BAB IV : TEMUAN DAN PEMBAHASAN
C. Literasi Media Pada Orang Tua Dalam Media Parenting Pada Anak Usia
3. Dalam pendampingan perlu juga diperhatikan agar orang tua atau pendamping memiliki kemampuan untuk menjelaskan konten media yang ditanyakan oleh anak. Persoalan tabu juga harus dipikirkan batasannya, sehingga anak mandapatkan jawaban yang jelas, bukan jawaban yang menggantung.
4. Dalam model literasi media yang bertujuan proteksi ini, juga perlu diperhatikan konsumsi konten media yang sudah terlanjur didapatkan anak dari sumber lain, media lain yang dikonsumsi seperti internet, radio, buku, dan lain sebagainya. Sesekali orang tua perlu meluangkan waktu untuk mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan anak untuk mengetahui apakah ada pengetahuan yang memungkinkan terjadinya penyimpangan, misalnya anggapan salah tentang seks, stereotype terhadap golongan atau kelompok tertentu.
C. Literasi Media Pada Orang Tua Dalam Media Parenting Pada Anak
Semakin baik tingkat pendidikan, maka semakin baik pula keterampilan dan dan struktur pengetahuan terhadap media.
Temuan di lapangan pendampingan yang dilakukan informan ada dua, yaitu : pertama, pembatasan jam menonton dan pemilihan isi program tv.
Kedua, melalui diskusi dan bertukar pikiran dengan anak, sebelum, saat, ataupun setelah menonton televisi. Tujuan pendampingan anak dalam literasi media ialah mampu meningkatkan kualitas hubungan dalam proses pendampingan orang tua kepada anak serta menghadirkan kemampuan intelektual, kepedulian sosial, literasi sosial dan literasi teknologi dalam skala tertentu atas issue-issue media dan masyarakat. Dalam hal ini literasi media bukan berarti melarang menonton televisi. Ini adalah tindakan preventif terhadap dampak buruk televisi.
Penjelasan tersebut berdasarkan hasil wawancara penulis dengan orang masyarakat yang menjadi informan dalam penelitian ini. Seperti apa yang disampaikan oleh Ibu Herni yang merupakan seorang guru di salah satu SMA di Kecamatan Muko-Muko Bathin VII kepada penulis bahwa:
“Pendampingan atau metode yang saya lakukan sebagai orang tua untuk mengontrol kelakuan anak anak dalam menonton televisi ialah dengan membatasi jam atau waktu menonton dan pemilihan isi program televisi. Anak tidak boleh menonton televisi sebelum menyelesaikan pekerjaan rumah atau PR serta waktu belajar yang sudah ditentukan seperti pada jam 7 sampai jam 8 malam. Kemudian juga, acara yang boleh ditonton anak hanya film-film kartun atau acara anak-anak saja.”63
63 Wawancara dengan Ibu Herni pada tanggal 15 Maret 2018
Kemudian apa yang disampaikan oleh Ibu Anita kepada penulis dalam wwawancara langsung sebagai berikut:
“Cara yang saya lakukan untuk mengawasi anak ketika menonton televisi yaitu dengan menjelaskan kepada anak tentang setiap acara yang akan ditontonnya atau sesudah menonton acara tersebut. Hal itu dilakukan agar anak paham dan mengerti apa yang boleh ditiru atau tidak dari acara tersebut.”64
Dan tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan oleh ibu Henni kepada penulis yang menerapkan dari kedua metode tersebut. Seperti hasil wawancara penulis dengan beliau sebagai berikut:
“Dalam mengawasi anak terpengaruh dari hal yang tidak baik dari tayangan televisi, saya sebagai orang tua memiliki dua cara yaitu dengan membatasi waktu mereka untuk menonton dan dengan selalu berbicara kepada mereka tentang apa yang baik dan yang tidak baik dari acara televisi tersebut. Anak saya, hanya boleh nonton waktu pulang sekolah saja paling lama sekitar 2 jam.”65
Literasi media lebih pada mengajarkan orangtua untuk memilih dan memilah tayangan-tayangan yang sehat untuk anak. Dalam praktik literasi media televisi keluarga ialah Ibu. Karena dalam penelitian ini, seorang ayah memang memiliki pengetahuan dan keterampilan mengenai media namun, hanya sebatas konsumsi pribadi. Dimana hasil wawancara di lapangan menyatakan bahwa ayah lebih fokus pada fungsi televisi sebagai sarana informasi, yaitu hanya menonton acara berita, terlebih berita perkembangan politik di Indonesia. Sedangkan untuk Ibu yang tidak bekerja di luar rumah (IRT), akan lebih fokus dalam mengurus anak dalam menerapkan praktik literasi media karena memiliki waktu yang lebih banyak dalam mendampingi
64 Wawancara dengan Ibu Anita pada tanggal 14 Maret 2018
65 Wawancara dengan Ibu Henni
anak dibandingkan ibu yang bekerja. Namun bukan berarti ibu yang bekerja membiarkan begitu saja anak mereka terpapar media secara bebas. Bagi ibu yang bekerja di sektor publik, Ia dapat “berkompromi” dengan membuat aturan yang dibuat secara internal dalam keluarga. Pengawasan sebagai upaya penerapan literasi media tidak selalu berada dalam wujud fisik, yakni kehadiran ayah dan ibu dalam mendampingi anak menonton televisi.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah di uraikan sebelumnya, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Bagaimana Pemanfaatan Televisi sebagai Media Akses Informasi di Kalangan Masyarakat Desa Tanjung Agung Kab. Bungo Provinsi Jambi
Pemanfatan tentang media televisi keluarga masih pada tingkat awal, dimana pengetahuan dan keterampilan orang tua media masih pada pengetahuan jenis, kategori, fungsi dan pengaruh media televisi. Keluarga (ayah-ibu) cenderung pasif menanggapi terpaan media. Demikian pula dalam hal pendampingan anak menonton televisi, pendampingan dilakukan dengan dua cara, yaitu: pembatasan jam menonton dan pemilihan isi tayangan serta melalui diskusi dan bertukar pikiran sebelum, saat, ataupun setelah menonton televisi.
2. Bagaimana Analisis Potensi terjadinya Dampak Negatif Literasi Media Terhadap Anak dalam Menonton Televisi
Dalam menganalisis dampak negatif literasi media terhadap anak harus meningkatkan intensitas pendampingan di saat anak menonton televisi, meski anak menonton kategori acara yang dikhususkann untuk anak-anak sekalipun.Memperhatikan waktu dan tempat anak menonton.
Dalam usia yang masih digolongkan anak-anak, sebaiknya anak menonton televisi di ruang keluarga yang memungkinkan ia memiliki teman diskusi
atau pendamping saat menonton. Dalam pendampingan perlu juga diperhatikan agar orang tua atau pendamping memiliki kemampuan untuk menjelaskan konten media yang ditanyakan oleh anak. Persoalan tabu juga harus dipikirkan batasannya, sehingga anak mandapatkan jawaban yang jelas, bukan jawaban yang menggantung. Dalam model literasi media yang bertujuan proteksi ini, juga perlu diperhatikan konsumsi konten media yang sudah terlanjur didapatkan anak dari sumber lain, media lain yang dikonsumsi seperti internet, radio, buku, dan lain sebagainya. Sesekali orang tua perlu meluangkan waktu untuk mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan anak untuk mengetahui apakah ada pengetahuan yang memungkinkan terjadinya penyimpangan, misalnya anggapan salah tentang seks, stereotype terhadap golongan atau kelompok tertentu.
3. Bagaimana Literasi Media Pada Orang Tua Dalam Media Parenting Pada Anak Usia Dini Menonton Televisi di Kalangan Masyarakat Desa Tanjung Agung Kab. Bungo Provinsi Jambi
Pertama, pembatasan jam menonton dan pemilihan isi program tv.
Kedua, melalui diskusi dan bertukar pikiran dengan anak, sebelum, saat, ataupun setelah menonton televisi. Tujuan pendampingan anak dalam literasi media ialah mampu meningkatkan kualitas hubungan dalam proses pendampingan orang tua kepada anak serta menghadirkan kemampuan intelektual, kepedulian sosial, literasi sosial dan literasi teknologi dalam skala tertentu atas issue-issue media dan masyarakat. Dalam hal ini literasi
media bukan berarti melarang menonton televisi. Ini adalah tindakan preventif terhadap dampak buruk televisi.
B. Saran
1. Meningkatkan intensitas pendampingan di saat anak menonton televisi, meski anak menonton kategori acara yang dikhususkann untuk anak-anak sekalipun.
2. Memperhatikan waktu dan tempat anak menonton. Dalam usia yang masih digolongkan anak-anak, sebaiknya anak menonton televisi di ruang keluarga yang memungkinkan ia memiliki teman diskusi atau pendamping saat menonton.
3. Dalam pendampingan perlu juga diperhatikan agar orang tua atau pendamping memiliki kemampuan untuk menjelaskan konten media yang ditanyakan oleh anak. Persoalan tabu juga harus dipikirkan batasannya, sehingga anak mandapatkan jawaban yang jelas, bukan jawaban yang menggantung.
4. Dalam model literasi media yang bertujuan proteksi ini, juga perlu diperhatikan konsumsi konten media yang sudah terlanjur didapatkan anak dari sumber lain, media lain yang dikonsumsi seperti internet, radio, buku, dan lain sebagainya. Sesekali orang tua perlu meluangkan waktu untuk mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan anak untuk mengetahui apakah ada pengetahuan yang memungkinkan terjadinya penyimpangan, misalnya anggapan salah tentang seks, stereotype terhadap golongan atau kelompoktertentu.
C. Kata Penutup
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena dengan izin dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik, demikian juga ucapan terimakasih kepada pembimbing skripsi dan dosen-dosen dilingkungan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Akhir kata penulis menyadari akan segala kesalahan dan kekeliruan yang terdapat dalam penulisan skripsi ini, oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati kiranya pembaca dapat memakluminya. Semoga semua yang dituangkan oleh penulis melalui karya tulis ilmiah ini adalah suatu kebaikan dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca.
Penulis
Andika Kurniawan IPT.140318
DAFTAR PUSTAKA
Ardianto, Elvinaro dkk. 2007. Komunikasi Massa. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Adrianto, Tuhana T. 2011. Mengembangkan Karakter Sukses Anak di Era Cyber, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Ciptono Setyobudi, Teknologi Broadcasting TV,(Yogyakarta:Graha Ilmu, 2006).
Familia. 2006. Konsep diri positif, menentukan prestasi anak. Yogyakarta : Kanisius.
Ilham Zoebazary. Kamus Istilah Televisi dan Film, Gramedia, Jakarta 2010.
Oxford Learner‟s Pocket Dictionary : new edition, Oxford: Oxford University Press, 2008.
Pawit, M. Yusuf, Teori dan Praktik Penelusuran Informasi : information retrieval, (Jakarta :Kencana, 2010).
Suherman, Perpustakaan sebagai Jantung Sekolah, (Bandung : MQS Publishing, 2009).
Blasius Sudarsono, Pustakawan Cinta dan Teknolog), ( Jakarta : Sagung Seto, 2009).
Lasa Hs, Kamus Kepustakawanan Indonesia, (Yogyakarta : Pustaka Book Publisher, 2009).
Lau Jesus. 2006. Guidelines on Information Literacy for Lifelong Learning. Veracrus: IFLA.
Hancock, Vicky E. 1993. Information Literacy for Lifelong Learning.
http://ericae.net/edo/ED358870.htm Diakses: 14-08-2017, 11:23 Wib.
Agustin widya gunawan dkk. 2008. 7 langkah literasi informasI:
Knowledge Management. Jakarta: Universitas Atmajaya.
Repository Universitas Sumatera Utara.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/34481/4/Chapter%20II.pdf Diakses: 14-08-2017, 11:59 Wib.
Iskandar. 2009. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Gaung Persada.
IswandiSyahputra. Jurnalistik Infotainment. (Yogyakarta:Pilar Media, ,2006).
Kuswandi, Wawan. 2008. Komunikasi Massa (Sebuah Analisis Isi Media Televisi), Jakarta : Rineka Cipta.
Margono. 2000. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka.
Moleong. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Morissan, 2010. Psikologi Komunikasi, Bogor: Ghalia Indonesia.
Morissan, dkk. 2013. Teori Komunikasi Massa: Media, Budaya, dan Masyarakat, Bogor: Ghalia Indonesia.
Morissan, M.A. Manajemen Media Penyiaran (Jakarta:KencanaPrenada Media Group, 2015).
Muhamad Mufid, Komunikasi Regulasi & Penyiaran, Prenada Media group, Jakarta, 2005.
Panjaitan, Iqbal. (2006). Matinya Rating Televisi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Sanapiah Faisal. 2007. Format-format penelitian social.Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif dan R & D.
Bandung: Alfabeta.
Tamburaka, Apriadi. 2013. Lierasi Media: Cerdas Bermedia Khalayak Media Massa, Jakarta: Rajawali Pers