BAB IV : PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN
B. Pembahasan Hasil Penelitian
2. Dampak Pemberian Kredit Modal Kerja
HASIL PENELITIAN
KESIMPULAN
C. Data dan Sumber Data
Data menurut SK Menteri P dan K No.0259/U/1977 tanggal 11 juli 1977 menyebutkan bahwa data adalah segala fakta dan angka yang dapat dijadikan bahan untuk mengambil suatu informasi. (Arikunto, 2002: 96)
Dalam rangka pencarian data terlebih dahulu yang harus ditentukan adalah sumber data “sumber dari mana data dapat diperoleh” penelitianya (Arikunto, 2002:107). Sumber data ini merupakan bagian yang terpenting dalam penelitian karean ketepatan memilih dan menentukan sumber data akan membentuk ketepatan dan kelayakan data yang diperoleh.
Sumber data pada penelitian ini adalah semua data atau seseorang yang memberikan informasi dan keterangan yang berkaitan dengan penelitian. Adapun sumber data tersebut adalah:
1. Data Primer
Merupakan sumber data penilitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli tanpa melalui perantara. Data ini mempunyai 2 metode atau teknik dalam pengumpulan datanya, yaitu metode interview (wawancara) dan observasi atau pengamatan langsung pada objek selama kegiatan penelitian dilapangan.
(Indrianto dan Supomo, 2002:146)
Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah manejer Perum Pegadaian dan karyawan yang ada di Perum Pegadaian Cabang Kepanjen yang secara konsep mengetahui segala kegiatan di Perum Pegadaian. Serta yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah para nasabah pada pegadaian ini yang tercatat sebagai nasabah Kreasi dan Krista.
2. Data Sekunder
Merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara yang umumnya dapat berupa buku, bukti catatan
atau laporan historis yang tersusun rapi dalam arsip baik yang dipublikasikan ataupun tidak. (Indrianto dan Supomo, 2002:147)
Data yang diambil guna menunjang penelitian ini adalah data mengenai profil tentang Perum Pegadaian Cabang kepanjen serta data Laporan Kredit Kreasi dan Krista yang ada pada Perum Pegadaian Cabang Kepanjen. Laporan Kredit Kreasi dimulai Bulan Januari 2008 sampai Juni 2009 serta laporan Kredit Krista yang dimulai dari Bulan Desember 2008 - Juni 2009.
D. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini menggunakan tiga metode yang secara umum telah digunakan oleh penelitian yang lain. Diantaranya adalah:
1. Metode Observasi atau pengamatan
Yang dilakuakan waktu pengamatan adalah mengamati gejala-gejala sosial dalam katagori yang tepat, mengamati berkali-kali dan mencatat segera dengan menggunakan alat bantu, seperti alat pencatat formulir dan alat elektronik (Mardalis, 1999:63)
Pada penelitian ini, peneliti mengamati lembaga yang terkait yang berkaitan dengan apa yang sedang diteliti, meliputi Peran lembaga Pegadaian Cabang Kepanjen terhadap usaha kecil dan menengah serta mengamati kegiatan para nasabah (pengusaha mikro, kecil dan Menengah)
2. Metode interview atau wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui percakapan dan tatap muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan pada peneliti.
(Mardalis, 1999:64)
Moleong (2000:135) menyatakan “Wawancara adalah percakapan dengan meksud tertentu”. Percakapan itu dilakuakan oleh dua fihak yaitu wawancara (interview atau peneliti) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode interview dalam bentuk interview bebas terpimpin. Arikunto (2002) menjelaskan bahwa interviw bebas terpimpin yaitu kombinasi dari interview bebas dan interview terpimpin.
Dalam melaksanakan interview pewawancara membawa pedoman yang hanya merupakan garis besar hal-hal yang ingin ditanyakan, hal-hal yang secara garis besar diitanyakan mengenai, berapa jalur pembiayaan kredit modal kerja yang ada di pedgadaian, bagaimana pandangan Pegadaian menganei UMKM yang ada di wilayah kepanjen dan bagaimana potensinya, serta bagaimana peran Pegadaian Cabang Kepanjen dalam pemberian kredit modal kerja bagi UMKM.
Serta bagi nasabah Pegadaian yang telah mengambil Kredit modal kerja pertanyaan secara umum yang kami ajukan adalah berapa kredit modal kerja yang telah di ambil serta bagaimana menfaat pemberian kredit bagi usahanya yang telah diperoleh dari Perum Pegadaian Cabang Kepanjen.
3. Metode Dokumentasi
Dalam pengambilan dokumentasi ini, yang diamati bukanlah benda hidup melainkan benda mati. Di dalam pelaksanaan metode dokumentasi ini peneliti menyelidiki benda-benda tertulis yaitu dokumen-dokumen yang relefan dengan pembehasan penelitian. Seperti: buku panduan Perum Pegadaian Cabang Kepanjen serta data-data yang diperlukan dalam mendukung proses penelitian, seperti data mengenai nasabah serta jumlah modal kerja yang telah di salurkan baik Kreasi atau krista.
Analisis merupakan bagian dari proses pengujian data yang hasilnya digunakan sebagai bukti yang memadai untuk menarik kesimpulan penelitian (Indrianto dan Supomo, 2002:11). Analisis data pada penelitian ini adalah analisis data kualitatif, dimana analisis datanya dilakukan dengan cara non statistik, yaitu peneletian yang dilakuakan dengan menggambarkan data yang diperoleh dengan kata-kata atau dengan kalimat yang dipisahkan dalam katagori-katagori untuk memperoleh kesimpulan.
Di pihak lain, analisis data kualitatif (Moeloeng, 2006:248) merupakan sebuah proses yang berjalan sebegai berikut:
a. Mencatat yang dihasilkan dari lapangan, kemudian diberi kode agar sumber datanya tetap dapat ditelusuri.
b. Mengumpulkan, memilah-milah, mengklasifikasikan, membuat ikhtisar dan membuat indeknya.
c. Berfikir dengan jalan membuat agar katagori data tersebut mempunyai makna, mencari dan menemukan pola dan hubungan-hubungan serta membuat temuan-temuan umum.
Pada penelitian ini menganalisis dengan cara mengumpulkan semua data yang ada, baik primer melalui metode wawancara dan observasi baik pada Perum Pegadaian maupun kepada pengusaha kecil dan menengah yang menjadi nasabah pada perum pegadaian cabang kepanjen, dan data-data sekunder melalui dokumentasi dan mengumpulkan data-data meliputi data Kreasi dan Krista yang ada di Perum Pegadaian Cabang Kepanjen. Dari hasil itu semua kemudian dianalisis dan akhirnya mengambil kesimpulan atas analisisnya.
BAB IV
PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN
4. Latar Belakang Perum Pegadaian Di Indonesia 1) Sejarah Berdirinya Perum Pegadaian
Berdirinya pegadaian berawal dari Bank Van Leening yaitu lembaga keuangan yang memberikan kredit dengan sistem gadai yang didirikan VOC pada tanggal 20 Agustus 1746 di Batavia. VOC dibubarkan bersama Bank Van Leening, kemudian dibentuk pegadaian yang dikelola swasta, akan tetapi keberadaannya justru menyusahkan rakyat. Oleh karena itu, Pegadaian kembali diamabil alih oleh pemerintah untuk membantu kehidupan buruh tani dan nelayan kecil. Keputusan ini tertuang dalam Staatbald No. 131 tanggal 12 Maret 1901. pada tahun yang sama, didirikanlah pegadaian pertama milik pemerintah, tepatnya pada tanggal 1 April 1901 yang berlokasi di Sukabumi (Jawa Barat), selanjutnya setiap tanggal 1 April di peringati sebagai hari ulang Tahun pegadaian. (Rivai, dkk :2007,1317)
Dalam perjalanannya pegadaian beberapa kali mengalami perubahan bentuk. Dengan Staatbald 1930 No. 266, lembaga ini berubah menjadi Jawatan Pegadaian berstatus lembaga resmi pemerintah. Kemudian, berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 178 Tahun 1961, bentuk lembaga diubah menjadi Perusahaan Negara Pegadaian. Dan diubah lagi menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan) Pegadaian, melalui Peraturan Pemerintah No. 7 tanggal 11 Maret 1969. Selanjutnya, berdasarkan PP No. 10 Tahun 1990, lembaga ini kembali diubah menjadi Perusahaan Umum (Perum). (Rivai, dkk :2007,1318)
Perum Pegadaian sebagai lembaga pengkreditan yang memberikan pinjaman uang dengan jaminan barang bergerak dan telah lama dikenal di
Indonesia, yaitu sejak zaman Pemerintah Hindia Belanda (VOC) pada tahun 1764 sampai sekarang, sehingga pegadaian mengalami lima periode pemerintahan, yaitu : a) Pegadaian Pada Zaman VOC (1764-1811)
Pada masa permulaan penjajahan Belanda di Indonesia atau pada zaman Verinide Off Compacnie (VOC) atas prakasa Gubernur Jendral Van Imhoff, tahun 1764 di Jakarta didirikan sebuah Bank Van Leening yang selain mendirikan kredit Gadai juga bertindak sebagai Wesel Bank. Pada awalnya lembaga ini merupakan perusahaan campuran antara pemerintah (VOC) dan swasta, dengan perbandingan modal 2/3 milik pemerintah dan 1/3 modal milik swasta. Kemudian tahun 1794 Bank Van Leening dibubarkan dan diganti dengan lembaga kredit yang sama tugasnya dan modal seluruhnya berasal dari pemerintah (VOC).
(http://zanikhan.multiply.com/jurnal/item/3991/PROFIL_DAN_PRODUK_PERU M _PEGADAIAN)
b) Pegadaian Pada Masa Penjajahan Inggris di Indonesia
Pada masa kekuasaan penjajahan Inggris dibawah kepemimpinan G.G.
Raffles di Tahun 1811, Bank Van Leening dihapuskan dan diganti dengan “Licentie Stelsel” yang menetapkan bahwa : Swasta atau setiap orang diperbolehkan mendirikan pegadaian asalkan mendapatkan ijin dari penguasa setempat. Namun dengan adanya sistem tersebut justru mengakibatkan kerugian bagi pemerintah, penyalahgunaan oleh penguasa dan munculnya banyak lintah darat.
Untuk mencegah hal-hal tersebut, maka pada tahun 1814 sistem Licentie Stelsel diganti dengan Patch Stelsel yang menetapkan bahwa setiap orang boleh mendirikan pegadaian dengan membayar sejumlah uang tertentu kepada pemerintah.
Setelah beberapa waktu lamanya kekuasaan penjajahan Inggris di Indonesia beralih kembali kepada penjajah Belanda. Di masa itu pegadaian tetap menganut
sistem Patch Stelsel, namun di anggap tidak lagi menguntungkan pemerintah dan banyak merugikan masyarakat, maka pada tahun 1870 di ganti dengan sistem Licentie Stelsel. Dan pada tahun 1880 pegadaian kembali menganut sistem Patch Stelsel dengan penyelewengan-penyelewengan yang ternyata masih tetap berlangsung. Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah menegaskan kepada Asisten Residen Purwokerto De Wolf Van Westerrode untuk mengadakan penyelidikan atas hukum gadai. Penyelidikan tersebut dilaksanakan apabila Patch Stelsel diambil alih oleh pemerintah dengan mengadakan Pilot Preject dan ternyata hasilnya bagus. Sehingga dengan Standblad No. 131.12/3.1901, yang kemudian didirikan Pegadaian pertama Pemerintah Belanda di Sukabumi pada tanggal 1 April 1901 yang sampai sekarang ini tanggal tersebut diperingati sebagai hari jadi
Pegadaian di Indonesia.
(http://zanikhan.multiply.com/jurnal/item/3991/PROFIL_DAN_PRODUK_PERU M _PEGADAIAN)
c) Pegadaian Pada Zaman Penjajahan Belanda (1816-1942)
Pada tahun 1856 Pemerintah Belanda mengadakan Survey terhadap pelaksanaan Pacht Stelsel, sehingga melakukan pengawasan yang ketat dengan maksud melindungi rakyat. Dari hasil survey terbukti adanya penyimpangan yang merugikan rakyat, yaitu: menaikkan suku bunga, barang jaminan tidak dapat ditebus pada waktu jatuh temponya, dan administrasi tidak teratur. Untuk mencegah kecurangan-kecurangan tersebut maka pemerintah mengadakan pengawasan dan tumbuh niat untuk mengatasi sendiri. Pada Tahun 1900 menugaskan; De Wolf Van Weasterrode mengadakan survei perbaikan cara pemberian kredit pinjaman uang kepada rakyat. Berdasarkan hasil survey tersebut didirikan Pegadaian Negara tepatnya di Sukabumi secara resmi dan di buka pada Tanggal 01 April 1901. Sejak Tahun 1921 berlaku seluruh Pegadaian di Indonesia diadakan dengan monopoli
pemerintah hingga akhir pemerintahannya Indonesia.
(http://zanikhan.multiply.com/jurnal/item/3991/PROFIL_DAN_PRODUK_PERU M _PEGADAIAN)
d) Pegadaian Pada Masa Penjajahan Jepang di Indonesia (1942-1945)
Pada masa penjajahan Jepang, dibuka kembali Pegadaian Negeri pada tanggal 29 April 1942. Oleh Jepang pegadaian ini dinamakan “Kai Ei Sitji Ho” dengan kepala jawatan Tuan Ohno. Pada masa ini bahwa pegadaian tetap merupakan Jawatan dan tetap berada dibawah pimpinan dan pengawasan kantor besar keuangan. Dengan alasan untuk kepentingan perang, maka lelang terhadap barang jaminan tersebut bila akan diambil tidak diperbolehkan dan menjadi milik
pemerintahan Jepang.
(http://zanikhan.multiply.com/jurnal/item/3991/PROFIL_DAN_PRODUK_PERU M _PEGADAIAN)
e) Pegadaian Pada Masa Kemerdekaan Indonesia (1945 sampai sekarang)
Setelah terjadi perubahan kekuasaan di Indonesia maka pihak Jepang menyerahkan kepemimpinan pegadaian kepada pihak Indonesia yang diwakili oleh Prayitno dan Suwodo. Berhubung dengan adanya penetapan atas dari Mr. Orchari sebagai Skretaris Jendral mulai tanggal 15 Oktober 1945, maka pada hari itu juga pimpinan pegadaian diserahkan kepada Tn. R. Hedrasih Tjoko Sudirjdo, sedangkan Tn. Achmaddi ditetapkan sebagai Wakil Kepala Pegadaian.
Sehubungan dengan seringnya terjadi pertempuran disana sini maka hubungan Kantor Pusat Pegadaian dan Kantor Daerah terputus. Pada tanggal 13 Januari 1946 Kantor Pusat Pegadaian pindah ke Kebumen karena kota Kebumen dianggap terlalu kecil. Sebagai pimpinannya R. Hendarsih, dan pada tanggal 27 April 1947 Kantor Pusat Pegadaian pindah ke Magelang. Berdasarkan Peraturan
Pemerintah No. 178 Tahun 1961, Perusahaan Negeri Pegadaian diintegrasi kedalam urusan Bank Sentral.
Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1969 PEGADAIAN berubah menjadi status Perusahaan Jawatan (PERJAN) Pegadaian, dibawah naungan Departemen Keuangan Republik Indonesia, dibawah pimpinan direktorat Jedral Moneter Dalam Negeri. PP (Peraturan Pemerintah) No. 10 tahun 1990 perubahan status PERJAN Pegadaian menjadi PERUM Pegadaian sampai sekarang.
(http://zanikhan.multiply.com/jurnal/item/3991/PROFIL_DAN_PRODUK_PERU M _PEGADAIAN)
2) Status Hukum Pegadaian
Pegadaian yang semula berstatus sebagai jawatan, pada Tahun 1961 berubah Menjadi Perusahaan Negara (PN) Pegadaian. Pada tahun 1969 dirubah menjadi Perusahaan Jawatan (PERJAN) sampai Tahun 1990. untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitasnya maka Perusahaan Jawatan Pegadaian dirubah bentuknya menjadi Perusahaan Umum Pegadaian melalui PP. No. 10 tahun 1990 tanggal 10 April 1990 dan mulai berlaku tanggal 1 April 1992. (Rivai,dkk :2007,1324)
3) Lokasi PERUM Pegadaian Cabang Kepanjen
Guna memperoleh data-data yang dibutuhkan dalam penyusunan penelitian skripsi ini, penulis melakukan penelitian serta pengambilan data-data pada Lokasi Perum Pegadaian cabang Kepanjen yang terletak di jl. Panji No. 178 Kepanjen Kabupaten Malang.
Visi Perum Pegadaian adalah Pegadaian pada Tahun 2013 menjadi
“champion” dalam pembiayaan Mikro dan Kecil berbasis gadai dan fidusia bagai masyarakat golongan menegah kebawah
b. Misi Perum Pegadaian
Misi dari Perum Pegadaian adalah Ikut membantu program pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat golongan menengah kebawah dengan memberikan solusi keuangan yang terbaik melalui penyaluran pinjaman kepada usaha skala mikro dan menengah atas dasar gadai dan fidusia.
(Tim Pegadaian : 2008, 24)
5. Unit Pembantu Cabang Pegadaian Cabang Kepanjen
Ada 5 unit pabantu cabang pegadaian Cabang Kepanjen yang beroprasi sama dengan pegadaian Cabang Kepanjen yaitu menyalurkan dana berdasarkan sistem gadai. Unit Pembantu Cabang Pegadaian Cabang kepanjen adalah Sebagai Berikut:
a. Unit Pembantu Cabang (UPC) Bululawang b. Unit Pembantu Cabang (UPC) Pagak c. Unit Pembantu Cabang (UPC) Pakisaji
d. Unit Pembantu Cabang (UPC) Sumber Pucung e. Unit Pembantu Cabang (UPC) Donomulyo f. Unit Pembantu Cabang (UPC) Gondanglegi g. Unit Pembantu Cabang (UPC) Bantur.
Gambar 4.1
Struktur Organisasi PERUM Pegadaian Cabang Kepanjen
( Sumber : profil Perum Pegadaian cabang Kepanjen)
Manajer Cabang
Manajer OPP
Usaha lain KCA Usaha Lain Kreasi
dan Krista
Pengelola UPC
Penaksir Kasir Pemegan
g Gudang
Penjaga Analisis Kresit
Susunan pengurus PERUM Pegadaian Cabang Kepanjen-Malang periode 2009-2010 adalah sebagai berikut:
Manejer : Ima Du98ddin SE
asisten menejer operasional : Suratman SE Penaksir KCA : 1. Edi
2. Nani trisnawati
Kasir : Imam Muhtaczin
Peneksir Usaha Lain : Andri Satria
penunjang / Penjaga Gudang : Debi Gunawan, Yudi, Widodo
UPC Bululawang
Pengelola UPC : Dwi Untari
Penunjang : Tri Darmawan
UPC Bantur:
Pengelola : Sujono Penunjang : Suprapto
UPC Pagak
Pengalola : Ali Mustofa
Penunjang : Dicky Kartika Candra
UPC Donomulyo
Pengelola : Siswadi Penunjang : Eko Tikyono
UPC Pakis Aji
Pengelola : Novi Herniawati Penunjang : Joko Suryono
UPC Sumber Pujung
Pengelola : Hasyim Mubarok,
Penunjang :
Penaksir : Ike Permatasari
Kasir : Kusnan
UPC Gondanglegi
Pengelola : Hari Prayetno Penaksir : Agus Siswanto
Kasir : Sunaryo
Penunjang : M. Rofiq 5. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Peran Perum Pegadaian Cabang kepanjen terhadap UMKM.
Pegadaian merupakan lembaga keuangan ini bisa dilahat dari kegiatan usahanya yaitu menyalurkan kredit kepada masyarakat. Pegadaian sempat tidak tercatat di Derektorat Jenderal Lembaga Keuangan disebabkan karena lembaga pegadaian merupakan satu-satunya yang ada di Indonesia oleh sebab itulah pegadaian dikelompokan menjadi salah satu usaha pembiayaan.
Tujuan Perum Pegadaian kembali dipertegas dalam Peraturan Pemerintah RI.
No. 103 tahun 2000 yakni, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama golongan menengah ke bawah melalui penyediaan dana atas dasar hukum gadai, juga menjadi penyedia jasa dibidang keuangan lainnya. Berdasarkan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku, serta menghindarkan masyarakat dari gadai gelap, praktek riba, dan pinjaman tidak wajar lainnya.
Sejak berdirinya pegadaian terbukti telah menjadi primadona masyarakat golongan menengah kebawah. Dalam kegiatan usahanya pegadaian tidak membedakan besar kecilnya kredit yang telah masuk atau kredit yang telah keluar.
Tugas utama dari pegadaian yaitu membantu masyarakat dalam hal memenuhi kebutuhan keuangan, serta tujuan lainya yang tidak kalah penting adalah membantu nasabah yang memerlukan dana, baik dana investasi maupun dana modal kerja bagi usaha. Sesuai Misi dari Perum Pegadaian “Ikut membantu program pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat golongan menengah kebawah dengan memberikan solusi keuangan yang terbaik melalui penyaluran pinjaman kepada usaha skala mikro dan menengah atas dasar gadai dan fidusia”.
Berangkat dari kenyataan tersebut, maka saat ini pegadaian cabang kepanjen sendiri tidak hanya memprioritaskan kredit yang bersifat konsumtif saja akan tetapi harus diarahkan peberian kredit yang bersifat produktif yaitu dengan cara memberikan kredit modal kerja kepada pelaku usaha Khususnya masyarakat yang memiliki Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sehingga para pelaku usaha tersebut dapat merasakan langsung manfaat dari pegadaian khususnya yang berada di wilayah kepanjen.
Hasil wawancara yang saya lakukan mendapatkan bahwa;” Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan usaha yang harus di dorong untuk maju dan berkembang, karena semakin baik kemajuan UMKM di suatu wilayah maka secara otomatis akan mengangkat perekonomiannya”. (wawancara dengan bapak Ima Duddin, manajer Perum Pegadaian Cabang Kepanjen, pada hari kamis tanggal 18 Agustus 2009, jam 09.00-09.45 WIB. di kantor Perum Pegadaian Cabang Kepanjen.)
Dari hal tersebut Pengembangan UMKM Saat ini merupakan langkah strategis dalam meningkatkan dan memperkuat dasar kehidupan perekonomian serta sektor tersebut juga tidak hanya sebagai sumber mata pencaharian orang banyak, tetapi juga
menyediakan langsung lapangan kerja bagi mereka yang tingkat pengetahuan dan ketrampilannya rendah. Selain itu UMKM juga berperan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.
Kehadiran Pegadaian saat ini dapat membantu masyarakat yang kurang mampu dalam menghadapi persaingan pasar. Bagaimanapun sehatnya persaingan pasar saat ini tetap di butuhkan suatu inovasi dalam menghadapi tantangan pasar, salah satu kelemahan masyarakat kecil dalam menghadapi pasar adalah kelemahanya dalam penyediaan permodalan seperti Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) .
Tak lepas dari kenyataan tersebut perlu adanya pembiayaan modal kerja atau pemberian kredit modal kerja kepada UMKM, pemberian kredit ini merupakan langkah awal dimana kredit yang di berikan diharapkan digunakan sebagai mena mestinya yaitu untuk menambah permodalanya bukan untuk kegiatan yang bersifat konsumtif. Kredit modal kerja kepada UMKM merupakan penyediaan uang atau dana yang berdasarkan persetujuan pinjam meminjam yang disalurkan dengan tujuan untuk memenuhi segala aktifitas dari seluruh kegiatan perusahaan yang dimaksudkan untuk menghasilkan laba atau keuntungan.
Permodalan merupakan salah satu kebutuhan penting yang diperlukan untuk memajukan dan mengembangkan UMKM. Pemerintah melalui kebijaksanaannya telah berupaya menyediakan berbagai skema kredit dan bantuan permodalan yang dibutuhkan UMKM. Namun kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa kredit permodalan yang disediakan Pemerintah tersebut sulit didapatkan oleh masyarakat kecil. UMKM sulit memenuhi administrasi dan persyaratan perbankan seperti agunan dan jaminan lain yang dapat menghubungkannya dengan Bank. Di pihak lain sistem perbankan dan situasi perbankan dan situasi perbankan yang belum pulih di Indonesia kurang memberikan toleransi agar usaha kecil dapat akses dengan modal. Hal ini ditopang juga oleh lembaga pendukung seperti lembaga penjaminan dan lembaga
pelayanan jasa kurang berkembang dan terkordiner untuk membangun situasi kondusif agar pengusaha mampu akses dengan permodalan, sehingga saling terkait satu dengan yang lain.
Oleh karena itu Pembangunan UMKM adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat, namun dalam kebersamaan itu harus ada lembaga yang khusus bertanggung jawab untuk menkordiner dan melaksanakan semua kegiatan yang berkaitan dengan pertumbuhan dan pengembangan UMKM yaitu suatu Badan yang berfungsi untuk mengatasi masalah-masalahnya terutama dalam hal penyediaan permodalan. Mungkin sekarang sudah saatnya meningkatkan dalam membantu menyediakan dana yang mudah dan tepat guna demi memejaukan usaha masyarakat kecil di daerah.
Atas hal tersebut maka Pegadaian Cabang Kepanjen berkomitmen membantu masyarakat kecil yang membutuhkan modal kerja bagi usahanya di jawab oleh pihak pegadaian dengan mengeluarkan produk Kreasi dan Krista. Produk inilah yang diharapkan oleh Pegadaian cabang kepanjen untuk bisa membantu masyarakat kecil yang memiiki usaha baik Mikro, Kecil dan Menengah. seperti yang telah di kemukakan oleh manejer cabang yaitu Bapak Ima Duddin yang berpendapat bahwa:
”Pegadaian memberdayakan UMKM dengan memberikan kredit Modal Kerja kepada UMKM, diharapkan dengan pemberian kredit itu akan membantu kegiatan usahanya.
Beliau juga menambakan bahwa dalam penyediaan modal kerja pada UMKM pegadaian khususnya Cabang Kepanjen telah mengeluarkan produk yang di beri nama Kreasi dan Krista ”. (wawancara dengan bapak Ima Duddin, manajer Perum Pegadaian Cabang Kepanjen, pada hari kamis tanggal 18 Agustus 2009 jam 09.00-09.45 WIB. di kantor Perum Pegadaian Cabang Kepanjen.)
Dari urain tersebut pegadaian menyalurkan kredit modal kerja kepada UMKM melelalui dua jalur yaitu melalui produk Kreasi dan Krista, dimana keduanya mempunyai keunggulakn masing-masing dan juga bunga yang dibebankan kepada nasabah relatif sangat ringan bila di bandingkan dengan lembaga-lembaga lain. Salah satu produk yang dihkususkan bagi UMKM adalah Kreasi, Kreasi merupakan salah
satu produk dari pegadaian yang menerapkan sistem fudisia, kepastian hukum Kreasi ini sudah dijamin pada undang-undang No. 42 Tahun 1999. dalam pasal 11 ayat 1 nya meneyebutkan bahwa benda yang dijamin dengan fudisia wajib di daftarkan, pendaftaran dimaksudkan agar pihak kreditor dalam hal ini adalah peadaian memegang sertifikat jaminan fudisia sehingga mendapatkan hak preferent. kredit dengan fitur fudisia ini baik dari pihak kreditur maupun dari debitur merupakan jaminan yang ideal, bagi kreditor jamianan yang dilepas tetap terjamin. Sementara itu, bagi debitur prosedur mendapatkan uang lebih mudah dan barang jaminan tetap dapat digunakan untuk menjalankan segala aktifitasnya dalam melakukan usaha.
Dalam prakteknaya di Pegadaian Cabang Kepanjen nasabah hanya menyerahkan BPKB (Surat Bukti Kepemilikan Kendaraan Bermotor) dengan bunga relatif kecil yaitu 1% per bulan. Serta tujuan dari Kreasi itu sendiri adalah menguatkan permodalan usaha kecil dan Menengah dalam upaya meningkatkan produktivitas dan daya saing.
Sedangkan modal kerja yang kedua yang dikhususkan untuk Usaha Mikro adalah Krista. dimana Krista merupakan kredit yang diberikan khusus kepada wanita pengusaha sangat mikro dengan upaya untuk memberdayakan ekonomi keluarga.
Seperti tukang sayur, bakul jamu gendong, dan lain-lain. Dengan bunga yang sangat ringan yaitu 0,9% , kredit yang diberikan ini diberikan tanpa anggunan kepada kelompok Dengan skala rumah tangga dimana setiap kelompok bisa mendapatkan kredit antara Rp 100.000,- sampai dengan Rp 1.000.000,-dengan pola tanggung renteng.
Kelompok ini dibentuk atas dasar kebutuhan dan tujuan bersama serta bersinergi dalam hal produksi, permodalan maupun pemasaran produk-produknya.
Kreasi di luncurkan Perum Pegadaian Cabang Kepanjen sejak bulan Januari 2008 sedangakan Krista di luncurkan Perum Pegadaian Cabang Kepanjen sejak Bulan Desember 2008. Pegadaian cabang kepanjen mengeluarkan produk ini dengan tujuan yaitu membantu para pengusaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dalam hal
menyediakan permodalan, dengan modal kerja tersebut diharapkan bisa menguatakan permodalan sehingga mampu bersaing dalam usahanya.
Dalam prakteknya pegadaian membiayai Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) harus yang benar-benar produktif. oleh karena itu pihak pegadaian sebelum meminjamkan modal kerja baik Kreasi maupun Krista melakukan survey kepada para pelaku usaha yang tujuanya jelas yaitu mengetahi apakah benar-benar layak di beri pinjaman atau tidak.
Seperti dari hasil wawancara yang saya lakukan kepada karyawan pegadaian, beliau mengatakan bahwa ; ”sebelum meminjamkan Kredit modal kerja baik Kreasi maupun Krista perlu dilakukan survey dulu. ini dilakukan untuk mengetahui calon dari nasabah. baik karakternya, usahanya, motifasinya dan lain-lain. motifasi yang paling umum dari nasabah adalah modal kerja yang diberikan oleh pegadaian di gunakan untuk kegiatan usahanya serta motifasi yang melatar belakangi nasabah melakukan peminjaman modal kerja di Pegadaian adalah bunga yang di bebankan relatif lebih ringan dibandingkan dengan lembaga lain”. (wawancara dengan Tri Darmawan , Karyawan Pegadaian Cabang Kepanjen bagian pembiayaan Kreasi dan Krista, pada hari kamis tangga 20 Agustus 2009 jam 09:00-10:30 WIB. di kantor Perum Pegadaian Cabang Kepanjen.)
Di samping itu juga dengan melakukan survey dari pihak pegadaian juga bisa mengetahui karakter, motifasi serta usaha yang dijalankan dari nasabah tersebut sehingga kredit yang di berikan kepada pihak Pegadaian bisa lebih menganai sasaran yang di inginkan dari pihak Pegadaian yaitu membaiayai usaha yang benar-benar produktif.
Sesuai dengan misi dari Perum Pegadaian membantu usaha Mikro, Kecil dan Menengah dan masyarakat pada umumnya, oleh sebab itu maka pegadaian tidak mau sembarangan membiayaai suatu usaha. sebab Perum Pegadaian bukan merupakan lembaga profit oriented yang semata-mata memperoleh omset dari sewa modalnya. akan tetapi lebih menekankan bagaimana pegadaian ini memiliki mangfaat bagi masyarakat pada umumnya.
Kemampuan Perum Pegadaian dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan dana murah dengan sistem cepat dan sistem penyaluran kredit yang sangat sederhana