• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa Biangloe Kecamatan Pa’jukukang Kabupaten Bantaeng. Waktu penelitian dilaksanakan selama dua bulan, yakni mulai dari Agustus sampai September 2014.

3.2 Teknik Pengumpulan Sampel

Populasi dari penelitian ini berjumlah 120 orang, jika populasi lebih dari 100 orang maka ditarik sampel sebesar 15% yang seharusnya diperoleh 18 orang responden. Penarikan responden dilakukan secara acak sederhana atau (simple random sampling).

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan cara : 1. Observasi

Pengumpulan data dengan melakukan serangkaian wawancara langsung terhadap para petani dengan menggunakan daftar pertanyaan (Quisioner).

2. Wawancara

Pengumpulan data dengan cara mengamati secara langsung keadaan responden dan keadaan yang terjadi didaerah penelitian.

3. Dokumentasi

Pengumpulan data penelusuran data–data dengan melalui dokumentasi dari instansi – instansi terkait, buku – buku, karya ilmiah dan sumber lain yang relevan dengan penelitian.

3.4 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang diambil dalam penelitian ini terbagi atas 2(dua) jenis, yaitu data sekunder dan data primer.

1. Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari obyek penelitian atau hasil wawancara langsung dari petani yang meliputi umur petani, pendidikan, pengalaman bertani, luas lahan, jumlah pendapatan dan produksi.

2. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari instansi-instansi terkait seperti balai penyuluhan pertanian, kantor desa, kantor camat, petugas penyuluhan pertanian ataupun browsing internet.

3.5 Analisa Data

Data yang diperoleh melalui wawancara dan teknik dengan cara deskriptif kualitatif. Proses analisis dimulai sejak awal penelitian hingga akhir penulisan laporan. Adapun tahap yang ditempuh adalah seluruh data yang diperoleh kemudian diklasifikasikan berdasarkan kategori-kategorinya kemudian mencari hubungan-hubungan dengan kategori yang lain agar tergambar suatu bentuk penerapan metode persuasif dalam komunikasi penyuluhan pertanian di Desa Biangloe Kecamatan Pa’jukukang Kabupaten Bantaeng.

3.5 Definisi Operasional

1. Persuasif adalah suatu komunikasi yang bertujuan untuk melakukan pendekatan kepada petani yang mempunyai tujuan khusus dan terarah untuk mengubah perilaku petani sebagai sasaran komunikasi, di Desa Biangloe Kecamatan Pa’jukukan Kabupaten Bantaeng.

2. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi atau pesan, gagasan-gagasan, harapan-harapan, dan perasaan-perasaan dibidang pertanian yang berasal dari aparat pertanian (sebagai sumber/source) kepada para petani dan keluarganya (sampai penerima/receiver) yang berlangsung dengan menggunakan lambing tertentu seiring dengan metode penyuluhan pertanian, di Desa Biangloe Kecamatan Pa’jukukang Kabupaten Bantaeng.

3. Penyuluhan pertanian adalah upaya pemberdayaan petani dan keluarganya beserta masyarakat pelaku agribisnis melalui kegiatan pendidikan non formal dibidang pertanian ,agar mampu menolong dirinya sendiri baik dibidang ekonomi, social maupun politik, sehingga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka dapat dicapai di Desa Biangloe Kecamatan Pa’jukukang Kabupaten Bantaeng.

4. Petani adalah seseorang yang bergerak di bidang bisnis pertanian utamanya dengan cara melakukan pengelolaan tanah dengan tujuan untuk menumbuhkan dan memelihara tanaman (seperti padi, bunga, buah dan lain lain), dengan harapan untuk memperoleh hasil dari tanaman tersebut untuk di gunakan sendiri ataupun menjualnya kepada orang lain di Desa Biangloe Kecamatan Pa’jukukang Kabupaten Bantaeng.

5. Penyuluh Petani adalah suatu usaha atau upaya seseorang untuk mengubah perilaku petani dan keluarganya, agar mereka mengetahui dan mempunyai kemauan serta mampu memecahkan masalahnya sendiri dalam usaha atau kegiatan-kegiatan meningkatkan hasil usahanya dan tingkat kehidupannya di Desa Biangloe Kecamatan Pa’jukukang Kabupaten Bantaeng.

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Kondisi Geografis 4.1.1 Keadaan Wilayah

Desa Bingloe adalah salah satu desa di Kecamatan Pa'jukukang Kabupaten Bantaeng yang berjarak kurang lebih 8 Km, jarak dari Ibu Kota Provinsi 137 km dan berada di sebelah utara Ibu kota Kabupaten Bantaeng, serta kurang lebih 7 Km dari desa Nipa-Nipa yang merupakan Ibu Kota Kecamatan Pa'jukukang. Luas wilayah desa Biangloe 2,436,667 km2, dengan batas wilayah sebagai berikut :

 Sebelah Utara : berbatasan dengan desa Barua (Kecamatan Eremerasa).

 Sebelah Timur : berbatasan dengan desa Batu Karaeng dan Kelurahan Tanah Loe.

 Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kelurahan Lamalaka (Kecamatan Bantaeng).

 Sebelah Barat : berbatasan dengan desa Ulu Galung dan desa Lonrong.

4.1.2 Topografi Desa

Desa Biangloe memiliki kondisi daerah yang dari dataran rendah sampai dataran tinggi dengan ketinggian 50 meter . Dengan kondisi lahan yang bergelombang dan berbatu, jenis tanah alpisol dengan struktur tanah remah gumpal bertekstur lempung, lit dan berpasir.

Kondisi tanah di desa ini cukup subur untuk ditanami berbagai jenis tanaman baik tanaman holtikultura maupun tanaman jangka panjang. Potensi

pengairan di desa Biangloe cukup bagus sehingga daerah ini dianggap sangat cocok untuk persawahan dan perkebunan.

4.1.3 Potensi Wilayah

1. Penggunaan Lahan

Luas wilayah desa Biangloe terbagi atas lahan persawahan dengan luas 196 Ha, luas lahan kering 193 Ha, perkebunan 251 Ha, pekarangan 3,27 Ha.

Tabel 1 . luas wilayah Desa Biangloe menurut penggunaannya yaitu:

No Penggunaan Lahan Luas

(Ha) Persentase

(%) 1. Lahan Sawah

-1/2Teknis 196 30

2. Lahan Kering

- Pemukiman 38,4 6

- Pekarangan 3,27 1

- Tegalan / lading 151,33 24

3. Perkebunan 251 39

Total 640 100,00

Sumber : BP3K Kecamatan Pa’jukukang 2013-2014

Tabel 1 menunjukkan bahwa luas wilayah penduduk Desa Biangloe diklasifikasikan berdasarkan lahan sawah yaitu teknis 196 ha atau 30%, lahan kering yaitu pemukiman 38,4 atau 6%, pekarangan 3,27 atau 1%, tegalan/ lading 151,33 atau 24%, dan perkebunan 251 atau 39%.

4.2 Keadaan Penduduk

Penduduk merupakan faktor penentu terbentuknya suatu negara atau wilayah dan sekaligus sebagai modal utama suatu negara dikatakan berkembang atau maju, bahkan suksesnya pembangunan disegala bidang dalam negara tidak bias terlepas dari peran penduduk, bak dalam bidang social, ekonomi, politik, budaya, dan pendidikan, sebagai faktor utama dalam pembangunan fisik maupun non fisik. Oleh karena kehadiran dan peranannya sangat menentukan bagi perkembangan suatu wilayah, baik dalam skala kecil maupun besar.

Jumlah penduduk di Desa Biangloe yaitu berjumlah 2.317 jiwa yang terdiri dari laki- laki sebanyak 1.108 jiwa dan perempuan sebanyak 1.209 jiwa yang tersebar dalam 4 dusun dengan perincian dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Jumlah Penduduk berdasarkan jenis kelamin

D u s u n Jenis kelamin

Sumber : Data Monografi Desa, 2013

Keadaan penduduk Desa Biangloe masih sangat potensial untuk mengembangkan berbagai jenis usaha dalam bidang karena masih didominasi oleh usia produktif.

4.2.1. Kedaan Penduduk Berdasarkan Tingkat Umur

Umur sangat mempengaruhi aktifitas seseorang karena dikaitkan langsung dengan fisik, mental, dan cara fikir responden, sehingga berhubungan erat dengan pengambilan keputusan dan berperan dalam merubah metode – metode dalam mengerjakan usahanya sehingga usaha yang dihasilkan akan lebih produktif. Pada umumnya petani yang berumur muda dan sehat lebih cepat menerima informasi atau inovasi baru yang dianjurkan dibandingkan dengan petani yang berumur tua.

Tabel 3 . Jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur

NO Penduduk menurut kelompok

Sumber : Data Monografi Desa, 2013

Dari tabel 3 menggambarkan bahwa desa Biangloe memiliki jumlah penduduk 2.317 jiwa yang terdiri atas 667 KK dengan perbandingan Jiwa penduduk dari semua tingkatan usia laki-laki 1108 orang dan perempuan 1209 orang.

4.2.2. Keadaan Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Kemampuan seseorang dalam berusahatani maupun ikut dalam kegiatan di lingkungan sekelilingnya sebagian ditentukan oleh pendidikannya, baik yang bersifat formal maupun nonformal. Tingkat pendidikan pada umumnya dapat berpengaruh terhadap pengetahuan seseorang. Oleh karena itu, data penduduk berdasarkan tingkat pendidikan merupakan hal yang cukup penting diketahui.

Tingkat pendidikan formal petani merupakan salah satu faktor penting khusus dalam menerapkan metode perorangan. Pendidikan juga dapat mempengaruhi pola piker seseorang dalam mengambil keputusan. Dimana semakin tinggi tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh responden, semakin tinggi pula tingkat partisipasi responden. Data penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di desa Biangloe dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan

Tingkat Pendidikan Warga Jumlah Persentase

( % )

4.2.3 Keadaan Pennduduk Berdasarkan Mata Pencaharian

Mata pencaharian merupakan hal yang sangat penting bagi manusia, karena tanpa pekerjaan kita akan mengalami kesulitan dalam hidup kita. Mata pencaharian merupakan aktivitas manusia untuk memperoleh taraf hidup yang layak dimana antara daerah yang satu daerah yang lainnya berbeda sesua dengan taraf kemampuan penduduk dan keadaan demografinya. Mata pencaharian adalah keseluruhan kegiatan untuk mengeksploitasi dan memanfaatkan sember-sumber daya yang ada pada lingkungan fisik, sosial, dan budaya yang terwujud sebagai kegiatan produksi, distribusi, dan komsumsi.

Penduduk desa Biangloe didominasi oleh petani sawah maupun petani yang lainnya, hal ini disebabkan karena keadaan lokasi desa tersebut mayoritas wilayah pesisir dan persawahan sehingga memungkinkan penduduknya bekerja sebagai petani. Keadaan penduduk desa Biangloe berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian

No Jenis Pekerjaan Jumlah (jiwa) Persentase

(%)

Sumber : Data Potensi Desa Biangloe, 2013

Table 5 menunujukkan bahwa jumlah penduduk yang terdata memiliki pekerjaan tetap sebanyak 1.625 kepala rumah tangga, yang terdiri dari petani 1432 orang atau 89,00%, peternak 70 orang atau 4,00%, pedagang 31 orang atau 2,00%, tukang bengkel 9 orang atau 1,00%, PNS 27 orang atau 1,00%, sopir ojek 48 orang atau 2,00%, dan pegawai swasta atau honorer 8 orang atau 1,00%, karena sumber daya alam petani lebih dominan untuk bekerja di bidang pertanian.

4.3 Perekonomian Masyarakat Desa Biangloe 4.3.1 Sumber Mata Pencaharian

Berdasarkan hasil penjajakan diketahui bahwa jenis-jenis mata pencaharian pokok dan sampingan yang ada di desa Biangloe adalah memiliki pekerjaan pokok yaitu pegawai negeri sipil (PNS), petani, pedagang, peternak,

tukang kayu dan tukang batu, buruh, bengkel, tukang ojek, sopir, penambang pasir dan penjual barang campuran (Ga'de).(sesuai PKM), sebagian warga yang merantau keluar daerah bahkan keluar negeri untuk mencari nafkah.

Khusus untuk potensi sumber daya alam ada beberapa hal yang sangat mendukung pendapatan masyarakat yakni:

1. Pertanian

a. Tanaman Padi b. Tanaman Jagung c. Tanaman Kakao d. Tanaman Cengkeh e. Tanaman Jambu Mente f. Tanaman Kapuk

2. Peternakan a. Sapi

b. Ternak Kuda c. Kambing d. Ayam 3. Perikanan

Untuk sektor perikanan, masyarakat memanfaatkan air tawar untuk budidaya ikan air tawar (ikan Lele).Usaha ini belum menjadi usaha pokok bagi masyarakat, padahal air cukup tersedia di desa. Hal tersebut disebabkan kurangnya keterampilan serta modal untuk mengembangkan usaha budidaya

tersebut, sehingga masyarakat berharap ada pihak-pihak yang dapat memberi perhatian menyangkut pengembangan usaha tersebut.

4.3.2 Tingkat Kesejahteraan

Pada dasarnya masyarakat Desa Biangloe kaya akan sumber daya alam, namun akses dan kontrol terhadap sumber daya tidak merata kepada semua warga sehingga banyak yang hanya sebagai petani patesang, petani patesang tidak dapat memperbaiki taraf hidupnya karna akses dan kontrol berada pada tuan tanah, selain daripada itu kurang tersedianya lapangan kerja yang layak untuk usia angkatan kerja menyebabkan banyaknya pengagguran, hal tersebut sangat berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Tabel 4 berikut digambarkan tingkat kesejahteraan kepala keluarga sesuai hasil sensus.

Tabel 6. Tingkat Kesejahteraan Kepala Keluarga Desa Biangloe

Nama Dusun

Jumlah KK sesuai Tingkat Kesejahteraan

Jumlah

Jumlah Total 23 141 263 133 560

Persentase

(%) 4,11% 25,18% 46,96% 23,75% 100,00%

Sumber data :Staf Desa, Tahun 2013-2014

Tabel 8, menggambarkan bahwa jumlah tingkat kesejahteraan yang paling dominan adalah kategori miskin dengan jumlah 263 orang ( 46,96%), kategori sedang adalah 141 orang (25,18%), kategori sangat miskin adalah 133 orang (23,75%) dan yang paling terendah adalah kategori kaya dengan jumlah 23 orang (4,11%). dari data tersebut dapat diketahui bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat Desa Biangloe diatas diantaranya memiliki tingkat kesejahteraan rata-rata di bawah standar yang layak.

4.4 Sarana dan Prasarana Desa 4.4.1 Sarana Transportasi

Sarana transportasi yakni jalan desa tergolong sangat memadai karena 70

% telah di hotmix, selain jalan desa ada pula jalan dusun yang menuju ke desa lain, jalur ini juga dapat dilalui kendaraan dengan cukup lancar karena telah di aspal tenten, jalan yang masih berbatu ada sepanjang kurang lebih 1 KM yang terletak di Dusun Parangmuloroa sepanjang 700 meter dan dusun Landang sepanjang 500 meter. Sedangkan untuk jenis angkutan umum yang beroperasi di dalam desa ada dua macam yaitu pete-pete dan ojek:

1. Angkutan Pete-pete 2. Kendaraan Pribadi

Table 7. Sarana dan Prasarana Desa Biangloe

No sarana dan prasarana Unit

1

Data Potensi Desa Biangloe, 2013

Tabel 7 menunjukkan bahwa penggunaan traktor sebanyak 3 unit, handsprayer sebanyak 105 unit, pemipil jagung sebnyak 2 unit, penggilingan padi kecil sebanyak 3 unit, power trasher sebanyak 5 unit jadi total penggunaan semuanya sebanyak 1.625 unit.

4.4.2 Sarana Pendidikan

1. Kelompok bermain dan TK (PAUD), 2. TPA (Taman Pendidikan Alquran)

Di desa Biangloe terdapat 5 Taman Pendidikan Alquran dimana terdiri dari :

a. Nurul Amin santrinya 72, b. Ilmul Yatim 48 orang, c. Babul ikhtiar 26

d. Nurul hidayah 10 orang e. Nurussyam 59 santri 3. Sekolah Dasar

4. SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) 5. SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) 6. Perguruan Tinggi (Diploma dan Sarjana 4.4.3 Prasarana

1. Kesehatan a. Polindes

Polindes ada 1 buah dan terletak didusun pallantikang, Jarak polindes dari Kantor desa setengah Km dan dapat ditempuh dengan cara :

DI Dusun Landang naik ojek maupun naik mobil angkutan Di Dusun Parangmuloroa naik kendaraan umum

Di Dusun Ma’le’ro cukup dengan jalan kaki

Di Dusun Pallantikang cukup dengan jalan kaki sudah sampai ditempat tujuan .Untuk pelayanan kesehatan masyarakat di desa, polindes dikelola oleh 1 orang bidan desa dibantu oleh orang dukun terlatih serta 18 orang kader posyandu.

b.Posyandu

Sarana kesehatan lainnya adalah posyandu sebanyak4buah yang belum permanen (numpang dirumah warga) dan dikelolah oleh 1 orang bidan desa serta 18 orang kader posyandu.

2. Sanitasi

Lingkungan desa Biangloe belum memenuhi standar kesehatan yang layak karena sistem sanitasi yang ada masih konservatif dan tidak menjamin kebersihan lingkungan seperti misalnya:

a. Limbah Rumah Tangga

Sarana pembuangan sampah rumah tangga pada umumnya ditempatkan disembarang tempat.ini disebabkan kurangnya inisiatif masyarakat untuk membuat lubang sampah rumah tangga selain itu juga kurangnya perhatian dan pembinaan dari pihak terkait.

b. Jamban Keluarga

Pemahaman masyarakat dalam penggunaan jamban cukup bagus, namun tingkat kesadaran masyarakat untuk membuat jamban keluarga masih kurang.

3. Air Bersih

Pada umumnya masyarakat desa Biangloe sangat kaya akan sumber mata air. Di desa biangloe 90 %wilayah telah mengakses air bersih melalui perpipaan, pengurus yang dibentuk melalui bilamana ada kerusakan maka perbaikan dilakukan oleh di dusun bilamana ada kerusakan maka perbaikan dilakukan secara bergotong royong oleh masyarakat.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Identitas Responden

Identitas responden dari sampel penelitian adalah identitas petani yang menjadi anggota dan pengurus kelompok tani yang meliputi, umur, pendidikan formal, dan pengalaman petani dimana suatu proses penerapan komunikasi persuasif dalam penyuluhan pertanian yang dilakukan oleh seorang penyuluh pertanian meliputi sebagai berikut:

5.1.1 Umur Responden

Umur sangat mempengaruhi aktivitas seseorang karena dikaitkan langsung dengan kekuatan fisik dan mental, sehingga berhubungan erat dengan pengambilan keputusan. Responden yang berumur muda relatif cenderung mempunyai kemampuan fisik yang lebih baik dibandingkan dengan responden yang berumur tua. umur responden dapat dilihat pada Tabel 8 di bawah ini.

Tabel 8. Umur Responden di desa Biangloe Kecamatan Pa’jukukang Kabupaten Bantaeng

Umur (tahun) Jumlah (orang) Persentase (%)

17 – 21

Sumber: Data Primer setelah diolah, 2014

Tabel 8 menunjukkan bahwa umur responden yang terlibat dalam kegiatan penerapan metode persuasif dalam komunikasi penyuluhan pertanian , dimana umur 17 – 21 tahun sebanyak 1 orang atau 5,00 persen, 22 – 26 tahun sebanyak 2 orang atau 11,00 persen dan 27 – 31 tahun sebanyak 3 orang atau 17,00 persen, 32 – 36 tahun sebanyak 2 orang atau 11,00%, 37 – 41 tahun sebanyak 2 orang atau 11,00%, 42 – 46 tahun sebanyak 3 orang atau 17,00 persen, 47 – 51 tahun sebanyak 2 orang atau 11,00 persen, serta 52 – 55 tahun sebanyak 3 orang atau 17,00 persen. Hal ini menunjukkan bahwa responden dalam penelitian ini memiliki tingkat umur yang berbeda-beda dalam meningkatkan pengetahuan tentang penerapan metode persuasif dalam komunikasi penyuluhan pertanian.

Berdasarkan hasil tersebut, maka aktivitas petani jika dikaitkan dengan umur, dimana petani mampu menerima pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan kemampuannya dalam penerimaan informasi pengembangan tentang penerapan

metode persuasif dalam komunikasi penyuluhan pertanian pada usahatani padi di desa Biangloe Kecamatan Pa’jukukang Kabupaten Bantaeng.

5.1.2 Tingkat Pendidikan Responden

Pendidikan dapat mempengaruhi kemampuan petani. Semakin tinggi tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh responden, semakin tinggi pula tingkat partisipasi responden.Hasil penelitian yang telah diperoleh berdasarkan tingkat pendidikan disajikan pada Tabel 9.

Tabel 9. Tingkat Pendidikan Responden di Desa Biangloe Kecamatan Pa’jukukang Kabupaten Bantaeng

Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2014

Berdasarkan Tabel 9 terlihat bahwa pada umumnya petani memiliki pendidikan minimal sekolah dasar dengan jumlah 10 orang ( 56% ). Tingkat pendidikan yang relatif rendah tersebut mengidentifikasikan akan kemampuan dan pola pikir para petani responden yang masih rendah, sehingga sangat berpengaruh terhadap tingkat penerimaan metode penerapan persuasif dalam komunikasi penyuluhan pertanian.

5.1.3 Pengalaman Responden

Pengalaman merupakan faktor yang berperan dalam pengambilan keputusan. Pengalamam mempunyai pengaruh dalam melakukan pemeliharaan

lingkungan, responden yang berpengalaman akan lebih cepat menerapkan teknologi dan lebih responsif terhadap inovasi, karena itu kegiatan pengalaman selalu memberikan manfaat. Pengalaman responden disajikan pada Tabel 10 dibawah ini.

Tabel 10. Pengalaman Responden dalam Berusaha Tani dalam berusahatani padi di Desa Biangloe Kecamatan Pa’jukukang Kabupaten Bantaeng

Pengalaman Berusaha tani

(tahun) Jumlah (orang) Persentase (%)

4 – 10

Sumber : Data Primer setelah diolah 2014

Pada Tabel 10 menunjukkan bahwa pengalaman dalam berusahatani terdapat 1 orang (5%) responden memiliki pengalaman di atas 5 - 10 tahun dan 2 orang ( 11% ) memiliki pengalaman antara 11 – 16 tahun, 3 orang ( 17% ) memiliki pengalaman antara 17 – 22 tahun, 4 orang ( 22%) memiliki pengalaman antara 23 – 28 tahun, 3 orang ( 17% ) memiliki pengalaman antara 29 – 34 tahun, dan 5 orang ( 28% ) memiliki pengalaman antara 35 – 37 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa umumnya responden berpengalaman dalam berusahatani padi. Pengalaman berusahatani sangat erat hubungannya dengan keinginan peningkatan keterampilan petani dalam pengembangan usahataninya, karena semakin lama petani responden berusahatani padi, semakin besar pengetahuan dan

pertanian pada usahatani padi didesa Biangloe Kecamatan Pa’jukukang Kabupaten Bantaeng.

5.1.4 Luas Lahan

Lahan yang luas disertai pemanfaatkan secara optimal, tentunya akan memperoleh hasil yang lebih baik dengan sendirinya akan menyebabkan meningkatkan pendapatan petani.

Tabel 11. Luas Lahan Responden Petani didesa Biangloe Kecamatan Pa’jukukang Kabupaten Bantaeng

Luas lahan Jumlah (orang) Persentase (%)

0,25-0,88

Sumber : Data Primer Setelah Diolah , 2014

Pada Tabel 11 terlihat bahwa luas lahan dari petani responden menyebar 0,25 – 2,16 ha luas dominan pemilikan lahan 0,25 - 0,88 ha adalah 9 orang responden atau 50,00% dan 0,89 – 1,52 ha pemilikan lahan adalah 6 orang atau 33,00% serta 1,53 – 2,16 ha sebanyak 3 orang atau 17,00 %, luas yang sangat terbatas tersebut sangat membutuhkan tambahan informasi dan komunikasi dalam meningkatkan pengetahuan tentang peberapan metode persuasif dalam komunikasi penyuluhan pertanian pada usahatani padi dan dalam upaya peningkatan pendapatan.

5.1.5 Jumlah Tanggungan Keluarga

Penggambaran tentang jumlah tanggungan keluarga petani bertujuan untuk melihat seberapa besar tanggungan keluarga tersebut. Keluarga petani terdiri dari petani itu sendiri sebagai kepala keluarga, istri, anak dan tanggungan lainnya yang berstatus tinggal bersama dalam satu keluarga. Sebahagian besar petani dapat menggunakan tenaga kerja yang berasal dari anggota keluarga sendiri yang secara tidak langsung merupakan tanggung jawab kepala keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jumlah tanggungan keluarga petani responden dapat disajikan pada Tabel 12 berikut ini.

Tabel 12. Jumlah Anggota Keluarga Petani Responden didesa Biangloe Kecamatan Pa’jukukang Kabupaten Bantaeng

Anggota Keluarga Jumlah (orang) Persentase (%) 1 – 2

Sumber: Data primer setelah diolah, 2014.

Tabel 12 menunjukan bahwa Jumlah tanggungan keluarga petani responden antara 1 - 2 sebanyak 3 orang (17,00%) kemudian 3-4 sebanyak 5 orang (28,00 %) dan > 5 orang sebanyak 10 orang (55,00%). Hal ini menunjukkan tanggungan keluarga yang banyak mempengaruhi terhadap tingkat kesejahteraan keluarga dan untuk peningkatan produksi dalam memenuhi kebutuhannya, sehingga petani berusaha untuk menambah pendapatan dan pengetahuan dengan

cara mengetahui bagaimana penerapan metode persuasif dalam komunikasi penyuluhan pertanian pada usahatani padi.

5.2.3 Penerapan Metode Persuasif dalam Komunikasi Penyuluhan Pertanian pada Usahatani Padi didesa Biangloe Kecamatan Pa’jukukang Kabupaten Bantaeng

Komunikasi Persuasif adalah bentuk komunikasi yang mempunyai tujuan khusus dan terarah untuk mengubah perilaku komunikan sebagai sasaran komunikasi (Soleh Soemirat, H. Hidayat Satari, Asep Suryana 2007).

Di Desa Biangloe proses komunikasi persuasif, yang dilakukan oleh penyuluh dalam memfasilitasi sasaran (pelaku utama dan pelaku usaha) beserta keluarganya guna membantu mencari pemecahan masalah berkaitan dengan perbaikan dan pengembangan usahan mereka, komunikasi ini sifatnya mengajak dengan menyajikan alternatif-alternatif pemecahan masalah, namun keputusan tetap pada sasaran. Persuasif yaitu bertujuan untuk menggugah perasaan orang seperti senang dan tidak senang, suka dan tidak suka. Jadi berbeda dari jenis tujuan komunikasi yang pertama. Disini pendekatanya dari segi emosi dan bukan dari pendekatan pikiran.

Di Desa Biangloe dalam kegiatan penyuluhan pertanian dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani telah diterapkan 5 metode komunikasi persuasif :

1. Attention : Dalam hal komunikasi persuasif diawali dengan membangkitkan perhatian komunikan terhadap suatu objek. Banyak cara yang dapat dilakukan komunikan, misalnya dengan menggunakan kata-kata yang menarik, ilustrasi.

2. Endoser : lainnya untuk memperkuat perhatian.

3. Interest : Setelah komunikan telah berhasil membangkitkan perhatian komunikan selanjutnya perlu ditumbuhkan minat. Misalnya dengan memberi penjelasaan atau mengungkapkan kebutuhan komunikasi. Pada tahap ini komunikan perlu memunculkan hasrat. Salah satucara yang dapat dilakukan oleh komunikator adalah dengan membujuk komunikan.

4. Decision : Keputusan yang diharapkan akan dihasiilkan dari proses komunikasi.

5. Action : Tindakan yang diharapkan sesuai dengan maksud dan tujuan komunikan.

5.2.1 Penerapan Metode Persuasif dengan Metode Attention ( Membangkitkan Perhatian )

Proses komunikasi dengan metode attention dilakukan sepenuhya oleh penyuluh yang ada di Desa Biangloe, kegiatan ini lakukan pada saat proses penyuluhan sedang berlangsung. Berdasarakan hasil pengamatan di lapangan jumlah responden yang dapat lihat banyaknya responden yang menyukai atau setuju penyuluh berkomunikasi dengan metode komunikasi attention seperti pada Tabel 13.

Tabel 13. Metode Komunikasi Attention yang digunakan Penyuluh yang di

Tabel 13. Metode Komunikasi Attention yang digunakan Penyuluh yang di

Dokumen terkait