• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori

2.1.2 Loan to Value

2.1.2.1. Defenisi Loan to Value

Rasio Loan to value (LTV) adalah angka rasio antara nilai kredit yang dapat diberikan oleh bank terhadap nilai agunan pada saat awal pemberian suatu kredit

(Surat edaran Bank Indonesia no 14/10/DPNP). Kebijakan ini merupakan

mengantisipasi atau meminimalisir adanya gejolak dalam perekonomian sebagai

akibat dari pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) dan kepemilikan atas

kendaraan bermotor yang terlalu berlebihan. Sehingga Bank Indonesia selaku

penguasa moneter di Indonesia merasa perlu untuk memberikan batasan batasan

yang jelas terhadap jumlah uang muka yang harus dimiliki seseorang jika ingin

memiliki suatu perumahan ataupun kendaraan bermotor. Konsep Loan to value

sebenarnya sama dengan Down Payment. Hanya saja istilah Loan to value lebih condong digunakan pada Properti (KPR) sedangkan down payment pada kendaraan bermotor. Terkhusus untuk Loan to value, tidak semua jenis KPR yang akan dikenakan kebijakan tersebut. Menurut Surat edaran no.14/10/DPNP ruang

lingkup KPR yang diatur dalam surat edaran tersebut adalah mencakup kredit

konsumsi pemilikan rumah tinggal, termasuk rumah susun atau apartemen namun

tidak termasuk rumah kantor dan rumah toko, dengan tipe lebih dari 70 meter

persegi. Adapun dalam surat edaran ini juga telah ditetapkan rasio Loan to value

(LTV) sebesar 70%. Itu berarti bila seseorang ingin menikmati suatu fasilitas KPR

harus memiliki uang muka setidaknya 30% dari harga jual KPR tersebut. Ada

beberapa alasan yang dikemukakan oleh Bank Indonesia yang mendasari terbitnya

aturan ataupun kebijakan Loan to value ini (surat edaran Bank Indonesia no

14/10/DPNP):

a. Semakin meningkatnya permintaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan

kredit kendaran bermotor (KKB) serta mengingat pertumbuhan KPR dan

KKB yang terlalu tinggi berpotensi menimbulkan berbagai risiko maka

b. Pertumbuhan KPR yang terlalu tinggi juga dapat mendorong peningkatan

harga aset properti yang tidak mencerminkan harga sebenarnya (bubble) sehingga dapat meningkatkan risiko kredit bagi bank bank dengan

eksposur kredit properti yang besar.

c. Untuk menjaga perekonomian yang produktif dan mampu menghadapi

tantangan sektor keuangan di masa yang akan datang, perlu adanya

kebijakan yang dapat memperkuat ketahanan sektor keuangan untuk

meminimalisir sumber sumber kerawanan yang dapat timbul, termasuk

pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah dan Kredit kendaraan bermotor

yang berlebihan. Dan kebijakan yang dimaksudkan adalah melalui

penetapan besaran Loan to value (LTV) untuk KPR dan Down Payment

untuk Kredit kendaraan bermotor.

2.1.2.2. Perbandingan Penerapan Loan to Value di Berbagai Negara

Sebelum dikeluarkannya Surat Edaran Bank Indonesia No. 14/ 10/ DPNP , di

Indonesia belum pernah ada ketetapan yang mengatur secara jelas mengenai

batasan batasan dalam kebijakan Loan to Value ataupun Down Payment. Sebelumnya memang telah ada peraturan Bank Indonesia yang mengatur prinsip

prinsip pemberian kredit yang sehat. Namun peraturan yang disusun lewat

Pedoman Penyusunan Kebijakan Perkreditan Bank (PPKPB) ini tidak secara

spesifik mengatur tingkat Loan to Value atau tingkat Down Payment. Namun kebijakan Loan to value ini bukan kebijakan yang baru digunakan di Indonesia. Sebelumnya beberapa negara di dunia telah diterapkan kebijakan yang sama

tersebut. Besar kecilnya angka Loan to value di setiap negara akan berbeda beda disesuaikan dengan karakteristik masalah yang dihadapi oleh masing masing

negara.Berikut ini ditampilkan beberapa negara yang pernah menetapkan

kebijakan yang sama di negara masing masing dengan batasan nilai Loan to Value

yang berbeda beda.

Tabel 2.1. Perbandingan Penerapan LTV di Berbagai Negara

Negara LTV

Thailand Max 90% untuk pembelian apartemen seharga < Rp.2,8 M/ Unit Max 95% untuk pembelian rumah lainnya

*tidak berlaku bagi Pegawai negeri atau pegawai BUMN karna resiko kredit dianggap lebih rendah

China LTV properti 1: 70 %, LTV properti 2: 50% sedangkan pembelian properti 3 dilarang

India Maksimal 80 % untuk housing loans

Malaysia Maksimal 70 % untuk pembelian properti ke 3

Hongkong Max 60 % untuk Luxury properti senilai di atas HK$12 juta

Max 70 % untuk properti di bawah HK$12 juta dengan maksimum property value sebesar HK$ 7.2 juta

Korea Antara 40-50% tergantung daerah properti yang mengalami

excessive growth

Philipina Maximal 60 % untuk kredit real estate

Sumber : Kajian Stabilitas Keuangan No19, Edisi September 2012 Singapura Maximal 90 % untuk housing loans

Australia Max 80 %. Kalau diatas 80% perlu ada mortage insurance

Canada Max 75 % untuk housing loans

Jerman Max 60 % untuk mortage bonds

Spanyol Max 80 % untuk housing loans

Prancis Max 80 % untuk housing loans

Belanda Max 90 % untuk housing loans

2.1.2.3 Hasil yang Diharapkan dari Kebijakan Loan to Value

Setiap Kebijakan yang dikeluarkan pasti diharapkan mampu mengatasi

masalah yang hendak dipecahkan. Oleh karena itu, sebelum memutuskan

menggunakan suatu kebijakan telah dipelajari terlebih dahulu efek apa yang akan

ditimbulkan oleh kebijakan tersebut. Begitu juga dengan penerapan Loan to Value

ini, Bank Indonesia mengharapkan dengan adanya pembatasan Maksimum Loan to Value suatu Bank dapat lebih berhati hati dalam menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah dan Kredit Kendaraan Bermotor yang selama ini dinilai telah melebihi

ambang batas kenormalan. Diharapkan Batasan Maksimum Loan to Value akan mempertemukan Bank dengan pihak pembeli yang potensial. Artinya pembeli

tersebut memang sangat membutuhkan perumahan sebagai tempat tinggal serta

mempunyai kemampuan untuk membayarakannya. Atau setidaknya batasan yang

tinggi terhadap uang muka pembelian sutu properti dapat mengurangi angsuran

konsumen setiap bulannya sehingga kemungkinan kredit bermasalah semakin

berkurang dan membuat angka Non performing Loan (NPL) semakin membaik (Kajian stabilitas Keuangan No. 19, September 2012). Selain itu cara ini dianggap

akan mampu mengurangi para spekulan yang memang menginginkan keuntungan

dari kenaikan harga properti terutama di tipe diatas 70 m2. Para spekulan harus

berpikir ulang karena membutuhkan uang yang banyak untuk dapat membeli

suatu jenis properti tertentu. Untuk itu diharapkan Industri Properti dan otomotif

ini dapat menawarkan produk otomotif ataupun rumah dengan harga terjangkau

bagi setiap segmen dalam masyarakat yang membutuhkan. Dengan kata lain,

meningkatkan pelayanan kepada masyarakat terutama dalam pemenuhan

kebutuhan papan yang memang dianggap essensial kepentingannya.

2.1.3 Properti

2.1.3.1 Pengertian Properti

Secara umum properti dapat dikelompokkkan menjadi 2 kategori, yaitu:

a. Properti Riil (Real Property)

Properti riil adalah hak perorangan atau badan untuk memiliki/ menguasai

tanah dan bangunan yang didirikan diatasnya. Dalam beberapa kasus

seringkali seseorang menyamakan istilah real property dengan real estate, namun ternyata kedua istilah tersebut memiliki arti yang berbeda. Menurut

Supardi, Heri, dan Mohammad Luthfi (2010:2) real estate secara terminologi adalah penguasaan secara fisik atas tanah dan bangunan

sedangkan real property diartikan sebagai penguasaan secara hukum yang dilandasi dengan hak atas tanah dan bangunan tersebut. Sementara

menurut Hidayati dan Harjanto (2001:10) istilah real estate adalah untuk bentuk fisik dari tanah beserta pengolahan dan pembangunannya dan real property merujuk pada kumpulan hak (bunndle of rights) untuk menggunakan, menyewa, memindahkan,dan sebagainya dari tanah beserta

pengolahan dan pembangunannya.

b. Personal Properti

Menurut Supardi, Heri dan Mohammad Luthfi (2010:2) personal property

properti berwujud seperti mesin, peralatan, dan furniture; maupun properti yang tidak berwujud seperti goodwill, merk, trademark, dan sebagainya.

2.1.3.2 Faktor faktor yang Mempengaruhi Nilai Properti

Sama dengan barang barang lain pada umumnya nilai suatu properti juga

dipengaruhi oleh beberapa karakteristik. Menurut Hidayati dan Harjanto

(2001:22) secara garis besar ada 4 faktor yang mempengaruhi nilai suatu properti

yaitu:

a. Faktor permintaan dan penawaran

Relatif sama dengan barang lain pada umumnya, faktor ini merupakan

faktor yang sangat luas dampaknya. Jika penawaran properti di pasar tetap

sedangkan permintaan terus mengalami peningkatan maka nilai properti

akan mengalami peningkatan, cateris paribus. Sebaliknya, jika permintaan

tetap sedangkan jumlah penawaran bertambah maka harga properti akan .

mengalami penurunan, cateris paribus.

b. Faktor fisik properti

Faktor fisik menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap nilai

suatu properti. Faktor faktor yang mempengaruhi penilaian fisik suatu

bangunan antara lain dilihat dari jenis dan kegunaan properti, ukuran dan

bentuk, serta desain dan kontruksi bangunan. Pada intinya, jika kondisi

fisik properti banyak membantu atau memudahkan penggunanya atau jika

kondisi properti sesuai dengan yang diharapkan oleh penggunanya maka

sesuai dengan selera dan harapan pemiliknya maka nilai properti tersebut

akan mengalami kemerosotan

c. Faktor perletakan dan lokasi properti

Lokasi dapat dianggap sebagai faktor terkuat dalam menentukan nilai

properti. Dua buah properti yang memiliki bentuk fisik sama tetapi bila

lokasinya berbeda, maka nilainya akan berbeda pula. Sebagai contoh

dalam kehidupan sehari hari, properti dengan bentuk yang sama namun

satu terletak di pedesaan dengan akses yang sulit, dan satu berada di kota

dengan akses yang sangat baik tentu properti yang terletak di daerah

perkotaan akan lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan properti yang

terletak di pedesaaan.

d. Faktor Politik dan Kenegaraan

Faktor kenegaraan maksudnya adalah faktor ekonomi, sosial, dan politik

di suatu negara, dimana hal hal tersebut secara tidak langsung akan

mempengaruhi nilai properti. Menurut Supardi, Heri dan Mohammad Luthfi (2010:11) campur tangan pemerintah dalam peruntukan (zoning) dan perencanaan kota berpengaruh terhadap nilai properti. Sebagai contoh,

permintaan akan suatu properti mungkin akan mengalami penurunan jika

sistem perundangan yang mengatur properti tersebut terlalu ketat dan akan

mempengaruhi nilai properti secara umum. Keadaan ekonomi dan sistem

perpolitikan yang cenderung nyaman bagi para investor tentu akan

Berkaitan dengan hal ini, kebijakan pengetatan batasan Loan to value

adalah salah satu sistem kebijakan ekonomi yang ditempuh oleh bank

Indonesia sebagai otoritas moneter untuk melindungi nilai properti di

Indonesia.

2.1.3.3 Hubungan Loan to Value dengan Permintaan Properti

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya Loan to value adalah Rasio antara nilai kredit yang dapat diberikan oleh bank terhadap nilai agunan pada awal

pemberian kredit (Surat Edaran Bank Indonesia No 14/10/DPNP). Kebijakan

Loan to value adalah kebijakan Bank Indonesia dalam upayanya melakukan pembatasan terhadap jumlah dana yang dapat diberikan bank penyedia jasa

pembiayaan untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Aturan yang dikeluarkan

tanggal 15 Maret 2012 dan aktif mulai tanggal 15 Juni 2012 ini, menetapkan

besarnya Loan to Value terhadap properti sebesar 70%, artinya penerima KPR paling tidak harus mempunyai uang muka sebesar 30% dari nilai KPR tersebut.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya tentu saja kebijakan ini akan berdampak

buat nilai dan permintaan properti. Menurut Hidayati dan Harjanto (2001:22)

sistem perundangan yang terlalu ketat mungkin akan menyebabkan permintaan

properti turun dan selanjutnya akan mempengaruhi nilai tanah. Menurut Supardi,

Heri, dan Mohammad Luthfi (2010:12) Kebijakan pemerintah dalam menentukan suku bunga juga berpengaruh terhadap nilai properti dari segi ekonomi. Sehingga

jelas terlihat bahwa kebijakan Loan to value akan berpengaruh terhadap permintaan properti.

Dokumen terkait