PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan analisis data dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Tujuan pembinaan keberagamaan yang dilakukan di Madrasah Tsanawiyah Al-Mukhtariyah adalah untuk mengaktualisasikan sifat-sifat positif kemanusiaan santri. Untuk itulah pembinaan yang dilakukan berorientasi menjadikan santri-santri yang berkualitas. Istilah berkualitas yang digunakan oleh madrasah ini adalah menjaga keseimbangan nilai-nilai insaniyah santri agar mereka semakin dapat meningkatkan imannya dan selalu bertakwa kepada Allah SWT. Sebagai penyeimbangan nilai- nilai insaniyah tersebut juga para santri dibekali beberapa disiplin ilmu termasuk penguasaan teknologi.
2. Bentuk-bentuk aktivitas keberagamaan santri telah termuat dalam berbagai skedul madrasah mulai dari jadwal belajar di kelas dengan belajar agama dan kitab-kitab klasik sampai kepada kegiatan- kegiatan yang tidak tertulis. Melalui belajar di kelas pembinaan lebih menitik beratkan untuk membekali santri ilmu-ilmu pengetahuan sebagai modal mereka untuk mengaktualisasikannya. Dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan di madrasah ini semua terjadwal dengan bagus. Adapun subtansi dari aktivitas-aktivitas itu adalah suatu terobosan yang patut diapresiasi, karena sedikit banyaknya telah mampu untuk menanamkan nilai-nilai kepada santri. Nilai-nilai yang terkandung dalam aktivitas itu sebetulnya tidak tampak oleh mata, hanya saja bila dicermati dari aktivitas-aktivitas keberagamaan itu telah terkandung unsur-unsur kedisiplinan, kepatuhan, kejujuran, percaya diri, kerja sama, bertanggung jawab, mandiri, tolong menolong, kesetia kawanan, kebebasan berkreasi dan berekspresi. Dan atribut akhlak ini telah ditanamkan kepada santri melalui pembiasaan- pembiasaan secara perlahan-lahan selama belajar yang akan menghabiskan waktu 3 tahun.
3. Strategi yang digunakan oleh Madrasah Tsanawiyah Al-Mukhtariyah Sibuhuan adalah beraneka ragam. Secara umum strategi yang dibuat oleh madrasah adalah melalui pendekatan persuasif kepada setiap komponen yang ada yakni dilakukan oleh kepala madrasah baik kepada guru, santri, orangtua santri maupun masyarakat. Artinya semua komponen-komponen ini terutama pendidik semuanya harus berperan sebaik-baiknya sesuai dengan tugas masing-masing. Sementara berkenaan bagi para guru sebagai pelaksana operasional pendidikan strategi yang digunakan lebih mengandalkan pola lama yaitu pemberian tugas, mengulang, pembiasaan, keteladanan dan sebagainya. Sikap guru untuk memilih strategi tersebut adalah manifestasi dari kepedulian mereka terhadap anak-anak pelajar. Jadi memang hal itulah yang diharapkan sebab pembinaan keberagamaan idealnya dilakukan secara sinergis, baik oleh guru, perangkat madrasah, masyarakat dan juga dengan keterlibatan aktif para santri. Tapi intinya yang paling berperan secara nyata adalah guru.
4. Peluang yang dimiliki Madrasah Al-Mukhtariyah Sibuhuan untuk keberhasilan pembinaan keberagamaan untuk membentuk akhlak al-karimah santri adalah sangat potensial. Keadaan SDM-
lxxxviii
nya yakni guru-guru tenaga pendidik hampir di dominasi oleh yang berpendidikan S1, walaupun ada yang berpendidikan Aliyah saja namun para guru-guru tersebut secara kualitas dan integritas adalah orang-orang yang teruji yang sudah lama mengabdi kepada pendiri Madrasah ini yaitu Syekh Mukhtar Muda Nasution. Peluang bagus yang dimiliki Madrasah Tsanawiyah ini juga adalah berkaitan dengan lingkungan yang nyaman dan jauh dari gangguan masyarakat dan berdampingannya lembaga ini dengan salah satu pondok pesantren sehingga membuat madarasah ini akan lebih giat melakukan yang terbaik pada santri-santrinya. Kemudian peluang itu berkenaan dengan kondisi santri-santri yang hampir rata sebelum memasuki Madrasah Tsanawiyah Al- Mukhtariyah telah mengenyam pendidikan agama melalui Madrasah Diniyah Awwaliyah.
5. Sedangkan yang menjadi kendala dalam pembinaan keberagamaan untuk membentuk akhlak al- karimah santri di Madrasah Tsanawiyah Al-Mukhtariyah Sibuhuan adalah lebih banyak dari kondisi kesiapan dan kekonsistenan para guru-guru. Karena guru sering berganti-ganti, begitu juga dengan pembina mukimnya akhirnya yang menjadi korban adalah belajar santri itu sendiri. Terbengkalainya pengawasan dan pendidikan santri justru akan menghambat lahirnya rasa keberagamaan yang tinggi. Selain itu tidak meratanya kesadaran beragama pendidik juga sangat menghambat proses pembinaan keberagamaan santri. Kendala ini terlihat dari sikap guru-guru yang mengajar umum sering tidak mencerminkan teladan kepada santri.
B. Saran-Saran dan Implikasi Penelitian
1. Diharapkan kepada pihak pengelola madrasah untuk lebih meningkatkan pembinaan keberagamaan di Madrasah Tsanawiyah Al-Mukhtariyah, yaitu dengan menambah jam pelajaran untuk pesantren serta mengadakan pelatihan-pelatihan dengan materi-materi aktual seputar masalah-masalah agama Islam. Sehingga dengan demikian, pemahaman mereka tentang Islam bisa meningkat dan mendalam. Selain itu, sebaiknya kitab pelajaran pesantren juga harus dimiliki santri, supaya pembelajaran pesantren lebih efektif dan efisien.
2. Diharapkan kepada pihak yayasan dan pihak madrasah supaya lebih menyeleksi guru-guru tenaga pendidik maupun pembina pondok dan asrama yang akan masuk ke Madrasah Tsanawiyah Al- Mukhtariyah. Kepribadian guru dan pembina pondok dan asrama sangat berpengaruh dalam pembinaan keberagamaan para santri. Guru dan pembina asrama tersebut harus bisa jadi figur dan uswah bagi santri supaya pembinaan tersebut bisa terlaksana dengan maksimal.
3. Supaya pembinaan keberagamaan ini berjalan dengan lancar, diharapkan kepada pihak madrasah dan yayasan supaya menyediakan fasilitas secukupnya, karena ketika fasilitas madrasah atau di tempat mukim tidak mendukung maka kegiatan-kegiatan sering terkendala, terutama kegiatan yang menyangkut tentang pembinaan keberagamaan.
4. Antara pihak madrasah dan orangtua harus menjalin kerja sama yang baik untuk mendukung pembinaan-pembinaan yang dilakukan. Apabila tidak terjalin kerja sama yang baik, maka pembinaan-pembinaan yang dilakukan tidak akan maksimal bahkan bisa gagal. Termasuk juga membina hubungan yang baik dengan masyarakat agar suatu saat madrasah ini terkesan menjadi
lxxxix
pabrik yang masih dapat membentuk manusia yang tafaqquh fiddi>n seperti apa yang pernah terjadi di masa lalu, yakni pesantren dalam makna aslinya di nusantara.