• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

B. Penyajian Data dan Analisis Data

Untuk mendapatkan informasi yang akurat dalam penelitian ini digunakan beberapa prosedur pengumpulan data yaitu observasi langsung, interview dan dokumenter sebagai alat untuk meraih data yang berkaitan atau dibutuhkan dalam penelitian. Usaha yang dilakukan adalah mengeksplorasi dan mengumpulkan data tentang bagaimana gambaran umum kegiatan yang ada di Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Kahyangan Jember Kebun Gunung Pasang.

1. Mekaisme perjanjian kerja di Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Kahyangan Jember Kebun Gunung Pasang

Untuk mengetahui mekanisme perjanjian kerja di Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Kahyangan Jember Kebun Gunung Pasang, diperlukan beberapa informan yang dapat memberikan informasi terkait dengan hal tersebut. Dimana perjanjian kerja yang dimaksutdkan adalah perjanjian kerja antara pekerja/buruh di PDP Kahyangan Jember kebun Gunung Pasang.

Awalnya peneliti melakukan wawancara tentang bagaimana perjanjian kerja dengan kepala kantor PDP Kahyang Jember Kebun Gunung Pasang di lokasi yang beralamat Jl. Tancak No.08 Desa Kemiri Kecamatan Panti Kabupaten Jember. Dilokasi tersebut peneliti bertemu

125 Dokumentasi, Panti Jember, 12 November 2018

dengan kepala kantor langsung menanyakan tertang bagaimana mekanisme perjanjian kerja di PDP Kahyang Jember Kebun Gunung Pasang. Dan keesokan harinya peneliti menanyakan hal serupa kepada para pekerja/buruh di PDP Kahyang Jember Kebun Gunung Pasang. Berikut informasi yang peneliti dapatkan saat wawancara mengenai perjanjian kerja.

Berikut pemaparan tentang perjanjian kerja yang ada di PDP Kahyang Jember Kebun Gunung Pasang Oleh bapak Suwartono selaku kepala kantor :

“Biasanya itu pada saat kebun membutuhkan pekerja, mandor biasanya ketika pagi mendatangi para pekerja dan mengumumkan bahwa sedang membutuhkan pekerja. Jadi para pekerja dikebun menyampaikan pada orang-orang yang butuh pekerjaan yang ada disekitarnya, lalu keesokan harinya siapapun yang ingin bekerja langsung bertemu mandor dan bisa langsung bekerja pada hari itu juga. Jadi perjanjian kerjanya secara lisan. Mandor hanya mencatat siapa nama pekerja tersebut. Dan kalau untuk pendaftaran pekerja tetap itu awalnya dulu berawal dari pekerja borongan atau harian.

Mereka harus nunggu dulu sekitar 5 sampai 10 tahun, karena masih nunggu pada tahun-tahun setelahnya ada pekerja yang pensiun maka pekerja tersebut dinaikkan menjadi pekerja tetap,jadi disesuaikanlah dengan kebutuhan perusahaan. ”126

Hal serupa juga disampaikan oleh bapak Ismail salah satu pekerja tetap sadapan karet di PDP Kahyangan Jember Kebun Gunung Pasang :

“kalau saya dek mau kerja awal dulu itu langsung datang ke mandor, kalau kebetulan mandornya gak ada jadi ke sinder (Kabag). Ya tinggal bilang kalau saya mau kerja nyadap karet. Jadi secara lisan aja setelah itu didata namanya ya langsung kerja gak usah pakek surat lamaran. Kalau untuk jadi pekerja tetap seperti saya itu masih nunggu lama, nunggu ada yang pensiun dulu baru dipilih jadi pekerja tetap”127

126 Suwartono, wawancara, Panti Jember, 12 November 2018

127 Ismail, wawancara, Panti Jember, 13 November 2018

Agar data yang lebih akurat, peneliti melakukan wawancara kembali dengan salah satu pekerja borongan atau harian lepas dan hal serupa juga disampaikan bapak Salim :

“saya baru 2 tahun bekerja disini dek, dulu cara daftar kerjanya ya langsung datang ke pak mandor, bilang kalau saya mau kerja nyadap karet. Besoknya saya langsung kerja. Jadi gak ada kontrak kerja atau perjanjian sebagaimana seharusnya, kalo misal mau berhenti ya tinggal berhenti aja tapi harus laporan dulu”128

Agar mendapat data yang lebih akurat lagi, peneliti melakukan wawancara kembali dengan salahsatu pekerja tetap yang berbeda dan hal serupa juga disampaikan bapak Usman :

“kalau disini dek gak ada yang namanya kontrak kerja untuk para pekerja yang dikebun. Kalau mau kerja ya tinggal bilang saja ke mandornya, jadi ya secara lisan saja. Jadi gak ditentukan kerjanya sampai kapan. Pokok ya kita kerja aja, Cuma didata namanya.

Kalau mau jadi pekerja tetap kayak saya ini ya lama nunggunya baru diangkat sama kantor ”129

Dari apa yang disampaikan bapak Suwartono, bapak Ismail, Bapak Salim dan Bapak Usman tersebut diatas maka dapat kita ketahui bahwasannya di PDP Kahyang Jember Kebun Gunung Pasang perjanjian kerjanya menggunakan perjanjian secara lisan saja baik itu dengan pekerja tetap dan dengan pekerja borongan atau pekerja yang tidak bersifat tetap.

Dari pemaparan diatas mengenai perjanjian yang disepakati kedua belah pihak sudah sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 52 Ayat 1 yang menyebutkan syarat-syaratnya, bahwa perjanjian kerja dibuat atas dasar :

a. Kesepakatan kedua belah pihak;

128 Salim, wawancara, Panti Jember, 13 November 2018

129 Usman, wawancara, Panti Jember, 13 November 2018

b. Kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum;

c. Adanya pekerjaan yang diperjanjikan;

d. Pekerjaan yang diperjanjikan tidak boleh bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan, dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Sedangkan syarat perjanjian kerja untuk pekerja yang tidak tetap atau Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) Harus dibuat secara tertulis dengan mengguanakan bahasa indonesia dan huruf latin. Dan PDP Kahyang Jember Kebun Gunung Pasang tidak melaksanakannya Sedangkan, untuk syarat-syarat fomiil yang harus dipenuhi oleh suatu kesepakatan kerja tertulis seharusnya dilakukan dan dipenuhi yakni, Kesepakatan kerja waktu untuk waktu tertentu harus secara tertulis dan harus memuat identitas serta hak dan kewajiban para pihak sebagai berikut:

a. nama dan alamat Pengusaha atau Perusahaan;

b. nama, alamat, umur dan jenis kelamin pekerja;

c. jabatan atas jenis/macam pekerjaan;

d. besarnya upah serta cara pembayarannya;

e. hak dan kewajiban pekerja;

f. hak dan kewajiban pengusaha;

g. syarat-syarat kerjanya;

h. jangka waktu berlakunya kesepakatan kerja;

i. tempat atau lokasi kerja.

Untuk perjanjian kerja tetap atau Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT) yang mana waktu berlakunya tidak di tentukan.

Didalam Undang-undang ataupun perjanjian kerja waktu tidak tertentu dapat dibuat secara lisan maupun tulisan. Namun jika dalam perjanjian kerja waktu tidak tertentu jika dibuat secara lisan diatur pada pasal 63 ayat (1) Undang-undang Ketenagakerjaan yang berbunyi : "Dalam hal perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu dibuat secara lisan, maka pengusaha wajib membuat Surat Pengangkatan bagi pekerja/buruh yang bersangkutan". Dalam penyelenggaraan pembuatan perjanjian kerja, pada para pekerja tetap praktek pelaksanaannya menggunakan perjanjian kerja secara lisan maka sesuai dengan pasal 63 UUK maka perusahaan wajib membuat Surat Pengangkatan bagi pekerja/buruh yang bersangkutan.

Dalam Ketetapan Mentri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor:

KEP.100/MEN/VI/200 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT). Dalam Pasal 10 ayat 3 pada pasal tersebut dijelaskan bahwa “dalam hal pekerja/buruh bekerja 21 ( dua puluh satu) hari atau lebih selama 3 bulan berturut-turut atau lebih maka perjanjian kerjaharian lepas berubah menjadi PKWTT”. Sedangkan dari keterangan para pekerja baik yang tetap maupun harian lepas mereka sudah lama bekerja di sana tapi jika ingin bekerja menjadi pekerja tetap masih harus menunggu lama dan masih harus menunggu jika ada yang pensiun. Hal ini sudah jelas tidak sesuai dengan pasal 10 ayat 3 Ketetapan Mentri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Seharusnya mereka yang sudah

bekerja selama 3 bulan Berturut-turut diangkat menjadi pekerja Tetap atau PKWTT.

2. Penerapan Surat Pengangkatan Pekerja di Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Kahyangan Jember Kebun Gunung Pasang menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan?

Hubungan kerja antara perusahaan dan pekerja terjadi setelah adanya perjanjian Kerja. Dalam pasal 51 ayat (1) tertulis bahwa perjanjian kerja dapat dibuat secara tertulis atau lisan. Apabila perjanjian kerja dibuat secara tertulis maka harus dilaksanakan sesuai dengna peraturan undang-undang yang berlaku. Perjanjian yang dibuat tertulis harus memuat hak-hak serta kewajiban dari masing-masing pihak-hak yang harus dipenuhi serta tidak boleh dilanggar oleh kedua belah pihak, karena perjanjian kerja tertulis merupakan undang-undanng yang mengikat para pihak yang menandatangani. Dengan begitu dapat menjamin hak dan kewajiban para pihak. Sedangkan perjanjian kerja yang dibuat secara lisan tidak dapat dibuat sebagai pembuktian.

Namun perjanjian kerja waktu tidak tertentu dapat dibuat secara lisan maupun tulisan. Namun dalam perjanjian kerja waktu tidak tertentu jika dibuat secara lisan diatur pada pasal 63 ayat (1) Undang-undang Ketenagakerjaan yang berbunyi : "Dalam hal perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu dibuat secara lisan, maka pengusaha wajib membuat Surat Pengangkatan bagi pekerja/buruh yang bersangkutan".Surat pengangkatan

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Sekurang-kurangnya memuat keterangan :

a. Nama dan alamat pekerja/buruh b. Tanggal mulai bekerja

c. Jenis pekerjaan d. Besarnya upah.

Hal ini merupakan konsekuensi bagi jaminan hak karyawan dan kewajiban suatu perusahaan yang memperkerjakan, khususnya bagi karyawan dan perusahaan yang melakukan kesepakatan menjalin hubungan kerja berdasarkan PKWTT. Karyawan harus mendapat jaminan hukum yang bersifat tetap untuk menjalankan pekerjaannya, sebagaimana syarat ketentuan dalam legislasi ketenagakerjaan yang menyebutkan kondisi tidak tetap maksimal hanya berada dalam jangka waktu 3 bulan lamanya.

Peneliti melakukan wawancara tentang dilokasi yang sama, tentang adanya surat pengangkatan kerja yang ada di PDP Kahyangan Jember Kebun Gunung Pasang serta hak-hak dan kewajiban yang diterima oleh para pekerja.

Berikut pemaparan bapak Suwartono selaku kepala kantor di PDP Kahyang Jember Kebun Gunung Pasang tentang surat pengangkatan kerja serta hak-hak dan kewajiban yang diterima oleh para pekerja :

“Kalau surat pengangkatan untuk pekerja tetapdisi ada (sembari memberikan arsip suratpengangkatan kerja yang ada). Kalau hak dan kewajiban kerja seperti BPJS Kesehatan itu ada kita membuatkan untuk para pekerja baik itu pekerja borongan atau

lepas dan pekerja tetap. Kalau Untuk BPJS Ketenagakerjaan masih hanya untuk pekerja tetap sementara ini, sedangkan untuk pekerja borongan atau lepas, kami masih akan di buatkan BPJS Ketenagakerjaan. Tapi jika suatu saat jika terjadi kecelakaan kerja pada pekerja borongan tersebut maka perusahaanlah yang akan menanggung semua biaya pengobatan 100%.”

”Sedangkan pemberian untuk upah yang diterima pekerja borongan dan pekerja tetap disamakan yaitu 2 minggu sekali atau15 hari, dan upahnyapun sesuai dengan karet yang dihasilkan ,misalkan pada hari ini sipekerja mendapatkan karet 3 kg maka hasilnya akan dikalikan dengan harga karet pada saat itu. Jadi 3 kg x Rp.8200/kg

= Rp. 24.600. dan untuk pekerja tetap jika umurnya sudah mencapai 56 tahun mereka bisa berhenti sesuai pada surat pengangkatan. Mereka tidak mendapat pesangan melainkan mendapat pensiunan, maka setiap bulannya mereka akan menerima uang pensiunan dek. Berbeda dengan pekerja borongan mereka tidak mendapatkan uang pensiun melainkan uang tali asih sebagai tanda terimakasih tapi besar uang tali asih tidak ditentukan berapa hanya saja sesuai dengan kemampuan perusahaan. ”130

Surat pengankatan yang ditunjukkan kepada peneliti berisi NIP (Nomor Induk Pegawai), Nama Lengkap, Tempat tanggal lahir, pangkat, jabatan, tanggal dan masa kerja, gaji pokok, dan keterangan pendidikan, dll. Poin-poin dalam surat pengangkatan tersebut tidak sumuanya terisi, ada juga yang tidak terisi yaitu gaji pokok pekerja.

Hal serupa juga disampaikan oleh bapak Ismail salah satu pekerja tetap sadapan karet di PDP Kahyangan Jember Kebun Gunung Pasang :

“kalau surat pengangkatan itu biasanya orang kantor itu nyebutnya SK (Surat Keterangan) menjadi pekerja tetap. Tapi ada tidaknya dikantorsaya gak tau dek, saya aja gak pernah tau seperti apa bentuk SK nya jadi pekerja tetap. Yang saya tau saya diangkat jadi pekerja tetap oleh perusahaan. Kalau masalah BPJS Kesehatan saya dapat dek , itukan yang termasuk sama anak dan istri. Nah,, kalau BPJS Ketenagakerjaan saya bayar dek iurannya tiap bulannya tapi saya herannya setiap saya minta BPJS Ketenagakerjaan saya sama kantor ini tidak dikasih, alasannya takut hilang. Jadi saya gak tau

130 Suwartono, Wawancara, Panti Jember, 12 November 2018

bagaimana bentuk kartunya, apa warna hijau, merah atau biru saya gak pernah tau sama sekali.”

“kalau masalah upah saya dibayar 2 minggu sekali dek, tapi gaji saya tidak UMR dek seharusnya kan sesuai UMR, padahal saya ini pekerja tetap tapi gaji bayaran saya ini sama dengan yang borongan, jadi gaji saya ini tergantungan dengan berat karet yang saya hasilkan. Kalau terkai pensiun saya akan pensiun kalau sudah berumur 55 atau 56 tahun, jadi tiap bulannya saya dapat gaji”131 Agar data yang lebih akurat, peneliti melakukan wawancara kembali dengan salah satu pekerja borongan dan hal serupa juga disampaikan bapak Roni :

“kalau saya pekerja borongan dek gak ada surat pengangkatan kayak gitu, kok mau surat pengangkatan dek saya sudah kerja 2 tahun disini surat perjanjian kerja aja tidak ada, kalo perkerja kayak saya ini pokoknya kerja. Kalau BPJS Kesehatan saya dapat dek dari kantor, tapi kalau BPJS Ketenagakerjaan saya belom punya jadi kalau ada kecelakaan kerjakantor yang tanggung, tapi kata kantor untuk BPJS Ketenagakerjaan masih maudibuatkan.”

“kalau masalah upah sama dek kayak pak ismail, dibayarnya 2 minggu sekali. Gajinya tergantung yang kitahasilkan. Bedanya Cuma kalau pak ismail dapat pensiunan kalau saya dapat tali asih dari kantor kalau sudah berhenti. Kalau pak ismail minggu libur itu masih dapat gaji kalau tetep kerja gajinya dobel , kalau saya libur ya gak dapat gaji dek.”132

Agar data yang lebih akurat, peneliti melakukan wawancara kembali dengan salah satu pekerja tetap dan hal serupa juga disampaikan oleh bapak Usman :

“apa yang adek maksut itu SK jadi pekerja tetap? Kalau itu ada tapi saya tidak tau bentuknya. Tapi ya gitu dek lama yang mau jadi pekerja tetap berawal dari borongan dulu. Pokok saya diangkat jadi pekerja tetap sudah bersyukur dek, banyak teman saya yang belum jadi pekerja tetap, masih kerja jadi borongan. Kalau BPJS saya dapat dari kantor dek, dua-duanya malah, BPJS Kesehatan sama

131 Ismail, Wawancara, Panti Jember, 13 November 2018

132 Salim, wawancara, Panti Jember, 13 November 2018

BPJS Ketenagakerjaan. Tapi kalo BPJS Ketenagakerjaannya kantor yang pegang dek, takut hilang katanya kalau dikasihkan.”

“kalau gaji itu sama aja dek kayak yang borongan gak UMR, tergantung karet yang dihasilkan jadi gajinya ya gk tentu, di bayarnya dua minggu sekali. Kalau uang pensiun saya dapat dek kan sayapekerja tetap, saya pensiun besok kalau sudah berumur 56 tahun”133

Dari apa yang disampaikan bapak Suwartono, bapak Ismail, Bapak Salim dan Bapak Usman tersebut diatas maka dapat kita ketahui bahwasannya di PDP Kahyang Jember Kebun Gunung Pasang ada surat pengangkatan kerja untuk para pekerja namun menurut peneiliti kurang sesuai dengan undang-undang Ketenagakerjaan karena seperti yang telah kita ketahui dalam pasal 63 ayat (2) Undang-undang Ketenagakerjaan bahwasanya Surat pengangkatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Sekurang-kurangnya memuat keterangan :

a. Nama dan alamat pekerja/buruh b. Tanggal mulai bekerja

c. Jenis pekerjaan d. Besarnya upah.

Namun pada Surat Pengangkatan di PDP Kahyangan Jember Kebun Gunung Pasang tidak menyebutkan berapa Besaran upah yang diterima oleh pekerja. Mereka mendapatkan gaji yang sama dengan pekerja borongan, bisa dibilang upah yang diterima oleh semua pekerja tidak sesuai dengan upah minimum regional jadi gaji yang diterima tidak sesuai dengan apa yang diatur oleh Undang-Undang No 13 Tahun 2003 menyebutkan

133 Usman, wawancara, Panti Jember, 13 November 2018

setiap pekerjaan pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan (Pasal 88 ayat (1)).

Untuk maksud tersebut, pemerintah menetapkan kebijakan pengupahan untuk melindungi pekerja/buruh. Kebijakan pengupahan itu meliputi:

a. Upah minimum;

b. Upah kerja lembur;

c. Upah tidak masuk karena berhalangan;

d. Upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain di luar pekerjaannya;

e. Upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya;

f. Bentuk dan cara pembayaran upah;

g. Denda potongan upah;

h. Hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan upah;

i. Struktur dan skala pengupahan yang proposional;

j. Upah untuk pembayaran pesangon; dan k. Upah untuk perhitungan pajak penghasilan.

Seperti yang kita ketahui upah minimum adalah upah bulanan terendah yang terdiri dari upah pokok termasuk tunjangan tetap.134Besarnya upah minimum dapat berdasarkan pada wilayah provinsi/kabupaten atau berdasarkan sektor pada wilayah provinsi/kabupaten. Besarnya upah minimum untuk Kabupaten Jember pada tahun 2018 sebesar Rp.

134 Per-01/MEN/1999 Tentang Upah Minimum

1.916.983,99.135 Dan juga dalam Undang-undang Ketenagakeraan telah melarang membayar upah pekerja lebih rendah dari upah minimum, hal tersebut disebutkan dalam pasal 90 ayat (1) Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 yang berbunyi : “Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89.”

Sedangkan Rata-rata gaji yang didapatkan selama satu bulan adalah 5 x Rp.8.200,- x 30 Hari = Rp. 1.230.000,-

Jadi menurut peneliti Surat Pengangkatan Kerja di PDP Kahyangan Jember tidak Sesuai dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan terkait dengan Besaran Upah yang tidak dicantumkan dan upah yang diterima para pekerja tidak sesuai dengan UMR kabupaten Jember.

Surat Pengangkatan Kerja selain sebagai tanda prestasi kerja, surat pengangkatan merupakan bukti masa kerja karyawan. Walaupun prioritasnya, sebagai bukti hukum surat pengagkatan adalah jaminan hukum terhadap segala hak karyawan. Hal lain yang ingin dibahas peneliti terkait surat pengangkatan kerja juga hak-hak pekerja yang lainnya. Selain upah yang sudah dibahas diatas.

Terkait memberi perlindungan bagi pekerja atau jaminan sosial baik itu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dan peneliti paparkan diatas bahwasanya di PDP Kahyangan Jember Kebun Gunung Pasang menerapkan Jamsostek untuk para pekerjanya dan menjamin kesehatan dan keselamatan pekerja. Seperti

135 Per-75/GUB-JATIM/2017 Tentang UMK 2018

yang diketehui bahwasanya dalam pasal 86 ayat (1) Undang-undang Ketenagakerjaan : Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas:

a. Keselamatan dan kesehatan kerja;

b. Moral dan kesusilaan; dan

c. Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai - nilai agama.

Menurut peneliti hak pekerja terkait memberi perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja atau Jaminan Sosial bagi para pekerja sudah terpenuhi dan juga sesuai dengan Undang-undang ketenagakerjaan.

Yang selanjut nya terkait masa kerja pekerja tetap sesuai dengan hasil wawancara peneliti yang di paparkan diatas. Seperti yang diketahui berakhirnya masa kerja untuk pekerja tetap diatur dalam pasal 154 poin (c) yang berbunyi : ”pekerja/buruh mencapai usia pensiun sesuai dengan ketetapan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, perjanjian kerja bersama, atau peraturan perundang-undangan dalam surat pengangkatan”

dan di PDP Kahyangan Jember Kebun Gunung Pasang dalam surat pengangkatannya menyertakan usia pensiun untuk pekerja tetap di surat pengangkatannya. Dan juga menyampaikan dan menjelaskan secara langsung pada pekerjanya bahwasanya mereka akan pensiun di usia 56 tahun.

Para pekerja tetap akan mendapatkan uang pensiunan setiap bulannya. Sesuai dengan pasal 167 ayat (1) Undang-undang

Ketenagakerjaan yang berbunyi :”Pengusaha dapat melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja/buruh karena memasuki usia pensiun dan apabila pengusaha telah mengikutkan pekerja/buruh pada program pensiun yang iurannya dibayar penuh oleh pengusaha, maka pekerja/buruh tidak berhak mendapatkan uang pesangon sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (2), uang penghargaan masakerja sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (3)”

Jadi menurut peneliti terkait masa kerja bagi pekerja tetap yang disebutkan dalam surat pengangkatan kerja diterapkan sesuai dengan Undang-undang Ketenagakerjaan. Dan terkait uang pensiun yang diterima setiap bulannya juga termasuk untuk menjamin masa tua dari pekerja.

3. Penerapan Surat Pengangkatan pekerja di Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Kahyangan Jember Kebun Gunung Pasang menurut Hukum islam?

Istilah perjanjan disebut dalam hukum indonesia dan disebut akad”

dalam hukum islam. Kata akad bersal dari kata al-aqd, yang berarti mengikat, menyambung atau menghubungkan (ar-rabt). Perjanjian Kerja dalam hukum Islam dikenal dengan istilah Ijarah (al-ijarah), artinya upah, sewa, jasa atau imbalan. Salah satu bentuk kegiatan manusia dalam muamalah adalah sewa- menyewa, kontrak, menjual jasa dan lain- lain.

Dan perjanjian kerja dalam syariat islam digolongkan kepada akad perjanjian sewa-menyewa (al-ijarah) yang maksudnya sewa-menyewa tenaga manusia melakukan pekerjaan.

Dalam Fiqh Muamalah dari beberapa pendapat ulama juga menjelaskan bagaimana seharusnya akad dilakukan yakni sebuah akad atau perjanjian harus ada ijab-qabul yang berarti suatu perbuatan atau pernyataan untuk menunjukkan suatu keridaan dalam berakad di antara dua orang atau lebih, sehingga terhindar atau keluar dari suatu ikatan yang tidak berdasarkan syara. Bagi kedua pihak yang berakad disyaratkan hal-hal berikut:

a. Usia dewasa minimal 15 (lima belas) tahun. Usia anak dibawah lima belas tahun dianggap tidak melakukan perbuatan hukum. Karenanya, tidak boleh mempekerjakan anak-anak dibawah umur, tidak sah bertransaksi dengan mereka kecuali terdapat kesepakatan dengan wali mereka.

b. Berakal, akad menjadi tidak sah apabila dibuat dengan orang gila.

Orang gila tidak memiliki kesadaran dan daya pemahaman. Hal ini mengingat pembuat syariah menganggap akal sebagai unsurutama sahnya akad.

c. Kerelaan, kerelaan kedua belah pihak merupakan syaratutama yang wajib dipenuhi setiap akad.

Oleh karena itu, dalam islam tidak semua bentuk kesepakatan atau perjanjian dapat dikategorikan sebagai akad, terutama kesepakatan yang tidak didasarkan pada keridaan syari’at islam.

Adanya keridaan dari pihak-pihak yang berakad. Syarat ini disarkan pada firman Allah SWT, yakni QS. An-Nisa’ ayat 29.

Dokumen terkait