II. DINAMIKA KELEMBAGAAN DI DESA
2.4 LKD dan Aktivis Desa
2.4.1 LKD Masih Bekerja secara Mekanistik
Keberadaan LKD secara normatif diatur dalam PP No. 47 Tahun 2015 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa yang kemudian diturunkan melalui Permendagri No. 18 Tahun 2018 tentang LKD dan LAD. Permendagri No. 18 Tahun 2018 menetapkan tiga fungsi utama LKD sebagai wadah partisipasi masyarakat, yaitu (i) melakukan pemberdayaan masyarakat desa; (ii) ikut serta dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan; dan (iii) meningkatkan pelayanan masyarakat desa. Dari ketiga fungsi tersebut, hampir seluruh LKD di desa-desa studi belum memainkan perannya sebagai pemberdaya masyarakat. Peran LKD lebih dominan pada fungsi pelayanan masyarakat dan cenderung tidak berubah dari tahun ke tahun meski tersedia DD yang memberi peluang lebih besar bagi LKD untuk melakukan terobosan, yaitu gagasan kegiatan yang inovatif. Contohnya adalah kegiatan pemberdayaan ekonomi yang direncanakan berdasarkan kebutuhan dan dirancang secara menyeluruh, termasuk menyiapkan permodalan dan bimbingan pemasaran.
Hampir semua kegiatan yang dijalankan LKD adalah kegiatan rutin yang sudah sering diselenggarakan bahkan sebelum ada UU Desa (Tabel 5). Penetapan kegiatan LKD di beberapa desa
20LKD dalam hal ini juga mencakup lembaga adat desa, organisasi masyarakat sipil (OMS), dan kelompok-kelompok kemasyarakatan di desa.
juga belum melalui proses musyawarah secara internal. Implikasinya adalah bahwa program kerja LKD sering kali disusun sekadar mengikuti anggaran yang ditetapkan pemdes, bukan sebaliknya. Secara umum, anggaran bagi LKD dipakai untuk membiayai kegiatan operasional lembaga-lembaga seperti pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK), karang taruna, lembaga adat, RT dan rukun warga (RW), pos pelayanan terpadu (posyandu), pendidikan anak usia dini (PAUD), dan perlindungan masyarakat. Anggaran ini umumnya masuk dalam bidang pembinaan kemasyarakatan. Namun, khusus untuk desa-desa di Jambi, anggaran ini masuk dalam bidang pemerintahan desa pada awal pelaksanaan UU Desa.
Secara rata-rata, proporsi anggaran bidang pembinaan kemasyarakatan di sepuluh desa selalu paling rendah, kecuali pada 2015. Namun, di Batanghari anggaran bidang ini meningkat tajam pada 2017 dan 2018 ketika pembayaran insentif LKD dipindahkan dari bidang pemerintahan desa ke bidang pembinaan kemasyarakatan. Anggaran ini cukup besar karena mencakup insentif KPMD, pegawai syara (penjaga masjid), guru pengajian antara magrib dan isya (PAMI), dan guru madrasah
diniyah takmiliyah awaliyah (DTA), serta kader posyandu dan kader pos kesehatan desa
(poskesdes). Pada 2018, desa juga membayar iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan kelas 2 bagi para aktivis desa dan keluarganya.
Di sebagian besar desa, ada peningkatan anggaran LKD secara nominal saat studi endline dibandingkan saat studi baseline. Namun, secara proporsional terhadap APB Desa, anggaran tersebut justru turun di sebagian besar desa pada saat studi endline. Selain dari bidang pembinaan kemasyarakatan, pada praktiknya, anggaran untuk kegiatan LKD juga berasal dari bidang pemberdayaan masyarakat.21 Jika kedua bidang ini digabung, di hampir semua desa ada peningkatan anggaran secara nominal dan proporsional untuk kegiatan LKD.
21Perbedaan antara bidang pembinaan kemasyarakatan dan bidang pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dalam Bachtiar et al. (2019: 18).
Tabel 5. Kecenderungan Aktivitas LKD Berdasarkan Basis/Unsur Lembaga
No. LKD Bentuk Karakteristik Umum, Peran, dan Kegiatan Lembaga
1 Basis Kewilayahan
Lingkungan RT/RW Menjadi saluran usulan/keluhan warga, tangan terdekat pelayanan desa dan supradesa, dan panitia pembangunan
Melayani masyarakat dalam urusan sosial kemasyarakatan dan ketentraman lingkungan
Sebagian besar kegiatan bersifat sukarela
Mengadakan pertemuan rutin
2 Basis Sektoral
a. Perempuan PKK Keanggotaan cenderung elitis
Bentuk umum kegiatan pelayanan: posyandu dan sosialisasi/pelaksana program supradesa
Beberapa melaksanakan kegiatan pemberdayaan, seperti pelatihan menjahit dan memasak
Mengadakan pertemuan rutin baik di tingkat desa maupun supradesa, tetapi lebih banyak berkaitan dengan administrasi kelembagaan
b. Kepemudaan Karang taruna Keanggotaan bisa mencakup warga berusia 45 tahun ke atas
Hanya aktif pada perayaan hari besar, seperti hari kemerdekaan dan hari besar keagamaan, sebagai penyelenggara lomba seni dan olahraga
c. Keagamaan/ adat
Kelompok pengajian/ ibadah/LAD
Kegiatan rutin terbatas pada penyelenggaraan kegiatan ibadah, seperti yasinana, kegiatan doa (Ngada), dan peringatan hari besar adat/keagamaan
Menjadi pelayan masyarakat dalam hal kematian,
pernikahan, kelahiran, pelanggaran sosial kemasyarakatan, dsb.
Khusus di Ngada, peran kelompok agama melekat dengan kelembagaan RT d. Pemberdayaan Lembaga pemberdayaan masyarakat desa (LPM/LPMD)
Di Jawa Tengah, LPM/LPMD biasanya dilibatkan sebagai anggota TPK dalam pelaksanaan pembangunan
Di era UU Desa, perannya sebagai pemberdaya masyarakat makin lemah karena tidak mengusulkan kegiatan-kegiatan pemberdayaan
e. Profesi Kelompok tani Kegiatan di sebagian besar desa sangat bergantung pada bantuan yang diterima
aKegiatan pengajian membaca Surah Yasin.
Jika dianalisis lebih jauh, terdapat pola menarik dari pembedaan bidang kegiatan pembinaan kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat tersebut (Tabel 6). Kegiatan-kegiatan LKD yang terkesan menjalankan ‘rutinitas’ tampaknya adalah kegiatan yang masuk dalam bidang pembinaan kemasyarakatan, sedangkan kegiatan baru atau terobosan masuk dalam bidang pemberdayaan masyarakat. Dari segi proses, kegiatan pemberdayaan masyarakat pada umumnya diusulkan LKD melalui musdes/musrenbangdes, sedangkan kegiatan pembinaan kemasyarakatan tetap akan dialokasikan pemdes sekalipun tidak diusulkan. Hal ini mengindikasikan bahwa peran LKD pada proses perencanaan belum maksimal dalam menggagas dan mengawal usulan yang mengarah pada kemandirian warga desa.
Pada beberapa kasus, sejumlah LKD di beberapa desa memang mengajukan usulan untuk kegiatan pemberdayaan, tetapi tidak serta-merta merancangnya sebagai sebuah terobosan. Kegiatan
pemberdayaan sering kali dipahami secara sempit dan didesain sebagai pelatihan singkat yang pesertanya terbatas pada pengurus LKD saja. Topik pelatihan umumnya bersifat konvensional, sama dari waktu ke waktu, misalnya pelatihan menjahit atau membuat kue. Meski bersinggungan dengan usaha ekonomi, topik yang konvensional tersebut tidak dirancang untuk menciptakan kemandirian usaha. Misalnya, pelatihan menjahit dilaksanakan dalam dua atau tiga hari. Pendeknya waktu pelatihan ini tentu saja tidak cukup untuk membuat peserta mahir menjahit. Pelatihan tersebut juga tidak diikuti dengan kegiatan pemberdayaan lain, misalnya bimbingan usaha dan pemasaran. Bachtiar et al. (2019: 16) menyebut kegiatan pelatihan seperti itu “miskin ide” dan dilakukan sekadar untuk memenuhi kewajiban.
Tabel 6. Kecenderungan Pola Kegiatan LKD pada Bidang Pembinaan Kemasyarakatan dan Pemberdayaan Masyarakat
Pola Pembinaan Kemasyarakatan Pemberdayaan Masyarakat Bentuk kegiatan Kegiatan cenderung bersifat rutin dan
biasanya dalam bentuk pelayanan kepada masyarakat, seperti posyandu oleh PKK atau perayaan kemerdekaan oleh karang taruna.
Memungkinkan munculnya kegiatan baru, bahkan terobosan. Namun, sebagian besar dilaksanakan dalam bentuk pelatihan dengan peserta terbatas pada pengurus LKD. Pendanaan Relatif rutin dianggarkan, sekalipun tidak
diusulkan
Baru dianggarkan jika diusulkan, misalnya melalui musdes/ musrenbangdes
Penggunaan dana Sebagian besar habis untuk biaya operasional seperti rapat koordinasi, insentif kader, dan pembelian alat tulis kantor (ATK)
Selain untuk biaya operasional, sebagian dana juga terserap untuk komponen alat/bahan dan honorarium narasumber
Mengenai perannya dalam perencanaan pembangunan desa, pemdes biasanya mengundang LKD sebagai peserta yang mewakili unsur masyarakat; sebagai contoh, ketua karang taruna yang mewakili unsur pemuda atau ketua kelompok tani yang mewakili petani di desa. Meski LKD diposisikan sebagai representasi unsur masyarakat, sebagian besar usulannya bukanlah hal yang baru dan hanya berfokus pada kepentingan pengurusnya saja. Misalnya, PKK di Desa Gunturharjo, Wonogiri, sering kali hanya memikirkan biaya operasional lembaga dan jarang membawa kebutuhan sebagian besar perempuan di desa, seperti akses terhadap air bersih. Sebagian besar LKD pun jarang melakukan pertemuan internal secara rutin, misalnya, untuk membahas rencana kegiatan lembaga, apalagi urusan-urusan publik di desa. Hal ini terutama terjadi pada LKD dengan basis nonkewilayahan.
Dalam hal pelaksanaan pembangunan infrastruktur, hanya RT/RW yang terlibat secara intensif. Peran RT/RW pun menguat cukup signifikan setelah UU Desa diberlakukan. Hal ini seiring dengan meningkatnya kemampuan finansial desa yang didorong oleh, antara lain, DD yang hampir semuanya dialokasikan untuk kegiatan pembangunan. Para pengurus RT/RW biasanya menjadi koordinator dan sekaligus pihak yang mengumpulkan dan menyepakati pembagian tugas di antara warga, serta mengawasi jalannya pembangunan. Namun, di tengah perannya yang menguat, sebagian dari mereka mulai mempertanyakan insentif yang diterima, sebagaimana ditemukan di desa-desa di Banyumas (Kotak 8).
Kotak 8
Sisi Lain dari Menguatnya Peran RT/RW
Setelah berlakunya UU Desa, peran RT/RW makin menonjol dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. Sejak dulu, RT/RW telah menjadi kepanjangan tangan pemerintah (baik desa maupun supradesa) dalam hal pelayanan karena kedudukannya paling dekat dengan masyarakat. Mereka juga sering kali mendapat tugas tambahan sebagai ‘petugas’ survei untuk sejumlah kegiatan pemerintah, seperti bedah rumah atau program pembangunan jamban.
Dalam kesehariannya, RT/RW juga menjadi saluran usulan dan keluhan warga terkait urusan publik di desa. Warga juga biasa datang ke RT/RW untuk menanyakan hal-hal terkait daftar penerima bantuan sosial dari Pemerintah Pusat/pemerintah daerah. RT/RW juga harus mampu menjaga ketenteraman, termasuk mengelola konflik di lingkungannya.
Dalam proses pembangunan desa, peran RT/RW terlihat makin jelas. Selain menjadi perwakilan lingkungan yang membawa usulan warga dalam musrenbangdes, sebagian RT/RW juga menyelenggarakan penjaringan usulan di wilayahnya masing-masing. Saat pelaksanaan kegiatan pembangunan, ketua RT/RW menjadi pihak utama yang mengoordinasi warga dalam hal kerja bakti untuk kegiatan pembangunan atau kemasyarakatan yang jumlahnya jauh lebih banyak setelah adanya DD.
Di tengah makin besarnya beban pekerjaan RT/RW, sebagian dari mereka mulai mempertanyakan masalah kesejahteraan. Kenaikan insentif adalah istilah sederhana untuk merujuk hal itu. Para pengurus RT/RW tampak “cemburu” melihat perangkat desa yang upahnya bisa meningkat setelah UU Desa, sementara mereka selalu dituntut untuk bekerja secara sukarela. Dengan adanya situasi-situasi ini, beberapa RT di salah satu desa di Banyumas pernah menolak melaksanakan pembangunan jalan setapak dengan alasan “kelelahan” mengumpulkan warga. Sementara itu, di desa yang lain, sebagian RT/RW menolak diberlakukannya perdes tentang swadaya masyarakat karena sungkan menambah “tarikan” (baca: iuran) baru ke warga.
Terakhir, keaktifan LKD juga sangat bergantung pada kepemimpinan pengurusnya, terutama ketua. Kondisi ini terjadi pada PKK Desa Deling (Kotak 9). Karang Taruna Desa Karya Mukti pun demikian; karang taruna yang tadinya pasif kembali aktif dan memenangkan beberapa perlombaan di tingkat provinsi setelah terjadi pergantian ketua pada 2018. LKD yang pasif karena faktor ketua juga terjadi di Batanghari, yaitu LPMD, dan Merangin, yaitu PKK. Selain faktor ketua, keaktifan LKD juga didorong oleh keaktifan pemdes dan pemerintah supradesa dalam melaksanakan kegiatan rutin, seperti peringatan hari besar nasional atau perlombaan antardesa.
Kotak 9
Geliat Perempuan dalam Menggerakkan LKD di Dawuhan Wetan
Di Dawuhan Wetan, Banyumas, keikutsertaan perempuan dalam urusan publik di desa makin menggeliat. Sejak Ibu UT menjabat sebagai ketua PKK pada 2015, dirinya memang bertekad untuk merangkul semua kelompok perempuan, seperti kelompok muslimata dan fatayatb, untuk menyukseskan kegiatan-kegiatan di desa. Hal ini mula-mula ia lakukan dengan merekrut sejumlah nama baru yang dianggap mau dan mampu terlibat dalam memberdayakan perempuan dalam kepengurusan PKK.
Ketua fatayat pun mengonfirmasi peran Ibu UT sebagai aktor penting yang mendorong agar unsur perempuan yang diundang dalam musrenbangdes lebih banyak. Sebagai hasilnya, makin banyak usulan perempuan yang didanai pemdes.
Di bawah koordinasi PKK, jenis kegiatan perempuan pun mulai bergeser ke usaha pemberdayaan ekonomi. PKK pun berupaya mengundang perwakilan RT sebagai pesertanya untuk menghindari kecemburuan. Meski tak selalu mulus, beberapa kegiatan yang telah berjalan, antara lain, adalah usaha simpan pinjam pada unit peningkatan pendapatan keluarga (UP2K), pelatihan menjahit dengan pemasaran produk ke pasar/tengkulak, usaha sembako, dan pelatihan menanam sayur oleh kelompok wanita tani (KWT).
Pada kasus lain, geliat kelompok perempuan di desa ini juga pernah muncul pada 2016. Kades menerima sebuah surat yang dilayangkan pengurus muslimat. Salah satu isi surat tersebut adalah tuntutan agar mereka dilibatkan dalam musrenbangdes dan pelaksanaan pembangunan desa. Mereka juga mengusulkan agar penggunaan DD memperhatikan kegiatan-kegiatan bidang pendidikan.
“(Agar Bapak/Ibu Kepala Desa) mengakomodir saran dan masukan dari kami untuk bersama-sama membangun basis keagamaan melalui jalur pendidikan PAUD dan TPQ, sebagaimana disebutkan dalam Permendes PDTT No. 22/2016 BAB II”, demikian penggalan kalimat yang tertulis dalam surat tertanggal 20 Desember 2016.
aOrganisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang beranggotakan perempuan-perempuan dewasa.
bOrganisasi NU yang beranggotakan perempuan-perempuan muda.