III. BAHAN DAN METODE
3.2 Alat dan Bahan
3.2.2 Lobster Uji
Lobster yang diuji dalam penelitian ini adalah benih lobster air tawar jenis red claws Cherax quadricarinatus berasal dari Desa Cibeureum, Bogor. Bobot rata-rata lobster uji adalah 0,41+0,03 gram dan panjang 2,61+0,05 cm.
3.2.3 Shelter
Shelter yang digunakan terbuat dari pipa paralon PVC berukuran ¾ inch dengan panjang 10 cm. Jumlah shelter disesuaikan dengan perlakuan dan rasio shelter yang diujikan yaitu 1 dan 0,5, selanjutnya shelter ditebar secara merata pada dasar akuarium.
1
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil
1.1. Tingkat Kelangsungan Hidup
Persentase kelangsungan hidup benih lobster air tawar Cherax quadricarinatus selama 40 hari masa pemeliharaan pada masing-masing perlakuan mengalami penurunan, dengan kisaran tingkat kelangsungan hidup berkisar antara 56,52-73,81% (Gambar 5). Hasil analisis ragam menunjukkan padat penebaran, rasio shelter dan interaksi keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup (p>0,05) (Lampiran 2). Hasil percobaan mengenai kelangsungan hidup pada akhir pemeliharaan disajikan pada Gambar 5.
Gambar 4. Tingkat kelangsungan hidup (%) Cherax quadricarinatus dengan padat tebar (PT) 75, 100 dan 125 ekor/m2 pada rasio shelter (RS) 1
Gambar 5. Tingkat kelangsungan hidup Cherax quadricarinatus dengan padat tebar (PT) 75, 100 dan 125 ekor/m2 pada rasio shelter (RS) 1 dan
0,5 selama 40 hari masa pemeliharan
1.2. Laju Pertumbuhan Bobot Harian
Selama 40 hari masa pemeliharaan benih lobster air tawar Cherax quadricarinatus telah terjadi peningkatan bobot dengan bobot akhir rata-rata berkisar antara 1,46-1,96 gram (Gambar 7). Laju pertumbuhan bobot harian pada akhir masa pemeliharaan berkisar 3,19-3,97% (Lampiran 4). Hasil analisis ragam menunjukkan padat penebaran, rasio shelter dan interaksi antara keduanya tidak memiliki pengaruh yang nyata terhadap laju pertumbuhan bobot harian (p>0,05) (Lampiran 4).
Gambar 6. Bobot rata-rata Cherax quadricarinatus dengan padat tebar (PT) 75, 100 dan 125 ekor/m2 pada rasio shelter (RS) 1 dan 0,5 selama 40
hari
3
Gambar 7. Laju pertumbuhan bobot harian Cherax quadricarinatus dengan padat tebar (PT) 75, 100 dan 125 ekor/m2 pada rasio shelter (RS) 1
dan 0,5 selama 40 hari masa pemeliharaan
1.3. Pertumbuhan Panjang Mutlak
Selama 40 hari masa pemeliharaan benih lobster air tawar Cherax quadricarinatus terjadi penambahan ukuran panjang. Panjang akhir rata-rata selama masa pemeliharaan berkisar antara 3,70-4,19 cm. Pertumbuhan panjang mutlak pada akhir masa pemeliharaan berkisar antara 1,07-1,62 cm (Lampiran 7). Hasil analisis ragam menunjukkan padat penebaran, rasio shelter dan interaksi keduanya tidak memiliki pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan panjang mutlak (p>0,05) (Lampiran 8).
Gambar 8. Panjang rata-rata tiap sampling Cherax quadricarinatus dengan padat tebar (PT) 75, 100 dan 125 ekor/m2 pada rasio shelter (RS) 1 dan 0,5
selama 40 hari masa pemeliharaan.
Gambar 9. Pertumbuhan panjang mutlak Cherax quadricarinatus dengan padat tebar (PT) 75, 100 dan 125 ekor/m2 pada rasio shelter (RS) 1 dan 0,5
selama 40 hari masa pemeliharaan.
5
1.4. Efisiensi Pakan
Selama 40 hari masa pemeliharaan lobster air tawar Cherax quadricarinatus didapatkan efiesiensi pakan rata-rata berkisar antara 61,11- 88,59% (Gambar 10). Hasil uji analisis ragam menunjukkan padat penebaran, rasio shelter dan interaksi antara keduanya tidak memiliki pengaruh yang nyata terhadap nilai efisiensi pakan (p>0,05) (Lampiran 6). Hasil penelitian mengenai efisiensi pakan pada akhir pemeliharaan disajikan pada Gambar 10.
Gambar 10. Efisiensi pakan Cherax quadricarinatus dengan padat tebar (PT) 75, 100 dan 125 ekor/m2 pada rasio shelter (RS) 1 dan 0,5 selama 40
hari masa pemeliharaan
1.5. Produksi
Selama 40 hari masa pemeliharaan benih lobster air tawar Cherax quadricarinatus didapatkan nilai produksi akhir rata-rata berkisar antara 10,63- 16,30 gram (Gambar 11). Hasil uji analisis ragam menunjukkan padat penebaran, rasio shelter dan interaksi keduanya tidak memiliki pengaruh yang nyata terhadap
produksi (p>0,05) (Lampiran 9). Hasil percobaan mengenai produksi pada akhir pemeliharaan disajikan pada Gambar 12.
Gambar 11. Produksi Cherax quadricarinatus dengan padat tebar (PT) 75, 100 dan 125 ekor/m2 pada rasio shelter (RS) 1 dan 0,5 selama 40 hari
masa pemeliharaan
1.6. Fisika-Kimia Air
Nilai kualitas air pada masing-masing perlakuan selama masa percobaan berlangsung tertera pada Tabel 5 di bawah ini dan untuk lebih rinci disajikan pada Lampiran 10. Deskripsi parameter fisika-kimia air tersebut disajikan pada gambar 12-17
Tabel 5. Nilai fisika-kimia air media pada masing-masing perlakuan selama 40 hari pemeliharaan dengan padat tebar (PT) 75,100 dan 125 ekor/m2 pada
rasio shelter (RS) 1 dan 0,5
Parameter Waktu PT.75;RS. 1 PT.75;RS. 0,5 PT.100;RS. 1 PT.100;RS 0,5 PT.125;RS.1 PT.125;RS 0,5 Tandon Suhu Awal 25,5 25,7 25,4 25,8 25,4 25,5 25,3 Akhir 26,2 26,5 26 26,3 25,9 25,6 25,7 pH Awal 8,23 8,17 8,23 8,23 8,21 8,39 8,10 Akhir 7,03 7,06 7,17 7,13 7,16 6,66 7,10 DO Awal 6,30 6,26 6,07 6,20 5,76 6,00 6,50 Akhir 7,11 7,15 7,22 6,98 7,07 6,91 7,41 Alkalinita s Awal 75,62 70,31 66,33 70,31 70,31 59,7 22,31 Akhir 25,2 22,55 29,18 19,96 42,25 26,53 39,8 Kesadaha Awal 24,02 28,02 30,03 33,03 22,02 37,04 31,4 6
7
n Akhir 41,04 40,04 46,04 49,04 55,05 57,05 33,03
N-NH3 Awal
0,03876 0,040738 0,051215 0,054004 0,048761 0,028117 0,004088
Akhir 0,00079 0,000795 0,001143 0,001003 0,005518 0,001266 0,001328
Suhu selama 40 hari masa pemeliharaan berkisar antara 25,3-26,5oC
(Lampiran 10). Gambar 12 menunjukkan grafik suhu selama pemeliharaan dari masing-masing tiap perlakuan. Dari gambar tersebut terlihat suhu cendrung meningkat hingga 20 hari pertama masa pemeliharaan untuk setiap perlakuan, kemudian suhu menurun hingga hari ke-30 dan cendrung naik kembali hingga akhir masa pemeliharaan (panen) .
Gambar 12. Suhu (0C) pada masing-masing perlakuan selama masa pemeliharaan
dengan padat tebar (PT) 75,100 dan 125 ekor/m2 pada rasio shelter
(RS) 1 dan 0,5 selama 40 hari masa pemeliharaan
Kandungan oksigen terlarut (DO) dalam wadah pemeliharaan benih lobster air tawar Cherax quadricarinatus selama masa pemeliharaan berkisar antara 5,7-8,4 mg/l (Lampiran 10). Gambar 13 menunjukkan grafik kandungan oksigen terlarut selama pemeliharaan dari masing-masing tiap perlakuan. Dari gambar tersebut terlihat kandungan oksigen berfluktuasi selama masa pemeliharaan dimana kandungan oksigen naik pada awal pemeliharaan hingga 10 hari pertama untuk setiap perlakuan, kemudian menurun hingga hari ke-20 dan naik kembali hingga hari ke-30 serta kembali menurun hingga akhir masa pemeliharaan (panen).
Gambar 13. Kandungan oksigen (mg/l) pada masing-masing perlakuan selama masa pemeliharaan dengan padat tebar (PT) 75,100 dan 125 ekor/ m2 pada rasio shelter (RS) 1 dan 0,5 selama 40 hari masa
pemeliharaan
Konsentrasi amoniak (mg/liter) dalam wadah pemeliharaan benih Cherax quadricarinatus selama masa percobaan berkisar antara 0,000295 hingga 0,054004 mg/l (Lampiran 10). Gambar 14 menunjukkan grafik kandungan amoniak selama pemeliharaan dari masing-masing tiap perlakuan. Dari gambar tersebut terlihat kandungan amoniak selama pemeliharaan mengalami penurunan
hingga 10 hari pertama untuk tiap perlakuan kemudian cendrung konstan hingga akhir masa pemeliharaan (panen).
Gambar 14. Konsentrasi amoniak (mg/l) pada masing-masing perlakuan selama masa pemeliharaan dengan padat tebar (PT) 75, 100 dan 125 ekor/ m2 pada rasio shelter (RS) 1 dan 0,5 selama 40 hari masa
pemeliharaan
Kandungan alkalinitas didalam wadah pemeliharaan benih Cherax quadricarinatus selama masa percobaan berkisar antara 19,96 hingga 72,91 mg/l CaCO3 (Lampiran 10). Gambar 15 menunjukkan grafik konsentrasi alkalinitas
selama pemeliharaan dari masing-masing tiap perlakuan. Dari gambar tersebut terlihat kandungan alkalinitas diperairan memiliki kecendrungan menurun untuk setiap perlakuan hingga akhir masa pemeliharaan (panen).
Gambar 15. Kandungan alkalinitas (mg/l CaCO3) pada masing-masing
perlakuan selama masa pemeliharaan dengan padat tebar (PT) 75, 100 dan 125 ekor/m2 pada rasio shelter (RS) 1 dan 0,5 selama 40
hari masa pemeliharaan
Kandungan pH didalam wadah pemeliharaan benih Cherax quadricarinatus selama masa percobaan berkisar antara 7,033 hingga 8,633 (Lampiran 10). Gambar 16 menunjukkan grafik kandungan pH selama pemeliharaan dari masing-masing tiap perlakuan. Dari gambar tersebut pH selama pemeliharaan terlihat cendrung menurun untuk setiap perlakuan dimana penurunan drastis terjadi pada awal pemeliharaan hingga 10 hari pertama.
Gambar 16. Kandungan pH pada masing-masing perlakuan selama masa pemeliharaan dengan padat tebar (PT) 75, 100 dan 125 ekor/m2
pada rasio shelter (RS) 1 dan 0,5 selama 40 hari masa pemeliharaan
Kandungan kesadahan didalam wadah pemeliharaan benih Cherax quadricarinatus selama masa percobaan berkisar antara 14,02 hingga 57,06 mg/l CaCO3, (Lampiran 10). Gambar 17 menunjukkan grafik kandungan kesadahan
9
selama pemeliharaan dari masing-masing tiap perlakuan. Dari gambar tersebut terlihat kandungan kesadahan selama masa pemeliharaan mengalami fluktuasi, dimana kesadahan mengalami kecendrungan turun pada awal pemeliharaan (hari ke-0) hingga 10 hari pertama kemudian mengalami kenaikan hingga hari ke-20 untuk setiap perlakuan. Setelah itu, beberapa perlakuan mengalami penurunan hingga hari ke-30 dan di akhiri dengan kenaikan kembali hingga akhir pemeliharaan (panen) dan ada pula perlakuan dengan kesadahan yang cendrung konstan hingga akhir masa pemeliharaan.
Gambar 17. Kandungan kesadahan (mg/l CaCO3) pada masing-masing
perlakuan selama masa pemeliharaan dengan padat tebar (PT) 75, 100 dan 125 ekor/m2 pada rasio shelter (RS) 1 dan 0,5 selama 40
hari masa pemeliharaan
2. Pembahasan
Selama 40 hari masa pemeliharaan lobster air tawar dengan perlakuan padat penebaran 75, 100 dan 125 ekor/m2 pada rasio shelter 0,5 dan 1, didapatkan
terlihat kematian terdapat pada setiap perlakuan. Hal ini juga terjadi pada percobaan yang dilakukan oleh Nilamsari (2007) yang melakukan percobaan dengan padat penebaran yang lebih rendah, dimana lobster ditebar dengan kepadatan 40-70 ekor/m2 menghasilkan tingkat kelangsungan hidup berkisar
85,71-74,38% (Tabel 1). Berdasarkan pengamatan, kematian diakibatkan dari beberapa faktor terutama yang berkaitan dengan sifat alami dari lobster air tawar diantaranya agresif, gagal moulting dan kanibalisme. Faktor kematian tersebut ditunjukkan dengan bangkai lobster yang cangkangnya masih lembek,
chephalotoraks terkelupas dan bagian tubuhnya terpotong-potong bahkan ada lobster yang mati masih dalam keadaan utuh.
Agresifitas antar lobster cenderung ditandai dengan adanya perkelahian antara lobster yang terlihat sama kuat dan biasanya lobster yang lebih lemah cenderung menghindar. Agresifitas ini diawali dengan kontak antara kaki capit terlebih dahulu kemudian baru saling melakukan penyerangan. Perkelahian tersebut dapat merusak organ tubuh seperti terpotongnya kaki capit, ruas-ruas kaki atau bagian tubuh lainnya, dan dikuti dengan infeksi penyakit pada lobster yang terluka. Hilangnya kaki capit membuat pertahanan dari serangan lobster akan berkurang dan peluang kematian yang diakibatkan oleh serangan lobster berikutnya semakin besar.
Peluang kematian juga meningkat akibat kondisi lemah ketika terjadi proses moulting. Pada saat itu lobster kehilangan unsur mineral terutama kalsium yang berkurang secara drastis dalam tubuhnya akibat lepasnya cankang keras dari tubuhnya. Pada keadaan tersebut lobster berada dalam kondisi tidak terlindungi. Menurut Wiyanto dan Hartono (2003) saat proses moulting, lobster mengeluarkan bau tertentu yang mengundang lobster lainnya untuk mendekat dan memangsanya. Akibatnya, gangguan lobster lain yang menyebabkan kejutan pada lobster yang sedang mengalami moulting juga menyebabkan penyerangan meningkat dan dapat menyebabkan kematian bagi lobster tersebut bahkan dapat dimakannya (kanibal).
Peningkatan padat penebaran dikuti dengan tingkat kelangsungan hidup yang relatif sama (p>0,05) (Lampiran 2). Hal ini menunjukkan kebutuhan pakan dan lingkungan telah tercukupi. Pada pemeliharaan ini lingkungan berpotensi
11
memburuk karena ikan setiap hari diberi pakan. Tetapi karena adanya aktifitas penyiponan dan pergantian air, kualitas air dapat dikendalikan hingga berada dalam kisaran yang dapat ditoleransi. Menurut Effendie (1997) akibat dari persaingan akan terasa apabila persediaan makanan tidak mencukupi, apabila ketersediaan makanan terpenuhi penggunaan sumber makanan yang sama tidak akan terasa akibatnya. Walaupun demikian kecendrungan peningkatan kepadatan diikuti dengan penurunan kelangsungan hidup (p<0,07) (Lampiran 2). Hal ini diduga karena sifat agresif lobster yang berakibat kematian lebih tinggi pada kepadatan yang lebih tinggi
Pengurangan shelter dimaksudkan agar lobster memiliki tempat berlindung dari sesamanya. Pada kenyataannya, kepadatan 75 hingga 125 ekor/m2
tidak semua shelter terisi lobster baik pada rasio shelter 1 ataupun 0,5 pada waktu yang sama. Ada beberapa kegiatan yang dilakukan diluar shelter seperti mencari makan dan moulting. Hal ini diduga menyebabkan perbedaan rasio shelter pada kepadatan 75 hingga 125 ekor/m2 ini tidak menghasilkan tingkat kelangsungan
hidup yang berbeda.
Laju pertumbuhan bobot harian selama pemeliharaan berkisar antara 3,19- 3,97% dan pertumbuhan panjang mutlak berkisar antara 1,07-1,62 cm. Berdasarkan hasil analisis ragam didapatkan peningkatan padat penebaran menghasilkan laju pertumbuhan bobot harian dan pertumbuhan panjang mutlak yang sama (p>0,05) (Lampiran 4; Lampiran 7). Pada budidaya intensif, peningkatan kepadatan lobster akan diikuti dengan peningkatan kebutuhan oksigen dan makanan serta kotoran (metabolit dan sisa pakan). Menurut Hepher dan Pruginin (1981) selama oksigen dan pakan tersebut terpenuhi dan keberadaan metabolit dapat dikendalikan, ikan dapat tumbuh sesuai kapasitasnya (maksimal). Kebutuhan oksigen pada percobaan ini dipenuhi melalui pemasangan aerasi, pakan diberikan sebanyak 4% dari bobot total biomassa dengan frekuensi 2 kali per hari serta setiap hari kotoran dibersihkan dari wadah produksi melalui penyiponan dan pergantian air sebanyak 2 kali sehari. Keadaan ini menyebabkan kebutuhan pakan baik pada perlakuan kepadatan rendah (75 ekor/m2) maupun
pada kepadatan tinggi (125 ekor/m2) tercukupi dan kualitas air terkendali dalam
Pada akuarium dengan rasio shelter rendah (0,5) ruang tempat penyebaran makanan lebih luas daripada akuairum dengan rasio shelter tinggi (1). Pada rasio
shelter 0,5 dan 1 ini lobster ternyata tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan makanan yang diberikan dengan segera, walaupun sifat agresif lobster pada kepadatan yang lebih tinggi lebih nyata. Hal ini direspon dengan pertumbuhan lobster yang relatif sama pada percobaan ini.
Produksi pada percobaan, merupakan gambaran kombinasi antara kelangsungan hidup dan pertumbuhan yakni selisih dari hasil kali antara jumlah lobster yang hidup dengan bobot rata-rata pada awal dan akhir selama 40 masa pemeliharaan. Berdasarkan percobaan, didapatkan produksi benih lobster air tawar Cherax quadricarinatus berkisar antara 10,63-16,30 gram. Bobot awal lobster air tawar yang ditebar pada awal percobaan berkisar 0,41 gram dengan panjang 2,61 cm, setelah dipelihara selama 40 hari menjadi 1,71 dengan panjang 4,03 cm.
Peningkatan padat penebaran hingga 125 ekor/m2 menghasilkan nilai
produksi yang relatif sama (p>0,05) (Lampiran 9). Hal ini karena kecenderungan penurunan tingkat kelangsungan hidup dan ukuran ikan yang relatif lebih kecil pada taraf percobaan ikan yang lebih tinggi. Pengurangan rasio shelter dari 1 hingga 0,5 pada percobaan juga menghasilkan pengaruh yang relatif sama terhadap produksi (p>0,05) (Lampiran 10). Hasil ini menunjukkan pertambahan biomasa lobster selama percobaan tidak dipengaruhi oleh jumlah shelter yang diberikan pada media pemeliharaan. Peningkatan padat penebaran akan meningkatkan produksi biomassa ikan hingga batas padat tebar tertentu, jika produksi sudah mencapai maksimal selanjutnya peningkatan padat penebaran akan menghasilkan nilai produksi yang relatif konstan, sesuai dengan daya dukung wadah
Efisiensi pakan pada dasarnya merupakan perbandingan antara pertambahan biomassa dengan jumlah pakan yang digunakan. Peningkatan kepadatan berpotensi menurunkan kualitas air pada wadah pemeliharaan sehingga nafsu makan ikan menurun. Pada akuarium dengan perlakuan kepadatan rendah (75 ekor/m2) hingga kepadatan tinggi (125 ekor/m2) lobster diduga tidak
mengalami penurunan konsumsi pakan, karena lingkungan yang ada pada wadah
13
pemeliharaan belum signifikan untuk membuat lobster mengalami strees hingga nafsu makannya menurun atau hilang. Lingkungan ini dapat dilihat dari nilai kualitas air terutama keberadaan kandungan oksigen dalam wadah produksi yang berkisar diatas 5 mg/l. Selain itu, keberadaan shelter baik pada rasio shelter
rendah (0,5) ataupun tinggi (1) juga tidak menyebabkan kualitas air dalam wadah pemeliharaan menurun hingga diluar toleransinya yang diakibatkan adanya pakan yang terselip diantara shelter tersebut. Pada percobaan, hal ini direspon dengan hasil analisis ragam yang relatif sama (p>0,05).
Kegiatan pergantian air dan penyiponan sisa makanan setiap hari serta keberadaan aerasi untuk meningkatkan kadar oksigen dalam air secara terus menerus menghasilkan kualitas air selama masa pemeliharaan masih berada dalam kisaran toleransi lobster air tawar untuk hidup maupun tumbuh. Menurut Boyd (1982) pergantian air dapat mengurangi muatan unsur hara dan mengencerkan konsentrasi amoniak dan nitrit, merupakan satu diantara teknik pengelolaan air yang paling efektif untuk melindungi ikan dari daya racun amoniak dan nitrit.
Kualitas air selama pemeliharaan berada dalam kisaran yang relatif optimum bagi pertumbuhan yakni dengan suhu berkisar 25,3-26,5oC (Lampiran
10). Menurut Mosigh (1998) suhu optimal pada pemeliharaan lobster berkisar antara 23-28oC. Menurut Watanabe (1988) suhu perairan yang optimal akan
memaksimumkan intake pakan dan menormalkan laju metabolisme tubuh.
Kandungan oksigen terlarut (DO) dalam perairan selama pemeliharaan masih layak dan dapat mendukung kehidupan lobster air tawar dengan kandungan oksigen terlarut berkisar antara 5,7-8.4 mg/l. Menurut Boyd (1982) kisaran nilai optimum oksigen terlarut bagi pertumbuhan krustasea adalah 5 mg/l, meskipun demikian kandungan oksigen terlarut 4,21-5,43 mg/l masih dapat memberikan pertumbuhan dan kelangsungan hidup yang baik. Selain itu, menurut Mosigh (1998) lobster air tawar dapat mentoleransi kandungan oksigen terlarut di air hingga 1 mg/l. Teknologi yang diterapkan (aerasi, penyiponan dan pergantian air) serta faktor suhu yang tidak berfluktuasi besar selama pemeliharaan mengakibatkan kandungan oksigen terlarut masih dalam keadaan optimal
Menurut The European Inland Fisheries Advisory Commision, kondisi toksik amoniak bagi ikan adalah 0,6-2 mg/l untuk kebanyakan spesies ikan (Boyd, 1982). Selain itu, menurut Mosigh (1998) lobster air tawar dapat mentoleransi amoniak pada kisaran 0,5 mg/l. Kandungan amoniak pada percobaan berkisar antara 0,000295 hingga 0,054004 mg/l, sehingga dapat dikatakan nilai kandungan amoniak masih berada dalam kadar toleransi bagi kehidupannya dan pertumbuhannya. Menurut Boyd (1982) di alam amoniak dapat berasal dari pupuk, kotoran ikan dan pelapukan mikrobial dari senyawa nitrogen. Penyiponan dan pergantian air cukup efektif menghilangkan kotoran yang merupakan sumber amoniak di air. Efek toksisitas amoniak dapat berkurang pada kadar oksigen tinggi.
Kandungan alkalinitas pada percobaan berkisar antara 19,96 hingga 72,97 mg/l CaCO3 mampu menyangga pH antara 7,033 hingga 8,633. Menurut Mosigh
(1998) lobster air tawar dapat hidup pada kisaran pH 6-9 dan memiliki kisaran optimum pada pH 7-8,5. Menurut Boyd (1982) jika perairan lebih asam dari pH 6,5 atau lebih basa daripada pH 9-9,5 untuk waktu lama, reproduksi dan pertumbuhan akan menurun serta akan memiliki pertumbuhan yang baik pada pH 6,5-9. Nilai alkalinitas yang ada dalam pemeliharaan masih dalam kisaran mencukupi bagi pertumbuhan lobster. Hasil percobaan menunjukkan penurunan pH diikuti dengan turunnya kandungan alkalinitas seiring dengan waktu pemeliharaan, hal ini diduga karena penerapan teknologi untuk penjagaan kualitas air dapat menurunkan konsentrasi buangan metabolit dan respirasi sehingga memungkinkan terjadinya peningkatan konsentrasi asam karbonat pada wadah pemeliharaan yang berakibat terjadinya penurunan pH. Nilai kesadahan pada penelitian ini berkisar antara 14,02 hingga 57,06 mg/l CaCO3, Menurut Boyd
(1982) air untuk budidaya perikanan perlu mengandung sejumlah kecil kalsium dan magnesium, tetapi jumlah yang perlu tampaknya berada diatas 20 mg/liter untuk berbagai jenis ikan. Selain itu, menurut Rouse (1997) lobster mengalami pertumbuhan terbaik pada kisaran alkalinitas dan kesadahan berkisar antara 20- 300 mg/l
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
15
5.1 Kesimpulan
Hasil percobaan menyimpulkan peningkatan padat penebaran lobster air tawar dari 75 ekor/m2 hingga 125 ekor/m2 pada rasio shelter 0,5 hingga 1
menghasilkan kelangsungan hidup, laju pertumbuhan bobot harian, pertumbuhan panjang mutlak, produksi dan efisiensi pakan yang relatif sama (p>0,05).
5.2 Saran
Dengan mempertimbangkan teknologi yang digunakan dan beberapa aspek produksi seperti dikemukakan diatas, maka untuk keperluan praktis disarankan pemeliharaan lobster menggunakan padat penebaran 75 ekor/m2
Akbar, D. 2007. Upaya Peningkatan Produktivitas Pendederan Lobster Air Tawar
Cherax quadricarinatus pada Berbagai Kepadatan dalam Akuarium Dengan Bidang Dua Lantai, Serta Penerapan Sistem Resirkulasi.
Skripsi. FPIK, IPB. Bogor.
Alleman. J.E. 1998. Free Ammonia-Nitrogen Calculator and Information. School of Civil Engineering. Purdue University. www.cobweb.ecn.purdue.edu/ piwc/w3research/freeammonia/nh3.html
[ 22 September 2008]
Boyd, C.E. 1982. Pengelolaan Kualitas Air dalam Budidaya Perikanan. Alih Bahasa: A.S. Sidik. 2001. Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan. Universitas Mulawarman. Samarinda.
Department of Primary Industries. (1989). Overview of Redclaw (Cherax quadricarinatus). Department of Primary Industries, Brisbane.
www.dpi.qld.gov.au/images/1858.gif [ 21 September 2008]
Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan.Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta Effendi, H. 2000. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan. Jurusan Manajemen Sumber daya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor
. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta.
Effendi, I. 2004. Pengantar Akuakultur. Penebar Swadaya. Jakarta.
Gasperz, V. 1991. Metode Perancangan Percobaan, Untuk Ilmu-Ilmu Pertanian, Ilmu-Ilmu Teknik, dan Biologi. Armico. Bandung
Hepher, B. and Y. Pruginin. 1981. Commercial Fish Farming With Special Reference to Fish Culture in Israel. John Willey and Sons, Inc. New York.
Holdich, D.M. and R.S. Lowery. 1998. Freshwater Cryfish: Biology Management and Exploitation. Croom Helms, London and Sydney And Timber Press, Portland Oregon
Huisman E.A. 1987. The Principles of Fish Culture Production. Deparment of Aquaculture, Wageningen University, The Netherland.
17
Irawan, D.Y. 2007. Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus) pada Sistem Resirkulasi Dengan Kepadatan Berbeda. Skripsi.FPIK, IPB.Bogor.
Iskandar. 2003. Budidaya Lobster Air Tawar. Penebar Swadaya. Jakarta
Jamal, M.Y. 2007. Pemberian 17α-Metil Testesteron Melalui Pakan dalam Produksi Populasi Monosex Jantan Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus). Skripsi.FPIK, IPB.Bogor
Kusmini, I.I., W. Hadie. dan E.P. Sianipar. 2005. Suhu Optimum Untuk Laju Pertumbuhan dan Sintasan Benih Lobster Air Tawar Cherax quadricarinatus. Vol.II; hal:67-72
Lukito, A. dan S. Prayugo. 2007. Panduan Lengkap Lobster Air Tawar, Pembenihan dan Pembesaran, Sumber Modal Usaha, Peluang dan Strategi Pasar, Analisis Usaha Pembenihan dan Pembesaran. Jakarta. Penebar Swadaya
Manurung, L.D. 2006. Pengaruh Posisi Shelter Terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Lobster Air Tawar Cherax quadricarinatus. Skripsi.
IPB, FPIK. Bogor
Matjik, A.A. dan I.M. Sumertajaya. 2006. Perancangan Percobaan dengan Aplikasi SAS dan Minitab. Bogor. IPB-Press.
Mosigh, J. 1998. The Australian Yabby Farmer. 2th edition. Austalia: Lanklink
Press.
Nilamsari, D. 2007. Pengaruh Padat Penebaran Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus). Skripsi. FPIK, IPB.Bogor
Rouse. D.B. 1997. Production of Red Claws Cryfish. Auburn University Alabama. UA. 11 Halaman.
Salmon, M. and G.W. Hyatt. 1983. Communication, The Biology of Crustacea. Vol.VII. Behaviour and Ecology. Academic Press. New York
Sofiandi, A. 2002. Pengaruh Perbedaan Shelter Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Udang Galah (Macrobrachium rosembergii de man) Skirpsi. FPIK, IPB.Bogor
Steel, R.G.D. and J.H. Torie. 1991. Prinsip dan Prosedur Statiska: Suatu Pendekatan Biometrik. Alih bahasa: B. Sumantri. Ed 2. Cet 2. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Sudjana. 2001. Metode Statiska: untuk bidang Biologi, Farmasi, Geologi,Industri, Kedokteran, Pendidikan, Psikolog, Sosiologi, Teknik, dll. Edisi ke-6. Bandung: Tarsito
Sukmajaya, Y. dan I. Suharjo. 2003. Lobster Air Tawar Komoditas Perikanan Prospektif. Agromedia Pustaka. Jakarta
Supono dan S. Hudaidah. 2007. Analisa Pertumbuhan dan Kelulusan Red Claw
Cherax quadricarinatus dengan Jenis Pakan yang Berbeda. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung
www digilib.unila.ac.id/files/disk1/27/laptunilappgdlres2008suponospi-.
1328-2007_lp_-1.pdf.i [ 21 September 2008]
Tanribali. 2007. Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus) pada Sistem Resirkulasi dengan Padat