk memaksimalkan prestasi siswa. Dilain pihak yaitu Volante & Fazio (Suciati:
2015) mendefinisikan asesmen sebagai suatu pemahaman terhadap prinsip-prinsip asesmen.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa literasi asesmen adalah kemampuan menggunakan pengetahuan dan keterampilan tentang asesmen untuk mengidentifikasi permasalahan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti hasil penilaian dalam rangka memahami serta membuat keputusan berdasarkan hasil asesmen. Dalam jurnal
“Important of Teacher Assessment” (2014) menjelaskan bahwa literasi penting bagi guru karena membantu guru memahami, menganalisis dan
menggunakan data prestasi siswa untuk meningkatkan pengajaran. Selain itu, dengan memiliki dan menguasai literasi asesmen seorang guru dapat menafsirkan data penilaian, berkomunikasi dengan siswa mengenai status pemahaman belajar mereka dan menggunakan informasi penilaian untuk mengatur waktu yang digunakan untuk mencapai tujuan belajar.
H. Syarat-Syarat Instrumen Asesmen yang Baik
Asesmen pendidikan akan membawa makna yang berarti dalam menyediakan informasi yang dapat tepat dan akurat bagi pengambilan kebijakan, apabila instrumen yang digunakan memenuhi kriteria sebagai instrumen yang baik dan benar; diadministrasikan secara baik dan diolah secara objektif berdasarkan kriteria yang tepat dan seharusnya (Yusuf, 2015).
Instrumen yang baik hendaklah memenuhi beberapa syarat sebagai berikut : 1. Valid
Suatu instrumen dikatakan valid atau mempunyai validitas yang tinggi apabila alat itu betul-betul mampu mengukur dan menilai apa yang ingin diukur dan dinilai. Oleh karena itu validitas suatu instrumen merujuk kepada ketepatan suatu instrumen menilai apa yang akan dinilai.
2. Reliabel
Suatu instrumen yang baik hendaknya valid dan reliabel.
Reliabilitas suatu instrumen menunjukkan kepada ketepatan, konsistensi, atau stabilisasi instrumen atau suatu pengukuran yang dilakukan.
3. Objektif
Objektif suatu instrumen atau alat ukur menunjukkan kepada kesamaan skor atau diagnosis kualitas yang sama. Dengan kata lain penskor hendaklah menilai/ menskor apa adanya, tanpa dipengaruhi oleh subjektivitas penskor atau faktor-faktor lainnya diluar data yang tersedia.
4. Praktis dan Mudah Dilaksanakan
Suatu pengukuran atau instrumen dikatakan praktis apabila biaya alat ukur itu mudah dan murah. Mudah dapat diartikan dalam konteks pengadministrasian, penskoran, penginterpretasian. Alat yang disusun mudah diadministrasikan, mudah diskor dan mudah diinterpretasikan.
Mudah diadministrasikan berarti para pelaksana instrumen dapat melaksanakan instrumen itu dengan baik dan para peserta ujian dengan mudah dapat memahaminya. Adapun murah merujuk pada biaya atau beban pelaksanaan dan peserta ujian tersebut.
5. Norma
Dalam hal ini, norma dapat diartikan sebagai patokan, kriteria atau ukuran yang digunakan untuk menentukan standar minimal batas kelulusan peserta ujian.
I. Kurikulum LPTK sebagai Organisasi yang Mempersiapkan Calon Guru Berdasarkan Permendiknas No. 9 Tahun 2010 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) merupakan perguruan tinggi yang diberi tugas oleh Pemerintah untuk menyelenggarakan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan
dasar dan pendidikan menengah. Dengan kata lain, LPTK merupakan lembaga satu-satunya yang bertanggung jawab mempersiapkan dan menghasilkan tenaga pendidik.
Menurut Chotimah (2009: 2) bentuk pendidikan dari LPTK yaitu berupa Sekolah Tinggi (STKIP), Institut (IKIP) atau FKIP (di bawah universitas). Adapun penyelenggaraan pendidikannya bersifat pendidikan akademik maupun profesional. Dalam hal ini LPTK menjadi wadah penting dalam mengembangkan keahlian dalam bidang akademik dan profesional sehingga pada akhirnya akan membentuk serta menyiapkan tenaga pendidik yang profesional.
J. Kurikulum LPTK, Pendidikan Ekonomi
Berdasarkan kurikulum 2012, terdapat 5 jenis mata Program Studi Pendidikan Ekonomi yaitu:
1. Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK)
Kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran untuk mengembangkan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, berkepribadian mantap dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Berikut ini merupakan mata kuliah yang termasuk pada jenis Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) yaitu : 1) Pendidikan Agama, 2) Pendidikan Pancasila, 3) Kewarganegaraan, 4) Teologi
Moral/ Fisafat Moral, 5) Filsafat Ilmu Pengetahuan, 6) Pendampingan belajar masyarakat.
2. Mata Kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK)
Kelompok Mata Kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK) adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang ditujukan terutama untuk memberikan landasan penguasaan ilmu dan keterampilan tertentu. Berikut ini merupakan mata kuliah yang termasuk pada jenis Mata Kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK) yaitu : 1) Pengantar Ilmu Ekonomi Makro, 2) Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro, 3) Pengantar Bisnis, 4)Pengantar Manajemen, 5) Pendidikan Kewirausahaan, 6) Manajemen Sumber Daya Manusia, 7) Matematika Ekonomi, 8) Praktik Matematika Ekonomi, 9) Statistika I, 10) Statistika I, 11) Praktika Statistika II, 12) Akuntasi Keuangan Dasar I, 13) Praktik AKD I, 14) Akuntansi Keuangan Dasar II, 15) Praktik AKD II, 16) Sistem Komputerisasi Akuntansi I, 17) Sistem Komputerisasi Akuntansi II, 18) Praktik Akuntansi Usaha Jasa &
Dagang, 19) Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK), 20) Pengolahan Data Elekronik I (Statistika), 21) Metodologi Penelitian, 22) Seminar Penelitian, 23) Tugas Akhir/ Skripsi, 24) Ekonomi Indonesia, 25) Ekonomi Internasional, 26) Ekonomi Koperasi, 27) Ekonomi Kreatif, 28) Ekonomi Lingk. & Sumber Daya Alam, 29) Ekonomi Moneter dan Perbankan, 30) Ekonomi Pembangunan, 31) Ekonomi Publik, 32) Ekonomi Regional, 33) Ekonomi Sumber Daya
Manusia, 34) Teori Ekonomi Makro, 35) Teori Ekonomi Mikro, 36) Sejarah Pemikiran Ekonomi, 37) Sistem Perekonomian Indonesia, 38) Manajemen Pemasaran, 39) Pengolahan Data Elektronik II, 40) Praktik Akuntansi Koperasi, 41) Penelitian Pendidikan, 42)Etika Bisnis, 43) Komunikasi Bisnis, 44) Pengantar Sosiologi, 45) Antropologi, 46) Geografi sosial, 47) Akuntansi Perbankan, 48) Penganggaran, 49) Akuntansi Perpajakan, 50) Akuntansi Sektor Publik.
3. Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB)
Kelompok Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB) adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang bertujuan menghasilkan tenaga ahli dengan kekaryaan berdasarkan dasar ilmu dan keterampilan yang dikuasai.Berikut ini merupakan mata kuliah yang termasuk pada jenis mata kuliah keahlian berkarya (MKB) yaitu : 1) Strategi Pembelajaran, 2) Media Pembelajaran, 3) Evaluasi Pembelajaran, 4) Perencanaan Pembelajaran, 5) Kurikulum dan Kajian Buku Teks, 6) Pengelolaan Kelas, 7) Pemgajaran Mikro, 8) Program Pengalaman Lapangan, 9) Seminar Pendidikan.
4. Mata Kuliah Berkarya (MPB)
Kelompok Mata Kuliah Perilaku Berkarya (MPB) adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang bertujuan untuk membentuk sikap dan perilaku yang diperlukan seseorang dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan dasar ilmu dan
keterampilan yang dikuasai. Berikut ini merupakan mata kuliah yang termasuk pada jenis Mata Kuliah Perilaku Berkarya (MPB) yaitu : 1) Pengantar Pendidikan, 2) Psikologi Remaja, Psikologi Belajar dan Pembelajaran, 4) Dasar-dasar Bimbingan & Konseling, 5) Manajemen sekolah.
5. Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB)
Kelompok mata kuliah berkehidupan bermasyarakat (MBB) adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang diperlukan seseorang untuk dapat memahami kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya. Berikut ini merupakan mata kuliah yang termasuk pada jenis Mata Kuliah Berkehidupan Bersama (MBB) yaitu : 1) Bahasa Inggris I, 2) Bahasa Inggris II, 3) Bahasa Inggris III, 4) Bahasa Indonesia, 5) Pendidikan Ilmu Sosial, 6) Inovasi Pendidikan, 7) Studi Masyarakat Indonesia.
Berdasarkan dari jenis mata kuliah, evaluasi pembelajaran tergolong dalam jenis mata kuliah keahlian berkarya dalam hal ini mahasiswa Pendidikan Ekonomi FKIP USD diharapkan mampu mengolah dirinya untuk selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam hal melakukan asesmen (penilaian) secara tepat dan koherensif serta dapat dengan baik mempersiapkan calon guru yang bertanggung jawab terhadap perkembangan kualitas pendidikan di Indonesia.
K. Prestasi Belajar Mahasiswa
Keberhasilan seseorang dalam kegiatan belajar akan nampak dalam prestasi belajar yang diraihnya. Prestasi belajar ialah hasil yang telah dicapai oleh seseorang sebagai akibat dari adanya kegiatan mahasiswa kaitannya dengan belajar. Menurut Winkel (1984: 36) prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.
Pada tingkat perguruan tinggi, prestasi belajar mahasiswa diukur dengan indeks prestasi (IP). Prestasi belajar merupakan tolak ukur untuk mengetahui keberhasilan mahasiswa dalam proses belajar pada jangka waktu tertentu dan dinyatakan dalam bentuk nilai (Pratiwi, 2017). Secara umum indeks prestasi yang digunakan adalah skala 4, dengan kata lain IP tertinggi adalah 4,00.
Menurut Ginting & Yuliawan (2012) Indeks Prestasi (IP) adalah nilai kredit rata-rata yang merupakan suatu nilai akhir yang menggambarkan mutu proses belajar mengajar tiap semester atau dapat diartikan juga sebagai besaran/jangka yang menyatakan prestasi (keberhasilan dalam proses belajar mengajar) mahasiswa pada suatu semester.
L. Penggolongan Prestasi Mahasiswa
Penilaian prestasi belajar akademik di perguruan tinggi dinyatakan dalam indeks prestasi (IP). Indeks prestasi merupakan bentuk prestasi yang diperoleh selama satu semester yang dinyatakan dalam bentuk angka. Hal ini dapat dilihat di kartu hasil studi (KHS) disetiap akhir semester. Berikut ini
merupakan penggolongan IP berdasarkan Peraturan Akademik Pendidikan Ekonomi.
Tabel 2.1
Prestasi Belajar Mahasiswa
No IPK Keterangan
1 3,51 – 4,00 Sangat Tinggi
2 2,76 – 3,50 Tinggi
3 2,00 – 2,75 Sedang
4 0,00 – 1,99 Rendah
Sumber: Peraturan Akademik Pendidikan Ekonomi 2018
M. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar menurut Syah (2002: 143) dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
1. Faktor internal (faktor dari dalam diri)
Faktor yang berasal dari dalam diri individu sendiri meliputi dua aspek, yakni aspek fisiologis (bersifat jasmaniah) dan aspek psikologis (bersifat rohaniah)
a. Aspek fisiologis
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya dapat mempengaruhi semangat dan intensitas individu dalam mengikuti pembelajaran.
b. Aspek psikologis
Faktor yang termasuk aspek psikologis yang dipandang ensesial dan dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran individu dalam mengikuti pelajaran
2. Faktor eksternal (faktor dari luar)
Faktor eksternal juga terdiri atas dua macam, yakni faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan non sosial.
1) Lingkungan sosial
Lingkungan sosial sekolah seperti pengajar, staf administrasi, dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang individu. Dalam hal ini yang termasuk lingkungan sosial adalah masyarakat, tetangga, dan juga teman0teman sepermainan di sekitar perkampungan tersebut.
2) Lingkungan non sosial
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan non sosial ialah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal siswa dan letaknya, fasilitas belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan individu tersebut. Faktor-faktor non sosial ini dipandang turut menetukan tingkat keberhasilan belajar seorang individu.
3. Faktor pendekatan belajar
Faktor pendekatan belajar yakni jenis upaya belajar individu yang meliputi strategi dan metode yang digunakan untuk melakukan kegiatan
pembelajaran materi-materi pelajaran. Faktor pendekatan juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan individu yang bersangkutan.
N. Kompetensi Pedagogik
Dilihat dari segi proses pembelajaran, kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik. Dalam PP RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pasal 28 ayat 3 butir (a) dikemukakan bahwa kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai kompetensi yang dimilikinya.
Menurut Janawi (2012: 65) kompetensi tersebut berhubungan dengan, yaitu: (1) menguasai karakteristik peserta didik, (2) menguasai teori dan prinsip-prinsip pembelajaran, (3) mengembangkan kurikulum dan merancang pembelajaran, (4) menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik, memanfaatkan tujuan instruksional khusus untuk kepentingan pembelajaran, (5) memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik, (6) berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan peserta didik, (7) menyelenggarakan evaluasi dan penilaian proses dan hasil belajar, (8) memanfaatkan hasil evaluasi dan penilaian untuk kepentingan pembelajaran, (9) melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.
Menurut Usman, dkk (2014) mengatakan bahwa sebagai pengajar, seorang guru hendaknya memiliki empat kemampuan yang berkaitan dengan usaha
meningkatkan proses dan hasil belajar yaitu; (a) merencanakan program mengajar, (b) melaksanakan dan mempimpin/mengelola hasil belajar-mengajar, (c) menilai kemajuan proses belajar mengajar dan (d) menguasai bahan pelajaran dalam pengertian menguasai bidang studi atau mata pelajaran yang diajarinya.
Dari empat kemampuan tersebut, salah satu kemampuan yang perlu dimiliki seorang guru agar dapat melihat kemajuan belajar siswa yaitu kemampuan menilai kemajuan proses belajar mengajar. Kemampuan menilai dirasa penting karena dengan melakukan penilaian guru dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan siswa dalam mengikuti pembelajaran, mengetahui kedudukan masing-masing individu peserta didik dalam kelompoknya, mendiagnosis kelemahan-kelemahan peserta didik, memperbaiki proses belajar mengajar dan menentukan kelulusan peserta didik. Seorang guru maupun calon guru yang memiliki kemampuan penilaian (asesmen) dapat mengatasi segala permasalahan pembelajaran dan menentukan tindaklanjut.
O. Kerangka Berpikir dan Hipotesis Penelitian
1. Tingkat Literasi Asesmen di antara calon pendidik di Program Studi Pendidikan Ekonomi pada berbagai tingkat semester.
Mahasiswa FKIP sebagai calon pendidik tentunya mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas.
Pendidikan yang berkualitas dapat terwujud karena adanya calon pendidik yang profesional dan berkompeten. Sebagai calon pendidik yang profesional dan berkompeten, mahasiswa perlu mempunyai kompetensi yang disyaratkan.
Kompetensi tersebut terdiri dari kompetensi profesional, pedagogik, sosial dan kompetensi kepribadian.
Keempat kompetensi tersebut merupakan bagian terpenting dalam bidang kependidikan khususnya bagi seorang pendidik. Namun ada salah satu kompetensi yang perlu dipahami oleh mahasiswa yang berkaitan dengan keefektifan pembelajaran di kelas yaitu kompetensi pedagogik. Dalam kompetensi tersebut kemampuan seorang guru akan diketahui seperti kemampuan mengelola pembelajaran, merancangan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran sampai dengan memberikan penilaian kepada peserta didik.
Penguasaan teknik penilaian dirasa penting karena dengan cara penilaian yang tepat terhadap peserta didik, mempermudah pendidik dalam mendiagnosis kesulitan-kesulitan yang dialami siswa pada saat pembelajaran.
Selain itu, kegiatan penilaian ini penting untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh pendidik serta dapat meningkatkan kualitas pendidikan di masa yang akan datang.
Kemampuan menggunakan pengetahuan tentang asesmen untuk mengidentifikasi permasalahan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti hasil penilaian dalam rangka memahami serta membuat keputusan berdasarkan hasil asesmen disebut literasi asesmen. Pada umumnya calon pendidik di semester II hanya menempuh mata kuliah bidang ilmu ekonomi, sehingga yang dipelajari hanya dasar-dasar ilmu ekonomi dan belum sampai pada mata kuliah bidang keguruan. Calon pendidik di semester IV sudah
menempuh mata kuliah mengenai penilaian yaitu Evaluasi Pembelajaran dan hanya sebatas teori dan belum mengimplementasikannya. Calon pendidik di semester VI sudah menempuh mata kuliah mengenai penilaian yaitu Evaluasi Pembelajaran serta Pengajaran Mikro sehingga mahasiswa sudah menggunakan teknik penilaian tersebut kepada teman sekelas. Pada semester VIII calon pendidik sudah menempuh mata kuliah mengenai teori penilaian, keterampilan penilaian dan sudah menempuh mata kuliah PPL (Program Pengalaman Lapangan) sehingga teknik penilaian telah dipraktikan oleh mahasiswa kepada peserta didik ketika pembelajaran di kelas. Berdasarkan penjelasan diatas terdapat dugaan bahwa calon pendidik di semester VIII memiliki literasi asesmen yang lebih tinggi dibandingkan dengan calon pendidik di semester II, IV dan VI. Sama halnya dengan calon pendidik di semester VI memiliki tingkat literasi asesmen yang lebih baik dibandingkan dengan calon pendidik di semester II dan IV. Begitu pula dengan calon pendidik di semester IV memiliki tingkat literasi asesmen yang lebih baik dibandingkan dengan calon pendidik di semester II. Selain mata kuliah yang berbeda pada tingkat semester, perbedaan lainnya dapat dilihat dari calon pendidik yang belum dan sudah menempuh mata kuliah Evaluasi Pembelajaran. Calon pendidik yang belum menempuh mata kuliah Evaluasi Pembelajaran rasionalnya tidak mengetahui tentang penilaian dan calon pendidik yang sudah menempuh mata kuliah Evaluasi Pembelajaran dapat diartikan calon pendidik sudah mengetahui tentang penilaian. Maka dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:
Ha : Ada perbedaan tingkat literasi asesmen di antara calon pendidik pada semester II, IV, VI dan VIII di Program Studi Pendidikan Ekonomi USD
2. Perbedaan Tingkat Literasi Asesmen di antara calon pendidik di Program Studi Pendidikan Ekonomi pada berbagai tingkat IP (Indeks Prestasi).
Indeks prestasi merupakan suatu hasil pencapaian keberhasilan mahasiswa dibidang akademik dalam bentuk angka. Tingkat prestasi calon pendidik dapat dilihat dari skala indeks prestasi. Calon pendidik dikatakan memiliki prestasi baik jika skala indeks prestasinya 3–4. Sedangkan Calon pendidik yang memiliki prestasi kurang baik jika skala indeks prestasinya 1-2. Tingkat pemahaman serta penguasaan teori dan praktik dalam perkuliahan dapat dilihat dengan skala indeks prestasi para calon pendidik. Secara rasional calon pendidik yang mempunyai indeks prestasi tinggi, lebih menguasai teori dan keterampilan dibandingkan dengan calon pendidik yang mempunyai indeks prestasi rendah. Begitu pula dengan tingkat literasi asesmen calon pendidik. Calon pendidik dengan indeks prestasi rendah, penguasaan kompetensi pedagogik kurang baik. Sedangkan calon pendidik yang mempunyai indeks prestasi tinggi, penguasaan kompetensi pedagogik lebih baik. Berdasarkan penjelasan diatas terdapat dugaan bahwa tingkat literasi asesmen calon pendidik berdasarkan indeks prestasi berbeda.
Berdasarkan uraian di atas dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:
Ha : Ada perbedaan tingkat literasi asesmen calon pendidik di antara tingkatan indeks prestasi.
36 BAB III
METODE PENELITIAN
Pada bab ini akan dibahas mengenai jenis penelitian, lokasi penelitian, waktu penelitian, subjek dan objek penelitian, populasi, sampel, teknik pengambilanm sampel operasional variabel, data yang dicari, teknik pengumpulan data, dan pengujian instrumen. Pengujian Instrumen dilakukan dengan bantuan program SPSS versi 20.
A. Jenis Penelitian
Penelitian merupakan studi komparatif dengan metode deskriptif kuantitatif. Studi komparatif (comparative study) yaitu jenis penelitian untuk membandingkan antara dua kelompok atau lebih dari suatu variabel tertentu. Dalam penelitian ini, peneliti akan membandingkan perbedaan tingkat literasi pengetahuan asesmen, calon pendidik berdasarkan tingkat semester dan berdasarkan tingkat indeks prestasi di Program Studi Pendidikan Ekonomi USD.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang berlokasi di Jalan Affandi Tromol, Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan merupakan sebuah lembaga perguruan tinggi yang menyiapkan tenaga pendidik yang
profesional. Agar dapat disebut calon pendidik yang berkualitas hendaknya mahasiswa menguasai empat kompetensi yang disyaratkan untuk menjadi guru, salah satunya yaitu kompetensi pedagogik khususnya literasi asesmen. Oleh sebab itu peneliti ingin mengetahui apakah ada perbedaan tingkat literasi asesmen calon pendidik di berbagai tingkat semester dan di berbagai tingkat indeks prestasi.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada Maret – April 2018 C. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa atau calon pendidik di Program Studi Pendidikan Ekonomi USD Yogyakarta pada semester II, IV, VI, dan VIII yang berjumlah 175 mahasiswa. Objek penelitian yaitu tingkat literasi asesmen yang dilihat berdasarkan tingkat semester dan tingkat indeks prestasi.
D. Populasi, Sampel dan Teknik Penarikan Sampel 1. Populasi Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa atau calon pendidik di Program Studi Pendidikan Ekonomi USD Yogyakarta. Adapun rincian populasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
Tabel 3.1
Jumlah Calon Pendidik di Program Studi Pendidikan Ekonomi
No Semester Populasi
1 II 50
2 IV 41
3 VI 42
4 VIII 42
Jumlah 175
Sumber : Sekretariat Pendidikan Ekonomi USD 2. Sampel Penelitian
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2010: 62). Pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan teknik non random sampling yaitu proportional sampling dengan menggunakan rumus Slovin sebagai berikut:
keterangan:
n = anggota sampel N = anggota populasi e = taraf signifikansi
Populasi yang terdapat dalam penelitian ini berjumlah 175 orang dan presisi yang ditetapkan atau tingkat signifikansi 0.05, maka besarnya sampel pada penelitian ini adalah :
n = 121.78 dibulatkan menjadi 122
Jadi, jumlah keseluruhan responden dalam penelitian ini adalah 122 orang.
3. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah proportional sampling. Porpotional sampling adalah pengambilan sampel yang memperhatikan pertimbangan unsur-unsur atau kategori dalam populasi penelitian Sugiyono (2003:74-78). Jumlah anggota sampel penelitian dilakukan dengan rumus Syofian (2012: 57-58) sebagai berikut:
Keterangan:
nᵢ = jumlah anggota sampel menurut stratum n = jumlah anggota sampel seluruhnya Nᵢ = jumlah anggota populasi menurut stratum N = jumlah anggota populasi seluruhnya
Maka jumlah anggota berdasarkan tingkat semester mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi adalah:
Tabel 3.2
Sumber: Data primer, diolah 2017
E. Operasional Variabel Penelitian 1. Identifikasi Variabel
Penelitian ini mencakup dua variabel, yaitu variabel bebas yang terdiri atas tingkat semester dan tingkat prestasi mahasiswa/calon pendidik, serta variabel terikat yaitu tingkat literasi asesmen.
2. Definisi Operasional Variabel
Untuk memberikan pemahaman pada variabel penelitian ini maka variabel dalam penelitian ini didefinisikan secara operasional sebagai berikut.
a. Literasi Asesmen merupakan kemampuan menggunakan pengetahuan tentang asesmen untuk mengidentifikasi permasalahan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti hasil penilaian dalam rangka memahami serta membuat keputusan berdasarkan hasil asesmen. Kemampuan penilaian calon pendidik
atau mahasiswa dikatakan baik apabila calon pendidik
atau mahasiswa dikatakan baik apabila calon pendidik