Pada penalaran di kehidupan sehari-hari logika yang biasanya dipakai maupun pada penalaran ilmiah ialah logika dwinilai, dimana setiap pernyataan mempunyai dua kemungkinan nilai, yaitu benar atau salah dan tidak kedua-duanya.
2.7.1 Variabel dan Pengubah Linguistik
Suatu variabel adalah suatu lambang atau kata yang menunjuk kepada suatu yang tidak tertentu dalam semesta wacananya (Frans Susilo, 2006).
Untuk semesta yang anggota himpunannya merupakan bilangan-bilangan, maka variabel tersebut disebut variabel numeris, sedangkan yang anggota himpunannya berupa kata-kata atau istilah disebut variabel linguistik. Variabel linguistik adalah suatu interval numeric dan mempunyai nilai-nilai linguistik, yang semantiknya didefinisikan oleh fungsi keanggotaannya. Contoh : untuk suhu yang merupakan suatu variabel linguistik dapat didefinisikan pada interval [-5oC,35oC], dengan nilai linguistik seperti “Dingin”, “Hangat”, “Panas” yang semantiknya didefinisikan oleh fungsi-fungsi keanggotaan tertentu.
2.7.2 Himpunan Fuzzy
Sri Kusumadewi dan Hari Purnomo (2004) dalam bukunya menjelaskan bahwa dasarnya himpunan fuzzy adalah himpunan klasik (crisp), pada himpunan klasik A satu elemen akan memiliki 2 kemungkinan keanggotaan yaitu anggota A dinotasikan dengan µA(x). Pada himpunan klasik ada dua anggota yaitu µA(x) = 1 apabila x merupakan anggota A dan µA(x) = 0 apabila x bukan anggota A.
a. Variabel Fuzzy, merupakan variabel yang hendak dibahas dalam satu sistem fuzzy. Contoh : temperature, permintaan, dsb.
b. Himpunan Fuzzy, merupakan satu kelompok yang mewakili satu kondisi atau keadaan tertentu dalam satu variabel fuzzy. Contoh suhu terbagi menjadi 5 himpunan fuzzy, yaitu : Dingin, Sejuk, Normal, Hangat, dan Panas dapat dilihat pada gambar dibawah :
Gambar 2.5 Grafik Himpunan Fuzzy
c. Semesta Pembicaraan, merupakan keseluruhan nilai yang diperbolehkan untuk dioperasikan dalam satu variabel fuzzy. Semesta pembicaraan merupakan himpunan bilangan real yang senantiasa naik (bertambah) secara monoton dari kiri ke kanan. Nilai semesta pembicaraan dapat berupa bilangan positif dan negatif, adakalanya juga tidak memiliki batas. Contoh : Semesta pembicaraan untuk variabel umur [0 +∞] dan untuk variabel suhu [0 40].
2.7.3 Sistem Berbasis Aturan Fuzzy
a. Fuzzification, mengubah masukan-masukan yang bernilai kebenarannya bersifat tegas atau pasti (crisp input) ke dalam bentuk Fuzzy input, yang berupa nilai linguistik yang semantiknya ditentukan berdasarkan fungsi keanggotaan tertentu. b. Inference, yang bertugas untuk melakukan penalaran menggunakan fuzzy input dan
Fuzzy rule yang telah ditentukan sehingga menghasilkan Fuzzy output.
c. Deffuzzification, tahapan ini mengubah fuzzy output menjadi crisp value kembali berdasarkan fungsi keanggotaan yang telah ditentukan.
Gambar 2.6 Diagram Blok Sistem Berbasiskan Aturan Fuzzy
2.8 Peramalan
2.8.1 Pengertian Peramalan
Definisi peramalan menurut para ahli :
a. Peramalan merupakan prediksi nilai-nilai sebuah peubah berdasarkan kepada nilai yang diketahui dari variabel tersebut atau variabel yang berhubungan. Meramal
juga dapat didasarkan pada keahlian keputusan (judgement), yang pada gilirannya didasarkan pada data historis dan pengalaman (Makridakis et al., 1999, p24).
b. Peramalan adalah menduga atau memprediksi peristiwa yang akan datang atau terjadi di masa depan dan bertujuan untuk memperkecil resiko yang mungkin terjadi akibat keputusan yang kita ambil, dengan tidak menghilangkan secara penuh faktor-faktor ketidakpastian yang secara eksplisit diperhitungkan dalam perhitungan (Djauhari, 1986, p12).
c. Peramalan adalah sebuah teknik yang dapat digunakan untuk memprediksi trend bisnis dalam usaha membantu perencanaan pengambilan keputusan terbaik untuk kebutuhan masa depan berdasarkan data historik (Hanke et al.,2005,p1).
Jadi dapat disimpulkan bahwa peramalan adalah suatu kegiatan atau usaha untuk menduga atau memprediksi nilai di masa yang akan datang, dengan menggunakan data yang sebelumnya dan kemampuan prediksi ahli, sehingga dapat mengambil keputusan terbaik.
2.8.2 Jenis - Jenis Peramalan
Menurut Sofjan Assauri (2004), jenis-jenis peramalan berdasarkan sifatnya terbagi menjadi dalam 2 buah kategori, yaitu :
a. Teknik peramalan kuantitatif
Teknik peramalan kuantitatif adalah suatu metode peramalan yang dapat diterapkan apabila terdapat informasi atau data tentang masa lalu dan informasi atau tersebut dapat dikuantitatifkan serta informasi atau data tersebut dapat dianggap terus
menerus berlanjut dimasa yang akan datang. Teknik peramalan kuantitatif ini sendiri dapat dibagi menjadi 2 metode lagi, yaitu :
1) Metode deret berkala (time series)
Metode deret berkala memperhatikan serangkaian variabel yang diamati pada suatu interval ruang waktu.
2) Metode kausal atau eksplanatoris (regresi)
Metode kausal adalah suatu pemodelan dari variabel yang tak bebas Y (independent variable) sebagai fungsi dari sejumlah variabel bebas Xi sampai dengan Xk (dependent variable), metode ini juga digunakan bila ingin mengetahui seberapa kuat variabel-variabel X mempengaruhi variabel Y. b. Teknik peramalan kualitatif
Metode kualitatif atau dikenal juga sebagai metode teknologi digunakan apabila asumsi pola data konstan tidak dipenuhi (pola yang terdapat di dalam masa lalu tidak dapat dianggap berlanjut terus di masa yang akan datang), serta pula informasi atau data tentang masa lalu tidak dapat diperoleh atau bilamana ramalannya mengenai suatu masalah atau peristiwa tidak dapat diharapkan di masa mendatang.
Menurut Assauri (2004), pada umumnya peramalan dibedakan dari beberapa segi tergantung dari cara melihatnya. Berdasarkan sifat penyusunannya, maka peramalan dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu :
a. Peramalan yang subjektif, yaitu peramalan yang didasarkan atas perasaan atau intuisi dari orang yang menyusunnya. Dalam hal ini, pandangan dari orang yang menyusunnya sangat menentukan baik tidaknya hasil ramalan tersebut.
b. Peramalan yang objektif, adalah peramalan yang didasarkan atas data yang relevan pada masa lalu, dengan menggunakan teknik-teknik dan metode dalam penganalisaan data tersebut.
Menurut Heizer dan Render (2006), peramalan berdasarkan horizon waktu dapat dibedakan atas beberapa kategori, yaitu:
a. Peramalan jangka panjang, yaitu peramalan yang mencakup perencanaan dalam jangka waktu diatas 3 tahun atau lebih.
b. Peramalan jangka pendek, yaitu peramalan yang mencakup jangka waktu hingga 1 tahun tetapi umumnya tidak lebih dari 3 bulan.
c. Peramalan jangkah menengah, yaitu peramalan yang mencakup batas 3 tahun.
2.8.3 Langkah-Langkah Peramalan
Peramalan terdiri dari beberapa langkah dasar. Haming dan Nurnajamuddin (2007, p139) merumuskan tujuh langkah untuk memulai, mendesain dan menerapkan sistem peramalan. Apabila sistem tersebut digunakan untuk menghasilkan ramalan berkala, maka data harus dikumpulkan secara rutin. Tujuh teknik peramalan tersebut yaitu :
a. Menetapkan tujuan peramalan b. Memilih unsure apa yang diramal c. Menentukan horizon waktu peramalan d. Memilih tipe model peramalan
e. Mengumpulkan data yang diperlukan untuk melakukan peramalan f. Membuat peramalan
g. Memvalidasi dan menerapkan hasil peramalan
2.8.4 Pemilihan Teknik dan Metode
Menurut Hanke et al., (2005, p74), untuk memilih teknik peramalan yang tepat secara benar, seorang peramal harus mampu untuk :
a. Mendefinisikan sifat dari masalah yang diramalkan. b. Menjelaskan sifat data/pola data yang digunakan.
c. Menjelaskan kelebihan dan keterbatasan teknik peramalan yang digunakan. d. Menentukan beberapa kriteria dimana pemilihan keputusan dapat dibuat.
Faktor utama yang mempengaruhi pemilihan teknik peramalan adalah identifikasi dan pemahaman akan pola data histori. Jika pola-pola tersebut diketahui, maka teknik yang mampu digunakan secara efektif dipilih. Jenis-jenik pola data beserta teknik peramalan yang sesuai (Hanke et al., 2005, p75) :
a. Teknik peramalan untuk data yang stasioner
Suatu data deret waktu ini, merupakan suatu serial data yang nilai rata-ratanya tidak berubah sepanjang waktu.
b. Teknik peramalan untuk data yang trend
Suatu data deret waktu yang menunjukkan pertumbuhan dan penurunan dalam data tersebut sepanjang suatu periode waktu jangka panjang.
Gambar 2.8 Grafik Data Trend
c. Teknik peramalan untuk data yang musiman
Data deret waktu ini mempunyai pola perubahan yang berulang secara tahunan / juga bulanan, tergantung pada index musimannya.
Gambar 2.9 Grafik Data Musiman
d. Teknik peramalan untuk data yang siklus
Pola ini didefinisikan sebagai fluktuasi seperti gelombang disekitar garis trend. Pola ini cenderung berulang setiap dua, tiga tahun atau lebih. Pola siklus sulit untuk dibuat modelnya karena polanya tidak stabil.
Gambar 2.10 Grafik Data Siklus
2.8.5 Ketepatan Metode Peramalan
Makridakis, et.al. (1999) menyatakan bahwa dalam banyak hal, kata ”ketepatan” (accuracy), tapi pada akhirnya menunjukkan seberapa model peramalan tersebut mampu memperoleh data yang telah diketahui. Makridakis, et,al. (1999) mempunyai beberapa ukuran statistik standar untuk mengukur ketepatan hasil peramalan. Ukuran berikut menunjukkan pencocokan suatu model terhadap data historis. Jika terdapat nilai pengamatan dan ramalan untuk n periode waktu, maka akan terdapat n buah galat dan ukuran statistik standar berikut yang dapat didefinisikan sebagai berikut (Makridakis, et.al., 1999, p61):
Nilai Tengah Galat Absolut (Mean Absolute Error) MAE = 1 | |
1
∑
= n i i e nNilai Tengah Galat Kuadrat (Mean Squared Error) MSE = n e n i i / 1 2
∑
=Galat Persentase (Percentage Error) PE = | |x100% X F X i i i −
Nilai Tengah Galat Persentase Absolut MAPE = 1 | |
1
∑
= n i i PE ni i
i X F
e = −
dimana :
e = galat untuk periode ke-i. Xi = data aktual untuk periode ke-i Fi = ramalan untuk periode ke-i.
2.9 Mata Uang
Sebelum manusia menggunakan uang ataupun alat pertukaran lainnya, manusia memenuhi semua kebutuhan dari alam. Setelah sumber daya alam habis, manusia berpindah dan mencari sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhannya. Pada peradaban kuno, manusia mulai menukar barang miliknya dengan milik orang lain, pertukaran ini yang disebut barter. Setelah manusia menguasai penggunaan tulisan dan huruf, uang mulai digunakan. Beberapa wilayah maupun Negara memiliki mata uang yang sama, tetapi ada juga yang berbeda. Mata uang menjadi alat pembayaran pada transaksi ekonomi yang digunakan di suatu negara. Mata uang Negara Indonesia adalah rupiah dan mata uang Negara Amerika adalah dolar Amerika.
2.9.1 Rupiah
Perkataan “rupiah” berasal dari perkataan “Rupee”, satuan mata uang india. Indonesia telah menggunakan mata uang Gulden Belanda dari tahun 1610 hingga 1817. Setelah tahun 1817, dikenalkan mata uang Gulden Hindia-Belanda. Mata uang rupiah pertama kali diperkenalkan secara resmi pada waktu pendudukan Jepang waktu Perang Dunia ke-2, dengan nama rupiah Hindia Belanda. Setelah berakhirnya perang, Bank
Jawa (Javaans Bank, selanjutnya menjadi Bank Indonesia) memperkenalkan mata uang Rupiah Jawa sebagai pengganti. Mata uang Gulden NICA yang dibuat oleh sekutu dan beberapa mata uang yang dicetak kumpulan gerilya juga berlaku pada masa itu.
Pada tanggal 2 November 1949 merupakan hari ditetapkannya rupiah sebagai mata uang resmi Negara Indonesia dan mata uang rupiah dicetak serta diatur penggunaannya oleh Bank Indonesia.
2.9.2 Dolar Amerika
Mata uang Amerika Serikat bermula pada tahun 1960 sebelum kelahiran Negara Amerika, ketika wilayah masih terbagi-bagi dalam koloni. Koloni Massachussetts Bay menggunakan catatan kertas untuk ekspedisi militer. Setelah perkenalkan mata uang kertas di Massachusetts, koloni lainnya dengan cepat mengikuti. Namun, mata uang tidak berlangsung lama karena ada dukungan finansial yang cukup dan catatan kertas itu mudah dipalsukan.
Pihak kongres kemudian mendirikan bank nasional pertama di Philadelphia – the Bank of North America, untuk membantu pengaturan uang pemerintahan. Dolar terpilih menjadi mata uang Amerika Serikat pada tahun 1785. Pada saat ini, penerbitan uang dolar Amerika dikendalikan oleh perbankan Federal Reserve.
2.10 Pelaku yang Berperan
Berikut ini adalah para pelaku yang berperan penting : a. Bank Indonesia
Fungsi Bank Indonesia dalam pasar valuta asing umumnya sebagai stabilator nilai tukar mata uang lokal. Tujuan dan Tugas Bank Indonesia yaitu mencapai dan
memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain.
b. Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek kedua tercermin pada perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain. Perumusan tujuan tunggal ini dimaksudkan untuk memperjelas sasaran yang harus dicapai Bank Indonesia serta batas-batas tanggung jawabnya. Dengan demikian tercapai atau tidaknya tujuan Bank Indonesia ini kelak akan dapat diukur dengan mudah.
c. Perusahaan atau individu
Perusahaan atau individu memanfaatkan pasar valuta asing untuk memperlancar bisnisnya. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah eksportir, importir, investor internasional, perusahaan multinasional, dan sebagainya.
d. Spekulan dan Arbitrator
Spekulan dan arbitrator bertindah atas kehendak mereka sendiri untuk mendapat keuntungan dari perubahan atau fluktuasi harga umum (capital gain).
e. Dealer
Biasanya yang bertindak sebagai dealer adalah pihak Bank, meskipun ada juga beberapa dari non-bank. Mereka mendapatkan keuntungan dari selisi hara jual dan harga beli valuta asing.
Pialang bertindak sebagai perantara yang mempertemukan penawaran dan permintaan terhadap mata uang tertentu.
2.11 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kurs Valuta Asing
Secara umum, faktor yang mempengaruhi nilai kurs valuta asing (Hady, 1997) adalah sebagai berikut :
a. Permintaan dan penawaran valuta asing
Sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran, harga valuta asing dapat menjadi lebih mahal dari nilai nominalnya bila permintaan melebihi jumlah yang ditawarkan sedangkan penawaran berkurang, begitu pula sebaliknya.
b. Tingkat inflasi
Tingginya angka inflasi yang terjadi pada suatu negara mengindikasikan mahalnya harga barang (tertentu) di negara tersebut.
c. Tingkat suku bunga
Isu mengenai tingginya tingkat bunga dapat menarik para spekulan uang untuk memanfaatkan selisih nilai bunga pinjaman dan simpanan. Ketika mata uang asing masuk ke suatu negara dalam jumlah banyak, permintaan mata uang lokal akan makin tinggi sehingga nilai mata uang lokal akan naik, sedangkan nilai mata uang asing relatif akan menurun.
d. Tingkat pendapatan dan produksi
Makin besar nilai barang yang diimpor, makin besar juga permintaan mata uang asing tersebut sehingga harganya relatif naik dari harga semula terhadap mata uang lokal.
Cadangan devisa adalah total valuta asing yang dimiliki oleh pemerintah dan swasta dari suatu negara. Cadangan devisa yang bernilai positif mengindikasikan bahwa penawaran mata uang asing lebih besar daripada permintaannya, sehingga nilai mata uang lokal menguat, begitu juga sebaliknya.
f. Pengawasan pemerintah
Cara yang sering dilakukan pemerintah dalam mengawasi nilai mata uangnya yaitu dengan cara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Kebijakan fiskal dilakukan dengan cara menaikkan nilai pajak, mengetatkan belanja negara, dan sebagainya dengan tujuan jumlah mata uang lokal makin sedikit. Kebijakan moneter biasanya berupa pengetatan uang beredar (atau sebaliknya), menaikkan atau menurunkan tingkat suku bunga, dan sebagainya.
g. Perkiraan / spekulasi
Perkiraan, terutama dari orang-orang yang dianggap berpengalaman dalam bidang perdagangan uang dan bidang politik, apabila sifatnya positif bagi negara yang bersangkutan, kemungkinan besar menyebabkan naiknya permintaan uang lokal dari negara tersebut.